Articles

Found 14 Documents
Search

MODELING THE FATE OF SUMATRAN ELEPHANTS IN BUKIT TIGAPULUH INDONESIA: RESEARCH NEEDS & IMPLICATIONS FOR POPULATION MANAGEMENT Moßbrucker, Alexander Markus; Imron, Muhammad Ali; Pudyatmoko, Satyawan; Pratje, Peter-Hinrich; Sumardi, Sumardi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.278 KB) | DOI: 10.22146/jik.12622

Abstract

The critically endangered Sumatran elephant persists in mainly small and isolated populations that may require intensive management to be viable in the long term. Population Viability Analysis (PVA) provides the opportunity to evaluate conservation strategies and objectives prior to implementation, which can be very valuable for site managers by supporting their decision making process. This study applies PVA to a local population of Sumatran elephants roaming the Bukit Tigapuluh landscape, Sumatra, with the main goal to explore the impact of pre-selected conservation measures and population scenarios on both population growth rate and extinction probability. Sensitivity testing revealed considerable parameter uncertainties that should be addressed by targeted research projects in order to improve the predictive power of the baseline population model. Given that further habitat destruction can be prevented, containing illegal killings appears to be of highest priority among the tested conservation measures and represents a mandatory pre-condition for activities addressing inbreeding depression such as elephant translocation or the establishment of a conservation corridor.Keywords: Elephas maximus sumatranus; population viability analysis (PVA); Asian elephant; elephant conservation; Vortex Pemodelan Kelestarian dari Gajah Sumatera di Bukit Tigapuluh Indonesia: Kebutuhan Penelitian dan Implikasi untuk Manajemen PopulasiAbstractGajah Sumatera yang berstatus kritis sebagian besar bertahan dalam populasi kecil dan terisolasi membutuhkan pengelolaan intensif agar dapat tetap lestari dalam jangka panjang. Analisis Viabilitas Populasi (Population Viability Analysis, PVA) berpeluang untuk digunakan sebagai sarana evaluasi atas tujuan dan strategi konservasi yang disusun sebelum implementasi, yang akan sangat bermanfaat bagi pengelola kawasan guna mendukung pengambilan keputusan. Studi ini menggunakan PVA pada populasi lokal gajah Sumatera yang menjelajahi lanskap Bukit Tigapuluh, Sumatera, dengan tujuan utama mengeksplorasi dampak atas skenario upaya konservasi dan populasi terpilih terhadap laju pertumbuhan populasi dan probabilitas kepunahan. Uji sensitivitas menunjukkan adanya ketidakpastian atas sejumlah parameter pokok yang seharusnya diteliti untuk meningkatkan kekuatan prediksi atas baseline model populasi. Mengingat kerusakan habitat yang lebih parah dapat dicegah, untuk itu upaya penangkalan pembunuhan ilegal merupakan prioritas tertinggi di antara upaya-upaya konservasi yang sudah diuji dan menjadi prasyarat wajib untuk menjawab masalah kemungkinan dampak perkawinan sedarah (inbreeding depression) seperti translokasi gajah atau membangun koridor konservasi. 
MENGUATKAN KEDAULATAN BANGSA ATAS KEANEKARAGAMAN HAYATI Imron, Muhammad Ali
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.979 KB)

Abstract

Menguatkan Kedaulatan Bangsa Atas Keanekaragaman Hayati
A THREE DECADES ASSESSMENT OF FOREST COVER CHANGES IN THE MOUNTAINOUS TROPICAL FOREST OF TIMOR ISLAND, INDONESIA Pujiono, Eko; Sadono, Ronggo; Hartono, Hartono; Imron, Muhammad Ali
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 25 No. 1 (2019)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.116 KB)

