Yan Edward
Unknown Affiliation

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

BIOFILM PADA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK Edward, Yan; Novianti, Dini
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol 3 No 1 (2015): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.631 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v3i1.2721

Abstract

ABSTRACT A number of study find that clinically and complication of Chronic Suppurative Otitis Media (CSOM) related with tipe of bacterial and change of bacterial adherence resulting biofilms. CSOM characterized by purulent discharge from perforated tympanic membrane that occur more than 2 months intermittent or persistent.  There was new pattern of bacterial adherence with host.  Bacterial adherence result a biofilms.  Biofilms is slow growth bacterial colonies and enveloped  by glycoplysacaride layer that called glycocalyx.  Various methods to detect biofilm are Scanning Electron Microscopy (SEM), Transmission Electron Microscopy (TEM), Confocal Scanning Laser Microscopy (CSLM) and  Calgary Biofilm Device Assay modification, tissue culture plate, tube method and congo red agar.   Keywords: Chronic suppurative otitis media, biofilm
Diagnosis dan Tatalaksana Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) Horizontal Berdasarkan Head Roll Test Edward, Yan; Roza, Yelvita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan vertigo yang dicetuskan oleh perubahan posisi kepala atau badan terhadap gaya gravitasi. Diagnosis BPPV ditegakkan berdasarkan anamnesis dan manuver provokasi. Sering kali terjadi kesalahan dalam menegakkan diagnosis BPPV yang berakibat terhadap penatalaksanaan vertigo yang tidak adekuat. Tujuan: Untuk menjelaskan bagaimana diagnosis dan tatalaksana BPPV Kanalis Horizontal. Kasus: Seorang laki-laki berusia 56 tahun yang didiagnosis sebagai BPPV Kanalis Horizontal kiri tipe kanalolithiasis apogeotropik. Penatalaksanaan: Dilakukan barbeque maneuver terapi reposisi kanalith. Kesimpulan: Penatalaksanaan BPPV adalah berdasarkan lokasi kanal yang terlibat dengan terapi reposisi kanalith.Kata kunci: BPPV, kanalis horizontal, kanalolithiasis apogeotropik.AbstractBackground: Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) is vertigo that provoked by a position change of the head or body to the gravitation. The diagnosis of BPPV can be established by anamnesis and provocation maneuver. However, because BPPV frequently is misdiagnosed, it will implicate to an adequate therapeutic. Purposes: Explaining how to diagnose and manage a Horizontal Canal BPPV. Case : a man, 56 ages which diagnosed as a Left Horizontal Canal BPPV apogeotropic canalolithiasis type. Management: A barbeque maneuver was performed as canalith reposition treatment. Conclution: The management of BPPV is based on the involved canal with canalith repositioning treatment.Keywords: BPPV, horizontal canal, apogeotropic canalolithiasis.
Terapi Medikamentosa pada Paralisis Saraf Fasialis Akibat Fraktur Tulang Temporal Munilson, Jacky; Edward, Yan; Rusdi, Dedy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPendahuluan: Paralisis saraf fasialis merupakan salah satu komplikasi fraktur tulang temporal. Fraktur tulang temporal dapat berupa fraktur longitudinal, transversal maupun campuran. Paralisis saraf fasialis lebih banyak ditemukan pada fraktur tulang transversal dibandingkan longitudinal. Penatalaksanaan paralisis saraf fasialis akibat fraktur tulang temporal masih kontroversi, dapat berupa terapi medikamentosa maupun terapi bedah. Metode: Satu kasus paralisis saraf fasialis akibat fraktur temporal longitudinal tahun yang ditatalaksana dengan terapi medikamentosa. Hasil: Terdapat peningkatan fungsi saraf pasialis dengan terapi medikamentosa pada paralisis parsial saraf fasialis akibat fraktur temporal longitudinal. Diskusi: Penatalaksanaan paralisis saraf fasialis akibat fraktur tulang temporal masih merupakan hal yang kontroversial. Pasien dengan paralisis parsial (House Brackmann II-V) cukup dilakukan observasi dan terapi dengan steroid