Al Hafiz
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengaruh Radioterapi Terhadap Kadar TSH dan T4 pada Pasien Tumor Ganas Kepala dan Leher Chandra, Ade; Rahman, Sukri; Hafiz, Al; Decroli, Eva; Bachtiar, Hafni
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.248 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i2.238

Abstract

Latar belakang: Tumor ganas kepala dan leher adalah tumor ganas yang berasal dari epitel traktus aerodigestif atas. Radioterapi adalah salah satu modalitas talaksana pada tumor ganas kepala dan leher. Kelenjar tiroid akan terpapar radioterapi selanjutnya merangsang terjadinya kelainan pada kelenjar tiroid. Hipotiroid merupakan efek samping yang paling umum terjadi akibat radioterapi. Diagnosis hipotiroid ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium yaitu didapatkan peningkatan TSH dan penurunan T4. Tujuan: Mengetahui pengaruh radioterapi terhadap kadar TSH dan T4 pasien tumor ganas kepala dan leher di RSUP Dr. M. Djamil, Padang. Metode: Analitik cross sectional dengan desian pre and post test only pada                            10 responden tumor ganas kepala dan leher. Sampel berupa darah vena yang dihitung kadar TSH dan T4 menggunakan alat Vidas 3. Data dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil analisis statistik dinyatakan bermakna bila didapatkan hasil p<0,05. Hasil: Nilai rerata kadar TSH sebelum dan setelah radioterapi didapatkan 0,57 ± 0,512 µIU/ml. Nilai rerata kadar T4 sebelum dan setelah radioterapi didapatkan 0,721 ± 0,508 µg/dL. Uji t bepasangan didapatkan peningkatan rerata kadar TSH setelah radioterapi dengan p = 0,004 yang menunjukkan peningkatan bermakna rerata kadar TSH setelah radioterapi dan didapatkan penurunan rerata kadar T4 setelah radioterapi dengan p = 0,001 yang menunjukkan penurunan bermakna rerata kadar T4 setelah radioterapi. Kesimpulan: Terdapat peningkatan bermakna rerata kadar TSH serta penurunan rerata kadar T4 sebelum dan setelah radioterapi pada pasien tumor ganas kepala dan leher walau belum melewati nilai normal.ABSTARCTBackground: Head and neck cancers are malignancies that originate from upper aerodigestive tract epithelium. Radiotherapy is one of the modalities treatments for head and neck cancer. Thyroid glands which exposed by radiotherapy, furthermore can induce abnormalities. Hypothyroid is a most common abnormality that occur after radiotherapy. Diagnosis hypothyroidism can be established through laboratory examination that is obtained an increased levels of TSH and decreased levels of T4. Purpose: To determine effect radiotherapy on levels of TSH and T4 in patients with head and neck cancer in Dr. M. Djamil Hospital, Padang.     Methods: Cross sectional analytic study with pre and post test only on 10 respondents with head and neck cancer. Samples taken from venous blood then TSH and T4 were counted with Vidas 3. Data was analyzed with paired t-test. The statistical result was significant with p<0,05.             Result: Mean value of TSH before and after radiotherapy is 0,57 ± 0,512 µUI/ml. Mean value of T4 before and after radiotherapy is 0,721 ± 0,508 µg/dL. From paired t-test resulted an increase of TSH mean value after radiotheraphy with p = 0,004 which implies a significant enhancement of TSH mean value after radiotheraphy and decreasing T4 mean value after radiotheraphy with p = 0,001 which implies a significant deflation of T4 mean value after radiotheraphy. Conclusions: There was significant enhancement of TSH mean and significant deflation of T4 mean value before and after radiotherapy on patients with head and neck cancer even still within normal value.  Keywords: Radiotheraphy, TSH, T4, head and neck cancer.