Abstract

The Mutis Timau Forest Complex (MTFC), a remained mountainous tropical forest area in Timor Island, located in Indonesia and Timor-Leste border region, tends to decrease gradually. Unfortunately, declined forest area and their rates are not explained by reliable spatial and quantitative information. This study attempts to assess the extent and rate of forest cover changes in the MTFC during the last 30 years. We used Landsat images on three different dates: 1987, 1999, and 2017. Then, we applied a hybrid classification approach that combines the application of Forest Canopy Density model-obtained from four biophysical indices and supervised classification-maximum likelihood classification to generate land cover maps. Finally, we detected forest cover change by comparing land cover map in different years. Results illustrated that the extent and annual rate of deforestation, forest degradation, forest regrowth, and afforestation during 1987?2017 were 2,232 ha (0.36%), 4,820 ha (1.10%), 1,475 ha (0.69%), and 1,252 ha (0.40%), respectively. Such results are important for the MTFC authority to establish appropriate plan and strategies in forest management activities and can be used to support some policies/programs for combating deforestation and forest degradation.
POTENSI KONFLIK PENGGEMBALAAN KUDA PADA HABITAT RUSA TIMOR (RUSA TIMORENSIS BLAINVILLE 1822) DI KAWASAN TANJUNG TORONG PADANG, NUSA TENGGARA TIMUR Kayat, Kayat; Pudyatmoko, Satyawan; Maksum, Muchammad; Imron, Muhammad Ali
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.696 KB) | DOI: 10.22146/jik.24866

Abstract

Penggembalaan ternak telah diyakini memengaruhi keberadaan satwa liar, termasuk rusa timor (Rusa timorensis Blainville 1822) melalui kompetisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggembalaan lepas ternak kuda yang dimiliki oleh masyarakat lokal di kawasan Tanjung Torong Padang, Nusa Tenggara Timur menjadi pesaing bagi rusa timor. Observasi lapangan dan wawancara dengan pemilik kuda dilakukan untuk menentukan distribusi kuda di habitat rusa timor. Preferensi pakan dari ternak kuda dan rusa timor dikumpulkan menggunakan identifikasi spesies dari kotoran dan dibandingkan dengan plot berukuran 1 x 1 m2 di daerah makan dari kedua hewan tersebut selama musim kering dan hujan pada 2014 dan 2015. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada indikasi yang jelas dari persaingan antara rusa timor dan penggembalaan liar kuda di kawasan Tanjung Torong Padang. Rusa timor dan kuda tidak terjadi tumpang tindih spasial dalam distribusi mereka di lokasi tersebut. Ternak kuda menempati savana perbukitan, sedangkan rusa lebih suka menempati savana dengan pohon rengit (Albizia lebbeck (L.) Benth) dan lembah dengan vegetasi hutan tropis kering. Selain itu, rusa timor lebih menyukai makan semak dan dedaunan (browser), sementara kuda lebih menyukai rumput (grazer). Kehadiran ternak lepas kuda di kawasan Tanjung Torong Padang tidak berpengaruh negatif untuk rusa timor dan habitatnyaConflict Potential of Free-Roaming Horse Grazing on Timor Deer (Rusa timorensis Blainville 1822) Habitat in Torong Padang Cape Area, East Nusa TenggaraAbstractLivestock grazing had been believed to affect on the existence of wildlife, including the timor deer (Rusa timorensis Blainville 1822) through competition. This study aimed to determine whether the free-roaming horse grazing owned by local communities in Torong Padang Cape, East Nusa Tenggara become a competitor for timor deer. Field observations and interviews with horse owners were carried out to determine the distribution of horse in timor deer habitat. Food preference of both horse and timor deer were collected using species identification from feces and compared with 1 x 1 m2 plots at feeding areas of both animals during the dry and rainy seasons in 2014 and 2015. There is no clear indication of competition between timor deer and free-roaming horses in the Torong Padang Cape area.The deer and horse avoided overlapping spatially in their distribution in the Cape. The free-roaming horse mainly occupied hilly savanna, whereas timor deer preferred to occupy savanna with lebbek tree (Albizia lebbeck (L.) Benth) and valleys with tropical dry forest vegetation. In addition, the timor deer prefer to feed shrubs and foliage (browser), while horses prefer grass (grazer). The presence of free-roaming horse in the Torong Padang Capearea does not affect negatively for the timor deer and its habitat.
PERILAKU DAN JELAJAH HARIAN ORANGUTAN SUMATERA (PONGO ABELLI LESSON, 1827) REHABILITAN DI KAWASAN CAGAR ALAM HUTAN PINUS JANTHO, ACEH BESAR Sofyan, Hadi; Pudyatmoko, Satyawan; Imron, Muhammad Ali
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.976 KB) | DOI: 10.22146/jik.6133

