Sahala Hutabarat
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 30 Documents
Articles

Found 24 Documents
Search
Journal : Journal of Management of Aquatic Resources

ANALISA SEBARAN SPASIAL IKAN CUCUT (ORDO RAJIFORMES) BERDASARKAN VARIASI KEDALAMAN DI PERAIRAN LAUT JAWA Fakhrurrizal, Richan; Hutabarat, Sahala; Hartoko, Agus
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan cucut atau hiu termasuk dalam kategori ikan-ikan bertulang rawan (elasmobranchii). Cucut merupakan ikan demersal sehingga perlu diketahui kedalaman suatu perairan untuk mengetahui habitatnya. Kedalaman tersebut dapat diketahui dengan menggunakan penginderaan jauh. Penginderaan jauh merupakan suatu cara pengamatan objek tanpa menyentuh objek secara langsung. Tujuan penelitian adalah mengetahui perkembangan hasil tangkapan cucut, sebaran kedalaman di laut Jawa, dan hubungan antara sebaran kedalaman dengan hasil tangkapan cucut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksploratif. Pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Pertimbangan pengambilan data didasarkan pada hasil wawancara dengan nelayan setempat dan ketersediaan data produksi hasil tangkapan cucut yang dilengkapi titik koordinat lokasi penangkapan dari PPN Kejawanan pada tahun 2011 ? 2012 adalah yang paling memadai, serta dilakukan pula analisa kedalaman yang berasal dari data batimetri laut Jawa. Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi antara kedalaman dengan hasil tangkapan cucut untuk mengetahui hubungan sebaran spasial ikan cucut dengan variasi kedalaman, didukung dengan studi pustaka tentang habitat ikan cucut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan Cucut Junjunan (Rhynchobatus djiddensis) tertinggi didapatkan pada musim barat tahun 2011 dengan total hasil tangkapan 7440 kg, sedangkan tangkapan Cucut Depo (Rhinobatos schegelii) tertinggi didapatkan pada musim timur tahun 2011 dengan total hasil tangkapan 7383 kg. Variasi kedalaman di laut Jawa yang menunjukkan daerah penangkapan cucut pada musim timur berkisar antara 11 ? 167 m, dengan kedalaman rata-rata 80 m pada daerah penangkapan cucut Depo. Kedalaman pada musim barat berkisar antara 14 ? 134 m, dengan kedalaman rata-rata 50 m pada daerah penangkapan cucut Junjunan. Secara umum nilai koefisien korelasi (r) setiap jenis cucut yang didapat pada musim timur maupun musim barat adalah ? 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa hubungannya rendah (tidak erat) yang berarti terdapat sedikit pengaruh kedalaman terhadap hasil tangkapan cucut di laut Jawa.
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA PERAIRAN YANG DITUMBUHI ECENG GONDOK SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN DI DANAU RAWA PENING, SEMARANG Tyas, Eritrina Ardining; Hutabarat, Sahala; Ain, Churun
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 2 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSecara ekologis, Danau Rawa Pening kondisinya telah banyak mengalami perubahan yang diindikasikan oleh tidak terkontrolnya pertumbuhan tanaman akuatik seperti eceng gondok yang umumnya berkaitan dengan proses eutrofikasi. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui kualitas perairan berdasarkan struktur komunitas plankton pada perairan yang ditumbuhi eceng gondok di Rawa Pening. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2016. Metode yang digunakan adalah observatif dan pengambilan teknik sampling secara purposif dan uji laboratorium. Lokasi pengambilan sampel yaitu stasiun 1 merupakan daerah yang terdapat eceng gondok cukup tinggi (kerapatan tinggi dengan persentase berkisar >70-100%). Stasiun 2 merupakan daerah yang terdapat eceng gondok relatif sedang (kerapatan sedang dengan persentase berkisar 40-70%). Stasiun 3 merupakan daerah yang terdapat eceng gondok relatif rendah (kerapatan rendah dengan persentase berkisar <40%) serta stasiun 4 merupakan daerah yang tidak terdapat eceng gondok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan Fitoplankton berkisar 620-15690 Ind/L. Jenis Fitoplankton yang ditemukan terdiri dari 4 kelas yaitu Chlorophyceae, Bacillariophyceae, Cyanophyceae , Xanthophyceae. Kelimpahan Zooplankton berkisar 620-1608 Ind/m3. Jenis Zooplankton yang ditemukan terdiri dari 5 kelas yaitu  Zoomastigopora, Pytomastigopora, Euglenaphyceae, Rotiferaceae Ciliata, Crustacea. Kualitas perairan di Danau Rawa Pening masih pada batas-batas yang layak untuk kehidupan plankton.Kata Kunci: Plankton, Eceng Gondok, Danau Rawa Pening.  ABSTRACT                Ecologically, Lake Rawa Pening has been extensively amended condition indicated by the uncontrolled growth of aquatic plants such as water hyacinth which is generally related to the process of eutrophication. The goal of the research is to find out the quality of the waters of the plankton community structure based on waters covered by water hyacinth in the Lake Rawa Pening. This research was carried out in Oktober and November 2016.  The method used is observatif field and taking of sampling in purposive and laboratory. The location of sampling is divided into four stations and each station is divided into two points. Station 1 is that there is water hyacinth is quite high (high density with a percentage ranging <70-100%). Station 2 is the area contained relatively water hyacinth are medium density (percentage of 40-70%). Station 3 is the station contained water hyacinth is relatively low (low density with a percentage ranging from 40%) as well as station 4 is there is no water hyacinth. The results showed that Phytoplankton abundance range 620-15690 Ind/L.  Types of Phytoplankton found consists of 4 classes namely Chlorophyceae, Cyanophyceae, Bacillariophyceae, Xanthophyceae. The abundance of Zooplankton range 620-1608 Ind/m3. Types of  Zooplankton found consists of 5 classes, namely Zoomastigopora, Pytomastigopora, Euglenaphyceae, Rotiferaceae Ciliata, Crustacea. The quality of the waters of Lake Rawa Pening is still within the limits that are reasonable for the life of the plankton. Saprobik index (SI) of 2 and the value of Tropical Saprobik Index (TSI) of 1,33 this indicated that these waters are in a phase of Oligosaprobik toward ?-mesosaprobik.. Keywords: Plankton, Eichhornia crassipes, Lake Rawa Pening. 
PENGARUH ARUS DAN SUBSTRAT TERHADAP DISTRIBUSI KERAPATAN RUMPUT LAUT DI PERAIRAN PULAU PANJANG SEBELAH BARAT DAN SELATAN Wulandari, Stephany Retna; Hutabarat, Sahala; Ruswahyuni, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Panjang adalah salah satu pantai utara Jawa yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Salah satu ekosistem yang ditemukan di wilayah pesisir adalah ekosistem rumput laut. Rumput laut memiliki keanekaragaman spesies  yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus dan substrat terhadap distribusi kerapatan rumput laut di perairan Pulau Panjang sebelah barat dan selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2014. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan data kerapatan rumput laut menggunakan metode line transect. Pengamatan dilakukan dengan menghitung kerapatan rumput laut pada 3 line di sebelah barat dan selatan Pulau Panjang. Panjang line transect yang digunakan adalah 100 meter, diletakkan tegak lurus garis pantai dan untuk memudahkan perhitungan kerapatan rumput kaut digunakan kuadran transect berukuran 1x1 m. Kemudian dilakukan pengukuran parameter oseanografi. Hasil penelitian dijumpai tujuh jenis rumput laut yaitu Padina crassa, Sargasum confusum, Turbinaria ornata, Sargassum crispitolium, Caulerpa racemosa, Caulerpa serrulata, dan Lenthesia difformis pada sebelah barat dan selatan Pulau Panjang. Nilai kecepatan arus Pulau Panjang di sebelah selatan adalah 0,10-0,12 m/detik dan arus Pulau Panjang di sebelah barat 0,09-0,01 m/detik. Substrat di Pulau Panjang sebelah barat adalah  karang hidup (26 m2), karang mati (83 m2), pasir (80 m2) dan pecahan karang (109 m2), sedangkan di Pulau Panjang sebelah selatan adalah karang hidup (31 m2), karang mati (93 m2), pasir (54 m2) dan pecahan karang (122 m2).  