Articles

Found 27 Documents
Search

DAUR TEBANG OPTIMAL HUTAN RAKYAT GMELINA (Gmelina arborea Roxb.) DI TASIKMALAYA DAN BANJAR, JAWA BARAT, INDONESIA Indrajaya, Yonky; Siarudin, M
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2015.12.2.111-119

Abstract

Penentuan daur tebang hutan tanaman termasuk hutan rakyat merupakan langkah penting dalam rangka memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dalam pengusahaan hutan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daur tebang optimal hutan rakyat gmelina di Tasikmalaya dan Banjar, Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari kayu gmelina semua daur. Jenis data yang dikumpulkan adalah data pertumbuhan tegakan dan ekonomi. Data pertumbuhan tegakan dikumpulkan melalui pengukuran di lapangan dan data ekonomi didapatkan melalui wawancara dengan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan: a) daur optimal biologis tegakan gmelina adalah delapan tahun; b) daur Faustmann tegakan gmelina adalah 10,5 tahun; c) panjang daur Faustmann berbanding terbalik dengan harga kayu, suku bunga riil dan penurunan produksi kayu, serta berbanding lurus dengan biaya pembuatan tanaman hutan
DAUR FINANSIAL HUTAN RAKYAT JABON DI KECAMATAN PAKENJENG, KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Indrajaya, Yonky; Siarudin, Mohamad
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SPATIAL DISTRIBUTION OF CROP OF PRODUCING CAJUPUT OIL IN WASUR NATIONAL PARK Junaidi, Edy; Winara, Aji; Siarudin, Mohamad; Indrajaya, Yonky; Widiyanto, Ary
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1880.832 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp101-113

Abstract

The utilization of cajaput tree species for cajuput oil production in the Wasur National Park (NP) should be supported by accurate data and information. It becomes important because uncontrolled exploitation can lead to disruption of the national park function. This study aims to determine the spatial distribution of three cajuput tree species, i.e Asteromyrtus symphyocarpa, Melaleuca cajuputi and Melalueca viridiflora existed in Wasur NP region. The results of this study showed that, in general, the distribution of those three cajuput oil species mostly in Yanggandur area. They are mainly concentrated around the Yanggandur village, Mbembi village, Wasur village and Sota village. Those species were mostly found around wamps, especially in the Sermayam, Rawa Buaya and Rawa Biru. The total area of those three species was 103,011.75 ha, which was dominated by A.symphyocarpa (8.30% of the total area of the NP), followed by M.cajuputi (8.27% of the total area of the NP) and M.viridiflora (7.03% of the total area of the NP). In general, A. symphyocarpa dominantly grow on type of Kambisol soil, where as M.cajuputi and M.viridi flora dominantly grow on soils type of Kambisol and Gleysol.
DRY LAND AGROFORESTRY PRACTICES IN MENOREH HILLS, KULON PROGO Hani, Aditya; Indrajaya, Yonky; Suryanto, Priyono; Budiadi, Budiadi
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 38, No 2 (2016): JUNE
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v38i2.416

