Eva Decroli
Dr M Djamil Hospital, Padang

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

Pengaruh Radioterapi Terhadap Kadar TSH dan T4 pada Pasien Tumor Ganas Kepala dan Leher Chandra, Ade; Rahman, Sukri; Hafiz, Al; Decroli, Eva; Bachtiar, Hafni
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.248 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i2.238

Abstract

Latar belakang: Tumor ganas kepala dan leher adalah tumor ganas yang berasal dari epitel traktus aerodigestif atas. Radioterapi adalah salah satu modalitas talaksana pada tumor ganas kepala dan leher. Kelenjar tiroid akan terpapar radioterapi selanjutnya merangsang terjadinya kelainan pada kelenjar tiroid. Hipotiroid merupakan efek samping yang paling umum terjadi akibat radioterapi. Diagnosis hipotiroid ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium yaitu didapatkan peningkatan TSH dan penurunan T4. Tujuan: Mengetahui pengaruh radioterapi terhadap kadar TSH dan T4 pasien tumor ganas kepala dan leher di RSUP Dr. M. Djamil, Padang. Metode: Analitik cross sectional dengan desian pre and post test only pada                            10 responden tumor ganas kepala dan leher. Sampel berupa darah vena yang dihitung kadar TSH dan T4 menggunakan alat Vidas 3. Data dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil analisis statistik dinyatakan bermakna bila didapatkan hasil p<0,05. Hasil: Nilai rerata kadar TSH sebelum dan setelah radioterapi didapatkan 0,57 ± 0,512 µIU/ml. Nilai rerata kadar T4 sebelum dan setelah radioterapi didapatkan 0,721 ± 0,508 µg/dL. Uji t bepasangan didapatkan peningkatan rerata kadar TSH setelah radioterapi dengan p = 0,004 yang menunjukkan peningkatan bermakna rerata kadar TSH setelah radioterapi dan didapatkan penurunan rerata kadar T4 setelah radioterapi dengan p = 0,001 yang menunjukkan penurunan bermakna rerata kadar T4 setelah radioterapi. Kesimpulan: Terdapat peningkatan bermakna rerata kadar TSH serta penurunan rerata kadar T4 sebelum dan setelah radioterapi pada pasien tumor ganas kepala dan leher walau belum melewati nilai normal.ABSTARCTBackground: Head and neck cancers are malignancies that originate from upper aerodigestive tract epithelium. Radiotherapy is one of the modalities treatments for head and neck cancer. Thyroid glands which exposed by radiotherapy, furthermore can induce abnormalities. Hypothyroid is a most common abnormality that occur after radiotherapy. Diagnosis hypothyroidism can be established through laboratory examination that is obtained an increased levels of TSH and decreased levels of T4. Purpose: To determine effect radiotherapy on levels of TSH and T4 in patients with head and neck cancer in Dr. M. Djamil Hospital, Padang.     Methods: Cross sectional analytic study with pre and post test only on 10 respondents with head and neck cancer. Samples taken from venous blood then TSH and T4 were counted with Vidas 3. Data was analyzed with paired t-test. The statistical result was significant with p<0,05.             Result: Mean value of TSH before and after radiotherapy is 0,57 ± 0,512 µUI/ml. Mean value of T4 before and after radiotherapy is 0,721 ± 0,508 µg/dL. From paired t-test resulted an increase of TSH mean value after radiotheraphy with p = 0,004 which implies a significant enhancement of TSH mean value after radiotheraphy and decreasing T4 mean value after radiotheraphy with p = 0,001 which implies a significant deflation of T4 mean value after radiotheraphy. Conclusions: There was significant enhancement of TSH mean and significant deflation of T4 mean value before and after radiotherapy on patients with head and neck cancer even still within normal value.  Keywords: Radiotheraphy, TSH, T4, head and neck cancer.
