Hapsari Dwiningtyas
Unknown Affiliation

Published : 31 Documents
Articles

Found 31 Documents
Search

SIKAP MEDIA, CITRA PERSONAL DAN PENGHAPUSAN APBD UNTUK WARTAWAN (ANALISIS ISI BERITA GUBERNUR JAWA TENGAH DI SUARA MERDEKA, TRIBUN JATENG, DAN RADAR SEMARANG) Monicaningsih, Aisyah; Dwiningtyas, Hapsari; Setyabudi, Djoko; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya pemberitaan di berbagai media cetak mengenai penghapusan APBD untuk wartawan di Provinsi Jawa Tengah menjadi dasar kajian penelitian yang mempersoalkan bagaimana perbedaan sikap Surat Kabar Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Jawa Pos Radar Semarang terhadap citra (personal image) dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelum dan sesudah adanya kebijakan penghapusan APBD untuk wartawan ?Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sikap ketiga surat kabar dan citra (personal image) dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelum dan sesudah adanya kebijakan penghapusan APBD untuk wartawan. Penelitian ini menggunakan teori Agenda Setting dan konsep Citra Personal (Personal Image). Tipe penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan mengacu pada metoda analisis isi media. Subjek penelitian yang diambil dalam penelitian ini adalah Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Radar Semarang dengan unit observasinya adalah 82 berita terkait Gubernur. Sementara itu teknik analisis statistik Independent T-test dan Anova One Way digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil uji T yang digunakan untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan menunjukan rata-rata signifikansi sikap media 0,466 > 0,05. Kemudian rata-rata signifikansi citra personal adalah 0,137 > 0,05. Ini memperlihatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi sebelum dengan sesudah adanya kebijakan penghapusan pembiayaan untuk wartawan dari APBD Jawa Tengah. Sedangkan hasil uji F untuk mengetahui perbedaan dari ketiga media sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan menunjukan rata-rata signifikansi 0,000 < 0,05 yang menunjukan ada perbedaan signifikan antara ketiga surat kabar tersebut.Penelitian ini disimpulkan tidak terdapat perbedaan sikap media dan citra personal Gubernur Jawa Tengah, antara kondisi sebelum dengan sesudah adanya kebijakan penghapusan pembiayaan untuk wartawan dari APBD Jawa Tengah. Lalu terdapat perbedaan sikap media dan citra personal Gubernur Jawa Tengah sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan di ketiga surat kabar harian (Suara Merdeka, Radar Semarang, dan Tribun Jateng). Kata Kunci: sikap media, citra personal
HUBUNGAN KUASA KOMUNIKASI PANGGUNG PENYANYI DANGDUT Fitriya, Alvi; Dwiningtyas, Hapsari
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Power is an important component of social relation which is used by individuals to maintain their position in social arena. Environment can be the determinant factor for an individual to show their power in social arena. The aim of the study is to find out power relations of stage communication among orkes melayu dangdut show?s agents using ethnography as the type of study. Theories used in this study include Agent and Structure Theory which is a derivation of Habitual and Arena Concept, and is explaining that agent structure is interconnected in social practices among economic, cultural, social, and symbolic capitals. It is added with Theory of Power which explains that power is an innate value in every individual in the structure of power relation hierarchy. The result of the study shows that stage communication happened during dangdut show performed by orkes melayu consists of show agents including singers, music players, tenants, MCs, audiences, and producers are divided into two domains, they are front stage and back stage. In every scope of domain, each dangdut show?s agent has capital which is used to create a new capital of each show agent. The capital achieved among music players, MCs, and producers is economic capital. Then, the capital achieved among singers, tenants and audiences is symbolic capital. The symbolic capital becomes a driving factor for show agents to get power relations in a social relation in a dangdut show, However in this research, symbolic capital which own by the singer become weak by the power because there is subjection. So based on that the singer has negative image. Therefore, each agent of dangdut show should maintain their main capital in social arena to be able to survive in a social arena of dangdut show and use it as a bridge and a way to gain power in every social relation