Abstract

Mekanisme adaptasi dari Orangutan Sumatera yang direintroduksi merupakan informasi yang sangat penting bagi kesuksesan program rehabilitasi. Tujuan utama penelitian ini untuk mengeksplorasi perilaku dan jelajah harian dari Orangutan Sumatera rehabilitan di stasiun reintroduksi Orangutan Sumatera kawasan Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar. Metode yang digunakan adalah Instantaneous sampling. Data perilaku dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan ethogram yang mengadopsi dari Standar Pengambilan Data Orangutan. Perilaku harian yang dilakukan Orangutan Sumatera rehabilitan meliputi tiga perilaku utama yaitu istirahat (47,32 %), makan (37 %), bergerak (14,75 %), sosial (0,52 %) dan bersarang (0,41 %). Sebagian besar perilaku Orangutan rehabilitan tidak menunjukkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan masa reintroduksi. Rata-rata daya jelajah hariannya dari semua individu Orangutan yang diamati berkisar antara 0,7 sampai 26,2 ha. Interaksi dengan manusia pada masa sebelumnya, khususnya pada periode perkembangan Orangutan, dapat mempengaruhi perilaku Orangutan dan mungkin dapat mempengaruhi kesuksesan dalam beradaptasi dengan kondisi di alam.Katakunci: perilaku, Orangutan, daya jelajah harian, cagar alam Jantho Daily Behavior and Range of Rehabilitated Orangutan in the Hutan Pinus Jantho Nature Reserve, Aceh BesarAbstractAdaptation mechanism of reintroduced Sumatran Orangutan is crucial information for successful rehabilitation program. The main objective of this research was to investigate daily behaviors and range ofeight rehabilitated Orangutans in the reintroduction station of Nature Reserve Pine Forest Jantho, Aceh Besar. Data collection was conducted through instantaneous sampling to explore daily behavior and range. The daily activities data were grouped based on ethogram by adopting the standard of Orangutan?s data collection. The result showed that the proportion of daily behavior of Orangutan Sumatera are 47.32 % resting, 37 % feeding, 14.75 % moving, 0.52 % social interaction and 0.41% nesting activities. There was no different behavior between sex classes and duration of rehabilitation. The average daily range of all focal individuals is 0.7-26.2 ha. Previous interaction with humans, especially during early developmental period, may affect in behaviour of rehabilitated Orangutan Sumatera and probably also influence the adaptation success in the wild.
SELEKSI HABITAT LUTUNG JAWA (Trachypithecus auratus E. Geoffroy SaintHilaire, 1812) DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI ) Ayunin, Qurrotu; Pudyatmoko, Satyawan; Imron, Muhammad Ali
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan populasi lutung jawa (Trachypithecus auratus  E. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812) yang disebabkan oleh perburuan dan degradasi habitat membutuhkan penangangan konservasi sesegera mungkin. Upayakonservasi dapat dilakukan secara efektif dan efisien, jika kebutuhan satwa tersebut diketahui. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat yang disukai lutung jawa di level area jelajah dan tapak mikro. Penelitian dilakukan di Taman Nasional Gunung Merapi. Metode penelitian adalah dengan analisis vegetasi pada tingkat pohon dan tiang di plot yang tersedia, yang disusunsecara sistematis (metode systematic sampling, jarak antar plot 300 m) dengan intensitas sampling 0,45% serta pada plot yang digunakan, yang diidentifikasi dengan metode pencarian dengan sampling.Uji Chi-kuadrat dilakukan untuk mengidentifikasi terjadinya seleksi habitat. Regresi logistik dilakukan untuk memprediksi variabel yang memengaruhi probabilitas kehadiran lutung jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik habitat yang diseleksi lutung jawa di level area jelajah adalah: berada pada ketinggian 1.500-2.000 m dpl, kelerengan lebih dari 45%, LBDS pohon tinggi, pohon pakan melimpah dan jauh dari gangguan manusia. Berdasarkan analisis regresi logistik, probabilitas kehadiran lutung jawa  meningkat dengan semakin meningkatnya LBDS pohon, jumlah pohon pakan, ketinggian dan jarak dari gangguan. Probabilitas kehadiran lutung jawa  semakin menurun jika jumlah pohon semakin banyak dan jauh dari sungai