Hubungan Resistensi Insulin dengan Gambaran Klinis Sindrom Ovarium Polikistik Wahyuni, Meliza; Decroli, Eva; Lasmini, Putri Sri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan kelainan endokrin dan metabolik pada wanita usia reproduksi. SOPK merupakan kumpulan gejala dari amenore, oligomenore, infertilitas, obesitas, hirsutisme, acne, alopesia, dan akantosis nigrikan. Resistensi insulin diyakini sebagai salah satu penyebab tersering dari SOPK melalui berbagai mekanisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan resistensi insulindengan gambaran klinis SOPK. Penelitian ini dilakukan pada pasien SOPK dengan menggunakan studi cross sectional dengan pendekatan retrospektif, yaitu mengumpulkan kejadian masa lalu dari tahun 2009 - 2011, jumlah sampel 105 orang. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan 33,3% penderita SOPK mengalami resistensi insulin. Berdasarkan gambaran klinis 35,23% amenore, 64,77% oligomenore, 72,04% infertilitas, 50,5% obesitas, 0,95% hirsutisme, acne 20%, alopesia dan akantosis nigrikan0%. Dari 33,3% SOPK dengan resistensi insulin 40% amenore, 60% oligomenore, 71,9% infertilitas, 77,14% obesitas, dan 0% hirsutisme. Berdasarkan hasil uji statistik ditemukan hubungan bermakna antara resistensi insulin dengan obesitas (p<0,05) dan tidak ditemukan hubungan bermakna antara resistensi insulin dengan infertilitas, hirsutisme, dan acne (p>0,05).Kata Kunci: SOPK, resistensi insulin, gambaran klinisAbstract Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is an endocrine and metabolic disorders that is common in reproductive-aged women. PCOS is a group of symptoms, such as amenorrhea, oligomenorrhea, infertility, obesity, hirsutism, acne, alopecia, and achanthosis nigricans. Insulin resistance is believed to be one of the most common causes of PCOS through a various mechanisms. The objective of this study was to find out the relationship between insulin resistance and clinical manifestation of PCOS. This research was done in patients with PCOS using cross sectional study with retrospective approach. Data was collected from 2009-2011, with the sample of 105 patients. This research used statistical analysis, that was chi square test. This research found that  33.3% patients of PCOS have insulin resistance. Based on clinical manifestation found that 35.23% amenorrhea, 64.77% oligomenorrhea, 72.04% infertility, 50.5% obesity, 0.95% hirsutism, 20% acne, 0% alopecia and achanthosis nigricans. From 33.3% PCOS with insulin resistance, 40% amenorrhea, 60%  oligomenorrhea, 71.9% infertility, 77.14% obesity, and 0% hirsutism. The results showed that there is a significant relationship between insulin resistance and obesity (p<0.05) and no significant reslationship between insulin resistance and infertility, hirsutism, and acne (p>0.05).Keyword: PCOS, insulin resistance, clinical manifestation 
Hubungan Derajat Obesitas dengan Kadar Gula Darah Puasa pada Masyarakat di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang, Kota Padang Putri, Andi Fadilah Yusran; Decroli, Eva; Nasrul, Ellyza
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Derajat obesitas sebanding dengan tingkat akumulasi lemak tubuh. Peningkatan akumulasi lemak tubuh akan meningkatkan kadar gula darah puasa. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara derajat obesitas dengan kadar gula darah puasa pada masyarakat di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang, Kota Padang. Jenis penelitian ini ialah observasional dengan pendekatan cross sectional study terhadap 32 orang masyarakat yang berumur 35-60 tahun di Kelurahan Batung Taba dan Korong Gadang dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Derajat obesitas diukur dengan metode antropometrik, berupa Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut kriteria Asia-Pasifik, yaitu obese I (IMT ≥25 kg/m2) dan obese II (IMT ≥30 kg/m2). Kadar gula darah puasa diukur secara enzimatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat obese di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang adalah berjenis kelamin perempuan dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Sebagian besar masyarakat memiliki berat badan dengan kriteria obese I dan kadar gula darah puasa dengan kriteria DM ≥100 mg/dl. Hasil analisis dengan uji chi-square didapatkan nilai p  = 1,000 (p>0,05), berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara derajat obesitas dengan kadar gula darah puasa.  