I Wayan Gorda
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

PENYEBARAN VIRUS VAKSIN ND PADA SEKELOMPOK AYAM PEDAGING YANG TIDAK DIVAKSINASI DAN DIPELIHARA BERSAMA AYAM YANG DIVAKSINASI Kencana, Gusti Ayu Yuniati; Astawa, Nyoman Mantik; Mahardika, I Gusti Ngurah Kade; Gorda, I Wayan
Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui daya sebar vaksin ND aktif galurlentogenik (La Sota) dan respons immune ayam yang tidak divaksin yang dipeliharabersama ayam yang divaksin secara intramuskuler. Penelitian ini menggunakan rancanganacak lengkap pola berjenjang (split time) dengan faktor utama perlakukan vaksinasi (TO:0% divaksin dan 100% tidak divaksin , T1: divaksin 50 % dan 50 tidak divaksin dan T2:divaksin 75% dan 25% tidak divaksin) dengan sembilan kali ulangan. Faktor tambahanadalah waktu pengambilan serum (minggu ke-0, ke-1, ke-2 dan ke-3) sehingga jumlahsampel adalah 3x9x4= 108 sampel serum. Ayam umur 3 hari divaksinasi ND secara tetesmata kemudian dilakukan vaksinasi intramuskuler pada umur 21 hari sesuai perlakuan.Titer antibodi ND pada ayam perlakuan diuji dengan uji hambatanhemaglutinasi/hemagglutination inhibition (HI) satu hari sebelum vaksinasi, serta satuminggu, dua minggu, dan tiga minggu setelah vaksinasi. Data tentang titer antibodi (GMTHI)terhadap ND ditransformasi dengan akar X+1, dianalisis dengan sidik ragam dandilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titerantibodi terhadap ND pada ayam yang tidak divaksin dipengaruhi oleh persentase ayamyang divaksin. Antibodi HI unit terhadap virus ND pada ayam yang tidak divaksinasimulai teramati pada minggu ke-2 dan ke-3 setelah vaksinasi. Titer antibodi ayam yangtidak divaksinasi pada kelompok ayam yang hanya divaksin 75% mempunyai titer antibodiyang nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok ayam yang divaksin 50% dankontrol (P<0,05). Pada kelompok ayam yang divaksin 50%, titer antibody ND pada ayamyang tidak divaksin secara statistik berbeda tidak nyata dibandingkan dengan kelompokyang divaksin 0% (P>0,05). Pada minggu ke tiga, titer antibody ND ayam yang tidakdivaksinasi pada kelompok ayam yang divaksin 75% nyata lebih tinggi dibandingkandengan pada kelompok ayam yang divaksin 50% (P,0,05). Vaksin ND aktif lentogeik LaSota dapat menyebar dari ayam yang divaksin secara intramuskuler kea yam yang tidakdivaksin
PERBANDINGAN ANESTESI XYLAZIN-KETAMIN HIDROKLORIDA DENGAN ANESTESI TILETAMIN- ZOLAZEPAM TERHADAP FREKUENSI DENYUT JANTUNG DAN PULSUS ANJING LOKAL Darmayudha, Anak Agung Gde Oka; Gorda, I Wayan
Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.1 Pebruari 2012
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study to determine the effect of anesthesia xylazine- ketamine hydrochlorida withanesthesia tiletamine-zolazepam administration to heart pulse frequency and pulse duringanesthetion. The experimental was carried duct on local dog. The experimental design usewas a splite in time with 2 treatment : treatment I xylazin-ketamin ( 2 mg/Kg Body weightof xylazine ; 15 ing/Kg Body weight ketarnine) and treatment II tiletamine-zolazepam ( 20mg/Kg Body weight). Each treatment use 5 dogs as refrain so we use 10 dogs for all of thetreatment. Obtain data is analized by various investigated test. Result of this study indicatedthat difference of treatment there were no significance, but time of the observed duringanesthesion showed more highly significance and significant to pulse frequency.
