Articles

Found 32 Documents
Search

THE EFFECT OF WHEAT STARCH ADDITION LEVEL ON MOISTURE CONTENT, FAT CONTENT, PROTEIN CONTENT, MICROSTRUCTURE, AND ORGANOLEPTIC QUALITY OF PROCESSED GOUDA CHEESE Fitasari, Eka
Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK) Vol 4, No 2 (2009)
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.303 KB)

Abstract

The research was conducted to find out the optimum level of wheat starch to produce processed cheese with good quality based on its moisture content, fat content, protein content, microstructure, and organoleptic quality. The result showed that the different level of wheat starch gave highly significant effect (p<0.01) on moisture content, fat content, protein content, and panelist preference to texture, taste, and smell. It is concluded that wheat starch decrease moisture content, fat content, protein content, and panelist preference to texture, taste and smell processed Gouda cheese. It is suggested to add 10 % wheat starch to produce processed cheese because the product met the existing standard of commercial product chemically and physically, except fat content and protein content. Further research on the production of processed cheese is suggested by adding fat and protein sources to meet the standard of fat and protein content.   Keywords : processed cheese, wheat starch
PENINGKATAN PRODUKSI ULAT HONGKONG DI PETERNAK RAKYAT DESA PATIHAN , BLITAR MELALUI TEKNOLOGI MODIFIKASI RUANG MENGGUNAKAN EXHOUST DAN TERMOMETER DIGITAL OTOMATIS Astuti, Farida Kusuma; Iskandar, Ahmad; Fitasari, Eka
JAPI (Jurnal Akses Pengabdian Indonesia) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.518 KB) | DOI: 10.33366/japi.v2i1.599

Abstract

Ulat hongkong (Tenebrio molitor L) merupakan bagian dari ?aneka ternak? yang sangat mudah diterapkan bagi ibu rumah tangga baik sebagai mata pencaharaian utama maupun sampingan. Ulat hongkong merupakan komoditas yang digunakan sebagai makanan burung, ikan, reptile, pangan, dan sebagai bahan baku kosmetik. Dalam masa hidupnya, ulat hongkong melewati beberapa siklus yaitu telur, larva, kepompong (pupa), dan kepik / serangga. Bagi peternak ulat hongkong, 4 tahapan siklus ini harus dilakukan sendiri karena tidak ada pasar yang hanya menjual bibit berupa ulat muda maupun kepiknya saja. Kelembaban dan suhu merupakan masalah yang seringkali dialami oleh peternak ulat hongkong karena sangat berpengaruh pada siklus produksi terutama perubahan ulat dewasa menjadi kepik. Suhu dan kelembaban yang yang terlalu panas atau terlalu rendah akan menyebabkan pembentukan kepik dari ulat dewasa menjadi tidak serempak sehingga ulat yang lambat berkembang akan mengalami kematian akibat diinjak-injak atau dimakan oleh ulat yang sudah berubah menjadi kepik. Untuk mengatasi hal ini solusi yang dilakukan adalah (1) identifikasi masalah pokok yang mempengaruhi perkawinan ulat hongkong (2) Penjelasan mengenai siklus hidup ulat hongkong dan factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya (3) Penerapan teknologi modifikasi ruangan perkawinan ulat hongkong melalui pemasangan exhaust dan pemasangan thermometer digital yang secara otomatis menyala sendiri sesuai suhu ideal ruangan perkawinan ulat (4) Pendampingan dan pelayanan konsultasi dilakukan selama seluruh kegiatan pengabdian yaitu 8 bulan penuh, yang meliputi terhadap semua kegiatan dan praktek hingga mengetahui dampak dari teknologi yang ditransfer bagi tingkat kematian kepik dan peningkatan produksi. Dari hasil pelaksanaan pengabdian masyarakat ini disimpulkan bahwa penerapan teknologi melalui modifikasi ruangan menggunakan exhaust dan thermometer digital otomatis dapat menurunkan tingkat kematian kepik ulat hongkong sebesar 20%, peningkatan kuantitas ulat hongkong sebesar 16,7 % dan peningkatan pendapatan sebesar 70,9%.
STUDI TEKNOLOGI PAKAN PADA USAHA TERNAK PUYUH PETELUR Djoko, Riyanto; Fitasari, Eka
JAPI (Jurnal Akses Pengabdian Indonesia) Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.019 KB) | DOI: 10.33366/japi.v2i1.613

