Articles

Found 19 Documents
Search

THE EFFECT OF VEGETATION COMMUNITY AND ENVIRONMENT ON GYRINOPS VERSTEEGII GROWTH Rawana, Rawana; Hardiwinoto, Suryo; Budiadi, Budiadi; Rahayu, Sri
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 24 No. 1 (2018)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2275.55 KB)

Abstract

Although Gyrinops versteegii has been domesticated by local community in Sragen Regency, the environmental factors and species which have high compatibility with G. versteegii still have not known yet. The objectives of this research were 1) to know which one of those vegetation communities that gives the best the diameter and height growth of the domesticated G. versteegii, and 2) to know the environmental factors that influenced the growth of the diameter and height of the domesticated G. versteegii. Sampling was done systematically with a plot of size 20 × 20m for trees, 10 × 10m for poles, and 5 × 5m for saplings with a total of 28 plots. SPSS Program version 22 was used for cluster, one-way anova, correlation, and multiple regression analysis. The results showed that for achieving the best G. versteegii growth, the G. versteegii should be planted under the community group which was dominated by Paraserianthes falcataria, Tectona grandis, Gliricidia sepium, and Eugenia aquea. Environmental factors affecting diameter growth of G. verteegii were organic carbon of the soil and the vegetation density. Meanwhile the environmental factors affecting the height growth of G. versteegii were temperature, light intensity, relative light intensity, organic carbon, C N ratio, P, Mg, air humidity, and clay content.
PENGARUH KOMPOSISI DAN BAHAN MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI PINUS ( Pinus merkusii) Hardiwinoto, Suryo; Nurjanto, Handojo H; Nugroho, Agung W; Widiyatno, Widiyatno
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komposisi Jenis dan Struktur Tumbuhan Bawah pada Hutan Tanaman Jati Bertumbuhan Ketela Pohon di KPH Ngawi, Jawa Timur Hasanbahri, Soewarno; Marsono, Djoko; Hardiwinoto, Suryo; Sadono, Ronggo
Biota Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014
Publisher : PBI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.972 KB)

Abstract

AbstractThe existence of Cassava under the Teak stand, in Ngawi Forest District, have change the undergrowth species composition and their ecological structure. Based on the research results of the different age class of teak plantation forest (II – V) could be concluded that the species composition of undergrowth tend to decrease either species number or individual number of each species. Only 4 species from 21 species of undergrowth that were found in all of the research compartments those are Hoplismenus burmani, Clitoria ternatea, Eupatorium odoratum and Synedrela nudiflora; and their distribution were horizontally aggregated. For vertical structure of the undergrowth community were not different for each compartment with Cassava. The nutrients rate information of the soil under teak stand with cassava showed low enough.Key words: Undergrowth, cassava, ecological structure, teak standAbstrakKeberadaan tanaman Ketela pohon di bawah tegakan hutan tanaman Jati di KPH Ngawi telah mengakibatkan terjadinya perubahan komposisi jenis tumbuhan bawah dan struktur ekologisnya. Berdasarkan hasil penelitian pada petak hutan tanaman Jati dengan kelas umur yang berbeda (KU II-V) dapat disimpulkan bahwa komposisi jenis tumbuhan bawah cenderung menurun baik dalam jumlah jenis maupun jumlah individu setiap jenis. Hanya ada 4 jenis dari 21 jenis tumbuhan bawah yang dijumpai dari seluruh petak hutan tanaman Jati yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Hoplismenus burmani, Clitoria ternatea, Eupatorium odoratum dan Synedrela nudiflora; dan sebaran horizontalnya mengelompok. Untuk struktur vertikal komunitas tumbuhan bawah pada petak hutan tanaman Jati bertumbuhan Ketela pohon ternyata tidak jauh berbeda antara satu petak dengan petak yang lainnya dari kelas umur yang berbeda. Kandungan hara dalam tanah dibawah tegakan hutan tanaman Jati bertumbuhan Ketela pohon berada pada tingkat yang rendah.Kata kunci: Tumbuhan bawah, ketela pohon, struktur ekologis, tegakan Jati  
DIVERSITY AND ABUNDANCE OF ANT (FORMICIDAE) FUNCTIONAL GROUPS IN RANGE OF LAND USE SYSTEMS IN JAMBI, SUMATRA Susilo, F. X.; Hazairin, M.; Hardiwinoto, Suryo
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 15, No 1 (2010): February 2010
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.751 KB) | DOI: 10.24002/biota.v15i1.2640

