Ova Emilia
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Published : 104 Documents
Articles

Hubungan penggunaan IUD (intrauterin device) dengan pola aktivitas seksual pada perempuan di Kota Kupang Liufeto, Koheresto G.; Wahab, Abdul; Emilia, Ova
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.248 KB) | DOI: 10.22146/bkm.17803

Abstract

The use of intra uterine device (IUD) and sexual activity patterns in women in KupangPurposeThe purpose of this study was to know the influence of intra uterine device type contraceptive use to the pattern of sexual activity.MethodsThis research was an observational study with a cross-sectional design using questionnaires to collect data. The samples were 190 women of fertile age in the city of Kupang. The correlation of intra uterine device usage and sexual activities pattern was analyzed by using chi square tests, and continued with multivariate analysis using logistic regression tests, using confidence interval (CI) of 95% and a level of significance of p<0.05.ResultsThere was no significant difference in patterns of sexual activities of women using intra uterine device with those who were not using contraception. The variables that were statistically significant were age, parity, duration of marriage and effects of intra uterine device use. Meanwhile variables that were not statistically significant were working status and duration of intra uterine device use.ConclusionThe usage of intra uterine device contraception did not affect patterns of sexual activities of women in Kupang. However, the effect of intra uterine device usage did have influence toward sexual activity, but such effect would be reduced over time up to 1 year of using. The recommendations given in this research is that it is necessary to further analyze intra uterine device usage effects toward sexual activities patterns.
PERBANDINGAN ANTARA PEMBERIAN PROGESTERON VAGINAL DAN ALLYLESTRENOL ORAL PADA PENANGANAN ABORTUS IMINENS Dhani, Umar; Emilia, Ova; Siswosudarmo, Risanto
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : IPAKESPRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.909 KB) | DOI: 10.22146/jkr.7120

Abstract

Umar Dhani1, Ova Emilia2, Risanto Siswosudarmo3 ABSTRACTBackground: Abortion is still the most common complication of pregnancy. Inadequate secretion of progesterone in early pregnancy has been associated with one of the cause of miscarriage. Progesterone supplementation has been used to prevent abortion but it is still debatable.Objective: To compare the success rate of vaginal progesterone vs oral allylestrenol in the treatment of threatened abortion and duration of maintaining pregnancy.Method: Randomized Clinical Trial. The study was conducted at four affiliated hospitals of Sardjito hospital Yogyakarta from November 2013 to May 2014. Subjects with the diagnosis threatened abortion meeting the following criteria were included: 8-16 weeks gestational age, hemoglobin content eH 10 g/dL, and live fetus. The following patients were excluded: there was a history of induced abortion, hormonal treatment, associated with IUD use, uterine anomaly and gynecology tumor. A total of 60 patients were recruited to obtain 0.6 times proportion difference and 80% power of study. Eligible subjects consisting of 30 and 29 were randomly allocated into vaginal progesterone and oral allylestrenol groups. Ability to maintain, duration of pregnancy and side effects were outcomes of interest. Chi-square, t-test, Fisher exact test and survival analysis were used for statistical analysis.Result & Discussion: Abortion rate in vaginal progesterone was 23.3% compared 37.9% with oral allylestrenol group (RR=0.61; 95% CI 0.27-1.36). Duration of maintaining pregnancy was 16.57 days vs 9.82 days in vaginal progesterone and oral allylestrenol respectively (mean difference 6.75 days; 95% CI 2.30-11.20). There was no difference in term of gestational age on the abortion rate (p>0.05). One case undergoing nausea was found in oral allylestrenol group.Conclusion: There was no difference between vaginal progesterone and oral allylestrenol in term of abortion rate. Vaginal progesterone could maintain pregnancy longer than oral allylestrenol.Keywords: Threatened abortion, Vaginal progesterone, Oral allylestrenol, Abortion rate, Side effect. ABSTRAKLatar Belakang: Abortus masih merupakan komplikasi kehamilan yang sering terjadi. Sekresi progesteron yang tidak memadai pada awal kehamilan telah dikaitkan dengan salah satu penyebab abortus. Suplementasi progesteron digunakan untuk mencegah keguguran spontan walaupun masih diperdebatkan.Tujuan: Membandingkan keberhasilan terapi progesteron vaginal vs. allylestrenol oral dalam hal kejadian abortus dan lama terjadinya abortus pada kasus abortus iminens.Metode: Randomized Clinical Trial. Penelitian dilakukan dibagian Obstetrika dan Ginekologi di RS Kabupaten yang merupakan afiliasi RS Sardjito dari bulan November 2013 sampai dengan Mei 2014. Subyek yang memenuhi kriteria berikut ini: hamil 8-16 minggu, terdiagnosis abortus iminens, kadar hemoglobin > 10 g/dL, dan janin hidup. Pasien berikut ini tidak dimasukkan dalam penelitian: riwayat abortus provokatus, riwayat penggunaan terapi hormonal, abortus imminens karena kegagalan IUD, anomali uterus dan tumor ginekologis. Sebanyak 60 pasien diikutsertakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan beda proporsi kejadian abortus sebesar 0,6 kali dengan kekuatan penelitian sebesar 80%. Subjek dibagi menjadi dua kelompok secara random yaitu kelompok yang mendapat progesteron vaginal dan allylestrenol oral masing-masing sebanyak 30 dan 29. Keberhasilan mempertahankan kehamilan, lama hari bertahan dan efek samping adalah hasil yang dinilai. Uji Chi-square, t-test, uji Fisher dan analisis survival adalah uji statistik yang dipakai.Hasil & Pembahasan: Kejadian abortus pada kelompok progesteron vaginal adalah 23,3% dibanding, 37,9% pada kelompok allylestrenol oral (RR=0,61; 95% CI 0,27-1,36). Lama bertahan pada kelompok progesteron vaginal rata-rata 16,57 hari dibanding rata-rata 9,82 hari pada kelompok allylestrenol oral (beda rata-rata 6,75 hari; 95% CI 2,30-11,20). Tidak ada perbedaan bermakna pengaruh umur kehamilan terhadap kejadian abortus pada kedua kelompok (p>0,05). Efek samping berupa perasaan mual hanya dijumpai pada kelompok allylestrenol oral.Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan kejadian abortus pada kedua kelompok meskipun kemampuan bertahan lebih lama pada kelompok progesteron vaginal.Kata Kunci: Abortus iminens, progesteron vaginal, allylestrenol oral, angka abortus, efek samping. 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RS SardjitoYogyakarta
PENDIDIKAN/PEKERJAAN MATERNAL DAN FAKTOR RISIKO PREEKLAMPSIA: STUDI EPIDEMIOLOGI DI KOTA TERNATE Fransiska, Lilie; Patmini, Edi; Wahab, Abdul; Emilia, Ova
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : IPAKESPRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.717 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5748

