Antonius Hintono
Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

PURIFIKASI DAN PROFIL PROTEIN OVOTRANSFERRIN DARI EGGSHELL MEMBRANE TELUR AYAM RAS DAN BURAS Siregar, Risa Fazriyati; Al?Baarri, Ahmad Ni?matullah; Hintono, Antonius; Pramono, Yoyok Budi; Abduh, Setya Budi Muhammad
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 27 No. 1 (2016): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.356 KB) | DOI: 10.6066/jtip.2016.27.1.87

Abstract

Eggs consumption in Indonesia increases every year resulting in egg shell waste. In addition, the functional components including ovotransferrin existing in this waste has not been yet studied well. This research has been done to explore ovotransferrin in egg shell membrane from local Indonesia and leghorn hens. The ion exchange chromatography using SP-Sepharose Fast Flow was used to purify the ovotransferrin from egg shell membrane. The fractions from salt elution were analyzed for protein concentration and protein profile using sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis (SDS - PAGE). The result showed that the best concentration of salt elution to obtain ovotransferrin was 0.1 mM NaCl since the single band was detected among other fractions. The ovotransferrin concentration (%) per single egg was also calculated as much as 0.75±0.017 and 0.16±0.005 for leghorn dan local Indonesia hen, respectively. This result may provide the beneficial information to purify ovotransferrin from egg shell membrane which conceivably as a food preservative agent.
PENGARUH BERBAGAI METODE PENGASINAN TERHADAP KADAR NACL, KEKENYALAN DAN TINGKAT KESUKAAN KONSUMEN PADA TELUR PUYUH ASIN Lukito, Galuh Angga; Suwarastuti, Agustini; Hintono, Antonius
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Watchfulness to detect effect of salting method on NaCl, tenderness, and consumer?s preference towards quill egg with various marinating method has been done at Laboratory Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. That used random plan (RAL) to effort. Treatment that applied T1 = daubing with salt batter and ash scrubs with comparison 2:1(b/b), T2 = daubing with salt batter and red brick powder with comparison 2:1(b/b), T3 = daubing with salt batter, red brick powder and ash scrubs with comparison 3:1:1(b/b), T4 = soaking into satisfied salt solution with comparison 30% (b/v). Variable that watched degree NaCl white and egg yolk, tenderness, and consumer?s preference. Data is analyzed by using Sidik Ragam and continued with Uji Beda Nyata Terkecil when found difference. Watchfulness result shows that marinating method haves degree NaCl protein, but not have an in with degree NaCl egg yolk, also favorite towards egg. Conclusion quill egg that salted by using satisfied salt solution has degree NaCl higher protein than that is salt with other method.Keywords: quill egg; degree NaCl; tenderness and consumer?s preferenceABSTRAKPenelitian untuk mengetahui kadar NaCl, tingkat kekenyalan, serta kesukaan konsumen terhadap telur puyuh asin yang dibuat dengan berbagai metode pengasinan telah dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diterapkan adalah T1 = pelumuran dengan adonan garam dan abu gosok dengan perbandingan 2:1(b/b), T2 = pelumuran dengan adonan garam dan serbuk bata merah dengan perbandingan 2:1(b/b), T3 = pelumuran dengan adonan garam, serbuk bata merah dan abu gosok dengan perbandingan 3:1:1(b/b), T4 = perendaman ke dalam larutan garam jenuh dengan perbandingan 30% (b/v). Variabel yang diamati adalah kadar NaCl putih dan kuning telur, kekenyalan dan tingkat kesukaan. Data dianalisis dengan menggunakan Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil bila terdapat perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengasinan berpengaruh pada kadar NaCl putih telur, tapi tidak berpengaruh pada kadar NaCl kuning telur, kekenyalan putih telur maupun kesukaan terhadap telur. Kesimpulan penelitian adalah telur puyuh yang diasinkan dengan menggunakan larutan garam jenuh mempunyai kadar NaCl putih telur lebih tinggi daripada yang diasinkan dengan metode yang lain.Kata kunci: telur puyuh, kadar NaCl, kekenyalan dan kesukaan
PERTUMBUHAN MIKROBA PADA TELUR PASCA PASTEURISASI Rizal, Barlian; Hintono, Antonius; Nurwantoro, Nurwantoro