Kelainan Hemostasis pada Leukemia J Budiman, Bestari; Hafiz, Al
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Leukemia adalah penyakit keganasan pada jaringan hematopoietik yang ditandai denganpenggantian elemen sumsum tulang normal oleh sel darah abnormal atau sel leukemik. Salah satu manifestasi klinisdari leukemia adalah perdarahan yang disebabkan oleh berbagai kelainan hemostasis.Kelainan hemostasis yang dapat terjadi pada leukemia berupa trombositopenia, disfungsi trombosit,koagulasi intravaskuler diseminata, defek protein koagulasi, fibrinolisis primer dan trombosis. Patogenesis danpatofosiologi kelainan hemostasis pada leukemia tersebut terjadi dengan berbagai mekanisme.Kata kunci: leukemia, kelainan hemostasisAbstractBackground: AbstractLeukemia is a malignancy of hematopoietic tissue which is characterized bysubstituted of bone marrow element with abnormal blood cell or leukemic cell. One of clinical manifestation ofleukemia is bleeding that is caused by several hemostasis disorders.Hemostasis disorders in leukemia such asthrombocytopenia, platelet dysfunction, disseminated intravascular coagulation, coagulation protein defect, primaryfibrinolysis and thrombosis. Pathogenesis and pathophysiology of thus hemostasis disorders in leukemia occur withdifferent mechanism.Keywords: leukemia, hemostasis disorder
Prosedur penatalaksanaan celah bibir inkomplit bilateral dan rinoplasti primer dengan modifikasi mulliken Hafiz, Al; Grecwin, Debby Apri
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 49, No 1 (2019): Volume 49, No. 1 January-June 2019
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.752 KB) | DOI: 10.32637/orli.v49i1.280

Abstract

Latar belakang: Celah bibir dengan atau tanpa celah lelangit merupakan abnormalitas perkembangan kraniofasial yang paling sering terjadi. Kelainan ini bisa unilateral atau bilateral, dan mungkin disertai dengan anomali kongenital lain. Celah bibir bilateral berpotensi mengubah struktur dan bentuk wajah serta menyebabkan gangguan dalam perkembangan makan, bicara, gigi geligi, dan kosmetik. Celah bibir selalu disertai dengan deformitas hidung, termasuk pada kasus celah bibir inkomplit. Mulliken adalah pionir yang melakukan perbaikan celah bibir bilateral dan rinoplasti primer dalam satu tahap operasi. Tujuan: Mengetahui keberhasilan operasi celah bibir inkomplit bilateral dan rinoplasti primer dengan teknik modifikasi Mulliken. Laporan kasus: Dilaporkan satu kasus celah bibir inkomplit bilateral pada anak laki-laki usia 7 bulan yang ditatalaksana dengan teknik modifikasi Mulliken. Metode: Telaah literatur berbasis bukti mengenai perbaikan celah bibir inkomplit bilateral dan rinoplasti primer dengan teknik modifikasi Mulliken melalui database Cochrane library, Pubmed Medline, dan hand searching. Hasil: Pertumbuhan nasal tip projection, nasal width, columellar length, upper lip height, cutaneous lip height, dan vermilion-mucosal height mendekati nilai normal. Kesimpulan: Prosedur celah bibir inkomplit bilateral disertai rinoplasti primer dengan teknik modifikasi Mulliken memberikan hasil yang baik. Introduction: Cleft lip with or without cleft palate is the most common disorder of craniofacial development. This disorder could be occurred unilaterally or bilaterally, and sometimes were also accompanied by other type of congenital disorders. Bilateral cleft lip potentially could change the face structure and shape, causing interference in eating, speech, dental development, and aesthetics. Cleft lip always occurred with nasal deformity, even in incomplete cleft lip. Mulliken is a pioneer in performing a repair in bilateral cleft lip and primary rhinoplasty altogether at the same time. Purpose: To find out the result of surgery procedure in bilateral incomplete cleft lip and primary rhinoplasty using Mulliken modification technique. Case report: A bilateral incomplete cleft lip case in a 7 months old boy and managed by Mulliken modification technique. Method: Evidence based literature study of bilateral incomplete cleft lip and primary rhinoplasty with Mulliken modification technique through Cochrane library, Pubmed Medline, and hand searching. Result: The growth of nasal tip projection, nasal width, collumellar length, upper lip height, cutaneus lip height, and vermilion mucous height were close to normal size. Conclusion: Procedure of bilateral incomplete cleft lip and primary rhinoplasty repair using Mulliken modification technique delivered a good outcome.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Tragus Asesorius dan Stenosis Liang Telinga pada Hemifasial Mikrosomia Hafiz, Al; Munilson, Jacky; Huriyati, Effy; Edward, Yan; Rachman, Sylvia; Yudhistira, Gunawan
