Ponpon Idjradinata
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

RELATIONSHIP BETWEEN C677T METHYLENETETRAHYDROFOLATE REDUCTASE GENE POLYMORPHISM AND HOMOCYSTEINE IN CEREBRAL PALSY Gamayani, Uni; Machfoed, M. Hasan; Idjradinata, Ponpon; Achmad, Tri Hanggono
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To observe the relationship between methylenetetrahydrofolate reductase (MTHFR) C677T gene polymorphism and homocysteine levels in cerebral palsy (CP) children. Methods: This cross-sectional study was conducted in several hospitals, school for children with special needs, and rehabilitation centers in Bandung from March to November 2014, on children with CP aged 4?14 years who met the inclusion criteria. Genotyping was performed using polymerase chain reaction (PCR)-restriction fragment length polymorphism (RFLP) and direct sequencing. Homocysteine serum level was measured using chemiluminescent microparticle immunoassay (CMIA) method. Statistical analysis was conducted using t test. Results: In this study, 150 CP children had MTHFR C677T gene polymorphism with a frequency of 18%, consisting of TT homozygotes (4%), CT heterozygotes (14%), and T allele (11%. The mean serum level of homocysteine in CP with C677T MTHFR gene polymorphism was 8.22 (±1.89) µmol/L, higher than those without polymorphism (p=0.046). Conclusions: A relationship between MTHFR C677T gene polymorphism and homocysteine level in children with cerebral palsy is found in this study. Keywords: Cerebral palsy, homocysteine, methylenetetrahydrofolate reductase polymorphism DOI: 10.15850/ijihs.v4n1.682
ANEMIA PADA PENDERITA HIV-AIDS DI POLIKLINIK TERATAI RS HASAN SADIKIN- BANDUNG Sumantri, Rachmat; Wicaksana, Rudi; Ariantan, Agnes R; Supandiman, Iman; Idjradinata, Ponpon; Creven, Reinout van-; der Ven, Andre van
journal of internal medicine Vol. 10, No. 3 September 2009
Publisher : journal of internal medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of anemia in HIV-infection ranging between 1.3 ? 95% depend on the stadium of infection. Anemiamakes bad impact on morbidity and mortality, and anemia is an independent risk factor for death in HIV-infected patients. Across-sectional study has been done in Teratai Clinic Hasan Sadikin Hospital to evaluate the prevalence and the etiology ofanemia between 1 January to 30 June 2008. Inclusion criteria were all patients who signed the informed consent. There were534 patients, 222 were anemic, prevalence of anemia was 41.6% (95% CI: 37.4 ? 45.8%), men 167 (72.2%). 188 were mildanemia (Hb 10 ?12/14 g/dl), 26 moderate anemia (Hb 8 ? 10 g/dl), and severe anemia in 6 patients (Hb < 8 g/dl). Anemia ofchronic disease or anemia of in! ammation were found in 142 (64.5%) cases, zidovudine related anemia 32 (14.5%) cases, ironde" ciency 14 (6.4%), hemolytic anemia 15 (6.8%) cases, thallassemia 8 (3.6%) cases, and megaloblasic 9 (4.1%) cases. All ofanemic patients showed low (< 2) reticulocyt index, high ferritin, low sTfR, and high hs-CRP.
REAKSI SILANG RESPONS IMUN HUMORAL VIRUS A/H1N1 PANDEMI/2009 DAN SEASONAL/2006 PADA REMAJA PERIODE KELAHIRAN TAHUN 1990-1996 DHAMAYANTI, MEITA; ACHMAD, TRI HANGGONO; KARTASASMITA, CISSY B; IDJRADINATA, PONPON
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/.v3i2.16830