PEMAKNAAN MASKULINITAS DALAM IKLAN PRODUK KOSMETIK UNTUK LAKI-LAKI Widiyaningrum, Wahyu; Dwiningtyas, Hapsari; Pradekso, Tandiyo; Santosa, Hedi Pudjo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maskulinitas merupakan sebuah produk kultural yang dihasilkan masyarakat untuk memberikan hak-hak istimewa terhadap laki-laki dalam kehidupansosialnya. Tradisi gender sangat mengunggulkan maskulin dan melarang adanya persamaan antara maskulin dan feminin. Laki-laki maskulin sering digambarkan media sebagai laki-laki yang jantan, tampil natural, tidak mementingkan keindahan fisiknya, memiliki tubuh yang besar, dominan, kuat, berpikir rasional, sosok seorang pemimpin, kompetitif, dan sifat-sifat lain yang lebih unggul dari perempuan. Iklan produk kosmetik untuk laki-laki kemudian menampilkan pemaknaan maskulinitas yang berbeda dari nilai-nilai maskulinitas dominan yang ditampilkan oleh media. Iklan produk kosmetik untuk laki-laki justru menghadirkan laki-laki feminin sebagai laki-laki yang maskulin.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap makna dominan mengenai maskulinitas pada iklan produk kosmetik untuk laki-laki dan melihat representasi laki-laki yang kehadirannya menjadi terpinggirkan karena tidak termasuk kedalam kategori maskulinitas yang ditawarkan iklan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika model Roland Barthes melalui tahapan analisis denotasi dan analisis konotasi.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa iklan produk kosmetik untuk laki-laki menunjukkan makna dominan mengenai maskulinitas laki-laki dengan menampilkan laki-laki yang maskulin sebagai laki-laki yang memperlihatkan sisi femininnya dengan berdandan, memiliki sifat narsis atau memuja diri, berkulit putih, tampil lebih modern dengan gaya berbusana dan tatanan rambut terbaru, heteroseksual, memiliki tubuh berotot, berasal dari lingkungan menengah ke atas, dan bekerja di wilayah publik. Iklan menambahkan laki-laki yang berdandan dan berkulit putih sebagai kriteria baru dalam maskulinitas laki-laki. Iklan juga membuat laki-laki yang tidak termasuk kategori yang ditawarkan oleh iklan produk kosmetik untuk laki-laki menjadi terpinggirkan.Selain itu penelitian ini juga menunjukkan ideologi maskulinitas yang tidak lagi tunggal, melainkan terbagi berdasarkan kelas sosial laki-laki di masyarakat. Kata kunci : gender, maskulininitas, maskulin, laki-laki, iklan, kosmetik
PERFORMATIVITAS GENDER DALAM FILM THE KIDS ARE ALL RIGHT KARYA LISA CHOLODENKO Wibawa, Yohanes Erik; Sunarto, Dr; Dwiningtyas, Hapsari; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep heteronormativitas tidak memberikan ruang dan toleransi terhadap bentuk gender-gender lain kecuali laki-laki dan perempuan dan heteroseksual dianggap sebagai hubungan yang paling alamiah. Judith Butler, seorang pasca strukturalis, menolak dualisme gender tersebut yang secara sosial sangat sulit ditinggalkan. Film The Kids Are All Right karya Lisa Cholodenko ini mencoba keluar dari nilai-nilai heteronormatif tersebut dengan menampilkan pasangan lesbian yang telah berkeluarga lengkap dengan kehadiran anak-anak.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pembuat film dalam melakukan naturalisasi pasangan lesbian dalam konteks sosial keluarga dan mengungkap nilai-nilai dalam kultur dominan (heteronormatif) yang tidak bisa dilepaskan oleh film ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika model Roland Barthes melalui tahapan analisis sintagmatik dan paradigmatik dengan menggunakan lima kode pokok pembacaan teks. Strategi film dalam melakukan naturalisasi dengan menunjukkan bahwa pasangan homoseksual (lesbian) bisa memiliki anak sendiri, anak-anak yang diasuh oleh pasangan lesbian bisa berprestasi dan mempunyai tumbuh kembang yang baik, ikatan emosional anak-anak dengan orang tua maupun antar individu lesbian ketika sedang berkonflik (ditunjukkan melalui ekspresi menangis, marah, dan kecewa), adegan-adegan romantic relationship pasangan lesbian (berciuman, berpelukan, bergandengan tangan, dan bercinta), adanya transformasi nilai-nilai sosial dari orang tua ke anak-anak, dan orientasi seksual orang tuanya tidak mempengaruhi orientasi seksual anak-anaknya (walaupun masih menunjukkan adanya melancholic heterosexuality). Kecenderungan heteronormativitas terletak pada konstruksi praktek sosial dan kategori gender yang sifatnya tidak hanya dikotomis tetapi juga hirarkis melalui hadirnya simbol butch (dominasi maskulin)dan femme (peran domestik feminin). Film ini juga menunjukkan resistensi terhadap heteronormativitas dengan menampilkan kategori gender dan seksualitas yang cair. Performativitas gender disini adalah sesuatu yang kompleks karena bukan hanya sekadar imitasi bagaimana gender yang seharusnya ditampilkan oleh tokoh-tokoh dalam film, tetapi bukan usaha untuk menghindari pengulangan terhadap model heteronormativitas tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya.Kata kunci : gender, seksualitas, film