Abstract

PENDIDIKAN/PEKERJAAN MATERNAL DAN FAKTOR RISIKO PREEKLAMPSIA: STUDI EPIDEMIOLOGI DI KOTA TERNATELilie Fransiska1, Edi Patmini2, Abdul Wahab3, Ova Emilia4 ABSTRACTBackground: Preeclampsia is one of leading cause of maternals and infants morbidity and mortality that can be prevented by an early detection in pregnant woman who have risk factors to preeclampsia. Early detection and management have a significant role in decreasing maternal and infant mortality rate.Objective: To determine the proportion of pregnancy with risk to preeclampsia and related risk factors. Method: This research is an observational study with cross sectional design. The independent variables are level of maternal education, and occupation. The dependent variable is increased risk of preeclampsia during pregnancy. Data collected by direct interview, physical examination and laboratory examination. Data analysis was done with SPSS programme.Results and Discussion: The result showed that there was no significant difference in maternal educational level with the risk of preeclampsia (p= 0,919), and there is no significant difference between maternal working status with risk of preeclampsia (p= 0,435).Conclusions: This research showed that maternal level of education and working status didn’t have a significant influence to the risk of preeclampsia (p> 0,05).Keywords : maternal occupation, level of maternal education, risk of preeclampsia ABSTRAKLatar Belakang: Preeklampsia merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi yang dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini pada ibu hamil yang memiliki risiko terhadap terjadinya preeklampsia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proporsi ibu hamil dengan risiko preeklampsia di Kota Ternate dan faktor-faktor risiko yang terkait. Hasil penelitian ini diharapkan supaya dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Kota Ternate. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain studi potong lintang. Variabel bebas adalah tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan ibu. Variabel terikat adalah peningkatan risiko terjadinya preeklampsia selama kehamilan. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara langsung, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Selanjutnya analisis deskriptif pada data penelitian dilakukan dengan menggunakan program SPSS.Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok berpendidikan tinggi dan kelompok berpendidikan rendah (p= 0,919), serta antara kelompok bekerja dan tidak bekerja (p= 0,435).Kesimpulan: Faktor pendidikan dan pekerjaan maternal tidak memiliki pengaruh yang bermakna terhadap risiko terjadinya preeklampsia (p> 0,05).Kata kunci : pekerjaan ibu, pendidikan ibu, risiko preeklampsia 1 Mahasiswa S1 Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta2 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UGM3 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat UGM, Yogyakarta4 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UGM
SIKAP MENGENAI KESELAMATAN PADA RESIDEN DAN PERAWAT DI RUMAH SAKIT PENDIDIKAN Emilia, Ova
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 14, No 04 (2011)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.257 KB)