Abstract

AbstractA newest pandemic influenza has emerged, caused by A/H1N1 virus spread rapidly across the world in 2009. The old population born before 1977 had cross-reactive antibodies to pandemic H1N1/2009. The aim of this study was to investigate cross-reactive humoral immune response against pandemic H1N1/2009 and seasonal H1N1/2006 virus in adolescents aged 1218 years born in 19901996 and correlation age or birth and level of cross-reactivity. The cross sectional study was conducted on 131 stored serums from adolescent donors' aged 12?18 years born in 1990-1996. Using a haemagglutination inhibition assay, we measured cross-reactivity based on geometric mean titer (GMT), percentage of seropositive, and seroconversion rate antibodies against pandemic H1N1/2009 after influenza vaccination containing A/Solomon/3/2006(H1N1)-like in Bandung during 2012. Geometric mean titers and percentage of seropositive against pandemic H1N1/2009 virus pre and post-vaccination were not related significantly, p=0.265 and 0.200 respectively. Fifteen subjects (11.5%) had seroconversion. The correlation of pandemic H1N1/2009 and seasonal H1N1/2006 virus seroconversion rate was not significant, p=0.191. There was significant correlation between the age or birth and the cross-reactivity against pandemic H1N1/2009 and seasonal H1N1/2006 virus, p=0.013 and r=0.216. Conclusions, no cross-reactivity against pandemic H1N1/2009 and seasonal H1N1/2006 virus in adolescent age 1218 years born in 19901996, the age or birth was related to the level of cross-reactivity. Earlier birth result the higher cross-reactivity. Influenza vaccination should be done routine and regular by notifying birth period.Key words: adolescent, birth, cross-reactivity, pandemic influenza 2009
RESPON IMUN TERHADAP VAKSIN INFLUENZA PADA REMAJA Dhamayanti, Meita; Rusmil, Kusnandi; Idjradinata, Ponpon
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.9

