Rizki Hanriko
Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, jalan Soemantri Brojonegoro 1 Bandar Lampung

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

Efek Protektif Madu Terhadap Ginjal Tikus Putih Yang Diinduksi Etanol Muhartono, -; Hanriko, Rizki; Dwita, Haryani
Juke Unila Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Juke Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Honey  already used as natural food sources since long time ago.  Honey has been shown contained active chemical compounds that are antioxidants, yet there is still only a few experimental studies about the protective effect of honey against ethanol-induced renal damage. This study aims to prove the protective effect of honey against renal damage and determine the relationship of increasing doses of honey against renal damage in male rat (Rattus norvegicus). Research subjects were used 25 Sprageu dawley strain male rat.  Rat weredivided into 5 groups that was negative control were given only distilled, positif control (only given ethanol 0,01 ml/gBW/day), treatment group I (given honey 0,0018 ml/gBW/day dan ethanol 0,01 ml/gBW/day), treatment group II (given honey 0,0054 ml/gBW/day dan ethanol 0,01 ml/gBW/day), treatment group III (given honey 0,0162 ml/gBW/day dan ethanol 0,01 ml/gBW/day) for 14 days. Based on result of the Kruskal wallis test performed on this data p<0,05, which mean there were protective effect of giving the honey treatment to renal damage male rat.  Mann whitney test result p <0,05, which  means that there were significant differences proximal tubulus on rat almost found between each groups except positif control group with treatment group I and treatment group II with treatment group III. Honey shown to have protective effects against ethanol-induced renal damage of Sprageu dawley strain male rat. Increasing doses of honey can increase the protective effects against the renal damage of Sprageu dawley strain male rat at certain dose, on dose 0,0018 ml/gBW/day and 0,0054 ml/gBW/day
Terapi Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System pada Penyakit Ginekologis Erin, Dwi; Hanriko, Rizki; Techa, Eliza
Jurnal Medula Vol 7, No 4 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System (LNG-IUS) merupakan alat kontrasepsi berbentuk seperti huruf T yang melepaskan 20 µg LNG ke dalam uterus per hari selama 5 tahun. Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System (LNG-IUS) dapat menyebabkan kadar serum level LNG yang rendah, namun secara lokal memiliki kadar yang tinggi di endometrium dan menyebabkan endometrium inaktif. Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System (LNG-IUS) yang awalnya didesain sebagai alat kontrasepsi telah banyak digunakan untuk berbagai penyakit ginekologis , seperti perdarahan haid banyak,endometriosis, leiomioma, adenomiosis, hiperplasia endometrium, dan karcinoma endometrium stadium awal. Kata kunci: Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System, adenomiosis, kanker endometrium, hiperplasia endometrium,endometriosis, leiomioma
Seorang Wanita 33 Tahun dengan Myeloradikulopati Thorakal V-VI dengan Gambaran MRI Schwannoma, namun Hasil Histopatologi adalah Spondilitis TB Wicaksono, Andrian Prasetya; Fitriyani, Fitriyani; Hanriko, Rizki
Jurnal Medula Vol 7, No 2 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spondilitis tuberkulosa (TB) adalah peradangan granulomatosa pada vertebrae yang bersifat kronis destruktif oleh Mycobacterium tuberculosis. Manifestasi klinis yang ditimbulkan cenderung lambat dan biasanya didahului gejala prodromal seperti demam, keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan, dan defisit neurologis terjadi pada tahapklinis selanjutnya. Seorang wanita 33 tahun dengan keluhan utama kelemahan pada kedua tungkai sejak +1 minggu yang lalu. Awalnya os mengalami keluhan nyeri pinggang kiri sekitar +7 bulan SMRS. Keluhan nyeri yang dirasakan seperti terbakar dan menghilang sementara jika diberikan obat pereda nyeri. Kemudian +2 bulan SMRS os mulai merasakan kelemahan pada bagian kaki kiri dan juga terasa kebas. Sekitar +1 minggu SMRS keluhan yang sama mulai terjadi pada kakikanan sehingga os menjadi tidak dapat berjalan. Keluhan yang paling dirasakan saat ini adalah kelemahan pada kedua tungkai, namun nyeri sudah berkurang. Pada pemeriksaan neurologis, sensibilitas didapatkan adanya penurunan sensasi raba, nyeri, dan suhu dimulai dari sejajar proccessus xiphoideus ke arah bawah sampai ujung kaki pada sisi kiri dan kanan. Pada pemeriksaan motorik didapatkan kelemahan kedua tungkai dengan nilai 2/2, pemeriksaan refleks fisiologis ditemukan hiperefleks kedua tungkai (patella dan achilles), refleks patologis (babinsky, chaddock, dan schaefer) positif, dan klonus kedua tungkai positif. Berdasarkan pemeriksaan fisik ditemukan bahwa sensibilitas menurun mulai dari setinggi dermatomal torakal V. Pasien awalnya didiagnosistumor medulla spinalis vertebra torakalis V-VI dan mendapatkan terapiberupa non-farmakologis, farmakologis. Namun setelah dilakukan tindakan operatif berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi pasien di diagnosa dengan Spondilitis TB vertebrae torakalis V-VI.Kata kunci: Mycobacterium tuberculosis, Spondilitis Tuberkulosa
