Herry Garna
Department of Child Health, Faculty of Medicine, Padjadjaran University, Bandung

Published : 57 Documents
Articles

Karakteristik Dengue Berat yang Dirawat di Pediatric Intensive Care Unit Lukmanul Hakim, Dzulfikar D.; Garna, Herry; Winiar, Wiwin
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1676.634 KB)

Abstract

Virus dengue dapat menyebabkan infeksi pada semua kelompok usia dengan manifestasi klinis beragam mulai dari asimtomatik, ringan, sampai berat yang biasanya merupakan kasus fatal. Dengue berat ditandai dengan kebocoran plasma, hemokonsentrasi, dan gangguan hemostasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita dengue berat yang dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak Januari 2009 sampai Desember 2010. Penelitian dilakukan secara retrospektif deskriptif berdasarkan data dari rekam medis penderita. Sebanyak 21 penderita dengue berat dirawat selama 2 tahun, 15/21 penderita perempuan dan 6/21 laki-laki, serta 5/21 anak meninggal dunia selama dirawat dengan sebab kematian tersering sindrom syok dengue (SSD) dan kogagulopati intravaskular diseminata (KID). Sebagian besar penderita berusia 1−5 tahun dengan status gizi baik. Hepatomegali ditemukan pada semua penderita dengan hematokrit rata-rata 38%. Pada penelitian ini, manifestasi klinis dengue berat berupa SSD (15/21), KID (11/21), ensefalopati (6/21), efusi pleura (5/21), miokarditis (3/21), serta acute respiratory distress syndrome (3/21). Simpulan, dengue berat lebih banyak didapatkan pada anak perempuan, usia 1–5 tahun, serta status gizi baik. Manifestasi klinis dengue berat yang dominan berupa syok, koagulasi intravaskular diseminata, dan ensefalopati. [MKB. 2012;44(3):147–51].Kata kunci: Dengue berat, karakteristik, pediatric intensive care unitCharacteristic of Severe Dengue Hospitalized in Pediatric Intensive Care UnitDengue viral infections affect all age groups and produce a spectrum of clinical illness that ranges from asymptomatic to severe and occasionally fatal disease. Severe dengue characterized by plasma leakage, hemoconcentration, and hemostatic disorder. The aim of this study was to know the characteristic of severe dengue patients admitted to Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during January 2009 to December 2010. This was a retrospective descriptive study based on the data collected from the medical records. Twenty-one severe dengue cases in two years were admitted 15/21 girls and 6/21 boys, and 5/21 of them died during hospitalization because of dengue shock syndrome (DSS) and disseminated intravascular coagulation (DIC). Most of them were 1−5 years old with good nutritional status. Hepatomegaly was found in all cases with mean hematocrit was 38%. In this research, the most manifestation of severe dengue were DSS (15/21), DIC (11/21), encephalopathy (6/21), pleural effusion (5/21), myocarditis (3/21), and acute respiratory distress syndrome (3/21). In conclusions, severe dengue are more common in girls, 1–5 years old, and well-nourished children. The most common clinical manifestation of severe dengue are shock, disseminated intravascular coagulation, and encephalopathy. [MKB. 2012;44(3):147–51]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.85
Imunogenisitas dan Keamanan Vaksin Tetanus Difteria (Td) pada Remaja sebagai Upaya Mencegah Reemerging Disease di Indonesia Fadlyana, Eddy; Rusmil, Kusnandi; Garna, Herry; Suwarman, Iwin; Adi, Soenarjati Soedigo; Bachtiar, Novila Sjafri
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i2.1869