Abstract

Private forest in Java Island is mainly managed by Agroforestry (AF) system. There are three levels in AF systems: early AF, middle AF, and advance AF. The land productivity in AF system by villagers is mostly low because of inappropriate AF practice. The objective of this research is to analyze the land management practice in Menoreh hills, Kulon Progo, Yogyakarta. The study was conducted in Giripurwo Village, Kulon Progo. Stratifed sampling with purposive sampling was used in this study. Total of twelve plots were determined in every AF levels. Studies conducted in every plot includes the species composition and soil fertillity. The results showed that: (1) Tree composition in early and middle AF is dominated by woody tree (Sengon), while in advance AF is dominated by non-timber forest product (clove), (2) Low soil fertility in the study area is caused by high intensity of biomass harvesting and low fertilization dosage applied, (3) The increment of land productivity could be achieved by increasing the biomass input to the soil from organic fertilizer and crop waste.
DINAMIKA KARBON HUTAN ALAM DIPTEROKARPA DATARAN RENDAH DALAM SISTEM SILVIKULTUR TPTI BARU DI KALIMANTAN TENGAH Indrajaya, Yonky
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laju degradasi hutan alam berkontribusi cukup besar terhadap tingginya emisi karbon yang terjadi di Indonesia. Perubahan sistem silvikultur TPTI dengan penurunan daur tebangan dan diameter yang dapat ditebang berpotensi untuk meningkatkan degradasi hutan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika cadangan karbon yang terjadi pada hutan alam produksi apabila dilakukan kegiatan pembalakan dengan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) 2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah matriks transisi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: (1) karbon tersimpan dalam biomassa hutan yang dikelola dengan sistem TPTI baru dengan daur 30 tahun lebih rendah dibandingkan karbon tersimpan dalam biomassa hutan yang dikelola dengan sistem TPTI lama dengan daur 36 tahun, dan (2) peningkatan intensitas tebangan menyebabkan perbedaan karbon tersimpan dalam biomassa yang semakin tinggi antara sistem TPTI lama dan baru.
PERBANDINGAN MODEL KERUSAKAN TEGAKAN TINGGAL DI HUTAN ALAM DIPTEROCARP UNTUK MENDUKUNG MEKANISME REDD PLUS Indrajaya, Yonky
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan model kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan pembalakan hutan alam dilakukan untuk mengetahui pengaruh pohon ditebang terhadap kerusakan yang terjadi. Beberapa model kerusakan tegakan tinggal antara lain: (1) kerusakan tetap dan tidak terpengaruh oleh jumlah pohon ditebang, (2) kerusakan tegakan tinggal dipengaruhi oleh jumlah pohon yang ditebang dengan proporsi kerusakan sama untuk semua kelas diameter, dan (3) matriks kerusakan, dimana proporsi kerusakan tegakan tinggal dipengaruhi oleh jumlah pohon ditebang dan berbeda tingkat kerusakannya untuk tiap kelas diameter. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis model-model kerusakan tegakan tinggal dan pengaruhnya terhadap pengelolaan hutan khususnya cadangan karbon hutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembangunan model matriks kerusakan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) model 1 memberikan hasil yang overestimate terhadap kerusakan yang terjadi pada teknik pembalakan CL, (2) model 2 memberikan hasil yang underestimate terhadap kerusakan tegakan tinggal pada teknik pembalakan konvensional (CL), dan (3) model 3 memberikan gambaran yang lebih nyata akan proporsi kerusakan yang terjadi akibat kegiatan pembalakan.
KARBON TERSIMPAN DALAM PRODUK KAYU SENGON MENGGUNAKAN BEBERAPA MODEL OKSIDASI Indrajaya, Yonky
Jurnal Agroforestri Indonesia Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Balai Litbang Teknologi Agroforestry, Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.615 KB) | DOI: 10.20886/jai.2019.2.2.91-102

Abstract

Harvested wood product is one of the carbon pools that need to be considered in calculating carbon emission related to forestry sector. There are several models of wood product retirement based on scientific based experiment: linear, logistic, and exponential. The application of these models in wood product pool calculation may result in different amount of carbon stored in wood product, and hence may result in different management regime of a plantation forest. This paper aims to analyze how different models of wood product oxidation result in different amount of carbon stored in sengon wood product and may cause different optimal management of sengon plantation. The models used in this paper include linear (VCS model), exponential (Winjum), and logistic (Miner et al model.). The focus of the paper is only for long term wood product that is oxidized until 100 years. The results of the study show that the lowest greenhouse gases (GHG) emissions from end use wood product of sengon are those estimated by linear, logistic, and exponential respectively.
Alokasi Pengeluaran Rumah Tangga Penyadap Getah Pinus di Desa Somagede, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah Cahyono, S. Andy; Nugroho, Nunung Puji; Indrajaya, Yonky
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.45 KB) | DOI: 10.22146/jik.1538

Abstract

Expenditure Allocation of Resin Tapper`Households in Somagede Village, Kebumen Regency, Central JavaPine forest has contributed to local people economy, especially the resin tappers. Increasing income will raise the household expenditure both of consumptive and productive needs. This research was aimed to assess the expenditure allocations of resin tappers’ household and to identify the factors affecting them.Survey method was adopted in this research to collect the primary data of 30 respondents. The collected data was analyzed both quantitatively and qualitatively. Multiple linear regression model was applied to figure out the factors affecting the expenditure allocations of resin tappers’ household.The results of the study indicated that the expenditure of resin tappers’ household reached to Rp 2,366,459 per annum and 58,08% of it was food and beverage expenditure. The expenditure allocations were affected significantly by tappers’ age, food and beverage expenditure, and farm land size. The tappers’ age, food and beverage expenditure had a positive effect whereas farm land size had a negative effect on the household expenditure. 
Perbandingan Model Kerusakan Tegakan Tinggal di Hutan Alam Dipterocarp Untuk Mendukung Mekanisme REDD Plus Indrajaya, Yonky
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2015.1.2.89-98

