Dida A. Gurnida
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

EVALUASI FUNGSI GINJAL PADA PENYANDANG TALASEMIA-β MAYOR ANAK Manurung, Berton Juniper; Susanah, Susi; Gurnida, Dida A.
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.89-95

Abstract

Latar belakang. Informasi keterlibatan ginjal pada penyandang talasemia-? mayor anak masih sedikit. Disfungsi ginjal dipengaruhi berbagai faktor seperti anemia kronis, hipoksia kronis, dan hemosiderosis. Neutrophil gelatinase associated lipocaline urin (NGALu) merupakan penanda biologis dini yang sensitif dan spesifik terhadap gangguan ginjal. Tujuan. Menilai disfungsi ginjal pada penyandang talasemia-? mayor anak menggunakan NGALu.Metode. Penelitian dengan rancang potong lintang dilaksanakan Oktober?November 2018. Subjek adalah penyandang talasemia ? mayor anak di RS. Hasan Sadikin yang menggunakan kelasi besi deferiprondan dipilih secara consecutive sampling. Heteroanamnesis pada orang tua mengenai riwayat penyakit dan frekuensi transfusi. Terhadap subjek penelitian dilakukan pemeriksaan feritin serum, kreatinin serum, dan NGALu. Uji statistik menggunakan uji korelasi rank Spearman dengan nilai kemaknaan p<0,05.Hasil. Sebanyak 71 subjek yang memenuhi kriteria penelitian, terdiri dari 46 laki-laki dan 25 perempuan. Kadar rerata kreatinin serum 0,38±0,08 mg/dL, median feritin 2897,1 ng/mL, median NGALu 13,8 ng/mL. Peningkatan kadar NGALu ditemukan 11 (15%) subjek. Didapatkan korelasi negatif antara frekuensi transfusi dan kadar NGALu (r= -0,294, p=0,006). Tidak terdapat korelasi baik antara feritin serum dengan kreatinin serum maupun feritin serum dan NGALuKesimpulan. Disfungsi ginjal sudah terindikasi terjadi pada penyandang talasemia-? mayor anak.
Waist circumference and waist-hip ratio as screening tools for hypertension in children aged 6–11 years Istiqomah, Esti; Gurnida, Dida A.; Hilmanto, Dany; Hakim, Dzulfikar Djalil Lukmanul; Fauziah, Prima Nanda
Paediatrica Indonesiana Vol 59 No 5 (2019): September 2019
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.952 KB) | DOI: 10.14238/pi59.5.2019.265-70

Abstract

Background Hypertension in children is associated with obesity. 7 The renin-angiotensin-aldosterone system has been associated with intra-abdominal fat tissue. Anthropometric parameters for determining nutritional status include waist circumference and waist-hip ratio. Many studies have shown that waist circumference and waist-hip ratio are more precise to determine overweight or obese. Objective To determine the usefulness of waist circumference and waist-hip ratio as hypertensive screening tools for children aged 6-11 years. Methods This analytical study with cross-sectional design and multistage cluster sampling method was conducted in August-September 2017 at a primary school in Bandung, West Java, Indonesia. Subjects underwent height, weight, waist circumference, hip circumference, and blood pressure measurements. Receiver operating characteristic (ROC) curve analysis was done to obtain the area under curve (AUC), cut-off point, sensitivity, specificity, and prevalence ratio. Results Subjects were 325 children consisting of 187 males and 138 females. Hypertension was diagnosed in 47 children (37 males and 10 females). Mean waist circumference and waist-hip circumference ratio were significantly higher in the hypertensive group than in the normotensive group. The hypertensive group had a mean waist circumference of 72.6 (SD 12.8) cm, AUC 0.779 (95%CI 0.730 to 0.823; P&lt;0.001), cut-off point &gt;65 cm, sensitivity 66.0%, specificity 76.3%, and prevalence ratio 4.55. This group had mean waist-hip ratio of 0.94 (SD 0.10), AUC 0.724 (95%CI 0.672 to 0.772; P&lt;0.001), waist-hip ratio cut-off &gt;0.91, sensitivity 59.6%, specificity 77.0%, and prevalence ratio 3.73. Conclusion Waist circumference &gt;65 cm or waist-hip ratio &gt;0.91 can be used to screen for hypertension in children aged 6-11 years with negative predictive values of 92.0% and 91.8%, respectively.
Perbandingan Fungsi Kognitif Bayi Usia 6 Bulan yang Mendapat dan yang Tidak Mendapat ASI Eksklusif Novita, Lony; Gurnida, Dida A.; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.429-34

