Articles

Found 12 Documents
Search

KAJIAN MANFAAT EKONOMIS PENERAPAN KONSEP PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI KARET REMAH BERBASIS KARET RAKYAT Utomo, Tanto Pratondo; Fauzi, Anas Miftah; Irawadi, Tun Tedja; Romli, Muhammad; Aman, Amril; Honggokusumo, Suharto
Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer 2007: Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer Edisi Agustus
Publisher : Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.352 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis manfaat ekonomis penerapan konsep produksi bersihberdasarkan altematif terpilih untuk perbalkan proses pada industri karet remah yang dapal meningkatkanefisiensi dan mengurangi resiko pencemaran dan dapat diterapkan pada penyedia bahan baku (petani karet,KUD, dan pedagang pengumpul) dan pengolahan bokar menjadi karet remah (pabrik karet remah). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep produksi bersih pada industri karet remah berbasis karetrakyat yang diterapkan pada tahap penyediaan bahan baku dan pada tahap pengolahan bokar menjadi karetremah menghasilkan keuntungan ekonomis dengan (1) penghematan air sebanyak 18,5 m3110n karet kering;(2) penghematan energi senilai Rp. 7.91011on karet kering; (3) tidak diperlukan investasi untuk peralatanpenghilangan bau (malodour); (4) dihindari terjadinya kerugian akibat proses penggantungan selama 14 harisenilai Rp. 70/kg bokar; dan (5) tahapan proses pengolahan bokar menjadi karet remah lebih singkat dengantidak digunakannya mesin hammer-mills. Dampak ekonomis yang bersifat menambah biaya adalah (1)diperlukan investasi tambahan untuk resirkulasi air; (2) investasi fasilitas penggilingan bokar; dan (3) investasibiaya pengolahan Iimbah berupa serum hasil pengpresan bokar pada tingkat petani karet.Kata kunci: produksi bersih, bokar, karet remah, manfaat ekonomis
KINERJA AKADEMIK PASCA SERTIFIKASI AUN-QA PADA PROGRAM STUDI DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR Adelyna, Adelyna; Fauzi, Anas Miftah; Juanedi, Ahmad
Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) Vol 2, No 2 (2016): JABM Vol. 2 No. 2, Mei 2016
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jabm.2.2.183

Abstract

The aims of the research are to evaluate the academic performance progress of the six study programs of IPB after the certification of AUN-QA. The research was a case study in six study programs that had been certified by AUN-QA until December 2014. This research was conducted with the objectives of defining the relevant indicators of BSC IPB and AUN-QA criteria, analyzing the criteria values of AUN-QA after the AUN-QA certification, analyzing the academic performance based on KPI BSC after the AUN-QA certification, and analyzing the problems in improving academic performance as the basis for the formulation of strategies for improving academic quality. The method used in this research was the balanced scorecard approach (BSC). The results showed that the certification of AUN-QA contains 15 relevant criteria and supports the achievement of BSC IPB. Key performance indicators (KPI) BSC IPB supported by the AUN-QA criteria consist of 21 of the 33 indicators of BSC IPB, and 14 of them are relegated to the BSC department indicators. The AUN-QA criteria values on the study program have increased with the highest criterion value in student quality and the lowest one in support staff quality. The weak criteria required to be improved include support staff quality, student assessment, stakeholder feedback, and program specification.Keywords: AUN-QA certification, academic performance, balanced scorecard
Efek Perlakuan Kimiawi dan Hidrotermolisis pada Biomas Tanaman Jagung (Zea mays L.) Sebagai Substrat Produksi Bioetanol Wagiman, Wagiman; Fauzi, Anas Miftah; Mangunwidjaja, Jumali; Sukardi, Sukardi
Agritech Vol 31, No 2 (2011)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.61 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9738

