Veni Fatmawati
‘Aisyiyah University of Yogyakarta

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

PERBEDAAN PENGARUH SENAM PILATES DAN SENAM BODY LANGUAGE TERHADAP PENURUNAN PERSENTASE LEMAK TUBUH MAHASISWI OVERWEIGHT DI UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA Fatmawati, Veni; Syurrahmi, Syurrahmi
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi (JFR)
Publisher : Akademi Fisioterapi Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.439 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v2i2.19

Abstract

Berat badan merupakan ukuran tubuh dalam sisi beratnya yang ditimbangdalam keadaan berpakaian minimal tanpa perlengkapan apapun. Berat badandiukur dengan alat ukur berat badan dengan satuan kilogram. Dengan mengetahuiberat badan seseorang maka kita akan dapat memperkirakan tingkat kesehatanatau gizi seseorang. Overweight adalah berat badan yang melebihi normal. Yangdiukur menggunakan IMT. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruhsenam pilates dan senam body language terhadap penurunan persentase lemaktubuh mahasiswi overweight di Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta. Populasi dalampenelitian ini adalah mahasiswi Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta yang mengalamikelebihan berat badan dan berusia 19-20 tahun. Sample penelitian ini adalah mahasiswai Stikes Aisyiyah Yogyakartayang kelebihan berat badan.Pengukuran dengan Caliper Skala. Adapunpengumpulan data menggunakan skala ordinal.Dengan pendekatan Quasiekperimental desain penelitian menggunakan pre-test and post-test groupdesign. Hasil pengujian pada anava 2 jalur diperoleh nilai F hitung pada kelompokusia sebesar 7.05. dengan nilai F hitung sebesar 4.11. Nilai Fhitung > Ftabelberarti ada perbedaan persentase lemak tubuh pada kelompok perlakauan aerobiclow impact, dengan kelompok perlakuan senam pilates. Berdasarkan uji anovadiperoleh nilai rata-rata penurunan persentase lemak tubuh pada kelompok senambody language sebesar 3.62 sedangkan pada kelompok senam pilates rata-ratapenurunan persentase lemak tubuh sebesar 2.86. Hal ini berarti kelompok senamsenam body language memiliki tingkat penurunan persentase lemak tubuh lebihbesar dibandingkan kelompok senam pilates.
PERILAKU KOPING PADA LANSIA YANG MENGALAMI PENURUNAN GERAK DAN FUNGSI Fatmawati, Veni; Imron, Muhammad Ali
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Menua adalah suatu kondisi yang pasti terjadi pada setiap orang. Kondisi ini ditandai dengan terjadinya banyak penurunan baik secara fisik, maupun psikis. Terjadinya penurunan ini akan membuat lansia melakukan koping terhadap penurunan yang terjadi pada diri mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi secara mendalam mengenai bentuk-bentuk perilaku koping pada lansia yang mengalami penurunan gerak dan fungsi. Adapaun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung terhadap 4 orang lansia yang ada di desa guwosari Bantul DIY. Hasil yang diperoleh dalam penelitian adalah secara umum lansia yang menjadi subjek dalam penelitian ini mengalami 2 permasalahan, yaitu fisik dan psikis. Pertama, permasalahan fisik; stroke, nyeri dari pinggang menjalar ke kaki, sering kesemutan pada kaki dan tangan, darah tinggi, sering pusing, pola tidur terganggu, dan kolestrol. Adapun perilaku koping yang dilakukkan lansia untuk mengatasi permasalahan fisik tersebut adalah; Planful problem solving, Distancing, Self-control, dan Positive reappraisal. Kedua, permasalahan  psikis, yaitu; merasa kesepian dan sedih. Adapun bentuk koping yang mereka lakukan; Seeking social support, Escape-avoidance, dan Positive reappraisal. Secara garis besar perilaku koping lansia yang mengalami penurunan gerak dan fungsi dapat dikelompokkan menjadi 2 bentuk; (1) Problem focused copying, dengan bentuk; Planfull problem solving,  Seeking social support, Positive reappraisal  dan  (2) Emotion focused copying dengan bentuk ; Distancing, Self control, Escape  avoidance.Abstract. Aging is a condition that must happen to everyone. This condition is characterized by the occurrence of many decline both physically, and psychologically. The decrease will make the elderly to cope against the decline that occurred to them. The purpose of this study was to explore in depth the forms of coping behaviors in elderly decreased motion and function. The methods used in this study is a direct interview to four elderly people in the village of Bantul DIY Guwosari. Results obtained in the study were generally elderly people who become subjects in the study had two problems: physical and psychological. First, the physical problems; stroke, pain radiating to the leg of the waist, often tingling in the feet and hands, high blood pressure, dizziness, disturbed sleep patterns, and cholesterol. The elderly coping behaviors undertaken to overcome the physical problems are; Planful problem solving, distancing, self-control, and Positive reappraisal. Second, psychological problems, namely; feel lonely and sad. The forms of coping that they did; Seeking social support, Escape-avoidance, and Positive reappraisal. Broadly speaking elderly coping behavior decreased motion and function can be classified into two forms; (1) Problem focused copying, with the form; Planfull problem solving, seeking social support, Positivereappraisal and (2) Emotion focused copying the shape; Distancing, self control, avoidance Escape.
