Articles

Found 10 Documents
Search

PERBANDINGAN KEPEKAAN POLA KUMAN ULKUS DIABETIK TERHADAP PEMAKAIAN PHMB GEL DAN NACL GEL SECARA KLINIS Kurnia, Sendi; Sumangkut, Richard; Hatibie, Mendy
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.1.2017.15318

Abstract

Abstract: The prevalence of diabetes mellitus (DM) is increased globally every year, especially in developed countries. In Indonesia, the prevalence of diabetic ulcers is amounted to 15%. Mortality and amputation are as high as 32.5% and 23.5% and are the most common cause of diabetic patient care in the hospital. This study was aimed to compare the sensitivity of diabetic ulcers? bacteria to PHMB gel with 0.9% saline gel. This was a descriptive analytical study. Subjects were 57 patients of diabetic ulcer associated with infection. Pus samples obtained from the diabetic ulcers were cultured and were further evaluated for the sensitivity test to PHMB gel and saline gel. Data were analyzed by using the ? test. The results showed that the proportion of bacteria? sensitivity to PHMB was significantly different (P <0.05) meanwhile to 20% saline gel was not significantly different (P <0.05). Conclusion: Application of PHMB gel could improve the process of wound healing of diabetic ulcer with infection.Keywords: PHMB gel, Na Cl gel, diabetic ulcer with infectionAbstrak: Prevalensi penyandang diabetes melitus (DM) secara global semakin meningkat setiap tahunnya terutama di negara berkembang. Di Indonesia, prevalensi ulkus diabetik pada penyandang DM sebesar 15%. Angka kematian dan amputasi sangat tinggi yaitu sebesar 32,5% dan 23,5% yang merupakan penyebab terbanyak perawatan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola kuman pada ulkus diabetik serta membandingkan kepekaan kuman terhadap PHMB gel dan NaCl gel. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik. Subyek penelitian ialah 57 pasien dengan ulkus diabetik disertai infeksi. Sampel pus dari ulkus diabetik dibuat kultur kemudian dilanjutkan dengan uji kepekaan kuman terhadap PHMB gel dan NaCl gel. Data dianalisis menggunakan uji ?. Hasil uji statistik mendapatkan perbedaan proporsi kepekaan kuman terhadap PHMB yang bermakna (P < 0,05) sedangkan perbedaan proporsi kepekaan kuman terhadap NaCl gel 20% tidak bermakna (P >0,05). Simpulan: Pemberian PHMB gel dapat meningkatkan proses penyembuhan luka pada penyandang DM dengan ulkus yang disertai infeksi.Kata kunci: PHMB gel, Na Cl gel, ulkus diabetik dengan infeksi
POLA PENGGUNAAN TERAPI HIPERBARIK DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2013- 2016 Tulong, Marcella; Hatibie, Mendy; Oley, Maximillian Ch.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14403

