Articles

Found 17 Documents
Search
Journal : Jurnal Kedokteran Diponegoro

HUBUNGAN KADAR NATRIUM SERUM SAAT MASUK DENGAN KELUARAN MOTORIK PASIEN STROKE ISKEMIK Parakkasi, Alifianto Parham; Muhartomo, Hexanto; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.796 KB)

Abstract

Latar belakang : Gangguan motorik umum ditemukan pada pasien stroke. Gangguan natrium pada pasien stroke iskemik fase akut diketahui berkaitan dengan keluaran pasien yang lebih jelek. Hubungan antara gangguan kadar natrium serum dengan keluaran motorik pasien stroke iskemik belum pernah diteliti.Tujuan : Membuktikan kadar natrium saat masuk berpengaruh terhadap keluaran motorik pasien stroke iskemik.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang. Subjek penelitian adalah 33 pasien stroke iskemik sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang diambil secara consecutive sampling. Keluaran motorik dinilai menggunakan Skor motor assessment scale (MAS) yang dilakukan pada hari ke-7 perawatan atau saat pasien pulang, sedangkan kadar natrium serum saat masuk didapat dari rekam medis. Uji statistik menggunakan uji One Way ANOVA dan uji Korelasi Spearman.Hasil : Penelitian ini tidak menemukan adanya korelasi yang bermakna antara kadar natrium serum dengan skor MAS (p = 0,938) pada pasien stroke iskemik. Kadar natrium serum memiliki korelasi negatif sangat lemah terhadap skor MAS (r = -0,01). Skor MAS antara pasien stroke iskemik yang hiponatremia, normonatremia, dan hipernatremia tidak berbeda secara signifikan (p = 0,073). Rerata skor MAS yang lebih rendah ditemukan pada pasien stroke iskemik yang hiponatremia (24,80) dan hipernatremia (13,76) dibandingkan pasien stroke iskemik yang normonatremia (28,44).Simpulan : Pasien stroke iskemik yang hiponatremia atau hipernatremia memiliki skor MAS yang lebih jelek dari pasien yang normonatremia. Namun, tidak terdapat korelasi yang bermakna antara kadar natrium serum saat masuk dengan skor MAS pasien stroke iskemik.
PENGARUH LATIHAN SKIPPING TERHADAP VERTICAL JUMP MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO Pramudani, Ardita Hartanti; Kumaidah, Endang; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.849 KB)

Abstract

Latar Belakang: Skipping adalah olahraga sederhana yang memiliki dampak terhadap kebugaran fisik. Vertical jump merupakan salah satu indikator kebugaran fisik yaitu daya ledak otot. Tinggi vertical jump sering dituntut dalam kinerja olahraga dan merupakan kemampuan yang sering di uji dalam tes kemampuan dasar untuk berolahraga.Tujuan: Mengetahui pengaruh latihan skipping terhadap nilai vertical jump mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.Metode: Penelitian ini quasi experimental dengan metode  pre-test dan post-test unequivalent group. Jumlah minimal subjek penelitian merupakan 26 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Karakteristik subjek penelitian yang diperoleh adalah usia, tinggi badan dan berat badan. Pengukuran vertical jump dilakukan dengan sargent jump test. Data kemudian diolah dengan uji Shapiro-Wilk.Hasil: Jumlah subjek penelitian yang di gunakan adalah 28 untuk mendapatkan distribusi jenis kelamin subjek yang sama, 7 wanita dan 7 pria pada masing-masing kelompok. Rerata skor vertical jump pada kelompok kontrol adalah 40,21 cm dan kelompok perlakuan 48,53 cm. Hasil uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk diperoleh data berdistribusi tidak normal untuk kedua kelompok. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan didapatkan perbedaan bermakna dengan nilai p < 0,001.Kesimpulan: Latihan skipping berpengaruh terhadap vertical jump mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.Kata Kunci: latihan, skipping, vertical jump.
PENGARUH BRAIN TRAINING TERHADAP MEMORI DIUKUR DENGAN SCENERY PICTURE MEMORY TEST Yusdiyanti, Ditha; Hardian, Hardian; Sumekar, Tanjung Ayu
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.353 KB)