Abstract

Latar belakang. Salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah faktor nutrisi terutamapemberian ASI eksklusif. Hubungan antara ASI eksklusif dan perkembangan kognitif telah diketahui padaanak usia sekolah tetapi pada bayi belum banyak diketahui dan belum ada penelitian yang mengukur IQpada bayi khususnya di Indonesia.Tujuan penelitian. Membandingkan fungsi kognitif bayi berusia 6 bulan yang diberi ASI eksklusi danbukan ASI eksklusif.Metode. Penelitian cohort ini dilakukan pada bulan Mei-Juli 2007. Subjek penelitian bayi usia 4 bulanyang mendapat ASI eksklusif dan noneksklusif yang bertempat tinggal di lingkungan Puskesmas CigondewahBandung diikuti sampai usia 6 bulan. Perkembangan kognitif dinilai dengan skala Griffith dan dikonversikanmenjadi nilai IQ. Dampak ASI eksklusif terhadap perkembangan kognitif dianalisis dengan uji t.Hasil. Dari 86 bayi yang diteliti, 8 bayi drop out, 39 ASI eksklusif dan 39 bayi noneksklusif. Tidak adaperbedaan karakteristik subjek dan karakteristik orangtua subjek. Rata-rata IQ bayi ASI eksklusif 128,3(8,8), rentang IQ bayi ASI eksklusif 112-142 sedangkan bayi ASI noneksklusif rata-rata 114,4 (12,1), rentangIQ 82-137. Kelompok ASI eksklusif IQ di atas rata-rata 32 bayi dan di bawah rata-rata 7 bayi sedangkan ASInoneksklusif IQ di atas rata-rata 19 bayi dan di bawah rata-rata 20 bayi. Pemberian ASI noneksklusif berpeluangterjadinya IQ di bawah rata-rata 1,68 kali lebih besar dibandingkan di atas rata-rata (x2=9,57; p=0,002).Kesimpulan. Dari aspek fungsi kognitif pemberian ASI eksklusif memberikan hasil lebih baik dibandingdengan yang tidak mendapat ASI eksklusif
HUBUNGAN POLA MAKAN DAN POLA AKTIVITAS FISIS DENGAN OBESITAS PADA ANAK Irawati Sjahid, Suzy; Gurnida, Dida A.; Kurnia, Nia
Bionatura Vol 3, No 2 (2001): Bionatura Juli 2001
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.704 KB)

