Articles

Found 17 Documents
Search

PENGELOLAAN LINGKUNGAN INDUSTRI BERBASIS EKO-EFISIENSI DI KAWASAN SIMONGAN KOTA SEMARANG Zaenuri, Zaenuri; Sudarmadji, Sudarmadji; Fandeli, Chafid; Sudibyakto, HA
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 18, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan nntuk menganalisis bentuk-bentuk eko-efisiensi, serta keterkaitannya dengan pengelolaan lingkungan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif-komparatif. Hasil penelitian menunjukkan, bentuk eko-efisiensi yang dilakukan industri galvanis adalah recycle air limbah yang dihasilkan. Industri galvanis PMDN telah berhasil mendaur-ulang seluruh air limbah yang dihasilkan, sedangkan industri galvanis PMA berhasil mendaur-ulang sebanyak 1.742,2 m 3 atau 46,2 % air limbah yang dihasilkan pada tahun 2004 hingga mencapai 83,4% pada tahun 2008. Di samping itu, industri galvanis PMA telah berhasil mengelola limbah yang bernilai ekonomis, yakni zinc ash dan zinc dross selama kurun waktu 2006-2008, senilai Rp 3.488.910.000,00. Industri farmasi melakukan eko-efisiensi melalui program penghematan air, pemanfaatan kertas bekas untuk amplop gaji pegawai (reuse), penggunaan e-mail, dan pengelolaan barang bekas/limbah nonB3. Pemakaian air awal sebelum program penghematan rata-rata perbulan ± 10.000 m 3 (tahun 2000). Pemakaian air setelah program penghematan rata-rata perbulan ± 4.250 m 3 (tahun 2008) atau turun 57,5 %. Rata-rata penggunaan e-mail perbulan ± 2.500 email per bulan. Rata-rata penjualan barang bekas/ limbah nonB3 yang masih bernilai ekonomis (karton, plastik bekas, dll) ± Rp 5.750.000,00 perbulan. Industri furniture menghasilkan limbah yang bernilai ekonomis, seperti serpihan kayu, serbuk gergaji, dan sisa potongan kayu. Setiap hari rata-rata dihasilkan 30 m 3 serpihan kayu, 12 m 3 serbuk gergaji, dan 7 m 3 sisa potongan kayu. Di samping itu, dihasilkan sisa karton dan gabus rata-rata 2 m 3 per hari. Industri tekstil pemintalan menghasilkan limbah kapas dan benang, serta limbah bekas packing kapas dan serat, masing-masing 40 ton dan 10 colt perbulan, dengan nilai Rp 220.000.000,00. Dengan melakukan eko-efisiensi perusahaan telah melakukan pengelolaan lingkungan (aspek ekologi) untuk meraih efisiensi penggunaan sumberdaya (aspek ekonomi).
PERKEMBANGAN DESTINASI PARIWISATA DAN KUALITAS HIDUP MASYARAKAT LOKAL Abdillah, Fitri; Damanik, Janianton; Fandeli, Chafid; Sudarmadji, Sudarmadji
MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) Volume 31, No. 2, Year 2015 [Accredited by Ristekdikti]
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mimbar.v31i2.1441

