- Haeruddin
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 22 Documents
Articles

Found 22 Documents
Search

ANALISIS KONSENTRASI KADMIUM (CD) DAN TIMBAL (PB) PADA AIR DAN IKAN DARI PERAIRAN SUNGAI WAKAK KENDAL Marwah, Rieza Ayu; Supriharyono, -; Haeruddin, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan industri dan meningkatnya kegiatan manusia, khususnya sepanjang aliran sungai Wakak Kendal saat ini dapat memacu terjadinya pencemaran. Hal ini bisa menjadi berbahaya jika konsentrasi logam berat pada ikan melebihi tingkat nilai ditoleransi , sehingga menjadi berbahaya bagi manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi kandungan logam berat Cd dan Pb di perairan dan ikan konsumsi di sungai Wakak, Kendal. Informasi ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengevaluasi apakah ikan layak untuk dikonsumsi manusia berdasarkan konsentrasi logam berat dibandingkan dengan standar dari Depkes dan FAO. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014. Sampel air dan ikan dari perairan sungai Wakak diambil dari tiga stasiun dengan masing-masing tiga kali pengulangan kemudian dilakukan uji logam berat menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy). Hasil penelitian menujukan seluruh sampel air tercemar logam berat melebihi nilai baku mutu yang ditetapkan berdasarkan PP. Nomor 82 Tahun 2001. Kontaminasi logam berat Kadmium (Cd) sebesar <0,01 mg/kg sedangkan konsentrasi logam berat Pb terkecil pada ikan adalah 0,61 mg/kg dan tertinggi adalah 2,08 mg/kg maka hasil tersebut menunjukan bahwa telah melebihi nilai ambang batas konsumsi yang ditetapkan berdasarkan SNI 7387:2009 yaitu sebesar 0,3 mg/kg dan berdasarkan Departemen Kesehatan sebesar 2 ppm.The growth of industry and human activities alongside in the river especially in Wakak River Kendal can increase water pollution caused by heavy metal. This could be hazardous if the heavy metal concentration in the fish exceeds the level of tolerable values, thus becoming harmful to humans being. This study aims to assess the concentration of the heavy metals cadmium and lead in the water and fish of Wakak River Kendal. The information is expected to be beneficial in evaluating whether the fish is healthy enough for human consumption or not based on its concentration of heavy metals compare to the standards from Indonesian Health Department and FAO. This research was conducted in September 2014. The heavy metals such as cadmium and lead were analyzed using the AAS(Atomic Absorption Spectroscopy). Water and fish samples were taken from three different sampling points for three time of each. The result shows all of the water samples were contaminated by heavy metal, exceed of the limit value from Indonesian government regulations No. 82 of  2001. Heavy metal contamination of Cadmium ( Cd ) of < 0.01 mg / kg , while the smallest Pb concentrations of heavy metals in fish is 0.61 mg / kg and the highest was 2.08 mg / kg, these results indicate that it has exceeded the threshold value of consumption defined by ISO 7387 : 2009 in the amount of 0.3 mg / kg and by the Ministry of Health is 2 ppm.
SEBARAN SPASIAL DAN TEMPORAL FENOL, KROMIUM DAN MINYAK DI SEKITAR SENTRA INDUSTRI BATIK KABUPATEN PEKALONGAN Saraswati, Yustiara Widya; Haeruddin, -; Purwanti, Frida
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi fenol, kromium dan minyak serta sebarannya secara spasial dan temporal di sekitar sentra industri batik dalam air Sungai Bremi Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2013 di Sungai Bremi Kabupaten Pekalongan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, sedangkan pengambilan sampel menggunakan metode composite sample yang merupakan penggabungan sampel air agar mendapatkan sampel sehomogen mungkin sehingga sampel dapat mewakili kualitas perairan sesungguhnya. Penelitian ini menggunakan materi air Sungai Bremi dan data citra Landsat 8 Jawa Tengah, materi utama adalah air Sungai Bremi yang kemudian dilihat konsentrasi dari fenol, kromium dan minyak yang terdapat pada sampel. Sebaran spasial dari konsentrasi fenol, kromium dan minyak dapat dilihat menggunakan ER-Mapper 7.0. Pengambilan sampel dilakukan di 3 stasiun, dimana pada setiap stasiun terdapat 3 titik sampling.Hasil penelitian konsentrasi fenol Sungai Bremi bulan Mei dan Juni berkisar antara 0-0,031 mg/l, konsentrasi kromium 0,0005 mg/l dan konsentrasi minyak bulan Mei dan Juni berkisar antara 3,6-23,6 mg/l. Sebaran spasial dan temporal fenol  tertinggi bulan Mei terdapat pada stasiun 1 sedangkan sebaran spasial dan temporal tertinggi fenol bulan Juni di stasiun 2. Sebaran spasial dan temporal minyak tertinggi bulan Mei dan Juni  terdapat pada stasiun 3, sedangkan sebaran spasial dan temporal kromiun dikatakan konstan karena konsentrasi tiap titiknya sama.
