Fitrah Ernawati
Puslitbang Gizi dan Makanan, Badan Litbangkes Depkes RI

Published : 23 Documents
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGARUH SUPLEMANTASI VITAMIN C DIBANDINGKAN DENGAN MULTI VITAMIN-MINERAL TERHADAP STATUS ZAT GIZI ANTIOKSIDAN PADA WANITA PEKERJA Ernawati, Fitrah; ., Rimbawan; Riyadi, Hadi; T.Wibawan, I.Wayan; ., Muhilal
GIZI INDONESIA Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EFFECT OF THE VITAMIN C SUPLEMENTATION TOWARD MULTI VITAMIN-MINERAL ON THE STATUS OF NUTRITIONAL ANTIOXIDANT IN WOMAN WORKERSMicronutrients, both vitamins and minerals are needed by the body in limited quantities, but their roleis essential to the body. To fulfill vitamin and mineral requirements, consumption of variant andbalanced diet is needed because most vitamins and minerals are not produced by our body. Foodsupplements can be a good alternative in providing sufficient amount of micronutrient if intake fromdietary sources are not enough. This research was intended to analyse the effect of multi vitaminmineral (MVM) supplementationcompared to a single nutrient supplementation (Vit C 1000 mg) ondietary antioxidant status. It was conducted on Februari 2008and thedesign of this research was adouble blind randomized controlled trial. There were 92 samples aged 20-45 years old, healthy(physically and clinically), did not consume alcohol, did not smoke and were willing to partipate in theresearch. Multi vitamin-mineral supplementation increased serum concentration of vitamin E andsuperoxide dismutase (SOD) significantly(p<0.05), while single supplementation of vitamin C 1000 mgimproved only vitamin C status. Suplementation of multi vitamin-mineral reduced free radicals byimproving superoxide dismutase (SOD) status. Keywords: multi vitamin-mineral supplementation, superdioxide dismutase status, vitamin Estatus, viin C status.
STATUS ZINC PADA LANSIA LAKI-LAKI YANG ANEMIA DAN TIDAK ANEMIA DI DESA DAN KOTA Rosmalina, Yuniar; Permaesih, Dewi; Ernawati, Fitrah
GIZI INDONESIA Vol 27, No 2 (2004): September 2004
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ZINC STATUS OF ANEMIC AND NON-ANEMIC MALE ELDERLY IN RURAL AND URBAN AREASThe elderly peoples are prone to micronutrients deficiency such as zinc. The impact of low intake of zinc is impaired functions of wound healing, immunity and taste and smell. The article presents the zinc state of elderly people with or without anemia. The age of subjects was 60 – 75 years. physically and clinically healthy, and agreed to participate in this study. Data collection including anthropometric measurements (body weight, height, mid-upper circumference), zinc, and Hb. Body Mass Index was calculated using ratio body weight to height. Hemoglobin level was analyzed using cyanmethemoglobin method and serum zinc was analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometer method. The average Body weight, height and MUAC of urban elderly were statistically higher compared to rural elderly. The proportion of anemic among elderly in rural was 29.0 percent and 15.7 percent in urban. Serum zinc level showed that the proportion of elderly who have low serum zinc level was higher in rural compared to urban area (76.0% vs 54.9%). Out of 54 elderly whose anemic 87.1 percent have serum zinc level below 70 mg/L, while in urban area out of 64 anemic elderly 68.8 % have serum zinc level below 70 mg/L.The proportion of elderly who have suffered anemia and have low serum level were higher in rural compared to urban area.Keywords: anemia, zinc, elderly
PENGARUH SUPLEMENTASI MULTIVITAMIN MINERAL TERHADAP STATUS GIZI DAN KESEHATAN ., Rimbawan; Sukandar, Dadang; Sulistiawati, Febrina; Ernawati, Fitrah
GIZI INDONESIA Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

