Articles

Found 18 Documents
Search

Virtual View Image over Wireless Visual Sensor Network Putra Sastra, Nyoman; Wirawan, Wirawan; Hendrantoro, Gamantyo
TELKOMNIKA Telecommunication, Computing, Electronics and Control Vol 9, No 3: December 2011
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.295 KB)

Abstract

In general, visual sensors are applied to build virtual view images. When number of visual sensors increases then quantity and quality of the information improves. However, the view images generation is a challenging task in Wireless Visual Sensor Network environment due to energy restriction, computation complexity, and bandwidth limitation. Hence this paper presents a new method of virtual view images generation from selected cameras on Wireless Visual Sensor Network. The aim of the paper is to meet bandwidth and energy limitations without reducing information quality. The experiment results showed that this method could minimize number of transmitted imageries with sufficient information.
Combined Scalable Video Coding Method for Wireless Transmission Rantelobo, Kalvein; Wirawan, Wirawan; Hendrantoro, Gamantyo; Affandi, Achmad
TELKOMNIKA Telecommunication, Computing, Electronics and Control Vol 9, No 2: August 2011
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.295 KB)

Abstract

Mobile video streaming is one of multimedia services that has developed very rapidly. Recently, bandwidth utilization for wireless transmission is the main problem in the field of multimedia communications. In this research, we offer a combination of scalable methods as the most attractive solution to this problem. Scalable method for wireless communication should adapt to input video sequence. Standard ITU (International Telecommunication Union) - Joint Scalable Video Model (JSVM) is employed to produce combined scalable video coding (CSVC) method that match the required quality of video streaming services for wireless transmission. The investigation in this paper shows that combined scalable technique outperforms the non-scalable one, in using bit rate capacity at certain layer.
ESTIMASI KANAL DENGAN PENDEKATAN LINEAR PIECE WISE UNTUK MITIGASI ICI PADA SISTEM OFDM MOBILE Santoso, Adhe Budi; Suryani, Titiek; Hendrantoro, Gamantyo
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.833

