Articles

ANALISIS REHABILITASI TAMBAK DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD) ., Indra; Fauzi, Akhmad; Haluan, John; Boer, Mennofatria
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 14 No. 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.005 KB)

Abstract

Tambak memegang peranan penting sebagai sumber ekonomi masyarakat pesisir di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Akan tetapi, tsunami 26 Desember 2004 telah merusak sebagian besar tambak di provinsi ini dengan prediksi kerugian lebih dari 1 trilyun dan 14 859 rumah tangga hilang sumber mata pencaharian. Kebutuhan biaya rehabilitasi satu hektar tambak yang rusak berat adalah Rp 32.76 juta, rusak sedang yang direhabilitasi dengan mesin (capital intensive) adalah Rp 20.92 juta dan dengan manual (laborintensive) adalah Rp 12.37 juta, dan rusak ringan yang direhabilitasi dengan mesin Rp12.37 juta dan manual Rp 5.89 juta. Pendapatan dari budidaya tambak tradisional plus adalah Rp 14.7 juta/ha/tahun dan menyeraptenaga kerja 488 hok. Analisis finansial, dengan discount rate 15%, menunjukkan bahwa pengelolaan tambak di Aceh layak (feasible) dilakukan. Belajar dari kegagalan masa lalu, maka ke depan, pengelolaan tambak di Aceh harus diarahkan pada pola Manajemen Kesehatan Budidaya Udang (Shrimp Culture Health Management- SCHM).Kata kunci: Tambak, tsunami, rehabilitasi, biaya, tenaga kerja, dan pendapatan.
INDIKATOR KINERJA KUNCI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP TUNA TERPADU DI SULAWESI UTARA Kaunang, Rine; Monintja, Daniel R.; Nikijuluw, Victor P.H; Haluan, John
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 1 (2010): MARET 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.558 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.81-92

Abstract

Indikator Kinerja Kunci (IKK) adalah indikator yang digunakan untuk melaporkan kemajuan yang diidentifikasi sebagai faktor penting untuk keberhasilan suatu organisasi yang di lihat dari tujuan dan sasaran.  IKK juga dapat berfungsi sebagai alat untuk mengubah, memberikan masukan ke dalam proses manajemen yang akan membantu pembangunan yang mengakibatkan peningkatan kinerja dalam sebuah lingkungan progresif.   IKK yang dipilih harus mencerminkan tujuan organisasi, menjadi kunci untuk keberhasilan dan dapat diukur. Indikator kinerja kunci dipakai dalam pertimbangan jangka panjang untuk sebuah organisasi. Secara umum, penelitian ini dilakukan untuk menentukan indikator kinerja kunci dalam mengembangkan penangkapan ikan tuna di Sulawesi Utara dan untuk mendapatkan pengukuran yang jelas serta memberikan informasi bagi pemerintah dalam membuat peraturan. Penelitian ini didasarkan pada Focus Group Discussion (FGD) dengan metode pendekatan kualitatif.  Indikator kinerja kunci (IKK) terdiri dari indikator ekonomi, keuangan sosial, ekologis dan dimensi pemerintah, baik di tingkat nasional atau di sektor perikanan. IKK di tingkat perusahaan terdiri dari masukan, keluaran, dampak dan proses.
ANALISIS MULTIDIMENSIONAL UNTUK PENGELOLAAN PERIZINAN PERIKANAN YANG BERKELANJUTAN : STUDI KASUS WPP LAUT ARAFURA Mulyana, Ridwan; Haluan, John; Baskoro, Mulyono S.; Wisudo, Sugeng Hari
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 2 No 2 (2011): NOVEMBER 2011
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.391 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.2.71-80