berupa prednison, sedangkan pada paralisis komplit (House Brackmann VI), terapi medikamentosa dengan steroid dapat dikombinasikan dengan terapi bedah berupa dekompresi atau grafting. Pertimbangan untuk melakukan pembedahan tergantung dari pemeriksaan CT Scan dan tes elektrofisiologisKata kunci: Paralisis saraf fasialis, fraktur tulang temporal, terapi medikamentosaAbstractFacial nerve paralysis is one of the temporal bone fracture complications. Temporal bone fracture is classified as longitudinal, transversal and mixed type. Facial nerve paralysis is more common in transversal rather than longitudinal type. The treatment of facial nerve paralysis due to temporal bone fracture still remain controversial, whether its medical therapy or surgical approach.Methode: One case of facial nerve paralysis caused by longitudinal type of temporal bone fracture has been treated by medical therapy. Result: There is an increase of facial nerve function treated with medical therapy in a case of partial nerve paralysis due to longitudinal type of temporal bone fracture. Discussion: Management of facial nerve paralysis due to temporal bone fracture is still controversial. Patient with partial paralysis (House Brackmann II-V) treated with observation and medical therapy using steroid, whereas complete paralysis (House Brackmann VI) treated with medical therapy using steroid, combine with decompression and grafting surgery. Considerations for surgery depend on computed tomography and electrophysiology examination.Keywords: Facial nerve paralysis, temporal bone fracture, medical therapy
Otomycosis Edward, Yan; Irfandy, Dolly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakOtomikosis adalah salah satu kondisi yang umum ditemukan di klinik THT. Penyakit ini merupakantantangan dan menimbulkan rasa frustrasi bagi pasien dan dokter ahli THT. Hal ini disebabkan pengobatan yangmemerlukan waktu lama dan rerata kekambuhan yang tinggi.Dilaporkan satu kasus otomikosis pada seorang wanita umur 41 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkananamnesis, pemeriksaan fisik dan tes KOH. Dari pemeriksaaan laboratorium ditemukan Aspergillus niger sebagaipenyebab. Dengan terapi pembersihan liang telinga dan obat oles telinga kombinasi gentian violet terdapatperbaikan.Kata kunci: Otomikosis, Aspergillus sp, TerapiAbstractOtomycosis is one of the common conditions encountered in a general otolaryngology clinic. The diseaseprocess a challenging and frustrating entity for both patients and otolaryngologists for it requires long termtreatment and recurrence rate remains. One case of otomycosis in a 41 years old woman is reported. Thediagnosis was based on anamnesis, physical examination and KOH test. From laboratory examination, Aspergillusniger was isolated as etiologic agent. With the treatment of ear toilet and combination of Gentian violet animprovement was observed.Keywords: Otomycosis, Aspergillus sp,Therapy
PENATALAKSANAAN KOLESTEATOM EKSTERNA DENGAN TIMPANOMASTOIDEKTOMI DINDING RUNTUH Aquinas, Rimelda; Edward, Yan
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 4 (2019): Dipublikasi Desember 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i4.1116

Abstract

Kolesteatom adalah massa kistik dengan epitel skuamosa, berisi keratin yang proliferatif dan bisa menyebabkan terjadinya destruksi tulang. Kolesteatom eksterna adalah kolesteatom yang terdapat di kanalis akustikus eksternus. Timpanomastoidektomi dinding runtuh adalah tindakan operasi pada kasus kolesteatom eksterna untuk eradikasi kolesteatom, mencegah terjadinya komplikasi dan mempertahankan pendengaran. Dilaporkan satu kasus kolesteatom eksterna pada wanita usia 21 tahun yang meluas ke kavum mastoid dan menimbulkan defek pada kanalis akustikus eksternus. Pada pasien dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding runtuh telinga kiri. Operasi timpanomastoidektomi dinding runtuh yang dilakukan pada kasus kolesteatom eksterna dengan perluasan ke kavum mastoid memberikan hasil yang baik. Kontrol secara rutin diperlukan untuk mencegah terjadinya rekurensi.