THE EFFECT OF MULTIVITAMIN MINERAL SUPPLEMENTATION ON NUTRITIONAL STATUS AND HEALTHUse of multivitamin mineral (MVM) supplement has grown rapidly over the past several decades.According to several studies, supplement users tend to have higher micronutrient intakes from theirdiet than nonusers. Consequently, they have an increased intake but are also more likely to exceedthe upper level. The study was aimed to analyze the effect of MVM supplementation on renal functionthrough the double blind randomized controlled trial. Subjects were 93 of the female workers in PTRicky Putra Globalindo Tbk, Citeureup, Bogor who were randomly allocated to three treatments. Thefirst received only placebo (without vitamin C and MVM); the second received 1000 mg vitamin C; andthe third received MVM supplement that contains 1000 mg vitamin C, 45 mg vitamin E, 700 µg vitaminA, 6,5 mg vitamin B6, 400 µg folic acid, 9,6 µg vitamin B12, 10 µg vitamin D, 10 mg Zn, 110 µg Se, 0,9mg Cu, and 5 mg Fe. The supplements were distributed and consumed daily during 10 weeks. Themean change before and after study were tested with t paired test. The results showed the BMI,systolic and diastolic blood pressure, urea and creatinine blood serum were not significantly differentbefore and after study (p>0,05). The distribution of female workers based on BMI showed that morethan half of them have normal nutritional status (BMI 18,5-24,9 kg/m2). The distribution based onsystolic and diastolic blood pressure showed that most of them were not hypertension (systolic <140mmHg, diastolic <90 mmHg); and the distribution based on urea and creatinine showed that most ofthem have normal status (urea 8,0-25,0 mg/dl; creatinine 0,6-1,5 mg/dl).Keywords: food supplement, BMI, blood pressure, urea, creatinine.
PENGARUH SUPLEMENTASI ZAT GIZI MIKRO TERHADAP STATUS BESI DAN STATUS VITAMIN A PADA SISWA SLTP Permaesih, Dewi; Ernawati, Fitrah; Ridwan, Endi; ., Sihadi; Saidin, Sukati
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian status gizi siswa sekolah lima tahun terakhir mengungkapkan bahwa prevalensi anemia, yang dapat menyebabkan turunnya konsentrasi belajar, dan kurang vitamin A, yang dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh, masih cukup tinggi, sehingga menjadi kendala dalam upaya mengoptimalkan prestasi belajar. Keadaannya semakin buruk jika kedua masalah ini diderita secara bersama-sama oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak suplementasi zat gizi mikro (Fe dan Vitamin A)terhadap perbaikan status besi dan status vitamin A. Penelitian dilaksanakan pada 150 siswa anemia yang tinggal di kabupaten Bogor. Data yang dikumpulkan meliputi: identitas siswa, kadar Hb, s-transferin, vitamin A serum (retinol), konsumsi makanan/zat gizi dan energi. Sebelum pemberian suplemen, dilakukan “deworming” dengan pemberian obat cacing dosis tunggal “Combantrin”. Sampel dibagi tiga kelompok, masing-masing 50 siswa. Pada kelompok A setiap siswa mendapat satu pil besi (ferro sulfat) dengan dosis 60 mg besi elemental +0,25 mg asam folat dan kapsul vitamin A (10.000 SI) dua kali per minggu. Kelompok B hanya mendapat satu pil besi seperti pada kelompok A, diberikan dua kali per minggu. Kelompok C adalah kelompok pembanding yang mendapat plasebo. Suplementasi berlangsung selama 12 minggu. Pemberian suplemen satu pil besi (60 mg besi elemental + 0,25 mg asam folat) dan vitamin A (10.000 SI) disertai pemberian snack mengandung energi (15% AKG), dua kali per minggu selama 12 minggu dapat memeningkatkan kadar Hb sebesar 1,40 g/dl, serum transferrin receptor (sTFR) sebesar – 1,0 µg/L, serum vitamin A (retinol) sebesar 6,1 µg/dl. Tidak ada perbedaan bermakna konsumsizat gizi (energi dan protein) sebelum dan sesudah pemberian suplementasi.Kata kunci: vitamin A, zat besi, siswa, anemia, KVA
ASUPAN ENERGI DAN PENGGUNAAN ENERGI (ENERGY EXPENDITURE) SELAMA KEHAMILAN: STUDI LONGITUDINAL Rosmalina, Yuniar; Safitri, Amalia; Ernawati, Fitrah