Abstract

Background: Provider attitudes about issues pertinent topatient safety may be related to errors and adverse events.Residents as the main health provider in teaching hospitalsplay an important factors for assuring patient safety.Objective: To assess the attitudes of residents towards patientsafety and compare the attituted to other health providersnurse/midwive) in the Obstetrics Gynaecology Outpatient Clinic.Methods: This was a survey conducted in a teaching hospitalat Yogyakarta. Safety Attitude Questionnare (SAQ)-A questionnairewas adapted into Indonesian setting to assess attitudesamong residents and nurses at Obstetrics Gynaecologyoutpatient clinic. All residents and health providers were invitedto participate in this survey.Results: Total of 71 respondents involved in this survey (consistedof 79% of total residents and 82% of total nurses). TheSAQ-A questionnaire which was used here had comparableinternal consistency with the previous study. In general attitudestowards patient safety were higher among nurses/midwive than residents. Significant differences revealed relatedto perception to management and stress recognition.Perception to management score was the lowest compared toother scales (19,6% residents versus 33,3% nurses withpositive attitudes). There was no differences for other scalesbut still with low attitude scores. Aspects related to “informationtransfer between residents and consultant”, “clinic referralsystem” and “care in test results management” were perceivedas poor by residents and nurses.Conclusion: Residents have lower attitudes towards patientsafety compare to nurses/midwive. This study shows theimportance of providing orientation among residens beforetheir training program to improve patient safety attitude.Key Words: attitude towards patient safety, safety attitudesquestionnaire, teaching hospital
HUBUNGAN PEMAKAIAN ANTIBIOTIK DENGAN KEJADIAN INFEKSI SECTIO CAESAREA PADA PASIEN DI RSUD ABEPURA JAYAPURA PAPUA Emma, Nani; Emilia, Ova; Prawitasari, Shinta
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : IPAKESPRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HUBUNGAN PEMAKAIAN ANTIBIOTIK DENGAN KEJADIANINFEKSI SECTIO CAESAREA PADA PASIEN DI RSUD ABEPURAJAYAPURA PAPUANani Emma, Ova Emilia, Shinta PrawitasariABSTRACTBackground: The number of caesarean section (CS) operations in the world has increased sharply within the last20 years. Increase of the need for CS operations also increases the problem related to surgical process. Infectionhappens about 2% to 16% after CS operation. The incidence of post CS is associated with some factors such assupplementation of prophylaxis antibiotics, duration of childbirth, width of membranewound, duration of surgicalnursing monitoring and number of CS. CS infection associated with antibiotic use occurs before or after CSoperation. The incidence increases 3 times in patients that do not use antibiotics before CS operation. Use ofprophylaxis antibiotics in CS operation significantly minimizes the incidence of infection.Objective: To identify antibiotic use according to standard operational procedure to the incidence of infection inCS mothers.Method: The study was analytical with cross sectional design, undertaken at Abepura Local Hospital. Populationwere allmothers who gave birth through CS at the hospital. Samples were taken using systematic random samplingtechnique as many as 44 samples. Data were obtained through questionnaire, interview and document studiesand analyzed using chi square and logistic regression test, risk prevalence at confidence interval (CI) 95% andsignificance p&lt;0.05.Result: The majority of subject (56.82%) had no infection; 59.09% used antibiotics according to the procedure;52.27% had good nutrition status; 54.55% had emergency operation; 50% had anemia. Average length of CSoperation was 2.26 +1.38 hours. There was significant association between antibiotic use, nutrition status, Hblevel, and types of operation and the incidence of CS infection (p&lt;0.05). The result ofmultivariate analysis showedthere was significant association between antibiotic use, nutrition status, types of operation and the incidence ofinfection. Use of antibiotic brought dominant risk for the incidence of CS infection (PR=2.64; 95% CI=1.44-4.83)whereby antibiotic use, nutrition status and types of operation could predict the incidence of CS infection asmuch as 10.7%.Conclusion: Themajority of subject had no infection and used antibiotic according to the procedure. The probabilityfor the incidence of CS infectionwas greater in antibiotic use irrelevant from the procedure. Factormost dominantlyaffecting the incidence of CS infection was antibiotic use irrelevant from the procedure.Keywords: antibiotic use, caesarean section, incidence of infection ABSTRAKLatar Belakang: Jumlah tindakan operasi seksio sesarea (SC) di dunia telah meningkat tajam dalam 20 tahunterakhir. Peningkatan kebutuhan untuk operasi SC juga meningkatkan masalah yang berkaitan dengan prosesbedah. Infeksi terjadi sekitar 2% sampai 16% setelah operasi SC. Insiden pasca SC dikaitkan dengan beberapafaktor seperti suplemen antibiotik profilaksis, durasi persalinan, lebar membran luka, durasi pemantauankeperawatan bedah dan jumlah SC. Infeksi SC terkait dengan penggunaan antibiotik terjadi sebelum atau setelahoperasi SC. Insiden meningkat 3 kali pada pasien yang tidak menggunakan antibiotik sebelum operasi SC.Penggunaan antibiotik profilaksis dalam operasi SC signifikan meminimalkan kejadian infeksi.Tujuan: Untukmengidentifikasi penggunaan antibiotik sesuai dengan standar prosedur operasional untuk kejadianinfeksi pada ibu SC.Metode: Penelitian ini adalah analitik dengan rancangan cross sectional, yang dilakukan di Rumah Sakit DaerahAbepura. Populasi adalah semua ibu yang melahirkan melalui SC di rumah sakit. Sampel diambil denganmenggunakan teknik random sampling sistematik sebanyak 44 sampel. Data diperoleh dengan kuesioner,wawancara dan dokumen studi dan dianalisis menggunakan chi square dan uji regresi logistik, prevalensi risikopada confidence interval (CI) 95 % dan signifikansi p &lt; 0,05.Hasil dan Pembahasan: Sebagian besar subjek (56,82 %) tidak memiliki infeksi, 59,09 % digunakan antibiotiksesuai prosedur, 52,27 % memiliki status gizi baik, 54,55 % mengalami operasi darurat, 50% mengalami anemia.Rata-rata panjang operasi SC adalah 2.26 +1.38 jam. Ada hubungan yang signifikan antara penggunaan antibiotik,status gizi, kadar Hb, dan jenis operasi serta kejadian infeksi SC (p &lt; 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkanada hubungan yang signifikan antara penggunaan antibiotik, status gizi, jenis operasi dan kejadian infeksi.Penggunaan antibiotik membawa risiko yang dominan untuk kejadian infeksi SC (PR=2,64; 95% CI=1,44-4,83)dimana penggunaan antibiotik, status gizi dan jenis operasi bisa memprediksi kejadian infeksi SC sebanyak 10,7%.Kesimpulan: Sebagian besar subjek tidakmengalami infeksi dan antibiotik digunakan sesuai prosedur. Probabilitasuntuk kejadian infeksi SC lebih besar pada penggunaan antibiotik yang tidak relevan dengan prosedur. Faktoryang paling dominan mempengaruhi kejadian infeksi SC adalah penggunaan antibiotik yang tidak relevan denganprosedur.Kata kunci: penggunaan antibiotik, operasi caesar, kejadian infeksi
PAJANAN ASAP DALAM RUMAH TERHADAP KEJADIAN ISPA NONPNEUMONIA PADA ANAK BALITA DI KABUPATEN KAPUAS Hugo, Mayae; Emilia, Ova; Sitaresmi, Mei Neni
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : IPAKESPRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.816 KB)