Abstract

The purpose of this research was to obtain a fermentation substrate with a high content of cellulose and hemicellulose, as well as to decrease the cellulose cystalinity. Dried corn stover was crushed to pass 40 mesh, added by Ca(OH) and water, then heated at a certain time. The experimental design was prepared using a four-factor central composite design (CCD). The results of the chemical pretreatment were treated using hydrothermolysis methods for enhancing the lignin removal and decreasing cellulose crystalinity. The suitable process condition for chemical pretreatment was achieved at the loading of 0.075 g Ca(OH) /g corn stover and 6.25 ml water/g corn stover, temperature 74.6 OC at 2 hours. After hydrothermolysis, cellulose and hemicellulose were dissolved at the percentages of 52.40 % and 31.84 % respectively, while the fraction of solid substrate had a composition of cellulose of 42.68 % and hemicellulosa of 34.68 %. The crystalinity of cellulose from the leaves, cobs, and cornhusk decreased significantly. The SEM results indicated that the surface of cell wall of corn stover had been perforated by these pretreatment processes. These pores might increase the enzymatic hydrolysis of the lignocellulosic corn stover.ABSTRAKTujuan penelitian adalah mendapatkan substrat fermentasi dengan kandungan selulosa dan hemiselulosa tinggi serta menurunkan kristalinitas komponen selulosa. Limbah tanaman jagung yang sudah kering dihancurkan hingga lolos 40 mesh, ditambah Ca(OH) dan air, kemudian dipanaskan pada suhu dan waktu tertentu. Rancangan percobaan disusun dengan menggunakan central composite design (CCD) dengan empat faktor. Hasil terbaik tahap ini diberi perlakuan hidrotermolisis untuk meningkatkan penyisihan komponen lignin dan menurunkan kristalinitas selulosa. Hasil pene­ litian menunjukkan bahwa kondisi proses terbaik adalah penambahan 0,075 g Ca(OH) /g biomas dan 6,25 ml air/g biomas, suhu pemanasan 74,6 OC dengan waktu 2 jam. Setelah hidrotermolisis, 52,40 % selulosa dan 31,84 % hemise­lulosa terlarut ke dalam air, sedangkan substrat fraksi padat memiliki komposisi selulosa 42,68 %, hemisellulosa 34,68%. Penurunan kristalinitas selulosa terjadi pada substrat dari daun, tongkol, dan kelobot. Hasil SEM mengindikasikanterbentuknya pori­pori pada substrat padat yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas hidrolisis enzimatik.
STRATEGI DISTRIBUSI PRODUK TEH SIAP SAJI Wiedjarnarko, Sally; Fauzi, Anas Miftah; Rusli, Meika Syahbana
Jurnal Manajemen & Agribisnis Vol. 12 No. 1 (2015): Vol. 12 No. 1, Maret 2015
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.002 KB) | DOI: 10.17358/jma.12.1.68

Abstract

Freshbrew Mels Beverages is a small-sized packaged tea beverage company. The brand product is "Mary Tea" which consists of two types of tea beverages. The company uses forwarding channel in delivering its products to the markets in Central Java, Lampung and Bali. The current problems faced by the company include the channel distribution which is not optimum in delivering its total products and costs it has spent. This study was designed to analyze the optimum distribution system and formulate the most cost-effective product delivery strategy.  The methods used were descriptive and quantitative approaches. The descriptive method included a method of benchmarking, and the quantitative approach included analysis of the distribution margin, Data Envelopment Analysis (DEA), Analytic Hierarchy Process (AHP), and financial analysis. The results show that: 1) a forwarder was the only distribution system used by the company, 2) Central Java was ?under-performing group?, whereas Lampung and Bali were in ?effectively managed but sales? group, 3) the critical factor that affected the highest distribution costs was the number of authorized distributors owned by the company, 4) the best alternative strategy was to expand sales locations in the area of production, and 5) the investment for purchasing a container truck in order to minimize cost was feasible with NET B/C of 4.88 for 5 years and 6 months. The recommended strategies for solving the problem include developing markets, selecting transportation and expedition, having authorized distributors, increasing sales, and creating coordinated management system. Keywords: distribution, distribution margin, DEA, AHP, financial analysisABSTRAKFreshbrew Mels Beverages adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minuman ringan yang memproduksi teh dalam kemasan. Merek produknya adalah ?Mary Tea? yang terdiri dari dua jenis minuman teh. Freshbrew Mels Beverages menggunakan sistem distribusi ?forwarder? dalam mendistribusikan produk ke pasaran yaitu Jawa Tengah, Lampung dan Bali. Permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan adalah saluran distribusi yang tidak optimal dalam jumlah produk yang dikirimkan dan biaya yang dikeluarkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis sistem distribusi yang digunakan oleh perusahaan dan merumuskan strategi untuk mendistribusikan produk dengan biaya minimum. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Metode deskriptif meliputi benchmarking, sedangkan pendekatan kuantitatif meliputi analisis marjin distribusi,  Data Envelopment Analysis (DEA), Analytic Hierarchy Process (AHP), dan analisis finansial. Hasil penelitian menunjukkan: 1) sistem distribusi ?forwarder? adalah sistem distribusi yang digunakan oleh perusahaan, 2) Jawa Tengah termasuk kelompok ?under-performing?, sedangkan Lampung dan Bali termasuk kelompok ?effectively managed but sales?, 3) faktor kritis yang mempengaruhi tingginya biaya distribusi adalah jumlah distributor resmi yang dimiliki oleh perusahaan, 4) alternatif strategi terbaik adalah memperluas lokasi pemasaran di area produksi, dan 5) biaya investasi untuk membeli satu buah truk kontainer dapat dilakukan dengan Net B/C 4,88 selama lima tahun enam bulan. Strategi yang direkomendasikan adalah melalui pengembangan pasar, pemilihan transportasi dan jasa ekspedisi, kepemilikian distributor resmi, peningkatan penjualan, dan sistem manajemen yang terkoordinasi.Kata kunci: distribusi, marjin distribusi, DEA, AHP, analisis finansial
Pemilihan Starter Cair Unggul untuk Fermentasi Biji Kakao Misgiyarta, nFN; Fauzi, Anas Miftah; Syamsu, Khaswar; Munarso, S Joni
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v16n1.2019.19-24