Kanaloplasti pada Atresia Liang Telinga Pasca Trauma Munilson, Jacky; Edward, Yan; Azani, Surya
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPendahuluan: Atresia liang telinga didapat adalah suatu kelainan yang jarang terjadi dengan karakteristik pembentukan jaringan fibrosis pada liang telinga. Trauma pada liang telinga pada cedera kepala dapat menyebabkan atresia liang telinga pasca trauma dan menyebabkan tuli konduktif serta terbentuknya kolesteatom di daerah cul de sac sehingga diperlukan tatalaksana dengan pembedahan. Ada beberapa pendekatan teknik pembedahan kanoplasti yaitu dengan pendekatan transkanal, endaural dan postaurikula. Metode: Satu kasus atresia liang telinga didapat pasca trauma yang ditatalaksana dengan kanaloplasti transkanal dan bagian tulang yang terpapar ditutupi dengan flap kulit liang telinga. Hasil : Penyembuhan pasca operasi sangat memuaskan, liang telinga lapang dengan perbaikan fungsi pendengaran. Diskusi : Atresia liang telinga didapat salah satunya dapat disebakan oleh trauma dan dapat menimbulkan penurunan pendengaran. Pembedahan pada atresia liang telinga membutuhkan teknik yang khusus karena rekurensi dapat terjadi. Pembedahan dengan pendekatan transkanal sudah dapat memberikan akses yang adekuat. Bagian tulang liang telinga yang terpapar dapat ditutupi dengan flap ataupun graft kulit dengan vaskularisasi yang adekuat serta diperlukannya pembersihan liang telinga pasca operasi secara cermat dan teratur untuk mencegah rekurensi.Kata kunci: Atresia liang telinga, trauma telinga, kanaloplasti transkanal.AbstractIntroduction : Acquired ear canal atresia is a rare condition that characteristic by fibrotic tissue formation in ear canal. Trauma to the ear canal in head injury can cause post traumatic ear canal atresia with conductive hearing loss and cholesteatom in cul de sac area, so this condition necessary surgery procedure. There are several approaches of canaloplasty that are transcanal, endaural and postauricula approach canaloplasty. Methode : One case of post traumatic ear canal atresia that treated with transcanal approach canaloplasty and ear canal skin flap for closing the exposed bone. Result : satisfactory postoperative ear canal healing, with improvement of hearing function. Discussion: Acquired ear canal can be caused by trauma and can cause hearing loss. Surgery on the ear canal atresia requires special techniques because recurrence may occur. Transkanal surgical approach has been able to provide adequate access. The expose bone of ear canal after fibrotic tissue was removed, can be covered by skin flap or skin graft with adequate vascularity as well as the need for postoperative cleaning of the ear canal thoroughly and regularly to prevent recurrence.Keywords: Ear canal atresia, ear trauma, transcanal canaloplasty.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Tragus Asesorius dan Stenosis Liang Telinga pada Hemifasial Mikrosomia Hafiz, Al; Munilson, Jacky; Huriyati, Effy; Edward, Yan; Rachman, Sylvia; Yudhistira, Gunawan
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak           Hemifasial mikrosomia (HFM) adalah diagnosis paling sering pada lesi wajah asimmetris dan merupakan kelainan kongenital wajah terbanyak kedua. HFM merupakan malformasi kongenital dimana terdapat defisiensi jaringan lunak dan tulang pada satu sisi wajah dan gangguan perkembangan telinga, terutama telinga luar. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologis. HFM memiliki manifestasi klinis yang beragam, dan dipertimbangkan mendapatkan penatalaksanaan komprehensif yang melibatkan rekontruksi medik luas.               .           Sebuah kasus hemifasial mikrosomia dengan tragus asesorius dan stenosis liang telinga kanan dilaporkan pada perempuan berusia 13 tahun dan telah dilakukan rekonstruksi tragus dan kanaloplasti. Kata kunci: hemifasial mikrosomia, lesi wajah asimmetris, rekontruksi tragus, kanaloplasti. AbstractHemifacial microsomia (HFM) is the most frequent diagnosis in asymmetry facial lesions and the top second facial congenital lesion. HFM is a congenital malformation in which there is a deficiency of soft tissue and bone on one side of the face and malformation of the ear, especially outer ear. The diagnosis is based on history, physical examination, and radiological finding. HFM had various clinical manifestation and considered to comprehensive management involving extensive medical reconstruction. A hemifacial microsomia case with right tragal assesoria and ear canal stenosis has been reported in girl aged 13 years old and have performed tragus reconstruction and canaloplasty. Keywords:  hemifacial microsomia, asymmetrical facial lession, tragus reconstruction, canaloplasty
Otitis Media Supuratif Kronis Tipe Kolesteatom dengan Komplikasi Meningitis dan Paresis Nervus Fasialis Perifer Sari, Jenny Tri Yuspita; Edward, Yan; Rosalinda, Rossy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 4
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) tipe kolesteatom merupakan penyakit dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi akibat komplikasinya. Kolesteatom dapat menyebabkan erosi tulang dan kerusakan struktur-struktur di sekitarnya sehingga terjadi komplikasi. Kombinasi antibiotik dan tindakan bedah timpanomastoidektomi menjadi modalitas utama penatalaksanaan kasus OMSK dengan komplikasi. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang laki-laki 18 tahun dengan keluhan sakit kepala hebat disertai dengan penurunan kesadaran dan wajah mencong. Pada pasien terdapat riwayat telinga berair dan penurunan pendengaran. Pasien didiagnosis sebagai OMSK auris dektra dengan kolesteatom disertai komplikasi meningitis dan paresis nervus fasialis perifer. Pasien diterapi dengan antibioik dosis tinggi dan dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding runtuh dengan dekompresi nervus fasialis. Kesimpulan: Penatalaksaan segera dan tepat pada OMSK dengan komplikasi dapat meningkatkan angka kesembuhan dan mencegah kematian.
