Fakhrina Fahma
Department of Industrial Engineering, Sebelas Maret University, Surakarta, Indonesia National Center for Sustainable Transportation Technology, Bandung, Indonesia

Published : 26 Documents
Articles

Found 26 Documents
Search

PENETAPAN HARGA POKOK PRODUKSI (HPP) PRODUK RIMPANG TEMULAWAK MENGGUNAKAN METODE FULL COSTING SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA JUAL (STUDI KASUS : KLASTER BIOFARMAKA KABUPATEN KARANGANYAR) Fahma, Fakhrina; Budijanto, Murman; Purnama, Ayu
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Karanganyar merupakan sentra produksi biofarmaka terbesar di Jawa Tengah dengan luas area lahan 270 hektar dan  jumlah produksi mencapai 1.390.700 kg (Balitpang Provinsi Jawa Tengah, 2010). Demi membantu pengembangan biofarmaka pemerintah Kabupaten Karanganyar membentuk lembaga Klaster Biofarmaka yang beranggotakan 10 kelompok tani. Produk unggulan klaster yang banyak diminati oleh konsumen adalah rimpang temulawak, simplisia temulawak, dan serbuk temulawak. Harga tawar produk yang ditentukan oleh Klaster Biofarmaka kepada petani cenderung rendah, sehingga petani lebih memilih menjual produknya ke tengkulak. Hal ini  terjadi karena rendahnya pengetahuan petani mengenai cara menetapkan harga jual produk sehingga petani tidak memiliki daya tawar produk yang baik. Untuk menghindari adanya kesalahan dalam perhitungan harga pokok produksi temulawak dan untuk menghasilkan biaya yang efisien diperlukan penerapan suatu metode yang tepat untuk menghitung penetapan harga pokok produksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode full costing. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditunjukkan bahwa hasil dari perhitungan harga pokok produksi (HPP) dengan menggunakan metode full costing untuk produk temulawak basah adalah Rp 2.116 per kilogram, produk simplisia temulawak adalah Rp 21.278, dan produk serbuk temulawak adalah Rp 47.557. Kata kunci: biofarmaka, klaster, temulawak, harga.
PERANCANGAN STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) PENGOLAHAN PASCA PANEN RIMPANG TANAMAN OBAT DAN IDENTIFIKASI GOOD MANUFACTURING PRACTICES (GMP) DI KLASTER BIOFARMAKA KARANGANYAR Fahma, Fakhrina; A. Jauhari, Wahid; Kusumawardhani, Pungky Nor
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini banyak masyarakat yang beralih dari mengkonsumsi obat kimia ke obat herbal yang berasal dari tanaman obat (biofarmaka). Perubahan pola konsumsi obat ini dikarenakanobat herbal memiliki risiko efek samping yang minim apabila digunakan secara tepat. Produk biofarmaka yang salah satunya berasal dari tumbuhan sangat berpotensi untuk pengembangan Industri Obat Tradisonal (IOT) dan kosmetika (Purnaningsih, 2008). Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah telah mengembangkan beberapa klaster biofarmaka salah satunya di Karanganyar.  Meskipun Karanganyar dikenal sebagai daerah yang berpotensi besar dalam produk biofarmaka, masih terdapat banyak masalah yang menghambat pengembangan biofarmaka terutama yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas supply produk yang dipanen. Masalah tersebut muncul dikarenakan tidak adanya suatu sistem penjaminan  mutu dari hasil panen tanaman-tanaman biofarmaka. Untuk menjamin mutu produk dari klaster perlu adanya dokumentasi terkait budidaya dan proses produksi. Sistem pendokumentasian mutu dapat berupa Standard Operating Procedure (SOP) dari budidaya tanaman hingga pasca panen dan GMP (Good Manufacturing Practices) Planyang mengatur agar hasil pengolahan proses produksi nantinya sesuai dengan standar mutu dan  aman untuk dikonsumsi. SOP disusun berdasarkan studi kasus di Kelompok Tani Sumber Rejeki I dan studi lapangan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT).  Metode yang digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan ketua dan pengurus klaster, ketua dan anggota kelompok tani, dan pihak-pihak terkait lainnya yaitu dinas pertanian dan B2P2TO-OT.  SOP ini dapat digunakansebagai SOP percontohan di kelompok-kelompok tani lainnya. SOP ini sebagai standarisasi untuk meminimalkan variasi proses budidaya dan pasca panen antar kelompok tani, sehingga dapat menjamin mutu produk biofarmaka yang dihasilkan. Pengembangan dan penggunaan SOP dapat meminimasi variasi output dan meningkatkan kualitas melalui implementasi yang konsisten pada proses atau prosedur di dalam organisasi (U.S. Environmental Protection Agency, 2007).  SOP yang tersusun nantinya dapat diimplementasikan sehingga tercapai cara penanganan dan pengolahan pangan hasil pertanian yang baik melalui Good Manufacturing Practices (GMP). Dengan adanya sebuah sistem dokumentasi GMP (GMP Plan) diharapkan klaster memiliki sebuah pedoman untuk dapat mengimplementasikan proses pasca panen yangbaik, sehingga dapat menghasilkan produk yang aman dan dapat memenuhi standar penerimaan baik pasar maupun perusahaan jamu. Kata kunci: Klaster biofarmaka, SOP, GMP, Rimpang Biofarmaka
Penentuan Harga Pokok Produksi Kunyit dan Produk Olahan di Klaster Biofarmaka Kabupaten Karanganyar Toga, Nisa Rukma; Fahma, Fakhrina; Budijanto, Murman
Performa: Media Ilmiah Teknik Industri Vol 12, No 1 (2013): PERFORMA Vol. 12, No 1 Maret 2013
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/performa.12.1.12654