Abstract

Abstract: Besides decompression sickness, hyperbaric oxygen therapy can be used as a therapeutic modality of several diseases inter alia wound healing in gangrene, compromised grafts and flaps, crush injuries, thermal burns, and intracranial abscess. This study was aimed to obtain the usage of hyperbaric oxygen therapy in healing process as indicated. This was a descriptive retrospective study using data of patients who had hyperbaric oxygen therapy performed on them at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from 2013 to 2016. The results showed that there were 128 patients that had hyperbaric oxygen therapy performed on them,consisted of decompression sickness in 60 patients (46.87%), thermal burn in 29 patients (22.65%), diabetic ulcer in 19 patients (14.84%), followed by crush injury, skin graft, and pre-post amputation in 6 patients each (4.68%), and gangrene in 2 patients (1.56%). Conclusion: The usage of hyperbaric oxygen therapy for decompression was 46.87% and for wound healing was 50.13%.Keywords: hyperbaric oxygen therapy, wound healing Abstrak: Terapi oksigen hiperbarik (TOHB) merupakan salah satu modalitas terapi tambahan yang bisa digunakan sebagai modalitas terapi dari beberapa penyakit selain decompression sickness yaitu penyembuhan luka seperti pada gangrene, compromised grafts and flaps, crush injuries, thermal burns, dan intracranial abscess. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak penggunaan terapi oksigen hiperbarik sebagai salah satu modalitas terapi pada proses penyembuhan penyakit yang termasuk dalam indikasi. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data pasien yang melakukan TOHB di RSUP.Prof. Dr. R. D. Kandou periode tahun 2013-2016. Hasil penelitian mendapatkan 128 pasien yang menggunakan TOHB sebagai berikut: decompression sickness sebanyak 60 pasien (46,87 %), luka bakar sebanyak 29 pasien (22,65%), ulkus diabetik sebanyak 19 pasien (14,84%), diikuti crush injury, skin graft dan pre-post amputation masing-masing sebanyak 6 pasien (4,68%), dan gangren 2 pasien (1,56%). Simpulan: Penggunaan TOHB untuk dekompresi sebanyak 46,87% dan untuk penyembuhan luka sebanyak 50,13%. Kata kunci: TOHB, decompression sickness, penyembuhan luka
HUBUNGAN ANTARA FRAKTUR MAKSILOFASIAL DENGAN TERJADINYA LESI INTRAKRANIAL Tanuhendrata, Anton; Hatibie, Mendy; Oley, Maximillian Ch.; Prasetyo, Eko
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 3 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.3.2016.14151

Abstract

Abstract: Maxillofacial structure is an unprotected part of the head and is easily exposed to blunt trauma. This structure functions as a safety cushion for the brain when a trauma occures. This study was conducted at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado and aimed to obtain the relationship between maxillofacial fracture and intracranial lesion. Subjects were patients at the emergency unit with traffic accident associated with maxillofacial fracture with or without intracranial lelsion. GCS examination and CT scan of the head were performed to evaluate the intracranial lesion and the maxillofacial fracture (mild, moderate, or severe depended on the type of fracture). Data were tabulated and analyzed with Spearman correlation test using SPSS 2.2 program. The results showed that there were 50 patients with maxilllofacial injury, consisted of: 19 patients with mild injury, 25 patients with moderate injury, and 6 patients with severe injury. There were 13 patients with intracranial lesion and 37 patients without intracranial lesion. The Spearman correlation test showed an X2 = 32,60 and a P < 0.0001. Conclusion: There was a significant correlation between maxillofacial fracture and intracranial lesion.Keywords: maxillofacial fracture, intracranial lesionAbstrak: Struktur maksilofasial merupakan bagian dari tubuh yang tidak terlindungi, mudah terpapar oleh trauma tumpul, dan merupakan bantal pengaman untuk otak saat trauma terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan antara fraktur maksilofasial dengan lesi intracranial dan dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Subyek penelitian ialah pasien yang datang ke unit gawat darurat yang mengalami kecelakaan lalu lintas dengan fraktur maksilofasial serta ada atau tidaknya lesi intrakranial. Pemeriksaan GCS serta CT scan kepala dilakukan untuk menilai lesi intrakranial sekaligus menilai fraktur maksilofasial (ringan, sedang, atau berat, tergantung dari jenis fraktur). Data ditabulasi dan diuji kemaknaannya dengan korelasi Spearman menggunakan program SPSS 2.2. Hasil penelitian memperlihatkan dari 50 pasien dengan cedera maksilofasial didapatkan: 19 pasien cedera ringan, 25 pasien cedera sedang, dan 6 pasien cedera berat. Terdapat 13 pasien yang disertai lesi intrakranial, sedangkan yang tanpa lesi intrakranial sebanyak 37 pasien. Uji statistik mendapatkan nilai X2 = 32,60 dengan P <0,0001 yang menunjukkan hubungan bermakna antara fraktur maksilofasial dan lesi intrakranial. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara fraktur maksilofasial dan lesi intrakranial.Kata kunci: Fraktur maksilofasial, lesi intrakranial
PENGARUH PENGGUNAAN HELM TERHADAP CEDERA KRANIOFASIAL BERDASARKAN SKOR FISS DAN CT MARSHALL Mengga, Hendrik; Hatibie, Mendy; Prasetyo, Eko; Oley, Maximillian Ch.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 2 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.2.2017.16362

