Krispinus Duma
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

MODUL MENUJU SELAMAT-SEHAT: INOVASI PENYULUHAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DALAM PENGENDALIAN KELELAHAN KERJA Duma, Krispinus
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 14, No 04 (2011)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.125 KB)

Abstract

Background: Fatigue was allegedly the cause of accidentsin the Perusahaan Tambang Batubara (PTB) and the OHS managementcompany focused on the manpower to cope with recommendsgetting enough sleep, exercise, balanced diet andso forth. But fatigue is caused by various factors including,work environment factors, lifestyle, health conditions and soforth but it is not disclosed to the work force. OccupationalHealth Safety (OHS) extension system with lectures held sofar one way communication from the management of PTB tothe workforce and look at labor as objects rather than as OHSsubjects.Purpose: Towards a Better Health and Safety Module (MMSS)as the OHS method and media effective counseling increasedknowledge, attitude and behavior of OHS and innovative laborforce in controlling fatigue in PTB.Methods: This quasi-experimental type (quasi experimental)with nonequivalent design (pretest and posttest) control groupdesign, consisting of treatment group (experimental) and controlgroups. Treatment groups received MM-SS, while the controlgroup did not get the MMSS.Result: Application Module Towards Good-Health as a methodand medium of OHS for one-year extension effective improvethe OHS knowledge and attitudes heavy equipment operatorsignificantly (p<0.05), but not yet effective increasing behaviorof heavy equipment operator (p> 0,05) in control of workexhaustion in the PTB. Relationships of OHS knowledge andattitude with the level of job burnout WR light, WR sound indicator,and KAUPK2 significant (p <0.05) but not significantOHS behavior (p> 0.05). The correlation coefficient of OHSknowledge, attitude and behavior with the level of job burnoutWR light, WR sound indicator and KAUPK2 is 0.090 to 0.540.Conclusion: Module OHS (MMSS) as extension methods andmedia effective K3 K3 improve knowledge and attitudes, butnot yet effective increase K3 behavior PTB heavy equipmentoperator. Knowledge and attitudes K3 significantly associatedwith fatigue level heavy equipment operator work PTB, but therelationship behavior of K3 with no significant level of jobburnout.Keywords: modules, knowledge, attitude, behavior, fatiguework
ANALISIS RENTANG WAKTU PEMERIKSAAN PENDERITA KANKER PAYUDARA DI PELAYANAN KESEHATAN SAMARINDA Rahmadhani, Widia; Bakhtiar, Rahmat; Nugroho, Eko; Irawiraman, Hadi; Duma, Krispinus
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 4 (2019): Dipublikasi Desember 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i4.1143

Abstract

AbstrakKanker payudara merupakan penyebab kematian nomor satu akibat kanker dan tingginya angka kematian akibat kanker payudara disebabkan karena banyak penderita kanker payudara yang terdiagnosis saat stadium lanjut. Hal ini disebabkan oleh keterlambatan penderita kanker payudara melakukan pemeriksaan di pelayanan kesehatan. Banyak faktor risiko yang berperan dalam mempengaruhi rentang waktu pemeriksaan penderita kanker payudara di pelayanan kesehatan. Tujuan: Mengidentifikasi hubungan faktor-faktor yang terkait dengan rentang waktu pemeriksaan kanker payudara di pelayanan kesehatan Samarinda. Metode: Desain penelitian ini adalah analitik cross-sectional terhadap 46 penderita kanker payudara di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan uji Fisher. Hasil: Terdapat hubungan antara usia dengan rentang waktu pemeriksaan (p=0,022) dan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dengan rentang waktu pemeriksaan (p=0,000). Faktor risiko lain yang tidak berhubungan adalah keluhan awal, riwayat keluarga kanker payudara, faktor ekonomi, dan pengobatan alternatif. Simpulan: Terdapat hubungan antara usia dan SADARI dengan rentang waktu pemeriksaan penderita kanker payudara di pelayanan kesehatan Samarinda dan tidak terdapat hubungan antara faktor risiko yang lain dengan rentang waktu pemeriksaan penderita kanker payudara di pelayanan kesehatan Samarinda. 
Studi Kebijakan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) di Propinsi Kalimantan Timur Duma, Krispinus
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.473 KB) | DOI: 10.22146/jkki.36382

