Articles

Found 14 Documents
Search

POTENSI CHITO-OLIGOSACCHARIDE (COS) SEBAGAI PREBIOTIK DAN PENGAWET ALAMI DALAM PEMBUATAN TAHU SINBIOTIK Harti, Agnes Sri; Nurhidayati, Anis; Handayani, Desi
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahu  merupakan  salah  satu  produk  olahan  kedelai  yang  mengandung  protein,  lemak, karbohidrat dan  serat; dibuat melalui proses penggumpalan protein sehingga berbentuk  semi padat.  Tahu  dikenal  sebagai  produk  pangan  yang  tidak  awet  dan  proses  pembuatannya umumnya  dilakukan  secara  konvensional  atau  tradisional  dari  segi  peralatan,  metode  dan pemasarannya.  Oleh  karena  itu  berbagai  upaya  dan  inovasi  dilakukan,  diantaranya mengawetkan  tahu  yang  berfungsi  memperpanjang  masa  simpan. Salah  satu  pengawet  alami adalah Chito-OligoSakarida (COS) yang berasal dari limbah perikanan yaitu kulit udang dan kepiting. COS sebagai senyawa turunan kitosan hasil proses deasetilasi kitin, memiliki ikatan 1,4  glukosamin  yang  bersifat    bersifat  antimikrobia  sehingga  mampu  berfungsi  sebagai pengawet. Hasil penelitian menunjukkan potensi Chito-oligosakarida (COS) sebagai prebiotik dan  pengawet  alami  dalam  produksi  tahu  sinbiotik. Pemanfaatan  COS  secara  terpadu  dalam produksi tahu sinbiotik diharapkan dapat multifungsi yaitu sebagai pengawet, prebiotik alami, antioksidan,    anti  hiperkolesterolemia,  antihiperglikemia,  imunostimulan  dan  adsorben sehingga  tahu  sinbiotik  dapat  berfungsi  sebagai  pangan  fungsional  yang  memberikan  nilai tambah  dari  aspek  teknologi,  ekonomi  maupun  sosial untuk  peningkatan  gizi  seseorang yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan. Kata kunci : Chito-OligoSakarida (COS), pengawet, prebiotik, tahu sinbiotik
TEMPE BEKATUL KITOSAN SEBAGAI BIOSUPLEMEN PREBIOTIK SEHAT ALAMI BAGI IBU HAMIL Nugroho, Aldila Puji; Murni W, Ika; Reftiana Z, Eka; Harti, Agnes Sri
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan  nutrien  bagi  ibu  hamil  berperan  penting  dalam  proses  pembentukan  janin  selama proses  kehamilannya  sehingga  diperlukan  asupan gizi  yang  cukup,  terutama  protein.  Tempe telah  dikenal  sebagai  pangan  fungsional  dengan  bahan  baku  kedelai  kuning  melalui  proses fermentasi jamur Rhizopus sp. Konsep fortifikasi pangan dipakai untuk karakterisasi makanan peningkatan  kesehatan  sebagai  biosuplemen  pangan  fungsional. Oleh  karena  itu  perlu dilakukan  berbagai  upaya  untuk  substitusi  biji  kedelai  kuning  menggunakan  bahan  baku  lain yang  aman,  bergizi  dan  ekonomis  . Tempe  bekatul  kitosan  sebagai  salah  satu  cara  fortifikasi pangan  fermentasi  tempe  yang  berbasis  protein  nabati  dan  diharapkan  dapat  digunakan sebagai  biosuplemen  prebiotik  sehat  alami  khususnya  bagi  ibu  hamil  yang  membutuhkan nutrisi  cukup  dan  seimbang  selama  kehamilan. Hasil  penelitian  menunjukkan penambahan bekatul  :  kedelai  (2:1)  dan Chito-oligosakarida  2%  b/b memberikan  hasil  organoleptis  yang optimum dalam  fermentasi  tempe. Pemanfaatan bekatul dan  kitosan dalam  fermentasi  tempe  sebagai  biosuplemen  prebiotik  alami  yang  bersifat  multifungsi   sehingga dapat  digunakan sebagai pangan fungsional  khususnya peningkatan gizi bagi ibu hamil. Kata kunci : bekatul, biosuplemen, kitosan, tempe.
Kegunaan Daun Sirsak (Annona Muricata L) untuk Membunuh Sel Kanker dan Pengganti Kemoterapi K, Utari; Nursafitri, Eka; A., Intan Sari; Sari, Rafika; K., Winda A.; Harti, Agnes Sri
Jurnal KESMADASKA Jurnal KESMADASKA Vol. 4 No. 2 Juli 2013
Publisher : Jurnal KESMADASKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTanaman sirsak (Annona muricata L) merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat kanker dan pengganti kemoterapi. Kanker adalah penyakit berbahaya yang menyerang DNA manusia. Annonaceous acetogenis atau yang lebih sering disebut dengan acetogenin yang terkandung dalam daun sirsak dapat membunuh sel-sel kanker dengan cara menghambat ATP yang menjadi sumber energi bagi pertumbuhan kanker. Senyawa fitokimia yang menjadi anggota acetogenin seperti muricereacin dan murihexocin C memiliki kekuatan yang melebihi kefektifan dari adreamycin (obat kemoterapi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa acetogenin berperan untuk membunuh sel kanker dan derivat senyawa acetoginin dapat digunakan sebagai pengganti kemoterapi. Adanya acetoginin mempunyai aktivitas untuk membunuh sel kanker.Kata kunci: daun sirsak, sel kanker, acetogenin, kemoterapiAbstractPlants soursop (Annona muricata L) is one plant that can be used as a substitute for chemotherapy and cancer drugs. Cancer is an insidious disease that attacks the human DNA. Annonaceous acetogenis or more often called acetogenin contained in soursop leaves can kill cancer cells by inhibiting ATP the energy source for the growth of cancer. Phytochemical compounds that are members acetogenin like muricereacin and murihexocin C has a power that exceeds the effectiveness of adreamycin (chemotherapy drugs). The result of research of soursop leaf to kill cancer cells and replacement of chemotherapy. That compounds may contribute acetogenin to kill cancer cells and derivate of acetoginin compounds can be used as a substitute for chemotherapy and have activity to kill cancer cells.Keywords: acetogenin, cancer, soursop leaves, chemotherapy
PEMERIKSAAN HCG (HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN) UNTUK DETEKSI KEHAMILAN DINI SECARA IMMUNOKROMATOGRAFI Harti, Agnes Sri; Estuningsih, E; kusumawati, Heni Nur
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 4 No. 1, Januari 2013
Publisher : STIKes Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.866 KB)