Abstract

Kerusakan hutan tropika basah dapat menimbulkan dampak lingkungan berupa penurunan keanekaragaman hayati dan terganggunya fungsi serta stabilitas ekosistem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti apakah perubahan hutan tropika basah menjadi bentuk penggunaan lahan lain berakibat pada penurunan keragaman dan kelimpahan semut, dan untuk menunjukkan apakah semut dapat dijadikan sebagai bio-indikator perubahan sistem penggunaan lahan (SPL). Penelitian ini dilakukan di Jambi Sumatra pada akhir musim penghujan (Mei?Juni) 2004 pada berbagai taraf intensifikasi SPL. Inventarisasi dan koleksi semut dilakukan dengan menggunakan metode ?Winkler? pada enam SPL, yaitu: hutan primer, hutan sekunder, perkebunan karet, perkebunan kelapa sawit, ladang ketela pohon, dan padang alang-alang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 50 genus semut pada 6 SPL tersebut. SPL tidak berpengaruh secara nyata terhadap keragaman dan kelimpahan seluruh semut tetapi berpengaruh secara nyata terhadap kelompok semut pesaba dan semut predator. Keragaman jenis dan kelimpahan yang tinggi dari semut predator ditemukan pada SPL hutan primer dan hutan sekunder. Keragaman jenis dan kelimpahan menjadi rendah apabila SPL hutan diubah menjadi SPL ladang ketela pohon. Kelimpahan semut pesaba tertinggi diketemukan pada SPL perkebunan kelapa sawit. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa semut dapat digunakan sebagai bio-indikator dalam perubahan SPL di kawasan Jambi, Sumatra.
SERANGAN BENALU PADA BEBERAPA KELAS UMUR TANAMAN JATI DI WILAYAH HUTAN BKPH BEGAL, KPH NGAWI, JAWA TIMUR Hasanbahri, Soewarno; Marsono, Djoko; Hardiwinoto, Suryo; Sadono, Ronggo
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kelas umur tanaman jati dengan frekuensi dan tingkat kerusakan pohon jati akibat serangan benalu, serta pola sebaran tumbuhan benalu secara horizontal. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini ialah Multistage Sampling dengan penempatan plot contoh pada setiap kelompok kelas umur tanaman jati (KU I s.d. KU VII). Pada setiap kelompok kelas umur diwakili satu petak/anak petak, dan setiap petak/anak dibuat contoh pohon individu sebanyak 10% untuk KU V ke atas (kelas umur tua), 5% untuk KU III dan KU IV (kelas umur sedang), dan 1% untuk KU I dan KU II (kelas umur muda) terhadap total populasi pohon penyusun petak/anak petak tersebut. Hubungan kelas umur dengan frekuensi dan tingkat kerusakan pohon akibat serangan benalu dianalisis dengan rumus uji korelasi, sedangkan sebaran serangan benalu dengan rumus distribusi Poisson dan uji statitik binomial terbalik. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada dua jenis tumbuhan benalu yang dijumpai yaitu Dendrophthoe pentandra dan Scurula parasitiaca, anggota famili Loranthaceae, sub-famili Viscoidae. Frekuensi pohon jati yang terserang tumbuhan benalu berkisar antara 12,88% untuk KU II diikuti 15,55% untuk KU I, 15,72% untuk KU V, 18,06% untuk KU IV dan KU VI, serta 19,73% untuk KU III. Hubungan tingkat serangan benalu dengan kelas umur hutan jati terbukti bahwa kelas umur memiliki hubungan secara signifikan terhadap tingkat kesehatan bagian cabang antara batang dan benalu (proksimal). Di bagian lain, terbukti bahwa kelas umur tidak memiliki hubungan secara signifikan terhadap tingkat kerusakan pada bagian cabang setelah benalu (distal). Walaupun demikian, kerusakan pohon jati yang mengalami serangan tumbuhan benalu lebih banyak terjadi pada pohon-pohon di kelas umur muda. Hal ini ditunjukkan oleh perbandingan bagian cabang proksimal dan distal pada setiap kelas umur, yaitu:   -23,81 cm untuk KU I, -1,56 cm untuk KU II, 14,66 cm untuk KU III, 24,13 cm untuk KU IV, 22,40 cm untuk KU V, dan 54,59 cm untuk KU VI. Dengan hilangnya masa pertumbuhan yang dihadapi oleh pohon-pohon jati di kelas umur muda menjadi sangat rawan dengan adanya tumbuhan benalu tersebut. Pola sebaran benalu adalah mengelompok untuk tanaman jati kelas umur muda, kelas umur sedang dan kelas umur tua. 
IMPACT OF TROPICAL RAIN FOREST CONVERSION ON THE DIVERSITY AND ABUNDANCE OF TERMITES IN JAMBI PROVINCE Hardiwinoto, Suryo; Rahayu, Sri P; Widyatno, Widyatno; Supriyo, Haryono; Susilo, FX
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 17, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