Abstract

his article investigated how does local community respon destination development through perceptions of their quality of life.  It conducted by survey method in two tourism destinations, Pananjung, Pangandaran and Citepus, Palabuhanratu, West Java.  Primary data  was taken as many as 279 samples are local communities by purposive sampling. All of data analized by descriptive statistics, tabulation and perception index number.  The result shows that Pangandaran has better performance of destination attribute and better index of quality of life than Palabuhanratu.   Pangandaran is in the phase of development, while Palabuhanratu is in consolidation phase. It means consolidation phase is lower condition than development.  Among four aspects of quality of life, the material aspect is at the highest position, followed by the spiritual, the social and personal aspect.  There are positive correlation between destination development and quality of life level of local community.  It means tourism destination development must be understood as the increasing number of tourist which contribute to performance of destination and level of local quality of life.
Dampak Pariwisata Waduk Kedung Ombo (WKO) Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Lokal Widodo, Yoto; Fandeli, Chafid; Baiquni, M; Damanik, Janianton
WIDYATAMA Vol 20, No 2 (2011)
Publisher : WIDYATAMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak Pariwisata Waduk Kedung Ombo (WKO)Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Lokal Yoto Widodo1, Chafid Fandeli2, M. Baiquni3, dan Janianton Damanik4  1 FISIP, Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, Jl.Let.Jend.S.Humardani No 1 Sukoharjo Jawa Tengah 2,4 Prodi Kajian Pariwisata, Universitas Gadjah Mada3 Pusat Studi Pariwisata, Universitas Gadjah Mada Abstrak Pada saat ini pariwisata merupakan suatu kegiatan yang memiliki perkembangan yang sangat cepat. Pariwisata diyakini memiliki potensi besar meningkatkan pendapatan  masyarakat disekitar daya tarik wisata (DTW). Realitas tersebut menarik perhatian para pimpinan pemerintah daerah dalam rangka  meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) di daerah masing-masing. Pergeseran minat kunjungan wisatawan dari tujuan pariwisata tradisional ke pariwisata alam, sangat menguntungkan bagi daerah yang banyak memiliki destinasi wisata alam. Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka untuk menjawab pertanyaan, Apakah keberadaan Obyek Wisata Alam Waduk Kedung Ombo (WKO) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yaitu  dengan  tujuan untuk  mengadakan  penjajagan  (eksploratif). Penelitian ini dilakukan di dusun Geneng, desa Rambat, kecamatan Geyer, kabupaten Grobogan dan dusun Boyolayar, desa Ngargosari, kecamatan Sumberlawang, kabupaten Sragen. Dua dusun tersebut merupakan dua daerah yang masyarakatnya terkait langsung dengan keberadaan obyek pariwisata alam Waduk Kedung Ombo (WKO). Hasil penelitian menunjukkan masyarakat di dua dusun mengakui manfaat positif keberadaan Obyek Wisata Alam Waduk Kedung Ombo (WKO). Mereka secara tidak langsung telah melakukan diversifikasi mata pencaharian, untuk responden dusun Geneng para isteri berjualan barang kelontong sedangkan untuk responden dusun Boyolayar para isteri berjualan ikan hasil tangkapan suami. Keberadaan obyek wisata alam WKO dapat meningkatkan pendapatan mereka sehari-hari.  Kata-kata kunci: Pariwisata alam, Kesejahteraan, Masyarakat lokal
KARAKTERISTIK TERUMBU KARANG DI ZONA PEMANFAATAN WISATA TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA (CORAL REEF CHARACTERISTIC OF TOURISM ZONE, KARIMUNJAWA NATIONAL PARK) Sulisyati, Rohmani; Poedjirahajoe, Erny; WF, Lies Rahayu; Fandeli, Chafid
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.452 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.3.139-148