Abstract

Perizinan penangkapan, sebagai alat pengelolaan perikanan, merupakan salah satu instrumen yang populer untuk mengendalikan pemanfaatan sumber daya ikan. Tujuan perizinan penangkapan ikan bagi pemerintah adalah: (1) untuk optimalisasi keberlanjutan sumberdaya ikan, (2) untuk mempertahankan keberlanjutan sumber daya ikan, dan (3) untuk mendapatkan manfaat ekonomi sebagai pendapatan pemerintah. Sebagai bagian dari manajemen perikanan, perizinan penangkapan mempengaruhi banyak aspek perikanan sebagai ekologi, teknologi ekonomi, sosial, dan etika. Perizinan penangkapan untuk perikanan skala besar di Laut Arafura memainkan peran penting dalam perikanan Indonesia dimana Pemerintah mengeluarkan 1.072 perizinan penangkapan atau hampir 25% dari total modal ditempatkan perizinan untuk semua perairan Indonesia. Sayangnya, Laut Arafura menghadapi banyak masalah dan isu-isu seperti penangkapan berlebih, perikanan IUU, merusak habitat ikan dan lingkungan yang mengancam keberlanjutan perikanan. Jadi penting untuk mengetahui keadaan keberlanjutan Laut Arafura di masa sekarang untuk menentukan kebijakan perizinan penangkapan terbaik. Analisis RAPFISH untuk keberlanjutan perikanan (termasuk Leverage dan analisis Monte Carlo) menurut jenis utama perikanan memberikan beberapa hasil yaitu: (1) perikanan dari Laut Arafura adalah berkelanjutan cukup dengan skor 53,86, (2) squid jigging, rawai dasar, jaring insang dan perikanan yang berkelanjutan cukup, tetapi jaring ikan dan udang kurang berkelanjutan, (3) dimensi ekologi berkelanjutan baik dengan skor 72,43, tetapi dimensi etika kurang berkelanjutan dengan skor 37,26. Analisis Leverage menunjukkan atribut yang memberikan pengaruh tertinggi untuk masing-masing dimensi sebagai: (1) ukuran ikan pada dimensi ekologi, (2) sektor pekerjaan pada dimensi ekonomi, (3) menggunakan selektivitas FAD (perangkat menarik ikan), (4) tingkat pendidikan pada dimensi sosial, dan (5) manajemen pada dimensi etika. Ini direkomendasikan untuk pengembangan perikanan Arafura Laut untuk mempromosikan alat tangkap rawai keberlanjutan seperti squid jigging, rawai dasar, dan perikanan jaring insang.
GEOMETRI TERUMBU PULAU KECIL: MODEL PERENCANAAN KAWASAN KONSERVASI BERBASIS PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN KEPULAUAN SITARO (REEF GEOMETRI OF SMALL ISLANDS : A MODEL CONSERVATION PLANNING BASED ON FISHERIES CAPTURE IN SITARO ARCHIPELAGIC REGENCY) Kumaat, Joyce; Haluan, John; Wiryawan, Budy; Wisudo, Sugeng Hari; Monintja, Daniel R.
Buletin PSP Vol. 20 No. 2 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.792 KB)

