Articles

Implementasi Permenkes Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit Terhadap Tatakelola SDM Instalasi Farmasi Rsu Mayjen H.A Thalib Kerinci Tahun 2018 AT, Trianengsih; Hardisman, Hardisman; Almasdy, Dedy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permenkes 72 tahun 2016 sangat penting di terapkan di setiap Instalasi Farmasi di rumah sakit, sehingga tercapainya peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana implementasi Permenkes No.72 Tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian terhadap tata kelola SDM Instalasi farmasi RSU Mayjen H.A Thalib Kerinci Tahun 2018 dengan menganalisis kualifikasi, persyaratan serta Beban kerja dan kebutuhan SDM di IFRS MHAT. Penelitian ini menggunakan desain Sequential Explanatory menggabungkan kuantitatif dan kualitatif dan penelitian kuantitatif adalah 28 orang, untuk informan pada penelitian kualitatif adalah 9 orang. Waktu penelitian dari Nopember sampai Desember 2018 di RSU Mayjen H.A Thalib Kerinci. Hasil penelitian adalah kualifikasi tenaga TKK masih ada dengan latar belakang SMF, Hasil check list dokumen didapatkan jika pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai 44,4% belum terlaksana sedangkan pelayanan farmasi klinik 63,6% belum terlaksana. Hasil pengamatan work sampling didapatkan hasil jika unit gudang dan rawat jalan memiliki produktivitas sedang, sedangkan untuk unit rawat inap menunjukkan tingkat produktivitas rendah. Kualifikasi, persyaratan serta Beban kerja dan kebutuhan SDM di IFRS MHAT belum sesuai dengan Permenkes 72 tahun 2016.
EKSPLORASI DUKUNGAN HOLISTIK KELUARGA DALAM PERAWATAN HIPERTENSI PADA LANJUT USIA: “ASPEK GENDER” DI KOMUNITAS MELAYU RIAU KOTA PEKANBARU, INDONESIA Zulfitri, Reni; Afrizal, Afrizal; Hardisman, Hardisman; Djafri, Defriman
Jurnal Ners Indonesia Vol 7, No 2 (2017): Maret 2017
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.547 KB) | DOI: 10.30652/jni.v7i2.6903

Abstract

Keluarga merupakan support system utama bagi lansia penyakit kronis. Dukungan yang diberikan harus bersifat holistik (aspek fisik, spikososial, maupun spiritual) oleh anggota keluarga laki-laki maupun perempuan, sehingga mencegah terjadinya caregiver burden pada salah satu anggota keluarga. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi gambaran dukungan holistik yang diberikan anggota keluarga laki-laki dan perempuan dalam perawatan hipertensi pada lansia. Menggunakan Mixed methods (metode kuantitatif dan kualitatif) dengan desain survey deskriptif dan studi fenomenologi. Lokasi penelitian adalah di komunitas Melayu Riau Kota Pekanbaru (Kecamatan Rumbai Pesisir, Senapelan, dan Lima Puluh). Jumlah sampel sebanyak 110 keluarga atau 220 orang (anggota keluarga jenis kelamin laki-laki dan perempuan) sesuai kriteria inklusi melalui teknik purposive sampling. Mayoritas dukungan holistik keluarga bersifat negatif (56,4%), Mayoritas partisipasi positif dalam perawatan hipertensi pada lansia dilakukan oleh perempuan (56,4%) dibandingkan laki-laki (20%). Laki-laki berpartisipasi jika perempuan meminta tolong. Mayoritas dukungan aspek biologis yang tidak fokus pada perawatan hipertensi lansia yang diberikan oleh anggota keluarga perempuan (49,1%) maupun laki-laki (30,9%). Mayoritas dukungan instrumental diberikan oleh anggota keluarga (perempuan: 64,5%, laki-laki: 28,2%). Hasil uji Chi Square, menunjukkan ada perbedaan antara dukungan holistik yang diberikan oleh laki-laki dengan perempuan dalam perawatan hipertensi pada lansia (p value = 0,001). Dukungan holistik keluarga dalam perawatan hipertensi pada lansia masih rendah, mayoritas diberikan oleh perempuan. Kerjasama yang positif antara anggota keluarga laki-laki dan perempuan dalam merawat lansia hipertensi di rumah mempengaruhi kualitas dukungan kepada lansia hipertensi.
Peranan Pemberdayaan Perempuan dan Analisis Gender pada Penentuan Kebijakan Pengentasan Malnutrisi Anak di Indonesia Hardisman, Hardisman
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 6 No. 1 Agustus 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.187 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v6i1.112