Abstract

Di Indonesia berpotensi terjadi reemerging disease difteria akibat belum adanya program imunisasi ulang yang berkesinambungan pada remaja. Untuk menilai imunogenisitas dan keamanan vaksin tetanus, difteria (Td) yang diberikan sebagai imunisasi ulang pada remaja, dilakukan uji klinis prospective, randomized double-blind controlled terhadap 296 pelajar remaja sehat di kota Bandung, usia 10–18 tahun, pada September 2007–September 2008. Sebanyak 296 remaja sebagi subjek penelitian, dibagi 2 kelompok secara acak sederhana. Kelompok I mendapat dosis suntikan 0,5 mL yang diberikan intramuskular. Kelompok II mendapat vaksin TT sebagai kontrol. Pemeriksaan darah dilakukan sebelum dan 1 bulan setelah imunisasi menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assays (ELISAs). Data tentang keamanan dikumpulkan sampai 1 bulan sejak imunisasi menggunakan buku harian. Konsentrasi antibodi seroproteksi (0,1 IU/mL) terhadap difteria dan tetanus mencapai  93,2% and 100,0%. The geometric mean titer (GMT) terhadap difteria meningkat bermakna dari 0,0618 IU/mL ke 0,7583 IU/mL (p<0,001), dan terhadap tetanus meningkat bermakna dari 0,4413 IU/mL ke 14,4054 IU/mL (p<0,001). Nyeri pada tempat suntikan terjadi pada 20,3% kelompok Td dan 18,2% pada TT (p=0,028). Demam >37,5°C sedikit terjadi pada kedua kelompok (Rentang Td: 0,7-4,7%; Rentang TT: 3,4–6,7%). Tidak terdapat reaksi serius dan semua penerima vaksin dapat menerimanya dengan baik. Imunisasi ulang Td meningkatkan kadar immunoglobulin spesifik protektif terhadap difteria dan tetanus, serta aman diberikan pada remaja.
Clinical and laboratory features of pediatric Typhoid fever at the Department of Child Health, Hasan Sadikin General Hospital Bandung Setiabudi, Djatnika; Azhali, M.S.; Garna, Herry; Chairulfatah, Alex
Medical Journal of Indonesia Vol 7 (1998): Supplement 1
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.139 KB) | DOI: 10.13181/mji.v7iSupp1.1145

Abstract

[no abstract available]
Antibiotic resistance patterns of pediatric Typhoid fever at the Department of Child Health, Hasan Sadikin General Hospital, Bandung Setiabudi, Djatnika; Azhali, M.S.; Garna, Herry; Chairulfatah, Alex
Medical Journal of Indonesia Vol 7 (1998): Supplement 1
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.452 KB) | DOI: 10.13181/mji.v7iSupp1.1146

Abstract

[no abstract available]
KADAR D-DIMER PLASMA SEBAGAI PREDIKTOR KEMATIAN PENDERITA PNEUMONIA USIA 2–59 BULAN Saraswati, Retno; Lukmanul Hakim, Dzulfikar D.; Garna, Herry
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.772 KB)