Abstract

Background : East Kalimantan is a destination for job seekers whether local, national, regional or international professionals due to its rich natural resources. Therefore East Kalimantan requires an occupational health and safety management (in Indonesia: SMK3) comprehensively. SMK3 policy is necessary both at the central and at the local level prior to the enactment of the Asean Free Trade Agreements (AFTA) in 2015. SMK3 policy at the national level generally accepted in Indonesia that can be seen by the presence of laws and regulations on health, employment and industrialization. The generally accepted policy needs to be adjusted to the conditions and situation in the region through Regulation or the Governor Decree in accordance PP RI number 25 of 2000 and Government Regulation Number 38 in 2007. Method: This is a qualitative research method using triangulation approach which collects data from various sources in the institutions of legislative, executive and implementing agency supervisors and supervisory policies of health system and SMK3 in the province of East Kalimantan. Results : Out of a total of 89 province regulations and decrees from 2003 to 2012, only approximately 12 of them which are related to health policy, but generally relates to levy income and expenditures on health. Application of health policy for the East Kalimantan by the Health Office and the Department of Labor’s Office is still guided by the central regulation. The new health policy initiated through Regulation number 20 in 2008 regarding the health system, but there are no local regulations yet nor governor decree regarding SMK3 in East Kalimantan province yet. Recommendation: A serious commitment from all stakeholders in East Kalimantan is required to achieve more concrete and tangible policies in the form of local regulations or decisions of the governor. Latarbelakang: Kalimantan Timur sebagai tujuan pencari kerja dalam skala lokal, nasional, regional maupun internasional yang profesional karena sumber daya alamnya, memerlukan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (SMK3) yang komprehensif. Kebijakan SMK3 tersebut perlu kesiapan baik ditingkat pusat maupun di tingkat daerah sebelum diberlakukannya Asean Free Trade Agreements (AFTA) pada tahun 2015. Kebijakan SMK3 di tingkat pusat yang berlaku umum di Indonesia dapat dilihat dari adanya undang-undang dan peraturan tentang kesehatan, ketenagakerjaan dan industrialisasi. Kebijakan yang berlaku umum tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi di daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) atau Keputusan Gubernur, sesuai PP RI nomor 25 tahun 2000 dan PP RI nomor 38 tahun 2007. Metode: Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode pendekatan triangulasi yaitu mengumpulkan data dari berbagai sumber-sumber di institusi legislatif, eksekutif maupun instansi pelaksana pembina dan pengawas kebijakan sistem kesehatan dan SMK3 di Provinsi Kalimantan Timur. Hasil: Sebanyak 89 produk peraturan daerah dan keputusan gubernur selama tahun 2003-2012, sekitar 12 diantaranya yang berhubungan dengan kebijakan di bidang kesehatan, namun umumnya berkaitan dengan retribusi pendapatan dan belanja daerah mengenai kesehatan. Penerapan Kebijakan kesehatan selama ini di Kalimantan Timur oleh Kantor Dinas Kesehatan dan Kantor Dinas Tenaga Kerja masih berpedoman pada peraturan pusat. Kebijakan di bidang kesehatan baru dimulai melalui Perda 20 tahun 2008 tentang sistem kesehatan namun belum ada perda atau kepgub yang berkaitan dengan kebijakan SMK3 di Provinsi Kalimantan Timur. Kesimpulan: Diperlukan komitmen serius dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mewujudkan kebijakan yang lebih konkrit dan nyata dalam bentuk peraturan daerah atau keputusan gubernur.
Pembiayaan Kesehatan dan Efektifitas Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Kalimantan Timur Duma, Krispinus
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.078 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v5i2.30787

