Nyoman Sadra Dharmawan
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali

Published : 40 Documents
Articles

Found 40 Documents
Search

PROTEIN SPESIFIK CAIRAN KISTA CYSTICERCUS BOVIS PADA SAPI BALI YANG DIINFEKSI DENGAN TAENIA SAGINATA (SPECIFIC PROTEIN OF CYSTICERCUS BOVIS CYST FLUID ON BALI CATTLE EXPERIMENTALLY INFECTED WITH TAENIA SAGINATA) Dharmawan, Nyoman Sadra; Dwinata, I Made; Swastika, Kadek; Damriyasa, I Made; Oka, Ida Bagus Made; Astawa, I Nyoman Mantik
Jurnal Veteriner Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cysticercus bovis is the larval stage of Taenia saginata, the bovine tapeworm. The infection of thislarval in cattle musculature causes Bovine cysticercosis or Cysticercosis bovis.  Bovine cysticercosis is foundworldwide, but mostly in developing countries, where unhygienic conditions, poor cattle managementpractices, and the absence of meat inspection are common.  The adult Taenia infection in man is referredto as taeniasis.  Taenia saginata taeniasis is also found almost all over the world.  The prevalence ofTaenia saginata taeniasis has reported up to 27.5% in Gianyar Bali. In order to control the diseases,vaccination against the larvae stages in cattle of Taenia saginata may play an important role in controllingthe disease in the endemic regions.  The aims of the present study were to prepare and to investigate theimmunogenic protein as vaccine candidate for controlling  Cysticercus bovis infection in in Bali cattle.Cysticercus protein from the cyst fluid was firstly used to immunize mice and the mice sera were thencollected. Cysticercus proteins then analyzed using sodium dodecyl sulfate-gel electrophoresis (SDS-PAGE).All cysticercus proteins were then visualized by Commasie blue staining. The proteins were also transferredonto nitrocellulose membrane and the immunogenic proteins were visualized by Western Blotting usingimmune sera raised in mice.  By Commasie blue staining, a total of 17 proteins were detected with themolecular weight of 14,86 kDa -122,40 kDa from the smallest to the largest. As many as 7 immunogenicproteins with the molecular weights of 16.81 kDa; 19.22 kDa; 20.98 kDa; 27.41 kDa; 34.02 kDa; 38.31 kDa;and 54.94kDa were detected.
PENINGKATAN PENDAPATAN PETERNAK MELALUI PERBAIKAN MANAJEMEN PETERNAKAN BABI Agustina, Kadek Karang; Wirata, I Wayan; Dharmayudha, Anak Agung Gde Oka; Kardena, I Made; Dharmawan, Nyoman Sadra
Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 2 Agustus 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan keluarga peternak babi dengan melakukan rekonstruksi dan perbaikan pada sistem peternakan babi yang diterapkan. Metode yang diterapkan pada penelitian ini adalah aplikasi dari teknik pemecahan masalah melalui kegiatan IPTEKDALIPI. Data yang dikumpulkan adalah total biaya produksi yang dihabiskan selama satu kali periode produksi yaitu sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Hasil menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan pada penghasilan peternak babi dari 31,4% menjadi 38,77%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penghasilan peternak babi dapat ditingkatkan melalui perbaikan sistem manajemen peternakan babi.
GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI DAN GINJAL BABI LANDRACE YANG DIBERI PAKAN ECENG GONDOK DARI PERAIRAN TERCEMAR TIMBAL Dewi, Ni Kadek Nining Laksmi; Winaya, Ida Bagus Oka; Dharmawan, Nyoman Sadra
Buletin Veteriner Udayana Vol. 9 No. 1 Pebruari 2017
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2017.v09.i01.p01

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian eceng gondok (Eichornia crassipes) dari perairan tercemar timbal (Pb) dalam ransum terhadap perubahan histopatologi hati dan ginjal babi. Sampel yang digunakan adalah organ hati dan ginjal dari 8 ekor babi Landrace yang diberi perlakuan berbeda. Perlakuan yang diberikan adalah A = babi yang  mendapat ransum tanpa eceng gondok, B = babi yang mendapat ransum yang ditambah dengan 2,5 % eceng gondok, C = babi yang mendapat ransum yang ditambah dengan 5%  eceng gondok dan D = babi yang mendapat ransum yang ditambah dengan 7,5% eceng gondok. Pengambilan sampel organ hati dan ginjal babi dilakukan dengan cara nekropsi pada semua babi di akhir penelitian, kemudian organ dimasukkan ke dalam tabung yang berisi neutral buffer formalin10%. Pembuatan preparat histopatologi dilakukan dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin (HE). Pemeriksaan preparat dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100x, 200x dan 400x. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan melihat perubahan yang terjadi pada organ hati dan ginjal babi antara kelompok perlakuan dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian eceng gondok (Eichornia crassipes) yang berasal dari perairan tercemar Pb pada pakan menyebabkan perubahan histopatologi hati dan ginjal babi Landrace. Perubahan tersebut yaitu degenerasi, nekrosis dan peradangan.
STUDI BIOLOGI PERKEMBANGAN METACESTODA TAENIA SAGINATA PADA SAPI BALI Dharmawan, Nyoman Sadra; Dwinata, I Made; Swastika, Kadek; Damriyasa, I Made; Oka, Ida Bagus Made; Agustina, Kadek Karang
Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 1 Pebruari 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian perkembangan metacestoda Taenia sagianta pada sapi bali. Dua ekor sapi bali masing-masing diinfeksi 500.000 telur T. saginata yang diperoleh dari pasien orang Bali.  Nekropsi pada ke dua sapi dilakukan 103 dan 131 hari pasca infeksi. Pemeriksaan karkas dan organ viseral dikerjakan dengan cara insisi dan inspeksi mengikuti metode pemeriksaan rutin kesehatan daging.  Pada sapi yang dinekropsi 103 hari pasca infeksi ditemukan 534 metacestoda di beberapa otot skeletal, jantung dan diafragma yang sebagian masih berukuran 3x2 mm.  Sementara pada sapi yang dinekropsi 131 pasca infeksi, ditemukan 2.249 metacestoda menyebar di seluruh otot skeletal, jantung, diafragma, dan lidah dengan ukuran 4 x 3 mm.  Dari hasil pengamatan ini, dapat dibuat kesimpulan bahwa perkembangan optimal metacestoda pada sapi bali sekitar empat bulan pasca infeksi.
TOTAL ERITROSIT, KADAR HEMOGLOBIN, DAN NILAI HEMATOKRIT BABI LANDRACE YANG DIBERI PAKAN ECENG GONDOK DARI PERAIRAN TERCEMAR TIMBAL Putri, Putu Vindhy Chempaka; Budaarsa, Komang; Dharmawan, Nyoman Sadra
Buletin Veteriner Udayana Vol. 9 No. 1 Pebruari 2017
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian eceng gondok yang berasal dari perairan tercemar Pb terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit babi. Sampel yang digunakan adalah sampel darah dari 8 ekor babi Landrace yang diberi perlakuan berbeda. Perlakuan yang diberikan adalah: A = babi yang mendapat ransum tanpa eceng gondok, B = babi yang mendapat ransum yang ditambah eceng gondok 2,5 %, C = babi yang mendapat ransum yang ditambah eceng gondok 5% dan D = babi yang mendapat ransum yang ditambah eceng gondok 7,5%. Pengambilan darah dilakukan melalui vena auricularis superficialis. Total eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit dihitung menggunakan metode pemeriksaan hematologi rutin dengan mesin auto analyzer Scil Vet ABC (ABC Vet 16p). Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian eceng gondok yang berasal dari perairan tercemar Pb pada pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit babi tersebut.