The degradation of tropical rain forest might exert impacts on biodiversity loss and affect the function and stability of the ecosystems. The objective of this study was to clarify the impacts of tropical rain forests conversion into other land-uses on the diversity and abundance of termites in Jambi, Sumatera. Six land use types used in this study were primary forest, secondary forest, rubber plantation, oil-palm plantation, cassava cultivation and Imperata grassland. The result showed that a total of 30 termite species were found in the six land use types, with highest species richness and abundance in the forests. The species richness and the relative abundance of termites decreased significantly when the tropical rain forests were converted to rubber plantation and oil-palm plantation. The loss of species richness was much greater when the forests were changed to cassava cultivation and Imperata grassland, while their abundance greatly decreased when the forests were degraded to Imperata grassland. Termite species which had high relative abundances in primary and secondary forests were Dicuspiditermes nemorosus, Schedorhinotermes medioobscurus, Nasutitermes longinasus and Procapritermes setiger.
KAJIAN KOMUNITAS RAYAP AKIBAT ALIH GUNA HUTAN MENJADI AGROFORESTRI DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU, SULAWESI TENGAH Zulkaidhah, Zulkaidhah; Musyafa, Musyafa; Soemardi, Soemardi; Hardiwinoto, Suryo
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komunitas rayap akibat alih guna hutan dan hubungannya dengan faktor lingkungan. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2011 sampai Juni 2013. Dilaksanakan di wilayah Taman Nasional Lore Lindu di sekitar Desa Rahmat, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Pengamatan rayap dilakukan dengan menggunakan metode transek. Parameter yang diamati adalah parameter lingkungan, iklim mikro, sifat fisik dan kimia tanah. Total diversitas rayap yang ditemukan adalah 20 spesies, yang terdiri dari 15 spesies pada hutan primer, 15 spesies pada hutan sekunder dan 8 spesies pada agroforestri. Biomassa pohon tertinggi pada hutan primer (620,91 Mg/ha), nekromas dan jumlah seresah tertinggi pada hutan sekunder yaitu masing-masing 8,22 Mg/ha dan 19 Mg/ha. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa alih guna hutan menjadi agroforestri diikuti oleh perubahan komunitas rayap. Suhu tanah dan suhu udara meningkat setelah alih guna hutan.
PERANAN BAHAN ORGANIK BERNISBAH C/N RENDAH DAN CACING TANAH UNTUK MENDEKOMPOSISI LIMBAH KUI.IT KAYU Gmelina arborea Hardiwinoto, Suryo; Rahayu, Nandang; Agus, Cahyono DK; Nurjanto, Handojo H.; Widiyatno, Widiyatno; Supriyo, Haryono
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 12, No 3 (2005)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Limbah kulit kayu berpotensi dapat menyebabkan dampak negatip terhadap lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Sebagai bahan organik, limbah kulit kayu sebetulnya dapat dijadikan sbagai bahan baku kompos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan penambahan bahan organik ber-nisbah C/N rendah dan cacing tanah dalam menurunkan nisbah C/N dan meningkatkan kandungan unsur hara makro dari kompos limbah kulit kayu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang disusun secara faktorial, terdiri dari 2 faktor dengan 5 ulangan. Faktor pertama adalah penambahan bahan organic ber-nisbah C/N rendah (daun Glyricideu maculuta and daun Gmelina arborea), dan taktor kedua adalah jenis cacing tanah, yaitu Lumbricus rubellus (Cl) dan Eisenia foetida (C2). Parameter yang digunakan adalah kandungan karbon (C), dan beberapa unsur hara makro, yaitu: nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca) and magnesium (Mg) dari kompos limbah kulit kayu. Penambahan bahan organik ber-nisbah C/N rendah dan cacing tanah merupakan cara penanganan limbah kulit kayu yang ramah lingkungan. Penambahan bahan organik ber-nisbah C/N rendah secara nyata dapat menurunkan nisbah C/N dan meningkatkan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca dan Mg dari kompos limbah kulit kayu. Nisbah C/N kompos limbah kulit kayu dapat turun semakin rendah dan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca and Mg dapat naik semakin tinggi dengan adanya penambahan bahan organik ber-nisbah C/N yang semakin banyak. Cacing tanah menunjukkan peran yang sangat nyata dalam menurunkan nisbah CIN dan menaikkan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca dan Mg dari kompos limbah kulit kayu. Rerata nisbah C/N dari kompos limbah kulit kayu (C0) sebesar 56,17, dan dengan adanya perlakuan cacing tanah rerata nisbah C/N dapat turun secara sangat nyara menjadi 26,66 (Cl) dan 22,94 (C2). Rerata kandungan N dari kompos limbah kulit kayu (C0) hanya sebesar 0,89 %, dan dengan adanya aktivitas cacing tanah, rerata kandungan N dapat naik secara nyata menjadi 1,34 % (Cl) dan 1,41 % (C2). Penurunan nisbah C/N dan kenaikan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca dan Mg dari kompos limbah kulit kayu dengan adanya aktivitas cacing tanah menjadi semakin besar apabila dikombinasikan dengan perlakuan penambahan bahan organik ber-nisbah c/N rendah.
PENGARUH KOMPOSISI DAN BAHAN MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI PINUS (Pinus merkusii) Hardiwinoto, Suryo; Nurjanto, Handojo H.; Nugroho, Agung W.; Widiyatno, Widiyatno
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.104 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2010.7.3.121-130