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak           Hemifasial mikrosomia (HFM) adalah diagnosis paling sering pada lesi wajah asimmetris dan merupakan kelainan kongenital wajah terbanyak kedua. HFM merupakan malformasi kongenital dimana terdapat defisiensi jaringan lunak dan tulang pada satu sisi wajah dan gangguan perkembangan telinga, terutama telinga luar. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologis. HFM memiliki manifestasi klinis yang beragam, dan dipertimbangkan mendapatkan penatalaksanaan komprehensif yang melibatkan rekontruksi medik luas.               .           Sebuah kasus hemifasial mikrosomia dengan tragus asesorius dan stenosis liang telinga kanan dilaporkan pada perempuan berusia 13 tahun dan telah dilakukan rekonstruksi tragus dan kanaloplasti. Kata kunci: hemifasial mikrosomia, lesi wajah asimmetris, rekontruksi tragus, kanaloplasti. AbstractHemifacial microsomia (HFM) is the most frequent diagnosis in asymmetry facial lesions and the top second facial congenital lesion. HFM is a congenital malformation in which there is a deficiency of soft tissue and bone on one side of the face and malformation of the ear, especially outer ear. The diagnosis is based on history, physical examination, and radiological finding. HFM had various clinical manifestation and considered to comprehensive management involving extensive medical reconstruction. A hemifacial microsomia case with right tragal assesoria and ear canal stenosis has been reported in girl aged 13 years old and have performed tragus reconstruction and canaloplasty. Keywords:  hemifacial microsomia, asymmetrical facial lession, tragus reconstruction, canaloplasty
Labioplasti dengan Teknik Millard dan Tennison Randall Hafiz, Al; Irfandy, Dolly; Rahman, Sukri; Rahmadona, Rahmadona
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Labioskisis merupakan cacat bawaan yang umum di seluruh dunia. Dibedakan atas celah inkomplit dan komplit serta celah unilateral dan bilateral. Labioskisis ditatalaksana dengan melakukan labioplasti, antara lain dengan teknik Millard dan Tennison Randall. Dilaporkan dua kasus labioskisis, pada anak laki-laki umur 6 bulan yang dilakukan labioplasti menggunakan teknik Millard dan anak perempuan umur 4 bulan dengan teknik Tennison Randall. Masing- masing teknik labioplasti memiliki keunggulan dan kekurangan. Pemilihan teknik operasi labioplasti pada pasien labioskisis tergantung kepada kondisi pasien, keahlian dan pengalaman operator terhadap teknik tersebut.
Epistaksis dan Hipertensi : Adakah Hubungannya? Budiman, Bestari J.; Hafiz, Al
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Epistaksis merupakan suatu kondisi klinis yang sering ditemui dan dapat terjadi pada semua umur dengan banyak variasi penyebabnya. Salah satu faktor risiko yang diduga ikut berperan dalam terjadinya epistaksis adalah hipertensi. Tujuan: Menjelaskan hubungan antara epistaksis dengan hipertensi. Tinjauan Pustaka: Hipertensi diduga tidak menyebabkan epistaksis secara langsung, tapi memperberat episode epistaksis. Mengendalikan tekanan darah sebagai salah satu faktor risiko, akan menurunkan insiden terjadinya epistaksis. Di ruang gawat darurat, pemberian obat anti hipertensi diberikan sebelum atau bersamaan dengan manajemen epistaksis itu sendiri. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara epistaksis dengan hipertensi yang berlangsung lama dan adanya hipertrofi ventrikel kiri. Kata kunci : Hipertensi, kegawatdaruratan, penatalaksanaan epistaksis. Abstract Background: Epistaxis is a common clinical problem in all age groups with varied etiological factors. Hypertension has been suggested as a risk factor in epistaxis case. Purpose: To explain relationship between epistaxis and hypertension. Review: It has been suggested that hypertension does not cause epistaxis directly, but hypertension prolongs the episode of epistaxis when it does occur. The controlling for blood pressure as a risk factor will be decreased the incidencies of epistaxis. In emergency rooms, high blood pressure is usually treated before or in parallel with the management of epistaxis. Conclusion: There was an association between epistaxis and long duration of hypertension in adult and left ventricle hypertrophy. Key words : Hypertension, emergency case, management of epistaxis.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Fraktur Le Fort I-II disertai Fraktur Palatoalveolar Sederhana Lestari, Dewi Yuri; Hafiz, Al; Huriyati, Effy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 3
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Fraktur pada sepertiga tengah wajah (midface) memerlukan pemeriksaan yang teliti dan penatalaksanaan yang tepat. Fraktur palatoalveolar jarang terjadi dan dapat terjadi bersamaan dengan fraktur lain pada trauma wajah. Pada beberapa dekade terakhir, berbagai modalitas penatalaksanaan fraktur sepertiga tengah wajah telah dicoba. Penatalaksanaan fraktur sepertiga tengah wajah dengan menggunakan fiksasi dengan miniplate dan screw mengungguli teknik-teknik terdahulu. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus fraktur Le fort I-II dan fraktur palatoalveolar sederhana pada seorang laki-laki umur 19 tahun. Telah dilakukan Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dengan miniplate dan screw serta pemasangan wire. Simpulan: ORIF dengan miniplate dan screw telah menjadi pilihan pada fraktur maksilofasial karena lebih stabil dalam hal fungsi dan fiksasi tulang yang lebih baik. Berdasarkan indikasi, fiksasi intermaksila, palatum splint, dan wire dapat digunakan secara tersendiri atau kombinasi untuk penatalaksanaan fraktur palatoalveolar.