Abstract

PAJANAN ASAP DALAM RUMAH TERHADAP KEJADIANISPA NONPNEUMONIA PADA ANAK BALITA DI KABUPATENKAPUASMayae Hugo, Ova Emilia,Mei Neni SitaresmiABSTRACTBackground: Acute respiratory infections (ARI) is one of themain causes of disease burden in developing countries,and 40-60% patients visits at the health center. Riskesdes analysis report the under–five children who suffer fromupper respiratory tract infection prevalence 42.8%. ARI occurrence is affected by many factors, includingenvironmental factors. Little attention has been given to indoor air pollution particularly for people in ruralareas, although the known particles of smoke in the room known as the most influential factors on the health ofchildren where children spend most of their time indoorsObjective: To know whether smoke exposure inside the house is a risk factor toward non pneumonia ARI amongunder-five children.Method: This was a study using a case control study design. Subjects were under-five children aged 12-59 monthsold in Kapuas District taken by non probability sampling method. Sample size was 106, divided into two groupsnamely case (n=53) and control (n=53). Data analysis used univariate analysis, bivariate analysis, and multivariateanalysis with logistic regression.Result: Non pneumonia ARI had a 2.7 time greater risk of contracting under-five children exposed by smokeinside their house (95%CI=1.16-6.60). Multivariate analysis proportion of house condition which was not reallyhygienic, member of family who contracted ARI, bad nutritional status had a significant relationship to nonpneumonia ARI among under-five children.Conclusion: Non pneumonia ARI among under-five children had a significant relationship to smoke exposureinside the house.Keywords: non pneumonia ARI, smoke exposure inside the house, under-five children   ABSTRAKLatar Belakang: Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama beban penyakit dinegara berkembang. Terdapat 40-60% kunjungan pasien di pusat layanan kesehatan. Analisis Riskesdesmelaporkanprevalensi anak-anak balita yang menderita infeksi saluran pernapasan atas 42,8%. Kejadian ISPA dipengaruhioleh banyak faktor, termasuk faktor lingkungan. Sedikitnya perhatian yang diberikan terhadap polusi udara dalamruangan terutama bagimasyarakat di daerah pedesaan,meskipun partikel yang berasal dari asap di dalam ruangandikenal sebagai faktor yang paling berpengaruh pada kesehatan anak di mana anak-anak menghabiskan sebagianbesar waktu mereka di dalam ruangan.Tujuan: Untuk mengetahui apakah paparan asap di dalam rumah merupakan faktor risiko terhadap non pneumoniaISPA pada balita.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan disain penelitian kasus kontrol. Subyekpenelitian adalah balita berusia 12-59 bulan di Kabupaten Kapuas diambil dengan metode non probabilitysampling. Jumlah sampel adalah 106, dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kasus (n=53) dan kelompokkontrol (n=53). Analisis data yang digunakan analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariat denganregresi logistik. Hasil dan Pembahasan: ISPA non pneumonia memiliki risiko 2,7 kali lebih besar menjangkiti anak yang terpaparasap di dalam rumah mereka (95% CI=1,16-6,60). Proporsi analisis multivariabel kondisi rumah yang tidak benarbenarhigienis, anggota keluarga yang terjangkit ISPA, status gizi buruk memiliki hubungan yang signifikan terhadapISPA non pneumonia pada balita.Kesimpulan: ISPA non pneumonia pada balita memiliki hubungan yang signifikan terhadap paparan asap di dalamrumah.Kata kunci: ISPA non pneumonia, paparan asap di dalam rumah, balita
PEMANFAATAN POJOK LAKTASI DI PUSKESMAS I CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS Khotimah, Khusnul; Emilia, Ova; Hakimi, Mohammad
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : IPAKESPRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.29 KB)