PERBEDAAN PENGARUH BRAINGYM DAN LATIHAN KINESTETIK TERHADAP PROPIOCEPTIVE PADA ANAK USIA 4-6 TAHUN DI TPA AL MUSTAQIM Fatmawati, Veni; Khotimah, Siti; Imania, Dika Rizki
Sport and Fitness Journal Volume 3, No.3, 2015
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The age of 4-6 years are the time for children to play so the best stimulationshould be implemented through games. They have not experienced the sensomotoricmaturation which affects concentration, posture, balance and daily behavior. It isnecessary to perform treatment as early as possible in the form of brain gym andkinesthetic exercises, which usually used both gross motoric skills and sensory. Thestudy aims to determine the effect of brain gym and kinesthetic exercises forproprioceptive in 4-6 years old children. The number of respondents of this study were48 children which were divided into 2 groups: group 1 with brain gym and group 2 withkinesthetic exercises. The treatment was routinely given 3 times a week for one month.The research method is a Quasi experimental research which was designed using preand post-test group design. Paired T test was the statistical test used for brain gym,Willcoxon test was used for kinesthetic exercises and Mann Whitney test was used fordifferent test influences. The results of the data analysis using paired T test shows thatthe p-value was 0.000 (p <0.05). This means that there is an influence of brain gym onproioseptive in 4-6 years old children at TPA Al Mustaqim. The data analysis test usingsig Wilcoxon rank test shows p-value of 0.000 (p <0.05), which means that there is aninfluence of kinesthetic exercises of proioseptive in 4-6 years old children at TPA AlMustaqim. The data analysis result using Mann Whitney Difference Test shows p valueof 0.787 (p> 0.05) which means that the difference in the effect of brain gym andkinesthetic exercises on propioceptive in 4-6 years old children at TPA Al Mustaqim. Itis suggested in 4-6 years old children are given braingym and kinesthetic exercises sothat propioceptive is increased and thus, the concentration, posture and balance of thechild is also improved.
PENURUNAN NYERI DAN DISABILITAS DENGAN INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITION TECHNIQUES (INIT) DAN MASSAGE EFFLEURAGE PADA MYOFASCIAL TRIGGER POINT SYNDROME OTOT TRAPESIUS BAGIAN ATAS Fatmawati, Veni
Sport and Fitness Journal volume 1, no 1, 2013
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Myofascia Trigger Point Syndrome (MTrPs) is trigger point muscle happens in musculoskeletal. Factors which strengthen and trigger the emerge of MTrPs are the muscle contraction which happens continuously, poor body position, wrong body position or movement, poor occupation activity and unsuitable workplace arrangement that affect the unergonomic work behavior. The objective of this reseacrh is to reveal the effectivity of  integrated neuromuscular  inhibition techniques (init ) and massage efflurage in decreasing pain and disability in myofasial trigger point of upper trapesius muscle. The subjects this research are 34 people which are taken randomly in Puskesmas 2 Kartosuro, Surakarta with 17 samples of each group. Group 1 is integrated neuromuscular inhibition techniques (init ) and group 2 is massage efflurage. The data used in this research is NDI scale taken before and after therapy. The data collected is processed by using differential test through computer base of SPSS 15.0 version. The data analysis by using paired sample t-test, in group 1 the data resulted before therapy is 48,35±6,68 and the data resulted after therapy is 25,94±5,87 with p = 0,000 (p < 0,05). Whereas in group 2, the  resulted before therapy is 47,53±5,17 and the data resulted before therapy is 28,00±8,91 with p = 0,000 (p < 0,05). To conclude, based on the data resulted in this research, integrated neuromuscular  inhibition techniques (init ) and massage effleurage are there is no difference decrease pain and disability in myofascial trigger point of upper trapezius muscle.
ANALISIS PERILAKU “SEXUAL INTERCOURSE” PADA LANSIA (Studi Kasus Pada Lansia Yang Mengalami Penurunan Gerak Dan Fungsi) Fatmawati, Veni; Faidlullah, Hilmi Zadah; Imron, M. Ali
Jurnal Psikohumanika Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Psikohumanika
Publisher : Program Studi S1 Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.767 KB)