Abstract

Indonesia masih menghadapi masalah malnutrisi pada anak. Untuk menanggulanginya pemerintah telah melakukan berbagai upaya, diantaranya program kesehatan ibu dan anak serta pemberian makanan tambahan bagi anak dari keluarga yang rentan. Meskipun demikian, kasus malnutrisi anak di Indonesia tidak berkurang secara bermakna. Tulisan ini bertujuan membahas penyebab malnutrisi yang masih menjadi masalah besar dengan mengkaji dari sudut pandang gender. Studi ini dilakukan berdasarkan kajian kepustakaan dan analisis dokumen. Analisis gender terhadap kasus malnutrisi dilakukan dengan menggunakan Harvard Framework serta Moser and Liverpool Guideline. Studi ini memperlihatkanbahwa kasus malnutrisi anak di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan ekonomi, termasuk tingkat pendidikan dan kesetaraan gender. Dalam perspektif gender, malnutrisi anak merupakan akibat dari kurangnya hak kepemilikan sumber daya bagi perempuan dalam keluargadan masyarakat. Beban kerja berat perempuan dalam keluarga yang mempengaruhi kondisi kesehatan juga akhirnya berdampak pada kondisi gizi anak. Oleh karena itu, berbagai strategi yang dilakukan untuk meningkatkan status gizi anak harus mengandung nilai-nilai kesetaraan gender.Kata kunci: Malnutrisi anak, kesetaraan gender, perempuan, status giziAbstractIndonesia still faces child malnutrition problem almost in all regions in the country. The government has done efforts to address the problem, such as mother and child health program in ministry of health and nutrition program through supplementary feeding for venerable group. However, the casesdos not decrease significantly. This paper looks at why child malnutrition is still a big problem in the country by exploring trhough gender perspectives in addressing the problem. This study is based on literature and documents analysis. The gender analysis toward child malnutrition case is conductedthrough the framework of Harvard and Moser and Liverpool guideline for analysis gender and health. This study reveals that child malnutrition cases in Indonesia are strongly influenced by sociocultural and economic factors in the country, including education attainment and gender equality. Fromgender’s perspective, child malnutrition is as a result of lack of control over the resources within the family and the community. Also, triple role of women within the family affects on women health wellbeing and the child nutrition status. Therefore, the strategies to improve child nutrition status should incorporate gender equality values.Key words: Child malnutrition, gender equality, women, nutrition status
HIV/AIDS di Indonesia : Fenomena Gunung Es dan Peranan Pelayanan Kesehatan Primer Hardisman, Hardisman
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 3 No. 5 April 2009
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.035 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v3i5.216