Kesimpulan penelitian ini adalah tidak berbeda antara kadar gula darah puasa pada obese I dan obese II pada masyarakat diKelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang.Kata kunci: obesitas, kadar gula darah puasa, indeks massa tubuhAbstract The degree of obesity is equal to the rate of body fat accumulation.  Accumulation of body fat increases fasting blood glucose.  The objective of this study was to determine the relationship of the degree of obesity and fasting blood glucose of people who live in Kelurahan Batung Taba and Kelurahan Korong Gadang, Padang City. This was an observational cross-sectional study to 32 residents of 35 to 60 years old in Batung Taba and Korong Gadang. The subjects were taken by purposive sampling method.  The degree of obesity was determined by Body Mass Index (BMI)from Asian-Pacific criteria, an anthropometric method, obese I (BMI ≥25 kg/m2) and obese II (BMI ≥30 kg/m2). Fasting blood glucose were determined enzimatically.  The result of this study showed that mostly obese population in Batung Taba and Korong Gadang is female, as represented by housewifes.  The majority of the population is obese I and has fasting blood glucose with DM criteria ≥100 mg/dl.  As estimated by chi -square analysis, the p value = 1.000 (p>0.05) and there was no significant relationship is found between the degree of obesity and fasting blood glucose. The conclusion from this study shows there is no different between fasting blood glucose levels in obese I and obese II among the residents of Kelurahan Batung Taba and Kelurahan Korong Gadang.Keywords: obesity, fasting blood glucose, body mass index
Gambaran NAFLD pada Pasien dengan Sindrom Metabolik di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang Astari, Nadila Andam; Decroli, Eva; Yerizel, Eti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSindrom metabolik adalah kumpulan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang terjadi secara bersamaan pada seorang individu, antara lain: peningkatan glukosa darah puasa, obesitas sentral, dislipidemia, dan hipertensi. Salah satu manifestasi sindrom metabolik adalah non alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran NAFLD pada pasien dengan sindrom metabolik di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan bentuk cross sectional dan pendekatan retrospektif menggunakan data primer berupa hasil USG hati dan lingkar perut serta data sekunder berupa data rekam medis hasil pemeriksaan tekanan darah dan lab darah (gula darah, kolesterol, dan trigliserida) pasien dengan sindrom metabolik di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Oktober 2013 – Agustus 2014. Dari 30 subjek yang didapatkan, didapatkan 20 diantaranya menderita NAFLD (67%). Dari 20 orang penderita NAFLD, 20 orang (100%) obesitas sentral, 19 orang (95%) menderita gula darah puasa terganggu, 13 orang (65%) mengalami peningkatan trigliserida darah, 13 orang (65%) mengalami penurunan kadar HDL darah, dan 15 orang (75%) hipertensi.Kata kunci: sindrom metabolik, NAFLD, obesitas AbstractMetabolic syndrome is a set of cardiovascular disease risk factors that occur simultaneously on an individual, i.e. increase in fasting blood sugar, central obesity, dyslipidemia, and hypertension. Non alcoholic fatty liver disease (NAFLD) is one of the manifestations of metabolic syndrome. The objective of this study was to determine description of NAFLD on patients with metabolic syndrome at internal medicine polyclinic RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Descriptive research has been conducted with a cross-sectional study