Abstract

Pada pneumonia berat, terjadi koagulasi intravaskular dan intraalveolar yang merupakan respons proses inflamasi lokal dan sistemik infeksi paru. Konsekuensi klinis dari perubahan koagulasi ini yaitu peningkatan kadar D-dimer plasma sebagai petanda aktivitas koagulasi dan fibrinolisis serta meluasnya disfungsi organ bahkan kematian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui validitas kadar D-dimer plasma yang tinggi sebagai prediktor kematian penderita pneumonia usia 2 sampai 59 bulan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan prospektif yang dilaksanakan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian anak usia 2 sampai 59 bulan yang didiagnosis sebagai pneumonia dan berobat ke Instalasi Gawat Darurat Anak selama bulan Oktober?November 2009. Pemeriksaan D-dimer plasma dilakukan saat penderita datang dan kemudian dilakukan observasi sampai penderita meninggal atau dipulangkan dari rumah sakit. Empat puluh lima anak ikut serta dalam penelitian ini, 15 (33%) di antaranya meninggal selama observasi. Kadar D-dimer plasma menunjukkan hubungan yang bermakna (p=0,04) terhadap kematian penderita pneumonia dengan median dan rentang sebesar 0,60 mg/L (0,1?5,10 mg/L). Cut-off point D-dimer plasma >0,4 mg/L sebagai prediktor kematian penderita pneumonia memberikan sensitivitas 73,3% (IK 95%; 44,9?92,0) dan spesifisitas 70,0% (IK 95%; 50,6?85,2%) dengan akurasi 71,1%. Simpulan, kadar D-dimer plasma yang tinggi dapat memprediksi kematian penderita pneumonia usia 2 sampai 59 bulan. [MKB. 2012;44(1):57?62].Kata kunci: Kadar D-dimer plasma, koagulasi, pneumonia, prediktor kematianPlasma D-Dimer Level as Predictor of Mortality in 2?59-Month-Old Pneumonia PatientsIntravascular and intraalveolar coagulation can be found in severe pneumonia as a response to local and systemic inflammation process in severe pneumonia. Clinical consequences of this coagulation changes is an increase of plasma D-dimer levels as a marker of coagulation and fibrinolyis activation, the number of organ dysfunction even death. The aim of this study was to understand the validity of high plasma D-dimer levels as a predictor of mortality in 2 to 59-month-old pneumonia patients. This was a prospective observational analytic study which washeld in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. The subjects of this study were 2 to 59 months old children who were diagnosed as pneumonia and visited Pediatric Emergency Departement during October?November 2009. Plasma D-dimer assay was performed at admission and observed until the patient died or discharged from the hospital. Forty-five children were included in this study, 15 (33%) died during observation. Plasma D-dimer level showed significant correlations (p=0.04) with the mortality in 2 to 59-month-old pneumonia patients with median and range of 0.60 mg/L (0.1?5.10 mg/L). Plasma D-dimer cut-off point of >0.4 mg/L gave 73.3% sensitivity (CI 95%, 44.9?92.0%), and 70.0% specificity (CI 95%, 50.6?85.2%) with 71.1% accuracy for predicting mortality in 2 to 59-month-old pneumonia patients. In conclusions, there were significant correlations between elevated plasma Ddimer levels and mortality in 2 to 59-month-old patients with pneumonia. [MKB. 2012;44(1):57?62].Key words: Coagulation, plasma D-dimer levels, pneumonia, predictor of mortality DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.213
Status Gizi Berdasarkan Subjective Global Assessment Sebagai Faktor yang Mempengaruhi Lama Perawatan Pasien Rawat Inap Anak Meilyana, Fina; Djais, Julistio; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.952 KB) | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.162-7

Abstract

Latar belakang. Length of stay (LOS) adalah masa rawat seorang pasien di rumah sakit dihitung sejakpasien masuk rumah sakit dan keluar rumah sakit, yang dipengaruhi oleh faktor usia, komorbiditas, hipermetabolisme,dan kegagalan organ serta defisiensi nutrisi. Status gizi merupakan salah satu komponenyang mempengaruhi biaya perawatan, lama hari perawatan, dan kualitas hidup. Salah satu cara penilaianstatus gizi adalah subjective global assessment (SGA) yang terdiri dari anamnesis dan pemeriksaan fisis yangmencerminkan perubahan metabolik dan fungsional.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh status gizi berdasarkan SGA terhadap lama perawatanpasien rawat inap anak.Metode. Penelitian analitik observasional dengan rancangan kohort prospektif dilakukan selama periodeFebruari - Juni 2010 terhadap 311 pasien yang menderita infeksi akut usia 1 bulan 14 tahun yang dirawatdi ruang perawatan anak kelas III RSUP dr. Hasan Sadikin. Penilaian status gizi berdasarkan SGA dikelompokanmenjadi SGA A (gizi baik), SGA B (malnutrisi ringan + sedang, dan SGA C (malnutrisi berat).Hasil. Berdasarkan penilaian status gizi dengan SGA berturut-turut didapatkan SGA A, SGA B, dan SGAC sebesar 114 (36,7%), 98 (31,5%), dan 99 (31,8%). Dengan menggunakan uji chi square, didapatkanperbedaan lama perawatan yang bermakna (p<0,001) pada kelompok subjek SGA C dibandingkan kelompokSGA B dan SGA A. Berdasarkan analisis multivariat regresi logistik, kelompok SGA C berisiko 2,205 kalilebih tinggi untuk menjalani perawatan lebih lama (RR: 2,205; 95% CI: 1,151-4,227).Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi yang dinilai dengan SGA terbukti berpengaruhterhadap lama hari perawatan dan dapat dianjurkan untuk digunakan dalam penilaian status gizi.
Bula Hemoragik dengan Komplikasi Perforasi Gaster Sebagai Manifestasi Klinis Purpura Henoch-Schonlein yang Tidak Biasa pada Anak Setiabudiawan, Budi; Ghrahani, Reni; Sapartini, Gartika; Sari, Nur Melani; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.257-64