Abstract

Pembangunan model kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan pembalakan hutan alam dilakukan untuk mengetahui pengaruh pohon ditebang terhadap kerusakan yang terjadi. Beberapa model kerusakan tegakan tinggal antara lain: (1) kerusakan tetap dan tidak terpengaruh oleh jumlah pohon ditebang, (2) kerusakan tegakan tinggal dipengaruhi oleh jumlah pohon yang ditebang dengan proporsi kerusakan sama untuk semua kelas diameter, dan (3) matriks kerusakan, dimana proporsi kerusakan tegakan tinggal dipengaruhi oleh jumlah pohon ditebang dan berbeda tingkat kerusakannya untuk tiap kelas diameter. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis model-model kerusakan tegakan tinggal dan pengaruhnya terhadap pengelolaan hutan khususnya cadangan karbon hutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembangunan model matriks kerusakan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) model 1 memberikan hasil yang overestimate terhadap kerusakan yang terjadi pada teknik pembalakan CL, (2) model 2 memberikan hasil yang underestimate terhadap kerusakan tegakan tinggal pada teknik pembalakan konvensional (CL), dan (3)  model 3 memberikan gambaran yang lebih nyata akan proporsi kerusakan yang terjadi akibat kegiatan pembalakan.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PADA HUTAN KAYU PUTIH DAN PEMANFAATANNYA OLEH MASYARAKAT SETEMPAT DI TAMAN NASIONAL WASUR, PAPUA Winara, Aji; Siarudin, Mohamad; Junaidi, Edy; Indrajaya, Yonky; Widiyanto, Ary
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2017.14.1.1-19

Abstract

ABSTRACTCajuput (Melaleuca spp. and Asteromyrtus spp.) are widely spread throughout the Wasur National Park forming the cajuput forest. The information on biodiversity level and the ecological condition of cajuput forest are less studied for the last 10 years, especially the condition of vegetation after the utilization of Asteromyrtus symphyocarpa for cajuput oil materials. This study aims to determine the vegetation and diversity of plant species in the cajuput forests in Wasur National Park. The method used in this study is vegetation analysis using line transect and interview. The study was conducted during April-May 2012. The results of this study showed that there were 23 plant species from 10 families dominated by the family of Myrtaceae found in cajuput forests with relatively low to moderate level of biodiversity indices. There are six species identified as the cajuput oil producers: A. symphyocarpa, Asteromyrtus brasii, Melaleuca cajuputi, Melaleuca leucadendra, Melaleuca viridiflora and Melaleuca sp. ”sunggi” which are spread in three formations of cajuput forest namely Asteromyrtus symphyocarpa forest, Melaleuca sp. "sunggi" forest and mix savanna. Local people use plants for house constructions, fuel wood, medicines and cultural equipment. The only economic income generated from the Park is from the sales cajuput oil materials from Asteromyrtus symphyocarpa which has low pressure on species sustainability.Key words: Cajuput, species diversity, utilization, Wasur National Park. ABSTRAKKayu putih (Melaleuca spp. dan Asteromyrtus spp.) tersebar luas di kawasan Taman Nasional Wasur membentuk hutan kayu putih. Tingkat keanekaragaman jenis dan kondisi ekologi hutan kayu putih sejak sepuluh tahun terakhir belum diketahui, khususnya pasca pemanfaatan jenis Asteromrtus symphyocarpa sebagai bahan baku minyak kayu putih oleh masyarakat di dalam kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi vegetasi dan keanekaragaman jenis tumbuhan pada hutan kayu putih serta pemanfaatannya oleh masyarakat lokal di Taman Nasional Wasur. Metode yang digunakan adalah analisis vegetasi dengan teknik jalur garis berpetak dan wawancara. Penelitian dilakukan pada bulan April dan Mei 2012. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 jenis tumbuhan dari 10 famili ditemukan pada hutan kayu putih dengan tingkat keanekaragaman hayati tergolong rendah hingga sedang. Terdapat enam jenis tumbuhan yang diketahui sebagai penghasil minyak kayu putih antara lain A. symphyocarpa, Asteromyrtus brasii, Melaleuca cajuputi, Melaleuca leucadendra, Melaleuca viridiflora dan Melaleuca sp.”sunggi” yang tersebar pada tiga formasi hutan yaitu hutan Asteromyrtus symphyocarpa, hutan Melaleuca sp.”sunggi” dan savana campuran. Pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat lokal sebagian besar untuk kepentingan perlengkapan rumah, kayu bakar, obat, dan perlengkapan adat. Pemanfaatan ekonomi hanya jenis A. symphyocarpa sebagai bahan baku minyak kayu putih dengan pemanfaatan yang tidak menganggu kelestarian jenis.Kata kunci : Kayu putih, keanekaragaman jenis, pemanfaatan, Taman Nasional Wasur.