Articles

Found 40 Documents
Search

Distribusi Simulium Spp. (Diptera: Simuliidae) Pradewasa pada Kualitas Air dan Karakteristik Fisik Sungai Berbeda di Kabupaten Bogor Nur Rustam, Sri Nur Rahmi; Hadi, Upik Kesumawati; Soviana, Susi
Jurnal Veteriner Vol 20 No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.579 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.4.511

Abstract

Simulium (black flies) are vector of Onchocerciasis in humans and animals. Preimaginal Simulium has most typical breeding habitat in clear water with fast-running water. This study aims to analyze the relationship between distribution of preimaginal Simulium with the water quality and the rivers physical characteristics. The study was conducted on October 2018 until January 2019 in three locations namely Cilember 1 and Cilember 2 (forest areas), and Pamijahan (rural area), Bogor Regency, West Java. Preimaginal Simulium collections, water quality, and rivers physical characteristics measurements were carried twice a month during four months. Identification was carried out under a microscope, and the data was analyzed by canonical correspondence analysis (CCA). The results showed that the distribution of preimaginal Simulium species in the forest areas (Cilember 1 and 2) were more diverse than in the rural area (Pamijahan). Seven species of black flies were found in Cilember 1, four species in Cilember 2, and two species in Pamijahan. The most abundance of black fly species found in Cilember 1 was S. (S.) eximium (43.25%), in Cilember 2 was S. (N.) feuerborni (88.71%), and in Pamijahan was S. (S.) nobile (99.12%). Based on CCA preimaginal Simulium species with high diversity were found in the rivers that have high dissolved oxygen (9.35±0.32 mg/L), low temperature (19.94±0.24ºC), low total dissolved solid (17.45±1.90 ppm), low conductivity (25.48±2.34 ?s), and low concentration of Coliform (0.43×103±0.25 cfu/ mL), and the physical characteristics of the rivers were wide (3.68 m), fast running-water (1.00±0.09 m/s), depth more than 0.1 m, and boulder streambed particles.
Evaluasi Piriproksifen dalam Ovitrap untuk Mengendalikan Nyamuk Aedes Spp. pada Skala Semi Lapang (SEMIFIELD SCALE EVALUATIONS OF PYRIPROXYFEN IN OVITRAP FOR CONTROL AEDES SPP. MOSQUITOES) Karmila, Mila; Hadi, Upik Kesumawati; Tiuria, Risa
Jurnal Veteriner Vol 20 No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.22 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.4.471

Abstract

Ovitrap is an alternative mosquito control method that used to reduce the population of Aedes spp, vector of dengue hemorrhagic fever. This study aims to evaluate pyriproxyfen in ovitrap to control Aedes spp through the mechanism of autodissemination by these mosquitoes on a semifield scale. The research was carried out from August to October 2018 in the outdoor environment of Braja Mustika Bogor Hotel. Ovitrap used consist of two types, namely In2Care traps the which contained insecticide of pyriproxyfen, Beauveria bassiana and yeast, (2) the standar ovitraps (without insecticide). In2Care trap (30 pieces) was installed with a distance of 400 m2/trap, while the standard ovitrap (10 pieces) with a distance of 4 m randomly around In2Care trap. Observations were conducted once a week for two months. The parameter observed in In2Care trap was the number of larvae and pupae Aedes spp, which live and dead. The observations on standard ovitrap were the presence of Aedes spp eggs, the number of larvae pupae and adults that eclosed. The results showed that the In2Care traps effectively attracted Aedes spp to laid eggs and breed (86.7-100.0%). The number of larvae observed in In2Care trap ranged from 10-50 larvae (33.380.0%) and all larvae that developed in In2care trap (100%) died after being kept in the laboratory for two months. The results of observations on standard ovitraps showed that there were dead pupae (22.7-80.8%) and adults that failed eclotion (22.6-83.6%) during 2 months of observation. The results showed that there was the effective mechanism of pyriproxyfen autodissemination by Aedes spp from In2Care traps to standard ovitraps when laying their eggs.
Ragam Jenis dan Aktivitas Mengisap Darah Lalat Stomoxys spp di Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor Afriyanda, Wendi; Hadi, Upik Kesumawati; Soviana, Susi
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 7 No. 1 (2019): Januari 2019
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.505 KB) | DOI: 10.29244/avi.7.1.37-45