GIZI INDONESIA Vol 37, No 2 (2014): September 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama kehamilan, asupan gizi seharusnya datang dari makanan yang baik dalam jumlah dan kualitas karena sangat penting untuk perkembangan kehamilan yang sehat. Selain itu keadaan kesehatan ibu selama kehamilan sangat mempengaruhi perkembangan janin, Tujuan tulisan ini adalah membandingkan energi yang masuk dengan energi yang dikeluarkan dalam melakukan kegiatan sehari. Penelitian ini adalah longitudinal yang mengikuti respondents dalam kaitannya dengan asupan energi dan pengeluaran energi dari usia kehamilan 3 bulan sampai usia 8 bulan dengan melakukan. Jumlah responden pada awal studi di trimester pertama (awal rekruitment) adalah 334 ibu dan pada akhir studi adalah 262 ibu. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik , berat badan,aktifitas fisik dan konsumsi makanan (melalui recall 1 x 24 jam). Berat badan, aktifitas fisik dan konsumsi makanan dikumpulkan setiap 2 minggu. Hasil menunjukkan bahwa asupan energi dan energi yang dikeluarkan relatif sama. Juga didapat rerata berat badan ibu pada kehamilan yang ke 3 bulan adalah 48,7 kg dan kemudian bertambah sesuai dengan perkembangan kehamilan. Rerata kenaikan berat badan dari usia 3 bulan ke 8 bulan kehamilan asupan energi, adalah 7,5 kg. Asupan energite rendah saat kehamilan 3 bulan yaitu 2000 Kal sehari kemudian meningkat pada kehamilan yang ke 7 bulan dan menurun kembali pada umur kehamilan ke 8 bulan.ABSTRACT ENERY INTAKE AND ENERGY EXPENDITURE DURING PREGNANCY:A LONGITUDINAL STUDY During pregnancy, nutrient intakes should come from both good quality and quantity foods because they are very important for developing healthy pregnancy. In addition to nutrient intake, health status during pregnancy greatly affects fetal development. This paper aims to study a comparison of the energy intake of pregnant women with energy expenditure in performing daily activities . This is a longitudinal study which followed respondents in relation to energy intake and energy expenditure from the age of 3 months until the age of 8 months of pregnancy. The number of respondents at the beginning of the first trimester of pregnancy/initial recruitment) was 334 mothers and the end of the study became262 mothers. Data collected included respondent characteristics (age, education, occupation), body weight, physical activity, nutrient intake using a 24-hour recall method. Body weight, physical activity and food consumption were collected every 2 weeks. The results indicated that energy intake and energy expenditure were at the average per month. Also showed an average maternal weight at the age of 3 months (initial recruitment) was 48.7 kg and the weight increased with increasing gestational age. The average increase in weight in the initial recruitment at the age of 8 months of pregnancy was on 7.5 kg. The lowest energy intake at 3 month pregnancy was 982 kcal per day, then increasing energy intake with increasing gestational age, but the average energy intake was only 50 percent compared to energy expenditure for their daily activities. The average energy expenditure was low at the age of 3 months of pregnancy, about 2000 kcal and increased until the age of 7 months of pregnancy then declined at the age of 8 months of pregnancy.Keywords: energy intake, energy expenditure, pregnant women
HUBUNGAN ANTENATAL CAREDENGAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DI INDONESIA (ANALISIS LANJUT DATA RISKESDAS 2010) Ernawati, Fitrah; Kartono, Djoko; Puspitasari, Dyah Santi
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi BBLR di Indonesia cukup tinggi mencapai 11,5 persen (Riskesdas 2007). Berat badan lahir sangat berpengaruh terhadap status kesehatan di masa dewasa. Berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu berat lahir kurang dari 2500 gr, berkorelasi erat dengan penyakit degenerative diusia dewasa (Barker 1998). Tujuan penelitian adalah meneliti hubungan kunjungan antenatal dengan berat badan lahir di Indonesia. Penelitian ini merupakan analisis lanjutdata Riskesdas 2010. Sampel penelitian adalah seluruh ibu yang mempunyai anak usia satu tahun ke bawah yang mempunyai data berat badan lahir dari sampel Riskesdas 2010. Jumlah sampel 2926 anak usia kurang dari satu tahun. Variabel yang diteliti meliputi: ANC, paritas, umur ibu saat melahirkan, jarak