Abstract

Latar Belakang Memori merupakan salah satu fungsi kognitif yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Brain training atau latihan otak merupakan salah satu pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan otak salah satunya fungsi memori, namun hal ini masih banyak diperdebatkan efektifitasnya dan belum dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya karena bukti ilmiah yang mendukung masih sangat kurang.Tujuan Membuktikan manfaat brain training terhadap fungsi memori.Metode Penelitian eksperimental dengan rancangan one group pre and post design dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Tembalang, Semarang. Sampel penelitian ini adalah kelompok usia dewasa muda yang pada periode penelitian tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang (n=35). Memori diukur dengan scenery picture memory test. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji Mc. Nemar dan uji Wilcoxon.Hasil Rerata skor memori sebelum dilakukan perlakuan brain training Neuronation? adalah sebesar 17,22±3,15 dan rerata skor memori sesudah dilakukan perlakuan brain training Neuronation? adalah sebesar 19,17±3,12. Hal ini menunjukan adanya peningkatan fungsi memori setelah dilakukan perlakuan. Peningkatan dinilai bermakna setelah diuji dengan menggunakan uji Wilcoxon karena memiliki distribusi yang tidak normal yaitu senilai P<0,001.Kesimpulan Penggunaan brain training Neuronation? selama 30 menit sehari, sebanyak 20 kali dalam 4 minggu dapat meningkatkan memori secara bermakna.
FAKTOR – FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN DEPRESI PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI RSUP DR. KARIADI SEMARANG Nahda, Nisrina Darin; Kholis, Fathur Nur; Wardani, Natalia Dewi; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.947 KB)

Abstract

Latar Belakang : Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular penyebab kematian. Pada pasien tuberkulosis dapat terjadi depresi. Ada beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, ada komplikasi dan penyakit komorbid serta efek samping obat diduga berhubungan dengan kejadian depresi.Tujuan:  Untuk membuktikan faktor ? faktor yang berpengaruh terhadap kejadian depresi pada pasien Tuberkulosis di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode : Penelitian belah lintang dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode Maret s/d Juni 2016. Subyek penelitian adalah 52 orang pasien tuberkulosis yang menerima terapi rawat jalan dan rawat inap. Variabel bebas adalah umur, jenis kelamin, komplikasi tuberkulosis dan penyakit komorbid, serta efek samping obat. Variabel terikat adalah  kejadian depresi yang diukur dengan skor DASS. Skor DASS ³14 dikategorikan sebagai depresi, < 14 sebagai tidak depresi. Uji t-tidak berpasangan, c2,  korelasi Rank-Spearman dan uji rgreswi logistik multivariat digunakan untuk analisis data.Hasil : Rerata±SB skor DASS subyek penelitian adalah 16,1±10,92. Berdasarkan kategori skor DASS dijumpai subyek dengan depresi  adalah 27 orang (51,9%). Rerata umur subyek depresi adalah 49,3±18,15 dan tidak depresi adalah 36,2±11,88 tahun (p=0,04). Ada korelasi positif derajat sedang antara umur dengan skor DASS (koefisien korelasi=0,47; p<0,001).  Adanya  komplikasi tuberkulosis dan penyakit komorbid berhubungan secara bermakna dengan kejadian depresi pada pasien Tuberkulosis (p<0,001). Hasil analisis uji regresi logistik multivariat hanya komplikasi tuberkulosis dan penyakit komorbid yang berpengaruh terhadap kejadian depres i(OR= 20,1; 95% IK= 3,4 s/d117,6; p=0,001).Kesimpulan : Adanya komplikasi dan penyakit komorbid berpengaruh terhadap kejadian depresi pada penderita Tuberkulosis.
DISTRIBUSI GEOGRAFIS DAN TINGKAT KEPARAHAN PASIEN KARSINOMA HEPATOSELELULER ETIOLOGI VIRUS HEPATITIS B DI RS.DR KARIADI Nadhim RP, Muhammad; Ch. Suharti, Ch. Suharti; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.84 KB)