and a retrospective approach using liver USG result and waist circumference as primary data and medical record of blood pressure and lab (triglyceride, HDL, fasting blood sugar) as secondary data on patients with metabolic syndrome at RSUP Dr. M. Djamil Padang during October 2013 – August 2014. The result of this study showed 20 cases of NAFLD (67%) from 30 subjects found. From those 20 cases, 20 have central obesity (100%), 19 have impaired fasting blood sugar (95%), 13 have hypertriglyceridemia (65%), 13 have decrease of blood HDL level (65%), and 15 have hypertension (75%).Keywords: metabolic syndrome, NAFLD, obesity
Iskemia pada Jari Tangan Penderita Diabetes Melitus: Suatu Keadaan Peripheral Arterial Disease Decroli, Eva
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Peripheral Arterial Disease (PAD) adalah penyumbatan pada arteri perifer akibat proses atherosklerosis atau proses inflamasi yang menyebabkan lumen arteri menyempit (stenosis), atau pembentukantrombus. Tempat tersering terjadinya PAD adalah daerah tungkai bawah dan jarang ditemukan pada jari tangan.Metode: Laporan kasus. Hasil: Telah dilaporkan suatu kasus iskemia jari tangan yang jarang ditemui di klinik, merupakan suatu PAD. Pembahasan: Selain adanya faktor risiko konvensional seperti diabetes melitus dan keganasan untuk terjadinya trombosis, juga didapatkan suatu kelainan herediter berupa defisiensi antikoagulan yaitu defisiensi protein S, sekalipun protein C dalam batas normal yang secara bersama-sama diduga mempermudah terjadinya trombosis pada arteri perifer. Kata kunci: Diabetes, Iskemia, Peripheral arterial disease, Protein S, Trombosis Abstract Introduction: Peripheral Arterial Disease (PAD) is occlusion in peripheral artery caused by atherosclerosis or inflammation process that make stenosis in artery, or thrombus formation. High incidence of PAD occur in lower extremity, and rarely in hand and finger. Method: Case report. Result: Has been reported hand ischaemia that rarely found in hand and finger. Discussion: Despite conventional risk factor for thrombosis like diabetes mellitus and malignancy, hereditary disorder of anticoagulant factor deficiency played the same role, like protein S deficiency,eventhough protein C in normal limit. These risk factors made thrombosis at peripheral arteri easier to occur.Keywords:  Diabetes, Ischaemia, Peripheral arterial disease, Protein S, Thrombosis
Perbedaan Rerata Kadar Resistin dan TNF-Α Antara Wanita Hamil Yang Obesitas dengan yang Memiliki Berat Badan Normal Pada Preeklamsi Berat Awitan Lambat Suryanis, Ira; Decroli, Eva; Yusrawati, Yusrawati; Darwin, Eryati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor maternal merupakan pencetus Preeklamsi Awitan Lambat (PEAL). Salah satu faktor maternal adalah resistin, TNF-α yang dihubungkan dengan inflamasi dan resistensi insulin.. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan rerata kadar Resistin dan TNF-α maternal antara wanita hamil obesitas dan berat badan normal pada Preeklamsi Berat Awitan Lambat. Desain penelitian ialah comparative cross sectional yang dilakukan di RSUP Dr. M Djamil dan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang dari Februari 2016 sampai Januari 2017. Jumlah sampel sebanyak 40 yang dipilih secara consecutive sampling, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 20 responden obesitas dan 20 responden berat badan normal. Kadar Resistin danTNF-α diperiksa dengan metode ELISA, kemudian data dianalisis dengan uji mann-whitney. Hasil penelitian median kadar resistin pada kelompok obesitas adalah 7,760 (3,862 – 40,620) ng/ml dan median kelompok berat badan normal adalah 2,696 (0,0154 – 6,1070) ng/ml. Median kadar TNF-α pada kelompok obesitas adalah 169,719 (152,312 – 451,04) ng/ml dan median kelompok berat badan normal 131,077(75,724 – 150,920) ng/ml. Secara statistik dengan uji mannwhitney diperoleh nilai p<0,001. Simpulan studi ini ialah terdapat perbedaan bermakna antara kadar Resistin dan TNF-α pada obesitas dan berat badan normal.