GERUSAN DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA) MEMPERCEPAT KESEMBUHAN LUKA BAKAR PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) Airlangga, Komang Sri Gilang; Gorda, I Wayan; Dada, I Ketut Anom; Sudimartini, Luh Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2019.v11.i01.p13

Abstract

Luka bakar merupakan kejadian dimana rusaknya jaringan kulit akibat kontak kulit dengan sumber panas seperti listrik, bahan kimiawi, dan api serta radiasi. Penelitian Efek Gerusan Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis)   terhadap kecepatan kesembuhan luka bakar derajat II pada tikus putih (Rattus Norvegicus) dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian gerusan daun binahong terhadap kesembuhan luka bakar tikus putih (Rattus norvegicus) yang diukur berdasarkan lama peradangan, kecepatan epitelisasi dan kepadatan kolagenisasi yang dilihat dari gambaran makroskopis dan mikroskopis. Penelitian menggunakan  menggunakan hasil pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis dianalisis secara statistik dengan bantuan piranti SPSS for window 17 The Randomize Postest Control Only Group Design. Tiga puluh dua (32) ekor tikus putih betina dengan berat 150-200 gram dibagi menjadi 2 perlakuan. Hasil penelitian adalah pemberian daun binahong berpengaruh terhadap kesembuhan luka bakar pada tikus putih berdasarkan lama perdangan dan kecepatan epitelisasi. Pemberian gerusan daun binahong mempercepat penyembuhan luka bakar pada tikus putih. Saran, gerusan daun binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) dapat dipergunakan pada penyembuhan luka bakar di daerah-daerah terpencil.
KESEMBUHAN FRAKTUR TULANG FEMUR KELINCI PASCA IMPLANTASI BAHAN CANGKOK DEMINERALISASI SERBUK TULANG SAPI BALI Asih, Ni Putu Trisna; Wirata, I Wayan; Sudimartini, Luh Made; Winaya, Ida Bagus Oka; Kardena, I Made; Gorda, I Wayan
Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 2 Agustus 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2019.v11.i02.p13

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran mikroskopis kesembuhan fraktur tulang femur kelinci pascaimplantasi dengan bahan cangkok demineralisasi serbuk tulang sapi bali. Kelinci lokal jantan  sebanyak 12 ekor digunakan dalam penelitian ini yang dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompok A adalah tiga ekor kelinci yang digunakan sebagai kontrol, yaitu kelinci pada diaphysis tulang femurnya dibor dengan diameter 5 mm dan kedalaman bor hingga mencapai medula, tanpa pemberian bahan cangkok. Kelompok B adalah 9 ekor kelinci yang dibor seperti kelompok A dan diberikan serbuk cangkok tulang pada bagian tulang yang dibor. Pada minggu ke-2, ke-4, dan ke-6 pascaoperasi dilakukan biopsi tulang masing-masing satu ekor kelinci pada kelompok A dan tiga ekor kelinci pada kelompok B.  Pengamatan mikroskopis dilakukan dengan membuat sediaan tulang  diwarnai dengan Hematoksilin-Eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kesembuhan tulang lebih cepat terjadi pada kelompok B yang diamati dari minggu ke-2 sampai minggu ke-6 dengan sel radang terlihat sedikit dan jumlahnya berkurang setiap pengamatan, adanya pertumbuhan osteoblas, osteoklas, osteosit, kartilago, tulang trabekula, neovaskularisasi dan proliferasi fibrolas lebih cepat dibandingkan kelompok A. Dapat disimpulkan, bahan cangkok asal tulang sapi bali mampu menginduksi proses kesembuhan tulang fraktur pada kelinci.
PERBANDINGAN WAKTU INDUKSI, DURASI DAN PEMULIHAN ANESTESI DENGAN PENAMBAHAN PREMEDIKASI ATROPIN-XYLAZIN DAN ATROPINDIAZEPAM UNTUK ANESTESI UMUM KETAMIN PADA BURUNG MERPATI (COLUMBA LIVIA) Gorda, I Wayan; Wardita, A.A. Gde Jaya
Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No. 2 Agustus 2010
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this study is to determine the comparison of induction, duration and recoverytime of anaesthesia with addition of premedication atropine-xylazine and atropinediazepamfor anaesthesia of ketamine in pigeon (Columba livia).Complete Random Device (RAL) was used to analisis. The total of eight teen of pigeonused for this study. They were divided into three groups i.e. (I) treated with ketamine : 75mg/kg of body weight as a positive control, (II) treated with combination of atropinexylazine-ketamine with dose 0,02 mg/kg of body weight, 4 mg/kg of body weight and 75mg/kg of body weight and (III) treated with combination of atropine-diazepam-ketaminewith dose 0,02 mg/kg of body weight, 2,5 mg/kg of body weight and 75 mg/kg of bodyweight. Data were analized with Analysis of Variance. (Steel and Torrie, 1989). Theresult showed that the anaesthesia of ketamine and the combination of atropine-diazepamketaminewas not resulted the induction and duration time of anaesthesia. That mean,recovery time of anaesthesia ketamine and the combination of atropine-diazepam-ketamineare 114,4 minutes and 138,1 minutes. The combination of atropine-xylazine-ketamine wasresulting the mean of induction 13,4 minutes, duration 82,8 minutes and recovery 139,6minutes. The result showed that no significantly different (P > 0.05) the time of recoverybetween the anaesthesia of ketamine, combination of atropine-xylazine-ketamine andcombination of atropine-diazepam-ketamine.
