Juni Handajani
Bagian Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 34 Documents
Articles

Found 34 Documents
Search

Efek Pengunyahan Permen Karet Gula dan Xylitol terhadap Status Saliva Rezky, Lisna Kurnia; Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3925.475 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16450

Abstract

Latar belakang. Rongga mulut sebagai pintu masuk makanan ke dalam tubuh selalu dibasahi oleh saliva setiap harinya. Saat ini banyak produk permen karet yang beredar di masyarakat yang mengandung gula dan xylitol. Banyak orang yang gemar mengunyah permen karet dengan kurang memperhatikan komposisinya baik yang mengandung gula ataupun xylitol sehingga kurang mengetahui efek masing-masing jenis permen karet tersebut terhadap kesehatan rongga mulut. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pengunyahan permen karet gula dengan permen karet xylitol terhadap status saliva yang terdiri dari volume, pH, dan viskositas saliva. Metode penelitian. Subjek penelitian berjumlah 30 orang dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 10 orang, terdiri dari kelompok mengunyah permen karet gula, xylitol, dan kontrol dengan mengunyah apel. Pengambilan saliva dilakukan pagi hari dan siang hari. Subjek mengunyah 2 butir permen karet dan tidak diperbolehkan untuk makan dan minum 1 jam sebelum mengunyah. Subjek diinstruksikan meludah ke dalam pot saliva selama 10 menit dalam interval setiap 1 menit. Pengukuran volume saliva menggunakan pipet volume, pH saliva dengan menggunakan pH meter, dan viskositas saliva dengan menggunakan viskometer Ostwald hari ke-1 dan ke-4. Analisis data dengan uji statistik Mann-Whitney. Hasil. penelitian menunjukkan adanya peningkatan bermakna volume dan viskositas saliva pada pengunyahan permen karet xylitol dan gula. Derajat keasaman (pH) saliva menurun setelah mengunyah permen karet gula sedangkan pada perm en karet xylitol relatif stabil. Disimpulkan bahwa permen karet xylitollebih baik untuk kestabilan status saliva dibandingkan permen karet gula.
EFEK BERKUMUR EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) KONSENTRASI 40% DAN 50% TERHADAP AKTIVITAS SPESIFIK GLUTATHIONE S-TRANSFERASE PADA SALIVA PENDERITA GINGIVITIS SEDANG Handajani, Juni; Prameswari, Dhika Paramita
Majalah Obat Tradisional Vol 15, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.479 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ15iss3pp138 – 145

Abstract

Glutathione S-transferase (GST) adalah enzim dalam saliva yang dapat mengkatalisis reaksi konjugasi antara glutathione (GSH) dengan komponen elektrofilik dan berperan dalam  detoksifikasi xenobiotik. Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) memiliki kandungan flavonoid sebagai senyawa xenobiotik dan memiliki kemampuan menghambat aktivitas GST. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek berkumur ekstrak pegagan konsentrasi 40% dan 50% terhadap aktivitas spesifik GST saliva pada penderita gingivitis. Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komisi Etik, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Tigapuluh orang penderita gingivitis kategori sedang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu 20 orang sebagai kelompok perlakuan dan 10 orang kelompok kontrol positif.  Pada kelompok perlakuan, 10 orang berkumur ekstrak pegagan konsentrasi 40% dan 10 orang yang lain berkumur konsentrasi 50%. Kelompok kontrol positif berkumur Hexetidine 0,1%. Setiap subjek penelitian berkumur sebanyak 5 ml, dilakukan setiap pagi setelah bangun tidur dan malam sebelum tidur selama 5 hari berturut-turut. Saliva dikumpulkan sebelum dan sesudah berkumur. Aktivitas GST diamati dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 340 nm dan pengukuran status gingivitis digunakan Indeks Gingiva (GI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berkumur ekstrak pegagan  konsentrasi 50% dapat menurunkan aktivitas spesifik GST saliva dan pemeriksaan klinis menunjukkan  penurunan skor GI lebih baik dibandingkan konsentrasi 40%. Disimpulkan bahwa konsentrasi 50% mengindikasikan konsentrasi yang lebih baik dibandingkan konsentrasi 40% dalam                          proses penyembuhan gingivitis.
EFEK ANTIINFLAMASI EKSTRAK DAUN SEMBUKAN (Paederia scandens) PADA TIKUS WISTAR Utami, Evy Tri; Kuncoro, Rebecca Azary; Hutami, Islamy Rahma; Sari, Finsa Tisna; Handajani, Juni
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 2 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.556 KB) | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss2pp95-100