Hubungan Kadar FT4 dengan Gejala Klinis yang Terkait Efek Simpatis berdasarkan Indek Wayne pada Nagari Koto Salak Kabupaten Dharmasraya Kurniawati, Nining; Decroli, Eva; Alioes, Yustini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPeningkatan aktivitas saraf simpatis dapat terjadi pada keadaan hipertiroid dan sebaliknya pada hipotiroid. Pengukuran kadar hormon tiroid dilakukan dengan mengukur kadar FT4, FT3, TSH, dll. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan kadar FT4 dengan gejala klinis yang terkait efek simpatis di Nagari Koto Salak Kabupaten Dharmasraya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional study. Hasil penelitian didapatkan subjek dengan peningkatan kadar FT4 12,96%. Subjek dengan gejala klinis palpitasi, penurunan berat badan, nervous, berkeringat lebih dan tremor jari halus dengan persentase berturut-turut adalah 42,59%, 38,89%, 46,30%, 25,93% dan 44,44%. Analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square diperoleh hasil tidak ada hubungan hubungan kadar FT4 dengan 5 gejala klinis yang terkait efek simpatis berdasarkan indeks Wayne (p > 0.05). Penelitian ini masih sederhana dan belum bisa menunjukkan adanya hubungan antara kadar FT4 dengan gejala klinis yang terkait efek simpatis. Sebaiknya untuk penelitian yang akan datang diharapkan dapat memiliki jumlah sampel yang banyak dan cakupan gejala klinis lain yang terlibat dalam aktivitas saraf simpatis yang lebih luas sehingga dapat lebih lengkap dan spesifik.Kata kunci: Kadar FT4, efek simpatis, gejala klinis AbstractIncreased sympathetic nerve activity may occur in the state of hyperthyroidism and conversely in hypothyroidism. Measurement of thyroid hormone levels is done by measuring the levels of FT4, FT3, TSH, etc. The objective of this study was to identify the relation between FT4 levels and the clinical symptoms of sympathetic effects in Nagari Koto Salak Kabupaten Dharmasraya. This research used cross sectional study design. According to the research found that subjects with elevated levels of FT4 12.96%. There are subjects with clinical symptoms of palpitations, weight loss, nervousness, sweating more and fine finger tremor by the following percentages is 42.59%, 38.89%, 46.30%, 25.93%, and 44.44%. From the results of the bivariate analysis using Chi-Square test is not obtained the relation between FT4 levels with 5 related clinical symptoms of sympathetic effects on wayne’s index (p> 0.05). This research was simple and could not represent the relation between FT4 levels were associated with clinical symptoms of sympathetic effects. We recommend to have more number of samples for the future research and scope of clinical symptoms that involved in the activity of the sympathetic nervous to be wider so it can be more comprehensive and specific.Keywords: FT4 levels, sympathetic effects, clinical symptom
Perbedaan Kadar LDL-kolesterol pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan dan tanpa Hipertensi di RS Dr. M. Djamil Padang Tahun 2011 Noviyanti, Finisia; Decroli, Eva; Sastri, Susila
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHipertensi seringkali menjadi kondisi komorbid yang menyertai diabetes melitus tipe 2. Diabetes melitus, hipertensi dan peningkatan LDL kolesterol merupakan keadaan yang sering dijumpai saling berkaitan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan kadar LDL kolesterol penderita diabetes melitus tipe 2 dengan dan tanpa hipertensi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional comparatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi data rekam medis pasien diabetes melitus tipe 2 dengan dan tanpa hipertensi tahun 2011 di RS. Dr. M. Djamil Padang. Analisis statistik menggunakan uji chi-square dan uji t-berpasangan. Hasil penelitian menemukan kadar LDL kolesterol pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi (137,56±41,43 mg/dl) lebih tinggi dibandingkan tanpa hipertensi (94,39±35,36 mg/dl). Uji chi-square menunjukkkan adanya hubungan yang bermakna antara peningkatan kadar LDL kolesterol dengan kejadian hipertensi (p<0,05). Uji