TOTAL DAN DIFERENSIAL LEUKOSIT BABI LANDRACE YANG DIBERI PAKAN ECENG GONDOK (EICHORNIA CRASSIPES) DARI PERAIRAN TERCEMAR TIMBAL (PB) Paramita, Komang Suciani; Mahardika, I Gede; Dharmawan, Nyoman Sadra
Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 2 Agustus 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian eceng gondok yang berasal dari perairan tercemar Pb dalam ransum terhadap total dan diferensial leukosit babi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap. Sampel yang digunakan adalah sampel darah dari 8 ekor babi Landrace yang digunakan sebagai perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah: A = babi yang mendapat ransum tanpa eceng gondok, B = babi yang mendapat ransum yang ditambah dengan eceng gondok 2,5%, C = babi yang mendapat ransum yang ditambah dengan eceng gondok 5%, dan D = babi yang mendapat ransum yang ditambah dengan eceng gondok 7,5%. Sampel darah diambil melalui vena auricularis superficialis.  Total dan diferensial leukosit diperiksa di Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Total leukosit diperiksa dengan menggunakan alat otomatis auto analyzer Scil Vet ABC (ABC Vet 16p) dan diferensial leukosit diperiksa lewat preparat apus darah dengan pewarnaan Giemsa. Penghitungan diferensial leukosit dilakukan di bawah mikroskop dengan pembesaran lensa 100 kali, menggunakan straight-edge method hingga ditemukan 100 sel leukosit. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian eceng gondok yang berasal dari perairan tercemar Pb pada pakan tidak berpengaruh terhadap total dan diferensial leukosit babi.
SEROPREVALENSI SISTISERKOSIS PADA BABI DI PAPUA (SEROPREVALENCE OF PIG CYSTICERCOSIS IN PAPUA REGION) Swacita, Ida Bagus Ngurah; Suada, I Ketut; Budiasa, Ketut; Dharmawan, Nyoman Sadra; Astawa, Nyoman Mantik; Polos, I Nyoman; Damriyasa, I Made
Jurnal Veteriner Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.1.18

Abstract

Pig cysticercosis is an infection caused by the larval stage of pork tapeworm and Papua is one of the largest endemic areas of cysticercosis in Indonesia. This survey aim was to determine the seroprevalence of pig cystisercosis in Papua. A total of 311 pig serum samples collected from six regencies in Papua were examined using Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). The result of the survey showed that the average seroprevalence of pig cysticercosis in Papua was 23.5% (73/311), where the highest seroprevalence was found in the regency of Jayawijaya was 42.6% (43/101), Biak 22.5% (9/40), Nabire 20.6% (7/34), Mimika 17% (8/47), Jayapura 13.5% (5/37), and Merauke 1.9% (1/52). It can be concluded that the seroprevalence of pig cysticercosis in Papua is still high, therefore, it is necessary to do more intensive programs to prevent and control this disease. ABSTRAK Sistiserkosis pada babi adalah infeksi yang disebabkan oleh stadium larva cacing pita, dan Papua merupakan salah satu daerah endemis sistiserkosis di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan seroprevalensi sistiserkosis pada babi di Papua. Sebanyak 311 sampel serum babi yang dikumpulkan dari enam kabupaten di Papua diuji dengan Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan seroprevalensi sistiserkosis pada babi di Papua sebesar 23,5% (73/311), dan seroprevalensi terbesar ditemukan di Kabupaten Jayawijaya 42,6% (43/101), Biak 22,5% (9/40), Nabire 20,6% (7/34), Mimika 17% (8/47), Jayapura 13,5% (5/37), dan Merauke 1,9% (1/52). Dapat disimpulkan bahwa seroprevalensi sistiserkosis pada babi di Papua masih tinggi, sehingga diperlukan program yang lebih intensif untuk mencegah dan mengontrol penyakit ini.