Abstract

Inflamasi merupakan tindakan protektif dalam melawan agen penyebab jejas sel. Tanaman sembukan (Paederia scandens) dengan kandungan glukosida diketahui berpotensi sebagai bahan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antiinflamasi ekstrak daun sembukan terhadap edema buatan pada tikus Wistar. Subjek penelitian ini adalah 35 ekor tikus jantan galur Wistar yang dibagi menjadi 7 kelompok, masing-masing berjumlah 5 ekor. Pada kelompok perlakuan dan kontrol yaitu akuades (kontrol negatif), fenilbutazon (kontrol positif), dan perlakuan ekstrak daun sembukan dengan konsentrasi 10mg/kgBB, 20mg/kgBB, 30mg/kgBB, 40mg/kgBB, dan 50mg/kgBB, diberikan secara oral. Telapak kaki belakang kanan tikus disuntikkan secara subkutan karagenan 1% untuk memicu inflamasi. Pengukuran volume edema dilakukan dengan menggunakan pletismometer dalam selang waktu 1 jam selama 5 jam. Data selanjutnya dianalisis menggunakan ANAVA. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada pemberian ekstrak daun sembukan 20mg/kgBB dengan kontrol positif dan kontrol negatif. Disimpulkan bahwa ekstrak daun sembukan 20mg/kgBB berpotensi sebagai bahan antiinflamasi.
Ekspresi COX-2 dan Jumlah Neutrofil Fase Inflamasi pada Proses Penyembuhan Luka Setelah Pemberian Sistemik Ekstrak Etanolik Rosela (Hibiscus sabdariffa) (studi in vivo pada Tikus Wistar) Kusumastuti, Endah; Handajani, Juni; Susilowati, Heni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inflamasi merupakan respon alami tubuh terhadap adanya kerusakan jaringan. Salah satu medikamen untuk mengatasi inflamasi adalah antiinflamasi non steroid (AINS). Penggunaan AINS mempunyai beberapa efek samping dan dalam beberapa hal penggunaan tanaman obat dinilai lebih aman. Rosela merupakan salah satu tanaman obat yang mempunyai potensi sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian sistemik ekstrak etanolik rosela terhadap ekspresi COX-2 dan jumlah neutrofil fase inflamasi pada proses penyembuhan luka. Bunga rosela didapatkan dari perkebunan di Dusun Bulusari Desa Pojok Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri Jawa Timur. Pembuatan ekstrak rosela dilakukan di LPPT unit I UGM Yogjakarta dengan cara perkolasi. Tikus putih galur Wistar sebanyak 36 ekor diberi perlukaan dengan punch biopsi ɵ 3 mm pada mukosa bukal. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok 12 ekor tikus. Pembagian kelompok terdiri dari kontrol negatif (saline), kontrol positif (ibuprofen 20 mg/kg BB) dan perlakuan (ekstrak rosela 500 mg/kg BB). Pemberian minum sesuai kelompoknya sehari sekali selama 4 hari. Pada hari ke-1, ke-2, ke-3 dan ke-4 tikus dikorbankan lalu jaringan mukosa yang mengalami perlukaan dibuat preparat histologis. Pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) dilakukan untuk mengamati jumlah neutrofil. Ekspresi COX-2 diamati pada preparat dengan pewarnaan imunohistokimia menggunakan rabbit polyclonal antibody COX-2 (Lab Vision, USA). Jumlah neutrofil dan ekspresi COX-2 dihitung di bawah mikroskop cahaya lalu data dianalisi menggunakan ANAVA dan LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi COX-2 dan jumlah neutrofil lebih rendah pada kelompok perlakuan dibanding kontrol. Pengamatan klinis pada hari ke-4 juga tampak luka seluruh subjek telah menutup sempurna setelah pemberian minum rosela. Disimpulkan bahwa ekstrak etanolik rosela mempunyai kemampuan menghambat ekspresi COX-2 dan menurunkan jumlah neutrofil sehingga dapat digunakan sebagai bahan anti-inflamasi. ABSTRACT: Expression of COX-2 and The Number of Neutrophil in Inflammation stage of Wound Healing Process after Systemic Administration of Ethanolic Extract Rosela. Inflammation is an initial stage of body’s natural response to tissue damage.The use  empirically plants often used for traditional medicine because it is easily found in the community and fewer side effects. Flavanoid presence of roselle (Hibiscus sabdariffa) is thought to have anti inflammatory effects. This study aimed to know the effect of systemic administration of Roselle ethanolic extract toward COX-2 expression and neutrophils number in the inflammatory phase of wound healing processes. Roselle was obtained from plantations in Bulusari hamlet, Tarokan, Kediri, EastJava. Making roselle extract was performed in LPPT unit 1 UGM Yogyakarta by percolation ways. Wistar rats were given a total of 36 injuries with ɵ 3 mm punch biopsy of the buccal mucosa. Subjects were divided into three groups, each group of 12 rats. The division consists of the negative control group (saline), positive control (ibuprofen 20 mg/kg) and treatment (roselle extract 500 mg/kg). Giving drink suitable group once daily for four days. On day 1, the 2nd, 3rd and fourth rats were sacrificed, and mucosal tissue injury was made histological preparat. Hematoxylin eosin staining (HE) was performed to observe the number of neutrophils. COX-2 expression was found in preparations for immunohistochemical staining using rabbit polyclonal COX-2 antibody (Lab Vision, USA). The number of neutrophils and expression of COX-2 is calculated under a light microscope data were analyzed using Two-way ANOVA and LSD. The results showed that the expression of COX-2 and neutrophil number were least in the treatment group compared to the control. Clinical observation on day four also appears around the wound has completely closed the subject after administration of roselle drink. It was concluded that the ethanolic extract of roselle can inhibit COX-2 expression and decrease the number of neutrophils that can be used as an anti-inflammatory ingredient. 
Waktu Produksi Yolk Immunoglobulin (IGY) Kuning Telur Ayam yang Diimunisasi Streptococcus mutans Azis, Mufidana; N, Dhinintya Hyta; R, Aurita Siwi; M, Kristiyani Dwi; L, Norma Dias; Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.245 KB)