Abstract

Perubahan gaya hidup yang juga berpengaruh terhadap perubahan polakonsumsi pangan dan pola aktivitas fisis menyebabkan prevalensi obesitas padaanak di Indonesia cenderung meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untukmenyelidiki hubungan antara pola makan dan pola aktivitas fisis denganterjadinya obesitas primer pada anak. Penelitian dilakukan pada 122 anak berusia4-12 tahun di Kota Bandung antara bulan Mei dan Juli 2000. Status obesitasditentukan berdasarkan klasifikasi indeks massa tubuh (IMT) dan berat badanterhadap tinggi badan (BBTB). Kepada 122 subjek ini dilakukan wawancara polamakan menurut pola kebiasaan (PK) dan rekaman diet 24 jam (RD) yang meliputiambilan kalori, makronutrien, dan mikronutrien yang dinyatakan dalam persenterhadap angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (KGA) untuk anak, jugawawancara skor aktivitas fisis (SAF) dan rekaman aktivitas fisis harian yangdinyatakn dalam keluaran energi (KE). Hasil penelitian menunjukkan bahwajumlah anak obes adalah sebanyak 81 orang dan non obes 41 orang berdasarkanklasifikasi IMT, sedangkan berdasarkan BB-TB didapatkan anak obes sebanyak 47orang dan non obes 75 orang. Ambilan kalori anak obes lebih besar dari anak nonobes dengan perbedaan sangat bermakna berdasarkan RD baik padapengklasifikasian status obesitas menurut IMT (p=0,0,026) dan BB-TB(p=0,0001). Ambilan makronutrien berdasarkan wawancara PK/RD antara anaknon obes dan obes menurut IMT/BB-TB tidak menunjukkan perbedaan bermakna,baik dalam ambilan karbohidrat, lemak, maupun protein (p.0,05). Hasil ANOVAmenunjukkan bahwa berdasarkan PK dan derajat obesitas IMT, lemak merupakanmakronutrien yang paling berperan (F=3,392; p=0,006) tetapi berdasarkan BBTB,kalori lebih berperan (F=2,557; p=0,042). Berdasarkan RD pada statusobesitas IMT maupun BB-TB, ambilan karbohidrat yang paling erat hubungannyadengan derajat obesitas (F=7,909; p=0,007 dan F=6,928; p=0.010). Ambilanmikronutrien tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara anak non obes danobes (p>0,05), kecuali untuk masukan kalsium berdasarkan PK dan statusobesitas berdasarkan BB-TB (p=0,043). Hasil uji t terhadap aktivitas fisismenunjukkan bahwa anak non obes memiliki SAF lebih tinggi daripada anak obes(p=0,000), dan dengan korelasi Pearson, SAF berkorelasi negatif negatif secarabermakna dengan IMT (r=-0,615; p=0,000). Sementara itu selisih ambil kalori(PK/RD) dan keluaran energi (KE) anak non obes lebih besar daripada anak obespada klasifikasi status obesitas menurut IMT [p=0,001 (PK) dan p=0.0068 (RD)].Pola makan dengan ambilan kalori berlebih dan aktivitas fisis rendahberhubungan dengan terjadinya obesitas pada anak, sedangkan derajat obesitaslebih dipengaruhi oleh ambilan nutrien lemak dan karbohidrat.Kata kunci: Pola makan, pola Aktivitas, obesitas pada anak.
Perbedaan Kadar Vitamin D antara Hipotiroid Kongenital dan Anak Sehat Tamara, Lianda; Gurnida, Dida A.; Fadil, R.M.Ryadi
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.304-7