Abstract

Abstract: Helmet can reduce head trauma as well as maxillofacial trauma due to motorcycle accident. This study was aimed to prove the effect of helmet and its type in reducing craniofacial injury. Any intracranial abnormalities were evaluated with the CT Marshall scoring system and maxillofacial abnormalities were evaluated with FISS. This was an analytical comparative study with a cross sectional design. The results showed that there were 72 patients with craniofacial trauma; 59 patients with intracranial abnormalities and 24 patients with maxillofacial abnormalities. There were 43.1% patients that wore helmet; 31.9% of them wore open-face helmet. Data were analyzed by using the unpaired t-tests. Based on FISS, the effect of helmet on maxillofacial injury obtained a t-value of 0.787 (P = 0.217) which indicated that there was no difference in FISS scores between patients wearing helmet and not. Based on the CT Marshall scoring system, the effect of helmet on the intracranial injury obtained a t-value of 1.822 (P = 0.036) which indicated that there was a difference in scores between patients wearing helmet and not. This meant that wearing helmets had some influence on the occurence of head injuries. Based on FISS, the impacts of full-face helmet and open-face helmet on maxillofacial injuries obtained a t-value of 1.890 (P = 0.034) which indicated that there was a difference in FISS between the two types of helmets. Based on the CT Marshall scoring system, the impacts of full-face helmet and open-face helmet on intracranial injuries obtained a t-value of 1.714 (P = 0.049) which indicated that there was a difference in CT Marshall scores between the two types of helmets. Conclusion: Helmet and its type, full-face and open-face, had some influence on the occurence of either maxillofacial or intracranial injuries.Keywords: craniofacial injury, motorcycle, helmetAbstrak: Penggunaan helm dapat mengurangi kejadian trauma kepala dan trauma maksiofasial akibat kecelakaan sepeda motor. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemakaian helm dan tipe helm berperan dalam menurunkan cedera kraniofasial. Abnormalitas intrakranial dievaluasi dengan skoring CT Marshall dan abnormalitas maksilofasial dievaluasi dengan FISS. Jenis penelitian ialah analitik komparatif dengan desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan 72 pasien dengan trauma kraniofasial; 59 pasien dengan abnormalitas intrakranial dan 24 pasien dengan abnormalitas maksilofasial. Terdapat 43,1% pasien yang menggunakan helm; 31,9% menggunakan helm open-face. Data dianalisis menggyunakan uji t tidak berpasangan. Berdasarkan FISS, efek helm terhadap cedera maksilofasial mendapatkan t = 0,787 (P = 0,217) yag menunjukkan tidak terdapat perbedaan skor antara pasien yang menggunakan dan tidak menggunakan helm. Berdasarkan skoring CT Marshall, efek helm terhadap cedera intrakranial mendapatkan t = 1,822 (P = 0,036) yang menunjukkan terdapat perbedaan skor antara pasien yang menggunakan dan tidak menggunakan helm. Hal ini memperlihatkan bahwa penggunaan helm berpengaruh terhadap kejadian cedera kepala. Berdasarkan FISS, dampak jenis helm full-face dan open-face terhadap cedera maksilofasial mendapatkan t = 1,890 (P = 0,034) yang menyatakan terdapat perbedaan skor FISS antara pengggunaan kedua jenis helm. Berdasarkan skoring CT Marshall, dampak helm full-face dan open-face terhadap cedera intrakranial mendapatkan t = 1,714 (P = 0,049) yang menunjukkan terdapat perbedaan skor CT Marshall antara penggunaan kedua jenis helm. Simpulan: Penggunaan helm dan jenis helm (full-face dan open-face) memengaruhi terjadinya cedera maksilofasial dan intrakranial.Kata kunci: cedera kraniofasial, sepeda motor, helm
PERBANDINGAN PENYEMBUHAN LUKA INSISI MENGGUNAKAN PISAU BEDAH DAN PISAU ELEKTROKAUTER DINILAI DENGAN VANCOUVER SCAR SCORE PADA OPERASI LUKA BERSIH Mitaart, Diadon; Hatibie, Mendy; Noersasongko, Djarot
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 3 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.3.2017.17342