Abstract

Prevalensi karies di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi. Karies diketahui sebagai penyakit multifaktorial rongga mulut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Salah satu metode terbaru pencegahan karies gigi, yaitu, melalui imunisasi pasif menggunakan antibodi kuning telur ayam (Yolk Immunoglobulin/IgY). Beberapa penelitian menunjukkan waktu produksi IgY bervariasi dengan perbedaan teknik pengujian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi IgY kuning telur ayam yang diimunisasi S. mutans. Metode penelitian menggunakan 4 ekor ayam Hysex Brown sebagai kelompok perlakuan dan 1 ekor ayam sebagai kontrol. Suspensi S. mutans diinjeksikan pada ayam saat minggu pertama hari ke-1,2,3, kemudian ditambahkan Freund Adjuvant pada minggu ke-2 hingga minggu ke-4. Koleksi kuning telur ayam dilakukan mulai minggu ke-2 setelah imunisasi. Untuk mengetahui efektivitas vaksinasi dan keberadaan S.mutans, kuning telur ayam selanjutnya diuji dengan AGPT (Agar Gel Precipitation Test) dan hasilnya dinyatakan positif apabila terbentuk presipitasi diantara  sumuran  antigen dan antibodi.. Hasil penelitian menunjukkan hasil positif pada kuning telur ayam minggu ke-5. Disimpulkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk produksi IgY spesifik S. mutans pada kuning telur ayam mulai minggu ke-5 setelah imunisasi.ABSTRACT: Production Time of Yolk Immunoglobulin (Igy) Yellow Chicken Egg Immunized with Streptococcus mutans. Dental caries prevalence in Indonesia appears in high rate. Caries is known as a multifactorial disease in oral cavity caused by Streptococcus mutans bacteria. The latest method to prevent dental caries is through passive immunization using chicken yolk antibody (Yolk Immunoglobulin /IgY). Some researches showed the variation of IgY production time using different testing technique. The purpose of this research is to determine the time required to produce IgY chicken yolk immunized by S. mutans. For the method, this research uses 4 chickens of Hysex Brown as the treatment group and a chicken as the control. S. mutans suspension is injected to the chicken from 1st, 2nd, and 3rdday in the first week; Freund Adjuvant was added in the 2ndtill 4thweeks. Collection of chicken yolk was started at 2ndweek after immunization. The chicken yolk then was tested using Agar Gel Precipitation Test (AGPT) to know the effectiveness of vaccination and the existence of S.mutans. The result of the test can be positive if it forms precipitation between antigen and antibody wells. The result has shown a positive response in chicken yolk in the 5thweek. From the test, it can be concluded that the time required for the production of IgY specific against S. mutans in chicken yolk is in the beginning of 5thweek after immunization.
Efektivitas Desensitizing Agent dengan dan tanpa Fluor pada Metode in Office Bleaching terhadap Kandungan Mineral Gigi (Kajian In Vitro) Kristanti, Yulita; Asmara, Widya; Sunarintyas, Siti; Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In office bleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% sering memberikan efek samping berupa linu baik selama maupun setelah perawatan tersebut dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruhwaktu aplikasi dan kandungan fluor desensitizing agent pada metode in office bleaching terhadap kandungan mineral gigi. Delapan gigi masing-masing dipotong menjadi 4 bagian, 6 potong digunakan untuk pemeriksaan XRD awal. Gigi dikeringkan dalam oven suhu 50° selama 30 menit diserbuk, diambil 1 mg untuk diperiksa kandungan mineralnya dengan goniometer. Dua puluh empat potong yang lain dibagi dalam 4 kelompok perlakuan. Kelompok I: gigi diaplikasi bahan bleaching 0,5-1 mm hidrogen peroksida 40% selama 1 