LAPORAN KASUS : PENANGANAN HERNIA UMBILIKALIS PADA KUCING LOKAL BETINA UMUR SEMBILAN TAHUN DENGAN LAPAROTOMI Rosita, Indah; Sudisma, I Gusti Ngurah; Gorda, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hernia umbilikalis merupakan penonjolan pada daerah umbilikal yang umumnya terjadi secara kongenital. Kucing lokal betina berumur sembilan tahun, bobot badan 2 kg, warna rambut red tabby, diperiksa ke Laboratorium Ilmu Bedah Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dengan keluhan berupa penonjolan pada abdomen sejak lahir. Kondisi umum kucing sehat dengan nafsu makan baik. Kucing didiagnosis mengalami hernia umbilikalis melalui pemeriksaan klinis dengan prognosis fausta. Sebelum pembedahan diberikan premedikasi atropine sulfate 0,2 ml secara subkutan dan 10 menit kemudian diinduksi dengan kombinasi xylazine dan ketamine yang masing-masing jumlah dosis pemberiannya 0,2 ml dan 0,4 ml secara intramuskuler.  Kucing ditangani dengan melakukan pembedahan laparotomi menginsisi bagian midline ventral abdomen yang tepat berada di atas tonjolan dengan posisi hewan dorsal recumbency untuk mereposisi omentum pada umbilikus. Pola jahitan simple interrupted, subkutan ditutup dengan pola jahitan simple continous, dan kulit ditutup dengan teknik subkutikuler secara menerus. Pengobatan pascaoperasi diberikan antibiotik amoxicillin syrup 125 mg/5 ml dengan dosis pemberian 0,5 ml (3 x sehari) selama 7 hari peroral. Serta antibiotik topikal yang mengandung placenta extract ex bovine 10% dan neomycin sulfate 0,5% diberikan secukupnya (3x sehari) hingga luka mengering. Kucing mengalami kesembuhan total pada hari ke-10 ditandai dengan luka sayatan tidak ditemukan peradangan, luka menyatu dan mengering.
STUDI KASUS: FIBROSARCOMA KELENJAR MAMMAE PADA ANJING GOLDEN RETRIEVER Putri, Rizki Kusuma; Gorda, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seekor anjing ras Golden Retriever berumur sepuluh tahun dengan bobot badan 20 kg, berjenis kelamin betina terdapat benjolan pada kelenjar mammae kedua, ketiga dan keempat sebelah kanan dan disertai ulcer. Secara fisik dan klinis anjing nampak sehat dengan nafsu makan dan minum yang baik, defekasi dan urinasi normal. Hasil pemeriksaan histopatologi jaringan tumor yang dilakukan di Laboratorium Patologi FKH UNUD, anjing didiagnosis menderita fibrosarcoma kelenjar mammae dengan prognosa dubius. Anjing ditangani dengan melakukan pembedahan (eksisi) untuk mengangkat masa tumor dan pemberian antibiotik cefotaxim, amoxicillin dengan analgesik meloxicam serta obat topikal seperti Enbatic® dan Bioplasenton®. Sebelas hari pascaoperasi anjing kasus dinyatakan sembuh dengan luka operasi yang sudah kering dan menyatu.
LAPORAN KASUS: BEDAH KISTA KELENJAR MAMMAE PADA ANJING GOLDEN RETRIEVERS BETINA Gorda, I Wayan; Pratistha, Ni Wayan Apsari Shantika
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (3) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2018.7.3.234

Abstract

Mamalia merupakan hewan yang menyusui anaknya setelah melahirkan. Anjing merupakan hewan mamalia yang berisiko terserang penyakit pada kelenjar mammae, salah satunya adalah neoplastik bersifat jinak yaitu kista. Kejadian kista kelenjar mammae pada anjing jarang terjadi sehingga pelaporan kasus kejadiannya pun jarang. Laporan kasus bedah ditinjau dari seekor anjing Golden Retrievers betina bernama Barnie, berwarna cokelat, berumur 8 tahun dengan berat badan 25,4 kg dengan riwayat vaksin terakhir tahun lalu mengalami benjolan pertaman di bagian dextra kelenjar mammae sejak kurang lebih 1 tahun. Metode penanganan pada kasus ini adalah dengan tindakan pembedahan. Insisi bagian kulit dan subkutan sehingga kista dapat diangkat. Bagian sub kutan dijahit dengan pola subkutikular menggunakan chromic cat gut. Pada bagian kulit dijahit menggunakan benang chromic cat gut dengan pola terputus. Perawatan pasca operasi, anjing dikandangkan selama masa pemulihan. Anjing dipasangkan Elisabeth Collar untuk menghindari anjing menggigit daerah luka. Anjing diberikan terapi Amoxicillin dan Meloxicam secara oral selama 5 hari. Penggunaan Oxytetracyclin zalf dan enbatic bubuk pada luka jahitan tumor sebagai pencegah infeksi dan mempercepat proses menutupnya luka.
LAPORAN KASUS: PENANGANAN BEDAH UNTUK NEKROTIK MIOSITIS PADA ANJING KINTAMANI Sultan, Nurul Fadillah; Gorda, I Wayan; Sudisma, I Gusti Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (4) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Nekrotik miositis merupakan suatu keadaan dimana otot mengalami infeksi trauma yang terjadi dalam waktu cukup lama dan menyebabkan infeksi sangat parah. Penanganan pembedahan sangat perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya sepsis. Seekor anjing kintamani jantan berumur tujuh tahun, berat badan 19 kg, diperiksa dengan keluhan adanya benjolan pada otot bagian lateral os scapula sinister. Hasil pemeriksaan fisik dan klinis anjing sehat dengan nafsu makan dan minum baik, namun ditemukan adanya massa dengan konsistensi padat dan mengeluarkan eksudat serta berbau sejak lima bulan terakhir. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan adanya kenaikan limfosit, namun total eritrosit, hemoglobin, dan platelet normal. Gambaran histopatologi dari massa tersebut menunjukkan adanya nekrosis pada sel otot disertai dengan infiltrasi sel radang, sel neutrofil, dan sel plasma sehingga hewan kasus didiagnosis mengalami nekrotik miositis. Anjing ditangani dengan tindakan pengangkatan massa secara keseluruhan untuk menghindari sepsis dan meminimalisir kematian. Ciprofloxacin, asam mefenamat, dan salep betason-N diberikan sebagai perawatan pascaoperasi. Hari kedelapan pascaoperasi, anjing dinyatakan sembuh dengan luka yang sudah mengering dan menyatu dengan baik.
KADAR GLUKOSA DARAH ANJING KINTAMANI Kendran, Anak Agung Sagung; Sudisma, I Gusti Ngurah; Sulabda, I Nyoman; Gorda, I Wayan; Anggreni, Luh Dewi; Loekali, Bendelin Melda
Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan kadar glukosa darah anjing kintamani menggunakan Accu-check Active dilakukan di laboratorium Patologi Klinik Veteriner, Fakultas Kedoktern Hewan Universitas Udayana. Sampel darah diambil dari 50 ekor anjing kintamani untuk menentukan kadar glukosa acak dan 10 ekor untuk mengetahui kadar glukosa darah puasa dan dua jam setelah makan. Sampel darah diambil dari vena chepalica. Anjing yang dipilih sebagai sampel adalah anjing kintamani milik penduduk di daerah Denpasar dan Kintamani. Hasil penelitian ini menunjukkan rerataan kadar glukosa normal darah anjing kintamani secara acak sebesar 86,62 mg/dl  19,09, jantan adalah 84,10 mg/dl  19,11  dan betina 89,81 mg/dl  19,01..  Pada keadaan puasa kadar glukosa darah anjing kintamani adalah 73,4 mg/dl  5,98,   jantan 74 mg/dl  2,82 betina 73 mg/dl  7,69. Kadar glukosa darah anjing kintamani dua jam setelah makan sebesar 75,6 mg/dl  6,13, jantan 76,25 mg/dl  2,36 dan  betina 75,76 mg/dl 7,98. Hasil ini masih berada dalam kisaran normal berdasarkan standar acuan Graham. Dengan demikian Accu-check Active dapat dipakai untuk menentukan kadar glukosa darah anjing kintamani.