Abstract

Karakteristik terumbu karang di suatu lokasi wisata perlu diketahui agar terumbu karang tetap dapat melangsungkan fungsinya dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik terumbu karang di zona pemanfaatan wisata Taman Nasional Karimunjawa. Dilakukan pada bulan November 2013 pada 14 lokasi. Pengamatan terumbu karang dengan metode line intercept transect untuk melihat substrat dasar berdasar lifeform. Transek dilakukan pada dua kedalaman yaitu 3 meter dan 6?8 m untuk mewakili perairan dangkal dan dalam. Analisis kualitatif dilakukan untuk melihat tutupan karang keras serta pengukuran nilai indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominasi. Hasil pengukuran kondisi fisik perairan termasuk dalam perairan produktif yang dapat menunjang kehidupan organisme di dalamnya. Kondisi terumbu karang pada daerah dangkal ditemukan 15 famili, 41 genus dan 104 species karang. Persentase tutupan karang keras termasuk kategori sedang ? sangat baik. Keanekaragaman jenis yang melimpah sedang hingga tinggi dengan kondisi komunitas antara labil hingga stabil dan hampir tidak ditemukan dominasi jenis tertentu. Pada daerah dalam terdapat 15 famili, 39 genus dan 99 species. Tutupan karang keras sedang ? baik, dengan keanekaragaman jenis melimpah tinggi dan stabil serta tidak ada jenis yang dominan. Genus Acropora dan Porites dapat ditemui pada seluruh lokasi. Karakteristik terumbu karang berkaitan dengan letak keberadaan pulau, terumbu karang pada pulau terlindung cenderung mempunyai komunitas yang stabil. Kata kunci: terumbu karang, tutupan karang keras, lifeform Coral  reef characteristic in the recreational area should be known to establish the function optimally. This study aims to quantify the characteristic of coral reef throughout tourism utilization zone of Karimunjawa National Park. Surveys were conducted  during November 2013 at 14 locations. Substrate cover was collected using line intercept transect methods. Transects were deployed at two depth i.e 3 meters and 6?8 meters to represent the shallow and the deep water. Qualitative analysis were done to measure the hard coral cover and diversity index, evenness index and domination. The result showed that physical condition of aquatic environment was productive water that can support living organisms. For shallow water there were 15 families, 41 generas and 104 species of hard coral. Hard  coral cover ranged from 36,5-82% and it was categorized as fair?excellent. Species abundance is moderate to high which a condition of community between unstable to stable and hardly found dominance of a specific species. While the deep water there were 15 families, 39 generas and 99 species corals. Hard coral cover ranged from 39,5-67,9% it was categorized as fair into good, with high species diversity and abundance of stable and there is no dominant species. Acropora and Porites genus can be found in all locations. Coral reef characteristic associated with the location where the island, the protected island tend to have stable community. Keywords: coral reef, hard coral cover, lifeform
Upaya Mewujudkan Peran Edukasi Melalui Budaya Berfikir Di Museum Biologi Yogyakarta Wijayanti - AKPAR BSI Yogyakarta, Ani; Damanik, Janianton; Fandeli, Chafid; - UGM, Sudarmadji
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol 8, No 2 (2017): Jurnal Khasanah Ilmu - September 2017
Publisher : Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.687 KB)

Abstract

Abstract - Biology museum is a special museum of biological education that presents a collection of objects of various flora and fauna preserved. The museum is a study destination for school students and researcher. This research is a qualitative descriptive, which is the researcher as an instrument. Respondents were chosen by purposive method of snowball sampling, i.e the students as informants. Data were analyzed by reduction system. The result of data analysis is known that the collection objects of Biology museum more than 4000 can be understood well by the students through the culture of thinking during the visit at the Biology museum. The culture of thinking can be developed through eight aspects, namely; expectations, opportunities, time, modeling, routines, language, environment, and relationships.Keywords : Educational, Culture of thinking, museum.Abstrak - Museum Biologi UGM merupakan museum khusus pendidikan hayati yang menyajikan benda koleksi berupa awetan flora dan fauna yang beranekaragam. Museum ini menjadi tujuan wisata studi bagi para siswa sekolah dan penelitian bagi para mahasiswa. Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif, dengan peneliti sendiri sebagai instrumen. Responden dipilih dengan cara purposive yang bersifat snowball sampling, yakni para siswa sebagai informan. Data dianalisis dengan sistem reduksi. Hasil analisis data diketahui bahwa benda koleksi museum Biologi yang berjumlah lebih dari 4000 dapat dipahami dengan baik oleh para siswa melalui budaya berfikir selama kunjungan di museum Biologi. Budaya berfikir sendiri dapat dikembangkan melalui delapan aspek, yakni; harapan, peluang atau kesempatan, waktu, pemodelan, rutinitas, bahasa, lingkungan, hubungan atau relasi.Kata Kunci : Edukasi, Budaya berfikir, Museum 
Persepsi Masyarakat Setempat dan Pegawai Pemerintah Daerah terhadap Dampak Pembangunan Pariwisata: Studi kasus di Kawasan Kota Tua Brahmantyo - STP Trisakti Jakarta, Himawan; Baiquni, Muhammad; Fandeli, Chafid; Widodo - UGM Yogyakarta, Tri
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Khasanah Ilmu - Maret 2017
Publisher : Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.217 KB)