Abstract

Model pengelolaan pulau-pulau kecil berdasar pada geometrik terumbu karang dapat digunakan dalam penentuan suatu kawasan konservasi laut. Metode ini mencoba melihat ikantarget sebagai variabel prediksi, karang sebagai variabel indikator dan geometri terumbu sebagai variabel pengungkit yang dipakai sebagai suatu unit penentuan suatu kawasankonservasi laut. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengungkapkan model geometri terumbu pulau kecil sebagai suatu kerangka model dalam penentuan kawasan konservasi dan perencanaan perikanan artisanal berbasis ekosistem. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi kelimpahan ikan target bervariasi antara 208?732 individu/250 m, tutupan karang keras 28,40?50,92% dan karakteristik pulau berdasar geometri terumbu terdiri dari 4 model yaitu terumbu segitiga, terumbu lingkaran, terumbu ginjal dan persegi panjang terumbu. Dari hasil simulasi dengan pendekatan indeks kesamaan (morpho-structural groups ) berdasar pada persentasi tutupan karang, model yang terbentuk menghasilkan 3 kelompok utama, dengan Pulau Mahoro 1 dan 2 menunjukkan nilai konservasi tertinggi. Model pendekatan geometrik terumbu pulau-pulau kecil ini adalah merupakan salah satu cara di dalam penentuan unit kawasan konservasi, bukan sebagai syarat ekslusif dalam membuat keputusan tentang kebijakan atau zonasi kawasan konservasi. Sebaliknya metode ini memperkirakan kelas terumbu dan ikan target sebagai unit di dalam penentuan lokasi konservasi, sehingga perlu ada kombinasi lain yang berhubungan dengan target konservasi lainnya. Target konservasi ini bisa dikombinasikan dengan keberadaan spesies langka (endangered spesies), sosial ekonomi nelayan, aktivitas transportasi dan faktor fisik perairan di dalam penetapan status kawasan konservasi.Kata kunci: geometri, konservasi, spesies, terumbu
SENSITIVITAS USAHA PERIKANAN GILLNET DI KOTA TEGAL, PROVINSI JAWA TENGAH (SENSITIVITY OF GILLNET FISHERIES IN TEGAL CITY, CENTRAL JAVA PROVINCE) Prabowo, Prabowo; Wiyono, Eko Sri; Haluan, John; Iskandar, Budhi Hascaryo
Buletin PSP Vol. 20 No. 2 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.04 KB)

Abstract

Badan Pusat Statistik (2008) menyatakan hanya sekitar 13% usaha skala kecil yang mampu mengakses pembiayaan dari perbankan, dan usaha perikanan skala kecil termasuk gillnet merupakan yang paling rendah. Hal ini karena pengelolaan usaha yang belum baik terutama dari aspek kelayakan finansial dan pengalokasian faktor produksi yang dibutuhkandalam operasi penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sensitivitas kelayakan usaha dan faktor produksi signifikan dalam operasi perikanan gillnet. Hasil analisis menunjukkan usaha perikanan gillnet di Kota Tegal mempunyai Nilai NPV, Net B/C, IRR, dan ROI berturut-turut Rp 1.993.457.657, 72, 1,09, 75,64%, dan 51,74, sehingga layakdikembangkan dan mendapatkan dukungan pembiayaan. Usaha perikanan gillnet sensitif terhadap penurunan penerimaan (Rp 3.845.549.000 per tahun) hingga 6,9%, peningkatan semua kebutuhan operasional (Rp 2.991.750.000 per tahun) hingga 21,7%, dan peningkatan kebutuhan solar (Rp 1.323.000.000 per tahun) hingga 49,1%. Ukuran jaring, lama trip, stock BBM, stock es, anak buah kapal (ABK), stock air tawar, dan perbekalan signifikan (sig < 0,05) mempengaruhi produksi ikan pada perikanan gillnet di Kota Tegal. Ada kecenderungan produksi ikan meningkat dengan bertambahnya panjang gillnet, stock BBM, stock es, danjumlah ABK yang ikut serta, sedangkan penambahan trip operasi, stock air tawar dan perbekalan tidak menyebabkan peningkatan.Kata kunci: faktor produksi, kelayakan, sensitivitas, dan signifikan
IDENTIFICATION OF POOR FISHING-DEPENDENT COMMUNITIES IN MAINLAND WEST SUMATRA Stanford, Richard J.; Wiryawan, Budy; Bengen, Dietriech G.; Febriamansyah, Rudi; Haluan, John
Buletin PSP Vol. 20 No. 1 (2012): Buletin PSP (Edisi Khusus)
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.22 KB)

