Helmia Farida
Staf Pengajar Bagian Mikrobiologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

The Effects of Thyme on IL-6 Level and the Bacterial Count in the Brain and Spleen of Mice Infected by Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Prasetyowati, Lisayani; Sofro, Muchlis Achsan Adji; Farida, Helmia; Yulieta, Galuh
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 31, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2020.031.01.1

Abstract

The extensive and irrational use of antibiotics causes resistance problems such as Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Widespread bacterial resistance to the existing antibiotics promotes the importance of discovering antibacterial sources or modulating the immune response from natural ingredients. This study aimed to reveal the potential of thyme (Thymus vulgaris) extract in reducing IL-6 level and MRSA bacterial count in the brain and spleen of Balb c mice infected by MRSA. The design of this study was a randomized post-test control group. This study used 30 male BALB/c mice infected by MRSA and randomly divided into six groups. Measurement of IL-6 level was carried out using ELISA. The MRSA count was done by assessing the number of CFU per gram of tissue. There were no bacteria in the spleen tissue of all the groups. The IL-6 level in BALB/c mice infected with MRSA and treated with Thymus vulgaris was higher compared to those without Thymus vulgaris (p<0,005). The greatest decrease in microbial count in the brain was among groups that were given the combination of thyme and amoxicillin. Thymus vulgaris extract can elevate the antibacterial effectiveness of amoxicillin. 
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN HAEMOPHILUS INFLUENZAE PADA AGAR COKLAT BERBASIS BLOOD AGAR, TRYPTIC SOY AGAR DAN COLUMBIA AGAR Sulistyaningsih, Triyoga; Hapsari, Rebriarina; Farida, Helmia
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.316 KB)

Abstract

Latar Belakang: H. influenzae merupakan bakteri yang sulit ditumbuhkan dan memerlukan nutrisi dan lingkungan yang khusus (fastidious) meskipun ditumbuhkan pada media standarnya yaitu agar coklat. Modifikasi basis media adalah salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan koloni H. influenzae.Tujuan: Menganalisis perbandingan pertumbuhan H. influenzae pada agar coklat dengan basis media blood agar, TSA dan columbia agarMetode: Isolat murni H. influenza yang disimpan pada STGG di -80°C ditanam pada media agar coklat dengan basis media blood agar, TSA dan columbia agar. Media yang telah ditanami sampel diinkubasi pada suhu 37°C dengan tekanan CO2 5%, kemudian diamati setelah diinkubasi selama 24 jam dan 48 jam. Diameter koloni diukur menggunakan ruler di Adobe photoshop dan analisis data yang dilakukan adalah uji one–way Anova dan dilanjutkan dengan post–hoc untuk diameter koloni dan uji chi square untuk zona pertumbuhan dan karakteristik koloniHasil: Diameter koloni pada basis media TSA dalam 24 jam dan 48 jam (2,31±0,58 dan 3,02±0,77 mm) tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan basis media blood agar (2,20±0,69 dan 2,34±0,96 mm) dan columbia agar (2,04±0,59 dan 2,55±0,67 mm) dengan p = 0,650 (24 jam) dan p = 0,440 (48 jam). Tidak ada perbedaan bermakna juga ditemui pada zona pertumbuhan dengan p = 0,638 (24 jam) dan p = 0,342 (48 jam) serta karakteristik koloni.Kesimpulan: Modifikasi media dengan mengganti basis media dengan TSA dan columbia agar tidak meningkatkan kemampuan media dalam menumbuhkan H. influenzae.
FAKTOR RISIKO KOLONISASI STAPHYLOCOCCUS AUREUS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO Anjartama, Gaza Muhammad; Hadi, Purnomo; Farida, Helmia
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.591 KB)