Abstract

Latar Belakang : Karsinoma hepatoseluler (KHS) menduduki peringkat kelima dari seluruh keganasan di seluruh dunia. KHS merupakan 10-20% dari seluruh penyakit hepar di Indonesia. Belum terdapat data distribusi geografis pasien KHS etiologi virus Hepatitis B di Jawa Tengah.Tujuan : Mengetahui distribusi geografis dan hubungan lokasi asal pasien dengan tingkat keparahan KHS etiologi virus Hepatitis B di RSUP Dr Kariadi Semarang.Metode : Penelitian retrospektif melalui rekam medis pasien KHS yang dirawat di RSUP Dr Kariadi Semarang tahun 2013-2015. Variabel yang dianalisis meliputi Distribusi tempat tinggal pasien (desa/kota), Karakteristik Klinik : usia, jenis kelamin, ,Tingkat keparahan: skor Child-Pugh,Staging BCLC, dan kadar AFP . Data diolah menggunakan program SPSS, tingkat kemaknaan p<0,05.Hasil : Didapatkan 103 pasien KHS dengan distribusi geografis asal pasien terbanyak dari Demak (22,3%), Semarang (17,5%), Grobogan (14,6%). Rasio laki-laki : perempuan 4,4 : 1, rerata umur 47±12,8, Child-Pugh A, 14 (13,6%) , Child-Pugh B, 54 (52,4%), Child-Pugh C 35 (34,0%) , 7 (6,8%) BCLC A (early stage), BCLC B (intermediate stage)41 (39,8%) . BCLC C (advanced stage) 21 (20,4%) . 34(33%) BCLC D (terminal stage) atau stadium akhir. AFP 70% > 400. Tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara distribusi geografi pasien (desa/kota) dengan karakteristik klinik dan tingkat keparahan.Simpulan : Didapatkan gambaran distribusi geografis pasien dengan KHS yang berobat di RSUP Dr Kariadi dengan urutan 3 terbanyak adalah Demak , Semarang, Grobogan. Tidak didapatkan hubungan antara distribusi geografis pasien dengan karakteristik klinik dan tingkat keparahan KHS ( Usia, Jenis Kelamin, Staging BCLC , Kadar Child-Pugh dan Kadar AFP). 
PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU HARVARD TERHADAP NILAI KAPASITAS VITAL PARU PADA ATLET SEPAK BOLA Khoirunnisa, Denisa; Basyar, Edwin; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.842 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kapasitas vital paru merupakan salah satu parameter yang dapat menentukan ketahanan seorang atlet sepak bola. Latihan yang dilakukan sebaiknya dapat meningkatkan kemampuan kerja jantung, frekuensi pernafasan dan kapasitas vital paru. Latihan naik turun bangku Harvard adalah latihan aerobik menggunakan bangku Harvard yang dapat meningkatkan ketahanan kardiovaskular sehingga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas vital paru (VC) pada atlet sepak bola. Tujuan: Membuktikan adanya pengaruh latihan naik turun bangku Harvard terhadap nilai kapasitas vital paru atlet sepak bola. Method: Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental dengan rancangan comparison group pre test and post test design. Subjek penelitian berjumlah 26 orang yang dipilih secara purposive sampling. Kelompok perlakuan melakukan latihan sepak bola rutin dan ditambah naik turun bangku Harvard sebanyak 3 kali dalam seminggu selama delapan minggu, sementara kelompok kontrol melakukan latihan rutin sepak bola saja. Nilai VC diukur dengan spirometer. Analisis statistik menggunakan uji t berpasangan untuk menganalisis VC sebelum dan sesudah latihan naik turun bangku Harvard, kecuali pada VC pre test kelompok kontrol menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Terdapat peningkatan nilai VC yang signifikan (p<0,05) setelah melakukan naik turun bangku Harvard. Peningkatan nilai VC pada kelompok perlakuan lebih besar yakni, 11,69 ml/kg/min (12,84%) dibanding dengan kelompok kontrol yakni 3,59 ml/kg/min (4,09%). Kesimpulan: Latihan naik turun bangku Harvard selama 8 minggu meningkatkan nilai VC pada atlet sepak bola.Kata Kunci: Latihan Naik Turun Bangku Harvard, kapasitas vital paru.
PERBANDINGAN ANTARA NILAI RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT (NLCR) PADA ANAK DENGAN DEMAM DENGUE DAN DEMAM BERDARAH DENGUE Yuntoharjo, Putri Java Islami; Arkhaesi, Nahwa; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.669 KB)