Abstract

Kualitas biji kakao fermentasi rendah  karena kualitas starter mikroba untuk fermentasi biji kakao rendah. Seleksi starter mikroba diperlukan untuk mendapatkan starter yang unggul. Ada dua jenis starter, yaitu starter cair dan starter kering. Starter cair banyak digunakan untuk fermentasi biji kakao. Starter yang diuji adalah starter cair, yaitu starter Inoka, starter cair BB-Pasca, dan starter yoghurt. Seleksi starter mikroba dilakukan dengan memfermentasi pulp biji kakao selama 24 jam pada berbagai suhu fermentasi (20oC, 30oC, dan 40oC). Parameter yang diamati adalah jumlah total mikroba, laju pertumbuhan mikroba starter, tingkat konsumsi gula pereduksi oleh mikroba starter, total asam yang diproduksi, tingkat penurunan pH, dan peningkatan suhu fermentasi serta korelasi antara parameter pengamatan penelitian. Starter cair unggul yang terpilih adalah starter cair Inoka. Karakteristik starter Inoka adalah memiliki tingkat laju pertumbuhan μ = 0.470, konsumsi gula pereduksi oleh mikroba starter 12%, peningkatan asam total 7%, penurunan pH 5,2, dan peningkatan suhu fermentasi 1,56oC  serta korelasi antara parameter penelitian di atas 0,61.
PEMANFAATAN KONSORSIUM BAKTERI LOKAL UNTUK BIOREMEDIASI LIMBAH TEKSTIL MENGGUNAKAN SISTEM KOMBINASI ANAEROBIK-AEROBIK Sastrawidana, I Dewa K; Lay, Bibiana W; Fauzi, Anas Miftah; Santosa, Dwi Andreas
BERITA BIOLOGI Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.061 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v9i2.2020

Abstract

The objective of this research is to study the potential use microorganisms which are identified as Aeromonas sp., Pseudomonas $p., Flavobaclerium sp., Plesiomonas sp. and Vibrio sp. Five bacteria strains from sludge of Badung river were identified as Vibrio sp. and Plesiomonas sp. Two anaerobic-aerobic reactors were operated to treat textile waste water. Each reactor contained vulcanic stone to increase spesific surface of media for attachment of bacteria.Bacteria consortia used for anaerobic process consist of Aeromonas sp. (ML6), Aeromonas sp. (ML14), Aeromonas sp. 9ML24), Pseudomonas sp. (ML8) and Flavobacterium sp. (ML20). Whereas, bacteria consortia for aerobic process consist of Plesiomonas sp. (SB1), Plesiomonas sp. (SB2), Vibrio sp.(SB1), Vibrio sp. (SB2) and Vibrio sp. (SB3). The system was operated for 3 day in each reactor. The result showed, biodegradation of textile waste water in combined anaerobic-aerobic system by attached growth process is potential for treatment of textile waste water.This technology is effective to decrease COD value up to 98.38%, BODS 93.90%, TDS 80.87%, TSS 87.50% and decolorization of textile dyes up to 95.57%.
REKAYASA BIOPOLIMER JERAMI PADI DENGAN TEKNIK KOPOLIMERISASI CANGKOK DAN TAUT SILANG Purwaningsih, Henny; Irawadi, Tun Tedja; Mas?ud, Zainal Alim; Fauzi, Anas Miftah
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 2, No.4, Mei 2012
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Syarif Hidayatullah State Islamic Uni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1485.613 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v2i4.266

