Articles

Found 19 Documents
Search

KAJIAN SPASIAL DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP PRODUKSI PERTANIAN Harini, Rika; Susilo, Bowo
AGRIPITA JOURNAL Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Agribisnis dan Pembangunan Pertanian
Publisher : Agripita Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.57 KB)

Abstract

One of the pillars studies in sustainable development at the global level (SDGs) is a development environment. This pillar examines food security, sustainable consumption patterns and climate change. Climate change will affect agricultural activities. Climate change often causes experienced farmers crop failure because excessive rain or long summer season. The purpose of this study was to assess the effect of climate change on agricultural production. This study uses secondary data, that is rainfall data and agricultural production data as a baseline. This study examined descriptive statistics using maps, tables and graphs. The results showed a trend towards a decrease in agricultural production in all districts/cities. Based on regression analysis of the decline inagricultural production, namely cereals (rice, corn, cassava and sweet potato) is significantly influenced by changes in rainfall in all regions of the Province North Kalimantan except Tana Tindung Distict.
KONSERVASI MATA AIR BERBASIS MASYARAKAT DI UNIT FISIOGRAFI PEGUNUNGAN BATURAGUNG, LEDOK WONOSARI DAN PERBUKITAN KARST GUNUNG SEWU, KABUPATEN GUNUNGKIDUL Sudarmadji, Sudarmadji; Suprayogi, Slamet; Widyastuti, M.; Harini, Rika
Jurnal Teknosains Vol. 1 No. 1 tahun 2011
Publisher : Sekolah Pascasarjana UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.921 KB)

Abstract

Spring is as one of the water resources potential that can not be ignored. Gunungkidul district has three physiographic units: Baturagung Hills, Wonosari Basin and Gunung Sewu Karst Hills. All of them affect the distribution of springs in the Gunungkidul Regency. On the other hand, physiography will affect the community adaptation to the environment. It will contribute to the springs conservation effort. The purposes of this research are:  1) to identify the characteristics of springs, 2) to analyze the community participation in conserving  the springs as basic information to develop spring conservation models. To identify the socio-economic characteristics and the springs characteristics in the research areas use a survey method. Unit sampling and analysis is done purposively based on three zones: Baturagung Hills, Wonosari Basin and Gunung Sewu Karst Hills. Socio-economic survey was done by sampling on the 90 respondents, divided into 3 zones through direct interviews using quetionare. Quantitative descriptive analysis was performed through statistical tests. The results show that the quality of spring water in all physiographic zones meet to the water quality standard, except those for colli bacteria. The discharge of karst springs in the hills of Gunung Sewu greater than the discharge of the two other zones. The springs distribution is more in Wonosari Basin and Karst Hills of Gunung Sewu than Baturagung Hills. The level of the community participation in springs conservation is mostly done in groups through user spring groups. Generally, socio-economic factors affect to the level of participation in prevention of springs damage.
NILAI EKONOMI TOTAL KONVERSI LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN SLEMAN Harini, Rika; Yunus, Hadi Sabari; Kasto, Kasto; Hartono, Slamet
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Konversi lahan pertanian untuk  penggunaan non pertanian  merupakan suatu  fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Penilaian secara ekonomi maupun lingkungan perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat keuntungan secara finansial maupun kelingkungan dari kegiatan  pertanian. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sleman  melalui metode survai dengan 90  responden  sebagai sampel penelitian. Wilayah kajian didasarkan pada tingkat konversi lahan pertanian selama  kurun waktu 17 tahun. Melalui Citra Landsat TM 1992, 2000 dan Citra Alos 2009  dapat diketahui luas konversi lahan pertanian  di semua wilayah di Kabupaten Sleman. Analisis data  dilakukan secara  deskriptif  kualitatif maupun kuantitatif dengan  uji statistik melalui model uji Seemingly Unrelated Regression (SUR) dan juga model Total Economic Value (TEV). Hasil kajian menunjukkan bahwa terjadi variasi tingkat konversi lahan pertanian  di wilayah Kabupaten Sleman. Hasil perhitungan  dengan metode TEV menunjukkan bahwa pada wilayah zone 1 nilai ekonomi usahatani lahan  sawah lebih rendah dibandingkan dengan wilayah zone 2, sedangkan pada zone 3 nilai ekonomi dari usahatani lahan sawah paling tinggi. Tingkat pencemaran akibat adanya konversi lahan pertanian berdampak pada hasil kegiatan usahatani lahan sawah. Pencemaran yang dianggap paling tinggi oleh petani untuk saat ini adalah pencemaran air, sedangkan untuk pencemaran tanah dan udara belum dirasakan. Konversi lahan juga berdampak terhadap  produksi hasil komoditi lahan sawah. Meskipun hasil produksi komoditas pertanian juga dipengaruhi oleh luas lahan sawah, konversi, teknologi dan produktivitas pada setiap zone wilayah kajian.
PERUBAHAN STRATEGI BERTAHAN HIDUP WANITA KEPALA RUMAH TANGGA DI AMSA KRISIS (STUDI KASUS KECAMATAN UMBULHARJO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA) Harini, Rika; Listyaningsih, Umi
Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.634 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13205