Abstract

ABSTRAKHCG (Human Chorionic Gonadotropin) merupakan suatu hormone yang diproduksi oleh jaringan placenta pada awal kehamilan, hormone ini akan dikeluarkan melalui urine dan juga dihasilkan bila terdapat proliferasi yang abnormal pada jaringan epitel korion seperti molahidatidosa (hamil anggur) atau choriocarsinoma. Adanya HCG dalam urine dapat digunakan untuk deteksi kehamilan dini. Metode penelitian berdasarkan data hasil pemeriksaan dari salah satu Rumah Sakit Umum DaerahSragen. Pemeriksaan HCG yang dilakukan berdasarkan prinsip immunokromatograÞ yaitu adanya HCG berupa timbulnya dua tanda merah satu pada bagian test line (T) dan satu tanda merah pada control line (C). Dari 20 sampel yang diperiksa di dapatkan hasil 6 sampel yang positif mengandung HCG dan 14 sampel negatif yang tidak mengandung HCG.Kata kunci: HCG, kehamilan, immunokromatograÞABSTRACTHCG (Human Chorionic Gonadotropin) is a hormone produced by placenta tissue in early pregnancy. This hormone will be released through the urine and also produced when there is an abnormal proliferation of chorion epithelial tissue such as hydatidiform mole (pregnant wine) or choriocarsinoma. Presence of HCG in urine is used to help early pregnancy detection. This paper is based on data research from one of Sragen District General Hospital and supported by the published literature. The HCG test is conducted on immunochromatograÞ methode,where is indicated of two red line on the positive result and one red line on the negative result. The results of the 20 sample in show 6 sample are positive resultand 14 sample are negative result.Keywords: HCG, Pregnancy, ImmunochromatograÞ .
PEMANFAATAN BAKTERI ASAM LAKTAT DALAM PROSES PEMBUATAN TAHU DAN TEMPE UNTUK PENINGKATAN KADAR ISOFLAVON, ASAM LINOLEAT DAN ASAM LINOLENAT W, Ika Murni; Z, Eka Reftiana; N, Aldila Puji; Harti, Agnes Sri; Estuningsih, E; Kusumawati, Heni Nur
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 4 No. 2, Juli 2013
Publisher : STIKes Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.325 KB)