PENGARUH PENGELOLAAN KUALITAS AIR TERHADAP TINGKAT KELULUSHIDUPAN DAN LAJU PERTUMBUHAN UDANG VANAME (LITOPENAEUS VANNAMEI) DI PT. INDOKOR BANGUN DESA, YOGYAKARTA Fuady, Muhammad Faiz; Haeruddin, -; Nitisupardjo, Mustofa
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya pengelolaan kualitas air yang baik dapat menjaga kualitas air agar sesuai dengan baku mutu dan dapat meningkatkan produktivitas tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengelolaan kualitas air pada proses budidaya udang vaname yang di lakukan oleh PT. Indokor dan mengetahui pengaruh pengelolaan kualitas air terhadap laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan udang vaname . Penelitian ini  dilaksanakan pada bulan September - November 2012. Hasil yang diperoleh melalui pengukuran kualitas air pada budidaya intensif adalah kadar oksigen terlarut berkisar antara 3,9 - 7,8 mg/l, kadar karbondioksida bebas berkisar antara 2,6 ? 5,1 mg/l, nilai pH berkisar antara 6,47 ? 7,65, nilai suhu berkisar antara 24 0C  ? 29 0C, nilai kecerahan berkisar antara 20 ? 39 cm, nilai salinitas berkisar 15 ? 19 ppt,  nilai kandungan nitrit berkisar 0,010  ? 0,052 mg/l, dan nilai kandungan amonia berkisar 0,006  ? 0,017 mg/l. Kemudian rata-rata nilai laju pertumbuhan udang adalah 0,24 gram/hari dan tingkat kelulushidupan sebesar 84 %. Sedangkan pada budidaya semi intensif di peroleh  kadar oksigen terlarut berkisar antara 1,8 ? 3,5 mg/l, kadar karbondioksida bebas berkisar antara 4,9 ? 6,6 mg/l, nilai pH berkisar antara 5,63 ? 6,64, nilai suhu berkisar antara 26 0C  ? 29 0C, nilai kecerahan berkisar antara 15 ? 39 cm, nilai salinitas berkisar 16 ? 18 ppt. Kemudian rata-rata nilai laju pertumbuhan udang adalah 0,18 gram/hari dan tingkat kelulushidupan sebesar 75 %. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya pengelolaan kualitas air yang baik pada budidaya intensif di PT. Indokor dapat meningkatkan nilai paramater kualitas air, laju pertumbuhan serta tingkat kelulushidupan udang vaname (Litopenaeus vannamei).
