Yani Hadiroseyani
Bogor Agricultural University, Department of Aquaculture

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

CONTROL OF POLYCHAETES BY DIPPING INFECTED PEARL OYSTER ON DIFFERENT SALINITY Hadiroseyani, Yani; Iswadi, .; Djokosetyanto, Daniel
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.703 KB) | DOI: 10.19027/jai.3.47-49

Abstract

Dip treatment on pearl oysters (Pinctada maxima) was conducted in different concentrations of saline water to eliminate boring polychaetes. Results shows that polychaetes leave the osyters which treated on saline water at 0 ppt, 45 ppt, and 60 ppt as long as 15 minutes each. It also shows that the oysters got high survival rate 7 days after the treatment. Key words : Polychaetes, pearl oyster, dipping, salinity   ABSTRAK Pengendalian polikaeta pengebor dengan menggunakan berbagai konsentrasi larutan garam telah dilakukan pada tiram mutiara (Pinctada maxima). Berdasarkan jumlah polikaeta yang keluar, hasil percobaan ini menunjukkan bahwa perendaman dengan konsentrasi garam 0 ppt. 45 ppt, dan 60 ppt selama 15 menit lebih efektif dibandingkan pada konsentrasi 15 dan 30 ppt. Tingkat kelangsungan hidup tiram mutiara yang diamati 7 hari setelah perendaman dalam larutan garam mencapai 100%. Kata kunci : Polikaeta. tiram mutiara, perendaman. salinitas
PARASITES IN FRESH WATER ORNAMENTAL FISH (CUPANG, GUPPY AND RAINBOW FISH) Alifuddin, M.; Hadiroseyani, Yani; Ohoiulun, I.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.159 KB) | DOI: 10.19027/jai.2.93-100

Abstract

Parasite inventory on some fresh water ornamental fish was done by survey methode. Parasites found from cupang fish namely Trichodinid (Ciliophora), Dactylogyrus sp. and Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes), Acanthocephala and cystic form; in guppy fish Trichodinid (Ciliophora), Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes) and Lerneae sp. (Crustasea); on rainbowg found Trichodinid (Ciliophora), Dactylogyrus sp., Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes), Acanthocephala, Lerneae sp. (Krustasea) and cystic form. Parasites found known as ecto, meso and endoparasites. From this study, there is correlation between parastes present with length fish. Key word : Fish water ornamental fish, fish parasites   ABSTRAK Inventarisi parasit telah dilakukan dengan metode survey pada ikan hias air tawar yakni, ikan cupang (Betta splendens Regan), ikan gapi (Poecilia reticulata Peters) dan ikan rainbow (Melanotaenia macculochi Ogilby). Pada ikan cupang ditemukan parasit Trichodinid (Ciliophora), Dactylogyrus sp. dan Gyrodaclylus sp. (Platy-helminthes), Acanthocephala dan kiste); pada ikan gapi ditemukan Trichodinid (Ciliophora), Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes) dan Lerneae sp. (Krustasea); pada ikan rainbowg ditemukan parasit Trichodinid (Ciliophora), Dactylogyrus sp., Gyrodaclylus sp. (Platyhelminthes), Acanthocephala, Lerneae sp. {Krustasea) dan kista. Parasit yang ditemukan tergolong ekto, meso dan endoparasit. Dari penelitian ini terlihat adanya hubungan keberadaan parasit dengan ukuran panjang ikan. Kata kunci: Ikan hias air tawar, parasit ikan
INCREASING OF C/N RATIO WITH ADDITION OF TAPIOCA STARCH IN OLIGOCHAETES CULTURE SUBSTRATE Hadiroseyani, Yani; Puspitasari, Ardina; Budiardi, Tatag
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043.447 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.144-150