GAMBARAN ULAS DARAH KODOK LEMBU (RANA CATESBEIANA) Ridwan, Isabella Anjari; Utama, Iwan Harjono; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gambaran ulas darah diperlukan untuk mengetahui status kesehatan kodok lembu (Rana catesbeiana), mengingat kodok lembu umum dikonsumsi oleh masyarakat juga memiliki peranan penting sebagai bio-indikator kesehatan lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai gambaran eritrosit, leukosit dan trombosit dari kodok lembu. Terhadap leukosit dilakukan penghitungan differential leukocyte. Darah yang digunakan berasal dari 25 ekor kodok lembu, diambil dari vena femoralis. Pengamatan dilakukan terhadap gambaran dari eritrosit, leukosit, dan trombosit serta ada tidaknya abnormalitas menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 400-1000 kali. Penghitungan differential leukocyte dilakukan dengan menggunakan metode battlement dan dihitung hingga jumlah mencapai 100. Hasil yang diperoleh pada pengamatan gambaran sel-sel darah memiliki normal dan bentukan abnormal berupa smudged cells. Eritrosit dari kodok lembu berbentuk oval dengan inti di tengah dan memiliki sudut yang tidak beraturan. Leukosit kodok lembu memiliki inti yang lebih besar dibandingkan sitoplasmanya. Trombosit terlihat mengalami penggumpalan dan berkelompok membentuk agregasi di antara eritrosit dan memiliki inti sel berbentuk ovalHasil persentase leukosit dari penghitungan differential leukocyte, yaitu limfosit 80,56%, neutrofil 13,76%, eosinofil 3,72%, monosit 1,96%, dan basofil 0%. Dapat disimpulkan bahwa limfosit yang terdapat pada kodok lembu memiliki persentase yang tinggi dan basofil yang terendah.
TOTAL ERITROSIT, HEMOGLOBIN, PACK CELL VOLUME, DAN INDEKS ERITROSIT SAPI BALI YANG TERINFEKSI CYSTICERCUS BOVIS Diparayoga, I Made Galih; Dwinata, I Made; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (3) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis secara eksperimental. Sampel yang digunakan adalah tiga Sapi Bali betina yang berumur 5-7 bulan. Satu ekor digunakan sebagai kontrol dan dua ekor lainnya sebagai perlakuan. Infeksi eksperimental dilakukan dengan cara menginfeksikan 500.000 telur Taenia saginata per oral. Sampel darah diambil sebanyak lima kali setiap dua minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian, menunjukkan total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang diinfeksi 500.000 telur T. saginata adalah: eritrosit (7,23 x 106/?L); hemoglobin (10,01 g/dL); PCV (32,07%); MCV (43,4 fL); MCH (13,74 pg); dan MCHC (31,33 g/dL). Nilai tersebut masih berada pada rentang normal komponen eritrosit sapi dan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan parameter yang sama pada sapi kontrol. Simpulannya sel darah merah Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis hingga minggu ke-9 tidak berbeda nyata dengan sapi kontrol.
KEJADIAN DERMATOSIS YANG TINGGI PADA ANJING JALANAN DI BALI (A HAIGH DERMATOSIS INCIDENCE AMONG STRAY DOGS IN BALI) Wiryana, I Kadek Saka; Damriyasa, I Made; Dharmawan, Nyoman Sadra; Arnawa, Kadek Agus Agra; Dianiyanti, Kadek; Harumna, Dina
Jurnal Veteriner Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was designed to investigate the incidence of dermatosis among stray dogs in Bali. A totalof 401 stray dogs collected in the animal shelter of Bali Animal Welfare Association during 2011 wasinvestigated in this study. Dogs were examined by the clinical sign and continued by skin scraping, cytologyand wood lamp examination. In total, 37,9% sample were positive for dermatosis. Bacterial causeddermatosis found to be the most prevalent (23,6%), followed by tick and fleas (16.5%), scabies (12.7%),malassezia (8.2%), demodek (8%) and ringworm (4.5%) respectively. We also found that dermatosis weremore prevalent in male dogs (50.9%) rather than female dogs (32.9%). Dogs 9-12 weeks old were moreheavily infected (45.8%) than other group. In conclusion, the incidence of dermatosis among stray dogs inBali is relatively high. This may need serious awareness as some of this dermatosis were zoonotic tohuman.