Abstract

Keberadaan Stomoxys spp (lalat kandang) pada peternakan sapi perah memiliki dampak negatif seperti penurunan produktivitas susu dan bobot badan, dan sebagai vektor penularan patogen penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan aktivitas mengisap darah lalat kandang. Lalat dikoleksi dengan menggunakan vavoa trap yang ditempatkan di luar peternakan sapi perah dan juga dilakukan pengamatan aktivitas mengisap darah lalat pada tubuh sapi selama 12 jam (06.00-18.00). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada empat spesies dari genus Stomoxys, yaitu, Stomoxys calcitrans (90.5%), S. sitiens (5,05%), S. indicus (3,57%), dan S. bengalensis (0,88%). Aktivitas mengisap darah lalat Stomoxys spp sangat berfluktuasi di setiap jam pengamatan, mulai pukul 06.00-07.00 WIB, kemudian meningkat pada setiap jam, dan puncak aktivitas mengisap darah pada pukul 15.00-16.00 WIB. Hasil uji korelasi Pearson antara curah hujan dan aktivitas mengisap darah Stomoxys spp menunjukkan korelasi yang tinggi, tetapi tidak signifikan (R-0,922 dan nilai p=0,253>0,05) karena waktu penelitian tidak lama.
Aktivitas Larvasida Biji Bengkuang sebagai Insektisida Nabati terhadap Larva Lalat Crysomya bezziana Mustika, Aulia Andi; Hadi, Upik Kesumawati; Wardhana, April Hari; Rahminiwati, Min; Wientarsih, Ietje
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 4 No. 2 (2016): Juli 2016
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.789 KB) | DOI: 10.29244/avi.4.2.68-73

Abstract

Bengkuang merupakan salah satu tanaman obat yang berpotensi sebagai bioinsektisida. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas biji bengkuang sebagai insektisida nabati terhadap larva lalat Crysomya bezziana (C. bezziana) agen penyebab miasis secara in vitro. Penelitian ini terbagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Masing-masing sebanyak 20 Larva instar 1 (L1), Larva instar 2 (L2), dan Larva instar 3 (L3) C.bezziana digunakan untuk pengujian in vitro menggunakan pot plastik yang berisi media larva dan ekstrak ethanol biji bengkuang dengan konsentrasi bertingkat 0,06, 0,12, dan 0,25%. Coumaphos 0,06% dan akuades steril digunakan sebagai kontrol positif dan negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi 0,25% mampu menyebabkan 100% kematian larva dan 100% pupa tidak menetas. Pengujian L3 menunjukkan bahwa ekstrak ethanol biji bengkuang mampu menyebabkan penurunan daya tetas pada semua konsentrasi. Pengujiaan L1 dan L2 untuk mengindikasikan efektifi tas ekstrak sebagai racun perut, sedangkan pengujian pada L3 sebagai indikasi racun kontak. Biji bengkuang memiliki daya larvasida terhadap beberapa jenis larva serangga C. bezziana.
Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Sukabumi Berdasarkan Kondisi Iklim Hidayati, Lisa; Hadi, Upik Kesumawati; Soviana, Susi
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 5 No. 1 (2017): Januari 2017
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.789 KB) | DOI: 10.29244/avi.5.1.22-28

Abstract

Demam berdarah dengue (BDB) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari famili Flaviridae yang ditularkan oleh serangga (arthropod borne virus = arbovirus) melalui perantara utama nyamuk Aedes aegypti. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim dengan kejadian DBD di Kota Sukabumi. Data iklim merupakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Klimatologi Meteorologi dan Geofisika wilayah II Dramaga. Sedangkan data kasus DBD diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Sukabumi. Data dianalisa menggunakan analisis correlation pearson product moment dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian tentang faktor iklim menunjukkan bahwa ada hubungan antara suhu udara dengan kasus DBD di kota Sukabumi di tahun 2010-2015, tetapi tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor iklim (curah hujan, dan kelembaban) dengan tingkat kejadian DBD karena data tidak dikumpulkan untuk jangka waktu yang cukup lama. Hasil ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam program pengendalian masa depan untuk Ae. aegypti, karena bisa dilakukan untuk meramalkan waktu pengendalian dan manajemen pengendalian yang efektif.
Pemanfaatan ovitrap dalam pengukuran populasi Aedes sp. dan penentuan kondisi rumah Hidayati, Lisa; Hadi, Upik Kesumawati; Soviana, Susi
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 14, No 3 (2017): November
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.946 KB) | DOI: 10.5994/jei.14.3.126