Hernia Nukleus Pulposus Servikalis Maksum, Maradewi; Fitriyani, Fitriyani; Hanriko, Rizki; Marudut, Edi
Jurnal Medula Vol 6, No 1 (2016): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Myelopati cervical adalah suatu kondisi yang disebabkan karena penyempitan pada canalis spinalis yang dapat menyebabkan disfungsi medulla spinalis, sementara radikulopati adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan gangguan fungsi dan struktur radiks akibat proses patologis yang dapat mengenai satu atau lebih radiks saraf dengan pola gangguan yang bersifat dermatomal. Baik myelopati dan radikulopati bisa disebabkan karena hernia nukleus pulposus. Dilaporkan pasien laki-laki, usia 34 tahun datang Rumah Sakit Provinsi dr. H. Abdul Moeloek dengan keluhanlemah pada kedua lengan dan tungkai yang diperberat apabila pasien batuk atau mengejan, pasien tidak bisa berjalan dan selalu terjatuh apabila mencoba berjalan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran composmentis dan tampak sakit sedang, didapatkan hyphesthesia setinggi servikal 4. Pasien diberikan terapi konservatif dan Nonsteroidal Ant- Inflammatory Drug (NSAID) dengan Natrium diclofenac dengandosis 100 mg per hari.Kata kunci: hernia nukleus pulposus, mielopati, radikulopati, servikal
Efektivitas Activated Charcoal Cigarette Filter Dalam Menurunkan Risiko Kejadian Kanker Paru Sara, Grace; Hanriko, Rizki
Jurnal Medula Vol 7, No 5 (2017): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker paru merupakan salah satu kanker yang paling banyak menyebabkan kematian di Indonesia. Perilaku merokok merupakan salah satu penyebab utama kanker paru. Angka konsumsi rokok penduduk Indonesia sekitar 12,3 batang per hari. Rokok adalah kertas berbentuk silinder berisi tembakau kering, yang bila dibakar menghasilkan emisi berupa asap utama dan samping. Dalam asap utama terdapat zat karsinogenik seperti karbonil yaitu formaldehid, akrolein, krotonaldehid, 1,3-butadin, benzene, dan partikulat total yaitu tar, nikotin dan karbon monoksida yang berkontribusi menyebabkan penyakit terkait rokok. Kanker paru secara umum terdiri dari 2 jenis yaitu small cell lung cancer (SCLC) dan non-small cell lung cancer (NSCLC). Zat karsinogenik pada rokok menimbulkan perubahan pada epitel paru melalui sitokrom 450 dan mengendap di paru sebagai toksik. Terapi efektif untuk mengeliminasi kanker paru adalah pneumonektomi, meskipun morbiditas dan mortalitas pneumonektomi masih tinggi, sehingga pencegahan tetap lebih disarankan. Pencegahan berupa filter rokok dapat menyaring senyawa kimia berbahaya, terutama dengan penggunaan activated charcoal. Pada penelitian Morabito di US, pemberian filter charcoal yaitu 100mg, 200mg, 300mg, dan 400mg, terdapat penurunan kadar senyawa karbonil yang signifikan. Meskipun pada kadar tar, nikotin dan karbon monoksida (TNCO) hanya sebesar ≤20%. Pada penelitian di Jepang, pada sampel yang selalu menggunakan rokok dengan filter charcoal dibanding sampel yang menggunakan kedua jenis rokok yaitu filter dan non-filter, diidapatkan hasil penurunan kadar zat karsinogenik yang lebih baik. Namun tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan penurunan angka kejadian kanker paru karena banyaknya faktor lain. Dapat disimpulkan penggunaan rokok dengan filter Activated Charcoal belum cukup efektif dalam menurunkan risiko kejadian kanker paru.Kata Kunci: : Arang, filter, kanker paru, rokok
Papilloma dan Karsinoma Sinonasal Hanriko, Rizki; Muhartono, Muhartono
Jurnal Kesehatan Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.508 KB) | DOI: 10.26630/jk.v8i1.405

Abstract

Sinonasal papilloma is rare, only 0.5-4% of sinonasal tumors with aetiopathogenesis has not known yet. Sinonasal carcinoma is a rare malignancy, and the most common types are squamous cell carcinoma (SCC). Malignant transformation of papilloma is very low, which inverted type were reported about 2-27%, with the development of papilloma into carcinoma was approximately 63 months (6 months-13 years). Prior study showed the malignant transformation in 11% of recurrences inverted papilloma, which were 7%syncronous and 3.6% metachronous SCC. The unilateral inverted papilloma with sinonasal squamous cell carcinoma were usually occured in the elderly. Some factors to consider in malignant transformation of papilloma were recurrence, atypical features and HPV. Smoker, large tumor and lesion in the frontal sinus area were had a tendency to recurrence. Malignancy were associated with bone invasion, bilateral inverted papilloma, squamous cell hyperplasia, presence of three types of epithelial cells (squamous metaplasia, squamous mature and cylindrical cell), heavy hyperkeratosis, mitotic index ≥2/HPF, the absence of polyps inflammation, the number of plasma cells, low of eosinophils and neutrophils absent.