Abstract

Sistem transmisi OFDM merupakan sistem transmisi yang menggunakan beberapa buah frekuensi yang saling orthogonal. Transmisi OFDM digunakan karena dapat mengoptimalkan pemakaian spektrum, memiliki efisensi pemakaian frekuensi yang lebih baik  dan tahan terhadap frequency selective fading. Namun untuk aplikasi pada kanal OFDM Mobile, perubahan kanal terhadap waktu akibat Doppler akan menimbulkan interferensi yaitu berupa intercarrier-interference (ICI) pada OFDM yang dapat mempengaruhi performa kinerja sistem. Untuk itu dibutuhkan estimasi kanal untuk keperluan mitigasi ICI. Pada simulasi, estimasi pada kanal OFDM Mobile menggunakan pendekatan linier piece wise untuk keperluan Mitigasi intercarrier-interference (ICI), pada sistem transmisi ini baik dengan bantuan cyclic prefix (satu-slope) dan menggunakan bantuan adjacent symbol (dua-slope). Hasil akhir yang ingin dicapai adalah perbandingan dari hasil perhitungan BER pada kanal yang diestimasi dengan interpolasi linier piece wise yang menggunakan pencarian slope dengan metode satu slope yang memanfaatkan informasi dari cyclic prefix dengan yang menggunakan metode dua slope yang memanfaatkan informasi hasil estimasi titik tengah dari dua simbol yang saling berdekatan. Dari hasil simulasi  berdasarkan variasi banyaknya jumlah iterasi antara dua algoritama pada estimasi linier piece wise, dapat disimpulkan bahwa algoritma (two-slope) mampu mengestimasi kanal lebih baik daripada dengan menggunakan informasi dari cyclic prefix (one-slope), hal ini bisa dilihat dari error yang dihasilkan lebih kecil yaitu 2.10-1 - 4.10-5 untuk iterasi sebanyak 10 kali dengan fd=0.02, ini jauh lebih baik daripada yang dengan menggunakan metode (one-slope) yang memiliki error 3.10-1 - 9.10-5 untuk iterasi yang sama dengan nilai fd sama, lebih buruk 5.10-5 daripada two-slope di SNR 40.
ANALISA SPEKTRAL REDAMAN HUJAN TROPIS MENGGUNAKAN DATA PENGUKURAN DI SURABAYA UNTUK EVALUASI SISTEM RADIO GELOMBANG MILIMETER Mauludiyanto, Achmad; Hendrantoro, Gamantyo
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2008
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini menyampaikan hasil simulasi dari spektral redaman hujan terkait dengan evaluasi sistemradio gelombang milimeter. Simulasi ini menggunakan data pengukuran hujan di Surabaya dengan disdrometer.Hasil spektral yang disimulasikan menunjukkan kecenderungan mulai f-3,396, f-3,614, f-3,723, dan f-3,709 berturut-turutuntuk link 1 Km, 2 Km, 3 Km, dan 4 Km untuk arah angin barat-timur. Sedangkan untuk arah angin selatanutarakecenderungannya f-1,277 baik untuk link 1 Km, 2 Km, 3 Km, dan 4 Km. Perubahan daya pada sistem radiogelombang milimeter terjadi sangat cepat pada link barat-timur, sehingga diperlukan suatu sistem daya adaptifdengan respon lebih tinggi, dengan semakin besar panjang link maka semakin besar pula kerapatan daya yangterjadi, artinya dibutuhkan daya kirim yang semakin besar untuk mengkompensasi redaman link pada saathujan. Metode spektral adalah salah satu metode pendekatan untuk pembangkitan redaman hujan. Metode inibelum mampu mendekati redaman hujan hasil pengukuran karena gradien yang didapatkan kurang bervariasiterhadap frekuensi spektral.Katakunci: redaman hujan, synthetic storm technique, spektral redaman hujan.
MODEL STATISTIK FADING KARENA HUJAN DI SURABAYA Aulia, Febrin; Hutajulu, Porman; Hendrantoro, Gamantyo; Mauludiyanto, Achmad
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2008
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada sistem komunikasi gelombang milimeter, peristiwa fading (pelemahan) sangat mempengaruhipenyampaian gelombang elektromagnetik karena dapat menyebabkan sinyal yang diterima terganggu. Untukmengurangi pengaruh ini, maka diperlukan perancangan kontrol daya dari stasiun pemancar yang dapatmengikuti variasi fading selama peristiwa hujan untuk mengimbangi redaman hujan. Penelitian ini mencarimodel distribusi fade dynamics dari pengukuran parameter hujan di Surabaya yang terdiri dari fade slope danfade duration. Model ini akan diterapkan untuk mengevaluasi Fade Mitigation Tehniques (FMT) yang sesuaiuntuk iklim di Indonesia, dengan melakukan pengukuran curah hujan di lingkungan kampus ITS. Sedangkandata kecepatan angin diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika Juanda Surabaya. Data curah hujan dankecepatan angin tersebut digunakan untuk menghitung besarnya redaman hujan. Dari nilai redaman tersebutmaka dapat dilakukan perhitungan untuk menentukan fade slope pada tiap even hujan dan fade duration denganmenentukan batas thresholdnya yaitu pada 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 dB yang berorientasi pada dua arah linkyaitu Barat-Timur dan Utara-Selatan. Selanjutnya dilakukan perhitungan statistik fade slope dan fade durationkondisional sehingga dapat diperoleh model statistik fading di Surabaya. Statistik fading sangat dipengaruhioleh variasi wilayah, tahun, arah angin dan arah link komunikasi serta panjang link komunikasi. Sehinggadalam merancang sistem komunikasi harus memperhatikan hal-hal tersebut. Perancangan kontrol daya harusmemperhitungkan arah dan kecepatan angin. Dalam perancangan kontrol daya jika panjang lintasan yangdiinginkan semakin panjang, maka equalizer juga harus dirancang untuk bisa mengikuti variasi sinyal yangsemakin cepat.Katakunci : Fading, fade slope, fade duration, fade mitigation techniques.
MODELING HIDDEN NODES COLLISIONS IN WIRELESS SENSOR NETWORKS: ANALYSIS APPROACH Rachman, A. Sjamsjiar; Wirawan, Wirawan; Hendrantoro, Gamantyo
JUTI: Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Vol 8, No 1, Januari 2010
Publisher : Teknik Informatika, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24068535.v8i1.a69