jam, dicuci, dikeringkan, diikuti aplikasi 0,1 ml desensitizing agent tanpa fluor (CPP-ACP) selama 30 menit, dicuci, dikeringkan. Kelompok II : gigi diaplikasi CPP-ACP 30 menit, dicuci, dikeringkan, dibleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% selama 1 jam. Selanjutnya gigi diaplikasi CPP-ACP 30 menit lagi, dicuci, dikeringkan. Kelompok III gigi dibleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% selama 1 jam, dicuci, dikeringkan, diikuti aplikasi desensitizing agent yang mengandung fluor (CPP-ACFP) selama 30 menit, dicuci, dikeringkan. Kelompok IV: gigi diaplikasi CPP-ACFP 30 menit, dicuci, dikeringkan, dibleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% selama 1 jam. Selanjutnya gigi diaplikasi CPP-ACFP selama 30 menit, dicuci dikeringkan. Sesudah perlakuan, semua gigi dilakukan pemeriksaan kandungan mineral gigi dengan prosedur yang sama. Uji Mann Whitney menunjukkan penurunan mineral paling sedikit terjadi pada kelompok IV (4500). Desensitizing agent mengandung F sebelum dan sesudah perlakuan in office bleaching menunjukkan penurunan mineral paling kecil. ABSTRACT: The Effectiveness of Desensitizing Agent with and without Fluorine in Office Bleaching Method to Tooth Mineral content. Tooth sensitivity arises during or after an in-office bleaching was performed is usually overcome by using desensitizing agent with or without fluor. So far, desensitizing method applied only reduces tooth sensitivity but it had not overcome demineralization problem yet. This study was aimed to determine the influence of an applicationprocess and fluoride containing desensitizing agent in tooth mineral lossEight teeth were divided into four parts. Six specimens were smoothened using agate mortar. One mg of powder was inserted into the sample holder and mounted ongoniometer heads to examine mineral content before treatment using X-Ray Diffraction (XRD). Twenty-four specimens were classified into four groups. In group I, 0,1 ml desensitizing agent without fluoride (CPP-ACP) was applied for 30 minutes after an in-office bleaching using 40% Hydrogen Peroxide was performed, while in group II, CPP-ACP was applied before and after an in-office bleaching was performed. In group III 0,1 ml fluoride containing desensitizing agent (CPP-ACFP) was applied for 30 minutes after in-office bleaching using 40% Hydrogen Peroxide was performed, while in group IV fluoride containing desensitizing agent was applied before and after an in-office bleaching was performed. Finally, all of the specimens were measured in their after-treatment mineral contain. Mann Whitney test showed that the lowest mineral lost was detected in group IV (4500). Fluoride containing desensitizing agent applied before and after an in-office bleaching effectively reduced mineral loss.
Minyak Atsiri Temu Putih (Curcuma Zedoaria Rosc., Zingiberaceae) Menurunkan Ekspresi CD4+ Pada Gingiva Terpapar A. Actinomycetemcomitans Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aggregatibacter actinomycetemcomitans (A. actinomycetemcomitans) is a gram-negative bacteria associated with periodontal disease. Positive expression of CD4+ is shown in gingivitis and periodontitis. The aim of this study was to determine the effect of curcuma zedoaria Rosc., volatile oil against CD4+ expression on gingiva exposed A. actinomycetemcomitans. The study was conducted on male Wistar rats aged 3 months that were exposed bacteria A. Actinomycetemcomitans. Treatment group as many as 5 rats were administered orally with curcuma zedoaria Rosc. volatile oil at dose of 30.6 μl/ml for 14 days and distilled water in control. A 100 μl bacteria were applied on the 7th to 14th day on the gingiva anterior mandibular. At the 15th day, rat was anesthetized then sacrificed. The mandibular