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi wanita kepala rumah tangga (WKRT) dan strategi yang diterapkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup rumah tangganya pada saat terjadi krisis terutama pada daerah pinggiran kota dan daerah perkotaan di Kecamatan Umbulharjo. Daerah perkotaan diwakili oleh Kelurahan Muja-Muju, Semaki, Tahunan, dan Warungboto, sedangkan pinggiran kota diwakili oleh Kelurahan Pandeyan dan Giwangan dengan pertimbangan wilayah yang berbatasan dengan Kota Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai dengan menggunakan kuesioner sebagai alat abntu dalam pengumpulan data primer. Jumlah responden ditentukan secara quota dan dipilih secara acak yaitu 100 orang untuk daerah pinggiran kota dan 100 orang daerah perkotaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan tabel frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik di daerah pinggiran maupun perkotaan umur WKRT rata-rata 60 tahun dan sebagian besar ditinggal mati oleh suami. Berdasarkan kondisi sosial ekonomi yang diperoleh secara kompasit subyektif maupun obyektif untuk daerah perkotaan termasuk sedang dan untuk di daerah pinggiran kota termasuk rendah. Strategi yang dilakukan oleh wanita kepala rumah tangga pada saat krisis maupun setelah krisis sebagian besar hamper sama atau sedikit terjadi perubahan. Alasan yang mereka kemukakan mengenai suatu strategi yang diterapkan sama adalah usia yang sudha tua, keterbatasan modal, tidak mempunyai ketrampilan lain dan yang paling utama karena mereka takut rugi karena banyak saingannya. Masyarakat di perkotaan banyak mengembangkan usaha buka warung sedangkan di daerah pinggiran kota usaha wiraswasta yaitu usaha kost, menjahit, buka salon, mendirikan wartel, dan menjadi tukang pijat. Beberapa wanita kepala rumah tangga di daerah pinggiran kota maupun daerah perkotaan juga menggantungkan bantuan keluarga dan juga dari pihak lain. Pengaruh krisis terhadap kehidupan sangat dirasakan oleh wanita kepala rumah tangga terutama dalam sektor industri. Pada saat krisis banyak wanita kepala rumah tangga yang tidak bias meneruskan usahanya (berwiraswasta), dan lebih baik berdiam diri tanpa melakukan kegiatan ekonomi apa pun. Hal ini menggambarkan ketidakberdayaan dan rentannya ekonomi WKRT, dengan krisis telah melumpuhkan sendi ekonomi rumah tangga, dan karena keterbatasannya tidak mampu lagi mengembangkan usaha yang lain. 
Dampak Konservasi Lahan terhadap Lingkungan Lahan Pertanian dan Strategi Adaptasi Petani di Kecamatan Mejayan , Madiun Raharjo Pepekai, Agus Eko; Muta’ali, Lutfhi; Hardoyo, Su Rito; Sudrajat, Sudrajat; Harini, Rika
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4139.202 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13070

