Articles

Found 22 Documents
Search

REVIEW PEMANFAATAN LIMBAH SEBAGAI BAHAN BAKU SINTESIS KARBOKSIMETIL SELULOSA Agustriono, Fenadya Rahayu; Hasanah, Aliya Nur
Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.115 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i3.10788

Abstract

Karboksimetil selulosa (CMC) merupakan senyawa turunan selulosa yang memiliki kegunaan luas, baik dalam bidang farmasi, pangan, maupun industri. Berdasarkan kegunaannya ini, CMC menjadi senyawa yang diminati dan banyak diteliti. Pencarian bahan baku pembuatan CMC dengan memanfaatkan limbah-limbah pun terus dikembangkan. Terdapat banyak sekali limbah yang melimpah ruah jumlahnya dan memiliki kandungan selulosa yang tinggi, namun pemanfaatannya belum maksimal dan terbuang percuma sehingga sangat potensial untuk dijadikan bahan baku dalam sintesis CMC. Artikel ini berisi ulasan dari 20 jurnal tentang pemanfaatan limbah sebagai bahan baku dalam sintesis CMC yang didapatkan melalui mesin pencari online ?Google Scholar?. Terdapat 25 jenis limbah yang telah berhasil dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam sintesis CMC. Namun masih banyak yang harus diteliti terkait hal ? hal yang mempengaruhi kualitas CMC yang dihasilkan seperti proses pengekstrasian selulosa dari limbah, kadar NaOH serta monokloroasetat yang digunakan, dan waktu serta suhu pada saat sintesis sehingga proses pemanfaatan limbah sebagai bahan baku dalam sintesis CMC dapat menghasilkan produk sesuai yang diharapkan.Kata Kunci: Karboksimetil selulosa, CMC, limbah, sintesis.
REVIEW ARTIKEL : AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (GARNICIA MANGOSTANA L.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT Meilina, Noer Erin; Hasanah, Aliya Nur
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.787 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17550

Abstract

Jerawat merupakan penyakit radang yang dapat terjadi di kulit wajah, leher, dada dan punggung. Penyakit ini disebabkan oleh aktivitas kelenjar minyak yang berlebihan dan diperburuk oleh infeksi bakteri. Infeksi bakteri pada penyakit jerawat dapat diobati dengan antibakteri. Kulit buah manggis mengandung senyawa a-mangostin yang merupakan turunan xanton, dimana senyawa tersebut memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Tujuan literature review ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kulit buah manggis (Garnicia mangostana L.) terhadap bakteri penyebab jerawat. Ekstrak kulit buah manggis memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa bakteri penyebab jerawat, yaitu Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis sehingga ekstrak kulit buah manggis berpotensi untuk dijadikan terapi alternatif dari tumbuhan sebagai antibakteri pada penyakit jerawat.Kata kunci : Jerawat, Antibakteri, Ekstrak Kulit Buah Manggis.
REVIEW PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIVIRUS EKSTRAK TANAMAN TERHADAP PENGHAMBATAN VIRUS INFLUENZA A H5N1 DENGAN METODE IN VITRO Afriani, Badriah; Afriani, Badriah; Hasanah, Aliya Nur
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6220.522 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10608

Abstract

Influenza merupakan penyakit epidemik dan penyakit pandemik yang menjangkit masyarakat. Beberapa obat antivirus banyak digunakan seperti golongan adamantane dan inhibitor neuraminidase. Namun, sekarang banyak digunakan penggunaan obat herbal untuk penggunaan virus influenza.  Percobaan pada ekstrak seperti  (Andrographis paniculata Nees), Temu Ireng (Curcuma aeruginosa L.), Beluntas (Pluchea indica L.) Sirih Merah (Piper crocatum) dan Adas (Foeniculum vulgare) untuk mengetahui potensi uji hambat infeksi virus ke sel secara in vitro dengan menggunakan sel Vero yang efektif. sel Vero tumbuh dengan konfluen, sel diperlakukan dengan ekstrak tanaman obat steril. kemudian sel diinfeksi dengan virus Influenza A H5N1, dan diinkubasi pada suhu 37 oC dan diperiksa cytopathic effect menggunakan mikroskop. Dengan penggunaan laju dosis radiasi (KGy) dapat dilihat pengaruh dari aktivitas ekstrak tanaman terhadap virus influenza A H5N1. Hasil menunjukan bahwa sambiloto dan temu ireng memiliki aktivitas cukup kuat dalam menghambat perlekatan virus dan infeksi pada sel dibandingkan dengan tanaman obat lainnya. ekstrak sambiloto dengan temu ireng menunjukkan sel Vero masih  hidup sampai hari ke-3 post-infeksi dan virus H5N1. Dengan demikian, penggunaan ekstrak sambiloto dan temu ireng menjadi alternatif yang berpotensi sebagai obat anti virus untuk menghambat virus influenza.
FITOSOM SEBAGAI SISTEM PENGHANTAR OBAT TRANSDERMAL : FORMULASI BARU OBAT HERBAL UNTUK PERKEMBANGAN FARMASETIKA DI INDONESIA MUGNI, AKBAR ROZAAQ; Hasanah, Aliya Nur
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.16 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.16854