Abstract

ABSTRACT This study was aimed to improve the productivity of sludge worm (Oligochaetes) in culture systems using the addition of tapioca flour to the substrate to increase C/N ratio up to 10, 20, and 30. The substrate used was a mixture of mud and chicken manure with a ratio of 1:1 on the container measuring 100×12×15 cm3. Culture system used was a recirculation system. Initial stock of the worm was at density 150 g/m2. Results showed the highest population and biomass of the worm in each treatments was occurred on tenth day. The highest density of sludge worm, i.e. 421,145 ind/m2 with total biomass of 1,497.80 g/m2, was obtained on the treatment of C/N ratio at 20 (P <0.05). Keywords: Oligochaetes, C/N ratio, tapioca starch, recirculation system  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas cacing sutra (Oligochaeta) pada sistem budidaya dengan memperbaiki kualitas substrat cacing menggunakan penambahan tepung tapioka sehingga mencapai rasio C/N 10, 20, dan 30. Substrat yang digunakan yaitu campuran lumpur tanah dan kotoran ayam dengan perbandingan 1:1 pada wadah budidaya berukuran 100×12×15 cm3. Sistem budidaya yang digunakan yaitu sistem resirkulasi. Cacing dibudidayakan pada padat penebaran 150 g/m2. Hasil menunjukkan puncak populasi dan biomassa cacing sutra terjadi pada hari kesepuluh. Kepadatan cacing tertinggi, yaitu 421.145 ind/m2 dengan biomassa 1.497,80 g/m2, diperoleh pada perlakuan penambahan tepung tapioka dengan C/N rasio 20 (P<0,05). Kata kunci: cacing sutra, rasio C/N, tepung tapioka, sistem resirkulasi
THE POTENTIAL OF OLIGOCHAETA AS INTERMEDIATE HOST OF MYXOSPOREA PARASITE IN COMMON CARP (CYPRINUS CARPIO LINNAEUS) Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.853 KB) | DOI: 10.19027/jai.2.37-39

Abstract

Three genera of oligochaeta, i.e. Branchiura sowerbyi, Limnodrillus sp. and Lumbriculus sp. were fed on spores of Myxobolus artus before predated to juvenile of Cyprinus carpio. Spores of myxosporean were found on the fish, which get Limnodrillus. But those spores show different characters from spores of M. artus. Key words: Myxosporean, Myxobolus artus, oligochaeta, Branchiura sowerbyi, Limnodrillus, Lumbriculus, Cyprinus carpio   ABSTRAK Spora Myxobolus artus yang berasal dari ikan mas ditularkan kembali melalui rantai makanan kepada ikan mas berumur 50 hari. Inang antara yang digunakan adalah oligocheta jenis Branchiura sowerbyi, Limnodrillus sp. dan Lumbriculus sp.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa ikan mas yang mendapat Limnodrillus terinfeksi oleh myxosporea yang berbeda dari M.artus. Kata kunci: Myxosporea, Myxobolus artus, oligochaeta, Branchiura sowerbyi, Limnodrillus, Lumbriculus, Cyprinus carpio
BUSINESS EVALUATION OF PANGASIONODON HYPOPHTHALMUS NURSERY IN SUKAMANDIJAYA VILLAGE, SUBANG Budiardi, Tatag; Rolin, Febrina; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2916.78 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.152-162

Abstract

ABSTRACT Nursery business of 1-inch Siam-catfish in Sukamandijaya Village has been conducted based on experience and no information was available regarding to its economical efficiency. The purpose of this study was to evaluate the production performance and input optimalization to maximize profit. The methods used in this study was survey with purposive sampling, while production performance asessment was carried out by direct observations. Economic data were analyzed using Cobb-Douglas production function. Number of fish farmer respondens in this survey was 21 respondents. The volume of nursery tanks were about 3,188?9,860 L at stocking density of 15?47 fish/L. The average of absolute length growth, survival, and daily weight growth rate were 2.77±0.19 cm, 56.04±1.07 %, 27.96±1.09 % respectively. Based on the analysis, the optimal input was at the stocking density of 80 larvae/L and sludge worm density of 0.0919 kg/L.Keywords: input optimalization, maximum profit, production performance, nursery, Siam-catfish ABSTRAK Usaha pendederan ikan patin ukuran 1-inci di Desa Sukamandijaya masih berdasarkan pengalaman dan tidak tersedia informasi mengenai efisiensi ekonomi usaha ini. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja produksi dan optimalisasi input produksi untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal. Survei dilakukan menggunakan metode purposive sampling dan parameter kinerja produksi diperoleh melalui pengamatan langsung. Data ekonomi dianalisis menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. Jumlah responden pembudidaya pada penelitian ini adalah sebanyak 21 responden. Volume wadah pendederan berkisar 3.188?9.860 L dengan padat tebar berkisar 15?47 ekor/L. Pertumbuhan panjang mutlak rata-rata ikan patin sebesar 2,77±0,19 cm, tingkat kelangsungan hidup sebesar 56,04±1,07 %, dan laju pertumbuhan bobot harian sebesar 27,96±1,09%. Berdasarkan analisis, penggunaan input yang optimal adalah padat tebar 80 ekor/L untuk larva dan pakan berupa cacing sutra dengan kepadatan 0,0919 kg/L. Kata kunci: optimalisasi input, keuntungan maksimal, kinerja produksi, pendederan, ikan patin
PARASITES INFESTATION ON JUVENILE TIGER GROUPER (EPINEPHELUS FUSCOGUTTATUS) NURSED IN NET CAGE AT SEA FARMING INSTALATION KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA Hadiroseyani, Yani; Effendi, Irzal; Rahayu, Agnis Murti; Arianty, Heni Sela
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.144 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.140-145