t-berpasangan menunjukkan bahwa adanya perbedaan bermakna kadar LDL kolesterol antara kelompok pasien diabetes melitus dengan hipertensi dan tanpa hipertensi (p<0,05). Penelitian ini menyimpulkan adanya perbedaan yang bermakna kadar LDL kolesterol pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi dan tanpa hipertensi di RS. Dr. M. Djamil Padang.Kata kunci: LDL kolesterol, diabetes melitus tipe 2, hipertensi AbstractHypertension is often a comorbid conditions that accompany diabetes mellitus type 2. Diabetes mellitus, hypertension and increased LDL cholesterol is a condition that is often be found related one another. The objective of this study was to determine difference LDL cholesterol level among diabetes melitus type 2 with hypertension and without hypertension.This research used cross-sectional comparatif design. The data was collected through observation of the patient’s medical records diabetes mellitus type 2 with hypertension and without hypertension in 2011 at the hospital Dr. M. Djamil Padang. The statistical analysis used was chi-square test and paired-T test. The results found that the levels of LDL cholesterol in patients with diabetes mellitus type 2 with hypertension (137,56±41,43) was higher than without hypertension (94,39±35,36). Chi square test was found that a significant correlation between elevates levels of LDL cholesterol to the incidence of hypertension (p<0,05). Paired-t test showed that there were significant differences of LDL cholesterol levels between groups of diabetes mellitus type 2 with hypertension and diabetes mellitus type 2 without hypertension (p<0,05).This research conclude that there are differences in the levels of LDL cholesterol in patients with diabetes melitus type 2 with hypertension and without hypertension in the hospital Dr. M. Djamil Padang in 2011.Keywords: LDL cholesterol, diabetes mellitus type 2, hypertension
Hubungan Jumlah Komplikasi Kronik Dengan Derajat Gejala Depresi Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Poliklinik Rsup Dr. M. Djamil Padang Karsuita, Try Rahmi Lussii; Decroli, Eva; Sulastri, Delmi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKomplikasi akibat penyakit Diabetes Melitus (DM) dapat menyebabkan terjadinya perubahan psikologis, salah satunya adalah gejala depresi pada pasien DM. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan jumlah komplikasi kronik pada setiap derajat depresi pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional yang dilaksanakan dari Maret sampai Mei 2014 di Poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 76 pasien DM. Jumlah komplikasi kronik diketahui dengan melihat rekam medik pasien, sedangkan derajat gejala depresi dinilai dengan wawancara menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory (BDI) II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami gejala depresi sebanyak 27 orang (35,5%). Derajat gejala depresi normal atau minimal sebanyak 64,5%, derajat ringan sebanyak 27,6% dan derajat sedang sebanyak 7,9%. Gejala depresi pada responden dengan satu komplikasi sebesar 6,9%, dengan dua komplikasi 42,4%, dengan tiga komplikasi 88,8 % dan empat komplikasi sebesar 60%. Setelah dilakukan analisis dengan uji Kruskal Wallis didapatkan bahwa terdapat perbedaan rerata jumlah komplikasi kronik pada setiap derajat depresi pada pasien DM tipe 2 (p < 0,001).Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, gejala depresi, komplikasi kronikAbstractComplications due to diabetes disease can cause psychological changes, such as depression symptom. The objective of this study was to reveal the difference of the number of chronic complications on every single degree of depression in patients with type 2 diabetes. This was an analytic study that carried out from March to May 2014 in the polyclinic of RSUP Dr. M. Djamil Padang. The subject consisted of 76 diabetic patients. The number of chronic complications was identified by looking at the medical record of patients, whereas the degree of depressive symptom assessed by interview using a questionnaire BDI II. The results showed that respondents having depression symptom are made up by 27 people (35.5%). The amount of normal or minimal depression was 64.5%, mild depression is 27.6 %, and 7.9% for moderate depression. Depression symptoms on the respondents that having one complication is 6.9%, 42.4% for two complications, 88% for three complications and 60% for four complications. Kruskal Wallis test showed that there is the difference of the mean of chronic complication on every single degree of depression.Keywords: :type 2 diabetes mellitus, depression symptoms, chronic complications