Abstract

ABSTRACTBackground: Financing is one of the main factors in improving health care in general and maternal and child health services in particular. East Kalimantan area, which has an abundant source of revenue, ideally has either adequate financing on health care costs and the costs associated with health managed by other agencies. Improved health status can not be handled only by health institutions but needs to be strongly supported the role of other institutions, such as the maternal and child health services to reduce maternal mortality and child according to MDG targets. But the effectiveness of health care services in addition to financing is also determined by the commitment, cooperation and cross-sectoral health policy.Purpose: To determine the effectiveness of the financing of provincial health and maternal and child health services with indicators of maternal and child mortality rates according to the MDG targets in eastern Kalimantan.Methods: This research is descriptive using secondary data from East Kalimantan health profile and health-related financing in other institutions 2013-2013 period. Results: Health financing in the province of East Kalimantan varies widely each year, the health budget in 2013 amounted to Rp. 1.875 trillion, in 2012 amounted to Rp. 1.421 trillion, and in 2011 amounted to Rp. 148.731 billion, with per capita health budgets consecutive are Rp. 572 632, Rp. 385 130 and Rp. 47,581,888. Financing associated with other health institutions in 2013 amounted to Rp. 26 632, in 2012 amounted to Rp. 21 630 and in 2011 amounted to Rp. 11 338 per person. Maternal mortality, maternity and postpartum in 2013 as many as 113, in 2012 as many as 147, and in 2011 as many as 87. The death of infants and toddlers in 2013, 2012 and 2011 as many as 623, 648 and 971.Conclusion. The number of health financing does not determine the effectiveness of maternal and child health services, but a more important thing is the commitment and collaboration services and inter-sectoral programs that support maternal and child health services to achieve the MDGs. Keywords. Financing health, maternal and child health services. ABSTRAKLatabelakang: Pembiayaan salah satu faktor utama dalam meningkatkan pelayanan kesehatan secara umum dan pelayanan kesehatan ibu dan anak secara khusus. Kalimantan timur daerah yang mempunyai pendapatan asli daerah (PAD) yang tinggi idealnya mempunyai pembiayaan yang memadai baik biaya pada pelayanan kesehatan maupun biaya yang terkait dengan kesehatan yang dikelolah oleh instansi lain. Peningkatan derajat kesehatan tidak dapat ditangani hanya oleh institusi kesehatan tetapi sangat didukung peranan institusi lainnya, seperti dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak sesuai target MDGs. Tetapi efektifitas pelayanan kesehatan selain adanya pembiayaan juga ditentukan oleh komitmen, kerjasama lintas sektoral dan kebijakan kesehatan.Tujuan: untuk mengetahui pembiayaan kesehatan provinsi dan efektifitas pelayanan kesehatan ibu dan anak dengan indikator angka kematian ibu dan anak menurut target MDGs di Kalimantan timur.Metode: Penelitian ini bersifat Deskriptif dengan menggunakan data sekunder berupa profil kesehatan Kalimantan Timur dan pembiayaan yang berkaitan dengan kesehatan di institusi lain periode 2011-2013. Hasil. Pembiayaan kesehatan di provinsi Kalimantan Timur sangat bervariasi setiap tahun, anggaran kesehatan pada tahun 2013 sebanyak Rp. 1,875 Triliun, tahun 2012 sebesar Rp. 1,421 triliun dan pada tahun 2011 sebesar Rp. 148,731 triliun dengan anggaran kesehatan perkapita berturut-turut Rp. 572.632, Rp. 385.130 dan Rp. 47,581,888. Pembiayaan yang terkait dengan kesehatan di institusi lainnya pada tahun 2013 sebesar Rp. 26.632, tahun 2012 sebesar Rp. 21.630 dan tahun 2011 sebesar Rp. 11.338 per orang. Kematian ibu hamil, bersalin dan nifas pada tahun 2013 sebanyak 113, tahun 2012 sebanyak 147 dan tahun 2011 sebanyak 87. Kematian bayi dan balita pada tahun 2013, 2012 dan 2011 sebanyak 623, 648 dan 971.Kesimpulan: Banyaknya pembiayaan kesehatan tidak menentukan efektifitasnya pelayanan kesehatan ibu dan anak namun yang terpenting adalah komitmen pelayanan dan kerjasama lintas program dan sektoral yang mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak untuk mencapai target MDGs. Kata Kunci: Pembiayaan kesehatan, pelayanan KIA.
Implementasi Manajemen Risiko Berdasarkan ISO 31000:2009 pada Program Perawatan Mesin di Area Workshop PT. X Fitri, Sari Delima; Setyowati, Dina Lusiana; Duma, Krispinus
Faletehan Health Journal Vol 6 No 1 (2019): Faletehan Health Journal, Maret 2019
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKes Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.369 KB) | DOI: 10.33746/fhj.v6i1.40