Abstract

Kopolimerisasi cangkok dan taut silang akrilamida (AAm) terhadap jerami padi dilakukan dalam suasana hampa udara menggunakan aliran gas N2 dengan amonium persulfat (APS) sebagai inisiator dan N,N?-metilena-bis-akrilamida (MBAAm). Pencirian dilakukan dengan teknik mikroskopi pemayaran elektron (SEM) untuk melihat morfologi permukaan, teknik spektroskopi FTIR untuk melihat gugus fungsi, dan teknik DTA untuk menganalisis ketahanan produk terhadap suhu. Kajian dilakukan terhadap swelling capacity produk hasil rekayasa. Spektra FTIR dan mikrograf menunjukkan bahwa kopolimerisasi cangkok dan taut silang telah terjadi pada biopolimer selulosa jerami padi. Produk hasil rekayasa memiliki ketahanan termal yang lebih baik dan indeks kristalinitas yang lebih tinggi dari isolat selulosanya. Nisbah dan efisiensi pencangkokan berturut-turut adalah 66,14-78.15% dan 13,23-16.63%. Swelling capacity sebelum proses hidrolisis berkisar antara 8,16- 12,20 g g-1. Proses hidrolisis terhadap produk hasil rekayasa mampu meningkatkan swelling capacity hingga 12,5 kali kapasitas awal. Selulosa adalah polimer alam dengan kelimpahan yang banyak, tidak mahal, tidak beracun, mudah didegradasi, dan termasuk ke dalam sumberdaya alam yang dapat diperbarui. Saat ini, pemanfaatan selulosa sebagai bahan baku alternatif di dalam industri (starting material) cenderung meningkat. Hal ini disebabkan semakin berkurangnya jumlah cadangan bahan baku yang berasal dari sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui seperti minyak dan batu bara. Selain itu, perhatian dunia Internasional akan isu-isu yang terkait dengan masalah lingkungan pun cenderung meningkat. Selain memiliki beberapa keunggulan, selulosa juga memiliki kelemahan jika dibandingkan dengan polimer sintetik, yaitu adanya ikatan hidrogen intra- dan antarmolekul yang kuat pada selulosa sehingga sulit diakses oleh senyawa lain. Modifikasi terhadap selulosa perlu dilakukan untuk memenuhi persyaratan dalam penerapannya di industri. Modifikasi kimia melalui kopolimerisasi cangkok dengan berbagai monomer sintetik diketahui dapat memperbaiki sifat-sifat seperti kemampuan menyerap air, elastisitas, kemampuan tukar ion, ketahanan terhadap termal, dan ketahanan terhadap serangan mikroba (McDowall et al. 1984). Berbagai jenis polimer dapat dicangkok (grafting) ke rantai selulosa melalui gugus hidroksil pada posisi C2, C3, dan C6 (Enomoto- Rogers et al. 2009). Gugus hidroksil pada C2 dan C3 adalah gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon sekunder, sedangkan gugus hidroksil pada C6 terikat pada atom karbon primer. Kereaktifan dan kemasaman gugus hidroksil primer dan sekunder ini berbeda. Dengan memilih monomer yang tepat, maka kekuatan mekanik dan stabilitas termal material berbasis selulosa yang dimodifikasi dengan teknik pencangkokan dapat ditingkatkan (Princi 2005). Selain itu, polisakarida yang telah dimodifikasi tersebut dapat menghasilkan produk berstruktur makromolekular seperti gel atau hidrogel, resin polimer, membran atau material komposit yang dapat diaplikasikan sebagai material separator dalam teknologi separasi (Crini 2005). Beberapa kajian polimerisasi cangkok terhadap bahan berbasis selulosa telah banyak dilaporkan. Princi et al. (2005) melakukan modifikasi selulosa melalui kopolimerisasi cangkok menggunakan monomer metil metakrilat dan etil akrilat. Khan et al. (2009) melaporkan telah melakukan modifikasi pada permukaan serat kulit pohon Okra dengan teknik pencangkokan menggunakan monomer akrilonitril, inisiator K2S2O8, dan katalis FeSO4. Rendemen produk teknologi hasil pencangkokan diperoleh sebesar 11.43% pada suhu 70 C selama 90 menit menggunakan 3 x 10-2 mol akrilonitril melalui kopolimerisasi cangkok akrilamida menggunakan irradiasi diikuti dengan hidrolisis menggunakan larutan alkali. Produk akhir yang diperoleh berupa hidrogel yang bersifat superabsorben dengan kemampuan menyerap (swelling capacity) mencapai 10 kali di dalam air destilata dan 3 kali dalam larutan NaCl. Huang et al. (2009) melaporkan telah memodifikasi ampas tebu yang terlebih dahulu diaktivasi secara mekanik, lalu dilanjutkan dengan kopolimerisasi cangkok menggunakan monomer asam akrilat dan pasangan redoks NH2S2O8/Na2SO3 sebagai inisiator. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa aktivasi secara mekanik mempengaruhi sifat produk kopolimerisasi cangkok ampas tebu, dimana rendemen dan efisiensi pencangkokan meningkat dengan meningkatnya waktu aktivasi. Doane et al. (2009) juga melaporkan telah melakukan modifikasi pati yang berasal dari berbagai sumber dengan teknik pencangkokan dilanjutkan dengan taut silang untuk mendapatkan polimer superabsorben dengan kemampuan menyerap yang cukup tinggi. Di Indonesia, jerami padi adalah limbah pertanian yang dihasilkan dalam jumlah cukup banyak setiap tahunnya. Menurut Kim dan Dale (2004), nisbah jerami padi terhadap padi yang dipanen adalah 1.4, artinya untuk menghasilkan 1 ton padi akan menghasilkan 1.4 ton jerami padi. Pada tahun 2011, total produksi padi menurut data BPS mencapai 67.31 juta ton, sehingga jerami padi akan diperoleh sebanyak 94.23 juta ton. Selama ini jerami padi di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar jerami padi dibakar setelah proses penggabahan selesai. Dari berbagai kajian diketahui bahwa komponen utama dinding sel pada jerami padi adalah selulosa. Kandungan selulosa yang cukup besar ini menjadikan jerami padi sebagai sumber selulosa yang cukup potensial. Menurut Sun et al. (2000), komposisi jerami padi terdiri atas selulosa 36,5%, hemiselulosa 33,8%, lignin 12,3%, bahan ekstraktif 3,8%, abu 13,3%, dan silika 70,8%.Penelitian ini bertujuan mendapatkan (1) produk kopolimerisasi cangkok akrilamida dan taut silang N,N?-metilena-bis-akrilamida sebagai suatu upaya rekayasa biopolimer dari selulosa jerami padi; (2) karakteristik produk hasil rekayasa yang dilakukan melalui analisis gugus fungsi dengan teknik spektroskopi IR (infrared), analisis morfologi permukaan dengan teknik dievaluasi melalui nisbah pencangkokan dan efisiensi pencangkokan.
KAJIAN FINANSIAL ISOLASI CITRONELLAL DAN RHODINOL PADA INDUSTRI bERBASIS SENYAWA TURUNAN MINYAK SEREH WANGI Lestari, Retno Sri Endah; Mangunwidjaja, Djumali; Suryani, Ani; Fauzi, Anas Miftah; Rusli, Meika Syahbana
AGROINTEK Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v6i1.1953