Abstract

ABSTRAK Tahu dan tempe sebagai makanan olahan kedelai yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sumber prote PEMANFAATAN BAKTERI ASAM LAKTAT DALAM PROSES PEMBUATAN TAHU DAN TEMPE UNTUK PENINGKATAN KADAR ISOFLAVON, ASAM LINOLEAT DAN ASAM LINOLENAT in  nabati. Selain protein,  kedelai memiliki  isofl avon  dan  potensi asam  lemak  tak  jenuh lainnya. Keistimewaan isofl avon yang dikenal sampai saat ini adalah sebagai antioksidan dan kemampuan antikanker. Sedangkan asam linoleat dan asam linolenat dalam kedelai sebagai asam lemak tak jenuh bahwa  tubuh  tidak  dapat  disintesis  dan  bermanfaat  dalam  pencegahan  penyakit  jantung  koroner. Indonesia memiliki  potensi megabiodiversiti Bakteri Asam  Laktat  (BAL)  yang  sangat  tinggi  seperti Lactobacillus plantarum, L. casei. BAL dapat  diisolasi dan digunakan  untuk  fermentasi asam  laktat dalam makanan, seperti tahu, tempe, tauco, kecap, dan acar. Produk olahan kedelai seperti tahu dan tempe adalah makanan fermentasi. Dalam proses pembuatan tahu tanpa melalui proses fermentasi dan masih menggunakan cara konvensional dengan penambahan cuka sebagai agen koagulan. Sedangkan pembuatan  tempe  difermentasi menggunakan  ragi Rhyzopus  sp  sehingga bentuk kompak  dihasilkan. Pemanfaatan LAB (Bakteri Asam Laktat) dalam proses fermentasi asam laktat untuk membuat tahu dan tempe, diharapkan akan diperoleh dan produk tahu serta linoleat isofl avon tinggi dan asam linolenat yang dapat berfungsi sebagai makanan fungsional. Kata Kunci: Asam Laktat, Tahu, Tempe, Isofl avon, Asam Linoleat, Asam Linolenat ABSTRACT Tofu and tempeh as processed soy  foods are widely consumed by  the public as a source of vegetable protein. In addition to protein, soy has isofl avones and the potential of other unsaturated fatty acids. Privileged  isofl avones known to  date  is as  an  antioxidant  and  anticancer  abilities. Whereas  linoleic acid and linolenic acid in soybeans as unsaturated fatty acids that the body can not be synthesized and benefi cial  in  the prevention of  coronary heart  disease.  Indonesia has  the potential megabiodiversity Lactic  Acid  Bacteria  (LAB)  are  very  high  such  as  Lactobacillus  plantarum,  L.  casei.  BAL  can  be isolated and used for fermentation lactic acid in foods, such as tofu, tempeh, tauco, ketchup, and pickles. Processed  soy  products  such  as  tofu  and  tempeh  is  a  fermented  food.  In  the  process  of making  out without going through the process of fermentation and still use the conventional way with the addition of vinegar as a coagulant agent. While the manufacture of tempe fermented using yeast Rhyzopus sp so that the resulting compact form. Utilization LAB (Lactic Acid Bacteria) in lactic acid fermentation process for making tofu and tempeh, are expected to be obtained and tofu products as well as the high isofl avone linoleic and linolenic acids that can serve as a functional food. Keyword : Lactic Acid, Tofu, Tempeh, Isofl avones, Linoleic Acid, Linolenic Acid
Detection of eae, bfpA, espA Genes on Diarrhoeagenic Strains of Escherichia coli Isolates Harti, Agnes Sri; Iravati, Susi; Asmara, Widya
Indonesian Journal of Biotechnology Vol 11, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.738 KB)

Abstract

The Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) is one of pathogenic strain of diarrheagenic E. coli group in children andinfant that occurs in developing countries. The significant virulence factors in pathogenic EPEC are eaeA (E. coli attachingeffacing), bfpA (bundle-forming pilus A) and espA (encoding secreted protein A) genes. The use of DNA probes to detect thevirulence genes in E. coli in Indonesia is not common yet. In this experiment the gene fragments of eae, bfpA, and espA were usedas probes to detect the EPEC among E. coli isolates from stool specimensin of diarrheic children attending Public Health Centersin Yogyakarta. The DNA samples were isolated from 49 diarrheagenic E. coli isolates. The DNA probes of eae, bfpA and espAwere obtained by amplification of DNA fragment of EPEC O126 using PCR technique. Furthermore, those probes were used toidentify the presence of those genes among E. coli isolates using hybridization technique. The results showed that 42 (85.7%)isolates were espA+, 25 isolates (51%) were eaeA+ (EPEC strains). Therefore among 25 isolates of EPEC, 20 isolates (80 %)among EPEC were bfpA+ (typical EPEC strains).Keywords : DNA probe, eae, bfpA, espA, EPEC.
Detection of eae, bfpA, espA Genes on Diarrhoeagenic Strains of Escherichia coli Isolates Harti, Agnes Sri; Iravati, Susi; Asmara, Widya
Indonesian Journal of Biotechnology Vol 11, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.738 KB) | DOI: 10.22146/ijbiotech.7563