BIOKONSENTRASI BAHAN ORGANIK PADA BERBAGAI UKURAN CANGKANG KIJING (ANODONTA WOODIANA) DI BALAI BENIH IKAN SIWARAK UNGARAN, SEMARANG Pramesti, Dian Tri; Haeruddin, -; Rudiyanti, Siti
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anodonta woodiana merupakan salah satu biota biofilter yang mampu menyerap bahan pencemar yang ada di dalam perairan salah satunya adalah bahan organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat konsentrasi bahan organik dalam jaringan lunak pada berbagai ukuran cangkang dan melihat nilai faktor biokonsentrasi bahan organik pada kerang. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium. Rancangan percobaan adalah rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 penggulangan. Proses biokonsentrasi berlangsung selama 96 jam dalam akuarium (panjang 50 cm, lebar 30 cm dan tinggi 20 cm) dan air yang digunakan adalah air kolam budidaya di Balai Benih Ikan (BBI) Siwarak, Ungaran. Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah rata-rata konsentrasi bahan organik dalam jaringan lunak kijing setelah perlakuan biokonsentrasi adalah cangkang ukuran kecil 56,27 %, cangkang ukuran sedang 44,15 % dan cangkang ukuran besar 34,24 %. Rata-rata hasil faktor biokonsentrasi bahan organik pada jaringan lunak kijing adalah sebagai berikut: kerang ukuran kecil 781.705,1, kerang ukuran sedang 224.512,8 dan kerang ukuran besar 310.721,5. Terdapat perbedaan laju biokonsentrasi bahan organik antara ukuran cangkang kecil dan cangkang besar dimana cangkang lebih kecil memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan cangkang besar.   Anodonta woodiana is one of biofilter biota, that can absorb pollutants in the waters including organic matter. The purpose of this study were to determine organic matter content on the soft tissue and bioconcentration factor of total organic matter in various sizes of Anodonta woodiana shells. The study was conducted in the laboratory. Experimental design was a completely randomized design with 3 treatments and 3 repetation. Bioconcentration process lasts for 96 hours in aquarium (50 cm long, 30 cm wide and 20 cm high) and water medium used is water from aquaculture pond in the Hatchery (BBI) Siwarak, Ungaran. The results obtained in this study is the average concentration of organic matter in the soft tissues of Anodonta woodiana after bioconcentration at the small size shell 56,27%, medium size 44,15% and large size 34,24%. Average bioconcentration factor of organic matter results in soft tissue of Anodonta woodiana are as follows: 781,705.1 at the small size shells, 224,512.8 medium size and 310,721.5 large size. There are different value of organic matter bioconcentration between smalls size shells and large size shell in which the small shell has higher concentration value than the large size shell.
DISTRIBUSI DAN KEANEKARAGAMAN MAKROZOOBENTOS PADA LAHAN PENGEMBANGAN KONSERVASI MANGROVE DI DESA TIMBUL SLOKO KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK Purba, Hotri Enty; Djuwito, -; Haeruddin, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sayung adalah salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Demak yang terletak di daerah pesisir utara pulau Jawa. Makrozoobentos merupakan salah satu biota dalam ekosistem perairan sehubungan dengan peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring makanan. Makrozoobentos dapat ditemukan pada berbagai substrat sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan keanekaragaman makrozoobentos dan mengidentifikasi kondisi makrozoobentos pada lahan konservasi mangrove. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2015. Sampling dilakukan dengan menarik line sepanjang 30 m tegak lurus garis pantai dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling. Pengambilan data dari 3 stasiun dengan jarak 10 m antar stasiun, dilakukan pengamatan makrozoobentos dengan menggunakan kuadran transek 1 x 1 m, dan pengukuran kualitas air di 3 stasiun sampling. Jenis makrozoobentos yang ditemukan di lokasi penelitian adalah Cerithidea cingulata, Terebralia semistriata, T. sulcata, Telescopium telescopium, T. palustris, Natica gualteriana, Nereis sp, Capitella sp, Polynoe sp. Nilai presentase kelimpahan relatif yaitu stasiun 1 99,6%, stasiun 2 99,4% dan stasiun 3 99,9%. Nilai indeks keanekaragam yang diperoleh yaitu stasiun 1 sebesar 1,415 dengan stasiun 2 sebesar 1,703 dan stasiun 3 sebesar 2,097. Nilai indeks keseragaman yang didapatkan adalah pada stasiun 1 sebesar 0,727, stasiun 2 sebesar 0,775 dan pada stasiun 3 sebesar 0,954. Sedangkan nilai indeks dominasi yang diperoleh adalah stasiun 1 sebesar 0,289, pada stasiun 2 sebesar 0,232 dan stasiun 3 sebesar 0,13. Tingkat keanekaragaman makrozoobentos yang ditemukan cukup beragam. Kondisi makrozoobentos kemungkinan cukup baik, mendapat kategori sedang dengan kondisi tekanan ekologis penunjang cukup seimbang. Sayung is one of Subdistrict in the Demak Regency that located at the north coast regions of Java. Macrozoobentos is one of the most important group in an ecosystem waters related to their role as key, in a food chain. Macrozoobentos can live and found in various types of substrate, sediment. This research aims to know the distribution and diversity macrozoobentos on mangrove and to identify  condition of macrozoobentos on mangrove. The research was conducted in March 2015. Sampling was done by drawing a line of 30 m long across perpendicular to the shoreline using Purposive Random Sampling. Data collected from 3 station in distance 10 m lines to the observation macrozoobentos using 1 x 1 m quadran transect and measuring the water quality in the 3 sampel points. Type of macrozoobentos that found in locations Cerithidea cingulata, Terebralia semistriata, T. sulcata, Telescopium telescopium, T. palustris, Natica gualteriana, Nereis sp, capitella sp, polynoe sp. The percentage values of relative abundance is 99,6 % Station 1, Station 2 is 99.4 % and Station 3 is 99.9 %. Index Diversity and obtained at the station 1 is 1,415 and a station 2 is 1,703 for  stations 3 amounting to 2,097. Equitability index obtained at Station 1 ia 0727, Station 2 ia 0775 and on Station 3 is 0954. While the value of domination index is stations 1 0,289, on station 2 is 0,232 and stations 3 is 0.13. Macrozoobentos diversity levels found  are quite diverse. Macrozoobenthos state good possibility for life macrozoobentos, got the medium category with supporting ecological pressure conditions fairly balanced.
JENIS KEPITING BAKAU (SCYLLA SP.) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN LABUHAN BAHARI BELAWAN MEDAN Hia, Putri March F; Hendrarto, Boedi; Haeruddin, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Labuhan Bahari Belawan Medan merupakan sebuah pulau yang terletak di Selat Malaka, Sumatera Utara. Salah satu sumberdaya perikanan di perairan tersebut adalah kepiting bakau, namun informasi  mengenai kepiting bakau pada daerah ini masih kurang terutama jenis spesiesnya. Tujuan dari penelitian yang dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2012 ini adalah untuk mengetahui jenis dan morfologi kepiting bakau, kelimpahan yang mendominasi, dan mengetahui ekonomi kepiting bakau di perairan Labuhan Bahari Belawan Medan. Kepiting yang diteliti adalah kepiting bakau yang tertangkap di wilayah mangrove dan sekitar tambak yang ditumbuhi mangrove. Sampling dilakukan dengan alat tangkap bubu oleh masyarakat sekitar dinamakan bubu planet. Kepiting yang tertangkap diidentifikasi dan dilakukan pengukuran morfometrik kemudian menganalisa data yang didapatkan, dan wawancara nelayan untuk mengetahui nilai ekonomi kepiting bakau tersebut. Jumlah spesies kepiting bakau yang ditemukan  adalah 3 spesies yaitu Scylla tranquebarica, Scylla serrata dan Scylla paramamosain, dengan kelimpahan yang mendominasi adalah Scylla tranquebarica sebesar 54,72%, Scylla paramamosain sebesar 33,96%, dan Scylla serrata sebesar 11,32% di stasiun I (di kawasan mangrove), sedangkan di stasiun II (di luar kawasan mangrove) Scylla serrata 45,76%, Scylla tranquebarica sebesar 33,98%, dan Scylla paramamosain sebesar 15,25%. Kepiting bakau yang biasanya dipasarkan adalah kepiting yang memiliki berat ?200 gram per ekor baik jantan maupun betina.