Kerapatan rumput laut tertinggi di Pulau Panjang sebelah barat dan selatan adalah jenis Padina crassa sebanyak  37,39% dan 31,26%. Panjang island is one of Java?s northern sea which located in Jepara, Central Java. One of ecosystem which found in coastal area is seaweed ecosystem. Seaweed has high species?s variety. This research is intended to acknowledge how current and subtrate affect the seaweed?s density distribution in Panjang Island?s west and south waters. This research was done in October 2014. This research uses descriptive research method. While Line Transect is used to intake the data of seaweed?s density. The observation is done by counting the seaweed?s density on three lines in Panjang Island?s south and west waters. Line Transect?s lenght which used is 100 meters, be placed perpendicular to coastal area and use 1x1 meter transect quadran to make the counting of seaweed?s density easier.  And then, the measuring of oceanography parameter is conducted. As the result, seven seaweed?s varietis are found, they are Padina crassa, Sargasum confusum, Turbinaria ornata, Sargassum crispitolium, Caulerpa racemosa, Caulerpa serrulata, and Lenthesia difformis in Panjang Island?s south and west waters. Speed value of Panjang Island?s current in south area is 0,10-0,12 m/second and Panjang Island?s west area is 0,09-0,01 m/second. The substrate in Panjang Island?s west area is alive coral (26 m2), dead coral (83 m2), sand (80 m2), and coral?s fraction (109 m2), while in Panjang island?s south area is alive coral (31 m2), dead coral (93 m2), sand (54 m2), and coral?s fraction (122 m2). The highest seaweed?s density in west and south?s area is Padina Crassa, that is 37,39% and 31,26%.
STUDI ANALISA PLANKTON UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PENCEMARAN DI MUARA SUNGAI BABON SEMARANG Cahyaningtyas, Ina; Hutabarat, Sahala; Soedarsono, Prijadi
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon merupakan salah satu DAS yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistm khususnya wilayah Semarang dan sekitarnya. Plankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat menjadi indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai. Plankton memegang peran penting dalam mempengaruhi produktivitas primer perairan sungai. Perairan sungai Babon secara nyata telah menerima limbah yang berasal dari kegiatan industri yang berada di sekitar sungai Babon dan limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga (domestik). Keadaan ini diduga menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan muara Sungai Babon. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana tingkat pencemaran di muara Sungai Babon. Pengamatan dilakukan berdasarkan analisis SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks) untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran yang terjadi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fitoplankton dan zooplankton yang berada di muara Sungai Babon berikut parameter fisika dan kimia. Kelimpahan fitoplankton  di muara Sungai Babon adalah 10.765 ? 13.777 ind/L dengan 19 - 24 genera. Kelimpahan zooplankton adalah 218-241 Ind/m3 dengan 9 genera. Berdasarkan kelimpahan plankton maka didapatkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar 0,07 - 0,34 dan nilai Tropik Saprobik Indeks berkisar (-0,73) ? (-0,98) kualitas perairan muara sungai Babon selama penelitian termasuk dalam tingkat ?-Mesosaprobik atau dalam kondisi tercemar sedang hingga berat.