Abstract

Penelitian ini dilakukan di klaster biofarmaka karanganyar. Klaster biofarmaka ini menghasilkan berbagai produk yaitu rimpang, simplisia dan serbuk. Permasalahan yang ada di klaster yaitu masih rendahnya harga beli rimpang dari klaster kepada petani, hal ini disebabkan klaster belum menghitungsecara detail biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses budidaya dan proses produksi. Oleh karena itu perlu dilakukan pengakajian tentang penentuan harga pokok produksi untuk rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit.Pada penelitian ini digunakan metode full costing untuk menentukan harga pokok produksi pada rimpang kunyit, simplisia kunyit dan serbuk kunyit. Pada harga pokok produksi biaya-biaya diklasifikasikan pada biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Harga pokok produksi diperoleh dari penjumlahan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik dan bunga majemuk. Strategi penetapan harga jual oleh klaster dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dengan tidak memperhitungkan biaya sewa, biaya sewa gudang dan bunga majemuk maka harga pokok produksi juga berubah. Namun klaster dapat dapat memilih perhitungan mana yang sesuai dengan klaster dan sesuai pada kondisi pasar saat ini
IBM BAGI KELOMPOK TANI BIOFARMAKA SUMBER REJEKI I DAN NGUDI MAKMUR I DI DESA SAMBIREJO KABUPATEN KARANGANYAR Fahma, Fakhrina; Astuti, Rahmaniyah Dwi; Priyaditama, Ilham
Jurnal Abdimas Vol 18, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelompok Tani Biofarmaka Sumber Rejeki I dan Ngudi Makmur I memiliki hasil utama berupa kunyit. Untuk meningkatkan nilai tambah produknya, kedua kelompok tani ini mengolah rimpang kunyit menjadi simplisia. Karena harga jual simplisia jauh lebih baik daripada menjual dalam bentuk rimpang. Simplisia adalah rimpang yang dipotong tipis dengan ketebalan 3–8 mm dan dikeringkan sampai kadar air mencapai kurang dari 10%. Sampai saat ini petani masih terkendala dalam memasarkan produk simplisianya. Penyebab utamanya adalah kualitas produknya masih dibawah standar yang ditetapkan pabrikan karena proses pengolahannya yang masih bersifat konvensional, baik dari sisi metodologi maupun teknologi. Selain produktivitasnya yang rendah, cara ini mengakibatkan variasi ketebalan dan kecelakaan kerja. Pengeringan masih dilakukan dengan cara menjemur secara langsung dibawah sinar matahari dengan menggunakan widik. Dengan cara seperti ini pengeringan membutuhkan waktu yang lama yaitu mencapai 20 hari. Selain itu juga terdapat resiko kontaminasi dan menguapnya minyak atsiri yang terkandung dalam simplisia kunyit. Melalui program IbM ini dirancang Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa alat pemotong rimpang dan alat pengering simplisia yang dilengkapi dengan SOP pengolahan simplisia kunyit dan penggunaan peralatan. Kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), dalam artian mitra akan dilibatkan hampir di seluruh tahap kegiatan mulai dari perancangan alat, pembuatan alat, evaluasi kinerja alat, penyempurnaan alat, perancangan SOP, sosialisasi SOP dan implementasi SOP. Hasil pengujian kinerja kerja alat pemotong menghasilkan potongan membujur dengan rata-rata 4,58mm sedangkan kinerja alat pengering solar drayer dapat mencapai suhu rata-rata 53.5 C, laju aliran udara rata – rata sebesar 1,02m/s padalubang inlet dan 0.43m/s pada lubang exhaust. Dengan kinerja seperti ini maka pengeringan simplisia akan berjalan lebih cepat, yaitu kurang lebih lima hari. Kata kunci : Biofarmaka, Alat Pemotong Kunyit, Solar dryer
Analisa Kelayakan Pabrik Neon Elektronik (NE) Sukoharjo Lutfia, Nina; Suletra, I Wayan; Fahma, Fakhrina
Performa: Media Ilmiah Teknik Industri Vol 3, No 1 (2004): PERFORMA Vol. 3 No 1, Maret 2004
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/performa.3.1.11128