Studi Diagnostik Ultrasonografi dalam Mendiagnosis Nodul Tiroid di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Antika, Intan Damaya; Hanriko, Rizki; Larasati, T.A
Jurnal Medula Vol 8, No 2 (2019): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nodul tiroid merupakan suatu neoplasia endokrin, yang meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dan lebih banyak terjadi pada perempuan. Lokasi anatomi kelenjar tiroid yang unik yaitu berada di superficial, dengan mudah dapat dideteksi baik melalui pemeriksaan fisik maupun dengan menggunakan media diagnostik salah satunya adalah ultrasonografi. Nilai diagnostik untuk pemeriksaan ultrasonografi di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai diagnostik pemeriksaan ultrasonografi dalam mendiagnosis nodul tiroid pada pasien di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November 2016 di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Perhitungan rumus sampel minimal didapatkan 47 sampel. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa hasil data rekam medis pasien dengan nodul tiroid. Penelitian ini menggunakan penelitian uji diagnostik dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian uji diagnostik yang didapatkan adalah sensitivitas 71,42%; spesifisitas 50%; Nilai Duga Positif (NDP) 51,72%; Nilai Duga Negatif (NDN) 70%; Rasio Kemungkinan Positif (RKP) 1,42; Rasio Kemungkinan Negatif (RKN) 0,56; dan Akurasi 59,18%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan ultrasonografi belum bisa menjadi suatu alat diagnostik yang baik, namun dapat dijadikan sebagai alat screening.Kata kunci: Nodul tiroid, Uji diagnostik, Ultrasonografi.
HUBUNGAN USIA DAN HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN BPH DI BANGSAL BEDAH RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK TAHUN 2017 Adha, Muhammad Iz Zuddin; Hanriko, Rizki; Angraini, Dian Isti
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Volume 8.`1 Edisi November-Februari
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1562.126 KB)

Abstract

ABSTRAK  Pendahuluan: Benign prostate hyperplasia (BPH) sering terjadi pada usia lanjut. Sekitar 50% laki-laki yang memiliki usia diatas 50 tahun diketahui memiliki bukti patologi BPH. Usia dan hipertensi diketahui menjadi faktor dalam proses terjadinya BPH. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia dan hipertensi dengan kejadian BPH di Bangsal Bedah RSUD Dr. H. Abdul Moeloek tahun 2017. Metode:  Penelitian ini menggunakan metode case control study. Jenis data yang dipakai adalah data sekunder dari rekam medis. Sampel diambil dari pasien bangsal bedah RSUD Dr. H. Abdul Moeloek tahun 2017. Teknik pengambilan sampel adalah consecutive. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat, analisis bivariat dengan chi-square, dan analisis multivariat dengan metode regresi logistik ganda. Hasil: Rerata usia subjek penelitian adalah 66,00 ± 10,17 tahun untuk kelompok kasus. dan 53,36 ± 16,19 tahun untuk kelompok kontrol. Pada kelompok kasus, persentase hipertensi sebesar 36,7% sedangkan yang tidak hipertensi sebesar 63,3%. Pada kelompok kontrol persentase hipertensi sebesar 10% sedangkan yang tidak hipertensi sebesar 90%. Hasil penelitian menunjukan bahwa usia ?50 tahun (OR = 11,947; nilai p=0,009) dan hipertensi (OR = 7,898; nilai p=0,017) merupakan faktor risiko terjadinya BPH. Pembahasan:  Pada usia tua, terjadi ketidakseimbangan hormon testosteron dan estrogen sehingga mempengaruhi pembesaran kelenjar prostat. Peningkatan ekspresi VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) pada kondisi hipertensi akan menginduksi angiogenesis dan mengakibatkan terjadinya peningkatan gejala klinis BPH. Kesimpulan: Terdapat hubungan usia dan hipertensi dengan kejadian BPH di Bangsal Bedah RSUD Dr. H. Abdul Moeloek tahun 2017. Kata Kunci: BPH, hipertensi, usia  ABSTRACT  Background: Benign prostate hyperplasia (BPH) often occurs in