Abstract

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Sedangkan responden dalam penelitian ini adalah 6 orang lansia yang berada di wilayah Surakarta. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden dapat disimpulkan bahwa seksual intercourse masih menjadi kebutuhan lansia, munculnya dorongan atau hasrat seksual pada lansia dipengaruhi kondisi fisik yang sehat, tidak dalam kondisi lelah, tidak stres, melihat adegan romantis dan ada nuansa pornografi, melihat pasangan yang tidak mengenakan pakaian, dan mendapatkan rangsangan dari pasangan berupa sentuhan-sentuhan diarea sensitif. Untuk mendapatkan kepuasan seksual, lansia melakukan dua hal, jika: Pasangan menolak melakukan seksual intercourse; lansia melakukan masturbasi, onani, sublimasi seperti: membaca buku, bercengkerama dengan cucu, dll. Pasangan menerima melakukan seksual intercourse. Lansia melakukan aktivitas seksual berupa: mencium kening, mencium pipi, mencium bibir, mencium leher, mencium dan meraba buah dada, mencium dan meraba kemaluan. Gaya Seksual Intercourse yang dilakukan oleh lansia: CAT (Coital Alignment Technique), misionaris, WOT (women on top), Side by side, doggy style, anjing kencing.
SELF ACCEPTANCE PADA REMAJA CEREBRAL PALSY Fatmawati, Veni; Sujoko, Sujoko
Jurnal Psikohumanika Vol 11 No 1 (2019): Jurnal Psikohumanika
Publisher : Program Studi S1 Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.645 KB)

Abstract

Cerebral palsy merupakan salah satu bentuk ketidaknormalan yang cukup banyak terjadi dan dialami oleh para remaja. Ketidaknormalan secara fisik pada remaja ini secara langsung ataupun tidak akan mempengaruhi rasa penerimaan diri (self acceptance) pada mereka. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran penerimaan diri (self acceptance) pada remaja yang mengalami cerebral palsy. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara langsung, yaitu peneliti melakukan wawancara secara langsung remaja yang mengalami cerebral palsy.Berdasarkan  pada hasil penelitian dapat diketahui bahwa: 1) ketidaksempurnaan fisik akan mempengaruhi penerimaan diri pada remaja penderita cerebral palsy. 2) dukungan sosial dan kemampuan berpikir positif dapat membantu remaja cerebral palsy untuk dapat menerima kondisi fisiknya.