Abstract

Indonesia has some of the world?s most diverse coral reefs in need of protection. These biodiversity hotspots have attracted international attention and are well described in the literature. However, they are home to only a small portion of the fishing communities in this country. The state of many of the other communities has yet to be studied in depth. As a step in that direction, this paper focuses on fishing communities in mainland West Sumatera and, using data collected by government agencies, defines two indicators that will be useful nationally. The first is a measure of the communities? dependency on fishing as a source oflivelihood, the second a measure of poverty that is appropriate to Indonesian fishing communities. For mainland West Sumatera these parameters identify five areas that are highly dependent on fishing (&gt; 10% employment in fishing) with two of these containing large numbers of fisher households in a state of poverty. These two are Sei Beremas and Sasak Ranah Pasisie in the regency Pasaman Barat. Neither of these are located at well investigated hotspots and further work will be required to identify the underlying reasons for the combination of dependency and poverty found in these places. The methodology described in this paper isapplicable to the ongoing implementation of the national marine spatial planning program.&nbsp; Keywords: fisheries, Indonesia, poverty
KEBERLANJUTAN PERIKANAN SKALA BESAR DI LAUT ARAFURA Mulyana, Ridwan; Haluan, John; Baskoro, Mulyono S.; Wisudo, Sugeng H.
Buletin PSP Vol. 20 No. 1 (2012): Buletin PSP (Edisi Khusus)
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.772 KB)

Abstract

Arafura merupakan salah satu  perairan di Indonesia ?the golden fishing ground? dalam industri perikanan tangkap Indonesia. Potensi lestari (MSY) sebanyak 771.600 ton /tahun terdiri ikan pelagis, ikan demersal, udang, cumi-cumi, lobster dan ikan karang, Laut Arafura telah menjadi "faktor menarik" untuk perikanan tangkap skala besar yang menggunakan kapal > 30 GT. Sayangnya, memancing intensitas tinggi di Laut Arafura mengakibatkan "penangkapan ikan yang berlebihan" dan masalah lain sebagai Illegal-Unreported-Unregulated (IUU) fishing, metode penangkapan ikan yang merusak, perusakan habitat ikan, dan konflik sosial. Di sisi lain, Laut Arafura telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendapatkan pekerjaan pemerintah dan menyediakan bagi nelayan dan orang-orang yang terlibat. Sehingga sangat penting untuk mengelola Laut Arafura perikanan mempertimbangkan aspek multi-disiplin seperti ekologi, teknologi ekonomi, sosial, dan etika. Juga penting untuk mengetahui keadaan keberlanjutan Laut Arafura dalam multi-disiplin sebagai dasar untuk menentukan kebijakan perikanan terbaik di daerah itu di masa depan. Ada 5 (lima) perikanan utama (dengan alat tangkap) di Laut Arafura menggunakan sebagai jaring ikan, jaring udang, insang bersih, garis panjang bawah, dan garis squid / jigging. RAPFISH (Penilaian cepat untuk Perikanan) adalah metode analisis baru yang dikembangkan oleh University of British Columbia, Kanada untuk mengevaluasi keberlanjutan perikanan dalam multi-disiplin. Analisis RAPFISH (termasuk Leverage dan Monte Carlo analisis) oleh 5 (lima) jenis perikanan memberikan beberapa hasil sebagai: (1) perikanan dari Laut Arafura adalah cukup berkelanjutan dengan skor 53,86; (2) squid jigging, rawai bawah , dan perikanan berkelanjutan gillnet cukup; tetapi ikan bersih dan jaring udang kurang berkelanjutan, (3) dimensi ekologi yang baik dengan skor 72,43 berkelanjutan, tetapi dimensi etika kurang berkelanjutan dengan skor 37,26. Analisis Leverage menunjukkan atribut yang memberikan pengaruh tertinggi untuk setiap dimensi sebagai: (1) ukuran ikan pada dimensi ekologi, (2) sektor pekerjaan pada dimensi ekonomi, (3) FAD (ikan menarik perangkat) menggunakan dan selektivitas gigi pada teknologi dimensi; (4) tingkat pendidikan pada dimensi sosial, dan (5) hanya manajemen padadimensi etika. Ini direkomendasikan untuk pengembangan perikanan Laut Arafura untuk mempromosikan alat tangkap rawai keberlanjutan seperti cumi jigging, bawah, dan perikanan gillnet.Kata kunci: Laut Arafura, RAPFISH, keberlanjutan
STATUS KEBERLANJUTAN PERIKANAN TANGKAP DI DAERAH KOTA PANTAI: PENELAAHAN KASUS DI KOTA MANADO (THE STATUS OF SUSTAINABLE CAPTURE FISHERIES IN COASTAL CITY REGION: CASE STUDY FOR MANADO CITY) Mamuaya, Gybert E.; Haluan, John; Wisudo, Sugeng H.; Astika, I Wayan
Buletin PSP Vol. 16 No. 1 (2007): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.535 KB)