Abstract

Purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan vaskulitis pada pembuluh darah kecil tersering terjadi pada anak. Penyakit ini ditandai dengan purpura palpablenontrombositopenia disertai salah satu gejala nyeri perut, artritis atau atralgia, glomerulonefritis, dan hasil biopsi jaringan berupa gambaran vaskulitis leukositoklastik. Bula hemoragik disertai edema jaringan subkutan merupakan gambaran yang tidak umum pada PHS dan sering terlewatkan. Manifestasi klinis vesikobulosa PHS sering ditemukan pada pasien dewasa, 16%–60% kasus, sedangkan pada anak kurang dari 2% kasus. Walaupun PHS secara tipikal merupakan penyakit selflimiting, tetapi komplikasi serius dapat terjadi. Perforasi gaster sangat jarang dilaporkan sebagai komplikasi PHS. Kami melaporkan 2 kasus PHS dengan manifestasi kulit yang berat, yaitu timbulnya bula hemoragik disertai dengan perforasi gaster. Pada kedua kasus dilakukan tindakan operatif dengan keluaran yang berbeda, pada kasus pertama pasien dipulangkan dalam kondisi baik pascaoperasi setelah dilakukan laparatomi eksplorasi, walaupun masih menderita nefritis. Sedangkan pasien kedua meninggal setelah tindakan diagnostic peritoneal lavagedisebabkan sepsis berat. Simpulan, bula hemoragik dapat dipertimbangkan sebagai prediktor komplikasi perforasi gaster pada PHS yang akan meningkatkan kewaspadaan dalam tata laksana PHS
Perbandingan Status Besi pada Remaja Perempuan Obes dengan Gizi Normal Afrianti, Dessy; Garna, Herry; Idjradinata, Ponpon
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.97-103

Abstract

Latar belakang. Prevalensi obesitas pada remaja cenderung meningkat. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara obesitas dan terjadinya anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi berhubungan dengan kebutuhan yang meningkat sejalan dengan peningkatan berat badan, serta pola makan yang tidak seimbang pada obesitas. Tujuan.Mengukur dan membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan hemoglobin (Hb),reticulocyte hemoglobin content(CHr), dan feritin serum pada remaja perempuan obes dan gizi normal serta penanggulangan sedini-dininya pada remaja dengan defisiensi besi.Metode. Penelitian studi analitik cross-sectionaldi SMP 14, SMP 34, dan SMA 24 Bandung pada bulan November 2011. Subjek penelitian terdiri atas remaja perempuan sehat yang memiliki status gizi normal dan obes berdasarkan standar WHO reference2007 yang diambil secara acak sebanyak 25 orang tiap kelompok. Analisis data menggunakan uji nonparametrik dengan uji Mann Whitney untuk membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan Hb, CHr,dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal. Dilakukandietary recalluntuk mengetahui asupan makanan pada kedua kelompok penelitian. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Kadar Hb, CHr, dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal tidak menunjukkan perbedaan (p>0,05). Obesitas lebih banyak terjadi pada remaja dengan status sosioekonomi lebih tinggi (p=0,039). Terdapat perbedaan asupan protein hewani, protein nabati, besi, dan vitamin C antara remaja perempuaan obes dengan gizi normal yang memiliki nilai p berturut-turut p<0,001; p<0,019; p=0,026 dan p=0,032.Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan status besi remaja perempuan obes dengan gizi normal. Asupan makanan mempengaruhi status besi pada remaja obes dan gizi normal.
Perbandingan Penggunaan Pediatric Index of Mortality 2 (PIM2) dan Skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD), Untuk memprediksi kematian pasien sakit kritis pada anak Marlina, Linda; S, Dadang Hudaya; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.551 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.262-7