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Egg is a nutritius food, rich in protein, fat and minerals, there fore eggs are made susceptible for microbial growth. Microbes that could grow in egg were not only the good microbes for human body but also could be grown by pathogenic microbes or microbes that injurious for health. The growth of pathogenic microbes could be decreased by pasterurization. This purpose of this research was to determine the influence of long storage and pasteurization method at fresh egg to the growth of microbes during storage for 3 weeks after pasteurization. The benefits were expected to know the method of pasteurization, proper long storage, provide information about the growth of microbes, and pH of the pasteurization albumen the storage for 3 weeks. The experimental design used was factorial complately randomized design 3x4 with 3 replications, pasteurization method (A) factor I and factor II with storage time (B). The result of this research proved that the method of pasteurization did not affect the moisture content albumen, pH albumen and yolk, but it was influential to the total microbes. Long storage affected on moisture content of albumen, yolk pH and albumen pH, total microbes but it did not affect moisture content of egg yolks, there is no interaction between pasteurization method with storage time. Pasteurization that used the oven at a temperature 700C for 60 minutes, much less its microbes total compared to pasteurization using waterbath at a temperature 630C for 3 minutes. The longer it was stored, the total of microbes increased.Keywords: eggs, pasteurized, storage, microbesABSTRAK Telur merupakan salah satu hasil peternakan yang memiliki gizi tinggi dan digemari masyarakat karena harganya yang tejangkau. Kandungan gizi yang tinggi pada telur rentan ditumbuhi mikroba karena bisa menjadi media pertumbuhan yang baik bagi mikroba. Mikroba dapat tumbuh pada telur tidak hanya mikroba yang baik bagi tubuh manusia tetapi juga bisa ditumbuhi mikroba pathogen yang berbahaya bagi tubuh manusia. Pertumbuhan mikroba patogen dapat dikurangi dengan pasteurisasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh interaksi lama penyimpanan dan metode pasteurisasi pada telur segar terhadap pertumbuhan mikroba selama penyimpanan 3 minggu setelah pasteurisasi. Manfaat yang diharapkan yaitu untuk mengetahui metode pasteurisasi, lama penyimpanan yang tepat, memberikan informasi tentang pertumbuhan mikroba, dan pH dari telur ayam ras pasteurisasi dengan masa simpan selama 3 minggu. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial 3x4 dengan 3 ulangan dengan faktor I metode pasteurisasi (A) dan faktor II lama penyimpanan (B). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pasteurisasi tidak berpengaruh terhadap kadar air putih dan kuning telur, pH putih dan kuning telur tetapi berpengaruh terhadap total mikroba. Lama penyimpanan berpengaruh terhadap kadar air putih telur, pH putih dan kuning telur, total mikroba tetapi tidak berpengaruh terhadap kadar air kuning telur, tidak ada interaksi antara metode pasteurisasi dengan lama penyimpanan. Pasteurisasi dengan menggunakan oven pada suhu 700C selama 60 menit total mikrobanya lebih sedikit dibanding pasteurisasi dengan menggunakan waterbath pada suhu 630C selama 3 menit. Semakin lama disimpan total mikroba semakin banyak.Kata kunci: telur, pasteurisasi, penyimpanan, mikroba
PENGARUH MARINASI EKSTRAK KULIT NENAS (ANANAS COMOCUS L. MERR) PADA DAGING ITIK TEGAL BETINA AFKIR TERHADAP KUALITAS KEEMPUKAN DAN ORGANOLEPTIK Zulfahmi, Muhammad; Pramono, Yoyok Budi; Hintono, Antonius
Jurnal Pangan dan Gizi Vol 4, No 2 (2013): Kajian Pangan dan Gizi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.902 KB) | DOI: 10.26714/jpg.4.2.2013.%p

Abstract

This research aims to study the effect of pineapple peel extract marinate in Tegal?s duck meat second grade forward of tenderness and organoleptic properties. Design research used a completely randomized consisting of 4 treatments and 5 replications. Treatment is meat marinated in pineapple peel extract for 60 min with various concentrations are: 0% (distilled water), 5%, 10%, and 15%. The results showed marinated pineapple peel extract significantly affect for tenderness and organoleptic properties include color and flavor indicated on the p value <0.05, while the organoleptic properties of the texture are not significant, although the results showed the meat tends to be soft.