Penatalaksanaan Karsinoma Mukoepidermoid Kelenjar Parotis Erindra, Adrian; Rahman, Sukri; Hafiz, Al
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kejadian tumor kelenjar liur adalah sekitar 3-4 % dari semua tumor di kepala dan leher. Karsinoma mukoepidermoid dapat melibatkan kelenjar parotis. Sering terjadi pada orang dewasa, wanita memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Metode terapi utama dalam pengobatan karsinoma mucoepidermoid adalah reseksi bedah. Terapi radiasi tanpa kemoterapi telah terbukti efektif sebagai modalitas tambahan terapi setelah terapi bedah. Dilaporkan suatu kasus karsinoma mukoepidermoid pada seorang perempuan usia 18 tahun dengan keluhan bengkak yang mengeluarkan cairan di bawah telinga kiri sejak 10 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan histopatologi dikonfirmasi adalah suatu karsinoma mukoepidermoid. Ditatalaksana dengan parotidektomi superfisial dan dilanjutkan dengan ajuvan radioterapi. Karsinoma mukoepidermoid adalah suatu karsinoma pada kelenjar liur dengan gejala berupa benjolan yang dirasakan tanpa gejala. Reseksi bedah adalah terapi utama pada karsinoma mukoepidermoid, radioterapi tanpa kemoterapi adalah terapi ajuvan untuk karsinoma mukoepidermoid.
Rekonstruksi Defek 1/3 Medial Daun Telinga dengan Flap Dieffenbach Irwandanon, Irwandanon; Hafiz, Al; Rahman, Sukri; Irfandy, Dolly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telinga dapat mengalami defek baik karena pasca pengangkatan tumor atau trauma. Berbagai teknik dapat digunakan untuk menutup defek pada telinga. Flap Dieffenbach merupakan salah satu teknik untuk merekonstruksi 1/3 medial daun telinga. Dilaporkan satu kasus seorang perempuan 48 tahun dengan keratosis seboroik pada 1/3 medial daun telinga yang kemudian dilakukan eksisi dan defek ditutup dengan flap Dieffenbach. Eksisi tumor daun telinga dapat menimbulkan defek pada telinga yang memerlukan rekonstruksi. Flap Dieffenbach dapat digunakan untuk menutup defek pada 1/3 medial daun telinga dengan hasil yang sangat baik dan memuaskan.
PARAMEDIAN FOREHEAD FLAP FOR RECONSTRUCTION OF THE NOSE Hafiz, Al; Huriyati, Effy; Budiman, Bestari J.; Munilson, Jacky
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v38.i2.p147-154.2015

Abstract

AbstrakPenutupan defek yang ditimbulkan akibat operasi di daerah kepala dan leher umumnya dapat dilakukan dengan penjahitan langsung. Untuk defek yang lebih luas, atau apabila metode penjahitan langsung tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka dapat digunakan flap kulit. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendemonstrasikan ke ahli THT-KL, bagaimana forehead flap dapat memperbaiki estetika dan fungsi hidung pada kasus deformitas hidung. Satu kasus deformitas pada hidung, seorang laki-laki berusia 69 tahun dengan riwayat basalioma di daerah hidung. Pada pasien dilakukan rekonstruksi hidung dengan menggunakan forehead flap. Rekonstruksi hidung menggunakan forehead flap dapat mengurangi defek pada deformitas hidung. Diperlukan analisis wajah terutama daerah hidung untuk menentukan jenis dan posisi dari flap kulit yang tepat.AbstractA Defect following head and neck surgery can often be closed using the technique of direct suture. For larger defects or in situations where direct suture is neither applicable, surgical defect in the head and neck especially at the nose, can be filled by local skin flaps. The case was reported in order to demonstrate to Otorhinolaryngology Head and Neck surgeons on how the forehead flap could restore the aesthetic and function of the nose in nasal deformity case. One case of the nasal deformity was reported in a 69 years old man with history of basal cell carcinoma on the nose. This patient was managed using the forehead flap for nasal reconstruction purpose. The employment of this technique could reduce the defects of nasal deformity. Facial analysis particularly nasal area is necessary to determine the exact kind and position of skin flap.