Abstract

Abstract: Skin incision is usually performed by using a scalpel. It is assumed that electrocautery knife, a more recent alternative, can increase the risk of infection, impair healing, and result in poor cosmetic scar. This study was aimed to compare the healing process of incision wounds performed by using sclapels and electrocautery knives assessed with Vancouver Scar Score (VSS) at three months after operation. This was an experimental study. Subjects were 17 male patients, aged 18-55 years old, with elective operation (categorized as clean wound operation) from March through June 2016 at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Each incision was performed with a scalpel first (Group A) and continued with an electrocautery knife (Group B). After 3 months of operation, the wound scars were assessed with VSS. The Wilcoxon signed ranks test showed no significant difference between the VSS of the two groups (P > 0.05). Conclusion: There was no difference in wound healing of incised wounds performed by using scalpels and by using electrocautery knives.Keywords: VSS, electrocautery, wound healing, scarAbstrak: Insisi kulit biasanya dilakukan dengan menggunakan pisau bedah. Peralatan elektrokauter merupakan alternatif baru yang dianggap meningkatkan risiko infeksi, memperlambat penyembuhan, dengan hasil secara kosmetik yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan proses penyembuhan dari luka insisi menggunakan pisau bedah dan pisau elektrokauter yang dinilai dengan Vancouver Scar Score (VSS) pada operasi dengan luka bersih. Jenis penelitian ialah eksperimental. Penelitian dilakukan selama periode Maret 2016 s/d Juni 2016 pada 17 orang pasien berjenis kelamin laki-laki, berusia 18-55 tahun yang memerlukan operasi elektif di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dan dikategorikan operasi dengan luka bersih. Setiap insisi selalu dilakukan terlebih dahulu dengan pisau bedah (kelompok A) dan sisanya dilakukan dengan pisau elektrokauter (kelompok B), kemudian luka dinilai dengan VSS setelah 3 bulan kemudian. Hasil uji Wilcoxon signed ranks terhadap hasil VSS saat 3 bulan setelah operasi memperlihatkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara hasil perlakuan A dan B (P > 0,05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan dalam penyembuhan dari kedua bagian luka insisi yang menggunakan pisau bedah dan pisau elektrokauter pada operasi dengan luka bersih.Kata kunci: VSS, elektrokauter, penyembuhan luka, jaringan parut
PENGARUH PEMBERIAN PLASMA KAYA TROMBOSIT DAN KARBONAT HIDROKSIAPATIT PADA PROSES PENUTUPAN DEFEK TULANG KEPALA HEWAN COBA TIKUS Nirmalasari, Lucia; Oley, Maximillian Ch.; Prasetyo, Eko; Hatibie, Mendy; Loho, Lily L.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 3 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.3.2016.14152