Abstract

The capture offisheries sustainability is management and the utilization of fish resources which can guarantee the availability of that resources continuously. In this research, the sustainabili ty status offisheries in Manado city has been examined through ecological, economic, sociological, technological, and ethical approaches by employing RAPFISH technique. The status of the purse seine fishery in this region is 53% of the fisheries sustainability which is classified as good fisheries. Meanwhile, tuna long pole­ lines and gillnets fisheries status are 57.5% and 60.1 %, respectively, of the good fisheries sustainability. Improvement of this status can be carried out by improving the severalattributes qualities, among others: wage, other income and sector employment (economy); socialization offishing, environmental knowledge and kin participation (social); pre-sale processing, gear selectivity and fishing power (technology); alternatives and just management (ethics).Key words: sustainability, fisheries status, coastal city
STATUS KEBERLANJUTAN PERIKANAN TANGKAP DI DAERAH KOTA PANTAI: PENELAAHAN KASUS DI KOTA MANADO (THE STATUS OF SUSTAINABLE CAPTURE FISHERIES IN COASTAL CITY REGION: CASE STUDY FOR MANADO CITY) Mamuaya, Gybert E.; Haluan, John; Wisudo, Sugeng Hari; Astika, I Wayan
Buletin PSP Vol. 16 No. 1 (2007): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.599 KB)