Abstract

This study was aimed to identify fauna parasite of juvenile tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) on the two locations of floating net at Floating Net Sea Farming Center, Pulau Seribu Jakarta. A total of five tiger grouper fry from each location, checked every two weeks during the nursery period in August-September 2008 and June-August 2009. Parasites of young tiger grouper found were protozoa (Trichodina and myxosporea), monogenea Diplectanum, metaserkaria digenea, and isopods Alitropus. Diplectanum infestation was dominant with prevalence reached 100% and the average intensity of 2,87-72,8. Fish nursed in the Perairan Pulau Semak Daun was more susceptible compared to the fish nursed in Pulau Karang Congkak. Keywords: tiger grouper, parasite, infestation, Seribu Island. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit yang menyerang benih kerapu macan pada masa pendederan dalam karamba jaring apung di dua lokasi Karamba Jaring Apung Balai Sea Farming, Kepulauan Seribu, yaitu di Perairan Pulau Semak Daun dan Perairan Pulau Karang Congkak. Sebanyak 5 ekor benih kerapu macan dari masing-masing lokasi, diperiksa setiap minggu selama dua periode pendederan pada bulan Agustus-September 2008 dan bulan Juni-Agustus 2009. Fauna parasit benih kerapu macan pada masa pendederan dalam jaring apung tersebut meliputi protozoa (Trichodina dan myxosporea), monogenea Diplectanum, metaserkaria digenea, dan isopoda Alitropus. Diplectanum merupakan parasit yang mendominasi dengan prevalensi mencapai 100% dan intensitas rerata 2.87?72,8. Pada Perairan Pulau Semak Daun lebih banyak ditemukan jenis parasit dengan prevalensi dan intensitas yang cukup tinggi dibandingkan dengan Perairan Pulau Karang Congkak.Kata kunci: ikan kerapu macan, parasit, infestasi, Pulau Seribu.
EFEKTIVITAS SALINITAS AIR DALAM MENINGKATKAN SINTASAN BELUT MONOPTERUS ALBUS DAN PENGARUHNYA TERHADAP PROFITABILITAS PENJUALAN BELUT HIDUP Diatin, Iis; Hadiroseyani, Yani; Astuti, Danfi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.14.3.2019.163-171

Abstract

Belut (Monopterus albus) merupakan ikan air tawar konsumsi hasil tangkapan dari perairan umum yang dijual dalam keadaan hidup dengan harga tinggi dan permintaan yang terus meningkat. Aktivitas penangkapan, transportasi, dan penampungan menimbulkan kematian yang cukup banyak sehingga mengurangi stok dan nilai penerimaan penjualan belut. Penanganan belut pasca-penangkapan dalam air salin dapat menekan tingkat kematian belut, namun dampaknya terhadap keuntungan bisnis belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penampungan dalam air salin terhadap sintasan dan keuntungan usaha penjualan belut hidup. Penelitian dilakukan pada pedagang besar belut hidup di Jawa Tengah yang memperoleh pasokan belut dari berbagai lokasi di Jawa. Belut uji yang diperoleh dari tiga lokasi yaitu Ciamis, Jawa Barat; Cilacap, Jawa Tengah; dan Lumajang, Jawa Timur; masing-masing ditampung terpisah dan dipelihara selama enam hari dalam air tawar (salinitas 0 g/L) dan air tawar yang ditambah garam krosok pada konsentrasi 6 g/L. Hasil menunjukkan bahwa penampungan selama seminggu dalam salinitas 6 g/L menghasilkan tingkat sintasan belut 1,6 kali dibandingkan dengan penampungan dalam air tawar pada semua lokasi asal belut. Sintasan yang lebih tinggi tersebut meningkatkan nilai penerimaan dan keuntungan usaha.Asian swamp eel (Monopterus albus) is a highly-priced freshwater fish collected from natural waters and sold alive in the market with an ever-increasing demand. Fishing methods, transportation, and holding of live eels before being sold frequently result in significant mortality, which eventually reduces the sales revenue from the business. However, post-capture handling of the eel using saline water could reduce the mortality rate, but the impact on business profits has never been determined. This study was aimed to determine the effects of water salinity on the survival of the eels during the holding period and calculate the profit gain from live eel sales. The research was carried out in the facility of a wholesaler of live Asian swamp eel in Central Java which received eel supply from various locations in Java. The samples of eels were originated from three locations, namely Ciamis, West Java; Cilacap, Central Java; and Lumajang, East Java. The eels were placed in separate containers filled with: fresh water (salinity 0 g/L) and freshwater added with salt at concentration 6 g/L for six days. The results showed that six days holding period in salinity of 6 g/L resulted in a higher survival rate of the eels up to 1.6 times compared to the freshwater. This higher survival has increased the revenues and profitability of the live eels sales.
THE PHENOTYPE OF DIPLOID AND TRIPLOID F1 OF FEMALE KOHAKU AND SANKE KOI WITH MALES WHITE AND RED KOI Alimuddin, .; Sumantadinata, K.; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.578 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.97-100