Abstract

This paper studied both types of collisions. In this paper, we show that advocated solutions for coping with hidden node collisions are unsuitable for sensor networks. We model both types of collisions and derive closed-form formula giving the probability of hidden and visible node collisions. To reduce these collisions, we propose two solutions. The first one based on tuning the carrier sense threshold saves a substantial amount of collisions by reducing the number of hidden nodes. The second one based on adjusting the contention window size is complementary to the first one. It reduces the probability of overlapping transmissions, which reduces both collisions due to hidden and visible nodes. We validate and evaluate the performance of these solutions through simulations.
PEMODELAN ARIMA DAN DETEKSI OUTLIER DATA CURAH HUJAN SEBAGAI EVALUASI SISTEM RADIO GELOMBANG MILIMETER Mauludiyanto, Achmad; Hendrantoro, Gamantyo; P, Mauridhi Hery; Suhartono, Suhartono
JUTI: Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Vol 7, No 3, Januari 2009
Publisher : Teknik Informatika, ITS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24068535.v7i3.a76

Abstract

The purpose of this paper is to provide the results of Arima modeling and outlier detection in the rainfall data in Surabaya. This paper explained about the steps in the formation of rainfall models, especially Box-Jenkins procedure for Arima modeling and outlier detection. Early stages of modeling stasioneritas Arima is the identification of data, both in mean and variance. Stasioneritas evaluation data in the variance can be done with Box-Cox transformation. Meanwhile, in the mean stasioneritas can be done with the plot data and forms of ACF. Identification of ACF and PACF of the stationary data is used to determine the order of allegations Arima model. The next stage is to estimate the parameters and diagnostic checks to see the suitability model. Process diagnostics check conducted to evaluate whether the residual model is eligible berdistribusi white noise and normal. Ljung-Box Test is a test that can be used to validate the white noise condition, while the Kolmogorov-Smirnov Test is an evaluation test for normal distribution. Residual normality test results showed that the residual model of Arima not white noise, and indicates the existence of outlier in the data. Thus, the next step taken is outlier detection to eliminate outlier effects and increase the accuracy of predictions of the model Arima. Arima modeling implementation and outlier detection is done by using MINITAB package and MATLAB. The research shows that the modeling Arima and outlier detection can reduce the prediction error as measured by the criteria Mean Square Error (MSE). Quantitatively, the decline in the value of MSE by incorporating outlier detection is 23.7%, with an average decline 6.5%.
PREDIKSI JANGKAUAN JARINGAN WIRELESS HF UNTUK SISTEM PERINGATAN DINI BENCANA DI INDONESIA Susetyo, Wismanu; Hendrantoro, Gamantyo; Affandi, Achmad
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 4 (2008): Network And Security
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi radio frekuensi tinggi (2–30 MHz) adalah relatif  murah melebihi aplikasi line of sight. Dan memiliki kemampuan sebagai pengganti komunikasi satelit dan troposferik. Menggunakan jejaring berarah sensor nirkabel untuk memantau dan mengidentifikasi perilaku laut, tanah, gunung dan dsb. yang berhubungan dengan aktifitas bencana gempa bumi pada daerah yang relatif sempit. Semua data kemudian dikumpulkan dan diolah pada sebuah pusat daerah regional bencana untuk selanjutnya menggunakan jejaring nirkabel radio HF membentuk system peringatan dini bencana nasional. Media penting untuk komunikasi radio HF adalah ionosfer yang memiliki karakteristik propagasi berbeda berdasarkan tempat dan waktu, tetapi jika dapat memperhitungkan waktu dan lokasi yang tepat komunikasi jarak jauh bisa dilakukan.Paper ini dititikberatkan pada prediksi jangkauan komunikasi radio HF antar titik, yang digunakan dari enam titik pusat divisi regional ke titik pusat nasional di Indonesia. Menggunakan alat analisis komunikasi radio berbasis statistik VOACAP dihasilkan bahwa komunikasi radio terbaik  dapat dilakukan pada frekuensi bencana 12,6 MHz hampir sepanjang waktu tiap hari. Padang, Pontianak, Palu, Ambon, Kupang dan Tembagapura dipilih sebagai titik pusat divisi regional dengan pusat kendali nasional di Surabaya, keseluruhan kota memiliki luas cakupan yang cukup untuk membangun sistem peringatan dini bencana di Indonesia.