Abstract

PEMANFAATAN POJOK LAKTASI DI PUSKESMAS I CILONGOKKABUPATEN BANYUMASKhusnul Khotimah, Ova Emilia,Mohammad HakimiABSTRACTBackground : Based on survey Indonesian demographic and health in 2007 that exclusive breastfeeding 38 %decrease from 39,5% in 2002-2003, child under 6 months who gets milk incease from 16,7% until 27,9% in2007. American Academy of Pediatrics (1)get recomendation baby must get exclusive breastfeeding in 6 monthuntil 2 years old. Banyumas regency are have a program to increase scope of exclusive breastfeeding by regulationof regent number 52 in 2012 about increase exclusive breastfeeding in Banyumas Regency. One of the material insocialization is about lactation room and standardization, right of women worker to breastfed in office, publicfacility.Objective : to determine factors can effected utilization of lactation room in Puskesmas I Cilongok.Methods : this study was an observational study with a cross sectional design and qualitative study or called mixmethod. Location of study in Puskesmas I Cilongok. Sample of this study is employed mother who breastfeedand visitors of Puskesmas I Cilongok in Banyumas Regency. Sampling method used sampling convinience get 41women until this study done. independent variable are attitude of breastfeed mother about lactation room andbehavior of breastfeed mother. Dependent variable is utilization of lactation room. Data analysis consisted ofunivariable analysis, bivariable analysis using chi-square test and multivariable analysis using logistic regressiontest and also qualitative analysis.Results and Discussion : there is no effect attitude of breastfeed mother about lactation room with utilization oflactation room, can we see from p = 0,247 (RP1,58; 95% CI 0,70-3,55), the similar result from dialogue thatmother have good attittude but not utilized, they say not get socialization from health worker. The good Behaviorbreastfeed mother have relation with utilization, can we see p = 0,028, RP2,35 (95% CI 1,05-5,23). Results fromdialogue mother who get bad behavior not utilized. Utilization in lactation room only just breastfeeding, neverused to pamp and saving breastmilk. People not respond that room lactation is a necessary, because withoutpolicy about room lactation, they are can breastfed in any where.Conclusion : Good attitude of breastfeed mother about lactation room can not get effect utilization of lactationroomand good behavior breastfeedmother can get effect with utilization lactation room in Puskesmas I Cilongok.Keyword: attitude breastfeed mother, behavior breastfeed mother and utilization lactation room ABSTRAKLatar Belakang:Berdasarkan data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 tercatat bahwacakupan ASI eksklusif sebesar 38% menurun dari 39,5%di tahun 2002-2003, sementara jumlah bayi dibawah 6bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7% menjadi 27,9% ditahun 2007. American Academy ofPediatrics (1)merekomendasikan bahwa durasi minimal ASI eksklusif menjadi 6 bulan tetapi optimal harus terusselamaminimal 2 tahun.Kabupaten Banyumas sedangmemiliki program gunameningkatkan cakupan ASI eksklusifyang dituangkan lewat Peraturan Bupati Banyumas nomor 52 tahun 2012 tentang peningkatan pemberian ASI diKabupaten Banyumas. Salah satu materi sosialisasi tersebut berisi tentang anjuran pengadaan pojok laktasibeserta standarisasinya, hak ibu bekerja yang menyusui di kantor pemerintahan, sarana pra sarana umum juga.Tujuan:Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pojok laktasi di Puskesmas I Cilongok.Metode:Penelitian ini menggunakan jenis observasional dengan desaincross sectionaldan kualitatif. Tempatpenelitian Puskesmas I Cilongok. Sampel penelitian ibu bekerja menyusui dan pengunjung puskesmas memilikibayi umur 0 bulan sampai dengan 2 tahun berada di Puskesmas I Cilongok. Pengambilan sampel menggunakansampling conviniencediperoleh 41 orang selama penelitian dilakukan.Variabelindependen adalah sikap ibumenyusui terhadap pojok laktasi, perilaku ibu menyusui. Variabel dependen ialah pemanfaatan pojok laktasi.Analisa data meliputi analisis univariabel, bivariabeldengan menggunakan chi square sedangkan multivariabelmenggunakan uji regresi logistik serta analisis kualitatif.Hasil dan Pembahasan:Sikap ibu menyusui terhadap ketersediaan pojok laktasi tidakmempengaruhi pemanfaatanpojok laktasi dilihat dari nilai p = 0,247 (RP1,58; 95% CI 0,70-3,55), hasil ini didukung hasil wawancara bahwasikap baik tetapi tidak memanfaatkan pojok laktasi dengan alasan sosialisasi yang kurang dari petugas kesehatan.Perilaku ibu menyusui yang baik berhubungan dengan pemanfaatan pojok laktasi dilihat dari nilai p = 0,028,RP2,35 (95% CI 1,05-5,23). Hasil wawancara ibu yang berperilaku tidak baik cenderung tidak memanfaatkanpojok laktasi. Pemanfaatan pojok laktasi hanya untuk menyusui saja, tidak digunakan untuk memeras danpenyimpanan ASI. Rendahnya pemanfaatan pojok laktasi dikarenakan faktor kebutuhan. Masyarakat desa tidakmenganggap bahwa pojok laktasi merupakan kebutuhan, karena tanpa adanya kebijakan pengadaan pojok laktasimereka dapat menyusui dimanapun.Kesimpulan:sikap ibu menyusui terhadap ketersediaan pojok laktasi yang baik tidak mempengaruhi pemanfaatanpojok laktasi dan perilaku ibu menyusui yang baik dapat mempengaruhi pemanfaatan pojok laktasi di PuskesmasI Cilongok Kabupaten Banyumas.Kata kunci: sikap ibu, perilaku ibu, pemanfaatan pojok laktasi
PERSEPSI REMAJA TERHADAP FAKTOR PENGHAMBAT PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI DI PUSKESMAS GAMBOK KABUPATEN SIJUNJUNG Dwi Yani, Vella; Emilia, Ova; Kusnanto, Hari
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : IPAKESPRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.252 KB)