Abstract

Abstract: Recently, platelet rich plasma has been popular and its use has begin on human in developed countries. Platelet rich plasma is defined as autologus blood with concentration of platelets three to five times above baseline level, which contains at least seven growth factors like Platelet Derived Growth Factor (PDGF), Platelet Derived Angiogenesis Factor (PDAF), Platelet Derived Endothelial Growth Factor (PDEGF), Transforming Growth Factor Beta (TGF- ?), Insulin like Growth Factor (IGF), Fibroblast Growth Factor (FGF), and Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF). The golden standard for reconstruction of cranial bone defects demonstrates osteoconduction scaffold, osteoinduction like growth factors, and osteogenesis. Alloplastic biomaterials have revolutionalized craniofacial reconstruction. Carbonated hydroxyapatite (CHA) has been studied for years as implant material due to its similarity with the mineral component of bone. In this study we investigated and compare the effects of PRP and CHA on bone regeneration in rat cranial defects. This was an experimental study with a true experimental design on white male rats (Rattus norvegicus). Cranial deffects of 3 mm diameter were created in rat cranium and grafted with CHA and PRP combination, CHA alone, and control. The relationships among them were analyzed by using Mann Whitney and SPSS Statistics Program Package Version 22.0. The results showed that the experimental group of 2 weeks had no different between inflammatory reaction (P = 0.119), woven bone (P = 0.094) and lamellar bone (P = 0.130). At 4 weeks,a combination of PRP and CHA showed a superior growth of lamellar bone compared to CHA (P = 0.009). Conclusion: A combination of PRP and CHA in bone regeneration showed a histological tendency toward increased bone formation. However, future investigations should be conducted in different period times.Keywords: platelet rich plasma, carbonated hydroxyapatite, cranial defectAbstrak: Plasma kaya trombosit makin banyak digunakan dalam dunia kedokteran. Di negara maju pengunaannya sudah mulai diteliti pada manusia. Plasma kaya trombosit adalah fraksi plasma darah dengan konsentrasi platelet 3-5 kali diatas nilai normal yang mengandung sekurang-kurangnya 7 faktor pertumbuhan, diantaranya Platelet Derived Growth Factor (PDGF), Platelet Derived Angiogenesis Factor (PDAF), Platelet Derived Endothelial Growth Factor (PDEGF), Transforming Growth Factor Beta (TGF- ?), Insulin like Growth Factor (IGF), Fibroblast Growth Factor (FGF), dan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) yang dapat meningkatkan proses osteogenesis. Karbonat hidroksiapatit adalah material pengganti tulang yang dapat mempercepat regenerasi jaringan tulang serta memiliki kandungan kalsium,fosfat dan karbonat yang mirip dengan tulang manusia. Tulang yang tumbuh pada awal berupa tulang muda yang memiliki serat kolagen yang tidak teratur dan banyak osteosit disebut tulang imatur. Tulang imatur kemudian akan diganti oleh tulang matur yang memiliki serabut kolagen yang teratur. Jenis penelitian ini ialah eksperimental pada 36 hewan coba tikus putih wistar (Rattus norvegicus). Defek kalvaria pada tikus dengan diameter 3 mm diisi sesuai perlakuan: plasma kaya trombosit dengan karbonat hidroksiapatit, karbonat apatit tunggal, dan kontrol. Plasma kaya trombosit dibuat dari autologus darah tikus yang diberi perlakuan plasma kaya trombosit serta karbonat hidroksiapatit dan karbonat apatit tunggal. Data dianalisis dengan uji Mann Whitney dan diolah dengan SPSS. Hasil penelitian memperlihatkan pada minggu ke-2, tidak terdapat perbedaan bermakna reaksi inflamasi (P = 0,119), tulang imatur (P = 0,094), dan tulang matur (P = 0,130) diantara ketiga perlakuan. Pada minggu ke-4, tulang matur yang terbentuk lebih banyak pada perlakuan plasma kaya trombosit dan karbonat hidroksiapatit (P = 0,009). Simpulan: Pemberian plasma kaya trombosit dan karbonat hidroksiapatit dapat meningkatkan proses penutupan defek tulang kepala hewan percobaan tikus.Kata kunci : plasma kaya trombosit, karbonat hidroksiapatit, defek tulang kepala.
Frontoethmoidal Encephalomeningocele Revisited : The Convenience Of Teamwork Approach, A CaseSeries Kusumastuti, Nadia; Handayani, Siti; Hatibie, Mendy; Diah, Enrina; Bangun, Kristaninta
Jurnal Plastik Rekonstruksi Vol 1 No 5 (2012): September - October Issue
Publisher : Yayasan Lingkar Studi Bedah Plastik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.979 KB) | DOI: 10.14228/jpr.v1i5.103