Abstract

Influenza merupakan penyakit yang mudah menular dengan mortalitas dan morbiditas tinggi serta sering menimbulkan kejadian  luar biasa, epidemi, dan pandemi. Pada anak  sekolah,  influenza menyebabkan  tingginya angka absensi dan remaja merupakan  sumber  penularan  terbesar .  Penelitian  dilakukan  untuk menilai  respons  imun    terhadap  vaksin influenza pada kelompok remaja 12?18 tahunpada bulan Juni?September 2008, di Puskesmas Garuda Bandung. Desain dilakukan dengan  intervensional,  longitudinal, acak sederhana, dan tersamar tunggal. Vaksin  influenza yang mengandung 3 jenis virus A/H1N1, A/H3N2 dan B, disuntikkan intramuskular. Pengambilan darah dilakukan pra dan pasca vaksinasi. Pemeriksaan kadar antibodi dilakukan dengan metode hemaglutinasi inhibisi (HI). Respons imun dinilai berdasarkan nilai serokonversi, dan peningkatan geometric mean titer (GMT). Subjek dibagi 2 kelompok, 69 (52,7%) remaja pertengahan (12?15  tahun) dan 62  (47,3%)  remaja akhir  (16?18  tahun). Semua  subjek  telah mempunyai kadar antibodi protektif HI>1:40 pascavaksinasi. Nilai serokonversi kedua kelompok berbeda bermakna pada pra  (p=0,02) dan pascavaksinasi (p=0,02). Serokonversi  terhadap virus A/H3N2 antara remaja pertengahan dan akhir berbeda bermakna pada pravaksinasi (p=0,02). Pada pra dan pascavaksinasi  terdapat peningkatan GMT bermakna  terhadap ketiga  jenis virus  influenza  (Zw 9,73; 9,19; 9,59 dan p=0,00). Simpulan, vaksinasi influenza pada remaja menghasilkan kadar protektif. Respons imun remaja pertengahan dan akhir  tidak berbeda, namun  remaja pertengahan  tampak   lebih  responsif.Kata Kunci: Influenza,  remaja,  responsimun, vaksin
KADAR INTERLEUKIN-18 PADA KULTUR LIMFOSIT PENDERITA DERMATITIS ATOPIK YANG DISTIMULASI STAPHYLOCOCCAL ENTEROTOXIN B (SEB) Suwarsa, Oki; Sudigdoadi, -; Sutedja, Endang; Idjradinata, Ponpon
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 4 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Staphylococcus aureus (S. aureus) mempunyai peranan penting pada patogenesis dermatitis atopik (DA). Peran S. aureus tersebut tidak hanya sebagai pencetus DA, tetapi juga menyebabkan inflamasi kronik. Peran tersebut berhubungan dengan dihasilkannya protein antara lain toksin poten oleh S. aureus, yaitu Staphylococcal enterotoxin B (SEB). Interleukin-18 (IL-18) merupakan regulator penting dari produksi sitokin Th-1 yaitu interferon-? (IFN-?).  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar IL-18 pada kultur limfosit pasien DA yang distimulus dengan SEB. Penelitian ini dilakukan pada 20 orang penderita DA (7 laki-laki dan 13 perempuan) dan 20 orang sehat (9 laki-laki dan 11 perempuan) di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, merupakan penelitian eksperimental secara in vitro pada kultur ilmfosit yang distimulus dengan SEB di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada. Terjadi peningkatan kadar IL-18 rata-rata pada kultur limfosit antara sebelum dipapar dan setelah dipapar SEB, baik pada kelompok DA maupun kelompok kontrol. Setelah dilakukan uji statistik perbandingan antara kadar IL-18 rata-rata sebelum dan sesudah dipapar SEB antara kelompok DA dan kontrol, didapatkan hasil kadar IL-18 kelompok DA lebih tinggi bermakna dibanding  dengan kelompok kontrol (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan kadar IL-18 meningkat tinggi pada kelompok DA yang dipapar SEB. [MKB. 2015;47(4):249?54]Kata kunci: Dermatitis atopik, interleukin-18 (IL-18), Staphylococcus enterotoxin BInterleukin-18 Levels in Lymphocytes Cultures from Atopic Dermatitis Patients Stimulated by Staphylococcal Enterotoxin BAbstractStaphylococcus aureus (S. aureus) has an important role in the pathogenesis of atopic dermatitis (AD). S. aureus acts as a triggering factor for AD and also causes chronic inflammation. These roles of S. aureus are related to various proteins such as Staphylococcal enterotoxin B (SEB) as a potent toxin. Interleukin-18 (IL-18) is an important regulator of cytokine production of Th-1, which is interferon-? (IFN-?). The aim of this study was to reveal the levels of IL-18 in cultured lymphocytes from AD patients exposed by SEB. This study was conducted on 20 people with DA (7 men and 13 women) and 20 healthy volunteers (9 men and 11 women) in dr. Hasan Sadikin General Hospital. The in vitro experimental study on cultured lympocytes exposed with SEB was performed at the Integrated Research and Testing Laboratory of Gadjah Mada University. The average levels of IL-18 in cultured lymphocytes before and after being exposed to SEB increased both in AD group and control group. After the statistical tests was performed on the ratio of the average levels of IL-18 before and after being exposed to SEB between AD and control groups, it was shown that the levels of IL-18 AD group was significantly higher than the control group (p <0.05). Therefore, it can be concluded that the levels of IL-18 increased higher in AD group exposed by SEB. [MKB. 2015;47(4):249?54]Key words: Atopic dermatitis , interleukin-18, Staphylococcal enterotoxin BDOI: 10.15395/mkb.v47n4.620
Perbandingan Status Besi pada Remaja Perempuan Obes dengan Gizi Normal Afrianti, Dessy; Garna, Herry; Idjradinata, Ponpon
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.97-103