Abstract

Latar belakang. Pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada anak dengan hipotiroid kongenital ditunjang oleh nutrisi yang seimbang dan adekuat. Salah satu mikronutrien yang dibutuhkan adalah vitamin D. Di Indonesia, belum ada data kadar vitamin D pada anak dengan hipotiroid kongenital.Tujuan. menentukan perbedaan kadar vitamin D antara hipotiroid kongenital dan anak sehat. Metode. Studi comparative dengan rancangan potong lintang kriteria inklusi anak berusia 1 bulan–5 tahun yang tidak mendapat suplementasi vitamin D. Periode penelitian bulan Juli hingga Desember 2015. Pemeriksaan kadar vitamin D dilakukan dengan metode ELISA. Perbedaan kadar vitamin D pada kedua kelompok dianalisis dengan Mann Whitney. Hasil. Didapatkan 70 subjek yang memenuhi kriteria inklusi terdiri atas 35 anak dengan hipotiroid kongenital dan 35 anak sehat. Kadar vitamin D rerata pada kelompok hipotiroid kongenital adalah 85,87 nmol/L dan pada kelompok anak sehat adalah 97,74 nmol/L. Kadar vitamin D pada hipotiroid kongenital berbeda bermakna dengan anak sehat (p<0,001).Kesimpulan. Kadar vitamin D pada hipotiroid kongenital lebih rendah daripada anak sehat. 
Diet-Induced Changes in Serum Ganglioside Spectrum Patterns in 6-Month-Old Infants Gurnida, Dida A.; Idjradinata, Ponpon; Muchtadi, Deddy; Sekarwana, Nanan; Fong, Bertram; McJarrow, Paul; Rowan, Angela; Norris, Carmen
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 4 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human milk contains higher levels of gangliosides when compared to infant formula. Gangliosides play a role in neuronal growth, migration, maturation, sinaptogenesis, and myelination. Seven of the identified gangliosides (GM1, GM2, GM3, GD3, GD1a, GD1b, and GT1b) are dominant gangliosides with different specific functions. Thus, the aim of the study was to understand the effects of ganglioside-enhanced diet and to compare the spectrum patterns of those seven classes of serum gangliosides in infants consuming standard infant formula (IF group), ganglioside-fortified infant formula (GA group) and exclusive breastfeeding (BF group). This study used liquid chromatography–mass spectrometry (LC-MS) method. This was a prospective study involving 30 infants in IF group, 29 in GA group and 32 in BF group. Subject recruitment was performed using consecutive admission  approach from March 2008 to February 2009 in Bandung. Statistical analyses using Wilcoxon test showed that there was a significant change in the spectrum patterns of GD3, GM1, GM2 and GT1b in IF group; of GD1a, GM1 and GM2 in GA group and of GD1a, GD1b, GM1 and GM3 in BF group. It is concluded that ganglioside-enriched diet extends spectrum patterns of gangliosides especially in seven of them, i.e. GM1, GM2, GM3, GD3, GD1a, GD1b, and GT1b, in 6-month old infants. [MKB. 2012;44(4):240–44]..Key words: Gangliosides, human milk, infants, infant formula, LC-MSPerubahan Pola Spektrum Gangliosida Serum yang Diinduksi Makanan pada Bayi Usia 6 BulanAir susu ibu (ASI) mengandung gangliosida yang kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan susu formula. Gangliosida berperan dalam pertumbuhan, migrasi, maturasi saraf, sinaptogenesis, dan mielinisasi. Tidak kurang dari 100 tipe gangliosida telah ditemukan, tujuh di antaranya (GM1, GM2, GM3, GD3, GD1a, GD1b, dan GT1b) merupakan kelas utama dengan fungsi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan diet gangliosida serta membandingkan pola spektrum tujuh kelas gangliosida serum tersebut pada bayi yang mengonsumsi susu formula standar (kelompok infant formula/IF), susu formula difortifikasi gangliosida (kelompok GA), dan ASI eksklusif (kelompok breastfeeding/BF). Penelitian ini menggunakan metode liquid chromatography-mass spectrometry (LC-MS) untuk menghitung kadar ketujuh kelas gangliosida tersebut. Penelitian ini adalah penelitian prospektif yang melibatkan 30 bayi kelompok IF, 29 bayi kelompok GA, dan 32 bayi kelompok BF. Perekrutan subjek penelitian dilakukan dengan cara consecutive admission dari bulan Maret 2008 sampai bulan Februari 2009 di Bandung. Analisis statistik tes Wilcoxon menunjukkan perubahan bermakna pada pola spektrum GD3, GM1, GM2 dan GT1b pada kelompok IF; GD1a, GM1, dan GM2 pada kelompok GA; GD1a, GD1b, GM1, dan GM3 pada kelompok BF. Kesimpulan, penambahan diet gangliosida akan meningkatkan 7 spektrum gangliosida yaitu GM1, GM2, GM3, GD3, GD1a, GD1b, dan GT1b pada anak usia 6 bulan. [MKB.2012;44(4):240–44].Kata kunci: ASI, bayi, gangliosida, LC-MS, susu formula DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n4.217