Abstract

Latar Belakang: Staphylococcus aureus adalah organisme komensal di manusia. Paling banyak berada di nares anterior. Mahasiswa fakultas kedokteran merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap kolonisasi S aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor risiko kolonisasi S. aureus pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Diponegoro.Metode: Desain penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 50 mahasiswa mengisi kuesioner dan swab hidung. Identifikasi koloni S. aureus dilakukan di laboratorium mikrobiologi. Data diolah menggunakan uji chi-square kemudian dilakukan uji regresi logistic.Hasil: Prevalensi kolonisasi S. aureus dalam penelitian ini adalah 32%. Tempat tinggal bukan kost merupakan faktor risiko kolonisasi S. aureus pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Diponegoro (p = 0,012). Sedangkan usia (p = 0,159), jenis kelamin (p = 0,057), frekuensi membersihkan tempat tinggal (p = 0,824), kepadatan tempat tinggal (p = 0,362), kebiasaan mencuci tangan (p = 0,320) dan kebiasaan mengorek hidung (p = 0,398) tidak berpengaruh terhadap kolonisasi S. aureus pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Diponegoro.Simpulan: Prevalensi S, aureus pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Diponegoro dalam penelitian ini sebesar 32%. Faktor tempat tinggal bukan kost merupakan faktor risiko kolonisasi S. aureus pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, sedangkan usia, jenis kelamin, kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan mengorek hidung, kepadatan tempat tinggal, dan frekuensi membersihkan tempat tinggal tidak memiliki kemaknaan terhadap kolonisasi S. aureus pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Diponegoro.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR PASIEN TALASEMIA MAYOR ANAK Wijaya, Laurentia Julia; Nency, Yetty Movieta; Farida, Helmia
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.892 KB)

Abstract

Latar belakang: Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Salah satu faktor internal adalah faktor kesehatan, dimana anak yang sakit lebih sukar belajar. Talasemia merupakan penyakit genetik kelainan darah akibat kekurangan produksi hemoglobin. Kualitas hidup anak talasemia pada aspek edukasi masih kurang.Tujuan: Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pasien talasemia mayor anak. Menganalisis hubungan frekuensi transfusi darah, rata-rata kadar hemoglobin sebelum transfusi, kepatuhan terapi kelasi besi, tingkat penghargaan diri, serta tingkat dukungan keluarga dengan prestasi belajar pasien talasemia mayor anak.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang. Subjek penelitian adalah 24 pasien talasemia mayor usia 8-15 tahun yang menjalani transfusi di Semarang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei-Juli 2017 menggunakan data catatan medik, wawancara, kuesioner Coopersmith Self-Esteem Inventory School Form dan kuesioner tingkat dukungan keluarga, serta nilai rapor. Analisis statistik menggunakan uji Chi Square.Hasil: Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara frekuensi transfusi darah (p=0,408), rata-rata kadar hemoglobin sebelum transfusi (p=0,098), kepatuhan terapi kelasi besi (p=0,264), tingkat penghargaan diri (p=1,000), serta tingkat dukungan keluarga (p=1,000) dengan prestasi belajar. Ditemukan hubungan yang bermakna antara frekuensi transfusi darah dengan rata-rata kadar hemoglobin (p=0,035). Hubungan frekuensi transfusi darah dengan tingkat penghargaan diri menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,032). Adanya hubungan yang bermakna antara usia dengan kepatuhan terapi kelasi besi (p=0,046).Kesimpulan: Frekuensi transfusi darah, rata-rata kadar hemoglobin sebelum transfusi, kepatuhan terapi kelasi besi, tingkat penghargaan diri, serta tingkat dukungan keluarga bukan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pasien talasemia mayor anak.
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN STREPTOCOCCUS PNEUMONIAE PADA MEDIA AGAR DARAH DOMBA DENGAN PREINKUBASI STHB (SUPPLEMENTED TODD HEWITT BROTH) DAN MEDIA AGAR DARAH DOMBA GENTAMISIN TANPA PREINKUBASI STHB Chan, Hardina Yusri; Farida, Helmia
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.824 KB)