Abstract

Background: Frontoethmoidal encephalomeningocele (FEEM) is a congenital defect of the skull which poses many problems to the patient as it results in many craniofacial and neural morbidities. While recently surgical correction of this disease is done in a single-stage procedure, many in Indonesia still perform twostage surgery which bears more risks and is technically difficult to achieve good aesthetic results. This case series intend to assess the feasibility and convenience of teamwork approach between plastic surgeon and neurosurgeon in correcting FEEM in a single-stage operation. Methods:We reviewed 8 patients with FEEM treated in Plastic and Reconstructive Surgery Division, Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta from November 2005 until March 2010. Four of the cases were secondary cases from Neurosurgery Department, and the other 4 cases were treated in single-stage operation, in teamwork with Neurosurgery Department, using the Chula technique. Results of each surgery was assessed using objective parameters, which are Intercanthal Distance (ICD) and Interorbital Distance (IOD); and also subjective parameters which is aesthetic improvement.Result: All of the patients showed significant improvements in ICD and IOD measurements. No complication was found intra and post-operatively. All patients, especially the ones treated with singlestage surgery show good aesthetic results. Conclusion: To achieve goals of defect correction and aesthetically pleasant appearance, single-stage surgery in teamwork with the neurosurgery department seems to be most suitable and convenient.
PENGARUH TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PADA LUKA BAKAR DERAJAT DUA DALAM PADA HEWAN COBA KELINCI Susilo, Rudy H.; Hatibie, Mendy; Ngantung, Jan T.; Durry, Meilany F.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.1.2017.15317

Abstract

Abstract: Wound healing process consists of inflammation, proliferation, and remodelling phases with increasing inflammatory cells, angiogenesis, and epithelization. Mechanism of hyperbaric oxygen therapy is O2 pressure over 1 ATA will increase oxygen pressure in the tissue. The main outcome measure is wound healing. This study was aimed to obtain the influence of hyperbaric oxygen therapy to wound healing process of deep second degree burn wounds. This was an experimental study. Subject were 36 rabbits divided into 2 groups, each of 18 rabbits. Deep second degree burn wounds were performed on all rabbits. One group was treated with hyperbaric oxygen therapy 2.4 ATA for 6 days, meanwhile the other group as control. The result of Mann-Whitney U test showed significant differences in inflammatory cells (P = 0.025) and epithelization (P = 0.024); albeit, there was not significant difference in angiogenesis (P = 0.442) between the two groups. Conclusion: Hyperbaric oxygen therapy could influence the inflammatory cells and epithelization but not the angiogenesis.Keywords: second degree burn wound, healing process, hyperbaric oxygen therapyAbstrak: Proses penyembuhan luka terdiri dari: fase inflamasi, proliferasi, dan perupaan kembali/remodeling, yang tampak dengan meningkatnya sel-sel radang, angiogenesis serta epitelialisasi. Mekanisme kerja terapi oksigen hiperbarik (TOHB) ialah pemberian tekanan O2 yang melebihi 1 ATA akan menyebabkan peningkatan tekanan O2 dalam jaringan. Jenis penelitian ialah eksperimental. Subyek penelitian 36 ekor kelinci yang dibuat luka bakar derajat dua dalam, kemudian dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing 18 ekor. Kelompok perlakuan diberikan TOHB dengan dosis 2,4 ATA selama 6 hari sedangkan kelompok lain sebagai kontrol. Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada jumlah sel radang (P = 0,025) dan epitelialisasi (P = 0,024), tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna pada angiogenesis (p=0,442), serta ada perbedaan bermakna pada pada kedua kelompok. Simpulan: Terapi oksigen hiperbarik berpengaruh terhadap jumlah sel radang dan epitelialisasi namun tidak terhadap angiogenesis.Kata kunci: penyembuhan luka bakar, oksigen hiperbarik, luka bakar derajat dua dalam
PROFIL PENDERITA LUKA BAKAR AKIBAT LISTRIK DI BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE AGUSTUS 2009  AGUSTUS 2012 Siahaan, Shinta D.; Monoarfa, Alwin; Hatibie, Mendy
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.2.2013.3304