Abstract

The Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) is one of pathogenic strain of diarrheagenic E. coli group in children andinfant that occurs in developing countries. The significant virulence factors in pathogenic EPEC are eaeA (E. coli attachingeffacing), bfpA (bundle-forming pilus A) and espA (encoding secreted protein A) genes. The use of DNA probes to detect thevirulence genes in E. coli in Indonesia is not common yet. In this experiment the gene fragments of eae, bfpA, and espA were usedas probes to detect the EPEC among E. coli isolates from stool specimensin of diarrheic children attending Public Health Centersin Yogyakarta. The DNA samples were isolated from 49 diarrheagenic E. coli isolates. The DNA probes of eae, bfpA and espAwere obtained by amplification of DNA fragment of EPEC O126 using PCR technique. Furthermore, those probes were used toidentify the presence of those genes among E. coli isolates using hybridization technique. The results showed that 42 (85.7%)isolates were espA+, 25 isolates (51%) were eaeA+ (EPEC strains). Therefore among 25 isolates of EPEC, 20 isolates (80 %)among EPEC were bfpA+ (typical EPEC strains).Keywords : DNA probe, eae, bfpA, espA, EPEC.
PEMERIKSAAN HIV 1 DAN 2 METODE IMUNOKROMATOGRAFI RAPID TEST SEBAGAI SCREENING TEST DETEKSI AIDS Harti, Agnes Sri; Agustin, Amalia; Mardiyah, Siti; Estuningsih, E; Kusumawati, Heni Nur
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 5 No. 1, Januari 2014
Publisher : STIKes Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.949 KB)

Abstract

ABSTRAKAIDS (Aquired Immuno De¿ ciency Syindrom) adalah suatu keadaan akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai HIV (Human Immunode¿ ciency Virus). Pemeriksaan HIV 1 dan 2 Imunokromatogra¿ Rapid Test ini merupakan cara kualitatif guna mengetahui ada tidaknya antibodi HIV tipe 1 dan HIV tipe 2 dalam sampel. Metode penelitian berdasarkan pemeriksaan laboratorium menggunakan metode Imunokromatogra¿ Rapid Test yang berdasarkan prinsip imunokromatogra¿ dengan serum atau darah sebagai sampelnya. Metode ini mempunyai kelebihan yaitu waktu pemeriksaan cepat (hanya berkisar 15 – 30 menit), mudah dilakukan, tidak menggunakan alat yang khusus dan cukup sensitif. Dari 20 sampel yang dipakai diperoleh 5 sampel positif (+) mengandung antibodi HIV tipe 1 dan 2. Metode Imunokromatogra¿ Rapid Test dapat digunakan sebagai screening test terhadap AIDS. Kata kunci: HIV, imunokromatogra¿ , screening test, AIDSABSTRACTAIDS (Aquired Immuno De¿ ciency Syndrom) is a condition caused by the decreasing of the body imunity system periodicly that caused by virus called HIV. HIV 1 and 2 imunocromatography rapid test method examination is a qualitative test to know HIV type 1 and type 2 antibody on sampel. HIV immunocromatography rapid test method laboratory examination is according to immune chromatography princip with the serum or blood as the sampel. This method bene¿ t is fast (only 15 – 30 minutes), easy doing, do not use spcial tools, and sensitive enough. The result is 5 samples are positive (+) containing HIV 1 and 2 antibody from 20 samples. Immuno chromatography Rapid Test method can be used as AIDS screening test.Key words: HIV, imunochromatography, screening test, AIDS
PEMERIKSAAN RHEUMATOID FAKTOR PADA PENDERITA TERSANGKA RHEUMATOID ARTHRITIS Harti, Agnes Sri; Yuliana, Dyah
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 3 No. 2, Juli 2012
Publisher : STIKes Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.638 KB)