MEMAKNAI IDENTITAS HIBRIDA DI DALAM KOMIK NUSANTARANGER Kusnianto, Rizky; Santosa, Hedi Pudjo; Dwiningtyas, Hapsari; Gono, Joyo NS
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana identitas hibrida terbentuk di dalam komikNusantaranger. Identitas hibrida di dalam komik Nusantaranger terjadi karenapertemuan tanda-tanda identitas lokal dan asing melalui unsur-unsur intrinsik padakomik. Identitas lokal di wakili oleh keragaman budaya Indonesia dan identitas asingditampilkan oleh peniruan konsep serial televisi superhero Power Rangers. Adapuntujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan bagaimana prosespertemuan kedua identitas sehingga membentuk identitas hibrida.Penelitian ini menggunakan pandangan poskolonial Homi K. Bhaba yangmembantu untuk melihat sebuah identitas hibrida dapat dibentuk melalui ruang ketigaatau ruang liminal (third place). Ruang liminal ini adalah gambar-gambar pada komiksebagai tanda-tanda yang mengkonstruksi identitas hibrida. Pembentukan tanda-tandaidentitas hibrida ini melalui proses mimikri yang melibatkan peniruan, memunculkanperbedaan melalui keterselipan dan kelebihan dan akhirnya memposisikan keduaidentitas dalam keadaan ambivalen dimana salah satu berada di posisi tunduk untukbisa menjadi hibriditas.Temuan atas penelitian ini menghasilkan, bahwa identitas hibrida yangterbentuk dengan mempertemukan identitas lokal yaitu kebudayaan Indonesia danidentitas asing yang mengangkat konsep pahlawan Power Rangers. KomikNusantaranger menjadi ruang liminal melalui unsur intrisik komik yangmempertemukan kedua identitas.Temuan ini juga mendeskripsikan pula proses mimikri yang mempertemukanantara identitas asing dan identitas lokal di awali dengan peniruan pada tahap vehiclesign yang menjadi ground tanda. Pada tahap tersebut digunakan analisis SemiotikaCharles Sanders Pierce untuk mengenali sign vehicle masing-masing tanda yangmenjadi awal peniruan sebuah identitas. Proses mimikri kemudian dilanjutkan dengandiberi keterselipan identitas lokal di dalamnya sebagai bentuk mimikri yangmewajibkan peniruan namun tetap memperlihatkan perbedaan bentuk berjalannyawacana kolonial. Kemudian akan ada ambivalensi dimana identitas lokal ditempatkandi posisi terjajah karena dominasi identitas asing di dalam sebagai bentuk wacanakolonial yang menjalankan sistem non-kesetaraan dengan strategi membentukidentitas hibrida.
RESISTENSI DARI OBJEKTIFIKASI TERHADAP PEREMPUAN DALAM NOVEL THE SINDEN KARYA HALIMAH MUNAWIR Budiarti, Yuyun Octaviani; Sunarto, Dr; Dwiningtyas, Hapsari; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang memiliki struktur yang bermakna dan menggunakan bahasa sebagai medianya. Selain merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan sekaligus menyebarkan ideologi kepada masyarakat novel juga dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan perlawanan terhadap suatu konstruksi dominan di masyarakat. Stereotip pada sinden merupakan produk konstruksi sosial di masyarakat yang menempatkan sinden pada posisi subordinat. Melalui novel The Sinden, penulis Halimah Munawir ingin menunjukkan adanya sebuah perlawananterhadap konstruksi negatif dari sosok sinden.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk perlawanan dari objektifikasi terhadap perempuan sinden dalam novel The Sinden karya Halimah Munawir, serta mengungkap gagasan residual konstruksi dominan yang negatif di dalam novel. Teori yang digunakan adalah teori standpoint dan teori feminis radikal kultural dan teori resistensi. Metode yang digunakan adalah analisis semiotik naratif A.J Greimas, yaitu dengan analisis struktur cerita dan analisis struktur dalam untuk mendapatkan makna yang terdapat di dalam teks.Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk perlawanan yang dilakukan sinden dengan cara terbuka. Perempuan berusaha melawan opresi laki-laki dari objek tatapan dan objek seksualnya, dengan melarikan diri dan menolak menjadi seorang selir, menolak menjadi objek tatapan serta objek hasrat seksual laki-laki. Objektifikasi seksualitas perempuan mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan). Oleh karenanya, pembebasan perempuan dari opresi hanya dapat dilakukan melalui penghancuran ideologi patriarki yang menjadi gagasan residual di dalam novel. Gagasan residual masih menempatkan laki-laki berada di posisi dominan sehingga dapat melakukan kontrol seksualitas atas perempuan. Kata kunci: resistensi, objektifikasi, perempuan sinden, novel