Pengaruh Lama Pemberian Diet Tinggi Kolesterol terhadap Kadar LDL dan TGF-Β Serum Tikus Putih (Rattus novergicus) strain Wistar Oktomalioputri, Biomechy; Darwin, Eryati; Decroli, Eva
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDiet tinggi kolesterol ini akan meningkatkan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) sebagai penanda hiperlipidemia yang berdampak pada terjadinya aterosklerosis. Transforming Growth Factor β (TGF-β) memiliki peranan dalam proses terjadinya aterosklerosis ini. Keterlibatannya dalam hiperlipidemia sebagai faktor risiko utama aterosklerosis belum banyak diketahui. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh lama permberian diet tinggi kolesterol terhadap kadar LDL dan TGF-β pada tikus putih (Rattus novergicus) strain Wistar. Penelitian ini menggunakan metode post test only control group design yang dilakukan terhadap tikus Rattus novergicus jantan umur 3-4 bulan, berat 200-250 gram. Sampel penelitian terdiri dari 24 ekor tikus yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol, A, B dan C. Selain kelompok kontrol, kelompok tikus diberi diet tinggi kolesterol berupa lemak kambing 10%, telur puyuh 5%, selama 10 hari untuk kelompok A, 20 hari untuk kelompok B dan 30 hari untuk kelompok C. Pada akhir percobaan darah tikus diambil dan dilakukan pemeriksaan kadar LDL dan TGF-β serum. Hasil penelitian diolah secara bivariat. Analisis yang digunakan yaitu uji oneway Anova. Hasil penelitian diketahui terdapat pengaruh lama pemberian diet tinggi kolesterol terhadap peningkatan kadar LDL serum tikus dengan p=0,01 (p<0,05). Terdapat pengaruh lama pemberian diet tinggi kolesterol terhadap penurunan kadar TGF-β dimana p=0,04 (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh lama pemberian diet tinggi kolesterol terhadap kadar LDL dan tikus putih Rattus novergicus strain Wistar.Kata kunci: diet tinggi kolesterol, LDL, TGF-β AbstractHigh-cholesterol diet will increase Low Density Lipoprotein (LDL) levels which impact to atherosclerosis. Transforming Growth Factor β (TGF-β) play a role in atherosclerosis process. But its involvement in hyperlipidemia as the main risk factor of atherosclerosis still unknown. The objective of this study was to observe the effect of duration of giving  high-cholesterol diet on Low Density Lipoprotein and Transforming Growth Factor β levels white rats (Rattus novergicus) Wistar strain. This study uses  post-test only control group design, carried out on male rats Rattus novergicus 3-4 months, weight 200-250 grams. The study sample consisted of 24 rats were divided into 4 groups: control group, group A, group B and group C. Except  the control group, the group of rats given a high-cholesterol diet in the form of goat fat 10%, 5% quail eggs for 10 days to group A, group B for 20 days and 30 days for group C. At the end of the experiment blood was taken and examined LDL and TGF-β levels. Results were analyzed using bivariate. The analysis is oneway Anova test. The results of research known to have effect of duration on giving high-cholesterol diet to increase serum LDL levels of rats with p = 0.01 (p<0.05). This is the same case with TGF-β, which there was effect of duration on giving high-diet cholesterol diet to decrease serum TGF-β levels of rats where p = 0.04 (p>0.05). This study concludes that there are effect of duration on giving high-cholesterol diet to levels of LDL and TGF-β white rats Rattus novergicus Wistar strain.Keywords:  high-cholesterol diet, LDL, TGF β