Abstract

Indonesia memiliki tiga perempat spesies tanaman di bumi sehingga menjadi mega-center keanekaragaman hayati dunia. Keragaman budaya, suku dan etnis yang  memiliki warisan pengetahuan masing-masing dibidang pengobatan membuat Indonesia berpotensi menguasai pengembangan obat herbal. Namun, hal tersebut dibatasi oleh kurangnya pemanfaatan sumber daya alam serta penerimaan praktisi kesehatan terhadap pengobatan herbal. Disisi lain, perkembangan industri kefarmasian Indonesia mengalami masalah terkait bahan baku obat. Terobosan terkait pemanfaatan sumber daya alam sebagai bahan baku obat herbal dengan formulasi yang lebih mutakhir diperlukan untuk mengatasi dilemma tersebut. Peluang tersebut didapat melalui aplikasi fitosom sebagai sistem penghantar obat transdermal yang baru dikembangkan dunia kefarmasian. Dalam review artikel ini akan dibahas berbagai aspek dan aplikasi dari fitosom pada formulasi sediaan obat herbal transdermal serta peluang Indonesia dalam mengembangkan teknologi tersebut sebagai inovasi pengembangan farmasetika di Indonesia.
PAPER-BASED ANALYTICAL DEVICE FOR DETECTION OF METAL, NON-METAL, AND ORGANIC POLLUTANTS: REVIEW Septyani, Rieda Nurwulan; Hasanah, Aliya Nur
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.807 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17584

Abstract

AbstractThe environment is the unity of space with all things, energy, circumstances, and living things, including human and his behavior, which affects nature itself, continuity of life, and human welfare and other living beings. Today, the environment has been polluted by the impact of intentional and unintentional human activities. To detect that an environment is contaminated the method it still expensive and difficult, that's why the method to analysis environmental pollution is still rarely done. Paper-based Analytical Device is an analytical method that is now often used to detect many things, from chemical compounds, bacteria, pollutants, and use for diagnostics. In this method, only samples with small volumes are required. Nor does it need external support equipment because the sample fluids are controlled largely by capillarity and evaporation. Many researchers now use PAD as an alternative method to test the contaminants present in an environment such as metal contaminants, non-metals, and organic compounds.Keywords: Environmental pollution, Paper-based Analytical Device, metal, non-metal, organic compound.
Karakterisasi Carboxymethyl Cellulose Sodium (Na-CMC) dari Selulosa Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms.) yang Tumbuh di Daerah Jatinangor dan Lembang Indriyati, Wiwiek; Kusmawati, Rembulan; Sriwidodo, Sriwidodo; Hasanah, Aliya Nur; Musfiroh, Ida
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.677 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v3i3.9582