PERUBAHAN SIFAT FUNGSIONAL TELUR AYAM RAS PASCA PASTEURISASI Siregar, Risa Fazriyati; Hintono, Antonius; Mulyani, Sri
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telur pasteurisasi merupakan salah satu cara untuk mebunuh mikroba khususnya Salmonella yang terdapat pada cangkang telur tanpa mengurangi sifat fungsionalnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi lama penyimpanan dan metode pasteurisasi pada telur segar terhadap sifat fungsional telur. Telur pasteurisasi diamati sifat fungsionalnya mulai minggu pertama hingga minggu keempat. Kriteria yang diamati meliputi: stabilitas emulsi kuning telur, daya buih putih telur dan stabilitas buih putih telur. Pengamatan diulang sebanyak 3 kali, kemudian dianalisis dengan uji Duncan Multiple Range Test. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa stabilitas emulsi kuning telur berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap lama penyimpanan tetapi tidak ada interaksi antara lama penyimpanan dan metode pasteurisasi. Daya buih putih telur menunjukkan ada pengaruh interaksi antara lama penyimpanan dengan metode pasteurisasi. Daya buih putih telur tertinggi diperoleh pada metode pasteurisasi kering pada lama penyimpanan minggu ke-3 yaitu dengan rata-rata 373,33 %. Stabilitas buih putih telur berperngaruh nyata (P<0,05) terhadap lama penyimpanan tetapi tidak ada interaksi antara lama penyimpanan dan metode pasteurisasi. Dari penelitian ini daat disimpulkan bahwa sifat fungsional telur pasteurisasi tidak berbeda dengan sifat fungsional telur tanpa pasteurisasi sehingga layak untuk digunakan atau diolah menjadi pangan.ABSTRACTPasteurization egg is one way to kill the microbes, especially Salmonella which found in egg shell without decreasing the functional charateristic. The purpose of this research are to knowing the effect of strorage time interaction and pasteurization method in fresh egg functional characteristic of fresh egg. Pasteurization egg have been checked starts from the fist week until the fourth week. There are many characteristic have been checked, such as the stability of yolk emulsion egg, egg foam caacity and albumin foam stability. Observation have replicate in 3 time and the result were analyzed with duncan Multiple Range Test. The result of observation showed that the stability of yolk emulsion have a real (P<0,05) to stroge time but there is not in interaction between stroge time and pasteurization method. The albumin foam capacity showed that there?s an interaction effect between storsge time with pasteurization method. The highest albumin foam capacity were founded in dry pasteruzation method in the 3rd week, with 373,33% in rate. The stabiliti of albumin foam have the real effect (P<0,05) at storaget time, but there is no interaction this research. We can conclude that the funcitional characteristic of pasteurization egg is not different with the fungtional characteristic of egg without pasteurizatoin so secyre to consumen 
PERUBAHAN MUTU HEDONIK TELUR ASIN SANGRAI SELAMA PENYIMPANAN Sukma, Arie Widya; Hintono, Antonius; Setiani, Bhakti Etza
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Egg is one of the food product derived from avian that is easily damaged and nonperishable. Therefore, one of the ways to prevent damage is by processing it into another product that is more durable. Marinating the egg is one way of preservation. The egg preservation process conducted by using brick powder mixed with salt and water. This stage is considered as processing effort because it creates new product named salted eggs. Storage time of salted eggs that have been boiled which only 1-2 weeks are still not enough, so another process would require in order to extend the storage time of salted eggs and maintain the nutritional quality. Salted eggs which processed by applying roast process technology is improving the quality of livestock products that have high economic value. The product is mainly used as a food source for humans. Meat, milk, and eggs are the major commodities of the farm. High nutritive value and flavor favored by most people is the main attraction of these products. Nevertheless, these products have a weakness that is easily damaged and