STATUS PENCEMARAN SUNGAI WAKAK KENDAL DITINJAU DARI ASPEK TOTAL PADATAN TERSUSPENSI DAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS Yasir, Muhammad; Haeruddin, -; Suryanto, Agung
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Wakak merupakan perairan penerima limbah dengan volume cukup besar. Hal ini disebabkan adanya berbagai aktivitas ?penyumbang? limbah yang terdapat di kawasan ini, seperti kegiatan industri, pertanian, pemukiman, dan pertambakan. Peristiwa ini menyebabkan erosi, abrasi dan sedimentasi yang  berdampak pada kehidupan biota perairan khususnya makrozoobentos dan kultivan pada tambak yang memanfaatkan pengairan  Sungai Wakak . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi total padatan tersuspensi terhadap struktur komunitas makrozoobentos, serta status pencemaran Sungai Wakak. Metode sampling yang digunakan adalah sistematic sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada tiga stasiun yang berbeda selama tiga kali waktu sampling dimana stasiun 1 berada didaerah hulu sungai, stasiun 2 berada dilokasi yang terdekat dengan aktivitas masyarakat dan industri, dan stasiun 3 berada di hilir sungai yang dekat dengan muara . Hasil rata-rata konsentrasi total padatan tersuspensi antar waktu dan antar lokasi terendah yaitu sebesar 540 mg/l dan tertinggi sebesar 920 mg/l. Nilai kelimpahan individu dan kelimpahan relatif tertinggi yaitu makrozoobentos jenis Floridobia dengan KI 784 ind/m3. Indeks keanekaragaman (H?) tergolong rendah (tercemar sedang), indeks keseragaman (e) masuk dalam kategori tinggi. Indeks dominansi (D) mendekati nilai nol yang berarti tidak ada spesies yang mendominasi. Sedangkan berdasarkan analisis data dalam aspek Kurva ABC Makrozoobentos, diperoleh hasil bahwa perairan tersebut dalam kategori tercemar berat. Konsentrasi total padatan tersuspensi dapat berpengaruh terhadap struktur komunitas makrozoobentos meskipun dalam hal ini jumahnya sangat kecil. Berdasarkan konsentrasi total padatan tersuspensi dan kurva ABC makrozoobentos, Sungai Wakak termasuk sungai golongan tercemar berat. Wakak river is a large volume of water waste disposite. Various 'contributor' activities which are contained in this area are industrial activities, agricultural, domestic, and aquaculture. Real effects arising from such activities in the form of river pollution and erosion as well as the river bank abrasion. This causes the sedimentation process that impact on the aquatic biota, especially macrozoobenthos. The purpose of this study was to determine the effect of the concentration of total suspended solids makrozoobentos community structure and Wakak River pollution status. The sampling method is systematic sampling method. This study was conducted at three different stations during the three sampling times where first station located in the upstream of the river, second location is located in the closest area of the community and industrial activities, and third station is located in the downstream near the estuary. The average of total suspended solids concentration over time and between the lowest locations is in the amount of 540 mg/l and the highest was 920 mg/l. Abundance of individual values and the highest relative abundance of macrozoobenthos kind of Floridobia with KI 784 ind/m3. Diversity index (H') is low (modaretely polluted), uniformity index (e) included in the high category. The Dominance index (D) was nearly zero, which means there is no dominated species. Based on the concentration of total suspended solid and the macrozoobenthos ABC curve, the results showed that the water is highly polluted. The concentration of total suspended solids can affect the community structure of macrozoobenthos although in this case the amount is very small. Based on the concentration of total suspended solids and macrozoobenthos ABC curve, River Wakak is highly polluted.