Abstract

ABSTRAK Penetapan Kecamatan Mejayan sebagai ibu kota Kabupaten Madiun mendorong perkembangan wilayah Kecamatan Mejayan semakin cepat. Hal ini ditunjukan oleh meningkatnya kebutuhan lahan terbangun, sehingga mendorong terjadinya konversi lahan pertanian yang intensif. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan yang hendak dicapai adalah :1) mengkaji dampak konversi lahan pertanian terhadap kondisi lingkungan lahan pertanian serta kondisi sosial ekonomi petani; 2) mengkaji bentuk strategi adaptasi yang dilakukan petani dalam menghadapi konversi lahan pertanian; 3) mengkaji pengaruh konversi lahan terhadap strategi adaptasi petani. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara proporsional dari masing masing-masing status petani. Jumlah sampel sebanyak 96 responden terdiri dari 46 responden petani pemilik lahan, 31 responden petani penggarap, 19 responden buruh tani. Data yang digunakan terdiri dari data primer berupa kuisioner dan wawancara mendalam serta data sekunder dari instansi terkait. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, dengan uji statistik chi kuadrat dan koefisien kontigensi. Hasil penelitian menunjukan konversi lahan pertanian di Kecamatan Mejayan berdampak negatif terhadap lingkungan lahan sawah, antara lain semakin berkurangnya lahan usahatani, kerusakan saluran irigasi, serta menurunnya kesuburan tanah akibat sampah rumahtangga. Terdapat perbedaan bentuk strategi adaptasi dari masing-masing rumahtangga petani diantaranya 56,5 % pemilik lahan menerapkan strategi akumulasi, 87,1 % petani pengarap menerapkan strategi konsolidasi dan 84,2% dari buruh tani menerapkan strategi survival. Faktor kondisi sosial ekonomi dengan nilai koefisien kontigensi 0,557 dan kepemilikan aset dengan nilai koefisien kontigensi 0,462 berpengaruh secara nyata terhadap bentuk strategi adaptasi petani, di antara kedua faktor tersebut status kondisi sosial ekonomi lebih kuat pengaruhnya terhadap bentuk strategi adaptasi petani. ABSTRACT The determination district of Mejayan to be capital city of Madiun regency encourages the fast development of district Mejayan. It is evidenced by the increasing needs of undeveloped land, so that encourage the intensive conversion of agricultural land. According to the situations, there are two goals to be reached: 1) to assess the impact of the conversion agricultural land to the environmental condition of agricultural land as well as socio-economic conditions of farmers; 2) to analyze what strategies adaptation of the farmers in facing the conversion of agricultural land; 3) to analyze the effect of conversion land to the farmer adaptation strategies. This study has a survey method by taking a proportional sampling of each farmer status individually. The total samples of 96 respondents are 46 respondent peasant land owners, tenant farmers 31 respondents, and 19 respondents laborer. The data use consists of primary data, in a questionnaires and in-depth interviews, then secondary data from relevant agencies. Methods of data analysis use a quantitative descriptive analysis, the chi squared test and contingency coefficient. The results show conversion of agricultural land in the district of Mejayan has a negative effect to the wetland environment, such as the less land farming, irrigation canals damage, and declining soil fertility due to household waste. There are different adaptation strategy of each farm household; 56.5% land owner applying accumulation strategies, 87.1% of tenant farmers implementing consolidation strategies and 84.2% of farm workers applying survival strategies. The condition of socio-economic with contingency coefficient value 0.557 and the ownership assets with a contingency coefficient value 0,462 influence really to the farmer adaptation strategies, in both factors status socio economic condition give a stronger influence to the form of farmer adaptation strategies.
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERTANIAN DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Susilo, Bowo; Nurjani, Emilya; Harini, Rika
Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): September 2008
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.976 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13323