PEMAKNAAN AUDIENS TERHADAP DOLLIFICATION TOKOH UTAMA PEREMPUAN DALAM SERIAL DRAMA KOREA GOBLIN Umi Anizah, Nur; Dwiningtyas, Hapsari
Interaksi Online Vol 5, No 4: Oktober 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Goblin is one of the most popular South Korean drama series in the end of 2016 until the beginning of 2017. In the middle of its popularity, Goblin got several critiques for showing love story between a high school girl with an adult man and being judged strengthening the stigma of weak woman who needs man. Characterization of the heroine as high school student that is cute, young, and cheerful indicate the existence of dollification. This research focus on the use of fantasy theme analysis to see fantasy chain of Indonesian audience on the reception of dollification issue against heroine in Goblin drama.The main theory that being used in this research is Symbolic Convergence Theory. Collecting data technique was conducted by text analysis, focus group discussion, and indepth interview. The research was conducted to six audience of Goblin drama. The result of the research showed there are drawing and also losing fantasy chain on dollification theme. Drawing fantasy chain being identified through audience interpretation against appearance, youth soul, and sexuality of Ji Eun Tak as the heroine. On the appearance aspect, audience said that woman will be more attractive when physically looked young and thin. On the feminine appearance, female audience see femininity as value added of women?s beauty, meanwhile, male audience were not assume femininity as parameter of beauty. On the youth soul aspect, most of informants prefer the woman in a young demeanor so they can be protected by man in a relationship. While, on the sexuality aspect, informants interpret dollification of Ji Eun Tak as a form of power whose own by woman to decrease male domination. That power is interpreted positively by female audience, but it is interpreted negatively by male audience. Losing of fantasy chain happens when audience interpret text based on feminism perspective and the acceptance of dollification by male audience in this research. Drawing or losing of fantasy chain caused by several factors such as perspective of individual differentiation (sex, dating experience) and social category perspective of Korean drama fans group.
MEMAHAMI PERILAKU KOMUNIKASI DALAM ADAPTASI BUDAYA PENDATANG DAN HOSTCULTURE BERBASIS ETNISITAS Prasetyo, Ilham; Suprihatini, Taufik; Dwiningtyas, Hapsari; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan budaya antara pendatang dengan hostculture sering memunculkan konflik. Kompetensi komunikasi antarbudaya akan muncul ketika masing-masing pihak yang menjalin kontak atau interaksi dapat meminimalkan kesalahpahaman budaya yaitu usaha mereduksi perilaku etnosentris, prasangka, dan stereotip. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kompetensi komunikasi antarbudaya pendatang dan hostculture. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan empat orang mahasiswa pendatang maupun empat orang hostculture. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori ketidakpastian dan kecemasan, t eori kompetensi komunikasi antarbudaya, teori interaksi adaptasi budaya.Hasil penelitian ini menunjukkan dalam melihat kompetensi komunikasi antarbudaya dari mahasiswa pendatang maupun hostculture harus melalui dari beberapa poin penting yaitu melihat dari motivasi, pengetahuan dan kecakapan. Berdasarkan hasil dilapangan diketahui bahwa terdapat faktor-faktor yang terkait dengan kompetensi komunikasi antar budaya dari pendatang diantaranya kurangnya inisiatif dalam membaur dengan lingkungan, kurangnya informasi yang berkaitan dengan lingkungan baru yang menjadi daerah tujuan, sulitnya menyesuaikan perilaku yang sering dilakukan di daerah asal dengan norma yang berlaku di masyarakat. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi komunikasi antarbudaya dari hostculture diantaranya persepsi hostculture tentang penampilan pendatang mempengaruhi motivasi berkomunikasi dengan pendatang. Kurangnya pengetahuan tentang kebiasan buruk dari pendatang, kurangnya kemampuan dalam mengelola konflik dengan pendatang.Mahasiswa pendatang dan hostculture menunjukkan bahwa ketika berkomunikasi antarbudaya harus memiliki kompetensi komunikasi antarbudaya seperti motivasi, pengetahuan dan kecakapan. Namun kebanyakan dari pendatang dan hostculture tidak menyadari kemampuan yang dimiliki, Apabila kemampuan sudah dimiliki dan dilaksanakan dengan baik, maka terciptanya kesadaran dalam komunikasi antarbudaya (mindfullness) yang dapat meminimalkan terjadinya konflik yang melibatkan budaya yang berbeda.