kelahiran, ditimbang saat ANC, diukur tinggi badan, diukur tekanan darah, diperiksa air seni,diperiksa darah (hb),dijelaskan tanda komplikasi, disuntik TT, diberi pil besi, tinggi badan ibu, status ekonomi. ANC dikatagorikan baik jika memenuhi syarat minimal satu kali kunjungan pada trimester satu, satu kali pada trimester dua dan dua kali pada trimester tiga. Untuk mengetahui hubungan ANC dengan kejadian BBLR menggunakan uji statisik regresi logistik Ganda. Hasil uji bivariat menemukan variabel yang berpotensi menjadi variabel yang berhubungan dengan berat badan lahir (p<0,05) yaitu kunjungan ANC, penjelasan tanda komplikasi saat ANC, dan jarak lahir. Setelah dilakukan uji multivariate menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara ANC dengan kejadian BBLR dengan OR 1.8 (CI 95%: 1.3 - 2.5). Artinya ibuyang melakukan kunjungan ante-natal care lebih dari 4 kali mempunyai peluang untuk tidak melahirkan anak BBLR sebesar 1,8 kali dibandingkan dengan ibu yang melakukan ante-natal care kurang dari 4 kali. Hasil uji interaksi dan uji confounding tidak menemukan adanya interaksi diantara variabel independen dan pengaruh variabel confoundingterhadap hubungan antara ANC dengan kejadian BBLR.Kata kunci: antenatal care, BBLR, paritas, jarak kelahiran
STATUS VITAMIN A DAN ZAT BESI ANAK INDONESIA Ernawati, Fitrah; Sandjaja, nFN; Soekatri, Moesijanti
GIZI INDONESIA Vol 36, No 2 (2013): September 2013
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zat besi dan vitamin A mempunyai peran penting dalam pertumbuhan anak. Kekurangan kedua zat gizi tersebut mempunyai dampak yang luas terhadap, tumbuh kembang anak. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui status anemia dan status vitamin A anak Indonesia. SEANUTS adalah survai status gizi anak 0,5-12,9 tahun multi-center study dengan rancangan potong lintang yang dilaksanakan pada tahun 2011 di Indonesia yang mencakup 48 kabupaten/kota. Data yang dikumpulkan antara lain biokimia darah, termasuk hemoglobin, ferritin, dan vitamin A serum. Penentuan kadar hemoglobin dengan Cyanmethemoglobin, ferritin dengan ELISA, kadar serum vitamin A menggunakan HPLC. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi anemia tertinggi ditemukan pada kelompok umur 0,5-0,9 tahun yang tinggal di perdesaan yaitu 61,9 persen dibandingkan pada kelompok umur 9,0-12,9 tahun yaitu 11,4 persen. Demikian pula dengan prevalensi kurang besi, pada kelompok umur 1,0 - 2,9 tahun sebesar 29,7 persen, sedangkan pada kelompok umur 9,0-12,9 tahun hanya 5,3 persen. Prevalensi kekurangan vitamin A di perkotaan, pada kelompok umur 1,0-2,9 tahun tidak dijumpai masalah kurang vitamin A (0,0 persen), namun di perdesaan dijumpai sebanyak 3,1 persen, sementara itu pada kelompok usia 9,0-12,9 tahun di perkotaan dijumpai sebesar 4,9 persen dan di perdesaan sebesar 4,8 persen. Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan kategori berat terutama pada anak di bawah usia 3 tahun. Kekurangan zat besi lebih banyak ditemui pada anak kelompok usia dibawah 3 tahunABSTRACT VITAMIN A AND IRON STATUS OF INDONESIAN CHILDREN The aim of this study was to identify the iron and vitamin A status in Indonesian children. SEANUTS Indonesia covered children of age 0.5-12.9 years old from 48 sub-districts. The study collected biochemical parameters which included iron, ferritin and serum vitamin A status.  Hemoglobin was determined by Cyanmethemoglobin, ferritin by ELISA and serum vitamin A serum by HPLC. The prevalence of anemia was lower (11.4 %) in the older children (9.0-12.9 years) compared to younger children (0.5-0.9 years) were 61.9 % which was found in the rural area. Similarly, the prevalence of iron deficiency was lower (5.3 %) in the older children (9.0-12.9 years) compared to younger children (0.5-0.9 years) were 29.7 % which was found in the rural area. In contrast, the prevalence of retinol deficiency was higher (4.9 %) in the older children (9.0-12.9 years) compared to younger children (0.5-0.9 years) were 0,0 % which was found in the urban area, and it was higher (4.8 %) in the older children (9.0-12.9 years) compared to younger children (0.5-0.9 years) were 3.1 % which was found in the rural area.  Anemia among children under 3 years old remains a severe public health problem. Iron deficiency more prevalent among children under 3 years oldKeywords: vitamin A status, iron status, Indonesian children