EVALUASI KUALITAS AIR SEBELUM DAN SESUDAH MEMASUKI WADUK JATIGEDE, SUMEDANG Subarma, Urni Nurani; Purnomo, Pujiono Wahyu; Hutabarat, Sahala
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Cimanuk sebagai sungai utama bagi Waduk Jatigede perlu di monitor dan dievaluasi. Monitoring dan evaluasi tersebut merupakan faktor penting dalam pengelolaan kualitas air. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis fitoplankton, kandungan nitrat, fosfat, klorofil-a sebelum dan sesudah memasuki Waduk Jatigede. Lokasi pengamatan pertama terdiri dari 3 stasiun di Sungai Cimanuk sebelum memasuki waduk, lokasi pengamatan kedua terdiri dari 3 stasiun di dalam area rencana penggenangan. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode survey sedangkan metode dalam pengambilan sample yaitu metode purposive sampling. Fitoplankton yang ditemukan  sebanyak 23 genus. Genus yang mendominasi adalah Oscillatoria, Tabellaria, Thallasionema dan Nitzschia. Kandungan nitrat sebelum memasuki waduk yaitu 2,23 - 4,19 mg/L tergolong kategori sedang (mesotrofik) dan sesudah memasuki area rencana genangan waduk berkisar 1,46 - 2,78 mg/L tergolong kategori sedang (mesotrofik). Kandungan fosfat sebelum memasuki waduk yaitu 1,305 - 4,94 mg/L tergolong kategori tinggi (eutrofik), sesudah memasuki area rencana penggenangan waduk berkisar 0,665 - 1,535 mg/L tergolong kategori tinggi (eutrofik). Kandungan klorofil-a sebelum memasuki Waduk Jatigede adalah 0,845 - 3,127 µg/L tergolong kategori sedang (meso-oligotrofik), sesudah memasuki area rencana penggenangan waduk berkisar 0,462 - 1,151 µg/L tergolong kategori rendah (oligotrofik).Cimanuk River is a major river that flows into the area of Jatigede reservoir, that need to be monitored and evaluated. Monitoring and evaluation is an important factor in the management of water quality. The purpose of research is determine the composition of phytoplankton, the concentration of nitrate, phosphate, chlorophyll-a before and after entering the Jatigede Reservoir. The first location is in river stream before it enters the reservoir area which consists of 3 observation stations .The second is in after entering the reservoir inundation area plan  which consists of 3 location observation. The method used in the research is a survey method and the method of sampling is purposive sampling. Phytoplanktons are found as many as 23 genera. Genera which dominate are Oscillatoria, Tabellaria, Thallasionema and Nitzschia. Concentration of nitrate before entering the reservoir is 2,23 ? 4,19 µg/L were classified as mesotrofik  and after entering the reservoir inundation area plan ranged from 0,46 - 2,78 µg/L were classified as mesotrofik. Concentration of phosphate before entering the reservoir ranged from 1.305 ? 4,94 µg/L were classified as eutrofik, after entering the reservoir inundation plans area of Jatigede reservoir ranged from 0,665 ? 1,535 µg/ L were classified as eutrofik. Concentration of chlorophyll-a before entering Jatigede Reservoir ranged from 0,845 ? 3,125 µg/L were classified as meso-oligotrofik , after entering the reservoir inundation plans area of Jatigede reservoir ranged from 0,462 -1,528 µg/L were classified as oligotrofik.