Neurofibroma Telinga Tengah dengan Otitis Media Supuratif Kronis Pramita, Arsia Dilla; Munilson, Jacky; Edward, Yan
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Neurofibroma adalah tumor saraf yang cukup sering dijumpai, tetapi hanya beberapa kasus yang melibatkan telinga tengah yang pernah dilaporkan. Kasus: Dilaporkan seorang perempuan berusia 51 tahun dengan keluhan telinga kiri berair, hilang timbul sejak 30 tahun yang lalu. Pasien dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding utuh telinga kiri, intraoperatif ditemukan jaringan granulasi beserta jaringan berpapil-papil di liang telinga. Hasil patologi anatomi adalah neurofibroma dengan kalsifikasi. Kesimpulan: Neurofibroma merupakan suatu tumor yang dapat muncul dimana saja di tubuh. Adanya neurofibroma bersamaan dengan OMSK diduga akibat peranan inflamasi yang mencetuskan timbulnya tumor. Tatalaksana dan follow up yang baik dapat memberikan hasil yang memuaskan.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Hipofungsi Vestibular Perifer Bilateral Azman, Ferdy; Edward, Yan; Rosalinda, Rossy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 3
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Hipofungsi vestibuler perifer bilateral merupakan kasus yang jarang ditemui dan memiliki gejala gangguan keseimbangan yang menyebabkan gangguan penglihatan dan stabilitas postural. Etiologi penyakit ini sebagian besar idiopatik, selain itu disebabkan oleh zat ototoksik, penyakit autoimun, infeksi dan neoplasma yang melibatkan telinga dalam. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan keseimbangan sederhana dan tes khusus seperti dynamic visual acuity test (DVA), Rotatory Chair dan elektronistagmografi (ENG) pada tes kalori sebagai standar baku. Tatalaksana hipofungsi vestibuler perifer bilateral terutama berupa terapi rehabilitasi vestibuler berupa terapi adaptasi, subtitusi dan kompensasi/ habituasi lebih dipilih jika dibandingkan dengan terapi farmakologis atau terapi bedah. Laporan Kasus: Seorang pasien usia 65 tahun datang dengan keluhan pusing berputar dan berkurangnya pendengaran. Pemeriksaan pendengaran menunjukkan hasil tuli sensorineural dan tes DVA menunjukkan adanya penurunan tiga baris huruf pada Snellen chart dan elektronistagmografi menunjukkan paresis kanal bilateral. Pasien didiagnosis dengan hipofungsi vestibuler perifer bilateral ec. suspek prebiastasis. Tatalaksana adalah dengan terapi rehabilitasi vestibuler dengan metode adaptasi. Simpulan: Hipofungsi vestibuler perifer bilateral merupakan kasus yang jarang ditemui, dapat dibedakan dengan pemeriksaan objektif spesifik yaitu elektronistagmografi. Terapi pilihan utama untuk penyakit ini adalah berupa terapi rehabilitasi vestibuler metode adaptasi, subtitusi dan habituasi.