Abstract

ABSTRACTThis study was done to discover the effect of addition of chromosome number on phenotype F1 hybrid of females kohaku (white-red) and sanke (white-red-black) koi with males white and red koi. The white and red males koi were the F1 of gynogenesis. Spawning of koi was done by hormonal (ovaprim 0,5 ml/kg body weight) and fertilization was done artificially. Triploidization was done by heat shock at 40°C during 1,0-1,5 minutes after 2-3 minute from egg fertilization. Colour analysis was done on 4 months old fish. Triplodization was succeeding on 86,67%.  Addition of chromosome number on koi due to triploidization was suppressed the percentage of koi with combination color (kohaku, shiro-bekko, hi-utsuri, and sanke). It was seen on hybridization of sanke vs white koi as much as 5,55%, while on sanke vs red koi reached 45,02%. Hybridization of kohaku vs white koi as well as kohaku vs red koi produced higher percentages of kohaku compared to kohaku vs kohaku.Key words: Phenotype, diploid, triploid, koi fish, hybrid, chromosome AbstrakStudi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan jumlah set kromosom terhadap fenotipe keturunan persilangan ikan koi kohaku (putih-merah) dan sanke (putih-merah-hitam) betina dengan jantan putih dan merah. Ikan koi jantan putih dan merah merupakan hasil ginogenesis generasi pertama. Pemijahan ikan koi dilakukan dengan rangsangan hormonal ovaprim 0,5 ml/kg induk dengan sistim pembuahan buatan. Triploidisasi dilakukan dengan memberikan kejutan panas 400C selama 1,0-1,5 menit pada saat 2,0-3,0 menit setelah pembuahan telur. Analisis warna dilakukan setelah ikan berumur 4 bulan. Tingkat keberhasilan triploidisasi yang diperoleh cukup tinggi, yaitu sebesar 86,67%. Penambahan jumlah set kromosom ikan koi akibat triploidisasi menurunkan persentase ikan koi yang berwarna kombinasi (putih-merah, putih-hitam, merah-hitam dan putih-merah-hitam) sebesar 5,55% untuk persilangan sanke vs putih, dan 45,02% untuk persilangan sanke vs merah. Tingginya penurunan koi warna kombinasi diduga disebabkan adanya dominansi warna tertentu, misalnya dominansi warna hitam yang persentasenya meningkat sebesar 31,7% pada persilangan sanke vs merah. Pada persilangan kohaku dengan koi putih dan dengan koi merah, persentase kohaku lebih besar daripada perkawinan normal kohaku yang diperoleh pada tahap pertama. Persentase kohaku dari perkawinan normal kohaku hanya sebesar 18,6%, sedangkan kohaku vs putih atau dengan merah adalah sekitar 27% untuk triploidisasi dan 33% untuk persilangan  normal. Tingkat kelangsungan hidup ikan normal lebih besar daripada ikan hasil triploidisasi, kecuali persilangan sanke vs putih.Kata kunci : Fenotipe, diploid, triploid, ikan koi, hibrid dan kromosom
PHENOTYPE OF THE FIRST GENERATION OF KOI HIBRIDIZATION Sumantadinata, K.; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.605 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.93-96