Abstract

Latar belakang Media agar darah domba gentamisin merupakan media selektif untuk kultur Streptococcus pneumoniae yang berasal dari spesimen swab nasofaring, namun kultur S.pneumoniae masih sulit dilakukan karena S.pneumoniae bersifat  fastidious sehingga membutuhkan media dengan nutrisi yanng khusus. Preinkubasi S.pneumoniae pada Supplemented Todd Hewith Broth (STHB) sebelum dilakukan kultur pada media agar darah domba dapat meningkatkan pertumbuhan S.pneumoniae.Tujuan Menguji pertumbuhan S.pneumoniae dari spesimen swab nasofaring pada media agar darah domba dengan preinkubasi dalam STHB dibandingkan dengan media agar darah domba gentamisin.Metode Desain penelitian True experimental post test only. Enambelas swab nasofaring ditanam langsung pada agar darah domba gentamisin dan di preinkubasi STHB 4-6 jam sebelum ditanam pada agar darah domba. Pengamatan pada 18, 24 dan 48 jam meliputi jumlah koloni, diameter koloni, diameter hemolisis, dan karakteristik koloni.Hasil Jumlah koloni kedua media pada pengamatan 18 jam (p= 0,545), 24 jam (p = 0,545) dan 48 jam (p = 0,545) memiliki perbedaan namun tidak bermakna. Pengamatan 18 jam terdapat perbedaan signifikan diameter koloni pada kedua media (p = 0,040),namun perbedaan pada pengamatan  24 jam tidak bermakna (p =0,073) begitu juga pada 48 jam (p = 0,080). Diameter zona hemolisis pada pengamatan 18 jam (p = 0,806),  24 jam (p = 0,678) dan 48 jam (p = 0,485) memiliki perbedaan namun tidak bermakna. Karakteristik koloni pada pengamatan 18 jam (p = 0,654),  24 jam (p = 0,479) dan 48 jam (p = 0,433) memiliki perbedaan namun tidak bermakna.Kesimpulan Terdapat perbedaan  pertumbuhan S. pneumoniae yang ditanam langsung pada agar darah domba gentamisin dan agar darah domba dengan preinkubasi STHB  pada pengamatan 18, 24 dan 48 jam namun tidak bermakna.
Penggunaan Antibiotik Secara Bijak Untuk Mengurangi Resistensi Antibiotik, Studi Intervensi di Bagian Kesehatan Anak RS Dr. Kariadi Farida, Helmia; Herawati, Herawati; Hapsari, MM; Notoatmodjo, Harsoyo; Hardian, Hardian
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.34-41

Abstract

Latar belakang. Masalah resistensi antibiotik di Indonesia sudah mengkhawatirkan. Penggunaan antibiotiksecara bijak merupakan kunci utama pengendalian resistensi.Tujuan. Penelitian bertujuan meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas penggunaan antibiotikdi Bangsal Kesehatan Anak RS Dr. Kariadi dan menguji apakah kualitas dapat ditingkatkan denganpelatihan.Metode. One group pretest and post test subjek adalah 22 dokter yang merawat pasien kelas III, mengikutipelatihan penggunaan antibiotik, dan dapat ditelusuri resep antibiotik yang dibuatnya dalam 6 bulansebelum dan sesudah pelatihan. Variabel tergantung adalah skor kualitas penggunaan antibiotik berdasarkanmodifikasi Kunin dan Gyssen. Variabel bebas adalah pelatihan, pengetahuan, sikap, faktor pendorong, danfaktor penghambat. Pengetahuan dan sikap diukur dengan kuesioner. Analisis statistik bivariat menggunakanUji χ2 dan Mann-Whitney. Analisis multivariat untuk mengukur besarnya pengaruh pelatihan dan faktorfaktorlain terhadap kualitas peresepan antibiotik dengan GEE.Hasil. Diantara 1365 resep antibiotik yang dievaluasi didapatkan penggunaan antibiotik tanpa indikasi setelahpelatihan berkurang dari 42.3% menjadi 23,2%, dan penggunaan antibiotik yang tepat meningkat dari 36,2%menjadi 58,2%. Rerata skor kualitas pengunaan antibiotik meningkat dari 2,0 menjadi 2,8. Perubahanperubahanini bermakna (p<0,05). Pelatihan berperan besar dalam meningkatkan kualitas penggunaandokter, faktor-faktor lain tidak memiliki pengaruh yang bermakna terhadap kualitas penggunaan antibiotik.Kesimpulan. Pelatihan yang efektif dapat meningkatkan kualitas penggunaan antibiotik.
Penurunan Penggunaan Antibiotik pada Pasien Anak dengan Demam Hapsari, M.M.; Farida, Helmia; Keuter, Monique; Broek, P.J,van den; Hadi, Usman; Y, Herawati; Sachro, Anggoro DB
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.575 KB) | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.16-24