Abstract

Masalah HIV/AIDS di Indonesia diyakini bagaikan fenomena gunung es karena laporan resmi jumlah kasus tidak mencerminkan masalah yang sebenarnya. Prediksi besar masalah HIV/AIDS tersebut didasarkan atas jumlah penyalahgunaan narkotika suntik dan prostitusi yang tinggi. Keduanya merupakan faktor utama yang berperan sangat besar dalam penyebaran dan penularan HIV. Berbagai faktor risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelayanan keseha-tan tetapi juga dengan masalah sosial ekonomi. Permasalahan tersebut perlu diatasi dengan pendekatan pelayanan kesehatan primer komprehensif yang langsung menyentuh akar permasalahan mencakup masalah sosial ekonomi dan lingkungan kultural. Strategi tersebut dilakukan melalui berbagai langkah yang bersifat menyeluruh, meliputi preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif dengan partisipasi dan kerja sama yang luas yang melibatkan berbagai sektordan organisasi non pemerintah dan masyarakat. Beberapa langkah yang harus dilakukan meliputi edukasi dan promosi, pelayanan kesehatan yang merata dan terjangkau. Selain itu yang juga tidak kalah pentingnya adalah pengentasan kemiskinan melalui peningkatan lapangan kerja dan kelibatan partisipasi masyarakat. Kata kunci: HIV/AIDS, pelayanan kesehatan komprehensif AbstractHIV/AIDS problem in Indonesia is considered as iceberg phenomenon, where the reported cases in the government official record do not represent the real situation. This prediction is based on high number of vulnerable groups such as sexual workers and injecting drug users. These factors are not only related to healthcare services but also social economic structure. Therefore, to address this problem, comprehensive Primary Health Care (PHC) must be imple-mented. The comprehensive PHC concerns on underlying problem which includes socioeconomic issues and environment problems. This strategy is conducted through holistic activities from preventive, promotive, curative and rehabilitative through collaboration with other sectors and community involvement. Based on underlying HIV/AIDS problem in Indonesia, there are several strategies that should be done to address the problem, such as education campaign,addressing poverty issue, equitable health services and community participation. Keywords: HIV/AIDS, comprehensive PHC
Memahami Patofisiologi dan Aspek Klinis Syok Hipovolemik: Update dan Penyegar Hardisman, Hardisman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSecara patofisiologis syok merupakan gangguan hemodinamik yang menyebabkan tidak adekuatnya hantaran oksigen dan perfusi jaringan. Gangguan hemodinamik tersebut dapat berupa penurunan tahanan vaskuler sitemik terutama di arteri, berkurangnya darah balik, penurunan pengisian ventrikel dan sangat kecilnya curah jantung. Gangguan faktor-faktor tersebut disbabkan oleh bermacam-macam proses baik primer pada sistim kardiovaskuler, neurologis ataupun imunologis. Diantara berbagai penyebab syok tersebut, penurunan hebat volume plasma intravaskuler merupakan faktor penyebab utama. Terjadinya penurunan hebat volume intravaskuler dapat terjadi akibat perdarahan atau dehidrasi berat, sehingga menyebabkan yang balik ke jantung berkurang dan curah jantungpun menurun. Penurunan hebat curah jantung menyebabkan hantaran oksigen dan perfusi jaringan tidak optimal dan akhirnya menyebabkan syok. Pada tahap awal dengan perdarahan kurang dari 10%, gejala klinis dapat belum terlihat karena adanya mekanisme kompensasi sisitim kardiovaskuler dan saraf otonom. Baru pada kehilangan darah mulai 15% gejala dan tanda klinis mulai terlihat berupa peningkatan frekuensi nafas, jantung atau nadi (takikardi), pengisian nadi yang lemah, penurunan tekanan nadi, kulit pucat dan dingin, pengisian kapiler yang lambat dan produksi urin berkurang. Perubahan tekanan darah sistolik lebih lambat terjadi akibat adanya mekanisme kompensasi tadi, sehingga pemeriksaan klinis yang seksama harus dilakukan.Kata kunci: syok, hipovolemik dan patofisiologiAbstractShock is hemodynamic disorders, which causes inadequate oxygen delivery and perfusion. The hemodynamic disorders can be decreasing of systemic vascular resistant, venous return, ventricular filling and inadequate of cardiac output. The disorders are caused by cardiovascular dysfunction, neurologic or immunologic factors. Intravascular volume loss is one of the main factors, which is caused by severe dehydration or bleeding. These conditions lead to decreasing of venous return and cardiac output that cause inadequate oxygen delivery and perfusion. The homeostatic defence mechanism can compensate the cardiovascular function with the blood loss up to 10%. The clinical symptoms appears when the blood loss 15%, such as tachypnoea, tachycardia, weak of pulse, decreasing of mean arterial pressure, skin pale and cold, decreasing refilling capillary and urine production. Due to the compensation mechanism, alteration of systolic blood pressure is relatively late; therefore, thorough and complete clinical assessment is necessary.Keywords: shock, hypovolemic and pathophysiology
ANALISIS PENYEBAB INSIDEN PASIEN JATUH DI RAWAT INAP RS. Y DI KOTA PADANG Novilolita, Dwi; Lestari, Yuniar; Hardisman, Hardisman
JIM UPB (Jurnal Ilmiah Manajemen Universitas Putera Batam) Vol 8 No 1 (2019): JIM UPB Volume 8 No.1 2019
Publisher : Universitas Putera Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33884/jimupb.v8i1.1590