Abstract

PERSEPSI REMAJA TERHADAP FAKTOR PENGHAMBATPEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSIDI PUSKESMAS GAMBOK KABUPATEN SIJUNJUNGVella Dwi Yani, Ova Emilia, Hari KusnantoABSTRACTBackground: Reproductive health service is an important component that has to be improved globally becauseteenagers often lack basic information about reproductive health. Despite the need for reproductive health serviceonly a few teenagers utilize the service due to several constraints in having reproductive and sexual health serviceas a result of limited access to the service and negative perception about center of reproductive health service.Data of Sijunjung District Health Office Sumatera Barat show that only 20% of teenagers utilize reproductivehealth service available. Whereas cases in teenagers indicate that 9.2% of teenagers have had premarital sexualintercourse and 40% are married at teenage period (&lt;20 years) and 10% is caused by unwanted pregnancy.Objective: To study the perception of teenagers about physical, process, economic and psychosocial factors asobstacles in the utilization of reproductive health service.Method: The study was observational with cross sectional design and descriptive quantitative approach thatused qualitative data obtained from indepth interview. Subject of the study were students of SMU 1 and 2 of 14-16 years old around the working area of Health Centers that have health service for teenagers with as many as131 respondents.Result and Discussion: Perception of teenagers about physical, process and economic factors showed that themajority had good perception so these factors were not obstacles for teenagers in utilizing reproductive healthservice. The majority of teenagers (68%) had bad perception about psychosocial factor so this was an obstacle inthe utilization of reproductive health service.Conclusion: Obstacles in the utilization of reproductive health service at the health center were caused bypsychosocial factor because of shame and unwillingness to tell the problem to staff that was considered asstrangers. Teenagers also doubted the confidentiality of the problem they told to the staff.Keywords: perception, teenagers, reproductive health, utilizationABSTRAKLatar belakang: Pelayanan kesehatan reproduksi merupakan komponen penting yang harus diperbaiki secaraglobal. Remaja sering kali kekurangan informasi dasar tentang kesehatan reproduksi. Meskipun kebutuhanpelayanan kesehatan reproduksi tinggi namun pemanfaatannya masih rendah karena berbagai hambatanmemperoleh pelayanan dan juga adanya persepsi negatif terhadap pusat pelayanan kesehatan reproduksi. Datadari dinas Kesehatan kabupaten Sijunjung Sumatera Barat menunjukkan hanya 20% remaja yang memanfaatkanpelayanan kesehatan reproduksi. Sedangkan kasus dan masalah kesehatan reproduksi menunjukkan 9,2% sudahberhubungan seks sebelum menikah, dan 40% menikah pada usia remaja (&lt;20 tahun) serta 10% mengakibatkankehamilan tak dikehendaki.Tujuan: Untuk mempelajari persepsi remaja terhadap faktor fisik, proses, ekonomi dan psikososial untukmemanfaatkan pelayanan kesehatan reproduksi remaja.melalui wawancara mendalam.Subyek penelitian adalah siswa SMA kelas 1 dan 2 usia 14-16 tahun di wilayahkerja puskesmas sebanyak 131 responden.Hasil dan Pembahasan: Mayoritas remaja memiliki persepsi baik terhadap faktor fisik, proses, dan ekonomi. Tigafaktor bukanmerupakan penghambatmemperoleh layanan kesehatan reproduksi. Sementara itu faktor psikososialdianggap sebagai penghambat (68%) untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan reproduksi.Kesimpulan: Hambatan pemanfaatan layanan kesehatan reproduksi adalah faktor psikososial karena malu dantidak percaya untuk menceritakan masalah pada petugas kesehatan yang tidak dikenal. Remaja juga meragukankerahasiaan masalah yang diungkapkan.Kata kunci: persepsi, remaja, kesehatan reproduksi, pemanfaatan
PERILAKU BIDAN DALAM PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II TAMBAK, PUSKESMAS BANYUMAS DAN PUSKESMAS I KEMRANJEN Sumiyati, Sumiyati; Emilia, Ova; Dasuki, Djaswadi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : IPAKESPRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.897 KB)