Abstract

Latar belakang. Resistensi antibiotik saat ini menjadi problem dunia yang mencemaskan.Penggunaan antibotik secara berlebihan dan tidak rasional merupakan kontributor utamaterjadinya resistensi antibiotik. Upaya mengubah pola peresepan antibiotik menjadi lebihrasional merupakan hal yang tidak mudah.Tujuan. Memperbaiki kuantitas dan kualitas penggunaan antibiotik pada pasien yangdirawat dengan demam, serta mengevaluasi dampak terhadap morbiditas dan mortalitas.Metoda. Penelitian prospektif intervensi di bangsal anak RS Dr Kariadi, Juli 2003 -Desember 2004, dibagi menjadi 4 periode yaitu periode awal, penyusunan pedoman,pelatihan, dan umpan balik. Pada periode awal dilakukan pengambilan data dasar. Padaperiode penyusunan pedoman dilakukan konsensus untuk menyusun pedoman penggunaanantibiotik pada anak dengan demam. Periode pelatihan adalah sosialisasi dan pelatihankepada dokter. Pada periode pascapelatihan dilakukan umpan balik terhadap pesertapelatihan. Subyek penelitian adalah semua pasien usia >1 bulan yang dirawat dengandemam> 38ºC (rektal) dalam 24 jam pertama perawatan, kecuali yang diketahui menderitaHIV/AIDS atau neutropeni karena kemoterapi. Data penggunaan antibiotik diambil daricatatan medik, diamati selama 6 hari pertama perawatan. Data morbiditas dan mortalitasdiamati sampai pasien keluar dari rumah sakit. Uji statistik menggunakan X 2 dan Anova.Hasil. Terdapat penurunan kuantitas penggunaan antibiotik dan peningkatan kualitaspenggunaan antibiotik secara bermakna (p=0.000 dan p=0,000). Penurunan kuantitasantibiotiok terutama disebabkan pengurangan penggunaan antibiotik yang tidakdiperlukan. Tidak terdapat perbedaan lama rawat dan lama demam (p=0.96 dan p=0.32)dan tidak terdapat perbedaan kematian selama periode pengamatan.Kesimpulan. Dengan pedoman yang baik, penggunaan jumlah antibiotik dapatditurunkan tanpa meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas.
GAMBARAN MIKROSKOPIK MAKROFAG PENDERITA TUBERKULOSIS DENGAN DIABETES MELITUS TIPE II YANG TERKONTROL DAN TIDAK TERKONTROL Rahmi, Hafiza; Antari, Arlita Leniseptaria; Utomo, Astika Widy; Farida, Helmia; Rohmah, Intarniati Nur
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.667 KB)

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis (TB)  paru menyerang 9,4 juta orang dan telah membunuh 1,7 juta penduduk dunia setiap tahunnya. Pengendalian TB diperburuk dengan semakin meningkatnya jumlah penderita diabetes mellitus (DM). Penderita diabetes mempunyai gangguan respons imun tubuh yang  salah satunya makrofag, yang akan memperberat infeksi TB. Gangguan respons imun tubuh tersebut dapat dilihat pada gambaran mikroskopik makrofag pada TB dengan DM tipe II terkontrol dan tidak terkontrol. Tujuan: Menganalisis gambaran  mikroskopik makrofag antara penderita TB dengan DM tipe II yang terkontrol dan tidak terkontrol. Metode:  Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross sectional. Pengambilan subjek dilakukan dengan cara consecutive sampling. Subjek penelitian adalah 24 pasien TB dengan DM tipe II yang datang berobat di BKPM Semarang. Hasil: Gambran Makrofag penderita Tb dengan DM tipe II yang terkontrol, dominan more activated macrophages  ( 83.3%) sementara pada penderita Tb dengan DM tipe II tidak terkontrol dominan less activated macrophages (91,7%).  Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan pada gambaran mikroskopik makrofag yang TB dengan DM tipe II yang terkontrol dan tidak terkontrol (p=0,001)Kata kunci: tuberkulosis, diabetes melitus tipe II,makrofag
KUALITAS DAN KUANTITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA KASUS PENYAKIT DALAM SEBELUM DAN SETELAH PENYULUHAN PPRA DI RUMAH SAKIT NASIONAL DIPONEGORO Kartika, Nathalia Tiara Mulia; Lestari, Endang Sri; Farida, Helmia; Ciptaningtyas, V. Rizke
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.565 KB)