Abstract

Program perawatan mesin di area workshop merupakan unit pekerjaan yang berisiko tinggi dalam hal kecelakaan kerja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui implementasi manajemen risiko berdasarkan ISO 31000:2009 pada program perawatan mesin di area workshop. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif menurut ISO 31000:2009. Informan penelitian adalah head workshop sebagai informan utama, maintenance department head sebagai informan kunci dan pekerja di workshop sebagai informan pendukung. Program perawatan mesin di area workshop terdiri dari 3 tahapan pekerjaan yaitu fabrikasi, perakitan dan service (finishing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil identifikasi bahaya ditemukan bahaya fisik, bahaya kimia, bahaya biologis, bahaya ergonomi dan bahaya psikologi. Hasil analisis risiko tidak didapati bahaya dengan risiko sangat tinggi, 3 bahaya dengan risiko tinggi, 13 bahaya dengan risiko sedang dan 11 bahaya dengan risiko rendah. Bentuk perlakuan risiko yaitu pada perlakuan awal menggunakan metode mitigasi risiko untuk setiap risiko yang dihadapi, kemudian perlakuan berikutnya antara lain transfer risiko, menghindari risiko dan menerima risiko. Berdasarkan hasil dari perlakuan risiko yang ditetapkan, adanya rekomendasi atau penanganan dari risiko yang mungkin terjadi yaitu berupa tindakan pengendalian yang efektif serta perlakuan yang tepat dalam menangani berbagai kemungkinan risiko.
Reliability and Validity Test of the Indonesian Version of the Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ) to Measure Musculoskeletal Disorders (MSD) in Traditional Women Weavers Ramdan, Iwan Muhamad; Duma, Krispinus; Setyowati, Dina Lusiana
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Global Medical & Health Communication (GMHC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v7i2.4132

Abstract

Musculoskeletal disorder remains to be a health and safety problem. One of measuring instrument often use to assess musculoskeletal disorders worldwide is the Nordic musculoskeletal questionnaire (NMQ). This questionnaire translated into various languages and tested for its validity and reliability. However, it has limitations, such as the difficulty of application in countries that do not speak English. This study aims to test the validity and reliability of the Indonesian version of NMQ in women weavers working using traditional handlooms in East Kalimantan Indonesia from March to May 2018. The validity of items obtained ranges 0.501 (min.) to 0.823 (max.), and Cronbach's alpha reliability was 0.726. In conclusion, the NMQ in Indonesian version has satisfactory psychometric properties with adequate validity and reliability. UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS NORDIC MUSCULOSKELETAL QUESTIONNAIRE (NMQ) VERSI INDONESIA UNTUK MENGUKUR GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA PENENUN TRADISIONAL WANITAGangguan muskuloskeletal masih menjadi masalah kesehatan dan keselamatan kerja. Salah satu alat ukur yang sering dipakai untuk mengkaji gangguan muskuloskeletal di seluruh dunia adalah Nordic musculoskeletal questionnaire (NMQ). Kuesioner ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia dan terbukti valid serta reliabel, tetapi memiliki keterbatasan di antaranya sulit diaplikasikan di negara yang tidak menggunakan bahasa Ingris sebagai bahasa sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menguji validitas dan reliabilitas NMQ versi bahasa Indonesia pada penenun tradisional wanita di Kalimantan Timur periode Maret sampai Mei 2018. Didapatkan hasil uji validitas item berkisar antara 0,501 (min.) sampai 0,823 (maks.) dan indeks reliabilitas Cronbach's alpha sebesar 0,726. Simpulan, NMQ versi bahasa Indonesia cukup valid dan reliabel untuk mengukur gangguan muskuloskeletal.
THE EFFECTS OF THE UTILIZATION OF INTEGRATED MANAGEMENT POST OF MEDICAL FACULTY OF MULAWARMAN UNIVERSITY ON RISK INDICATORS OF NON-COMMUNICABLE DISEASE Safitri, Irma Kania; Duma, Krispinus; Bakhtiar, Rahmat; Fitriani, Evi
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30650/jik.v7i2.1215

Abstract

Non-communicable diseases have become a major public health problem in the last decade. In Indonesia, it was more than 36 million people dying from non-communicable diseases related to several risk factors including behavioral, metabolic and social risk factors. Several indicators can be considered to detect the risk factors of non-communicable diseases. They are blood pressure, cholesterol, glucose, uric acid, and body mass index. Efforts to prevent and control non-communicable diseases that are being developed in Indonesia are integrated management posts for non-communicable diseases that provide facilities and guidance to the community to take part in controlling the risk factors for non-communicable diseases. This research is an observational analytic study with the cross-sectional method based on data obtained from the monitoring book of members of the Medical School of Mulawarman University. The sample of this study was all individuals in the population that met the inclusion criteria of the study. Sixty-five samples were obtained to see the posbindu effect on blood pressure and 61 samples saw the effect of posbindu on total cholesterol levels that met the inclusion criteria. The variables observed in this study were posbindu utilization, sample blood pressure, and total cholesterol levels in the sample. The results of the research, there was the effect of using posbindu on sample blood pressure (p = 0.042), and there was no effect on the use of total cholesterol level in the sample (p = 0.590).