Abstract

The capture offisheries sustainability is management and the utilization off fish resources which can guarantee the availability of that resources continuously. In this research, the sustainability status offisheries in Manado city has been examined through ecological, economic, sociological, technological, and ethical approaches by employing RAPFISH technique. The status of the purse seine fishery in this region is 53% of the fisheries sustainability which is classified as good fisheries. Meanwhile, tuna long pole­-lines and gillnets fisheries status are 57.5% and 60.1 %, respectively, of the good fisheries sustainability. Improvement of this status can be carried out by improving the several attributes qualities, among others: wage, other income and sector employment (economy); socialization offishing, environmental knowledge and kin participation (social); pre-sale processing, gear selectivity and fishing power (technology); alternatives and just management (ethics).Key words: sustainability, fisheries status, coastal city
MODEL PENGEMBANGAN PERIKANAN DI PERAIRAN SELATAN JAWA Nurani, Tri Wiji; Haluan, John; Saad, Sudirman; Lubis, Ernani
Buletin PSP Vol. 16 No. 2 (2007): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Development of fishery activity shall be conducted base on the characteristic of potency owned by a territotial water region. South Java water region has a characteristic condition of fisheries resources which need a specific management. Based on a fishery resources potency, South Java water region has a very big potency, but fishery activity just develop in a certain places only, namely Palabuhan Ratu, Cilacap and Prigi. The research has aim to build a model of fisheries development which is adopted by a regional characteristic. Method of the system approach used to analyse the problem and develop the model. System engineering compiled in a model with three submodels are 1) fishery effort (submodel USAHA), 2) requirement of PP/PPI, functionality and accessability (submodel PELABUHAN) and 3) policy and institution (submodel LEMBAGA). Firstly model determined commodity?s priority, strategy of model implementation using interpretative structural modellig (ISM) technique. The study resulted two models are 1) tuna fisheries development model and 2) coastal fisheries development model. At tuna fisheies development model, its expressed that tuna fishery business represent a high risk business, the government policy which do not support the business like increasing the fuel price giving big impact for continuing the business. Fishing port which capable to support tuna fishery?s business are PPS Cilacap and PPN Pelabuhan Ratu. Developments are require to be done by the intregrated institution which can accommodate the stakeholder needs. At the model of fisheries coastal development, the commodity?s priority are bonito, skipjack, white pomfret, hair tail, lobster, shrimp and anchovy. Fishery business covering gillnet multifilament, gillnet monofilament, purse seiner, trolling,?payang?, trammel net and ?pancing rawai?. The effort can be done in middle scale or small scale. Existing PP/PPI mostly can be able to support fisheries acivity in each region. Role of KUD, HNSI and group of fisherman require to be improved for fisherman empowerment. Strategy of implementation model require to pay attention to the system which is a key element for succeeded the system.
Co-Authors . Mustaruddin Abdul Rokhman Ahmad Fauzi Akhmad Fauzi Ali Suman Ari Purbayanto Arif Febrianto Basuki, Riyanto Budhi H Iskandar Budhi H. Iskandar Budhi Hascaryo Iskandar Budi Wiryawan Budy Wiryawan Danial . Daniel Monintja Daniel R. Monintja Darmawan . Dietriech G. Bengen Djalal, Hasjimdo Domu Simbolon Drajat Martianto Eko Sri Wiyono Endang Sri Heruwati Ernani Lubis Far Far, Romelus Fatchudin Fatchudin Fedi A. Sondita, Fedi A. Fis Purwangka Gigentika, Soraya Gigentika, Soraya Hardjomidjojo, Hatrisari Hartrisari Hardjomidjojo Hasjim Djalal Hendriwan, Hendriwan I Wayan Astika Ihsan Ihsan Ihsan, . Iin Solihin Indra ., Indra Indra Jaya Irham Irham Jatmiko, Y.A. Budhi Joyce Kumaat Julia Eka Astarini Kooswardhono Mudikdjo LINAWATI HARDJITO M. Fedi A. Sondita Malanesia, Meizar Mamuaya, Gybert E. Manaf, Ach. Nafani Manuwoto, Manuwoto Martohandoyo, Harun Al Martohandoyo, Harun Al Rasyid Mennofatria Boer Mita Wahyuni Mohammad Imron Muhammad Fedi Alfiadi Sondita Muhammad Jamal MUHAMMAD RIZAL Mulyono Partosuwirjo Mulyono S Baskoro Mulyono S. Baskoro Mustaruddin . Nikijuluw, Victor Nikijuluw, Victor P.H Nono Sampono Pical, Venda Jolanda Pipih Suptijah Poernomo, Soen'an H. Prabowo Prabowo Purba, Charles Bohlen Purba, Charles Bohlen Purwaka, Tommy H. Renofati, Yunistia Retno Muninggar Ridwan Mulyana Rine Kaunang Ririn Irnawati Roza Yusfiandayani Rudi Febriamansyah, Rudi Sala, Ridwan SANTOSO SANTOSO Saptoriantoro, Pandu Sarana, Harmin Sarwanto, Catur Satria, Fayakun Silvy Syukhriani, Silvy Soeboer, Deni Achmad Soepanto Soemokaryo Soewarno T. Soekarto Sondita, Fedi Alfian Stanford, Richard Stanford, Richard J. Suci n Handayani, Suci n Sudirman Saad Sugeng H Wisudo, Sugeng H Sugeng H. Wisudo Sugeng Hari Wisodo, Sugeng Hari Sugeng Hari Wisudo Supartono Supartono Supriyadi, Rikhie Suwardjo, Djodjo Tri Hariyanto Tri Wiji Nurani Victor P.H. Nikijuluw Wahju, Ronny I. Wibowo, Berbudi WIJAYA, MAGGY T Wudianto, Wudianto Yaser Krisnafi, Yaser Yulian Fakhrurrozi, Yulian