Abstract

ABSTRACTThis experiment was conducted to study phenotype of F1 koi that were obtained from hybridization. Females koi that was used for this experiment were white-red koi, red-black koi, and white-black koi; whereas males used white-red koi, red-black koi, white-black koi and white-red-black. Spawning for hybridization was done using hormonal stimulation with 0.5 ml ovaprim/kg body weight, and fertilization were artificially performed. Analysis on body coloration was carried out at three months old fish. Normal F1 of white-red koi as well red-black koi produced three kind of koi, while white-black koi produced seven kind of koi, i.e. white koi, red koi, black koi, white-red koi, white-black koi, red-black koi and white-red-black koi. Hybridization of those koi produced seven kind of koi such as normal F1 of white-black koi.Key word :  Koi fish, phenotype, hybridization, first generation (F1) ABSTRAKStudi tentang genotipe keturunan pertama ikan koi hasil hibridisasi telah dilakukan di Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika Ikan, Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Ikan koi betina yang dipakai adalah ikan koi putih-merah, merah-hitam dan putih-hitam, sedangkan jantannya adalah putih-merah, merah-hitam, putih-hitam dan putih-merah-hitam. Ikan-ikan tersebut diperoleh dari teknik ginogenesis. Pemijahan untuk persilangan antar jenis ikan koi dilakukan dengan rangsangan hormonal ovaprim 0,5 ml/kg, dan pembuahan dilakukan secara buatan. Analisis warna pada ikan dilakukan setelah ikan berumur 3 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan normal koi putih-merah maupun merah hitam masing-masing menghasilkan tiga tipe warna (dua warna polos dan satu warna kombinasi) sedangkan koi putih-hitam menghasilkan tujuh tipe warna. Perkawinan silang antara ketiga ikan tersebut menghasilkan tujuh warna yang sama dengan keturunan normal merah-hitam, yaitu putih, merah, hitam, putih-merah, putih-hitam, merah-hitam dan putih-merah-hitam.Kata kunci :  Ikan koi, fenotip, hibridisasi, turunan pertama (F1)
PHENOTYPE OF THE FIRST GYNOGENESIS GENERATION OF KOI Alimuddin, ,; Sumantadinata, K.; Hadiroseyani, Yani; Irawan, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.035 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.65-68

Abstract

ABSTRACTThis experiment was conducted to study phenotype of F1 koi that obtained from gynogenesis at the Laboratory of Fish Genetic and Breeding, Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University (IPB). Females koi used for this experiment were kohaku (white-red), hi-utsuri (red-black), and shiro-bekko (white-black); whereas males used kohaku, hi-utsuri, and shiro-bekko. Analysis on body coloration of fish was carried out at three months old. Results showed that gynogenesis from kohaku produced three types of koi, those were white koi, red koi and kohaku, and hi-utsuri produced red koi, black koi and hi-utsuri. Meanwhile, shiro-bekko by gynogenetic technique produce seven types of koi; those were white, red, black, kohaku, shiro-bekko, hi-utsuri and sanke (white-red-black koi). Survival rate of gynogenetic koi was lower then normal might be due to inbreeding stress.Key words :  Gynogenesis, phenotype, koi fish (Cyprinus carpio). ABSTRAKStudi tentang fenotip keturunan pertama ikan koi hasil ginogenesis telah dilakukan di Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika Ikan, Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Ikan koi betina yang dipakai adalah kohaku (putih-merah), hi-utsuri (merah-hitam) dan shiro-bekko (putih-hitam), sedangkan jantannya adalah kohaku, hi-utsuri, dan shiro-bekko. Analisis warna pada ikan dilakukan setelah ikan berumur tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ginogenesis pada ikan kohaku menghasilkan tiga jenis ikan koi, yaitu koi putih, koi merah dan kohaku; pada ikan hi-utsuri dihasilkan ikan koi merah, koi hitam dan hi-utsuri. Sementara itu, teknik ginogenesis untuk ikan koi putih-hitam dihasilkan tujuh macam jenis ikan koi, yaitu koi putih, koi merah, koi hitam, kohaku, hi-utsuri, siro-bekko dan sanke (putih-merah-hitam). Tingkat kelangsungan hidup ikan ginogenetik lebih rendah daripada kontrol normalnya.Kata kunci :  Ginogenesis, fenotip, ikan koi (Cyprinus carpio)