Abstract

Abstract -Tourism development impact on the economic, environmental and social stakeholders to be around tourism destinations.  This study aims to examine how perceptions of stakeholders, namely the local community and local government employees on the impact of tourism development in the old city Jakarta area. The field survey was conducted by distributing questionnaires to local communities (kelurahan Pinangsia, Roa Malaka, Penjaringan) and local government employees in the old city Jakarta area. Descriptive statistics were used to measure the perceptions of the impact of differences in perception between the two stakeholders were analyzed using ANOVA and t-test.  The results showed that both stakeholders have a positive perception of the impact of tourism development. Significant differences were found that local communities contribute to tourism judge primarily on the social aspects, while local government officials assess that tourism contributes to the environmental aspects are also social. Keywords: the impact of tourism development, perception, local communities, government officials RegionalAbstrak - Pembangunan pariwisata berdampak terhadap aspek ekonomi, lingkungan dan sosial para pemangku kepentingan yang berada di sekitar destinasi pariwisata. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana persepsi para pemangku kepentingan yaitu masyarakat setempat dan pegawai pemerintah Daerah tentang dampak pembangunan pariwisata di Kawasan Kota Tua Jakarta. Survei lapangan dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat setempat  (kelurahan Pinangsia, Roa Malaka, Penjaringan) dan pegawai Pemda di Kawasan Kota Tua Jakarta. Statistik deskriptif digunakan untuk mengukur persepsi dampak, perbedaan persepsi antara kedua pemangku kepentingan dianalisis menggunakan ANOVA dan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pemangku kepentingan memiliki persepsi positif terhadap dampak pembangunan pariwisata. Perbedaan signifikan dijumpai bahwa  masyarakat setempat menilai pariwisata berkontribusi terutama pada aspek sosial, sedangkan pegawai Pemda menilai bahwa pariwisata berkontribusi pada aspek lingkungan juga sosial.Kata kunci: dampak pembangunan pariwisata, persepsi, masyarakat setempat, pegawai pemerintah Daerah
REKONSTRUKSI HUTAN PURBA DI KAWASAN KARST GUNUNGSEWU DALAM PERIODE SEJARAH MANUSIA Faida, Lies Rahayu Wijayanti; Sutikno, Sutikno; Fandeli, Chafid; Sunarto, Sunarto
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.6 KB) | DOI: 10.22146/jik.1852