Abstract

Isolation components of Citronellal and  Rhodinol in citronella oil can be applied to the industry to increase the added value and develop intermediate industries of citronella oil. To determine the feasibility of implementation, financial analysis is required to process such isolation. Feasibility of investment in new industrial establishment or development of NPV seen citronella oil  industry, BEP, PBP, Net B / C and IRR can describe whether the project is still attractive to be realized. On the establishment of new industries, the NPV value of Rp11, 844,269,430.12, an IRR of 47%. The payback period (PBP) is achieved over a period of 2.79 years. Net value of B / C is 2.75 and the production break-even point (BEP) is obtained on the sale value of Rp. 5,217,742,676.09. While the development of citronella oil industry, the NPV of the industrial development of Rp 12,348,032,363.16. IRR value for industrial development with 600 kg Input / process is 89%. The payback period (PBP) industrial development achieved during the period of 4.41 years. Net value of B / C obtained from the establishment Factory is 6.30. Production break-even point (BEP) is obtained on the sale value of Rp 20,912,029,225.35. This suggests that the establishment of new industries and the development of scented citronella oil industry that already exist, worthy to be realized
Strategi Peningkatan Keberlanjutan Daya Saing Teh Organik Ichwani, Titah Haritul; Daryanto, Arief; Fauzi, Anas Miftah
Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) Vol 5, No 1 (2019): JABM Vol. 5 No. 1, Januari 2019
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jabm.5.1.109