Abstract

Latar belakang. Prevalensi obesitas pada remaja cenderung meningkat. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara obesitas dan terjadinya anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi berhubungan dengan kebutuhan yang meningkat sejalan dengan peningkatan berat badan, serta pola makan yang tidak seimbang pada obesitas. Tujuan.Mengukur dan membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan hemoglobin (Hb),reticulocyte hemoglobin content(CHr), dan feritin serum pada remaja perempuan obes dan gizi normal serta penanggulangan sedini-dininya pada remaja dengan defisiensi besi.Metode. Penelitian studi analitik cross-sectionaldi SMP 14, SMP 34, dan SMA 24 Bandung pada bulan November 2011. Subjek penelitian terdiri atas remaja perempuan sehat yang memiliki status gizi normal dan obes berdasarkan standar WHO reference2007 yang diambil secara acak sebanyak 25 orang tiap kelompok. Analisis data menggunakan uji nonparametrik dengan uji Mann Whitney untuk membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan Hb, CHr,dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal. Dilakukandietary recalluntuk mengetahui asupan makanan pada kedua kelompok penelitian. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Kadar Hb, CHr, dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal tidak menunjukkan perbedaan (p>0,05). Obesitas lebih banyak terjadi pada remaja dengan status sosioekonomi lebih tinggi (p=0,039). Terdapat perbedaan asupan protein hewani, protein nabati, besi, dan vitamin C antara remaja perempuaan obes dengan gizi normal yang memiliki nilai p berturut-turut p<0,001; p<0,019; p=0,026 dan p=0,032.Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan status besi remaja perempuan obes dengan gizi normal. Asupan makanan mempengaruhi status besi pada remaja obes dan gizi normal.
Perbedaan Status Besi Bayi Normal yang Mendapat Air Susu Ibu Eksklusif dengan Susu Formula Standar Giyantini, Henne; Idjradinata, Ponpon; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.127-32

Abstract

Latar Belakang.Anemia defisiensi besi (ADB) pada anak dapat menyebabkan gangguan kognitif, psikomotor, dan tingkah laku menetap meskipun anemia dikoreksi. Pada usia 4−6 bulan, cadangan besi menurun, pertumbuhan cepat dan asupan besi rendah menyebabkan ADB.Tujuan.Menganalisis perbedaan status besi bayi yang mendapat ASI eksklusif dengan susu formula standar (SFS) dan mengetahui waktu pemberian suplemen besi yang tepat. Metode.Penelitian analitik potong-lintang di RSUD Ujungberung dan Cibabat serta RSKIA Astanaanyar Bandung periode Juni−Juli 2012, pada bayi 4, 6 dan 9 bulan, lahir cukup bulan, berat lahir >2.500 g, sehat dan mendapat ASI eksklusif atau SFS. Dilakukan pemeriksaan Hb, MCV, Fe serum, TIBC, dan feritin serum. Uji Mann-Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan status besi.Hasil.Subjek 60 bayi. Pada kelompok ASI eksklusif dan SFS 4, 6, dan 9 bulan Hb berturut-turut 10,57; 10,86; 9,64 dan 10,77; 11,22; 11,74 g/dL; TIBC 294,3; 265,4; 339 dan 297,5; 268; 317,8 µg/dL; MCV 70,3; 72,9; 62,89 dan 77,57; 72,82; 73,39 fl; serta feritin serum 81,1; 131,7; 26,5 dan 120,2; 56; 45,9 µg/L berbeda bermakna (p=0,017; p=0,049; p<0,001; p<0,001). Fe serum 44,7; 43,1; 26,4 µg/dL dan 33,9; 35,9; 40,8 µg/dL tidak bermakna (p=0,202). Bayi yang mengalami DB dan ADB pada usia 9 bulan lebih banyak terjadi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif (p=0,020). Enam dari 10 bayi mengalami DB dan ADB pada usia 4 bulan pada kedua kelompok.Kesimpulan.Status besi bayi normal yang mendapat ASI eksklusif lebih rendah daripada bayi yang mendapat SFS. Rekomendasi pemberian suplemen besi mulai usia 4 bulan, perlu ditinjau ulang.
Hubungan Subtipe Sel Limfosit dengan Tingkat Remisi Pascakemoterapi Fase Induksi Leukemia Limfoblastik Akut Suryawan, Nur; Idjradinata, Ponpon; Reniarti, Lelani
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.448-52