Abstract

ABSTRAK   Rheumatoid Faktor (RF) adalah imunoglobulin yang bereaksi dengan molekul IgG. Sebagaimana ditunjukkan namanya, RF terutama dipakai untuk mendiagnosa dan memantau Rheumatoid Arthritis (RA). Semua penderita dengan RA menunjukkan antibodi terhadap IgG yang disebut RF atau antiglobulin.  RA sendiri merupakan suatu penyakit sistemik kronis yang ditandai dengan peradangan ringan jaringan penyambung. Pada orang dewasa RA adalah suatu poliartritis inflamatoris sismetris yang ditandai oleh proliferasi sinovial, perusakan tulang dan tulang rawan. Manifestasi tersering penyakit ini adalah terserangnya sendi yang umumnya menetap dan progresif. Awalnya yang terserang adalah sendi kecil tangan dan kaki dan seringkali keadaan ini mengakibatkan deformitas sendi dan gangguan fungsi disertai rasa nyeri. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui apakah serum penderita tersangka RA yang diperiksa secara kualitatif memberikan hasil yang positif atau negatif terhadap RF. Pemeriksaan RF secara aglutinasi latex dengan metode Randox RF test. Ketika reagen dicampur dengan serum yang mengandung RF pada level yang lebih besar dari 8,0 IU/ml maka partikel akan terjadi aglutinasi. Hal ini menunjukkan sampel positif. Berdasarkan hasil pemeriksaan RF secara aglutinasi latex pada 15 sampel didapat hasil 4 sampel positif (aglutinasi) terhadap RF yaitu sampel no. 1, 2, 14 dan 15, sedangkan 11 sampel menunjukkan reaksi negatif (tidak aglutinasi) terhadap RF sehingga dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan RF pada penderita tersangka RA dapat digunakan untuk membantu diagnosa RA. ABSTRACT Rheumatoid Factor (RF)is immunoglobulin which interacted with IgG molecule. As showed by its name, RF mainly used to diagnose and monitor Rheumatoid arthritis. All suffecter of rheumatoid arthritis showed antibody toward IgG which called rheumatoid arthritis or antiglobulin. Rheumatoid arthritis is a chronic systemic disease which is indicated with light inflammation of connecting tissue. The purpose of this research is to know if the detection of rheumatoid factor on rheumatoid arthritis susffected showed result of positive or negative toward RF qualitatively. RF examination dad done latex agglutinavely by RF test Randox method. When reagen was mixed with serum which contain RF higher level of 8,0 IU/ml, then there would be agglutinated on the particel. This thing showed positive sample. According to the result of RF examination latex agglutinavely in 15 samples there are positive sample toward RF, those are samples number 1, 2, 14, and 15 while the other samples showed negative reaction toward RF. So, it could be conclude that RF detection on rheumatoid arthritis suspected could be used to help diagnosing RA.
PEMERIKSAAN WIDAL SLIDE UNTUK DIAGNOSA DEMAM TIFOID Harti, Agnes Sri; Saptorini, S
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 3 No. 2, Juli 2012
Publisher : STIKes Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.313 KB)

Abstract

ABSTRAK   Demam tifoid (Typhus abdominalis) adalah salah satu penyakit infeksi pada usus halus disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi A, B, C, yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang tercemar. Gejala klinik penyakit ini ditandai dengan timbul demam, sakit kepala, mual, muntah, suhu tubuh naik, diare, hati dan limpa membesar, serta perforasi usus. Salah satu pemeriksaan laboratorium untuk deteksi demam tifoid adalah Widal Slide Test. Metode penelitian berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapangan di Rumah Sakit Umum Daerah Sukoharjo, serta ditunjang dengan studi pustaka yang telah dipublikasikan. Pemeriksaan uji Serologis Widal Slide Test dengan menggunakan sampel serum dengan prinsip reaksi aglutinasi secara imunologis antara antibodi dalam serum dengan suspensi bakteri sebagai antigen yang homolog. Hasil positif jika terjadi aglutinasi dan hasil negatif jika tidak terjadi aglutinasi. Dari hasil pemeriksaan terhadap 20 sampel didapatkan hasil : 15 sampel menunjukkan indikasi kuat terhadap demam tifoid dan 5 sampel menunjukkan suspek terhadap demam tifoid. ABSTRACT Typhoid fever (Typhus abdominalis) is one infectious disease in the small intestine caused by Salmonella typhi and Salmonella paratyphi A, B, C bacteria entering the body through the contaminated food and beverage. The clinical symptoms of disease included fever, headache, nausea, vomit, high body temperature, diarrhea, expanded lever and lymph. In the typhoid fever patient, the small intestine is attacked leading to intestinal bleeding perforation. One of laboratory examinations to detect typhoid fever using Widal Slide Test.This scientific work is arranged based on the apprenticeship activity in Sukoharjo Public Local Hospital, as well as supported by studying the published literature. The result of Widal Slide test using the serum sample on which the immunological agglutination reaction will occur between within-serum antibody and the bacteria suspension as homologous antigen. The result is if there is agglutination and the result is negative  if there is no agglutination occurring. From the examination result with 20 samples the following result is obtained: 15 samples show strong indication of typhoid fever and 5 samples show suspected typhoid fever.