Abstract

Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms.) berpotensi sebagai sumber bahan baku pembuatan carboxymethyl cellulose sodium (Na-CMC) karena memiliki kandungan selulosa yang tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik Na-CMC serta mengetahui signifikansi perbedaan parameter WHC (Water Holding Capacity) dan OHC (Oil Holding Capacity) dari Na CMC yang disintesis dari selulosa eceng gondok yang tumbuh di Jatinangor dan Lembang. Dilakukan isolasi α-selulosa menggunakan natrium hidroksida 30%,  sintesis Na-CMC melalui tahap alkalinasi menggunakan natrium hidroksida 40% dan karboksimetilasi dengan natrium monokloroasetat; penambahan crosslinker epiklorohidrin; dan karakterisasi Na-CMC berdasarkan Farmakope Indonesia, dan JECFA. Diperoleh rendemen α-selulosa hasil isolasi dari eceng gondok Jatinangor sebesar 20,80% dan Lembang sebesar 18,60% dengan kadar α-selulosa masing-masing 76,53% dan 71,35%; hasil sintesis diperoleh rendemen Na-CMC sebesar 96,87% dan 85,03%; penambahan crosslinker menghasilkan rendemen Na-CMC sebesar 439,14% dan 221,81%. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa Na-CMC telah memenuhi persyaratan organoleptis, kelarutan, foam test, pembentukan endapan, viskositas dan kandungan logam berat. Beberapa parameter lain seperti susut pengeringan, kandungan natrium dan derajat substitusi belum memenuhi persyaratan, namun mempunyai nilai yang lebih baik dibandingkan dengan Na-CMC baku. Uji statistika komparatif menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada nilai WHC namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai OHC dari Na-CMC hasil sintesis dari tanaman eceng gondok yang tumbuh di Jatinangor dan Lembang.
Optimasi Kondisi Pemisahan Glibenklamid Kombinasi Metformin dengan KCKT-SPE MIP Akrilamid Hasanah, Aliya Nur
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.564 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v3i2.8527

Abstract

Telah dilakukan dan divalidasi metode analisis glibenklamid dalam plasma menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik dengan pretreatment menggunakan SPE C-18 dan SPE-MIP monomer akrilamid. 1 mL metanol dan 1 mL akuabides digunakan sebagai conditioning agent, 1 mL metanol 5% dalam akuabides digunakan sebagai washing agent, dan 1 mL asetonitril digunakan sebagai eluting agent. Hasil ekstraksi dianalisis menggunakan kolom C18 (Shimadzu) 150 x 4,6 mm, ukuran partkel 5 µm, fase gerak 55:45  v/v asetonitril dan triflouro acid 0,1% dengan kecepatan alir 1 mL/menit, deteksi dilakukan pada 227 nm dengan standar internal gliklazid. Metode analisis divalidasi berdasarkan parameter linieritas, presisi, akurasi, selektivitas/spesifisitas, Limit of Detection (LOD), Limit of Quantification (LOQ) dan kesesuaian sistem. Dapat disimpulkan bahwa metode analisis yang digunakan memiliki validitas sesuai dengan yang dipersyaratkan dan SPE-MIP monomer akrilamid memberikan hasil ekstrasi yang lebih optimal dibandingkan dengan SPE C-18.
Studi Permeabilitas In Vitro Sediaan Gel Natrium Diklofenak dan Dietilamin Diklofenak Wardhana, Yoga Windhu; B, Sriwidodo; Hasanah, Aliya Nur; Dwiestri, Priskila O; Khoerunisa, Anis
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.372 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v1i2.7514

Abstract

 Akhir-akhir ini di pasaran farmasi beredar produk gel antiinflamasi golongan NSAID diklofenak dengan bahan aktif yang berbeda. Beberapa produk dibuat menggunakan bahan aktif garam natrium diklofenak, sedangkan industri farmasi lainnya menggunakan bahan aktif garam dietilamin diklofenak. Kedua bahan aktif memiliki perbedaan sifat dan karakter terutama dari sifat kelarutannya dalam air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kemampuan penyerapan (permeabilitas) dari kedua zat aktif tersebut. Metode penelitian meliputi pembuatan gel dengan basis gel HPC (Hidroksi Propil Selulosa), evaluasi sediaan yang meliputi: organoleptis, kadar, pH, dan viskositas. Sediaan gel yang telah memenuhi persyaratan kemudian diuji lebih lanjut permeabilitasnya secara in vitro selama 32 jam dengan sel difusi Franz dan sisa kulit ular phyton (Python reticulates) sebagai membrannya. Hasil evaluasi kualitas sediaan gel  menunjukkan bahwa kedua formula gel dari bahan aktif yang berbeda memiliki kualitas yang memenuhi persyaratan sebagai sediaan gel yang baik. Sedangkan hasil uji permeabilitas in vitro memperlihatkan bahwa kedua bahan aktif memberikan profil yang berbeda danjumlah keterserapan bahan yang berbeda. Dimana setelah 32 jam uji difusi diperoleh sebanyak 20% natrium diklofenak dan 15,5% dietilamin diklofenak. Terlihat bahwa profil dari dietilamin diklofenak memiliki efek depo, sehingga dosis yang digunakan lebih efektif untuk jangka waktu lama.  Kata kunci: Gel, dietilamin diklofenak, natrium diklofenak, permeabilitas
Design of Indicator Strip Using Polystyrene (PS) and Polymethylmethacrylate (PMMA) for Detection of Diclofenac Sodium in Traditional Pain Relief Herbal Medicines Dalli, Ibrahim; Ramdhani, Danni; Hasanah, Aliya Nur
Indonesian Journal of Chemistry Vol 17, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.03 KB) | DOI: 10.22146/ijc.23612