Abstract

Kejadian pasien jatuh merupakan kejadian yang tidak direncanakan dengan atau tanpa cedera di unit rawat inap. Berdasarkan standar pelayanan minimal, kejadian pasien jatuh yang merupakan bagian dari keselamatan pasien diharapkan adalah 0%. Berdasarkan data awal dari Komite Mutu dan Manajemen Risiko RS Y di Kota Padang terdapat 53 insiden keselamatan pasien dimana insiden terbanyak adalah kejadian pasien jatuh dengan 11 kejadian. Rawat inap merupakan lokasi jatuh terbanyak yaitu 5 insiden kemudian diikuti oleh IGD dan rawat jalan. Oleh karena itu RS Y di Kota Padang tidak mencapai standar dari Komisi Akreditasi yaitu zero accident. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penyebab dan komponen yang berperan dalam insiden pasien jatuh di rawat inap RS Y di Kota Padang. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara semi terstuktur, telaah dokumen, serta observasi. Wawancara dilakukan kepada 21 informan. Komponen yang diteliti yaitu karakteristik individu (pendidikan, pengalaman kerja, kompetensi, usia), sifat dasar pekerjaan (kompleksitas pengobatan, kerjasama dalam unit, gangguan/interupsi), lingkungan fisik (sarana), lingkungan organisasi dan sosial (Standar Prosedur Operasional/SPO), serta faktor manajemen (struktur organisasi, budaya safety). Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar pendidikan minimal sudah mencukupi namun persentasenya belum sesuai standar, jumlah kebutuhan tenaga perawat masih kurang. Kompleksitas pengobatan berupa jenis diagnosis dan pengobatan yang diterima pasien memiliki risiko jatuh yang tinggi, gangguan dalam unit yang mengganggu pelayanan berupa jam besuk tidak sesuai. Sarana yang masih kurang lengkap. Pelaksanaan SPO yang belum optimal. Kesimpulan pelaksanaan pencegahan cedera akibat pasien jatuh belum optimal.
Gambaran Fungsi Ginjal pada Pasien Gagal Jantung dengan Fraksi Ejeksi Menurun dan Fraksi Ejeksi Normal di RSUP Dr. M. Djamil Padang Adriyanti, Annisa Rahmi; Elfi, Eka Fithra; Hardisman, Hardisman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gagal jantung dapat dikelompokkan menjadi HF-REF (Heart Failure with Reduced Ejection Fraction) dan HF- PEF (Heart Failure with Preserved Ejection Fraction). Gagal jantung dapat menyebabkan kerusakan jaringan intersisial ginjal akibat tidak memadainya perfusi ke ginjal, yang akan berdampak pada penurunan fungsi ginjal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran fungsi ginjal pada pasien gagal jantung dengan EF (Ejection Fraction) menurun dan EF Normal di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang dengan sampel penelitian adalah rekam medic seluruh pasien gagal jantung yang dirawat di bagian jantung RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2014. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria penelitian adalah sebanyak 102 pasien. Hasil studi menunjukkan rerata LFG (Laju Filtrasi Glomerulus) pada pasien HF-PEF (50.88±20.90 ml/mnt/1,73m2) lebih rendah dari pada pasien HF-REF(63.27±27.45 ml/mnt/1,73m2). Pada HF-PEF hanya 3,2% pasien yang fungsi ginjalnya normal, dan terdapat 6,5% pasien yang mengalami gagal ginjal, sedangkan yang lainnya mengalami penurunan fungsi ginjal dalam berbagai derajat. Pada HF-REF, tidak terdapat pasien yang mengalami gagal ginjal dan terdapat 15,5 % pasien yang fungsi ginjalnya normal, sedangkan yang lainnya mengalami penurunan fungsi ginjal dalam berbagai derajat.Fungsi ginjal pasien HF-PEF lebih buruk daripada pasien HF-REF.
ANALISIS FAKTOR DETERMINAN KINERJA BIDAN DALAM PELAKSANAAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL DI KABUPATEN MERANGIN TAHUN 2019 Mayasari, Dian; Hardisman, Hardisman; Desmiwarti, Desmiwarti
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 19, No 3 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v19i3.754