ANALISIS BINGKAI: KONSTRUKSI KORUPTOR DI MAJALAH DETIK Oktaviyani, Rossa; Dwiningtyas, Hapsari; Sunarto, Dr; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media massa cenderung menggambarkan perempuan pelaku kejahatan seperti pembunuhanmaupun pelecehan seksual dengan menonjolkan penderitaan mental, psikologis dan cacatfisik. Lain halnya jika laki-laki yang melakukan tindak kejahatan, media lebih berfokus padakorbannya, motif pelaku, atau modus kejahatannya. Fenomena yang terjadi sekarang adalahbanyaknya perempuan yang bekerja di sektor publik namun melakukan tindak kejahatankorupsi. Media sebagai sumber informasi turut mengambil andil dalam membentukkonstruksi masyarakat tentang para koruptor iniPenelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana sikap Majalah Detikdalam mengemaspemberitaan laki-laki dan perempuan pelaku korupsi. Teori yang digunakan diantaranya teorikonstruksi realitas sosial, teori konstruksi sosial media massa, konsep media and crime danmaskulinitas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatananalisis framing model Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki. Analisis framing model inidibagi menjadi empat struktur, yaitu: struktur sintaksis, skrip, tematik dan retoris. Berdasarkan struktur sintaksis diperoleh frame yang menunjukkan perempuanmanipulator kalah yang sedang menjalani karma dan laki-laki playboy yang bersalah namunmasih berani melawan. Struktur skrip diperoleh frame perempuan manipulator yang jelasbersalah dan sedang menjalani karma dan laki-laki agresor masih berani melawan. Strukturtematik diperoleh frame perempuan manipulator kalah yang sedang menjalani karma danlaki-laki agresor masih berani melawan. Struktur retoris diperoleh frame perempuan cantikyang tidak benar sebagai simbol komersialisme yang sedang menjalani karma dan laki-lakiplayboy yang bersalah namun masih berani melawan. Dari keempat struktur tersebut dapatdiperoleh frame utama yaitu perempuan pelaku korupsi layak mendapatkan hukumansedangkan bagi laki-laki pelaku korupsi frame utamanya adalah laki-laki yang masihmemiliki kekuatan untuk melawanKata kunci: framing, konstruksi, korupsi, Majalah Detik
RESISTENSI TERHADAP KONSTRUKSI GENDER DOMINAN DALAM YAOI FANFICTION NARUTO ROYAL REVENGE Nisa, Mujahidah Amirotun; Naryoso, Agus; Rahardjo, Turnomo; Dwiningtyas, Hapsari
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konstruksi gender dominan dalam masyarakat membagi peran gendertradisional antara laki-laki dan perempuan. Media massa mainstream seringkali merepresentasikan wanita sebagai pihak inferior dan menjadi objek tatapan dari laki-laki. Salah satu jenis media yang seringkali mengobjektivikasi wanita adalah manga atau komik yang berasal dari Jepang. Para penggemar wanita berusaha melawan konstruksi gender tersebut dengan menggunakan yaoi fanfiction yang tersebar di internet. Yaoi fanfiction yang mengomodifikasikan homoerotisme ini merupakan ekspresi wanita mengenai hubungan yang setara di antara dua individu.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk resistensi terhadap konstruksi gender dominan yang dimunculkan dalam teks yaoi fanfiction Naruto Royal Revenge karya Fro Nekota, serta mengungkap gagasan residual konstruksi gender yang masih muncul di dalamnya. Teori yang digunakan adalah Teori Resistensi Hidden Transcript James C. Scott. Metode yang digunakan adalah analisis semiotik naratif A.J. Greimas yaitu dengan menganalisis struktur luar dan struktur dalam cerita untuk mendapatkan ideologi dominan yang terdapat di dalam teks.Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk-bentuk perlawanan yang berusaha dimunculkan dalam yaoi fanfiction. Resistensi ini muncul dalam aspek sosial, seksual, gender, institusi, ranah publik, dan komodifikasi homoerotis. Hubungan homoseksual yang dimunculkan di dalam yaoi fanfiction menjadi penyalur frustasi wanita terhadap konstruksi gender yang membatasi seksualitas wanita. Namun jika dicermati lebih kritis, resistensi yang berusaha ditampilkan tersebut justru balik menyerang wanita. Realitas baru yang berusaha ditampilkan justru melahirkan dominasi baru yang pada akhirnya tetap mengopresi salah satu pihak. Residu nilai-nilai heteroseksual masih muncul sebagai bagian dalam budaya dominan. Pada akhirnya, resistensi yang muncul dalam Royal Revenge adalah resistensi semu.