Abstract

Latar belakang. Penilaian derajat kesakitan (severity score of illness) telah dikembangkan sejalan dengan meningkatnyaperhatian terhadap evaluasi dan pemantauan pelayanan kesehatan. Skor yang telah dikembangkanuntuk anak adalah pediatric logistic organ dysfunction, pediatric risk of mortality, dan pediatric index ofmortality.Tujuan. Membandingkan ketepatan pediatric index of mortality-2 dengan skor pediatric logistic organdysfunction dalam memprediksi kematian pasien sakit kritis pada anak.Metode. Rancangan observasi longitudinal dengan subjek penelitian anak yang menderita sakit kritis, dirawatdi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSHS pada bulan Februari-Mei 2008. Dilakukan anamnesis, pemeriksaanfisis, dan laboratorium untuk mendapatkan pediatric index of mortality 2 dan skor pediatric logistic organdysfunction. Analisis statistik dengan menggunakan receiver operating characteristic (ROC) untuk menilaidiskriminasi dan Hosmer-Lemeshow goodness-of-fit untuk menilai kalibrasi.Hasil. Didapatkan 1215 anak berobat ke Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin Bandung, 120di antaranya merupakan pasien kritis. Pediatric index of mortality 2 memberikan hasil diskriminasi yanglebih baik (ROC 0,783; 95% CI 0,688–0,878) dibandingkan dengan pediatric logistic organ dysfunction(ROC 0,706; 95% CI 0,592–0,820). Pediatric index of mortality-2 memberikan hasil kalibrasi yang baik(Hosmer-Lemeshow goodness-of-fit test p=0,33; SMR 0,85) dibandingkan pediatric logistic organ dysfunction(p=0,00; SMR 1,37). PIM2 dan skor PELOD mempunyai korelasi positif dihitung dengan menggunakanSpearman’s correlation, r=0,288 (p=0,001).Kesimpulan. Pediatric index of mortality-2 memiliki kemampuan diskriminasi dan kalibrasi lebih baikdibandingkan dengan pediatric logistic organ dysfunction.
Perbandingan Fungsi Kognitif Bayi Usia 6 Bulan yang Mendapat dan yang Tidak Mendapat ASI Eksklusif Novita, Lony; Gurnida, Dida A.; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.429-34