Abstract

Studi teknologi pakan ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan bantuan kepada peternak agar dapat meningkatkan keuntungan usaha ternak puyuh, sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Bantuan yang diberikan berupa mesin pembuat pelet, agar peternak mampu membuat pakan sendiri dengan komposisi campuran bahan pakan yang kandungan nutrisi dan bentuknya sesuai dengan kebutuhan ternak puyuh. Dengan kemampuan membuat pakan sendiri, diharapkan akan dapat mengurangi biaya pengeluaran untuk pembelian makan. Untuk lebih mendukung keberhasilan usaha ternak puyuh yang dilakukan diberikan juga bantuan sangkar dan bibit puyuh. Metode pelaksanaan dilakukan melalui beberapa tahapan, yakni : a) Menginventarisasi jenis bahan pakan ternak terutama puyuh yang tersedia di daerah. Dari jenis bahan pakan yang diketemukan kemudian ditelusuri kandungan nutrisinya melalui penelusuran pustaka. Kalau tidak diketemukan, untuk mengetahui kandungan nutrisi bahan pakan maka perlu dilakukan analisa laboratorium. b). Jenis bahan pakan yang terpilih kemudian disusun komposisinya berdasarkan kandungan nutrisinya, sehingga diperoleh komposisi ransum yang sesuai dengan kebutuhan pakan puyuh petelur. c) Ransum pakan yang berasal dari campuran beberapa jenis bahan pakan diolah dalam mesin pembuat pelet, sehingga ketika keluar dari mesin sudah berbentuk pelet dan pakan ini siap diberikan sebagai pakan puyuh. Hasil dari kegiatan ini adalah : a) Peternak mampu menysusun pakan ternak puyuh dalam bentuk pelet, sehingga disukai oleh puyuh. b) Peternak mampu memanfaatkan bahan pakan yang tersedia di masing-masing daerah, sehingga dapat menekan biaya pengeluaran untuk pakan, karena bahan pakan yang tersedia di daerah harganya relatif lebih murah. c) Peternak mampu menyusun komposisi pakan puyuh sendiri berdasarkan kandungan nutrisi dari bahan pakan yang tersedia di daerah. d) Pemanfaatan sangkar dengan model telur diambil di dalam sangkar diantara kerumunan puyuh menyebabkan puyuh tidak mudah stres. Dan pemakaian tempat minum model Nipple P1 Artupic dapat memenuhi kebutuhan minum puyuh dengan baik.
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN LIMBAH RUMAH MAKAN MASAKAN PADANG PADA FORMULASI RANSUM AYAM BROILER TERHADAP KECERNAAN PROTEIN KASAR DAN LEMAK KASAR Lapu, Ferdinand Umbu; Achmanu, Achmanu; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.051 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada bulan juni 2014 sampai dengan bulan juli 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian limbah rumah makan masakan padang terhadap kecernaan protein kasar lemak kasar broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu broiler sebanyak 20 ekor umur 5 minggu ditempatkan dalam kandang metabolis, bahan pakan yang digunakan terdiri dari jagung kuning, bekatul, bungkil kedelai, minyak kelapa sawit, konsentrat broiler dan limbah rumah makan masakan padang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Pakan perlakuan yang digunakan terdiri dari : P0 : dengan pakan protein 22% tanpa penambahan limbah masakan padang, P1 : dengan pakan protein 18% dan penambahan limbah masakan padang 5%, P2 : dengan pakan protein 19% dan pemberian limbah masakan padang 10%, P3 : dengan pakan protein 20% dan penambahan limbah masakan padang 15%, P4 : dengan pakan protein 21% dan penambahan limbah masakan padang 20%. Variabel yang diamati dalam penelitian adalah kecernaan protein kasar dan lemak kasar broiler. Hasil uji analisis statistik kecernaan PK pakan menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap kecernaan PK. Persentase kecernaan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 yaitu sebesar 65.56% dengan pakan protein 19% dan penambahan limbah masakan padang 10% dan terendah terdapat pada perlakuan P0 dengan pakan protein 22% tanpa penambahan limbah masakan padang. Analisis statistik menunjukkan perbedaan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap kecernaan Lemak Kasar. Kecernaan Lemak Kasar tertinggi terletak pada perlakuan P2 yakni sebesar 90,66% dengan pakan protein 19% dan penambahan limbah masakan padang 10%. Sedangkan kecernaan Lemak Kasar terendah terdapat pada perlakuan P0 yakni sebesar 84,38% dengan pakan protein 22% tanpa penambahan limbah makan masakan padang. Berdasarkan hasil penilitian, maka dapat disimpulkan bahwa pakan perlakuan yang digunakan tidak meningkatkan kecernaan protein kasar dan lemak kasar (P>0,05)
Pengaruh Perbedaan Tiga Jenis Daun Ketela Pohon Terhadap Konsumsi dan Konversi Pakan Ulat Sutera Samia Cynthia Setiyawan, Ahmad Iskandar; Fitasari, Eka
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 19, No 1 (2018): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.428 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2018.019.01.5