Abstract

Penelitian ini dilakukan di kawasan karst Gunungsewu yang terletak di wilayah kabupaten Gunungkidul, ai Kanigoro hingga Wediombo. Ada dua tujuan dalam penelitian ini, yaitu (1) menemukenali sejarah flora yang menghuni karst Gunungsewu dan (2) merekonstruksi profil hutan-purba berdasarkan periode sejarah manusia. Pendekatan Paleoetnoforestri digunakan metode dasar untuk rekonstruksi hutan, yang berpijak pada hukum uniformitas dan pendekatan analogi. Analisis polen dan pentarikhan radio karbon menjadi alat untuk rekonstruksi hutan selama periode sejarah kebudayaan manusia pada kala Holosen. Perolehan data di analisis secara komparatif dan asosiatif untuk mendapatkan jawaban secara kausatif, sehingga dapat ditarik kesimpulan induktif tentang kondisi hutan purba. Umur lapisan pengendapan polen dinyatakan dengan BP (Before the Present). Pernyataan umur dengan BP ini biasa digunakan dalam mempelajari sejarah kebumian, dan secara Internasional ditetapkan tahun 1950 sebagai titik awal. Untuk mempelajari sejarah kebudayaan manusia digunakan skala Sebelum Masehi-Masehi (SM-M), yang didasarkan pada kelahiran Kristus sebagai titik awal dalam kalender Masehi. Penelititan ini menghasilkan varisai tiga tipe flora dari jaman prasejarah hingga saat ini, yaitu tipe hutan bagian bawah pada 16.894±440 hingga 9.296±140 tahun BP (18.844-11.246 SM), tipe hujan tropika pada 9.296±140 hingga 1.753±90 tahun BP (11.246-3.703 SM), dan tipe hutan monsun pada 1.753±90 tahun BP hingga tarikh modern (3.703 SM - 1950 M). Kelompok flora Euphorbiaceae merupakan kelompok flora yang masa penghuniannya paling lama, yaitu ditemukan pada 16.894±440 tahun BP hingga sekarang, sedangkan kelompok Moraceae yang saat ini dikenal sebagai flora identitas kawasan karst ditemukan pada 9.296±440 tahun BP. Rekonstruksi profil hutan purba pada jaman prasejarah manusia menunjukkan bahwa hutan pegunungan bagian bawah pernah menghuni kawasan karst sejak sebelum periode Keplek, kemudian memasuki periode Keplek hingga Ngrijangan berubah dihuni oleh hutan hujan tropis, dan pada periode Klepu berubah menjadi tipe monsun. Tipe monsun ini terus berlangsung hingga jaman sejarah, bahkan sampai dengan saat ini. Ciri kebudayaan prasejarah yang subsistem dapat menjelaskan, bahwa bukan faktor antropogenik yang menyebabkan bukan tipe flora, merupakan karena perubahan iklim yang dipicu oleh berakhirnya zaman es yang menandai berakhir kala Pleistoten.Kata kunci: Analisis polen, hutan purba pentarikhan karbon, zaman prasejarah, situs palentologiReconstruction of Paleoforest in Gunungsewu Karst Area in the Period of Human HistoryAbstractThis research was carried out in Gunungsewu Karst area, Gunungkidul District from Kanigoro to Wediombo. The main objectives of this research are (1) to identify floristic history and (2) to reconstruct the palaeoforest profiles in the area. Palaeoecobotanical approach is used as the basis for the reconstruction of palaeoforest. Descriptive-explanatory methods were used to explore, interpret, and reconstruct floristic tracks from pollen analysis, radiocarbon dating, vegetation analysis, and also human cultural history. Explanatory approach was used to describe collected data, to compare, to find association, and to explain the research finding. Hypothetical tests were done by deductive-inductive logics, using general theories for basic foundation to be verified by facts from the fields. This research resulted in three types of flora from Prehistoric times to the present, that is tropical mountainous forest of 16,894±440 - 9,296±140 years BP, tropical rainforests in 9,296±140 - 1,753±90 years BP, and monsoonal forests in 1,753±90 years BP until now. The Euphorbiaceae was the oldest flora occupied the area, existed between 16,894±440 years BP until now, while the Moraceae which is known as the karstic floral identity began to be found since 9,296±140 years BP. Reconstruction of palaeoforest in human prehistory provides information that the tropical mountain forests had inhabited the area before the era of Keplek, then entering the era of Keplek until Ngrijangan the tropical rainforest occupied this area. In the era of Klepu, the forest has been turned into the monsoon type and this type persists through history until now. Cultural traits of prehistoric subsistence can explain that change in the types of flora is not caused by anthropogenic factors, but due to climate change triggered by the ice age expiration that marked the end of the Pleistocen.