Abstract

Based on health profile of Jambi Province (2015)  NLC coverage by health worker in Merangin district health has not reached the target. It shows the macro performance of midwives in the village is not optimal. Some factors related to the performance of a healthcare worker in providing health services are: Individual variables, psychological variables and organizational variables. The purpose of this research is to analyze the factors determinant of the performance of midwives in the implementation of  in Merangin year 2018.This type of research is analytic observation with cross sectional approach, this research has been conducted in the work area of Merangin District Health Office February until August 2019, with the population of all midwives in the district Merangin as much as 608 people. The number of samples was 83 people taken with simple random sampling technique. Bivariate analysis using Chi Square test and multivariate analysis using binary logistic regression. The results of the study there was a level of knowledge relationship (p= 0,000; OR:10,879; 95 % CI;3,832-30,8850) and the experience of midwives (p= 0,000; OR:10,879; 95 % CI;3,832-30,8850) with the performance of midwives in the implementation of the NLC, no perceptual relationship about the award (P = 0,991), attitude (P = 0,351), perception of the NLC equipment (p = 0,261), Midwives  Training (0,660) with the performance of midwives in the implementation of  NLC in Merangin Regency and the most influential factor with the performance of midwives in the implementation of NLC in Merangin District namely the level of knowledge of. Advised to the midwives more update information about the NLC to improve the knowledge of midwives in the NLC. 
Karakteristik Pasien Disfonia di Poliklinik Telinga Hidung Tenggorok–Bedah Kepala Leher RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2010-2013 Gusmarina, Aini; Novialdi, Novialdi; Hardisman, Hardisman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disfonia merupakan suatu gejala dari kelainan laring. Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung  Tenggorok–Bedah  Kepala Leher (THT-KL) RSUP Dr. M. Djamil Padang belum memiliki data empiris terkait karakteristik kelainan ini. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik pasien disfonia di bagian Ilmu Kesehatan THT-KL RSUP Dr. M.Djamil Padang. Data penelitian diambil dari rekam medis dengan metode total sampl ng. Karakteristik pasien disfonia yang dicatat mencakup usia, jenis kelamin, gejala klinik, etiologi disfonia, dan gambaran pemeriksaan laring. Total 68 dari 119 pasien memenuhi kriteria untuk dijadikan sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan kelompok usia tertinggi pasien disfonia berada pada kelompok usia 40-49 tahun (29,5%).Jumlah pasien laki-laki dan perempuan adalah sebanding (1:1).Laryngopharyngeal Reflux (LPR) (33,8%) didapatkan sebagai etiologi tertinggi. Gambaran kelainan terbanyak yang ditemukan pada pemeriksaan laringoskopi adalah hiperemis pada epiglotis (14,7%), edema pada aritenoid (69,1%), massa pada plika vokalis (13,2%), dan edema pada plika ventrikularis (17,6%). Simpulan studi ini adalah LPR merupakan etiologi tertinggi pasien disfonia. Pengetahuan tentang kondisi ini dapat meningkatkan diagnosis dan keberhasilan pengobatan pasien disfonia.
Model Determinan Perilaku “Lelaki Seks Lelaki” di Kota Padang, Sumatera Barat Hardisman, Hardisman; Firdawati, Firdawati; Sulrieni, Ilma Nuria
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 2016, Kota Padang Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat dikejutkan dengan laporan tingginya insiden kasus HIV/AIDS di Indonesia. Tingginya kasus HIV/AIDS berhubungan dengan prostitusi dan perilaku Lelaki Seks Lelaki (LSL). Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari akar permasalahan determinan perilaku LSL di Kota Padang yang dikenal dengan negeri yang religius. Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian, berupa wawancara terhadap 44 orang pelaku yang didapatkan secara snowball, petugas Komisi Penanggulanan AIDS (KPA) Kota Padang dan konselor kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku tersebar dari berbagai tingkat pendidikan dan pekerjaan. Awal mula perilaku LSL umumnya coba-coba saat usia remaja tatkala pubertas dengan nafsu seksual yang bergejolak (54,5%) sebagai pengalihan dari berhubungan seks dengan perempuan. Ada juga pelaku yang pernah menjadi korban pelecehan seksual dari laki-laki dewasa. Anak yang kurang kasih sayang dalam keluarga, mencoba mencari sosok yang dapat menyayanginya, mudah diperdaya oleh pelaku LSL dewasa. Korban pelecahan saat anak-anak, kemudian saat remaja daan beranjak dewasa juga coba-coba untuk melakukan LSL. Perilaku yang awalnya coba-coba akan menjadi menetap jika mendapatkan lingkungan yang mendukung. Studi ini membuktikan bahwa rendahnya kualitas pola asuh dalam keluarga dan kontrol sosial berperan terhadap munculnya perilaku LSL.