Abstract

Kualitas daun ketela pohon akan mempengaruhi pertumbuhan ulat sutera, mutu kokon, dan mutu serat yang dihasilkan. Untuk meningkatkan produksi kokon maka dibutuhkan daun ketela pohon yang unggul yang dapat dijadikan pakan ulat sutera. Perbedaan varietas ketela pohon akan menghasilkan daun ketela pohon yang berbeda komposisi dan karakteristiknya. Hal tersebut akan mempengaruhi palatabilitas larva ulat sutera yang akan mempengaruhi performan dan kualitas kokon yang dihasilkan.Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jumlah konsumsi daun ketela pohon dan pertumbuhan ulat sutera. Metode penelitian yang digunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Dengan 4 perlakuan yaitu daun jarak (P0), daun ketela varietas faroka (P1), tambak udang (P2), karet (P3).Hasil dari penelitian didapat konsumsi total terdapat perbedaan yang nyata (p<0.05) antara P0 dengan P1 (10,27±0.34 vs 9.04±0.48). Konsumsi Protein Kasar (PK) dan Serat Kasar (SK) terdapat perbedaan yang nyata (p<0.05) antara P1, P2 vs P3 (PK : 2,55±0,13; 2,53±0,24 vs 2,18a±0,17 dan SK : 0,98±0,05;1,04±0,09 vs 0,66±0,05). Sedangkan konsumsi Bahan organik (BO) tidak terdapat perbedaan yang nyata.Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan penggunaan ketiga jenis daun ketela pohon yang mendekati konsumsi daun Jarak yaitu daun ketela pohon varietas Tambak Udang dan Karet dengan nilai konsumsi total 9.72±0.93 dan 10.04±0.77 g BK/ekor.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG LIMBAH IKAN TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING BAHAN ORGANIK DAN PROTEIN KASAR PADA AYAM BROILER FASE GROWER Menezes, Isaias Maria dos Santos; Supartini, Nonok; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of adding fish waste flour to the digestibility of dry matter, organic matter and crude protein in broiler chickens. The experimental method with Completely Randomized Design (CRD) consisting of 5 treatments each treatment unit was repeated 5 times so that there were 25 experimental units. The administration of fish meal waste did not have a significant effect from the four treatments. However, the highest digestibility of dry matter and organic matter was found in P2 treatment given 10% fish meal waste with a crude protein feed of 21.14%. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh penambahan tepung limbah ikan terhadap kecernaan BK, BO dan PK pada ayam broiler. Metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan tiap unit perlakuan diulang 5 kali sehingga terdapat 25 unit percobaan. Pemberian limbah tepung ikan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata dari ke empat perlakuan. Namun kecernaan bahan kering dan bahan organik tertinggi terdapat pada perlakuan P2 yang diberikan limbah tepung ikan sebesar 10% dengan protein kasar pakan 21,14%.
PERBEDAAN JENIS PERLAKUAN DAN LAMA PEMERAMAN PAKAN KOMPLIT DENGAN BAHAN BASAL DAUN TEBU TERHADAP NILAI KECERNAAN SECARAIN- VITRO Aswandi, Aswandi; Marhaeniyanto, Eko; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the study was to determine the effect of the administration of probiotics Em-4 and the length of ripening on the digestibility of dry matter and organic matter from complete feed made from basal sugarcane leaves in vitro. The implementation of in vitro research, analysis of dry matter and organic materials was carried out in the Lab. Nutrition and Feed of Universitas Brawijaya Malang. The research design used was Factorial Completely Randomized Design (CRD) with 6 treatments and 4 replications consisting of: factor I: complete feed with basal sugar cane leaf ingredients Factor II: Duration of curing, so that the number of experiments was 24 units. The parameters observed in this study were dry matter digestibility (DMD), digestibility of organic matter (OMD). The results showed that the old treatment for ten days of ripening could produce 49.42% organic matter digestibility and 43.07% dry matter digestibility. Further research is needed for the use of complete sugar cane leaves with the addition of feed additives that can improve dry matter digestibility and digestibility of organic matter. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik Em-4 dan lama pemeraman terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik pakan komplit berbahan basal daun tebu secara in vitro. Pelaksanaan penelitian in vitro, analisa bahan kering dan bahan organik dilaksanakan di Lab. Nutrisi dan Pakan Universitas Brawijaya Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Faktorial dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan, terdiri dari: faktor I:pakan komplit dengan bahan basal daun tebu Faktor II:Lama pemeraman, sehingga jumlah percobaan sebanyak 24 unit. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan lama pemeraman sepuluh hari dapat menghasilkan kecernaan bahan organik sebesar 49,42 % dan kecernaan bahan kering sebesar 43,07 %. Diperlukan penelitian lebih lanjut penggunaan pakan komplit daun tebu dengan penambahan feed additive yang mampu memperbaiki kualitas kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik.
PENGARUHPEMBERIAN PAKAN DENGAN LEVEL PROTEIN YANG BERBEDA TERHADAP ENERGI METABOLISME AYAM KAMPUNG Santoso, Erik Priyo; Fitasari, Eka
BUANA SAINS Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.437 KB) | DOI: 10.33366/bs.v16i1.407