PERILAKU KOPING PADA LANSIA YANG MENGALAMI PENURUNAN GERAK DAN FUNGSI Fatmawati, Veni; Imron, Muhammad Ali
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Menua adalah suatu kondisi yang pasti terjadi pada setiap orang. Kondisi ini ditandai dengan terjadinya banyak penurunan baik secara fisik, maupun psikis. Terjadinya penurunan ini akan membuat lansia melakukan koping terhadap penurunan yang terjadi pada diri mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi secara mendalam mengenai bentuk-bentuk perilaku koping pada lansia yang mengalami penurunan gerak dan fungsi. Adapaun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung terhadap 4 orang lansia yang ada di desa guwosari Bantul DIY. Hasil yang diperoleh dalam penelitian adalah secara umum lansia yang menjadi subjek dalam penelitian ini mengalami 2 permasalahan, yaitu fisik dan psikis. Pertama, permasalahan fisik; stroke, nyeri dari pinggang menjalar ke kaki, sering kesemutan pada kaki dan tangan, darah tinggi, sering pusing, pola tidur terganggu, dan kolestrol. Adapun perilaku koping yang dilakukkan lansia untuk mengatasi permasalahan fisik tersebut adalah; Planful problem solving, Distancing, Self-control, dan Positive reappraisal. Kedua, permasalahan  psikis, yaitu; merasa kesepian dan sedih. Adapun bentuk koping yang mereka lakukan; Seeking social support, Escape-avoidance, dan Positive reappraisal. Secara garis besar perilaku koping lansia yang mengalami penurunan gerak dan fungsi dapat dikelompokkan menjadi 2 bentuk; (1) Problem focused copying, dengan bentuk; Planfull problem solving,  Seeking social support, Positive reappraisal  dan  (2) Emotion focused copying dengan bentuk ; Distancing, Self control, Escape  avoidance.Abstract. Aging is a condition that must happen to everyone. This condition is characterized by the occurrence of many decline both physically, and psychologically. The decrease will make the elderly to cope against the decline that occurred to them. The purpose of this study was to explore in depth the forms of coping behaviors in elderly decreased motion and function. The methods used in this study is a direct interview to four elderly people in the village of Bantul DIY Guwosari. Results obtained in the study were generally elderly people who become subjects in the study had two problems: physical and psychological. First, the physical problems; stroke, pain radiating to the leg of the waist, often tingling in the feet and hands, high blood pressure, dizziness, disturbed sleep patterns, and cholesterol. The elderly coping behaviors undertaken to overcome the physical problems are; Planful problem solving, distancing, self-control, and Positive reappraisal. Second, psychological problems, namely; feel lonely and sad. The forms of coping that they did; Seeking social support, Escape-avoidance, and Positive reappraisal. Broadly speaking elderly coping behavior decreased motion and function can be classified into two forms; (1) Problem focused copying, with the form; Planfull problem solving, seeking social support, Positivereappraisal and (2) Emotion focused copying the shape; Distancing, self control, avoidance Escape.
SELEKSI HABITAT LUTUNG JAWA (Trachypithecus auratus E. Geoffroy SaintHilaire, 1812) DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI ) Ayunin, Qurrotu; Pudyatmoko, Satyawan; Imron, Muhammad Ali
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2014.11.3.261-279