Abstract

Latar belakang. Angka remisi pascakemoterapi LLA masih belum memuaskan, banyak faktor yang memengaruhi belum optimalnya luaran terapi LLA, salah satunya adalah faktor subtipe sel limfosit LLA. Tujuan. Melihat hubungan subtipe sel limfosit dengan tingkat remisi pascakemoterapi fase induksi LLA.Metode. Penelitian kohort prospektif dilakukan di RS dr. Hasan Sadikin Bandung dari bulan Februari-September 2016. Subyek adalah anak <14 tahun yang baru didiagnosis LLA berdasarkan hasil aspirasi sumsum tulang. Diambil sampel darah perifer untuk dilakukan pemeriksaan immunophenotyping agar dapat diketahui subtipe sel limfositnya, dilakukan kemoterapi fase induksi selama 6 minggu berdasarkan protokol terapi. Dilakukan aspirasi sumsum tulang evaluasi untuk melihat tingkat remisinya. Analisis statistik dilakukan dengan uji Fisher-exact. Hasil. Terdapat 40 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan menjalani kemoterapi fase induksi. Dari 40 subjek, 26 menyelesaikan kemoterapi fase induksi, dan dari 26 subjek yang dilakukan evaluasi aspirasi sumsum tulang, 20/26 mengalami remisi lengkap dan 6/26 tidak remisi. Terdapat 18/24 subjek sel B-LLA yang mengalami remisi lengkap dan 6/24 tidak remisi, sedangkan penderita sel T-LLA yang mengalami remisi lengkap 2/2 subjek. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara subtipe sel limfosit dengan tingkat remisi pascakemoterapi fase induksi (p=0,585). Kesimpulan. Subtipe sel limfosit tidak berpengaruh terhadap tingkat remisi pascakemoterapi fase induksi.
HUBUNGAN TIPE THALASSEMIA β SERTA POLIMORFISME C.-582 A>G PROMOTOR GEN HAMP DAN STATUS BESI THALASSEMIA β BERAT BARU Susanah, Susi; Idjradinata, Ponpon
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelebihan besi merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas penderita thalassemia ? berat. Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi status besi thalassemia ? berat. Penelitian ini bertujuan menganalisis  hubungan  tipe thalassemia ? serta polimorfisme c.-582 A>G promotor gen hepcidine antimicrobacterial peptide (HAMP) dengan status besi thalassemia ? berat baru. Penelitian dengan metode potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung selama November?Desember 2012. Subjek penelitian adalah penderita thalassemia ? berat yang baru didiagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis dan laboratorium. Subjek belum pernah mendapatkan transfusi darah dan memiliki kadar C-reactive protein normal. Status besi dinilai dengan mengukur kadar feritin serum (FS) dan saturasi transferin (ST). Analisis statistik yang digunakan adalah uji-t, Uji Mann-Whitney, dan uji chi-kuadrat. Didapatkan 29 subjek thalassemia ? berat baru, 24 thalassemia ? mayor dan 5 thalassemia ?/HbE berat. Tidak ada perbedaan status besi antara kedua tipe thalassemia ? berat baru maupun antara yang mengalami polimorfisme dan yang tidak mengalami polimorfisme c.-582 A>G promotor gen HAMP (p>0,05). Simpulan, tipe thalassemia ? berat dan polimorfisme c.-582  A>G promotor gen HAMP tidak berhubungan dengan status besi penderita thalassemia ? berat yang baru didiagnosis. [MKB. 2015;47(3):192-98]Kata kunci: Feritin, polimorfisme c.-582 A>G promotor gen HAMP, saturasi transferin, thalassemia ? berat Association of ?-thalassemia Type and Polymorphisms of c.-582 A>G Promoter HAMP Gene and Iron Status in Newly Diagnosed Severe ?-thalassemiaAbstractIron overload is the common  cause of morbidity and mortality in severe ?-thalassemia patients. Many factors influence the  iron status in severe ?-thalassemia. This study aimed to analyze the association of ?-thalassemia type, polymorphism c.-582 A>G promotor hepcidine antimicrobacterial peptide (HAMP) gene,  and  iron  status in newly diagnosed severe ?-thalassemia. A cross-sectional study was performed at Dr. Hasan Sadikin General Hospital/Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran Bandung from November to December 2012. Subjects were newly diagnosed severe ?-thalassemia patients who were diagnosed based on clinical manifestation and laboratory examination. Subjects had not received any blood transfusion before and had normal CRP level. Transferrin saturation (TS) and serum ferritin (SF) levels indicate iron status. The statistical analysis was performed using t test, Mann-Whitney, and Chi square test. Twenty nine subjects were diagnosed as newly severe ?-thalassemia, 24 ?-thalassemia mayor and 5 with severe ?-thalassemia/HbE. There was no difference in the iron status between the two types of severe ?-thalassemia  and  between those with and without polymorphism of c.-582 A>G promotor HAMP gene in  newly  diagnosed severe  ?-thalassemia (p>0.05). In conclusiosn, the  ?-thalassemia type and polymorphism of c.-582 A>G  promotor HAMP  gene do  not  associate with the iron status  in  newly diagnosed severe ?-thalassemia patients.  [MKB. 2015;47(3):192-98]Key words: Ferritin, polymorphism of  c.-582 A>G  promotor HAMP gene, severe ?-thalassemia, transferrin ration DOI: 10.15395/mkb.v47n3.599
Asupan Energi dan Protein Setelah Program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Ibu Hamil Kurang Energi Kronik di Puskesmas Kota Surabaya Nugrahini, Evi; Effendi, Jusuf; Herawati, Dewi; Idjradinata, Ponpon; Sutedja, Endang; Mose, Johanes; syukriani, yoni
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 1, No 1 (2014): Desember
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.547 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v1i1.81