Abstract

Latar belakang. Salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah faktor nutrisi terutamapemberian ASI eksklusif. Hubungan antara ASI eksklusif dan perkembangan kognitif telah diketahui padaanak usia sekolah tetapi pada bayi belum banyak diketahui dan belum ada penelitian yang mengukur IQpada bayi khususnya di Indonesia.Tujuan penelitian. Membandingkan fungsi kognitif bayi berusia 6 bulan yang diberi ASI eksklusi danbukan ASI eksklusif.Metode. Penelitian cohort ini dilakukan pada bulan Mei-Juli 2007. Subjek penelitian bayi usia 4 bulanyang mendapat ASI eksklusif dan noneksklusif yang bertempat tinggal di lingkungan Puskesmas CigondewahBandung diikuti sampai usia 6 bulan. Perkembangan kognitif dinilai dengan skala Griffith dan dikonversikanmenjadi nilai IQ. Dampak ASI eksklusif terhadap perkembangan kognitif dianalisis dengan uji t.Hasil. Dari 86 bayi yang diteliti, 8 bayi drop out, 39 ASI eksklusif dan 39 bayi noneksklusif. Tidak adaperbedaan karakteristik subjek dan karakteristik orangtua subjek. Rata-rata IQ bayi ASI eksklusif 128,3(8,8), rentang IQ bayi ASI eksklusif 112-142 sedangkan bayi ASI noneksklusif rata-rata 114,4 (12,1), rentangIQ 82-137. Kelompok ASI eksklusif IQ di atas rata-rata 32 bayi dan di bawah rata-rata 7 bayi sedangkan ASInoneksklusif IQ di atas rata-rata 19 bayi dan di bawah rata-rata 20 bayi. Pemberian ASI noneksklusif berpeluangterjadinya IQ di bawah rata-rata 1,68 kali lebih besar dibandingkan di atas rata-rata (x2=9,57; p=0,002).Kesimpulan. Dari aspek fungsi kognitif pemberian ASI eksklusif memberikan hasil lebih baik dibandingdengan yang tidak mendapat ASI eksklusif
Co-Authors Achmad Surjono, Achmad Adjat Sedjati Rasyad Agnes Rengga Indrati Ahmad Suardi, Ahmad Alex Chairulfatah Andriane, Yuke Ani Melani Maskoen Aniceto Cardoso Barreto, Aniceto Cardoso Anita Deborah Anwar Anjaniah, Dilla Latul Annisa Kusumawardhani Ardini Saptaningsih Raksanagara, Ardini Saptaningsih Ari Indra Susanti, Ari Indra Aulia Fitri Swity, Aulia Fitri Azhali M. S., Azhali M. Azhali, Buti Azfiani Bachti Alisjahbana Budi Setiabudiawan Budiman Budiman Cissy B. Kartasasmita Dadang Hudaya S, Dadang Hudaya Dedi Rachmadi Dessy Afrianti, Dessy Dida A. Gurnida Dida Akhmad Gurnida Dina Garniasih, Dina Djatnika Setiabudi Dwi Prasetyo Dzulfikar D. Lukmanul Hakim Eddy Fadlyana Eka Nurhayati Endah Pujiastuti, Endah Fina Meilyana Firman F. Wirakusumah Firman Wirakusumah, Firman Fiva A Kadi, Fiva A Furqaani, Annisa Rahmah Gartika Sapartini Guntara, Arief Harefa, Jernihati Krisniat Harry Iskandar, Harry Heda Melinda D. Nataprawira Hendryanny, Eka Henne Giyantini, Henne Herman, Herry Hidayat Wijayanegara Hudaya, Dadang Husin, Farid Ida Parwati Irawan, Gaga Irvan Afriandi Ismawati Ismawati Ismawaty, Nenden Iwin Sumarman Iwin Suwarman Julistio Djais, Julistio Julistio T. B. Djais, Julistio T. B. Julistio T.B. Djais, Julistio T.B. Junia, Jujun Kamila, Nurul Auliya Kusnandi Rusmil Laili, Fauzia Leri Septiani Linda Marlina, Linda Lisa Adhia Garina, Lisa Adhia Lony Novita, Lony M.S. Azhali Mansoorah, Atia Maryamah, Aam Maya Tejasari, Maya Meijerink, Hinta Mohamad Yanuar Anggara Nanan Sekarwana Nasa, Alma Tanzia Novi, Tania Novila Sjafri Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Nur Melani Sari, Nur Melani Nurakilah, Heni Nurruhyuliawati, Waya Okinarum, Giyawati Yulilania Oky Haribudiman Ponpon Idjradinata Ponpon S Idjradinata R.A. Retno Ekowati, R.A. Retno R.M Ryadi Fadil, R.M Ryadi Rachman, Hana Sopia Rahmat Budi Ramadianti, Rhena Alma Reinout van Crevel Rengga Indrati, Agnes Reni Ghrahani Retno Saraswati RINA PERMATASARI Risa, Melvi Imelia Rohmatika, Nisa Lathifah Samsudin Surialaga Sekarini, R. Ayu Wulandari Sitomorang, Ingrid Rita Sjarif Hidajat, Sjarif Soenarjati Soedigo Adi Soepriadi, Myrna Sofia, Hana Sri Endah Rahayuningsih Sugih, Siti Sunjaya, Deni K. Susiarno, Hadi Susiarno, Hadi Sutisna, Ma'mun Tina Ramayanthi, Tina Tisnasari Hafsah, Tisnasari Titik Respati Tono Djuwantono van der Venn, Andre Widajanti, Endang Wiwin Winiar Zulmansyah, Zulmansyah