STATUS PENCEMARAN SUNGAI PLUMBON DITINJAU DARI ASPEK TOTAL PADATAN TERSUSPENSI DAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS Khaeksi, Indraswari Putri; Haeruddin, -; Muskananfola, Max Rudolf
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Plumbon merupakan salah satu sungai di kota Semarang, yang terletak di Mangunharjo, Mangkang, Semarang. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui konsentrasi Total Padatan Tersuspensi, struktur komunitas makrozoobentos, hubungan antara TSS dan makrozoobentos dan mengetahui status pencemaran sungai Plumbon Semarang. Metode sampling yang digunakan yaitu metode sistematic sampling. Zat Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid) adalah semua zat padat atau partikel-partikel seperti pasir, lumpur dan tanah liat yang tersuspensi didalam air dan dapat berupa komponen hidup. Konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) yang diperoleh pada 3 kali sampling adalah pada sampling I diperoleh rata - rata sebesar 257,78 mg/l ±136,84, pada sampling II diperoleh rata - rata sebesar 200 mg/l ± 118,51 dan pada sampling III diperoleh rata - rata sebesar 400 mg/l ±146,67. Ditinjau dari kurva ABC maka sungai Plumbon masuk ke dalam kategori sungai yang tercemar sedang hingga berat. Uji korelasi yang dilakukan antara TSS dengan Kelimpahan Individu menghasilkan korelasi negatif kuat, begitu pula pada uji korelasi TSS dengan keanekaragaman makrozoobentos yang menghasilkan korelasi negatif kuat. Plumbon river is located in Mangunharjo, Mangkang, Semarang. This research was conducted to study the concentration of Total Suspended Solid, macrozoobenthos community structure, the relationship between TSS and macrozoobenthos and the status of Plumbon river pollution. Sampling method used is systematic sampling method. Total Suspended Solid is all solids or other particles like sand, mud, and clay that are suspended in the water and can be biotic components. Average of Total Suspended Solid (TSS) concentration obtained from every station with 3 times sampling are: station I is 257,78 mg/l ±136,84, station II is 200 mg/l ± 118,51, and station III is 400 mg/l ±146,67. Based on ABC curve, Plumbon river is categorized as moderately to heavily polluted river. Correlation test conducted between TSS and individual abundance shows a strong and negative correlation, similarly with the correlation test between TSS and macrozoobenthos diversity that shows a strong and negative correlation.           
TINGKAT PENCEMARAN DETERJEN PADA SEDIMEN MENGGUNAKAN INDIKATOR KIMIA-BIOLOGI DI SUNGAI SAYUNG Putri, Dwi Santi; Haeruddin, -; Purnomo, Pujiono Wahyu
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini tingkat pencemaran air mengalami peningkatan secara tajam seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Zat pencemar yang berasal dari deterjen ini masuk ke lingkungan perairan dan akan tersebar ke air, terabsorsi oleh biota laut serta terakumulasi dalam sedimen. Oleh karena itu perlunya penelitian tentang tingkat pencemaran deterjen pada sedimen mengunakan indikator kimia dan biologi. Tujuan dari penelitian ini antara lain mengetahui konsentrasi deterjen didalam sedimen, KR dan H? makrozoobentos, mengkaji hubungan antara konsentrasi deterjen didalam sedimen dengan kelimpahan individu makrozoobentos dan menentukan tingkat pencemaran sedimen berdasarkan konsentrasi deterjen dan struktur komunitas makrozoobentos. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik penentuan lokasi pengambilan sampel Purposive sampling. Sampling dilakukan dua kali dengan 2 kali pengulangan. Pengukuran konsentrasi deterjen dalam sedimen, identifikasi makrozoobentos Setelah dilakukan identifikasi dan penghitungan jumlah spesies, selanjutnya dilakukan perhitungan nilai Kelimpahan individu dan Kelimpahan Relatif (KR), Indeks Keanekaragaman (H?), Indeks Keseragaman (e), serta Indeks Dominasi (D). Hasil nilai konsentrasi deterjen  pada sampling I dan II yaitu stasiun 1 berkisar 0,18 ? 5,53 mg/kg, stasiun 2 berkisar 47,21 ? 123,17 mg/kg, stasiun 3 berkisar 2,30 ? 5,50 mg/kg, stasiun 4 0,02-0,96 mg/kg. Nilai KR pada stasiun 1 sampling I dan II adalah 87% dan 94%; stasiun 2 sampling I dan II adalah 97% dan 98%; stasiun 3 sampling I dan II adalah 88%, dan 82%; stasiun 4 sampling I dan II adalah 46% dan 43%. Nilai H? stasiun 1 sampling I dan IIadalah 0,44 dan 0,25; stasiun 2 sampling I dan II adalah 0,14 dan 0,09;  stasiun 3 sampling I dan II adalah 0,51 dan 0,49; stasiun 4 sampling I dan II adalah 1,49 dan 1,28. Kesimpulan yang didapat yaitu sedimen sungai Sayung tercemar oleh deterjen, struktur komunitas makrozoobentos dengan melihat indeks keanekaragaman berkisar 0,14 ? 