Abstract

Masalah gizi yang paling umum dialami oleh ibu hamil adalah Kurang Energi Kronis (KEK). Program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) diadakan untuk mengatasi masalah KEK, faktanya belum memberikan hasil sesuai harapan. Penelitian bertujuan mengetahui perbedaan asupan energi dan protein setelah program PMT-P terhadap keberhasilan perbaikan status gizi ibu hamil. Rancangan penelitian adalah mixed method dengan strategi triangulasi konkuren. Teknik pengambilan sampel penelitian kuantitatif adalah consecutive sampling, dengan responden 47 ibu hamil KEK. Partisipan penelitian kualitatif diambil secara purposive sampling. Analisis data kuantitatif diolah dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program PMT-P pada ibu hamil KEK hanya mampu memperbaiki status gizi menjadi normal sebesar 13%. Asupan energi dan protein ibu hamil KEK setelah program PMT-P mampu mengubah status gizi menjadi normal sebesar 20%. Tidak terdapat perbedaan asupan energi dan protein setelah program PMT-P terhadap status gizi ibu hamil KEK dan normal (p>0,05). Penyebab ibu hamil KEK tidak mengalami perubahan status gizi setelah program PMT-P adalah pola makan, konsumsi makanan, status ekonomi, status kesehatan dan faktor internal yang meliputi pekerjaan dan pengetahuan.Simpulan penelitian ini adalah program PMT-P belum memberikan hasil sesuai harapan, ditandai dengan sedikitnya jumlah ibu hamil KEK yang mengalami perubahan status gizi menjadi normal. Terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi perbaikan status gizi ibu hamil KEK seperti pola makan, konsumsi makanan, status ekonomi, status kesehatan dan faktor internal yang meliputi pekerjaan dan pengetahuan. Hal yang dilakukan adalah dengan meningkatkan pengetahuan gizi seimbang ibu hamil melalui penyuluhan.