Zairin Noor Helmi
Lambung Mangkurat University

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

GAMBARAN KONTRAKSI DISTRAKSI PADA LENGKUNG GIGI DAN LENGKUNG BASAL SECARA METODE HOWES Chairunnisa, Chairunnisa; Wibowo, Diana; Helmi, Zairin Noor
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACK Background: Teeth crowding is commonly caused by difference between tooth size and jaw size. One of the methods to analyze it is by using Howes method to assess whether apical base is fit to hold the teeth or not and also as determinant of treatment planning, whether patient is to be treated by extraction or expa nsion. Purpose : The purpose of this study is to describe dental and basal arch contraction distraction using Howes method, mean dental arch length and mean basal arch width of orthodontic patients at RSGM Gusti Hasan Aman. Method : The method was descriptive study with cross sectional approach. Samples were chosen using total sampling. Samples were 48 maxillary of orthodontic patients at RSGM Gusti Hasan Aman during September 2013-Juni 2014 fitted to inclusion and exclusion criteria previously set; consisted of 16 maxillary impressions of male subjects and 32 maxillary impressions of female subjects. Result : Result of this study presented mean maxillary Total Tooth Material (TTM) as 92.39 mm. Maxillary contraction distraction cases were 0 distraction case, 44 questionable cases, and 4 contraction cases. Conclusion : Based on the research has been conducted could be concluded that many patient were questionable cases. ABSTRAK Latar Belakang : Gigi berdesakan biasanya disebabkan perbedaan ukuran gigi dan ukuran rahang. Salah satu cara menganalisisnya menggunakan metode Howes yang bertujuan mengetahui cukup atau tidak basis apikal memuat gigi serta sebagai penentu rencana perawatan, pasien membutuhkan perawatan ekstraksi atau ekspansi. Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan kontraksi distraksi lengkung gigi dan lebar lengkung basal secara metode Howes, rerata panjang lengkung gigi dan rerata lebar lengkung basal pasien klinik ortodonti di RSGM Gusti Hasan Aman. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Metode: Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara total sampling. Sampel penelitian ini 48 hasil cetakan maksila pasien klinik ortodonti RSGM Gusti Hasan Aman Periode September 2013-Juni 2014 sesuai kriteria inklusi dan ekslusi, diperoleh 16 hasil cetakan maksila laki-laki serta 32 hasil cetakan maksila perempuan. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan rerata Total Tooth Material (TTM) maksila 92.39 mm. Kasus kontraksi distraksi maksila yaitu 0 kasus distraksi, 44 kasus meragukan dan 4 kasus kontraksi. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa banyak pasien yang mengalami kasus meragukan.
PENINGKATAN LEBAR LENGKUNG GIGI RAHANG ATAS MELALUI PERAWATAN ORTODONTI MENGGUNAKAN SEKRUP EKSPANSI Studi RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin Sakinah, Nor; Wibowo, Diana; Helmi, Zairin Noor
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: A screw expansion can be used to expand the arch of fangs toward the transverse and sagital suture, the anterior and posterior dependent type and the deployment of a screw. One advantage the use of screw is used to drive the teeth but the teeth are also used as the retention of equipment. Purpose: This research aimsed to identify the improvement of maxillary dental arch width through orthodontic treatment using expansion screw in RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin. Methods: This type of research was experimental with pre and post test group design. The subject of this research consist one group who conducted orthodontic treatment using a screw expansion of a rounded tooth on the upper jaw. The sample was a study model of teeth derived from the clinic patients orthodontic as much as 9 people. Result: The result showed that on sample there was an increase on the width of maxillary dental arch with the average of enhancement after interpremolar activation 5x activation 0,92 mm, 10x activation 1,86 mm and intermolar 5x activation 0,99 mm, 10x activation 1,96 mm. Conclusion: Based on this research can be concluded that there was improvement of maxillary dental arch width through orthodontic treatment using expansion screw. ABSTRAK Latar Belakang: Sekrup ekspansi dapat digunakan untuk mengekspansi lengkung geligi ke arah transversal maupun sagital, anterior maupun posterior tergantung jenis dan penempatan sekrup. Salah satu keuntungan pemakaian sekrup adalah dapat digunakan untuk menggerakkan gigi tetapi gigi tersebut juga digunakan sebagai retensi peranti. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan lebar lengkung gigi rahang atas melalui perawatan ortodonti menggunakan sekrup ekspansi di RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin. Metode: Jenis penelitian ini adalah pre eksperimental dengan pre and post test group design. Subjek penelitian ini terdiri dari satu kelompok yang sedang melakukan perawatan ortodonti menggunakan sekrup ekspansi pada lengkung gigi rahang atas. Sampel penelitian ini adalah model studi gigi yang berasal dari pasien bagian klinik ortodonti berjumlah 9 orang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sampel terdapat peningkatan lebar lengkung gigi rahang atas dengan rata-rata peningkatan setelah aktivasi interpremolar 5x aktivasi 0,92 mm, 10x aktivasi 1,86 mm dan intermolar 5x aktivasi 0,99 mm, 10x aktivasi 1,96 mm. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat peningkatan lebar lengkung gigi rahang atas melalui perawatan ortodonti menggunakan sekrup ekspansi.