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA PADANG LAMUN DI PANTAI PULAU PANJANG, JEPARA Sari, Amalia Nurtirta; Hutabarat, Sahala; Soedarsono, Prijadi
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan yang terjadi dalam perairan sebagai akibat dari adanya beban masukan yang ada akan menyebabkan perubahan pada komposisi, kelimpahan, dan distribusi dari komunitas plankton. Maka dari itu, keberadaan plankton dapat dijadikan sebagai indikator perairan karena sifat hidupnya yang relatif menetap, jangka hidup yang relatif panjang dan mempunyai toleransi spesifik pada lingkungan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kualitas perairan pada areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara, menganalisa kelimpahan, dan mengetahui jenis fitoplankton dan zooplankton yang mendominasi dan mengetahui nilai tropik saprobik indeks dengan menggunakan fitoplankton dan zooplankton sebagai indikator. Untuk teknik pengambilan plankton dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sampel. Pengambilan sampel dimaksud dengan mengambil data hanya sebagian dari populasi yang nantinya diharapkan dapat menggambarkan sifat populasi dari obyek penelitian. Pengambilan sampel plankton dilaksanakan dengan menggunakan metode sampling aktif dengan plankton net. Jenis fitoplankton yang ditemukan pada areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara terdiri dari kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophycae dan Dinophyceae serta terdiri dari 31 genera. Jenis zooplankton terdiri dari filum Arthropoda, filum Mollusca, filum Protochordata, dan filum Annelida serta terdiri dari 25 genera. Jenis fitoplankton yang paling sering mendominasi terdapat pada genus Nithzschia sp. Pada zooplankton, jenis yang paling sering mendominasi ialah Calanus sp. Hal ini menjadikan Nithzschia sp. dan Calanus sp. berperan cukup tinggi dalam menjaga keberlangsungan ekosistem perairan di lokasi ini. Berdasarkan kelimpahan plankton maka didapatkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar 0,6 ? 1,07 dan nilai Tropik Saprobik  Indeks (TSI) berkisar 1,1 ? 2,3 hal ini menunjukkan bahwa kualitas perairan di areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara dikategorikan dalam tingkat saprobitas ?-Mesosaprobik yaitu tercemar ringan sampai sedang. The changes which happened in water is a result of the debit, it makes the change in composition, abundance, distribution and community of plankton. Thus, presence of plankton can be a water indicator because its life character relatively settled, long life terms and also has a specific toleration to the environment. The purposes of the research are to know the condition of water quality on lamun area of Pulau Panjang Jepara, analyzing abundance, and find out fitoplankton and zooplankton kinds and dominate and find out tropic saprobic index value, using fitoplankton and zooplankton as an indicator. Whereas, sample research method was used as the retrieval technique for plankton in this research. Taking a sample has a purpose by taking a half parts from the population which later can be an example of population character from object of research. Sample retrieval use an active sampling method with plankton net.This plankton type which found on lamun area Pulau Panjang beach in Jepara consist of class from Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophycae and Dinophyceae also consist of 31 genera. Zooplankton types consist of fillum Arthropoda, fillum Mollusca, fillum Protochordata, and fillum Annelida also consist of 25 genera. Fitoplankton type which mostly dominating is a kind of genus Nithzschia sp. On zooplankton, a type which mostly dominated is Calanus sp. This case make  Nithzschia sp. and Calanus sp. has an important role in keeping sustainability environment of water in this location. Based on the abundance of plankton, then we can get the Saprobic Index value (SI) on range 0,6 ? 1,07 and Tropic Saprobic  Index (TSI) on range 1,1 ? 2,3. This case show that the water quality in lamun area on Pulau Panjang Jepara, categorized in saprobitas ?-Mesosaprobik stages is contaminated in middle stage and light.
ANALISA VARIABEL OSEANOGRAFI DATA MODIS TERHADAP SEBARAN TEMPORAL TENGGIRI (SCOMBEROMORUS COMMERSONI, LACéPèDE 1800) DI SEKITAR SELAT KARIMATA Masturah, Hanifati; Hutabarat, Sahala; Hartoko, Agus
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tenggiri merupakan organisme yang bersifat poikiloterm yaitu suhu tubuh ikan sesuai dengan suhu perairan. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif dan pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Data yang digunakan adalah data hasil tangkapan Tenggiri, data suhu permukaan laut dan data klorofil-a dari satelit MODIS Januari 2011 ? Mei 2013. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2013 di PPN Kejawanan Cirebon dan Laboratorium Inderaja dan SIG Perikanan Jurusan Perikanan Universitas Diponegoro. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa suhu permukaan laut dan klorofil-a berhubungan cukup erat dengan sebaran temporal Tenggiri. Analisis korelasi ganda menunjukkan bahwa Tenggiri, pada musim barat tahun 2011 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.85, musim barat tahun 2012-2013 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.70 dan pada musim timur 2011 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.80, musim timur tahun 2012-2013 memiliki nilai koefisien korelasi (r) yaitu 0.86. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan Tenggiri tinggi pada musim timur (April-Mei-Juni). Analisis korelasi tunggal dan ganda antara suhu permukaan laut dan klorofil-a dengan hasil tangkapan tenggiri menunjukkan hubungan yang cukup tinggi. Mackerel is one of poikilothermic fish, where their body temperature is affected by its surrounding temperature. The research use explorative method to find the correlation of two or more variables. Sampling method use purposive sampling. Data used in the research are Mackerel catch, sea surface temperature and chlorophyll-a from the MODIS satellite data January 2011- May 2013. This research was held for May-June 2013 in PPN Kejawanan Cirebon and The Laboratory SIG Fishery Department Fisheries Diponegoro University. The research reveals that sea surface temperature and chllorophyl-a good correlation with temporal distribution of Mackerel. Statistic analysis showed that Mackerel, multiple correlation on west season of 2011 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.85 and in the west season of 2012-2013 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.70 and in the east season of 2011 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.80 and the east season of 2012-2013 has a value of a correlation coefficient (r) is 0.86. A conclusion from this research that the catch of Mackerel high on east season (April-Mei-Juni), Analysis single and multiple correlation between sea surface temperature and chllorophyl-a with the catch of Mackerel showed the correlation which is quite high.
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI SPASIAL LARVA IKAN EKONOMIS PENTING DI PERAIRAN ESTUARI BANJIR KANAL TIMUR KOTA SEMARANG Daryumi, Daryumi; Hutabarat, Sahala; Ghofar, Abdul
Journal of Management of Aquatic Resources VOLUME 5, NOMOR 3, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Perairan estuari Banjir Kanal Timur berfungsi sebagai daerah asuhan bagi larva ikan. Daerah estuari bersifat fluktuatif sehingga sifat-sifat fisik, kimia dan biologi bervariasi, pada fase larva ikan sangat menentukan kelangsungan hidup dari spesies ikan maupun populasi. Oleh karena itu, mengetahui keberadaan larva ikan ekonomis penting dapat memberi informasi tentang daerah mana yang dapat digunakan sebagai daerah penangkapan dan daerah mana yang harus dilestarikan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2016 di Muara Banjir Kanal Timur Kota Semarang  yang bertujuan untuk mengetahui komposisi dan distribusi spasial larva ikan. Metode yang digunakan yaitu metode Purposive Random Sampling. Hasil penelitian menunjukan jumlah rata-rata larva ikan sebanyak 1851 ind/150m3 terdiri dari famili Apogonidae, Mugilidae, Gerreidae, Lutjanidae, Engraulidae, Nemipteridae, Ambassidae, Gobiidae dan Chanidae. Jenis larva ikan yang yang paling banyak ditemukan adalah Mugillidae (Belanak) 38,92%, sedangkan yang paling sedikit adalah Chanidae (Bandeng) 0,38%.  Larva ikan paling banyak tertangkap di daerah pantai (Titik III) dan yang paling sedikit tertangkap didaerah muara menuju sungai (Titik VI). Perhitungan indeks morista menunjukan larva ikan menyebar secara acak. Struktur komunitas larva ikan yaitu indeks keanekaragaman (H?) berkisar 0,64-1,66, indeks keseragaman (E) berkisar 0,14-0,39, dan indeks dominasi berkisar 0,21-0,67. Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan antara salinitas dengan kelimpahan larva ikan berkorelasi positif, sedangkan kecepatan arus dengan kelimpahan larva ikan berkorelasi negatif. Kata Kunci: Estuari; Larva Ikan; Komposisi; Distribusi; Banjir Kanal Timur Semarang.  ABSTRACT The estuaries of eastern Banjir Kanal served as the nursery ground for fish larvae. Areas of estuaries were fluctuating. So the parameters of the physical, chemical and biological were variation, in fish larvae phas  largely determine  survival rate of fish species or populations. For it to, knowing the existence of economically important fish larvae could providing information about which areas be using as a capture area and which areas that should be preserved. Research conducted in March-April 2016 at the Eastern Banjir Kanal of Semarang, aims to find out the composition and spatial distribution of fish larvae. The method used Purposive Random Sampling method. The research showed the range number of larvae as 1851 ind/150m3 consists of Familia Apogonidae, Mugilidae, Gerreidae, Lutjanidae, Engraulidae, Gobiidae, Ambassidae, Nemipteridae and Chanidae. Types of fish larvae found the most high was Mugillidae (Mullet) 38,92%, while the least was Chanidae (Milkfish) 0,38%. The larvae of most fish caught in coastal areas (point III) and the least caught in the estuary towards the river (Point VI). The calculation of the index morista fish larvae spread randomly. Fish larvae community structures were the index of diversity (H ') range from 0,64-1,66, uniformity index (E) range 0,14-0,39, and dominance index range from 0,21-0,67. Based on the results of the regression analysis showed between salinity with an abundance of fish larvae correlating positively, where the current speed with an abundance of fish larvae  correlating negatively.Keywords: Estuarie;  Fish Larvae; Composition; Distribution; Eastern Banjir Kanal Semarang.
DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON YANG BERPOTENSI MENYEBABKAN HABS (HARMFUL ALGAL BLOOMS) DI MUARASUNGAI BANJIR KANAL TIMUR, SEMARANG Nurcahyani, Erna Agustin; Hutabarat, Sahala; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Aktivitas yang ada di aliran Sungai Banjir Kanal Timur seperti industri dan pemukiman pendudukdiduga memberi kontribusi suplai zat hara di daerah muara yang dapat memicubloomingfitoplankton dan menurunkan kualitas perairan. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui jenis fitoplankton yang berpotensi menyebabkan HABs serta distribusi spasiotemporal dan kelimpahannya berdasarkan pasang surut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus yang bersifat deskriptif dengan teknik pengambilan sampelpurposive sampling. Pengambilan sampel berdasarkan aktivitas yang ada di muara dilakukan di 4 titik sampling yaitu titik I area mangrove dan tambak, titik II area pertemuan dua sungai, titik III dan IV area pantai yang menjadi jalur transportasi nelayan. Sampel diambil empat hari sekali selama tiga kali ulangan. Fitoplankton yang teridentifikasi terdiri dari 4 kelas 24 genus, 4 genus diantaranya termasuk dalam kelompok penyebab HABs yaitu Skeletonema sp. dengan kelimpahan (765-1911 Ind/L saat pasang, 233-574 Ind/L saat surut), Trichodesmium sp. (785-1678 Ind/L saat pasang, 764-1168 Ind/L saat surut), Pseudonitzschia sp. (127-191 Ind/L saat pasang, 0-84 Ind/L saat surut) dan Ceratium sp. (0-63 Ind/L saat pasang, 0-42 Ind/L saat surut). Skeletonema sp. dengan pola penyebaran seragam dan Trichodesmium sp. dengan pola penyebaran mengelompok dominan ditemukan di keempat titik sampling saat pasang dan surut, sedangkan Pseudonitzschia sp. dengan pola penyebaran mengelompok terdapat di semua titik saat pasang sedangkan saat surut terdapat di titik II, III dan IV. Ceratium sp. dengan pola penyebaran seragam terdapat di titik I dan IV saat pasang, serta terdapat di titik III dan IV saat surut. Kata kunci : Kelimpahan Fitoplankton; Distribusi; Harmful Algal Blooms (HABs);Pasang surut; Muara Sungai                      Banjir Kanal Timur ABSTRACT Activities in Banjir Kanal Timur river like industry activities and settlements was expected give contribution to supply nutrient in estuary and  can cause blooming of phytoplankton and decrease estuary?s water quality. The aimed of this research was to determine spatiotemporal distribution and abundance of potentially phytoplankton which effect Harmful Algal Blooms (HABs) based on tidalrange. This research used case studly method (descriptive) and purposive sampling technique. Samples were takenfrom 4 stationevery four days for three replication.Station (I)in mangrove and fishpond area, station (II) in confluence of two rivers area, station III and IV in the beach with boat?s traffic track.  Phytoplankton consisted of 4 class and 24 genus, four of them was genus HABs included Skeletonema sp. with abundance (765- 1911 ind/L at high  tide, 233- 574 ind/L at low tide), Trichodesmium sp. (785- 1678 ind/L at high tide, 764- 1168 ind/L at low tide),  Pseudonitzschia sp. (127- 191 ind/L at high tide, 0- 84 ind/L at low tide) and Ceratium sp. (0- 63 ind/L at high tide, 0-42 ind/L at low tide). Skeletonema sp. (regular distribution patterns) and Trichodesmium sp. (uniform distribution patterns) were dominant in all station at high tide or low tide. Pseudonitzschia sp.