Abstract

Sifat fisika-kimia media tumbuh, khususnya porositas dan ketersediaan nutrisi diperlukan untuk memproduksi semai pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vries) yang berkualitas. Daun segar dan seresah daun pinus dapat digunakan sebagai media tumbuh yang dapat memenuhi persyaratan yang dimaksud. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi dan bahan media terhadap pertumbuhan semai pinus. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial dengan rancangan acak lengkap berblok, dengan dua faktor dan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah bahan daun pinus (A) yaitu: daun segar kasar, seresah daun kasar dan seresah daun halus. Faktor kedua adalah aras pupuk organik dan tanah (B), yaitu masing-masing dengan aras: 45%, 35%, 25% dan 15%. Analisis varians bersarang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh. Parameter yang diukur adalah kandungan N, nisbah C/N media tumbuh serta pertumbuhan tinggi dan diameter semai pinus. Pertumbuhan semai pinus terbaik didapatkan melalui komposisi media dengan perlakuan35% pupuk organik, 35% tanah dan 30% daun segar kasar (B2A3). Bahan daun segar kasar mempunyai kandungan N tertinggi dan nisbah C/N terendah, serta menghasilkan pertumbuhan semai terbaik. Komposisi media B2A3 direkomendasikan sebagai media tumbuh untuk memproduksi semai pinus.
PENGARUH BEBERAPA KARAKTERISTIK KIMIA DAN FISIKA TANAH PADA PERTUMBUHAN 30 FAMILI UJI KETURUNAN JATI (TECTONA GRANDIS) UMUR 10 TAHUN Prehaten, Daryono; Indrioko, Sapto; Hardiwinoto, Suryo; Na'iem, Mohammad; Supriyo, Haryono
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.055 KB) | DOI: 10.22146/jik.34109