nonperishable. Water is a good medium for microbial growth therefore roasting process conducted to reduce the water content of the egg. It makes salted egg more durable. Generally, roasting process can also reduce the fishy smell on salted eggs. The results of the analysis shows that the roasting process have a significant impact on salted eggs (P <0.05) against its white and yellow color but does not significantly affect its chewy and salty taste. The best result can be seen in the stage with 5 minutes roasting time and 2 weeks for storage time. ABSTRAK Telur merupakan salah satu produk pangan yang berasal dari unggas yang mudah rusak dan busuk. Oleh karena itu untuk mencegah kerusakan pada produk hasil ternak tersebut adalah dengan cara mengolahnya menjadi produk lain yang lebih awet. Pengasinan telur merupakan salah satu cara pengawetan. Pengawetan telur dilakukan salah satunya dengan cara pengasinan menggunakan media bubuk batu bata dicampur garam dan air. Perlakuan tersebut digolongkan sebagai upaya pengolahan karena menghasilkan suatu produk baru lagi yaitu telur asin. Masa simpan telur asin yang sudah direbus, kurang lebih hanya 1-2 minggu dirasa belum cukup lama. Jadi diperlukan perlakuan lain terhadap telur asin ini sehingga daya simpannya dapat diperpanjang dan kualitas gizi dapat dipertahankan. Telur asin yang diolah dengan menerapkan teknologi proses penyangraian merupakan perbaikan mutu dari Produk-produk hasil peternakan merupakan produk yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Produk tersebut sebagian besar digunakan sebagai sumber makanan bagi manusia. Daging, susu, dan telur adalah komoditas utama dari peternakan. Nilai gizi yang tinggi dan rasa yang disukai oleh sebagian besar masyarakat merupakan daya tarik utama dari produk-produk tersebut. Walaupun demikian produk-produk tersebut memiliki kelemahan yaitu mudah rusak atau busuk. Air adalah media yang baik untuk pertumbuhan mikroba oleh karena itu proses penyangraian dilakukan untuk mengurangi kadar air di dalam telur. Hal ini yang membuat telur asin menjadi lebih tahan lama. Penyangraian juga dapat mengurangi bau amis pada telur asin pada umumnya. Hasil analisis ragam menunjukkan, bahwa penyangraian pada telur asin berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna putih, warna kuning dan kesukaan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kemasiran, kekenyalan, keasinan. Hasil terbaik terdapat pada perlakuan dengan lama penyangraian 5 menit dan penyimpanan selama 2 minggu.
PENGARUH LAMA PENYANGRAIAN TELUR ASIN SETELAH PEREBUSAN TERHADAP KADAR NACL, TINGKAT KEASINAN DAN TINGKAT KEKENYALAN Budiman, Arif; Hintono, Antonius; Kusrahayu, Kusrahayu
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Egg is one of the food products derived from poultry which is easily damaged and rotten. The content of protein, fatty acids, vitamins and minerals are high on the egg which cause the egg to be easily damaged by a good medium for the growth of microorganisms. Salting was an effort to preserve the eggs. Salted egg ripening by the way of boiling allegedly could increase moisture in boiled salted egg. An effort of proccessing and preserving to extend storage of egg was to do the proccess of ?penyangraian? salted egg after boiling. ?Penyangraian? was the improvement of salted egg quality so that last longer in storage. The research of ?penyangraian? salted egg after boiling purposed to know the natrium chloride content, saltiness and elasticity. Materials used in this research were 75 duck eggs, ashes rub, table salt, and sea sand. Experiment design used was complately randomized design with four treatments and five replications. The parameters observed in this research were the natrium chloride content, saltiness and elasticity. The results of this research proved that long of ?penyangraian? after boiling was influential (P<0,05) to content of NaCl albumen, content of NaCl yolk, and elasticity content of salted albumen while in salted egg saltiness did not show any real influence. Long of ?penyangraian? for 5 minutes could increase natrium chloride content of albumen and yolk, each of them was 2,98% and 1,39%, the longer of ?penyangraian?, elasticity level of albumen increased.Key