Abstract

Kejadian demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengamatan selama kurun waktu 20 sampai 25 tahun sejak awal ditemukan kasus DBD menyatakan bahwa angka kejadian luar biasa DBD mengalami peningkatan setiap lima tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mempelajari keanekaragaman nyamuk Aedes di kota Sukabumi, 2) mengukur populasi Aedes sp. berdasarkan jumlah telur dan indeks ovitrap, dan 3) mengetahui hubungan indeks ovitrap dengan kondisi rumah. Telur Aedes sp. dikumpulkan dari 14 kelurahan di Kota Sukabumi yang memiliki angka insiden tertinggi, mulai dari bulan Mei 2015 hingga Agustus 2015. Pengumpulan telur dilakukan dengan cara memasang perangkap telur (ovitrap) sebanyak 230 buah di 115 rumah (di dalam dan di luar rumah). Hasil pengumpulan ovitrap menunjukan jumlah telur yang diperoleh dari ovitrap di dalam rumah 3 kali lebih banyak dibandingkan dengan telur dari ovitrap di luar rumah  (1307 banding 429). Nyamuk Ae. aegypti ditemukan pada ovitrap di dalam rumah dan Ae. albopictus pada ovitrap di luar rumah. Indeks ovitrap di dalam rumah mencapai 60%, atau 1,6 kali lebih banyak dibandingkan dengan indeks ovitrap di luar rumah (37%). Rumah dengan ventilasi dan sanitasi buruk berisiko 3,09 kali meningkatkan angka indeks ovitrap. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dasar bagi masyarakat untuk meningkatkan kebersihan lingkungan melalui pengurangan tempat perindukan nyamuk sehingga menurunkan kejadian DBD.
Pengaruh penggunaan repelen masal jangka panjang pada suatu pemukiman terhadap keberadaan nyamuk Aedes aegypti (L.) (Diptera: Culicidae) Hadi, Upik Kesumawati; Sigit, Singgih Harsoyo; Gunandini, Dwi Jayanti; Soviana, Susi; Sugiarto, Sugiarto
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 5, No 1 (2008): April
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.754 KB) | DOI: 10.5994/jei.5.1.27

Abstract

A Study of The Effect of Mass Treatment of Repellent on Aedes aegypti (L.) (Diptera: Culicidae). Larval populations was carried out during 14 week period at Laladon village Bogor. A total of 3684 respondents were treated and 202 houses were surveyed for house index (HI), container index (CI), and breteau index (BI). The results showed that long-term mass treatments were effective to decrease 64.85% of the HI, 27.15% CI and 13.57% of BI, up to three weeks after the last application of the repellent. Final checks which were done four weeks later resulted HI as low as 13.86%, CI 7.68%, and BI 3.84%, compared to those at the beginning of the survey which were 73.27%, 31.87% and 15.93%, respectively.
FORMULASI LARVASIDA NABATI BERBASIS MINYAK BIJI KAMANDRAH (Croton tiglium L.) TERSTANDAR SEBAGAI PENCEGAH PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE Winoto, Evul; Iswantini, Dyah; Batubara, Irmanida; Hadi, Upik Kesumawati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 2 (2013): Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Balittro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKamandrah (Croton tiglium L.) merupakan tanaman obat yang banyak terdapat di Kalimantan. Biji kamandrah banyak dimanfaatkan sebagai obat pencahar, racun ikan, dan pembunuh jentik nyamuk. Penelitian ini bertujuan mendapatkan formula minyak biji kamandrah untuk larvasida nabati yang efektif, aman dan mendapatkan minyak kamandrah terstandar sebagai bahan baku larvasida nabati. Analisis fisiko kimia minyak biji kamandrah hasil budidaya di Sukabumi memberikan hasil kadar air 0,33%, keasaman 0,09%, viskositas 4,1 cP, berat jenis 0,9425 g ml-1, indeks bias 1,4788 serta kadar asam lemak bebas 1,65%. Hasil uji ini lebih baik dibanding dengan tanpa budidaya dari Kalimantan dan Sukabumi. Uji menggunakan spektrofotometri menunjukkan kandungan piperine minyak biji kamandrah hasil budidaya Sukabumi sebesar 0,046%; tanpa budidaya dari Sukabumi dan Kalimantan masing-masing 0,043% dan 0,037%. Kandungan piperine berpengaruh terhadap hasil uji efikasi larva nyamuk Aedes aegypti instar III, nilai LC50 pengamatan 24 jam minyak kamandrah hasil budidaya Sukabumi sebesar 114,4 ppm, minyak kamandrah tanpa budidaya dari Sukabumi dan Kalimantan masing-masing 125,2 dan 212,9 ppm. Formulasi larvasida metode granulasi basah terhadap minyak biji kamandrah hasil budidaya Sukabumi menunjukkan, kandungan minyak kamandrah 15% dengan emulsifier gom arab memberikan hasil paling efektif dengan nilai LC50 24 jam sebesar 210,01 ppm. Uji stabilitas formula larvasida nabati minyak biji kamandrah yang disimpan pada temperatur 30, 40 dan 50oC selama 28 hari menunjukkan tidak ada perubahan fisik pada granul. Selama penyimpanan terjadi peningkatan kandungan piperine dalam formula larvasida antara 0,6-234%. Uji durabilitas formula larvasida terhadap larva A. aegypti menunjukkan penurunan potensi larvasida sampai di bawah 50% pada hari ke 12 setelah aplikasi.Kata kunci: Croton tiglium, larvasida nabati, standarisasi, formulasi
Aktivitas nokturnal vektor demam berdarah dengue di beberapa daerah di Indonesia Hadi, Upik Kesumawati; Soviana, Susi; Gunandini, Dwi Djayanti
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 9, No 1 (2012): April
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.347 KB) | DOI: 10.5994/jei.9.1.1