Abstract

The increasing of electricity base rates initiate people to choose the energy saving lamp in order to decrease their electricity bill. It impacts the demand of energy saving lamps increase. Neon Electronic produces such an energy saving lamp with the electronic circuit called ballast electronic. Neon Electronic plan to develop the factory and expand the marketing area.This research is aimed to know the feasibilities of the Neon Electronic (NE) development plan. The feasibilities study covered a research on market aspects, production and operastional aspects, and financial aspects.Based on the result of market aspects, this development plan is feasible; because of the people demand. so, there is an opprtunity to implement this plan. Despite from that there is a particular interest factors such as the quality of Neon Electronic is higher than the around competitors.From the production and operational aspects, this plan is also feasible to continue because there is no barrier on the availability of the machines and tools and another production fasilities, the development fund, and human resources.With the assumption that the interest rate is 16% and all the product sold, the result of investment criteria; NPV is Rp. 167.778.623, IRR = 98% which is bigger than the interest rate, Discounted Payback Period = 1 year 3,78 months, no cash deficit, the Profitability Index above one which is 2,86, and the Break Even Point (BEP) 2004 is Rp. 307.879.319. The financial aspects point of view recommends this development plan is possible to continue.
PERANCANGAN STRATEGI PENGEMBANGAN SNI BERDASARKAN NERACA PERDAGANGAN, STANDAR NASIONAL DAN INDUSTRI MENGGUNAKAN METODE ANALISIS SWOT Perwitasari, Yunita; Fahma, Fakhrina; Zakaria, Roni
Performa: Media Ilmiah Teknik Industri Vol 18, No 2 (2019): Performa: Media Ilmiah Teknik Industri
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/performa.18.2.32978

Abstract

Globalisasi ekonomi sudah menjadi agenda internasional yang sulit terelakan oleh semua negara di dunia. Sejalan dengan berlangsungnya globalisasi ekonomi, organisasi perdagangan dunia (WTO) membuat kesepakatan tentang perjanjian perdagangan yang dikenal sebagai WTO agreement. Dalam perjanjian tersebut, negara yang menanda tangani perjanjian setuju untuk menurunkan bahkan menghilangkan pembatas yang tidak perlu dalam perdagangan antar negara. Beberapa pelaku usaha menyatakan bahwa standar dan penilaian kesesuaian menjadi infrastruktur teknis dalam perdagangan. Penggunaan standar sebagai suatu infrastruktur teknis dalam perdagangan juga sangat berarti dalam perdagangan domestik. Sehingga pengembangan SNI (Standar Nasional Indonesia) yang sesuai dengan karakteristik Indonesia perlu dilakukan. Dalam melakukan pengembangan SNI diperlukan strategi yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan usulan perencanaan strategi pengembangan SNI. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif SWOT(Strength Weakness Opportunity Threat). Hasil yang diperoleh berupa usulan strategi berdasarkan matriks SWOT. Usulan yang didapatkan adalah strategi pengembangan SNI di industri konstruksi dengan melakukan langkah-langkah yang mendukung.
Analisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumen dalam Keputusan Pembelian Mobil Toyota di Surakarta R, Roni Zakaria; Fahma, Fakhrina; -, Sujiyati
Performa: Media Ilmiah Teknik Industri Vol 6, No 2 (2007): PERFORMA Vol. 6, No. 2 September 2007
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/performa.6.2.12942

Abstract

The aims of this study are: (1) To find out the influence of the culture, social, psychology and personal variables to the Toyota cars purchasing decision in Surakarta; (2) To find out the most dominant factor in influencing the Toyota-type car purchasing decision in Surakarta, so that it can be used as a consideration in making any policies in determining the marketing strategy.This study is carried out in Toyota Dealer Surakarta by using quantitative approach. The technique used in collecting data is questionnaire with 30 of sample. The analysis used is the multiple linear regression analysis. The result of this study are: (1) The contribution of the culture variable to the purchasing decision is shown by the unstandardized beta coefficient value of 0.234, which means that each increasing of culture variable will influence the purchasing decision of 0.234; (2) The contribution of the social variable to the purchasing decision is shown by the unstandradized beta coefficient value of 0.213, which means that each increasing of social variable will influence the purchasing decision of 0.213; (3) The contribution of psychology variable to the purchasing decision is shown by the unstandardized beta coefficient value of 0.164, which means that each increasing psychology variable will influence the purchasing decision of 0.164; (4) The contribution of personal variable to the purchasing decision is shown by the unstandardized beta coefficient value of 0.409, which means that each increasing personal variable will influence the purchasing decision of 0.409; and (5) The most dominant factor in influencing the purchasing decision is the personal variable, which is proved by the unstandardized beta coefficient value of 0.409, which is the highest value than of other variables.
Perencanaan Strategi Pemasaran (Segmentation, Targetting dan Positioning) Koran Harian Solopos Berdasarkan Persepsi Konsumen Zakaria, Roni; Fahma, Fakhrina; Astuti, Elisa Reinni
Performa: Media Ilmiah Teknik Industri Vol 4, No 1 (2005): PERFORMA Vol. 4 No 1, Maret 2005
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/performa.4.1.11154