Abstract

ABSTRAK Sektor pertanian merupakan sektor perekonomian yang masih menjadi unggulan di berbagai wilayah di Indonesia, menempatkan sektor ini sebagai aktivitas utama ekonomi masyarakat dan juga sumber penguatan perekonomian rakyat. Penelitian ini mempunyai tujuan jangka panjang yaitu untuk mengembangkan model integrasi antar faktor fisik dan sosial ekonomi dalam menentukan prioritas arahan pengembangan di sektor pertanian, terutama untuk menentukan jenis komoditas yang paling sesuai pada suatu satuan lahan atau wilayah tertentu yang menjadi daerah basis pertanian. Selain itu juga mengukur keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif daerah basis pertanian DIY ditinjau dari sub sektor tanaman pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan di Provinsi DIY yang sangat sesuai untuk tanaman padi sebesar 25,4%, sedangkan untuk tanaman kacang tanah lebih kecil lagi yaitu 16% dan untuk tanaman jagung hanya 2%. Faktor yang membatasi tingkat kesesuaian lahan pada 3 jenis tamanan pangan tersebut adalah kondisi perakaran tanaman, ketersediaan unsur hara, retensi hara dan medan atau lokasi. Lahan yang mampu diusahakan untuk aktivitas pertanian dan sesuai dengan kesesuaian lahan untuk tanaman pangan adalah di Ledok Wonosari, Lereng Tengah Merapi, Lereng Bawah Merapi dan Batur Agung. ABSTRACT The agricultural sector is a sector of the economy is still seeded in various regions in Indonesia, putting this sector as the main economic activity of society and also the source of strengthening the economy of the people. This research has a long-term goal is to develop a model of integration between the physical and socio-economic factors in determining the priority direction of development in the agricultural sector, especially to determine the most appropriate types of commodities on a unit of land or a particular region of the local agricultural base. It also measures the comparative advantage and competitive advantage DIY agricultural base area in terms of food crops sub-sector. The results showed that the land in the province that is very suitable for rice crop amounted to 25.4%, while for peanut plants smaller is 16% and for the corn crop is only 2%. Factors that limit the suitability of land on three types of plants are food crop rooting conditions, availability of nutrients, nutrient retention and the terrain or location. Capable of cultivated land for agricultural activities and in accordance with the suitability of land for food crops is in Ledok Wonosari, Central Slopes of Merapi, Merapi Slope Down and BaturAgung.
ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DALAM PENYERAPAN TENAGA KERJA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Harini, Rika; Giyarsih, Sri Rum; Budiani, Sri Rahayu
Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.117 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13285

Abstract

ABSTRAK Tantangan pembangunan dimasa depan adalah terwujudnya ntasyarakat yang adil termasuk keadilan dan pemerataan antar daerah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui perbaikan pembangunan sektoral yang bertumpu pada pembangunan pusat-pusat pertumbuhan, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan utama yang perlu adalah mengusahakan semaksimal mungkin agar prioritas daerah sesuai dengan potensi ekonomi dan sektor-sektor unggulan wilayah dikembangkan. Selain itu program-program pembangunan ditekankan pada penciptaan kerja baik pada sektor pertanian maupun non pertanian.Penelitian ini berusaha untuk mengetahui sektor unggulan dan pertumbuhannya serta bagaimana penyerapan tenaga kerja dari masing-masing sektor perekonomian. Lokasi penelilian Daerah Istimewa Yogyakarta. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data runtun waktu (times series) antara tahun 1993-2001 berupa data PDRB dan data ketenagakerjaan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa an tar kabupaten/kota memiliki sektor unggulan yang berbeda-beda. Sektor pertanian (sektor primer) menjadi sektor unggulan pada Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Gunung KiduL Sedangkan di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta yang menjadi sektor unggulan hanya pada sektor sekunder dan tersier. Sektor industri pengolahan; bangunan; perdagangan, hotel dan restoran; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menjadi sektor unggulan di Kabupaten Sleman. Sedangkan di Kota Yogyakarta sektor listrik, gas dan air bersih; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa.Pada Kabupaten Bantu dan Kabupaten Kulon Progo memiliki nilai pertumbuhan ekonomi yang lambat jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki penyerapan tenaga kerja paling tinggi pada sektor pertanian, sedangkan untuk Kota Yogyakarta yang paling tinggi penyerapan tenaga kerjanya adalah sektor jasa.
IMPACTS OF ECONOMIC DEVELOPMENT AND POPULATION GROWTH ON AGRICULTURAL LAND CONVERSION IN JOGJAKARTA: A DYNAMIC ANALYSIS Mariyono, Joko; Harini, Rika; Agustin, Nur K.
Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Vol 8, No 1 (2007) : JEP Juni 2007
Publisher : Universitas Muhammdaiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jep.v8i1.3937