1,49 yang menunjukkan bahwa kemampuan perairan sungai Sayung untuk mendukung kelangsungan hidup makrozoobentos tergolong rendah dan dilihat kondisi kestabilan suatu komunitas dalam keadaan tidak stabil.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN IKAN SAPU-SAPU (HYPOSTOMUS PLECOSTOMUS) UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS AIR LIMBAH PENGOLAHAN IKAN (BERDASARKAN NILAI BOD, COD, TOM) Nugroho, Arif Aji; Rudiyanti, Siti; Haeruddin, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menjamurnya industri-industri baik skala rumah tangga atau skala nasional meningkatkan pencemaran yang ditimbulkan dari proses produksi industri tersebut. Meningkatnya pencemaran lingkungan mendorong beberapa penelitian yang membahas mengenai penanganan pencemaran lingkungan. Salah satu nya adalah upaya mengurangi pencemaran dengan menggunakan biota air. Penelitian ini menggunakan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) untuk mereduksi bahan pencemar organik. Parameter penelitian ini mengacu pada nilai Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD) dan Total Organic Matter (TOM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ikan sapu-sapu (H. plecostomus) mereduksi bahan pencemar organik limbah cair industri pengolahan ikan (Konsentrasi BOD5, COD,dan TOM). Selain itu juga untuk mengetahui apakah perbedaan ukuran ikan sapu-sapu (H. plecostomus) mempengaruhi besarnya penurunan bahan pencemar organik yang direduksi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perikanan dan Lingkungan Universitas Diponegoro pada bulan Maret-April 2014. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratoris, rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancang Acak Lengkap). Perlakuan yang diuji pada penelitian ini adalah memberikan ikan dengan ukuran kecil, sedang, dan besar. Hasil yang dilihat dari penelitian ini adalah membandingkan konsentrasi BOD, COD dan TOM pada awal penelitian dan akhir penelitian. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu (H. plecostomus) dapat menurunkan konsentrasi ketiga parameter dan meningkatkan kualitas air limbah tersebut. Konsentrasi BOD turun rata-rata 30,13%, nilai COD turun rata-rata 35,06% dan TOM turun rata-rata 29,09%. Hasil ANOVA one-way hasil menunjukkan bahwa perbedaan ukuran tidak berpengaruh nyata terhadap besarnya nilai penurunan dari ketiga parameter. Ikan sapu-sapu (H. plecostomus) dapat menurunkan konsentrasi BOD, COD dan TOM meskipun efektivitasnya kecil.  The widespread of Industry, whether the household scale or national scale, the effect is very well economically, so as to increase the national income. Not only that the effects of industrial development, the increase in industrial means increases the level of pollution caused by the industrial production process. The increases of environmental pollution has prompted some research that discuss about handling of environmental pollution. One of them is an effort to reduce pollution by using water biota. This research uses Sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) to reduce organic pollutants. Parameters of this study refers to the value of Biological Oxigen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), and Total Organic Matter (TOM). This study aims to knowing the capability of Sapu-sapu (H. plecostomus) in reducing organic pollutants of liquid waste by industrial fish processing (The concentration of BOD5, COD, and TOM). In addition, to determine whether differences in sapu-sapu?s size (H. plecostomus) affects the magnitude of decrease in organic pollutants reduced. This research was conducted in the Laboratory of Fisheries and Environmental Resource Management, University of Diponegoro in March-April 2014. This research is a laboratory experimental research, experimental design used was CRD (Completely Randomized Design). The treatments tested in this research is by using a fish with small, medium, and large. The results which seen from this study was to compare the concentrations of BOD, COD, and TOM at baseline and end of study. The results of this study indicate that Sapu-sapu (H. plecostomus) can reduce the value of these three parameters and increase the quality of the waste water. BOD concentration down an average of 30.13%, COD values down an average of 35.06%, and the average TOM down 29.09%. Having analyzed using one-way ANOVA analysis, the results indicate that the difference in size does not significantly affect the magnitude of the decrease in the value of the three parameters. Sapu-sapu (H. plecostomus) can decrease the concentration of BOD, COD, and TOM although a small effectiveness.