PENCEMARAN UDARA DI RUANG PROSES PEMBATIKAN INDUSTRI RUMAH TANGGA BATIK: STUDI KASUS INDUSTRI RUMAH TANGGA BATIK DI KAMPUNG TAMAN KOTAMADYA YOGYAKARTA Darmiyanti, Darmiyanti; Murachman, Bardi; Fandeli, Chafid
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 10, No 1 (2003)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi konsentrasi karbon monoksida, karbon dioksida, sulfur dioksida, suhu, kelembaban dan bau ruang kerja pembuatan batik sebagai akibat dari proses pembuatan batik dalam lingkungan kerja. Studi kasus dilakukan di industri rumahan (home indyustry) di kampung Taman Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dari bulan desember 1999 sampai januari 2000. Pengukuran parameter dilakukan dalam 2 rumah industri batik yang masing-masing menggunakan satu dan tiga kompor sebagai pemanas. Metode analisis data adalah analisis times series dan analisis grafis. Konsentrasi karbon monoksida berkisar antara 2,00-8,66 ppm, karbondioksida berkisar antara 372,498-472,885 ppm. Sulfurdioksida berkisara antara 0,00028-0,00268 ppm. Temperatur berkisar antara 29 oC-34 oC, sedangkan kelembaban berkisar antara 50,5 %-67%. Penelitian mengindikasikan bahwa ruang kerja batik telah terkontaminasi karbon monoksida yang beresiko terhadap kesehatan para pekerja. Ruang kerja pembuatan batik tidak nyaman.
LIFE CYCLE ASSESSMENT PILIHAN PENGELOLAAN SAMPAH : STUDI KASUS WILAYAH KARTAMANTUL PROPINSI D.I. YOGYAKARTA Gunamantba, Made; Fandeli, Chafid; Tandjung, Shalibuddin Djalal; Sarto, Sarto
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 17, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Berbagai skenario sistem pengelolaan sampah telah dikembangkan dan dibandingkan untuk sampah yang dikelola di wilayah KARTAMANTUL dengan menggunakan metodologi life cycle assessment (LCA). Metode pengelolaan sampan yang dipertimbangkan dalam skenario adalah landfilling tanpa atau dengan pemungutan energi, insinerasi, gasifikasi, dan anaerobic digestion. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai indikator dampak dalam menentukan pilihan sistem pengelolaan sampah yang paling sesuai dari aspek lingkungan. Jumlah sampah yang dikelola ditetapkan sebagai unit fungsi dari sistem yang diarnati. Life cycle inventory (LCI) dilakukan dengan melibatkan asumsi-asumsi pada masing-masing metode pengolahan dalam sistem pengelolaan sampah. Produksi energi dan inventori emisi dihitung dan diklasifikasikan ke dalam kategori dampak pemanasan global, asidifikasi, eutrofikasi, dan pembentukan oksidan fotokimia. Indikator kategori dampak dikuantifikasi dengan faktor ekuivalensi dari emisi yang sesuai untuk mengembangkan kinerja lingkungan dari masing-masing skenario. Pada sebagian besar kategori dampak gasifikasi langsung ditemukan sebagai metode pengelolaan yang paling layak, kecuali untuk kategori asidifikasi. Analisis sensitivitas telah digunakan untuk menguji perubahan hasil dalam berbagai variasi masukan tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil secara keseluruhan. Oleh karena itu, alternatif terbaik terhadap sistem pengelolaan yang ada saat ini dapat diidentifikasi.
CREATIVE ENVIRONMENTAL ENERGY TECHNOLOGY ASSESSMENT HYDROELECTRIC POWER PLANT (CASE STUDY OF WONOGIRI RESERVOIR) Hidayani, Feby; Sardjono, Yohanes; Fandeli, Chafid; A.R, Rukmini
Indonesian Journal of Physics and Nuclear Applications Vol 2 No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/ijpna.v2i3.101-110

Abstract

Hydroelectric power plants in Indonesia are widely developed. This is because the water supply in Indonesia is quite abundant. Several large reservoirs in Indonesia, in addition to being used for water reservoirs, are used to produce electricity. Wonogiri is a region that is located in Central Java province, where most of the region is arid land that cannot be planted in the dry season. In the rainy season the abundance of water plants to die and the soil is such that in the dry season crops do not grow well. Plans for the construction of Gajah Mungkur started in 1964, and it is designed to be a multipurpose dam project that aim to control floods, supply water for irrigation and hydropower in the Solo River valley. The master development plan was formulated in 1972-1974 with the help of Overseas Technical Cooperation of Japan. The results of this study include the completion of flooding problems along the Solo River, the increase in agricultural output in Winton community with irrigation facilities and good infrastructure, availability of electricity for communities around the dam and improving the local economy as the development of inland fisheries and tourism sectors.