Abstract

Latar belakang: Infeksi virus dengue pada manusia mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yang bervariasi. Kriteria WHO (2011), terdapat beberapa hasil pemeriksaan darah seperti leukosit, trombosit, hematokrit yang berperan penting dalam perjalanan klinis infeksi dengue. Didukung penelitian sebelumnya mengenai NLCR sebagai prediktor atau marker inflamasi.Tujuan: mengetahui perbedaan antara nilai rasio neutrofil limfosit (NLCR) pada anak dengan DD dan anak dengan DBD.Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang (cross sectional). Pengambilan subyek dilakukan dengan cara consecutive sampling. Subyek penelitian adalah 46 pasien infeksi dengue yang dirawat inap di RSUP Dr. Kariadi dan RSND Semarang periode 2015-2017. Data yang dikumpulkan adalah usia, jenis kelamin, status gizi dan NLCR.Hasil: Terdapat perbedaan nilai rasio neutrofil limfosit yang bermakna secara statistik (p<0,001) antara pasien DD dan DBD. NLCR pada DBD (0,55 (±0,33 SB)) lebih rendah dari pada DD (1,8 (±1,23 SB)). Rerata neutrofil pada DBD (1530 sel/ul) lebih rendah dari pada DD (2384 sel/ul). Rerata limfosit pada DBD (3251 sel/ul) lebih tinggi dari pada DD (1659 sel/ul). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur (p=0,748), jenis kelamin (p=0,555) dan status gizi (p=0,289) terhadap kelompok DD dan DBD.Kesimpulan: Rerata nilai NLCR pada demam berdarah dengue lebih rendah dari pada demam dengue.
PENGARUH LATIHAN ZUMBA TERHADAP MASSA OTOT TUBUH PADA WANITA USIA MUDA Prihatingrum, Rina; Sumekar, Tanjung Ayu; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.126 KB)

Abstract

Background : Body weight consists of  water, fat degree, bone, and body muscle mass. Body muscle mass is total weight degree of human?s muscle. Recently, Zumba is an exercise  that is interested by women that is believed to build an ideal body weight.Purpose : To observe the effect  of Zumba exercise on body muscle mass in young females.Method: This study was an analytical observational research with cross sectional design. The subjects were young females aged 19-24 years (n=18) who took a routine Zumba exercise. Muscle mass was measured using Bioelectric Impedance Analysis (Glass Body Analyzer 835) weight scale. . Correlation between the period of Zumba exercise and  body muscle mass was analyzed using Spearman?s rho correlation test.Result: From the 18 subjects, we foundthat the muscle mass average of Zumba participants who took this exercise for ?8 weeks was higher than the participants who tookthis exercise for <8 weeks. Muscle mass average in the subjects who experienced Zumba exercise for < 8 weeks was 38,9% , andthe average  in participants who experienced this exercise  for ? 8 weeks was  42,1%. In the Spearman?s rho correlation test there was a medium degree positive correlation between muscle mass and Zumba exercise (r=0,52; p=0,032).Conclusion : The study found the differences between the average of body muscle mass in subjects who experienced Zumba exercise for <8 weeks and ?8 weeks. This study also showed a positive correlation with moderate degree between body muscle mass and Zumba exercise period. Zumba has influences in young women?s body muscle mass.
PENGARUH BRAIN TRAINING TERHADAP TINGKAT INTELIGENSIA PADA KELOMPOK USIA DEWASA MUDA Hayes, Clarin; Hardian, Hardian; Sumekar, Tanjung Ayu
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.06 KB)