old age. About 50% of men over 50 years are known to have BPH pathology evidence. Age and hypertension are known to be factors in the process of BPH. The purpose of this study was to determine the relationship of age and hypertension with the occurrence of BPH in the Surgical Ward of RSUD Dr. H. Abdul Moeloek in 2017. Methods: This study uses a case control study method. The type of data used is secondary data from medical records. Samples were taken from surgical ward patients of Dr. H. Abdul Moeloek in 2017. The sampling technique was consecutive sampling. Data analysis was performed with univariate analysis, bivariate analysis with chi-square, and multivariate analysis with multiple logistic regression methods. Results: The mean age of the study subjects was 66.00 ± 10.17 years for the case group. and 53.36 ± 16.19 years for the control group. In the case group the percentage of hypertension was 36.7% while non-hypertension was 63.3%. In the control group the percentage of hypertension was 10% while non-hypertension was 90%. The results showed that age ?50 years (OR = 11,947; p value = 0.009) and hypertension (OR = 7.898; p value = 0.017) were risk factors for BPH. Discussion: In old age, there is an imbalance of the hormones testosterone and estrogen which affects the enlargement of the prostate gland. Increased VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) expression in hypertensive conditions will induce angiogenesis and result in an increase in clinical symptoms of BPH. Conclusion: There is a relationship between age and hypertension with the occurrence of BPH in the Surgical Ward Dr. H. Abdul Moeloek in 2017. Keywords : BPH, hypertension, age
KORELASI ANTARA IMUNOEKSPRESI P53 DAN RESPONS KEMOTERAPI NEOADJUVAN REGIMEN FLUORORASIL, ADRIAMISIN, DAN SIKLOFOSFAMID PADA KARSINOMA DUKTUS PAYUDARA INVASIF Muhartono, -; Hanriko, Rizki
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma duktus payudara invasif (KDPI) stadium IIIB perlu penanganan multimodalitas. Kemoterapi neoadjuvan (KN) diberikan untuk menurunkan ukuran dan stadium tumor agar dapat dilakukan operasi. Regimen KN yang biasanya digunakan yaitu fluororasil, adriamisin, dan siklofosfamid (FAS). Kemoterapi FAS bekerja dengan cara merusak deoxyribonucleic acid dan menginduksi apoptosis sel kanker. Terjadinya kelainan protein atau gen yang berhubungan dengan apoptosis (p53) diduga mempengaruhi respons kemoterapi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi imunoekspresi p53 dengan respons kemoterapi neoadjuvan FAS. Penelitian ini merupakan penelitian analitik potong lintang terhadap 40 kasus KDPI yang diberikan KN FAS di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Maret 2008?Februari 2009. Respons KN FAS dinilai berdasarkan ukuran massa tumor setelah pemberian FAS. Blok parafin penderita dibuat pulasan hematoksilin-eosin dan imunohistokimia dengan menggunakan mouse monoclonal antibody p53 protein (Novocastra), kemudian ditentukan tingkat imunoekspresi p53. Uji statistik dengan Somers?d dan Gamma untuk menguji korelasi antar variabel. Nilai p<0,05 secara statistik dianggap bermakna. Pada 40 kasus KDPI, 20 berespons dan 20 kasus tidak berespons terhadap KN FAS; 13 kasus terekspresi p53>75%, 14 kasus p53=10?75%, 7 kasus p53<10%, dan 6 kasus tidak terekspresi p53. Terdapat korelasi bermakna antara imunoekspresi p53 dan respons kemoterapi FAS (p=0,000). Simpulan, semakin tinggi ekspresi p53, semakin tidak berespons terhadap KN FAS. Imunoekspresi p53 dapat memprediksi respons KN FAS pada KDPI stadium IIIB. [MKB. 2012;44(1):13?8].Kata kunci: Karsinoma duktus payudara invasif, imunoekspresi, p53 Correlation between p53 Immunoexpression and Fluorouracyl, Adriamycin and Cyclophosphamide Regimen Neoadjuvant Chemotherapy Responses in Invasive Ductal Breast CarcinomaInvasive ductal breast carcinoma (IDBC) stage IIIB need multimodality treatment. Neoadjuvant chemotherapy (NC) is given to reduce the size and stage of tumor so that surgery can be performed. Neoadjuvant chemotherapy regimens generally used was fluorouracil, adriamycin and cyclophosphamide (FAC). FAC chemotherapy works by damaging deoxyribonucleic acid and induce apoptosis of cancer cells. Abnormalities of proteins or genes associated with apoptosis (p53) is believed to affect the chemotherapy response. This study was purpose to determine correlation between immunoexpression of p53 and response of neoadjuvant FAC chemotherapy in invasive ductal breast carcinoma. The study was a cross sectional analytic study of 40 IDBC cases given FAC NC at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung between March 2008?February 2009. Response of FAC NC judged on the size of tumor mass following administration of FAC. Haematoxylin-eosin and immunohistochemistry stain using a mouse monoclonal antibody to p53 protein (Novocastra) was made from paraffin blocks of patients, then determined the immunoexpression levels of p53. Somers?d and Gamma statistical were used to test the correlation between variables. The p-value <0.05 was considered statistically significant. In 40 IDCB cases, 20 cases were responded and 20 cases did not respond to FAC NC; 13 cases expressed p53>75%, 14 cases p53 10?75%, 7 cases p53<10%, and 6 cases were not expresed p53; There was a significant correlation between immunoexpression of p53 and the response of FAC chemotherapy (p=0.000). In conclusions, the higher expression of p53, the lower response to NC FAC. Immunoexpression of p53 can predict the response of FAC NC on IDBC stage IIIB. [MKB.2012;44(1):13?8].Key words: Immunoexpression, invasive ductal breast carcinoma, p53 DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.209
Perbandingan Pengaruh Ekstrak Daun Teh Hijau Dengan Metformin Terhadap Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Sprague Dawley Dengan Diet Tinggi Lemak Linus, Keith Shawn Jeff; Hanriko, Rizki; Soleha, Tri Umiana
Jurnal Medula Vol 9, No 1 (2019): MEDICAL PROFESSION JOURNAL OF LAMPUNG
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat yang tinggal di kota besar cenderung memiliki keterbatasan waktu sehingga membutuhkan makanan dengan mudah dan praktis. Restoran cepat saji memberikan kemudahan dan pelayanan yang cepat dalam menyajikan makanan namun banyak memiliki kandungan lemak yang tinggi. Diet tinggi lemak ini dapat membuat kerusakan pada organ tubuh terutama ginjal. Metformin dan teh hijau memiliki kemampuan untuk mengurangi kadar lemak dalam tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan pengaruh ekstrak daun teh hijau dengan metformin terhadap histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak. Penelitian analitik eksperimental dengan rancangan post test only control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) berjumlah 25 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok, yaitu kontrol (tidak diberikan perlakuan), perlakuan 1 (diberikan metformin 100mg/kgBB/hr), perlakuan 2 (diberikan metformin 300mg/kgBB/hr), perlakuan 3 (diberikan ekstrak daun teh hijau 81mg/kgBB/hr), dan perlakuan 4 (diberikan ekstrak daun teh hijau 270mg/kgBB/hr), yang juga diberikan diet tinggi lemak. Kemudian dilakukan pembedahan untuk pemeriksaan histopatologi. Pada penelitian ini didapatkan rerata skor kerusakan ginjal pada kelompok K, P1, P2, P3, dan P4 adalah 2,88, 2,32, 1,84, 2,32, dan 2,08. Kemudian pada uji Post-Hoc Mann-Whitney didapatkan nilai p antara P1 dan P2 adalah 0,095, P1 dan P3 adalah 1,000, P1 dan P4 adalah 0,262, P2 dan P3 adalah 0,095, P2 dan P4 adalah 0,268, dan P3 dan P4 adalah 0,262. Tidak terdapat perbandingan pengaruh ekstrak daun teh hijau dengan metformin terhadap histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley dengan diet tinggi lemak.Kata Kunci: Diet tinggi lemak, Ekstrak daun teh hijau, Ginjal, MetforminEffect Comparison Of Green Tea Leaf Extract