Abstract

Luas lahan pertanian cenderung berkurang karena dialihfungsikan untuk keperluan lain sebagai akibat dari pembangunan ekonomi regional. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis alih fungsi lahan di Jogjakarta dengan menggunakan model dinamis dengan memasukkan variabel ekonomi, demografi dan infrastruktur. Panel data yang digunakan dalam kajian ini dikumpulkan dari lima wilayah selama kurun waktu 1979-2000.Estimasi dilakukan dengan panel regresi. Hasilnya menunjukkan bahwa lahan pertanian di Jogjakarta berubah secara dinamis dan menuju pada keadaan yang stabil. Lahan sawah akan tetap ada, sedangkan lahan kering kemungkinan akan dikonversi ke lahan sawah dan untuk kepentingan lainnya. Lahan sawah akan dicetak sebagai akibat naiknya pendapatan daerah. Tekanan penduduk terhadap lahan kering jauh lebih besar daripada terhadap lahan sawah.
The Survival Strategy of Households Affected by Tidal Floods: The Cases of Two Villages in the Pekalongan Coastal Area Harini, Rika; Susilo, Bowo; Sarastika, Tiara; Supriyati, S; Satriagasa, M C; Ariani, Rina Dwi
Forum Geografi Vol 31, No 1 (2017): July 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/forgeo.v31i1.4259

Abstract

Pekalongan is one of the coastal areas of Java Island that is affected by tidal floods. Tidal floods have various impacts on the social and economic conditions of the community, thus affecting their livelihoods. The purpose of this study was to examine the impact of a tidal flood, the socioeconomic characteristics of the community and the survival approach of coastal communities in Pekalongan. This study was conducted using a purposive sampling method in two villages in Pekalongan Regency, namely Jeruksari Village and Tegaldowo Village, because these two areas are affected by tidal floods. The study was conducted by using in-depth interviews and focus group discussions (FGDs), as well as structured interviews. The structured interview sample consisted of 60 respondents who were selected at random using quota sampling. The analysis was using qualitative-descriptive and quantitative methods. The gathered data were then presented in tables, diagrams and maps. The results showed that tidal floods resulted in physical, economic, sociocultural, health, educational, and environmental damages to the communities in both villages. The majority of the community members only have an elementary school education and primarily work as labourers. There is a difference in the amount of family income between the two villages, where the average family in Jeruksari Village has a higher income (IDR 3,465,300 per month) than the average family in Tegaldowo Village with total household income of about IDR 2 million per month. The most frequently used approach for survival in both villages is what is known as the survival strategy, i.e. a strategy to meet the needs of life at a minimum level to survive.
PEREMPUAN PADA SEKTOR EKONOMI UNGGULAN Harini, Rika
Populasi Vol 20, No 1 (2009): Juni
Publisher : Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7900.889 KB) | DOI: 10.22146/jp12297

Abstract

The economically superior sectors are sectors with good prospect and they contribute to the local development. In other words, the sectors are those that win the competition with other sectors as clearly observed in its contribution to local income. This study aims to investigate the economically superior sectors and the participations level and the working productivity in Yogyakarta Special Regency. The study conducted by analyzing the secondary (time series) data obtained from Susenas and Sakernas. The descriptive analysis is using table and maping through model LQ (Location Quotient). The result shows that Sleman has 6 economically superior sectors while Gunung Kidul only has 3. A high participation level of women in the economically superior sectors is found in trading, hotel and restaurant sectors while the lowest participation level is found in mining sector (less than 1%).