Abstract

Wide scope of the newspaper circulation not further becomes increased values that can be stronger the market. When the newspaper likely cone be “attendant” a limited community (local), newspaper will to try appear as superior and established in market community that will be reach. The research is done to know segments, target and position of Solopos newspaper as the basic of their marketing strategies. Data intrepetation is done through survey with questioner methods that spread to Solopos’s customer in fifthten village chief in Surakarta. The methods of processing data using multivariate analysis i.e. cluster analysis uses to find out the customers’ group based on their similar perception, Multi Dimensional Scaling Analysis and Correspondence Analysis used to mapping the position of Solopos among its competitor. Output of this research is that Solopos customer grouping into three segments, with different characteristics i.e. occupation, income, and position in family. First segment consist of customer which has more interest on news completely, style language, price agree with quality and easy to get its. Respondent in second segment inclined negative characteristic to some part of the attribute. Third segment more interest on headline, actuality, factuality, and inexpensive price and appropriate to ship the product. Position mapping show that the position of brand’s point is far from each other. It means that customer’s perception on each newspaper is differently or each brand has its uniqueness. Furthermore, known that Solopos has specialty on service and promotion. Based on the result of data analysis, Solopos would be able to be offered for community’s group of first and third segment, because of the specialty that is service. The design of marketing mix includes maintaining the quality and price, increasing the promotion and service that are Solopos’s specialty.
Analisis Performansi Finansial Industri Batik Berdasarkan Faktor Kompetensi Industri Kecil dan Menengah (Studi Kasus: Industri Kecil dan Menengah Batik di Surakarta) Fahma, Fakhrina; Damayanti, Retno Wulan; -, Maharani
Performa: Media Ilmiah Teknik Industri Vol 7, No 1 (2008): PERFORMA Vol. 7, No. 1 Maret 2008
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/performa.7.1.13764

Abstract

SMIs Batik often unable to catch on the market opportunity that needs large production volume. Beside, SMIs batik has difficulty in the finance access and consultation. The limitation of investment also becoming a weakness for increasing the internal function. Such as training and technology inovation. In this research, there is 6 competence factors,(Financial, Human Resources, Technology and Production, Marketing, Company Management, Network and Basic Material Supply) that used to analyze the performance of SMIs Batik in Surakarta. There is 63 industries as sample.Cluster Analyze is used to grouping industries into some group. Discriminant Analyze is used to identify the discriminatory competence variable for group. The result is 63 batik industries can be grouped into 4 cluster based on 5 grouping variables: the age of company, the number of labor, company assets, omsets per year dan profit per year. With size of financial performance that is Return on Assets, Profit Margin and Sales Turnover, 4 group can be categorized as highest, high, medium and low performance of industry. 5 variables as discriminatory between 4 cluster industry that is Market Information Network, Support in Marketing, Financial Management, Operational Capability dan Promotion Activities.
Implementasi Toyota Business Practices (TBP) pada Permasalahan Proses Produksi Industri Karak Rumahan Radite, Petra; Priadythama, Ilham; Fahma, Fakhrina
Performa: Media Ilmiah Teknik Industri Vol 14, No 2 (2015): PERFORMA Vol. 14 No. 2, September 2015
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/performa.14.2.11490

Abstract

Karak is one of food products favored by many indonesians. Demands for this traditional meals is still high especially in the rainy season, so this food is good to be developed. In some karak cottage industries especially in urban areas, their production process has advanced, but they are still unable to fulfill high demand. In this research, Toyota Business Practices (TBP) is used to identify the root cause problem and propose improvement actions for the problem. Based on TBP’s results, the problem occurs in the cutting station where there are 900 pieces of karak which are too small or large and sloping. The root cause problem identified are the lack of a standard size for karak and equipment used is still a regular knife. Accordingly, the proposed corrective action are the creation of standards karak size and design of cutting tools to increase productivity and neatness in the cutting station.