Abstract

Latar Belakang: Salah satu penyebab penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah kurangnya pengetahuan dari tenaga medis. Edukasi yang efektif dapat meningkatkan pengetahuan tenaga medis dalam menggunakan antibiotik secara bijak. Edukasi tersebut dapat berupa penyuluhan tentang PPRA (Program Pengendalian Resistensi Antimikroba). Tujuan: Menganalisis kualitas dan kuantitas penggunaan antibiotik pada kasus penyakit dalam sebelum dan setelah penyuluhan PPRA di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND). Metode: Penelitian ini menggunakan desain suatu studi intervensi. Sampel adalah 68 rekam medis pasien RSND dengan kasus penyakit dalam yang diterapi antibiotik, masing-masing 34 sampel sebelum dan setelah penyuluhan. Kualitas dan kuantitas penggunaan antibiotik dibandingkan periode sebelum dan setelah penyuluhan. Penilaian kualitas penggunaan antibiotik berdasarkan kriteria van der Meer – Gyssens dengan menggunakan uji Chi-square. Penilaian kuantitas penggunaan antibiotik berdasarkan klasifikasi Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) dan satuan Defined Daily Dose/ 100 pasien-hari dengan menggunakan uji independent t test atau uji Mann-Whitney. Hasil: Kualitas penggunaan antibiotik kategori bijak meningkat dari 28,0% menjadi 33,3%, kategori tidak bijak menurun dari 26,0% menjadi 4,8%, dan kategori tanpa indikasi meningkat dari 46,0% menjadi 61,9% setelah penyuluhan (p = 0,022). Defined Daily Dose/ 100 pasien-hari sebelum penyuluhan adalah 103,65 dan setelah penyuluhan adalah 99,63 (p = 0,092). Kesimpulan: Penyuluhan yang diberikan tidak cukup untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas penggunaan antibiotik, diperlukan intervensi lain pada faktor pendukung seperti kebijakan rumah sakit, sistem reward and punishment serta pemberian umpan balik.Kata Kunci: Kualitas, kuantitas, penggunaan antibiotik, penyakit dalam, penyuluhan, PPRA
FAKTOR RISIKO KOLONISASI STREPTOCOCCUS PNEUMONIAE PADA NASOFARING BALITA DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) Siany, Anngi Vita Shelma; Farida, Helmia; Pratiwi, Rina
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.864 KB)

Abstract

Latar Belakang : Koloni Streptococcus pneumoniae di nasofaring merupakan suatu tahap patogenesis yang berperan dalam patogenesis berbagai penyakit pada anak, tetapi tidak selalu menimbulkan gejala klinis. Terdapat hubungan antara kolonisasi S. pneumoniae dengan ISPA. Berbagai faktor diperkirakan berpengaruh pada proses kolonisasi S. pneumoniae pada nasofaring anak dengan ISPA.Tujuan : Membuktikan faktor-faktor yang mempengaruhi kolonisasi S. pneumoniae pada nasofaring balita dengan ISPA, yaitu ISPA berulang, ASI eksklusif, paparan asap rokok, dan kepadatan hunian.Metode : Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional. Subyek anak ISPA diambil dari BKPM Semarang secara consecutive sampling. Faktor risiko diidentifikasi dengan wawancara orang tua. Kolonisasi S. pneumoniae menggunakan kultur sampel swab nasofaring anak ISPA pada agar darah domba + gentamycin 5%, lalu dilanjutkan dengan tes optochin.Hasil : Didapatkan 63 sampel, dengan prevalensi kolonisasi S. pneumoniae pada anak ISPA sebesar 26,98%. Setelah dilakukan analisis multivariat regresi logistik, ISPA berulang (p=0,917), ASI eksklusif (p=0,772), paparan asap rokok (p=0,831), dan kepadatan hunian (p=0,960) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.Kesimpulan : ISPA berulang, ASI eksklusif, paparan asap rokok, dan kepadatan hunian bukan faktor risiko kolonisasi S. pneumoniae pada nasofaring anak dengan ISPA.