Abstract

Abstract: Background: Electrical burns are caused by direct contact electric with the body, and often wound more serious than what is visible on the surface. Electric current can cause injury in three ways: Cardiac arrest (cardiac arrest) due to electrical effects on the heart; damage to muscles, nerves, and tissues by electric current through the body; thermal burns due to contact with the power source. The purpose of this study was to determine the profile of patients with electrical burns on BLU RSU Prof. Dr. R. D. Manado Kandou for period August 2009-August 2012. Methods: This study used a retrospective descriptive study method by the medical record data on BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado August 2009-August 2012. Results: The total cases of electrical burns are 40 cases, with 15 cases on period of August 2009 to August 2010, 9 cases on period of August 2010 to August 2011, and on period August 2011 to August 2012 found are 16 cases. Most incidents occurred in the age of 25-44 years with more incident occurred to men. Seen from the work, most incidence is occupied by the employees construction workers. Based on the strength of electric current, the highest incidence in medium voltage (domestic installations), which indicates that the housekeeping installation is not good, using of low quality cable, no electrical installation checks on a regular basis, using of cable rollers with excessive load, and using incorrect electrical tools. All of those items increasing the incidence rate. Conclusion: The accident caused electricity easily happen to anyone. Most of those who work in place are susceptible to electrical currents. On illegal electricity usage may also increase the risk of electricity. In children which less supervision from their parents can also occur. These facts required tights attention from all parties to realize unsafe power consumption and attention to safety themselves. Keywords: Profiles, electrical burns, handling   Abstrak: Latar belakang: Luka bakar listrik disebabkan oleh kontak langsung aliran listrik dengan badan, dan sering lukanya lebih serius dari apa yang terlihat di permukaan. Arus listrik dapat menyebabkan cedera dalam tiga cara: Henti jantung (cardiac arrest) akibat  efek listrik pada jantung; kerusakan otot, saraf, dan jaringan oleh arus listrik yang melewati tubuh; luka bakar thermal akibat kontak dengan sumber listrik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penderita luka bakar akibat listrik di BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Agustus 2009?Agustus 2012. Metode: Penelitian ini menggunakan metode retrospektif deskriptif melalui penelitian data rekam medik di BLU RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Agustus 2009?Agustus 2012. Hasil: Keseluruhan luka bakar listrik sebanyak 40 kasus, yaitu 15 kasus pada periode Agustus 2009 ? Agustus 2010, 9 kasus pada periode Agustus 2010 ? Agustus 2011, dan pada periode Agustus 2011 ? Agustus 2012 didapatkan sebanyak 16 kasus. Insiden terbanyak terjadi pada umur 25-44 tahun dengan insiden terjadi lebih banyak pada pria. Dilihat dari pekerjaan terbanyak, insiden terbanyak ditempati oleh para pekerja buruh bangunan. Berdasarkan kuat arus listrik, insiden terbanyak adalah voltase menengah (instalasi rumah tangga), yang menunjukkan bahwa instalasi rumah tangga yang tidak baik, penggunaan kabel kualitas rendah,  tidak adanya pengecekan instalasi listrik secara teratur, penggunaan kabel rol dengan beban berlebihan, serta penggunaan alat-alat listrik yang tidak benar, menyebabkan insiden meningkat. Kesimpulan: Kecelakaan akibat listrik mudah terjadi pada siapa saja. Kebanyakan bagi mereka yang bekerja ditempat yang rentan dengan arus listrik. Kemudian pada pemakaian listrik illegal juga dapat meningkatkan resiko terjadinya listrik.Pada anak-anak yang kurang pengawasan dari orang tuanya pun dapat terjadi. Meningkatnya angka kejadian ini mendapat perhatian dari berbagai pihak untuk menyadari pemakaian listrik yang tidak aman dan memperhatikan keselamatan diri sendiri. Kata kunci: Profil, luka bakar listrik, penanganan.
PENGARUH TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK TERHADAP JUMLAH KUMAN PADA LUKA BAKAR DERAJAT DUA DALAM DARI HEWAN COBA KELINCI Setiadi, Taat; Hatibie, Mendy; Ngantung, Jan T.; Wewengkang, Luisa A. J.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 2 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.2.2016.12672