FAKTOR RISIKO ANEMIA PADA IBU MENYUSUI DI RUMAH TANGGA MISKIN sudikno, nFN; Sandjaja, nFN; Ernawati, Fitrah
GIZI INDONESIA Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia pada ibu menyusui menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat, khususnya di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko anemia pada ibu menyusui. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2011 di kabupaten Tasikmalaya dan kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Desain penelitian cross-sectional yang melibatkan 229 ibu menyusui dari keluarga miskin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hemoglobin pada ibu menyusui sebesar 13,28±1,56 g/dl. Prevalensi anemia pada ibu menyusui sebesar 17, 9 persen. Analisis regresi logistic multivariate menunjukkan bahwa faktor kecukupan vitamin A dan umur ibu berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu menyusui. Ibu menyusui yang kekurangan vitamin A cenderung berisiko untuk mengalami anemia sebesar 4,58 kali setelah dikontrol variable umur ibu (OR=4,58; p=0,001, 95% CI: 1,86-11,26)  dibandingkan ibu menyusui tidak kekurangan vitamin A. Rekomendasinya adalah perbaikan gizi pada ibu menyusui melalui pemberian makanan tambahan maupun penambahan mikronutrien sangat diperlukan. Di samping itu, penyuluhan tentang penundaan usia kehamilan  juga bisa menjadi program alternatif pencegahan anemia.ABSTRACT ANEMIA RISK FACTORS IN LACTATING MOTHERS AMONG POOR HOUSEHOLDS Anemia in Lactating mothers is still one of public health problem, particularly in developing countries. This study aims to determine the risk factors of anemia in lactating  women. This study was conducted from June -July 2011 in Tasikmalaya and Ciamis Districts, West Java Province. Design of the study was cross-sectional study involving 229 breastfeeding women from poor families. The result showed that the average hemoglobin in breastfeeding mothers was 13.28 ± 1.56 g/dl. The prevalence of anemia in lactating  women was 17.9 percent. Multivariate logistic regression analysis showed that factors adequacy of vitamin A and maternal age were associated with maternal anemia during breastfeeding. Lactating  women who were deficient in vitamin A tended to have anemia experience was 4.58 times after controlled by maternal variables (OR = 4.58; p = 0.001, 95% CI: 1.86-11.26) compared  to those  who were not deficient in vitamin A. It  is recommended  to improve nutrition among lactating  women through supplementary feeding with  micronutrients addition. Furthermore, the extension of delay marriage age is also an alternative programs to prevent anemia.Keywords: risk factors, anemia, lactating women
STATUS VITAMIN D TERKINI ANAK INDONESIA USIA 2,0-12,9 TAHUN Ernawati, Fitrah; Budiman, Basuki
GIZI INDONESIA Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah kurang vitamin D merupakan masalah gizi terbaru yang menjadi perhatian saat ini. Berbagai studi di luar negeri, baik di negara sub-tropis maupun tropis, menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi. Di Indonesia belum banyak laporan tentang status vitamin D pada anak dan kelompok lain. Studi ini bertujuan mengetahui status vitamin D pada anak umur 2,0-12,9 tahun di Indonesia dan faktor yang berperan. Analisis menggunakan data anak usia 2,0 – 12,9 tahun dari South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) yang dikumpulkan tahun 2011. Desain penelitian adalah potong lintang di 48 Kabupaten di Indonesia. Pengukuran kadar 25-hydroxyvitamin D [25(OH)D] menggunakan enzym immuno assay. Analisis data menggunakan ANOVA and korelasi. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar vitamin D anak umur 2,0-12,9 tahun 52.6 + 0,7 nmol/L. Prevalensi deficiency vitamin D (serum 25(OH)D < 25 nmol/L), insufficiecy (25-49 nmol/L), inadequate (50-74 nmol/L), dan desirable (> 75 nmol/L) berturut-turut 0%, 45,1%, 49,3%, dan 5,6%. Kadar vitamin D lebih tinggi pada anak lelaki (54,7±0,9 nmol/L) dibanding perempuan (49,9±1,0 nmol/L). Dijumpai hubungan positif antara lama melakukan aktifitas diluar rumah dengan kadar vitamin D (r=0,164, p=0,012). Kadar vitamin Dpada anak kelompok umur 2,0-2,9 tahun yaitu 54,0±2,3 nmol/l, sedangkan pada anak kelompok umur 9,0-12,9 tahun yaitu 50,3 ± 1,4 nmol/l. Kadar vitamin D anak yang tinggal di kota (52,5 nmol/l) tidak berbeda dengan anak yang tinggal di desa (52,6 nmol/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa status vitamin D pada anak usia sekolah perlu mendapat perhatian.ABSTRACT CURRENT STATUS OF VITAMIN D IN INDONESIAN CHILDREN 2,0-12,9 YEARS OLD Vitamin D deficiency is an emerging nutritional problem. Studies in subtropical and tropical countries have shown high prevalence of vitamin D deficiency. However, the vitamin D status of school children and other groups in indonesia is still underreported. The objective of this study is to assess vitamin D status and its associated factors in children aged 2.0-12.9 year. The data used for the analysis is secondary data of children 2.0-12.9 year old taken from the cross-sectional study of South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) conducted in 48 districts in 2011. Serum 25-hydroxyvitamin D [25(OH)D] level was measured using enzyme immuno assay. Statistical analysis of data used ANOVA and Correlation test. The results showed that the mean serum 25(OH)D was 52.6 + 0,7 nmol/L. The prevalence of vitamin D deficiency (serum 25(OH)D < 25 nmol/L), insufficiency (25-49 nmol/L), inadequate (50-74 nmol/L), and desirable (> 75 nmol/L) were 0%, 45.1per cent, 49.3per cent, dan 5.6per cent ,respectively. Vitamin D level in boys (54,0±2,3 nmol/L) was higher than in girls (49.9±1.0 nmol/L). There was an association between vitamin D levels with outdoors activity (r=0.164, p=0.012). Mean vitamin D level in children aged 2,0-2,9 years was 54.0±2.3 nmol/l, while in children aged 9.0-12.9 years was 50,3 ± 1,4 nmol/l. There was no significant difference of vitamin D level between urban children (52.5 nmol/L) and rural children (52.6 nmol/L). The study draws our attention to vitamin D status in children 2.0-12.9 years old..Keywords: vitamin D status, children aged 1,0-12,9 years, outdoors activity 
PERAN BEBERAPA ZAT GIZI MIKRO DALAM SISTEM IMUNITAS ., Siswanto; ., Budisetyawati; Ernawati, Fitrah
GIZI INDONESIA Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zat  gizi  mikro  adalah  vitamin  dan  mineral.  Salah  satu  peran  vitamin  dan  mineral  adalah  sebagai antioksidan yang mampu memperkuat  sistem daya tahan tubuh manusia (sistem imun).  Peran vitamin A banyak pada pemeliharaan sel epitel, dimana sel epitel merupakan salah satu jaringan tubuh yang terlibat di dalam fungsi  imunitas non-spesifik.  Vitamin E atau α-tokoferol mempunyai peran penting di membran eritrosit  dan  lipoprotein  plasma,  vitamin  ini  mampu  mempertahankan  integritas  membran  sel  karenavitamin  E  mempunyai  cincin  fenol  yang  mampu  memberikan  ion  hidrogennya  kepada  radikal  bebas.Demikian  pula  dengan  vitamin  C  sebagai  donor  elektron  sehingga  cepat  memutus  rantai  reaksi  SOR (Spesies Oksigen Reaktif) dan SNR (Spesies Nitrogen Reaktif). Selenium merupakan mineral kelumit yang penting untuk sintesis protein dan aktivitas enzim glutation peroksidase (GSH-PX). Selenium mempunyai peranan  sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida yang terbentuk di dalam tubuh menjadi ikatan yang  tidak  bersifat  toksik.  Maka  karena  itu  kecukupan  zat  gizi  terutama  vitamin  dan  mineral  sangat diperlukan  dalam  mempertahankan  sistem  kekebalan  tubuh  yang  optimal  sebagai  upaya  preventif  agar selalu sehat.Kata kunci: zat gizi mikro, antioksidan, sistem kekebalan tubuh