gingiva anterior of the rat was taken as histological preparations for HE and immuno-histo chemical staining. CD4+  antibody (Santa Cruz Biotechnology, USA) was used for immune staining. Histological preparations were observed under a light microscope.The results showed a strong positive CD4+ expression in the lamina propria and stratum basale of control group while a weak positive expression in lamina propria area of treatment group. From the experiment, it is concluded that the induction of curcuma zedoaria Rosc. volatile oil may reduce gingivitis, indicated by the decrease in CD4+ expression
Kontrasepsi Hormonal Meningkatkan Kadar α-Amylase Saliva Handajani, Juni; Puspita, Rini Maya; Amelia, Rizki
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salivary α-amylase atau α-amylase saliva (SAA) adalah salah satu enzim dalam saliva yang berperan penting pada inisiasi digesti karbohidrat dan fungsi interaksi bakteri. Kontrasepsi hormonal sangat populer di Indonesia untuk mencegah kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar SAA wanita pemakai kontrasepsi pil dan suntik. Subjek penelitian sebanyak 30 perempuan usia 20-35 tahun. Prosedur penelitian telah mendapat persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok (pemakai kontrasepsi pil, suntik, dan kontrol), masing-masing 10 perempuan. Kriteria subjek antara lain subjek sehat, tidak menggunakan alat ortodontik, protesa atau mahkota, serta menggunakan kontrasepsi hormonal lebih dari 3 bulan. Sampel saliva dikumpulkan pada sore hari (16.00-18.00 WIB) selama 1 menit dengan metode tanpa stimulasi. Kadar tingkat SAA diukur menggunakan ELISA kit (Salimetrics LLC) dengan Optical Density (OD) pada 405 nm. Data dianalisis menggunakan ANOVA (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan kadar SAA tertinggi pada perempuan pemakai kontrasepsi  pil dan ada perbedaan yang signifikan diantara tiga kelompok. Disimpulkan bahwa kontrasepsi hormonal meningkatkan kadar SAA.ABSTRACT: Hormonal Contraceptive Increased The Level of Salivary Α-Amylase. Salivary α-amylase (SAA) is one of the most important enzymes in saliva. This enzyme was mainly involved in the initiation of the digestion of starch in the oral cavity and has significant bacterial interactive function. Hormonal contraceptives are very popular in Indonesia to avoid pregnancy. This study aimed to evaluate the level of SAA in woman who taking pill and by injection contraceptives. Thirty women were in subjects, 20-35 years old, approval ethical clearance from Ethic Committee Medical Faculty of Gadjah Mada University, Yogyakarta Indonesia. Subjects were divided into three groups (taking pill contraceptive, by injection contraceptive and control). Each group consisted ten women. Criteria for issue were medication free, healthy, no orthodontic treatment, no prosthesis or crown and took hormonal contraceptives more than three months. Saliva samples were collected at afternoon (16.00-18.00 pm) for 1 minute using unstimulating method. The level of SAA was measured by ELISA kit (Salimetrics LLC). Optical Density was read on a standard plate at 405 nm. Data for level SAA were analyzed using ANOVA (p<0.05). Results showed the highest level of SAA in woman who takes pill contraceptive, and there were significant differences between the three groups. This study is suggesting that the hormonal contraceptive increased the level of SAA.
Penurunan Kadar IL-1β Makrofag Terpapar Agregat Bakteri Actinomycetemcomitans setelah Pemberian Minyak Atsiri Temu Putih Handajani, Juni; Fatimah, Siti; Asih, Ristini; Latif, Antinah
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 1, No 2 (2015): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.177 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10158