Abstract

Latar Belakang: Brain training sebagai latihan otak menjadi industri yang sangat menjanjikan di era ini untuk menghasilkan jutaan dolar tanpa suatu bukti konkret bahwa brain training dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan inteligensia seseorang. Banyak peneliti yang masih meragukan efektivitas transfer dari brain training ke dalam peningkatan inteligensia di kehidupan sehari-hari.Tujuan: Membuktikan manfaat brain training terhadap tingkat inteligensia.Metode: Penelitian ini bersifat kuasi eksperimen dengan menggunakan rancangan pre dan post test pada satu kelompok yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. Sampel penelitian adalah mahasiswa FK Undip (n=26) yang diberikan pretes, lalu diberi brain training, kemudian diberikan postes. Inteligensia subjek sebelum dan sesudah brain training dianalisis menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Dari 26 subjek penelitian, rerata hasil tes inteligensia setelah brain training menunjukkan adanya peningkatan pada semua area inteligensia yang diteskan yaitu problem solving, logic reasoning, dan visuospatial intelligence. Uji Wilcoxon diperoleh hasil bermakna yaitu pada problem solving p=0,000 dan visuospatial intelligence p=0,000, sedangkan hasil tidak bermakna pada logic reasoning p=0,008. Kesimpulan: Terdapat peningkatan yang bermakna pada problem solving dan visuospatial intelligence dan peningkatan yang tidak bermakna pada logic reasoning pada kelompok usia dewasa muda sesudah melakukan brain training dengan aplikasi NeuronationTM selama 30 menit setiap hari, 5 hari dalam 1 minggu selama 4 minggu.
HUBUNGAN ANTARA DERAJAT NYERI DENGAN TINGKAT KUALITAS HIDUP PASIEN KANKER PARU YANG MENJALANI KEMOTERAPI Husen, Auliya; Suharti, Chatarina; Hardian, Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.529 KB)

Abstract

Latar Belakang : Kanker paru merupakan penyakit keganasan yang sering ditemui dan merupakan penyebab utama kematian akibat keganasan di seluruh dunia, terutama di Indonesia yang sebagian besar penduduknya merupakan perokok. Pada umumnya, kanker paru ditemukan pada stadium lanjut, yaitu stadium III B dan IV, sehingga tujuan utama pengobatannya adalah untuk meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup. Salah satu pilihan terapinya adalah kemoterapi. Kemoterapi menimbulkan banyak efek samping, diantaranya adalah nyeri. Selain karena kemoterapi, nyeri juga dapat terjadi karena kanker itu sendiri. Tujuan : Membuktikan hubungan antara derajat nyeri dengan tingkat kualitas hidup pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi. Metode : Penelitian ini menggunakan desain belah lintang pada 13 pasien kanker paru di Instalasi Kemoterapi RSUP Dr. Kariadi Semarang sejak bulan April hingga Juni 2016. Karakteristik sosiodemografis dan data klinis yang mencakup diagnosis, stadium kanker, performance status, dan siklus kemoterapi adalah data sekunder yang diambil dari rekam medik, diikuti oleh wawancara berbasis kuesioner. Analisis statistik menggunakan Pearson dan Spearman. Hasil : Rerata derajat nyeri pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi adalah 6,5 ± 2,22 dan rerata skor total kualitas hidup pasien adalah 799,6 ± 81,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara derajat nyeri dengan tingkat kualitas hidup pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi (p=0,8). Derajat nyeri memiliki hubungan yang bermakna (r=-0,854) dengan status kesehatan global (p<0,001) dan sesak napas (r=0,537) dengan p=0,04. Simpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara derajat nyeri dengan tingkat kualitas hidup pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi.