Hartono Gunardi
Department of Child Health, Medical School Universitas Indonesia, Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta.

Published : 29 Documents
Articles

Found 29 Documents
Search

Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Vaksin Pertusis Aselular dan Whole-cell Tjahjowargo, Sendy; Gunardi, Hartono
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.93 KB) | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.403-8

Abstract

Latar belakang. Imunisasi merupakan upaya pencegahan terbaik terhadap berbagai penyakit infeksi. Vaksin difteri, tetanus, pertusis whole-cell (DTwP) dapat menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang mengkhawatirkan orangtua. Vaksin difteri, tetanus, pertusis aselular (DTaP) memiliki KIPI lebih ringan, tetapi diduga kurang efektif. Tujuan. Mengetahui efektivitas vaksin DTaP dibandingkan dengan vaksin DTwP.Metode. Penelusuran literatur elektronik PubMed dan Cochrane dengan kata kunci “DTaP/acellular pertussis”, “DTwP/whole-cell pertussis”, “children”, “pertussis”, “vaccine” and “safety/efficacy/effectiveness” dalam 10 tahun terakhir (2006 – 2016). Hasil. Terdapat dua studi meta-analisis yang membandingkan efektivitas pemberian imunisasi DTwP dan DTaP serta satu studi kasus terkontrol yang membandingkan efek perlindungan jangka panjang pemberian imunisasi DTaP dengan DTwP. Efektivitas vaksin pertusis aselular berkisar 74% (IK95%, 51–86%) – 97% (IK95%, 91–99%). Efektivitas vaksin pertusis whole-cell sebesar 94% (IK95%, 88–97%; p<0,0001). Estimasi effect size vaksin pertusis aseluer untuk melindungi terhadap penyakit pertusis sesuai kriteria WHO adalah sebesar 84% (IK95%, 81–87%); sedangkan untuk vaksin pertusis whole cell adalah 94% (IK95%, 88–97%). KIPI vaksin DTaP lebih ringan dan jarang dibandingkan vaksin DTwPKesimpulan. Vaksin DTaP dan DTwP mempunyai efektivitas yang sebanding. Vaksin DTwP mempunyai effect size yang lebih besar untuk melindungi terhadap penyakit pertusis dan perlindungan jangka panjang yang lebih baik dibandingkan vaksin DTaP. Vaksin DTaP mempunyai KIPI yang lebih ringan dan jarang dibandingkan vaksin DTwP.
Profile and prediction of severity of rheumatic mitral stenosis in children Oesman, Ismet N.; Gunardi, Hartono; Madiyono, Bambang; Sastroasmoro, Sudigdo; Putra, Sukman T.
Medical Journal of Indonesia Vol 5, No 3 (1996): July-September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.969 KB) | DOI: 10.13181/mji.v5i3.864

Abstract

[no abstract available]
GROWTH AND DEVELOPMENTAL DELAY RISK FACTORS AMONG UNDER-FIVE CHILDREN IN AN INNER-CITY SLUM AREA Gunardi, Hartono; Nugraheni, Resyana P.; Yulman, Annisa R.; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Sekartini, Rini; Medise, Bernie E.; Wirahmadi, Angga; Melina, Elizabeth
Paediatrica Indonesiana Vol 59 No 5 (2019): September 2019
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi59.5.2019.276-83

Abstract

Background Growth and developmental delays are common among children under the age of five years (under-five children), especially in slum areas. Early detection and intervention may give better prognoses. Objective To detect growth and developmental delays and related risk factors among under-five children living in an inner-city slum area of the Indonesian capital. Methods This cross-sectional study was conducted from October to November 2018 in Tanah Tinggi, Johar Baru District, an inner-city slum area in Central Jakarta. Subjects were healthy children aged 3?60 months. Socioeconomic profile was obtained through questionnaires, anthropometric data through measurements, and developmental status through the Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) instrument. Development was considered to be delayed for KPSP scores &lt;9. Data were analyzed using Chi-square test. Results Of 211 subjects, prevalence of underweight, stunting, and wasting were 35.1%, 28.0%, and 20.9%, respectively, meanwhile low maternal education, and low family income were 57.9% and 75%. The prevalence of developmental delay was 10%, while suspected developmental delay was 26.1%. The prevalence increased from age 21 months and peaked at 36 months. Associated risk factors were low maternal education, low family income, underweight weight-for-age, stunted height-for-age, and microcephalic head circumference-for-age. Conclusion Low education and low income were significant risk factors for growth and developmental delay.
The role of hearing capability test as a screening test for the possibility of hearing disorder in children with speech delay Fatmawaty, Fatmawaty; Gunardi, Hartono; Suwento, Ronny; Latief, Abdul; Suradi, Rulina; Mangunatmadja, Irawan
Paediatrica Indonesiana Vol 46 No 6 (2006): November 2006
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.364 KB) | DOI: 10.14238/pi46.6.2006.255-9

Abstract

Background Hearing disorder may cause speech delay so thatevery child with speech delay should undergo hearing test. Thegold standard for audiometric test is otoacustic emission (OAE)and brainstem evoked response audiometry (BERA). They havehigh sensitivity and specificity, but the availability is limited andexpensive. Hence, both tests are not available at the primary healthcare centers. In 1997, the Department of Health, Republic of Indo-nesia, established a simple subjective test instrument, i.e. the hear-ing capability test (HCT).Objective To asses the accuracy of HCT compared to the goldstandard hearing tests (OAE and/or BERA).Methods This study was a cross sectional study on 89 childrenaged less than 5 years who had speech delay and came to theGrowth and Development Outpatient Clinic or the General Outpa-tient Clinic, Pediatric Neurology Clinic of the Department of ChildHealth, Cipto Mangunkusumo (CM) Hospital; and Center for EarCare and Communicative Disorders (CECCD), Department of ENT,CM Hospital, during March to August 2005.Results HCT sensitivity and specificity were 92.9% and 27.7%,respectively. Positive predictive value (PPV), negative predictivevalue (NPV), positive likelihood ratio (PLR), and negative likehoodratio (NLR) were 84%, 50%, 1.9, and 0.7, respectively.Conclusion The sensitivity and specificity of HCT as a screeningtest of hearing disorder in children with speech delay were 93%and 28%, respectively. Based on this result, HCT should only beused as screening test and not as a diagnostic test
Intervensi Sleep Hygiene pada Anak Usia Sekolah dengan Gangguan Tidur: Sebuah Penelitian Awal Harmoniati, Eva Devita; Sekartini, Rini; Gunardi, Hartono
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.93-9

Abstract

Latar belakang. Gangguan tidur adalah kondisi yang ditandai dengan gangguan jumlah, kualitas, atau waktu tidur. Dampak gangguan tidur adalah gangguan belajar, memori, mood, perilaku, dan atensi.Tujuan. Mengetahui prevalensi, gambaran gangguan tidur, pengaruh intervensi sleep hygiene pada keluhan mengantuk, mood, kesulitan bangun, durasi tidur, nilai SDSC dan PDSS.Metode. Penelitian quasi eksperimental di SDN di Jakarta Pusat pada bulan Mei-Juni 2015. Skrining dan evaluasi pasca intervensi sleep hygiene selama 8 minggu menggunakan sleep disturbance scale for children (SDSC) dan pediatric daytime sleepiness scale (PDSS).Hasil. Prevalensi gangguan tidur 25,1%, terdiri atas disorder of initiating and maintaining sleep (DIMS) 61,5%, sleep wake transition disorder (SWTD) 61,5%, disorder of excessive somnolence (DOES) 55,4%, dan disorder of arousal (DA) 51,5%. Setelah intervensi dilaporkan perbaikan mengantuk, mood, kesulitan bangun pagi, nilai SDSC pre dan pasca intervensi (p<0,001).Kesimpulan. Dampak intervensi sleep hygiene yaitu perbaikan mengantuk, mood, kesulitan bangun pagi, serta perbedaan bermakna nilai SDSC pre dan pasca intervensi. 
Sensori Integrasi: Dasar dan Efektivitas Terapi Waiman, Elina; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Gunardi, Hartono; Sekartini, Rini; Endyarni, Bernie
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.129-36

Abstract

Terapi sensori integrasi, sebagai bentuk terapi okupasi, mulai populer diberikan untuk tata laksana anak dengan berbagai gangguan perkembangan, belajar, maupun perilaku. Namun dasar teori, bentuk gangguan pemrosesan sensori, dan efektivitas terapi umumnya belum diketahui secara luas di kalangan dokter spesialis anak. Bukti sahih tentang manfaat terapi sensori integrasi untuk tata laksana anak dengan gangguan spesifik memungkinkan aplikasi dan pemberian edukasi pada keluarga pasien secara lebih optimal.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kapsular Gunardi, Hartono; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Sekartini, Rini; Ticoalu, Jeane Roos
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.667 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.125-8