Abstract

Tea industry is a promising industry, especially with its global awareness about organic tea. The purpose of this study is to identify the best alternative strategies for PT Harendong Green Farm to survive and sustainable. Technique of data collecting was conducted by interviewing the experts and distributing the questioners to five respondents, consisting of CEO, Plantation Head and Production Head of PT Harendong Green Farm, Head of Promotion Board of Indonesia, and Tea Master. The data analysis was carried out using Analytical Hierarchy Process (AHP) method to determine strategy in detail and priority development activity for the company. AHP results show that the procurement of premium tea products, competitive pricing, attractive packaging and cultural orientation through education and understanding to the community become an alternative offered. The recommended strategy is to establish a premium tea product from a competing company with a distinctive fragrance and flavor.Keywords: competitiveness, organic certificates, organic tea, premium tea, AHPAbstrak: Industri teh merupakan salah satu industri yang menjanjikan, terutama dengan kesadaran masyarakat global tentang teh organik. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengidentifikasikan alternatif strategi yang terbaik bagi perusahaan agar dapat bertahan serta berkelanjutaan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara pakar dan pengisian kuesioner oleh lima responden yaitu CEO, Kepala Perkebunan dan Kepala Produksi PT Harendong Green Farm, Kepala Promosi Dewan Teh Indonesia dan Tea Master. Analisis data menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan strategi secara detail dan prioritas utama pengembangan kegiatan perusahaan. Hasil AHP menunjukkan bahwa pengadaan produk teh premium, harga yang kompetitif, kemasan yang menarik dan orientasi budaya melalui edukasi dan pemahaman kepada masyarakat menjadi alternatif yang ditawarkan. Strategi yang disarankan adalah dengan mengadakan produk teh premium yang berbeda dari perusahaan pesaing dengan menonjolkan aroma dan rasa yang khas.Kata kunci: daya saing, sertifikat organik, teh organik, teh premium, AHP
PERAN PEG 400 DALAM PEMBUATAN LEMBARAN BIOPLASTIK POLOHIDROKSIALKANOAT YANG DIHASILKAN OLEH RALSTONIA EUTROPHA DARI SUBSTRAT HIDROLISAT PATI SAGU Syamsu, Khaswar; Hartoto, Liesbetini; Fauzi, Anas Miftah; Suryani, Ani; Rais, Dede
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 12 No. 2 (2007): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.904 KB)

Abstract

The purpose of the research was to investigate the effects of PEG 400 addition on the characteristics of bioplastic polyhydroxyalkanoates (PHA). PHA was obtained by cultivating Ralstonia eutropha on hydrolysed sago starch substrate using fed batch method for approximately 96 hours. The biomass concentration obtained was 4 g/L with PHA yield 20-30% of dry cell weight. The bioplastic was formed with solution casting method in which chloroform was used as solvent and PEG 400 was used as plasticizer. The concentrations of PEG 400added were 10, 20, and 30% (w/w), respectively. Bioplastic properties which were tested were tensile strength, elongation to break, density, thermal properties, cristalinity, and functional group. The addition of plastisizer tend to increase tensile strength and elongation to break, but decrease density, cristalinity and melting point. Bioplastic with 30% PEG 400 addition gave the best results. Bioplastic with 30% PEG 400 gave a value of tensile strength of 0.083 MPa; elongation to break of 0.881%; density of 0.7881 g/cm3;  melting point of 158.95 ac; and cristalinity of 44.58%. With these properties, the resulted bioi plastic may be used for surgical strings. Keywords: Bioplastic, Polyhydroxyalkanoates (PHA), Ralstonia eutropha, hidrolysed sago starch, PEG 400