(uniform distribution patterns)  was  in all station at high tide andat low tide was  in station II,III and  IV. Ceratium sp. (regular distribution patterns) was in station I and IV at high tide, and at low tide was found in station III and IV.Keywords :Phytoplankton?sAbundance; Distribution;Harmful Algal Blooms (HABs); Tidalrange; Estuary ofBanjirKanal Timur
SEBARAN SPASIAL CUMI-CUMI (LOLIGO SPP.) DENGAN VARIABEL SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A DATA SATELIT MODIS AQUA DI SELAT KARIMATA HINGGA LAUT JAWA Prasetyo, Budhi Agung; Hartoko, Agus; Hutabarat, Sahala
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan mengetahui area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar, kegiatan penangkapan menjadi lebih efektif. Tujuan penelitian adalah mengetahui sebaran spasial cumi-cumi per-musim pada tahun 2011 hingga 2012, mengetahui sebaran spasial parameter oseanografi  dan mengetahui korelasi antara parameter oseanografi dengan sebaran spasial cumi-cumi. Data yang digunakan adalah data suhu permukaan laut dan klorofil-a dari satelit MODIS Aqua dan data sekunder lapangan yaitu data hasil tangkapan cumi-cumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan cumi-cumi pada tahun 2011 - 2012 lebih banyak tertangkap pada musim peralihan II hingga musim barat (September-Desember) dengan nilai rata-rata hasil tangkapan setiap tahun sebesar 88 Ton dan 189 Ton. Sebaran penangkapan cumi-cumi banyak terjadi di bagian barat Laut Jawa hingga Selat Karimata. Sebaran suhu permukaan laut pada tahun 2011 musim barat lebih tinggi (24,8 - 32,1oC) dibandingkan musim timur  (24,2 - 29,4oC), dan pada tahun 2012 juga musim barat lebih tinggi (20,3 - 33,4oC) dibandingkan musim timur (24,8 - 30,1oC). Sebaran Klorofil-a  tahun 2011 musim timur lebih tinggi (0,282 - 0,459 mg/L) dibandingkan musim barat (0,304 - 0,452 mg/L), dan pada tahun 2012 juga menunjukkan sebaran klorofil-a musim timur lebih tinggi (0,352 - 0,464 mg/L) dibandingkan musim barat (0,273 - 0,458 mg/L). Analisa regresi tunggal menunjukkan nilai koefisien regresi dari distribusi klorofil-a setiap tahun (r = 0,521 - 0,446) masih memiliki hubungan dengan hasil tangkapan cumi-cumi daripada suhu permukaan laut (r = 0.221 - 0,358).  Analisa regresi ganda menunjukkan nilai (r) antara sebaran suhu permukaan laut dan sebaran klorofil-a pada musim timur sebesar r = 0,253 dan pada musim barat sebesar r = 0,416 menunjukkan bahwa musim barat memiliki hubungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan musim timur. Hubungan tersebut karena cumi-cumi yang hidup di perairan sekitar Laut Jawa dan sekitarnya tersebar karena pengaruh arus balik musiman dari angin muson yang terjadi di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebaran oseanografi hanya berpengaruh langsung terhadap beberapa spesies cumi-cumi.