Abstract

PERILAKU BIDAN DALAM PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II TAMBAK, PUSKESMAS BANYUMAS DAN PUSKESMAS I KEMRANJEN Sumiyati1, Ova Emilia2, Djaswadi Dasuki3 ABSTRACT Background: Early Initiation of Breastfeeding (EIB) is important because it can increase the success of exclusive breastfeeding and infant survival. However, the implementation of the EIB is still not optimal in Banyumas. One of the factors that support the success of EIB is the support of health workers, especially midwives. Central Bureau of Statistics of Banyumas regency in 2012 said that most of deliveries in Banyumas 78.52% in 2011 attended by midwives.Objective: To determine the behavior of midwives in the implementation of Early Initiation of Breastfeeding at Work Area of Tambak Public Health Center Banyumas. Public Health Center and Kemranjen Public Center.Methods: The study was cross sectional complemented with qualitative data. The experiment was conducted at the Working Area of Tambak II, Banyumas and Kemranjen I public healh centers with 38 midwives as subjects. In-depth interviews conducted to 6 midwives and 4 postpartum mothers.Results and Discussion: There were a significant association between knowledge and attitudes of midwives to practice implementation of EIB, knowledgeable midwife tent to practice E.I.B 1.79 times higher than less knowledgeable midwife. Good attitude midwives 1.62 times more likely to support EIB practice.Conclusion: The behavior of midwife in the implementation of the EIB practices is influenced by a good knowledge and attitudes that support the EIB. Factors that inhibit the EIB, included flat nipples exhaustment of postpartum mothers and lack of rest among health professionals when encountered prolong labor. Keywords: knowledge, attitude, practice, midwife, early initiation of breastfeeding  ABSTRAK Latar Belakang: Inisiasi Menyusu Dini (IMD) penting karena dapat meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif dan kelangsungan hidup bayi. Namun pelaksanaan IMD masih belum optimal di Kabupaten Banyumas. Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan IMD adalah dukungan tenaga kesehatan terutama bidan. Badan Pusat Statistik Daerah Kabupaten Banyumas tahun 2012 menyatakan sebagian besar penduduk Kabupaten Banyumas sekitar 78,52% pada tahun 2011 menggunakan tenaga kesehatan bidan untuk menolong persalinan.Tujuan: Untuk mengetahui perilaku bidan dalam pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas II Tambak, Puskesmas Banyumas dan Puskesmas I Kemranjen.Metode: Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini secara kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas II Tambak, Puskesmas Banyumas dan Puskesmas I Kemranjen dengan subjek penelitian 38 bidan dan wawancara mendalam dengan 6 bidan serta 4 ibu postpartum.Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis bivariabel terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap bidan dengan pelaksanaan praktik IMD, bidan yang berpengetahuan baik 1,79 kali lebih besar untuk melakukan praktik IMD dengan baik dibandingkan dengan bidan yang berpengetahuan kurang. Sikap bidan yang mendukung IMD 1,62 kali lebih besar untuk melakukan praktik IMD dengan baik dibandingkan dengan sikap bidan yang tidak mendukung IMD.Kesimpulan: Perilaku bidan dalam pelaksanaan praktik IMD dipengaruhi oleh pengetahuan yang baik dan sikap yang mendukung terhadap IMD. Faktor yang menghambat IMD antara lain bentuk puting yang mendatar sehingga bayi kesulitan untuk menghisap, ibu postpartum merasa capai dan lelah karena kurang istirahat serta faktor tenaga kesehatan, apabila menolong persalinan dengan kala II lama sehingga pelaksanaan IMD kurang dari satu jam. Kata kunci: pengetahuan, sikap, praktik, bidan, inisiasi menyusu dini1    Poltekkes Kemenkes Semarang2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UGM
Determinan Abortus di Indonesia Kuntari, Titik; Wilopo, Siswanto Agus; Emilia, Ova
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4 No. 5 April 2010
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.87 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v4i5.173