Abstract

Penurunan populasi lutung jawa (Trachypithecus auratus  E. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812) yang disebabkan oleh perburuan dan degradasi habitat membutuhkan penangangan konservasi sesegera mungkin. Upayakonservasi dapat dilakukan secara efektif dan efisien, jika kebutuhan satwa tersebut diketahui. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat yang disukai lutung jawa di level area jelajah dan tapak mikro. Penelitian dilakukan di Taman Nasional Gunung Merapi. Metode penelitian adalah dengan analisis vegetasi pada tingkat pohon dan tiang di plot yang tersedia, yang disusunsecara sistematis (metode systematic sampling, jarak antar plot 300 m) dengan intensitas sampling 0,45% serta pada plot yang digunakan, yang diidentifikasi dengan metode pencarian dengan sampling.Uji Chi kuadrat dilakukan untuk mengidentifikasi terjadinya seleksi habitat. Regresi logistik dilakukan untuk memprediksi variabel yang memengaruhi probabilitas kehadiran lutung jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik habitat yang diseleksi lutung jawa di level area jelajah adalah: berada pada ketinggian 1.500-2.000 m dpl, kelerengan lebih dari 45%, LBDS pohon tinggi, pohon pakan melimpah dan jauh dari gangguan manusia. Berdasarkan analisis regresi logistik, probabilitas kehadiran lutung jawa  meningkat dengan semakin meningkatnya LBDS pohon, jumlah pohon pakan, ketinggian dan jarak dari gangguan. Probabilitas kehadiran lutung jawa  semakin menurun jika jumlah pohon semakin banyak dan jauh dari sungai
THE EFFECT OF THINK PAIR SHARE (TPS) LEARNING MODEL WITH PROBLEM SOLVING APPROACH ON THE STUDENT'S MATH COMMUNICATION IN MA DA JAROWARU " Samsuriadi, Samsuriadi; Imron, Muhammad Ali
Malikussaleh Journal of Mathematics Learning (MJML) Vol 2, No 1 (2019): May
Publisher : Universitas Malikussaleh, Aceh Utara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/mjml.v2i1.2125

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of Think Pair Share (TPS) learning models with problem solving approaches. The approach used in this research is a qualitative approach with the type of experimental research "The effect of Think Pair Share (TPS) learning model with problem solving approach to students' mathematical communication in MA DA Jerowaru. Model Pair Pair Share (TPS), as the name "Thinking" learning begins with the teacher asking questions or issues related to the lesson for students to think about, "pairing", at this stage the teacher asks students to pair up pairs. Give the couple a chance to discuss. It is hoped that this discussion will be able to deepen the meaning of the answers they have thought through intersubjectives with their partners. The results of intersubjective discussions in each pair of results are discussed with the whole class pair. This stage is known as "sharing" in this activity. It is expected that question and answer will occur which encourages the integrative management of knowledge. Added to this is the emphasis on problem solving, namely the Problem Solving approach. Problem Solving is an approach that teaches students how to solve a problem. Meanwhile, according to Heriawan (in Istiqoma and Rusdi, 2012: 92). Problem Solving is a way of presenting learning material by making problems as a starting point for discussion to be analyzed in an effort to find solutions or answers by students.
Semi-Commercial and Traditional Hunting of Baar Tribe in Riung, Flores, East Nusa Tenggara Kayat, Kayat; Pudyatmoko, Satyawan; Imron, Muhammad Ali; Maksum, Muchammad
Indonesian Journal of Environment and Sustainable Development Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Graduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.091 KB)

Abstract

ABSTRACTHunting is one of the aspects that influence number of wild animals. The article aims at describing semi-comercial and traditional hunting concept of Baar Tribe in East Nusa Tenggara as an alternative for wild animal conservation.  The data collection methods are guided interview, in-depth interview and participant observation. The findings show that in the semi-comercial and traditional hunting concept of Baar Tribe in East Nusa Tenggara, traditional wisdom is represented by hunting techniques and equipments. It is likely that rapid semi-commercial hunting conducted by certain members of Baar tribe causes sharp decline in the population of wild animals. On the other hand, annual traditional hunting which strictly follows traditional code of conduct can maintain Timor deer population in Timor.Keywords: hunting, population, semi-commercial, traditional, Timor deer