Abstract

IL-1β level of macrophage exposed to A. actinomycetemomitans decreases after administration Curcuma Zedoaria volatile oil. Activation of interleukin-1β (IL-1β) is a key regulator of the inflammatory response. Macrophage is a phagocytic mononuclear cell that plays an important role in innate and adaptive immune response. The cytokine secreted by macrophages in response to pathogen are IL-1, IL-6, IL-12, TNF-α and chemokine. Curcuma zedoaria volatile oil may have anti inflammation effect. The aim of this study was to investigate IL-1β level of macrophage exposed to A. actinomycetemcomitans after administration Curcuma zedoaria volatile oil. The subjects were 10 male Wistar rats, which divided into two groups (treatment and control), each group 5 rats. In the treatment group, 30,6 μl/ml Curcuma zedoaria volatile oil was administered per oral for 14 days and the control group used aquabidest. In the 7th days, 100 μl A. actinomycetemcomitans in CMC 2% were applied on the anterior gingival mandible for 7 days. Rats were anesthetized in the 15th days then macrophage was collected from peritoneal. Interleukin-1β level of macrophage was measured using ELISA kit (R&D Systems, USA). Data were analyzed using t-test. The result showed IL-1β level decreased after treatment. The comparison between treatment and control was significant difference (p<0.05). It can be concluded that Curcuma zedoaria volatile oil may have anti inflammation effect through reducing the IL-1β level of macrophage.
Kontrasepsi Hormonal Meningkatkan Kadar α-Amylase Saliva Handajani, Juni; Puspita, Rini Maya; Amelia, Rizki
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.936 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8788

Abstract

Salivary α-amylase atau α-amylase saliva (SAA) adalah salah satu enzim dalam saliva yang berperan penting pada inisiasi digesti karbohidrat dan fungsi interaksi bakteri. Kontrasepsi hormonal sangat populer di Indonesia untuk mencegah kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar SAA wanita pemakai kontrasepsi pil dan suntik. Subjek penelitian sebanyak 30 perempuan usia 20-35 tahun. Prosedur penelitian telah mendapat persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok (pemakai kontrasepsi pil, suntik, dan kontrol), masing-masing 10 perempuan. Kriteria subjek antara lain subjek sehat, tidak menggunakan alat ortodontik, protesa atau mahkota, serta menggunakan kontrasepsi hormonal lebih dari 3 bulan. Sampel saliva dikumpulkan pada sore hari (16.00-18.00 WIB) selama 1 menit dengan metode tanpa stimulasi. Kadar tingkat SAA diukur menggunakan ELISA kit (Salimetrics LLC) dengan Optical Density (OD) pada 405 nm. Data dianalisis menggunakan ANOVA (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan kadar SAA tertinggi pada perempuan pemakai kontrasepsi  pil dan ada perbedaan yang signifikan diantara tiga kelompok. Disimpulkan bahwa kontrasepsi hormonal meningkatkan kadar SAA.Hormonal Contraceptive Increased The Level of Salivary Α-Amylase. Salivary α-amylase (SAA) is one of the most important enzymes in saliva. This enzyme was mainly involved in the initiation of the digestion of starch in the oral cavity and has significant bacterial interactive function. Hormonal contraceptives are very popular in Indonesia to avoid pregnancy. This study aimed to evaluate the level of SAA in woman who taking pill and by injection contraceptives. Thirty women were in subjects, 20-35 years old, approval ethical clearance from Ethic Committee Medical Faculty of Gadjah Mada University, Yogyakarta Indonesia. Subjects were divided into three groups (taking pill contraceptive, by injection contraceptive and control). Each group consisted ten women. Criteria for issue were medication free, healthy, no orthodontic treatment, no prosthesis or crown and took hormonal contraceptives more than three months. Saliva samples were collected at afternoon (16.00-18.00 pm) for 1 minute using unstimulating method. The level of SAA was measured by ELISA kit (Salimetrics LLC). Optical Density was read on a standard plate at 405 nm. Data for level SAA were analyzed using ANOVA (p<0.05). Results showed the highest level of SAA in woman who takes pill contraceptive, and there were significant differences between the three groups. This study is suggesting that the hormonal contraceptive increased the level of SAA.