Abstract

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Upaya pencegahan meliputi perbaikan sanitasi lingkungan, higiene perorangan, persiapan makanan yang baik dan pemberian vaksin. Baik vaksin tifoid peroral maupun parenteral dapat mencegah gejala klinis demam tifoid. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia. Metode. Penelitian deskriptif potong-lintang dilakukan pada anak Indonesia sehat umur 2-5 tahun yang mengunjungi Klinik Tumbuh Kembang Utan Kayu pada Juli 2000 atau Klinik Dokter Keluarga Kiara pada Agustus 2000. Digunakan vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler (typhim-Vi) dalam kemasan 10 ml. Penyuntikan 0,5 ml vaksin dilakukan oleh dokter Peserta Pendidikan Spesialis Anak pada paha bagian anterolateral dengan menggunakan semprit steril sekali pakai. KIPI dimonitor dengan menggunakan formulir KIPI Departemen Kesehatan. Hasil. Dari 198 anak yang divaksinasi, KIPI yang berhasil dipantau 174 (87,9%) anak. Gejala klinis KIPI yang ditemukan adalah nyeri pada tempat suntikan (44,8%), demam > 38,5∞ C (14,4%), indurasi (9,2%), dan muntah (0,6%). Kesimpulan. KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler penelitian ini cukup komparabel dengan penelitian lain dalam hal demam. Bengkak dan indurasi lebih tinggi dibanding penelitian lain. Hal yang mungkin berperan adalah vial multidosis yang rentan terhadap timbulnya kontaminasi.
Peran The Early Language Milestone Scale sebagai Uji Tapis terhadap Anak dengan Keterlambatan Bicara yang Diduga Disebabkan oleh Gangguan Pendengaran Sensorineural Niasari, Nia; Gunardi, Hartono; Suwento, Ronny; Sastroasmoro, Sudigdo
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.515 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.281-4

Abstract

Latar belakang. Salah satu penyebab keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran. Brain evokedresponse audiometry (BERA) memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi gangguanpendengaran, namun alat dan biaya pemeriksaan cukup mahal, dan tidak tersedia di pusat pelayanankesehatan primer di daerah terpencil. The early language milestone scale (ELMS) diharapkan mempunyaisensitivitas dan spesifisitas yang baik sebagai uji tapis keterlambatan bicara yang disebabkan oleh gangguanpendengaran, karena mengandung unsur auditory receptive dan auditory expressive.Tujuan. Membandingkan sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP), nilai duga negatif (NDN),rasio kemungkinan positif (RKP), dan rasio kemungkinan negatif (RKN) ELMS dalam mendeteksi gangguanpendengaran dengan baku emas BERA.Metode. Penelitian uji diagnostik ELMS dengan baku emas BERA di Departemen IKA dan Pusat KesehatanTelinga dan Gangguan Komunikasi (PKTGK) Departemen THT FKUI-RSCM. Pengambilan sampel secarakonsekutif dari bulan Februari sampai Agustus 2006, terkumpul 42 subjek dengan usia 12 sampai 47 bulan.Hasil. Sensitivitas 93% (IK95%:92 sampai 94), spesifisitas 15% (IK95%:5 sampai 26), NDP 71%(IK95%:57 sampai 85), dan NDN 50% (IK95%:35 sampai 65). Hasil RKP 1 dan RKN 0,5.Kesimpulan. Mengingat spesifisitas yang rendah, ELMS tidak dapat digunakan sebagai uji tapis keterlambatanbicara yang diduga disebabkan gangguan pendengaran sensorineural.
Larutan Glukosa Oral Sebagai Analgesik pada Pengambilan Darah Tumit Bayi Baru Lahir: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda Devaera, Yoga; Gunardi, Hartono; Budiman, Imam
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.127-31

Abstract

Latar belakang. Penanganan nyeri pada bayi baru lahir masih belum menjadi perhatian. Larutan manis dapatdigunakan untuk mengurangi nyeri. Premature infant pain profile (PIPP) merupakan salah satu skala nyeriyang telah divalidasi.Tujuan Penelitian. Mengetahui efek pemberian 0,5 mL larutan glukosa 30% per oral 2 menit sebelumtindakan terhadap skala PIPP saat pengambilan darah tumit bayi baru lahir.Metode. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda pada bayi baru lahir bugar yang perlupengambilan sampel darah melalui tumit di RSCM. Skala PIPP dilakukan oleh dua penilai secara tersamarberdasarkan rekaman video.Hasil. Tujuh puluh tiga bayi terbagi dalam kelompok intervensi (n=37) dan kontrol (n=35). Rerata nilai skalaPIPP kelompok intervensi lebih rendah dibanding kelompok kontrol oleh kedua penilai, yaitu berturut-turut (4,5± 3,1) dan (6,3 ± 4) dibanding (6 ± 3,1) dan (8,4 ± 4,5) (p < 0,05). Koefisien Kappa antar dua penilai ialah 0,726.Kesimpulan. Pemberian 0,5 mL larutan glukosa 30% per oral 2 menit sebelum pengambilan darah melaluitumit bayi baru lahir dapat mengurangi nyeri. 
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksin Kombinasi DPwT (Sel Utuh) dan Hepatitis B Jong, Diana Mettadewi; Suranto, Adji; Gunardi, Hartono; Tumbelaka, Alan R
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.72-6

Abstract

Indonesia merupakan wilayah dengan endemis tinggi hepatitis B, maka vaksinasi hepatitisB (hep B) merupakan solusi terbaik untuk mencegah penyakit ini. Kombinasi hep Bdengan DPwT (pertusis whole cell) = sel utuh dalam satu kemasan, memberikankenyamanan pada pasien dan memudahkan pelayanan kesehatan. Di samping keuntunganini, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin ini perlu diperhitungkan. Untukmengetahui KIPI vaksin ini, dilakukan studi prospektif pada 74 bayi berumur 2-6 bulandi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta antara Juli 2000 sampai dengan Maret2001. Bayi-bayi tersebut diberi 3 dosis vaksin kombinasi DPT dan hep B (DPwT/hepB) dengan selang waktu 5 minggu. Kartu observasi harian terhadap gejala yang timbulselama 5 minggu pasca imunisasi diisi orangtua dan data dikumpulkan pada kunjunganberikutnya. Umumnya KIPI timbul kurang dalam 72 jam setelah pemberian vaksin.Frekuensi KIPI tersering adalah demam (58,8%) diikuti oleh rewel (31,7%) dan demamtinggi (16,2%). Kejang umum timbul pada 1 kasus setelah pemberian dosis pertamadan pada 1 kasus lain kejang disertai demam tinggi. Setelah pemberian dosis ketigapada kedua kasus tersebut, pasien mendapat antipiretik dan kejang berhenti tanpapengobatan anti kejang. Tidak ditemukan KIPI pada vaksin DPwT/hep B yangmemerlukan perawatan di rumah sakit. KIPI yang didapatkan umumnya bersifat ringansampai sedang.
Co-Authors Abdul Latief Adji Suranto, Adji Akib, Arwin A.P Alan R Tumbelaka, Alan R Alan R. Tumbelaka, Alan R. Alida R Harahap, Alida R Aman B. Pulungan Arfianti Chandra Dewi, Arfianti Chandra Armeilia, Rilie Arwin A. P. Akib, Arwin A. P. Arwin AP Akib, Arwin AP Aryono Hendarto, Aryono Badriul Hegar Bambang Madiyono Bambang Tridjadja, Bambang Basrowi, Ray Wagiu Batubara, Jose R Bernie Endyarni Medise, Bernie Endyarni Bernie Endyarni, Bernie Cissy B. Kartasasmita Corrie Wawolumaya Damayanti Rusli Sjarif Darmawan B. Setyanto, Darmawan B. Darmawan, Anthony C. David H Muljono, David H Diana Mettadewi Jong, Diana Mettadewi Elina Waiman, Elina Eva Devita Harmoniati, Eva Devita Fatmawati, Arie Dian Fatmawaty Fatmawaty, Fatmawaty Firmansyah, Adra Hanifah Oswari Hapsari, Arini Ika Hardiono D Pusponegoro, Hardiono D Harun, Sri Rezeki S Hindra Irawan Satari, Hindra Irawan Imam Budiman Irawan Mangunatmadja, Irawan Ismet N. Oesman Jeane Roos Ticoalu, Jeane Roos Johnson, Ikhsan Jose RL. Batubara, Jose RL. Karyanti, Mulya R. Lily Rahmawati, Lily Liza F Zaimi, Liza F Liza Fitria, Liza M. Tatang Puspanjono, M. Tatang Mardani, Rossy Agus Medise, Bernie E. Medise, Bernie E. Melina, Elizabeth Nadya, Ruth Nastiti Kaswandani Natharina Yolanda, Natharina Nia Niasari, Nia Nugraheni, Resyana P. Nurul Iman Nilam Sari, Nurul Iman Nilam Partini Trihono, Partini Piprim B Yanuarso, Piprim B Pohan, Fathy Pustika Efar, Pustika Rini Sekartini Rismala Dewi Ronny Suwento, Ronny Rosdiana S Tarigan, Rosdiana S Rulina Suradi, Rulina S Ferius, S Shirley Mansur Singgih, Adrian Himawan Soedjatmiko Soedjatmiko Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki Sudigdo Sastroasmoro Sudung O. Pardede, Sudung O. Sukman T. Putra Sukman Tulus Putra, Sukman Tulus Titi S. Sularyo Titis Prawitasari, Titis Tjahjowargo, Sendy Tjhin Wiguna Tjongjono, Bonny Toto Wisnu Hendrarto, Toto Wisnu Turyadi Turyadi, Turyadi Wirahmadi, Angga Yoga Devaera, Yoga Yulianti Wibowo, Yulianti Yulman, Annisa R.