GAMBARAN KONTRAKSI DISTRAKSI PADA LENGKUNG GIGI DAN LENGKUNG BASAL SECARA METODE HOWES Chairunnisa, Chairunnisa; Wibowo, Diana; Helmi, Zairin Noor
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACK Background: Teeth crowding is commonly caused by difference between tooth size and jaw size. One of the methods to analyze it is by using Howes method to assess whether apical base is fit to hold the teeth or not and also as determinant of treatment planning, whether patient is to be treated by extraction or expa nsion. Purpose : The purpose of this study is to describe dental and basal arch contraction distraction using Howes method, mean dental arch length and mean basal arch width of orthodontic patients at RSGM Gusti Hasan Aman. Method : The method was descriptive study with cross sectional approach. Samples were chosen using total sampling. Samples were 48 maxillary of orthodontic patients at RSGM Gusti Hasan Aman during September 2013-Juni 2014 fitted to inclusion and exclusion criteria previously set; consisted of 16 maxillary impressions of male subjects and 32 maxillary impressions of female subjects. Result : Result of this study presented mean maxillary Total Tooth Material (TTM) as 92.39 mm. Maxillary contraction distraction cases were 0 distraction case, 44 questionable cases, and 4 contraction cases. Conclusion : Based on the research has been conducted could be concluded that many patient were questionable cases. ABSTRAK Latar Belakang : Gigi berdesakan biasanya disebabkan perbedaan ukuran gigi dan ukuran rahang. Salah satu cara menganalisisnya menggunakan metode Howes yang bertujuan mengetahui cukup atau tidak basis apikal memuat gigi serta sebagai penentu rencana perawatan, pasien membutuhkan perawatan ekstraksi atau ekspansi. Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan kontraksi distraksi lengkung gigi dan lebar lengkung basal secara metode Howes, rerata panjang lengkung gigi dan rerata lebar lengkung basal pasien klinik ortodonti di RSGM Gusti Hasan Aman. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Metode: Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara total sampling. Sampel penelitian ini 48 hasil cetakan maksila pasien klinik ortodonti RSGM Gusti Hasan Aman Periode September 2013-Juni 2014 sesuai kriteria inklusi dan ekslusi, diperoleh 16 hasil cetakan maksila laki-laki serta 32 hasil cetakan maksila perempuan. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan rerata Total Tooth Material (TTM) maksila 92.39 mm. Kasus kontraksi distraksi maksila yaitu 0 kasus distraksi, 44 kasus meragukan dan 4 kasus kontraksi. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa banyak pasien yang mengalami kasus meragukan.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU TERHADAP KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT AKIBAT KERJA Sudarmo, Sudarmo; Helmi, Zairin Noor; Marlinae, Lenie
Jurnal Berkala Kesehatan Vol 1, No 2 (2016): JURNAL BERKALA KESEHATAN
Publisher : Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v1i2.3155

Abstract

Rumah Sakit merupakan tempat kerja serta tempat berkumpulnya orang-orang sehat (petugas dan pengunjung) dan orang- orang sakit (pasien) sehingga rumah sakit merupakan tempat kerja yang mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit akibat kerja maupun penyakit akibat kecelakaan kerja. Resiko kontak dengan agen penyakit menular, dengan darah dan cairan tubuh maupun tertusuk jarum, instrumen tajam yang dapat berperan sebagai tranmisi berbagai penyakit, seperti hepatitis B, HIV/AIDS, perawat merupakan petugas kesehatan terbanyak dengan komposisi hampir 60% dari seluruh petugas kesehatan di rumah sakit dan salah satu profesi yang sering terkena penyakit akibat kerja karena perawat tenaga kesehatan yang 24 jam berada di samping dan bersentuhan dengan pasien, terlebih perawat bedah yang bekerja di kamar operasi yang banyak melakukan tindakan dengan memakai instrumen tajam, suasana kerja dengan tekanan stres yang tinggi, kelelahan yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisa factor-faktor perilaku terhadap kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) pada perawat bedah di Instalasi Bedah Sentral RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini mengunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini, yaitu seluruh perawat bedah di IBS RSUD Ulin Banjarmasin, Sedangkan pengambilan sampel berdasarkan metode Simple Ramdom Sampling, menggunakan rumus cross sectional study dengan jumlah sampel 81 orang. Data dianalisa  menggunakan uji regresi logistik dengan  model backward stepwise conditional. Hasil uji analisa regresi logistik, yang paling berpengaruh terhadap variabel kepatuhan adalah variabel pengawasan dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,700  (70,0%) dan variabel ketersediaan APD dengan nilai kofisien regresi sebesar 0,678 (67,8%). Berdasarkan uji simultan adalah 84,1%, sangat kuat bahwa kepatuhan perawat bedah benar-benar nyata/signifikan dipengaruhi faktor perilaku yang menjadi variabel dalam penelitian ini yaitu : sikap, lama kerja, pengawasan, ketersediaan APD, teman sejawat, persepsi dan hanya 15,9% saja faktor lain di luar variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini yang bisa mempengaruhi kepatuhan perawat dalam menggunakan APD di IBS RSUD Ulin Banjarmasin.Kesimpulan penelitian ini bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pengawasan perawat dan ketersediaan APD terhadap kepatuhan penggunaan APD di IBS RSUD Ulin Banjarmasin. Oleh karena itu pengawasan dan ketersediaan APD di IBS RSUD Ulin  perlu dipertahankan  dan ditingkatkan lagi sehingga kepatuhan penggunaan APD ini dapat menjadi budaya dalam bekerja khususnya di kamar operasi, hal ini dapat mencegah penyakit akibat kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK).
ANALISIS PENGARUH PENGAWASAN, PENGETAHUAN DAN KETERSEDIAAN TERHADAP KEPATUHAN PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI Japeri, Japeri; Helmi, Zairin Noor; Marlinae, Lenie
Jurnal Berkala Kesehatan Vol 2, No 1 (2016): JURNAL BERKALA KESEHATAN
Publisher : Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v2i1.4845

Abstract

Standar oleh Badan Pengawasan Tenaga Nuklir untuk APD yang harus digunakan pada saat pemeriksaan harus mengandung bahan Pb di antaranya berupa apron, kaca mata, perisai gonad, perisai tiroid, dan sarung tangan. petugas radiografer wajib mematuhi aturan untuk memakai alat perlindungan diri (APD). Aspek yang mempengaruhi pemakaian alat pelindung diri di antaranya pengawasan dan peringatan dari tim K3 sangat berpengaruh terhadap kedisiplinan pemakaian APD. Pengetahuan seseorang mempengaruhi cara berpikirnya dalam menghadapi pekerjaannya, termasuk cara menghindari kecelakaan saat bekerja dan ada pengaruh ketersediaan mengenai jumlah APD yang disediakan terhadap kepatuhan pemakaian APD. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktorfaktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan pemakaian alat pelindung diri pada petugas radiologi rumah sakit di Banjarmasin. Jenis penelitian ini bersifat observasional analitik dengan metode cross sectional. Subjek penelitian adalah petugas radiologi yang bekerja di empat rumah sakit berbeda di Banjarmasin terdiri dari RSUD Ulin Banjarmasin sebanyak 17 petugas, RSUD Dr. H. Moch Anshari Saleh sebanyak 11 Petugas, RS Sari Mulia sebanyak 5 petugas dan RS Islam sebanyak 4 petugas. Data dianalisis menggunakan uji statistik Regresi Logistik Berganda. Uji Fisher exact test menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pengawasan dengan kepatuhan, nilai p = 0,013, tidak ada pengaruh antara pengetahuan dengan kepatuhan pemakaian alat pelindung diri pada petugas radiologi nilai p = 0,140. tidak terdapat pengaruh yang bermakna antara ketersediaan dengan kepatuhan pemakaian alat pelindung diri dalam bekerja di instalasi radiologi dengan nilai P value 0,160. Pada analisis multivariat menggunakan uji Regresi Logistik Ganda dengan metode Enter, menunjukkan bahwa variabel pengawasan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan (p= 0,019). Nilai Odd ratio menunjukkan angka 15,429 yang berarti petugas radiologi yang mendapat pengawasan rendah maka 15,43 kali akan tidak patuh memakai APD, dibandingkan petugas radiologi yang mendapatkan pengawasan tinggi. Data penelitian juga memperlihatkan 29 responden yang patuh terhadap APD, 22 orang (74,1%) bekerja dengan pengawasan tinggi. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan faktor yang paling berpengaruh adalah pengawasan dengan nilai Nilai Odd ratio (OR) menunjukkan angka 14,571 yang berarti petugas radiologi yang mendapat pengawasan rendah maka 14,57 kali akan tidak patuh memakai APD, dibandingkan petugas radiologi yang mendapatkan pengawasan tinggi.
THE CORRELATION BETWEEN SMOKING STATUS AND BMI WITH THE COMPLAINTS OF MUSCULOSKELETAL DISORDERS ON PALM FARMERS Oktaviannoor, Husda; Helmi, Zairin Noor; Setyaningrum, Ratna
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 4, No 2: June 2015
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v4i2.4724

Abstract

According a study by Research Centre and Health Ecology Development Ministry of Health in 2004, palm farmers are one of a group worker that suffers complaint musculoskeletal disorder. This research to determine the correlation between the smoking status and BMI with complaints of musculoskeletal disorders (MSDS) of palm farmers in PT. X. The method are analytic observational with the cross-sectional approach. Instruments such as questionnaires, mikrotoise, scales underfoot, check the NBM, and VAS. Research technique is use purposive sampling. Research sample of 40 respondents. Results showed 32.5% light smokers, 45% moderate smokers, and 15% of heavy smokers, 17.5% weight and 2.5% obese, and 60% had complaints of MSDs. Spearman test results, it is known there is a correlation between the smoking status with complaints of MSDs (p=0.037), there was no significant correlation between BMI with complaints of MSDs (p=0.272). It can be concluded that there is a correlation between the smoking status with MSDs complaints, but there is no correlation between the BMI with the MSDs complaints. This research is expected to be input for the company to conduct training exercises ergonomics and providing information about the importance of maintaining the health of tobacco consumption.
FLAVONOID LEVEL ANALYSIS OF BINJAI LEAF EXTRACT (Mangifera caesia) IN ETHANOL, METHANOL, AND N-HEXANE SOLVENTS (Research report) Adham, Didy; Taufiqurrahman, Irham; Helmi, Zairin Noor
Dentino Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Many wounds can manifest in various complaints such as pain, swelling and bruising. However, almost all of these wounds can be healed faster by utilizing herbal medicine. Binjai is one of herbal medicine originated from Mangifera genus and Anarcadiaceae family which roots and stems has been proven to contain secondary metabolites. Flavonoids are one of the metabolites which have the antioxidant, antibacterial and anti-inflammatory effect. This effect may contribute in the acceleration of wound healing process especially through flavanoid compound mechanism. Flavonoids themselves are found in the form of glycosides that are more soluble in polar solvents. Thus, they can be obtained by dissolving binjai leaves in methanol and ethanol solvents. Purpose: To determine differences of total flavonoid in binjai leaf extract using ethanol and methanol solvent. Methods: This type of research is a true experimental study with post-test only control group design. The samples was comprised of 27 repetitions consisting three groups, namely 70% ethanol treatment groups and 70% methanol  treatment groups. 70% n-hexane group was used as control. Results: There were significant differences between ethanol to methanol group at p = 0.000, ethanol with n-hexane group at p = 0.000 and between methanol with n-hexane group at p = 0.000. Conclusions: There were differences of total flavonoid in binjai leaf extract using ethanol and methanol solvent.