Abstract

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang sangat memengaruhi pertumbuhan adalah sifat kimia dan fisika tanah. Beberapa famili jati yang ditanam pada lokasi yang berbeda diduga mempunyai respon pertumbuhan yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan (tinggi dan diameter) tanaman jati dari 30 famili yang ditanam pada dua lokasi yang berbeda, secara khusus untuk mengetahui pengaruh karakteristik sifat kimia dan fisika tanah pada pertumbuhan jati di dua lokasi tersebut. Metode penelitian yang dilakukan untuk mengukur pertumbuhan 30 famili jati yaitu tinggi total tanaman dan diameter setinggi dada. Sampel tanah diambil dengan terlebih dahulu membuat lubang profil tanah berukuran 1 m × 1 m dengan kedalaman 1 meter kemudian sampel diambil dari kedalaman 0-10 cm, 10-20 cm, 20-40 cm, dan 40-60 cm. Sifat kimia yang diamati adalah pH H2O, C Organik, N total, P, K, Ca, dan Mg tersedia serta Kapasitas Pertukaran Kation (KPK), sedangkan sifat fisik yang diukur adalah tekstur. Analisis statistik dilakukan dengan melakukan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan parameter diameter tanaman, semua (30) famili tanaman jati menunjukkan perbedaan yang nyata di antara dua lokasi, sedangkan parameter tinggi hanya sebagian kecil famili yang berbeda nyata. Karakter kimia dan fisik tanah juga menunjukkan perbedaan nyata di antara dua lokasi. Parameter kimia tanah yaitu pH H2O, K, Ca, dan Mg tersedia, berbeda nyata antara 2 lokasi sedangkan kandungan C Organik, P tersedia dan KPK tidak berbeda nyata. Sementara dari sifat fisiknya, kandungan lempung dan debu pada dua lokasi berbeda nyata, sedangkan kandungan pasirnya tidak berbeda secara nyata. Perbedaan-perbedaan tersebut menunjukkan beberapa sifat tanah memang memengaruhi respon tanaman jati dalam hal pertumbuhan baik tinggi maupun diameternya. The Effect of Soil Chemical and Physical Characteristics on Growth of 30 Families of Teak (Tectona grandis) in a 10-year-old Progeny TestAbstractSome environmental factors that greatly affect plant growth are soil?s physical and chemical properties. Some teak families planted at different locations alleged to have different growth responses. This study aimed to investigate the growth response of teak (height and diameter) from 30 families, and to determine the effect of soil chemical and physical characteristics on teak growth in two different locations. Teaks were measured for total height and diameter at breast height. Soil pits (size: 1 m x 1 m and 1 m in depth) were dug and samples were taken from 0-10 cm, 10-20 cm, 20-40 cm and 40-60 cm in depth. Soil characteristics measurement were conducted on pH (H2O), organic carbon, total Nitrogen, available P, K, Ca, and Mg, also the Cation Exchange Capacity (CEC). Further, soil physical properties been measured was soil texture. Statistical analysis was performed by t- test. The results showed that teak?s diameter of all 30 families, showed significant differences between the two locations, while only a small proportion of height parameters significantly differed among families. Chemical and physical characters of the soil also showed differences between the two locations. Soil pH (H2O), available K, Ca, and Mg, were significantly differed between the two locations while the content of organic C, available P and the CEC were not significantly differed. For the soil physical properties, content of clay and silt in two location significantly differed whereas the sand content did not differ significantly. These differences indicate that some properties of the soil were affecting the growth response of teak famili in terms of both height and diameter.