PEMODELAN MARKOV UNTUK KANAL HF AVAILABILITY PADA LINK MALANG-SURABAYA Fathoni, Arif; Susetyo, Wismanu; Hendrantoro, Gamantyo
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 2 (2010): Instrumentational And Robotic
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tersedianya kanal HF merupakan faktor penting dalam desain dan komunikasi. Model-model ketersediaan kanal HF sebagai fungsi waktu, lokasi geografis, dan aktivitas matahari telah dikembangkan beberapa tahun terakhir. Makalah ini meneliti tentang karakteristik model untuk avaibility kanal HF pada proses markov. Kanal HF ini bekerja pada frekuensi 3-30 Mhz dan memiliki panjang gelombang 100meter-10meter. Telah dilakukan pengukuran pada kanal HF dari jarak Malang-Surabaya (73 km) menggunakan frekuensi 6.3 Mhz. Pengukuran telah dilakukan selama 3 bulan (Januari, Februari, Maret 2009) menunjukan kondisi kanal propagasi HF Malang-Surabaya. Model ditunjukan dalam gambar grafik membandingkan data pengukuran dengan data analisa dalam model markov. Hasil dari penelitian berguna sebagai parameter keadaan HF link Malang-Surabaya. Data HF dibagi menjadi 4 waktu : pukul 03.00-05.59 WIB; 09.00-11.59 WIB; 15.00-17.59 WIB; 21.00-23.59 WIB, dimana pembagian ini mewakili karakteristik dari kanal HF pada rotasi bumi. Telah diberikan nilai T (threshold) dalam pengukuran yang bernilai -100.577 dBm. Kanal available apabila daya yang diterima kurang atau sama dengan dari nilai threshold diatas level noise. dan akan bernilai nonavailable apabila lebih besar dari nilai threshold. Parameter model Markov diambil dua state (available dan non-available) dari daya yang diterima pada pengukuran berdasarkan membandingkan nilai threshold yang ada. Sehingga didapatkan probabilitas transisi state 1 (available) dan state 0 (non-availabe). Sehingga pada akhirnya dibandingkan pemodelan propagasi HF dan pemodelan markov. Untuk waktu pagi hari didapatkan pada pemodelan propagasi 00 p = 92.81%, 01 p = 7.19%, 10 p = 3% dan 11 p = 97% sedangkan pada memodelan markov 00 p = 92.59%, 01 p = 7.41%, 10 p = 3.06%, dan 11 p = 96.94%
SPATIAL CORRELATION OF RADIO WAVES FOR MULTI-ANTENNA APPLICATIONS IN INDOOR MULTIPATH ENVIRONMENTS Hendrantoro, Gamantyo; Handayani, Puji; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.989 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.36-42

Abstract

This paper presents the results of a concerted effort in characterizing the spatial correlation of radio waves detected by a multi-element antenna system in indoor environments. The number of arriving paths and their directions are first studied through a series of measurements. The results are then used in a simulation to obtain spatial correlation indoors. It is found that generally an antenna array positioned near the center of the room will experience more rapidly decreasing correlation with spacing, which is a desired trait. In addition, a linear array oriented perpendicular to the length of the room in general shows better characteristics in terms of faster slope of correlation compared to the one in parallel with the length of the room. The average correlation indoors is also found to be similar to the correlation function arising from the two-dimensional circularly distributed random scatterers proposed by Clarke. For practical implementation of antenna arrays in small terminals for indoor wireless applications, it is suggested that the inter-element spacing be made 0.3? in the least.