Abstract

Abortus menjadi masalah yang penting dalam kesehatan masyarakat karena berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas maternal. Di Indonesia, belum ada data yang komprehensif tentang kejadian abortus, berbagai data yang ada sebelumnya berdasarkan survei dengan cakupan yang relatif terbatas. Abortus yang tidak aman bertanggung jawab terhadap 11% kematian ibu di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode observasional menggunakan disain studi cross sectional. Data penelitian diperoleh dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003. Analisis data dilakukan secara bertahap yaitu: analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa risiko abortus meningkat seiring dengan peningkatan usia ibu. Wanita dengan paritas 0-2 berisiko lebih tinggi untuk mengalami abortus dibandingkan wanita dengan paritas 3 atau lebih (OR=5,2, IK 95%=3,49-7,89). Wanita yang bekerja berisiko 2,7 kali lebih tinggi untuk mengalami aborsi daripada wanita yang tidak bekerja (OR= 2,7 , IK 95%= 2,10-3,58). Selain itu, risiko abortus meningkat pada wanita yang menikah pada usia 30 tahun atau lebih (OR=1,8, IK95%= 1,30-2,48). Risiko abortus tidak berhubungan bermakna dengan riwayat abortus sebelumnya, tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi.Kata kunci : Abortus, tren abortus, determinan abortus, IndonesiaAbstractAbortion has become a main problem in public health because of its impact on maternal morbidity and mortality. There is no comprehensive data on abortion in Indonesia. So far, data were based on survey with limited coverage. Unsafe abortion is responsible to 11 percent of maternal mortality in Indonesia. This research objective is to determine factors related to abortion in Indonesia. The study was an observational method with cross sectional design. Thesedata are gathered from Indonesian Demography and Health Survey 2002–2003. Data analysis used univariate, bivariate and multivariate analysis with logistic regression. The risk of an abortion increased in line with the increasing of maternal age. Women with 0-2 parity have higher risk than multiparity (OR=5.2, IK95%=3.49-7.89). Employed women have higher risk than unemployed (OR=2.7, IK95%=2.10-3.58). The risk of abortion increased among women married at 30 years old or over (OR=1.8, IK95%=1.30-2.48). There is no significant association between history of abortion, education, socioeconomic and risk of abortion.Key words : Abortion, trend of abortion, abortion’s determinant, Indonesia
Co-Authors Abbas, Marwan Abdul Wahab Abu Bakar Agustiningsih, Denny Amiruddin Amiruddin Amitya Kumara Aria Kekalih Ariffianto, Adi Armaijn, Fadhilah Armis Armis Ayub Irmadani Anwar, Ayub Irmadani Bahari, Rafidah Bata, Verayanti Albertina Budi Iman Santoso Denny, Agustiningsih Detty Siti Nurdiati, Detty Siti Djaswadi Dasuki Djauhar Ismail Donal, Donal Dwi Andayani, Dwi Dwi Cahyani Ratna Sari Eddy Hartono Eddy Tiro Edi Patmini Eti Poncorini Pamungkasari Fatimah, Akifah Fielda Djuita, Fielda Fitriyani, Nurrahma Wahyu Ganap, Eugenius Phyowai Gandes Retno Rahayu Guardian Yoki Sanjaya, Guardian Yoki Hamid, Noor Aini Abdul Hari Kusnanto Hartono Hartono Herlin Fitriani Kurniawati, Herlin Fitriani Heru Pradjatmo Ibrahim, Juliani Ibrahim, Juliani Iman, Santoso Budi Irwan Taufiqur Rachman Iwan Dwiprahasto Juwartini, Dwi Kartini, Farida kartini, farida khusnul khotimah Ksyatria, Yudhistya Ngudi Insan Leman, Michael Andreas Leo Prawirodihardjo Lidia, Hepta Lilie Fransiska Lionita, Widya Liufeto, Koheresto G. Malik, Ummu Kalzum Malik, Ummu Kalzum Mandawati, Murti Mappaware, Nasrudin Andi Marasabessy, Nurlaila Mardiwiyoto, Harsono Maria Magdalena Purba, Maria Magdalena Martinus, Martinus Maryanto, Budi Mayae Hugo Mei Neni Sitaresmi Mia Kusmiati Moch. Anwar Mohammad Hakimi Mohan, Kirubashni Mokhtar, Shulhana Mora Claramita, Mora Muhammad Hakimi Muhammad Nurhadi Rahman Nani Emma Novianto, Asep Nuraliah, Nuraliah Nuring Pangastuti, Nuring Nurlina Ina, Nurlina Paunno, Magdalena Petrana, Nurul Hikmah Phyowai Ganap, Eugenius Poedji Rochjati Popy Irawati Pratiwi, Putu Irma Puspasari, Puspasari Putranti, Rizka Aries Raharja, Supanji Rahayu, Retno Gandes Rahayu, Retno Gandes Ratnawati, Lili Ratnawati, Lili Risanto Siswosudarmo Rukmono Siswishanto Sangun, Diannisa I E Sanip, Suhaila Septiani, Evi Shinta Prawitasari Siswanti, Edi Patmini Siswanto Agus Wilopo Sitorus, Juli Soehartati, Soehartati Soenarto, Srisuparyati Soerjo Hadijono Soetrisno Soetrisno Sri Handayani Sri Herlina, Sri Sri Linuwih Susetyo Wardhani, Sri Linuwih Susetyo Sukamdi Sukamdi SUMIYATI SUMIYATI Sunarko Sunarko Surayya, Rahmi Suryadi, Efrayim Suryosubianto, B P Sutresno, Ismail Joko Titik Kuntari Trisasi Lestari, Trisasi Umar Dhani, Umar Umar Malinta Vella Dwi Yani Widyandana Widyandana Widyandana, Doni Yanti Yanti Yayi Suryo Prabandari Yuliana Yuliana