TOTAL FLAVONOID CONTENT ANALYSIS OF RAMANIA LEAVES’ EXTRACT USING ETHANOL, METHANOL AND N-HEXANE AS SOLVENTS (Research report) Hermalinda, Risa; Taufiqurrahman, Irham; Helmi, Zairin Noor
Dentino Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Wound healing process consists of three phases: inflammation, proliferation, maturation and remodelling. Secondary metabolites are chemical compounds that have potential to be explored and developed in search of raw materials for drugs to assist wound healing process; one of them is flavonoid. Flavonoid is classified as natural phenolic compound that has antioxidant properties coexisted with its antimicrobial and anti-inflammatory effect. Flavonoid is usually available in the form of glycosides and soluble in polar solvents, such as methanol and ethanol. The bark and leaves of Ramania, a native plant of Kalimantan, contains flavonoid compound with non-optimal utilization of its potential. Purpose: To determine the differences in total flavonoid content of Ramania leaves’ extract obtained using ethanol and methanol solvents. Methods: This study is a true experimental study using post-test only with control group design; Samples collection were comprised of 27 specimens, categorized into three groups: two treatment groups using 70% ethanol solvent, one group using 70% methanol solvents, and one control group using 70% n-hexane solvent. Results: There were significant differences between ethanol group and methanol group result (p<0.05); ethanol group and n-hexane group result (p<0.05); and methanol group and n-hexane group result (p<0.05). Conclusion: This study concluded that there were significant differences in the total flavonoid content of Ramania leaves’ extract using ethanol and methanol as its solvents.
PENINGKATAN LEBAR LENGKUNG GIGI RAHANG ATAS MELALUI PERAWATAN ORTODONTI MENGGUNAKAN SEKRUP EKSPANSI Studi RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin Sakinah, Nor; Wibowo, Diana; Helmi, Zairin Noor
Dentino Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: A screw expansion can be used to expand the arch of fangs toward the transverse and sagital suture, the anterior and posterior dependent type and the deployment of a screw. One advantage the use of screw is used to drive the teeth but the teeth are also used as the retention of equipment. Purpose: This research aimsed to identify the improvement of maxillary dental arch width through orthodontic treatment using expansion screw in RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin. Methods: This type of research was experimental with pre and post test group design. The subject of this research consist one group who conducted orthodontic treatment using a screw expansion of a rounded tooth on the upper jaw. The sample was a study model of teeth derived from the clinic patients orthodontic as much as 9 people. Result: The result showed that on sample there was an increase on the width of maxillary dental arch with the average of enhancement after interpremolar activation 5x activation 0,92 mm, 10x activation 1,86 mm and intermolar 5x activation 0,99 mm, 10x activation 1,96 mm. Conclusion: Based on this research can be concluded that there was improvement of maxillary dental arch width through orthodontic treatment using expansion screw. ABSTRAK Latar Belakang: Sekrup ekspansi dapat digunakan untuk mengekspansi lengkung geligi ke arah transversal maupun sagital, anterior maupun posterior tergantung jenis dan penempatan sekrup. Salah satu keuntungan pemakaian sekrup adalah dapat digunakan untuk menggerakkan gigi tetapi gigi tersebut juga digunakan sebagai retensi peranti. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan lebar lengkung gigi rahang atas melalui perawatan ortodonti menggunakan sekrup ekspansi di RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin. Metode: Jenis penelitian ini adalah pre eksperimental dengan pre and post test group design. Subjek penelitian ini terdiri dari satu kelompok yang sedang melakukan perawatan ortodonti menggunakan sekrup ekspansi pada lengkung gigi rahang atas. Sampel penelitian ini adalah model studi gigi yang berasal dari pasien bagian klinik ortodonti berjumlah 9 orang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sampel terdapat peningkatan lebar lengkung gigi rahang atas dengan rata-rata peningkatan setelah aktivasi interpremolar 5x aktivasi 0,92 mm, 10x aktivasi 1,86 mm dan intermolar 5x aktivasi 0,99 mm, 10x aktivasi 1,96 mm. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat peningkatan lebar lengkung gigi rahang atas melalui perawatan ortodonti menggunakan sekrup ekspansi.