Abstract

The continous presence of dengue virus infection presents a serious health problem in many tropical areas of the world because of the severe and often fatal disease in children. Dengue viruses are transmitted to human through the biting of infected mosquitoes, especially Aedes aegypti and Aedes albopictus. This paper reported the nocturnal of biting activity of Ae. aegypti and Ae. albopictus in several areas of Indonesia. Natural population of Aedes was collected by bare leg collection and resting collection from 18:00 to 06:00 out door and indoor. The biting activities of Ae. aegypti and Ae. albopictus occurred throughout the night from 18:00 to 05:50 out door and indoor in Cikarawang, Babakan, and Cibanteng Kabupaten Bogor (2004); Cangkurawuk Darmaga Bogor (2005, 2007); Pramuka island, Pari island, Kepulauan Seribu (2008); Gunung Bugis, Gunung Karang, Gunung Utara Balikpapan (2009); and Kayangan, Lombok Utara (2009). These results showed that the biting activities of Ae. aegypti dan Ae. albopictus did not only occur diurnally but also nocturnally.
Epidemiology of Japanese–B– encephalitis infection in pigs in Riau and North Sumatera Provinces Sendow, Indrawati; Syafriati, Tatty; Hadi, Upik Kesumawati; Malole, Martin; Soviana, Susi; ., Darminto
Indonesian Journal of Animal and Veterinary Sciences Vol 8, No 1 (2003)
Publisher : Indonesian Animal Sciences Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.336 KB) | DOI: 10.14334/jitv.v8i1.374

Abstract

Epidemiology study on Japanese-B-Encephalitis (JE) was conducted in Riau and North Sumatera Provinces. A total of 190 pig sera from Riau Province and 164 pig sera from North Sumatera were tested using competitive ELISA (C-ELISA) to detect antibodies against JE virus. Insect collection was also conducted using several methods near pig farms in those provinces and identified into species to gain more information on its role to distribute JE infection. Serological results indicated that 70% pig in Sumatera and 94% pig in Riau had antibodies against JE virus. The highest prevalence of reaktor was detected in pig of more than 4 months age in both Provinces. The results of insect collection showed that Culex tritaeniorchynchus and Culex quinquefasciatus were the most dominant species in both provinces. Based on serological testing, indicated that JE virus infected pig in Sumatera and Riau Provinces, and higher reactor was obtained in older pig. Culex tritaeniorchynchus and Culex quinquefasciatus were the dominant insect species in both provinces, hence those species had a possibility to play an important role of JE transmission.   Key words: JE, pigs, serology, insects