Abstract

Diclofenac sodium is one of analgesic which added to herbal medicines to enhance the effects. One of a qualitative method that is easy, efficient and simple is an indicator strip test. Indicator strip based polystyrene (PS) and polymethylmethacrylate (PMMA) was made to detect of diclofenac sodium which misused in traditional pain relief herbal medicine. Indicator strip was made by reagent blending method with specific reagents, copper sulfate (CuSO4), ferric chloride (FeCl3) and vanillin sulfate. The principle of the indicator strip in detecting diclofenac sodium is with the occurrence of a color reaction. The PS and PMMA were made in the concentration of 5, 7.5 and 10% and the mixture of PS and PMMA 1:5 and 1:6 respectively with a ratio of solvent and reactant 6:4; 7:3 and 8:2. The best indicator strip is PMMA-CuSO4 5% (7:3), PMMA-FeCl3 5% (7:3) and PMMA-Vanillin sulphate 7.5% (7:3). The detection limit of the PMMA-CuSO4 5% (7:3) was at 50 ppm, PMMA-FeCl3 5% (7:3) showed detection limit of 12,500 ppm and PMMA-vanillin sulfate 7.5% (7:3) showed detection limit of 500 ppm. All indicator strips stable up to 29 weeks. The indicator strip can be used as an alternative method to detect diclofenac sodium in herbal medicine.
Studi Permeabilitas In Vitro Sediaan Gel Natrium Diklofenak dan Dietilamin Diklofenak Wardhana, Yoga Windhu; B, Sriwidodo; Hasanah, Aliya Nur; Dwiestri, Priskila O; Khoerunisa, Anis
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.372 KB) | DOI: 10.15416/ijpst.v1i2.7514

Abstract

 Akhir-akhir ini di pasaran farmasi beredar produk gel antiinflamasi golongan NSAID diklofenak dengan bahan aktif yang berbeda. Beberapa produk dibuat menggunakan bahan aktif garam natrium diklofenak, sedangkan industri farmasi lainnya menggunakan bahan aktif garam dietilamin diklofenak. Kedua bahan aktif memiliki perbedaan sifat dan karakter terutama dari sifat kelarutannya dalam air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kemampuan penyerapan (permeabilitas) dari kedua zat aktif tersebut. Metode penelitian meliputi pembuatan gel dengan basis gel HPC (Hidroksi Propil Selulosa), evaluasi sediaan yang meliputi: organoleptis, kadar, pH, dan viskositas. Sediaan gel yang telah memenuhi persyaratan kemudian diuji lebih lanjut permeabilitasnya secara in vitro selama 32 jam dengan sel difusi Franz dan sisa kulit ular phyton (Python reticulates) sebagai membrannya. Hasil evaluasi kualitas sediaan gel  menunjukkan bahwa kedua formula gel dari bahan aktif yang berbeda memiliki kualitas yang memenuhi persyaratan sebagai sediaan gel yang baik. Sedangkan hasil uji permeabilitas in vitro memperlihatkan bahwa kedua bahan aktif memberikan profil yang berbeda danjumlah keterserapan bahan yang berbeda. Dimana setelah 32 jam uji difusi diperoleh sebanyak 20% natrium diklofenak dan 15,5% dietilamin diklofenak. Terlihat bahwa profil dari dietilamin diklofenak memiliki efek depo, sehingga dosis yang digunakan lebih efektif untuk jangka waktu lama.  Kata kunci: Gel, dietilamin diklofenak, natrium diklofenak, permeabilitas