words : salted egg, ?penyangraian?, saltiness, elasticityABSTRAKTelur merupakan salah satu produk pangan yang berasal dari unggas yang mudah rusak dan busuk. Kandungan protein, asam lemak, vitamin dan mineral yang tinggi pada telur menyebabkan telur mudah rusak karena merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Pengasinan merupakan salah satu upaya untuk mengawetkan telur. Pemasakan telur asin dengan cara perebusan diduga dapat meningkatkan kadar air dalam telur asin rebus. Salah satu usaha pengolahan dan pengawetan untuk memperpanjang penyimpanan telur adalah dengan melakukan proses penyangraian telur asin setelah perebusan. Penyangraian merupakan usaha perbaikan mutu dari produk telur asin supaya lebih tahan lama dalam penyimpanan. Penelitian tentang proses penyangraian telur asin setelah perebusan ini bertujuan untuk mengetahui kadar NaCl, tingkat keasinan dan tingkat kekenyalan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 75 butir telur itik, abu gosok, garam krasak (garam dapur) dan pasir laut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kadar NaCl, tingkat keasinan dan tingkat kekenyalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyangraian setelah perebusan berpengaruh nyata (P<0,05) pada kadar NaCl putih telur, kadar NaCl kuning telur dan tingkat kekenyalan putih telur asin, sedangkan pada tingkat keasinan telur asin tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Lama penyangraian 5 menit dapat meningkatkan kadar NaCl putih dan kuning telur masing-masing sebesar 2,98% dan 1,39%, semakin lama penyangraian tingkat kekenyalan putih telur cenderung semakin meningkat.Kata kunci : Telur asin, penyangraian, keasinan, kekenyalan
KADAR VITAMIN A, ZAT BESI (FE) DAN TINGKAT KESUKAAN NUGGET AYAM YANG DISUBSTITUSI DENGAN HATI AYAM BROILER Krismaputri, Melinda Erdya; Hintono, Antonius; Pramono, Yoyok Budi
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThe research objective was to know the influence of livers-substituted of chicken nugget on the content of vitamin A, Fe and the preferences. The design experiments of the research was completely randomized design with 5 treatments and 4 replications. The treatments are T0 = 0%, T1 = 10%, T2 = 20%, T3 = 30% and T4 = 40% respectively. The content of vitamin A and Fe were tested by UV-VIS Spectrophotometry method. The data were analyzed by ANOVA, if the treatments significant was continued by Duncan Multiple Range Test. The preferences were tested by 25 panelist. The data were analyzed by non-parametric Kruskal Wallis H-Test using SPSS software version 16.0, if the treatments significant was continued by Wilcoxon test. The average of the content of vitamin A are T0 = 8,44%, T1 = 13,13%, T2 = 16,51%, T3 = 21,02% and T4 = 23,90%; the content of ferum (Fe) are T0 = 12,06%, T1 = 10,40%, T2 = 9,13%, T3 = 6,08% and T4 = 5,42%; and the preferences are T0 = 4,12%, T1 = 3,84%, T2 = 3,24%, T3 = 3,32% and T4 = 3,16%. The analysis showed significant (P < 0.05) to the content of vitamin A, Fe and the preferences.Keywords:chicken nuggets, chicken livers, vitamin A, zat besi, preferences.ABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi hati ayam pada pengolahan nugget ayam terhadap kadar vitamin A, zat besi (Fe) dan tingkat kesukaan. Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan secara berurutan adalah T0 = 0%, T1 = 10%, T2 = 20%, T3 = 30% dan T4 = 40%. Kadar vitamin A dan zat besi (Fe) diuji dengan metode Spektrofotometri UV-VIS. Data dianalisis dengan ANOVA, jika signifikan maka dilanjutkan dengan uji Wilayah Ganda Duncan. Tingkat kesukaan diuji oleh 25 panelis. Data dianalisis dengan non-parametrik Kruskal Wallis H-Test dengan menggunakan software SPSS versi 16.0, jika signifikan maka dilanjutkan dengan uji Wilcoxon. Rata-rata kadar vitamin A adalah T0 = 8,44%, T1 = 13,13%, T2 = 16,51%, T3 = 21,02% dan T4 = 23,90%; kadar zat besi (Fe ) adalah T0 = 12,06%, T1 = 10,40%, T2 = 9,13%, T3 = 6,08% dan T4 = 5,42%; dan tingkat kesukaan adalah T0 = 4,12%, T1 = 3,84%, T2 = 3,24%, T3 = 3,32% dan T4 = 3,16%. Hasil analisis menunjukkan signifikan (P < 0,05) terhadap kadar vitamin A, zat besi (Fe) dan tingkat kesukaan.Kata kunci: nugget ayam, hati ayam, vitamin A, zat besi, kesukaan.