Abstract

The purpose of this research is to determine the level of protein stage that gives the best results against the metabolizable energy of Local Chickens. The results of this research are expected can be a consideration and information about the differences effect of the dietary protein provision to the digestibility of metabolizable energy in Local Chicken, especially in the "New" strain of Local Chickens.This research was conducted at the Field Laboratory of Animal Husbandry, University of Tribhuwana Tunggadewi, Malang and at the Laboratory of Animal Nutrition and Feed, Faculty of Animal Husbandry, the University of Brawijaya in January 2014 until February 2014. The method that used in this research was the biological experimental method and the materials that used are the local chicken which the result of cross-breeding between Kedu's chicken and Male Bangkok's chicken, with a number of materials are 20 materials and the each weight are 800 grams.The conclusion of this research shows that the value of Crude Protein (PK) is proportional to the metabolic energy's value, which is in this research shows that the lower Crude Protein value gives impact on the degradation of metabolizable energy. The metabolizable energy in the P2 treatment provides the best metabolizable energy in the Local Chicken. So it may be advisable to conduct the further research using the same objects and the studies are more diverse, given the object of the research is the "New" strain of Local Chicken.
ANALISIS AGRIBISNIS TERNAK KAMBING DENGAN PENDEKATAN MARKET STRUCTURE CONDUCT AND PERFORMANCE DI KABUPATEN NGAWI Santoso, Erik Priyo; Fitasari, Eka
BUANA SAINS Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.871 KB) | DOI: 10.33366/bs.v16i2.422

Abstract

This research has done on February 9th, 2019 to March 4th, 2009 in Ngawi regency. This research has an aim to identify marketing channel, marketing efficiency by using marketing margin analysis and market structure approachment, conduct and performance (MS-C-P) including marketing integration and Transmission elasticity of goat farming cost.This research used puposive sampling technique method and snowball sampling. The data collected by interviewing and observation. The data analysis are descriptive data analysis, marketing margin analysis, MS-C-P approahment analysis and market ing integration includes cost transmission elasticity.The results show that there are eight marketing channels, agribusiness analysis by using MS-C-P approachment shows that there are many factors which not efficient yet. The level of market integration between market at the level of farmer and market of the level low consumers, with coefficeint coreelation 0.945 (less than one) at the line I. At the line VI, the integration market is perfect because the correlation r = 1. The movemnet of consumers and farmers cost, looked from transmission elasticity cost 0, 00086 at the line I and line VI 0, 00077 means the speed of cost changes at breeder level is smaller than the speed of cost changes at retailer level.It concludes that structure influences conduct (lower the concentration-higher the competition at market). Conduct influences performance (higher the competition-lower the the market power/lower the advantage). Structure influences performance (lower the market concentration- higher the competition-lower the market power). There is an resiprok (interrelation) between S-C-P and P-C-S.It suggests that institutional formation and contract farming application to avoid market perfect competition and the using of telecenter as market information service.
PENGGUNAAN BEKATUL FERMENTASI “Aspergillus Niger “ DALAM PAKAN TERHADAP KARAKTERISTIK ORGAN DALAM AYAM PEDAGING Supartini, Nonok; Fitasari, Eka
BUANA SAINS Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.634 KB) | DOI: 10.33366/bs.v11i2.164

Abstract

The purpose of the research was to study the effect of Aspergillus rice bran fermentation on intestinal characteristic (pH, intestinal digest viscosity, proteolitic intestinal digest activity) and internal organs weights (liver, bile, pancreas). The materials used for this research were 96 Lohman broiler chicks with average initial body weight of 47,99 ± 4,93 g without difference on the sexes. The method used Complete Random Plan (RAL) with 4 treatments ie control (P0), control + 5% rice bran fermentation (P1), control + 10% rice bran fermentation (P2), and control + 15% rice bran fermentation (P3) with repeated 6 times. If there were significant influence it would be further tested with Duncan’s Multiple range Test (BNT). The result showed that treatments gave very significantly affected (P0.05) on internal organs. The conclusion is that the using of 15% rice bran fermentation gives the best result based on intestinal characteristics