Abstract

Abstract: Management of wound has improved together with development of medical sciences, especially biomolecular science and traumatology. Wounds, especially burn wound is prone to edema and infection, associated with a lot of free radicals. Due to tissue edema, hypoxia and hypoperfusion occur. Exposure of high pressure oxygen increase gamma interferron (IFN-?) which further induces nitric oxide synthase (i-NOS) and VEGF. Besides that, IFN-? increases the number of T helper 1 cells (TH-1) which influence B cells to produce IgG. Due to the increased IgG, the phagocytosis effect of leucocytes increase, therefore, it is assumed that hyperbaric oxygen therapy (HBO2) can reduce the degree of infected wound. This study aimed to analyze the effect of HBO2 on the numbers of bacteria in deep burn wound (2nd degree) in rabbits. This was a pure experimental study with a post test group design. Samples were 34 rabbits with deep burn wound (2nd degree) on their backs sized 2x1 cm. On day-5, bacteria cultures were obtained from all the wounds, and then the rabbits were divided randomly into 2 groups: treated with HBO2 and without; each group consisted of 17 rabbits. On day-10, the second bacteria cultures were done. The numbers of bacteria of the two groups were compared before and after HBO2. The results showed that distribution of bacteria in the two groups were as follows: Citrobacter freundii (34%), Citrobacter difersus (32%), Proteus vulgaris (13%), Citrobacter mirabilis (10.5%), and Staphylococcus aureus (10.5%). The Mann-Whitney U test showed a significant difference in the number of bacteria between the 2 groups before and after treatment (P < 0.001). The treated group showed a decrease of bacteria number. Conclusion: Hyperbaric oxygen therapy could reduce the number of bacteria in burn wounds.Keywords: burn wound, hyoperbaric oxyhen therapy, bacteriaAbstrak: Paradigma penatalaksanaan luka berubah seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran, khususnya bidang ilmu biomolekuler dan traumatologi. Dalam bidang luka, terutama luka bakar, bagian tubuh mengalami edema dan infeksi. Pada bagian ini ditemukan radikal bebas dalam jumlah besar. Akibat edema jaringan terjadi hipoksia karena hipoperfusi. Paparan oksigen tekanan tinggi menyebabkan peningkatan interferon gamma (IFN-?) yang menginduksi nitric oxide synthase (i-NOS) dan VEGF. IFN-? meningkatkan sel T helper 1 (TH-1) yang memengaruhi sel B untuk menginduksi Ig-G. Dengan meningkatnya Ig-G, efek fagositosis dari leukosit juga akan meningkat, sehingga dapat diasumsikan bahwa hiperbarik mengurangi derajat infeksi pada luka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi oksigen hiperbarik (TOH) terhadap jumlah kuman pada luka bakar derajat dua dalam pada hewan coba kelinci. Jenis penelitian ini eksperimental murni dengan desain post test kelompok. Penelitian dilakukan pada 34 kelinci yang diberikan luka bakar derajat dua dalam di daerah punggung dengan ukuran 2x1 cm. Pemeriksaan kultur kuman pada luka bakar dilakukan dua kali. Pada hari ke-5 diambil kultur dengan cara swab pada semua luka bakar di bagian punggung 34 kelinci, setelah itu kelinci dibagi secara acak menjadi dua kelompok yaitu yang menerima perlakuan TOH total 17 kelinci dan kelompok kontrol yang tidak menjalani TOH sebanyak 17 kelinci. Pada hari ke-10 setelah menyelesaikan TOH dilakukan kultur kuman pada luka bakar dengan cara swab pada kedua kelompok. Jumlah bakteri dibandingkan pada kedua kelompok sebelum dan setelah pengobatan. Hasil penelitian memperlihatkan berdasarkan distribusi jenis kuman pada dua kelompok dalam penelitian ini ditemukan Citrobacter freundii (34%), Citrobacter difersus (32%), Proteus vulgaris (13%), Citrobacter mirabilis (10,5%), dan Staphylococcus aureus (10,5%). Uji Mann-Whitney U menunjukkan perbedaan bermakna jumlah kuman antara kedua kelompok sebelum dan sesudah diberikan TOH dengan nilai P <0,001 di mana kelompok TOH menunjukkan penurunan jumlah kuman. Simpulan: TOH dapat mengurangi jumlah kuman pada luka bakar kulit.Kata kunci: luka bakar, TOH, kuman