KANDUNGAN ASAM LEMAK TAK JENUH TELUR AKIBAT PEMBERIAN KAYAMBANG (SALVINIA MOLESTA) PADA RANSUM AYAM PETELUR Nugraheni, Zaki Mala; Hintono, Antonius; Mangisah, Istna
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui efek pemberian kayambang (Salvinia molesta) dalam ransum ayam petelur terhadap persentase relatif asam lemak tak jenuh (asam lemak linolenat, linoleat dan oleat) telur. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian kayambang dalam ransum dengan taraf 0%, 6%, 12% dan 18%. Parameter yang diamati meliputi konsumsi lemak, persentase relatif asam lemak lemak linolenat, linoleat dan oleat telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kayambang hingga taraf 18% dalam ransum tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (P>0,05) baik pada konsumsi lemak maupun pada persentase relatif asam lemak linolenat pada telur.  Sebaliknya pada persentase relatif asam lemak linoleat dan oleat memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,01). Kesimpulannya, pemberian kayambang (Salvinia molesta) dalam ransum ayam Lohmann Brown betina menurunkan konsumsi lemak pada ayam dan persentase relatif asam lemak tak jenuh (asam lemak linolenat, linoleat dan oleat) pada telur.Kata kunci : Kayambang; konsumsi lemak; asam lemak tak jenuh.ABSTRACT The aim of this research to determinate the effect of addition of kayambang (Salvinia molesta) in laying hens feed on relative percentage of egg unsaturated fatty acids (linolenic fatty acid, linoleic and oleic). This research used a completely randomized design (CRD) consist of 4 treatments and 3 replications. The treatment were added kayambang in laying hens feed with level 0%, 6%, 12% and 18%. Observed parameters were fat consumption, relative percentage of linolenic fatty acid, linoleic and oleic. Result showed the effect of addition of kayambang until 18% in feed wasn?t significally different (P>0.05) on fat consumption and relative percentage of linolenic fatty acid. In contrary, the effect of addition of kayambang until 18% in feed showed significally different (P>0.01) on relative percentage of linoleic and oleic fatty acid. In conclusion, addition of kayambang (Salvinia molesta) to Lohmann Brown females laying hens diet decrease of fat consumption and also relative percentage of unsaturated fatty acids (linolenic fatty acid, linoleic and oleic).Keywords : kayambang; fat consumption; unsaturated fatty acids.
Analisis Kadar Air, Tebal, Berat, dan Tekstur Biskuit Cokelat Akibat Perbedaan Transfer Panas Wihenti, Agatha Intan; Setiani, Bhakti Etza; Hintono, Antonius
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.706 KB) | DOI: 10.17728/jatp.186

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai kadar air, tebal, berat, dan tekstur biskuit cokelat dengan nilai target kualitas yang ditentukan perusahaan, sehingga dapat mengetahui perlakuan yang terbaik. Materi yang digunakan yaitu tepung terigu, gula, minyak nabati (mengandung antiokasidan TBHQ), sirup tinggi fruktosa, garam, bubuk kakao, lesitin kedelai, bahan pengembang (amonium dan sodium bikarbonat), pati jagung, dan perisa identik alami vanila. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain perlakuan yang berbeda yaitu (T1) perpaduan transfer panas Direct Gas Fired dan Forced Convection. (T2) perpaduan transfer panas cyclotherm dan forced convection. (T3) transfer panas forced convection. Setiap perlakuan akan dibandingkan dengan target perusahaan. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan 9 kali. Pengolahan data menggunakan T Test jenis One Sample T dengan taraf signifikansi 5% (P≥0,05). Data organoleptik tekstur diolah dengan Uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan Uji Mann-Whitney (P&lt;0,05). Hasil penelitian menunjukkan pada parameter kadar air, tebal, dan berat biskuit cokelat, perpaduan transfer panas Cyclotherm dan Forced convection (T2) merupakan perlakuan yang sesuai dengan target kualitas perusahaan. Namun pada parameter tekstur (T1) dan (T3) lebih renyah daripada tekstur (T2). Ketepatan hasil dengan target ini dapat menjadi referensi penambahan atau penggantian oven biskuit dengan sistem perpaduan transfer panas Cyclotherm dan Forced Convection.The aim of this study was to compare the moisture, thickness, weight and texture of chocolate biscuits with the specified quality target of the company, so as to determine the best treatment. The material used in this research were wheat flour, sugar, palm oil (contains antioxidant TBHQ), fructose syrup, salt, cocoa powder, soy lecithin, leavening agents (ammonium and sodium bicarbonate), corn starch, and nature identical vanilla flavor. Experimental design was used three treatment and nine times. The treatments were given, (T1) heat transfers Direct Gas Fired and Forced Convection, (T2) heat transfers Cyclotherm and Forced Convection, (T3) heat transfer Forced Convection. The treatments will be compared with the quality target. Analysis of the data value of moisture, thickness, and weight used One Sample T Test given not significant (P≥0.05). While testing for organoleptic texture used of the Kruskal-Wallis and there are significant (P&lt;0.05) continued by Mann Whitney Test. The research showed that heat transfer Cyclotherm and Forced Convection (T2) was match with the company’s target in moisture, thickness, and weight. But the texture (T1) and (T3) are crisper than the texture (T2). The accuracy with this target can be a reference of the addition or replacement of the oven biscuits with heat transfers system Cyclotherm and Forced Convection.