Articles

Found 28 Documents
Search

THE EFFECT OF TEMPERATURE ON THE PHYSIOLOGICAL CONDITION AND GROWTH PERFORMANCE OF FRESHWATER EEL ELVER ANGUILLA BICOLOR BICOLOR MCCLELLAND, 1844 Fekri, Latifa; Affandi, Ridwan; Rahardjo, Muhammad Fajar; Budiardi, Tatag; Simanjuntak, Charles Parningotan Haratua; Fauzan, Tezza; Indrayani, Indrayani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3406.807 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.181-190

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the effect of water temperature on the physiological condition and growth performance of freshwater eel elver Anguilla bicolor bicolor (McClelland, 1844). This study was conducted in March 2017 at the Physiology Laboratory of Aquatic Animal, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University. The study used a completely randomized design with five different levels of temperature (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, and 30°C) as treatments with two replications. The size of elver was 2?3 g. Fish were fed with 1 mm pellet containing 45% of protein. The feeding level was 7 % of fish biomass and the feeding frequency was two times a day. The results showed that temperatures range from 24?30°C could be used for freshwater eel elver rearing and 28?30°Cwere the best temperatures to support survival and growth performance of eel elver. A temperature of 24°C was the best temperature that could reduce the metabolism rate and did not cause stress on the elver. Keywords: elver, physiological conditions, growth performance, metabolism, temperature  ABSTRAK Penelitian dengan tujuan menganalisis pengaruh suhu terhadap kondisi fisiologis dan kinerja pertumbuhan elver ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844) telah dilakukan pada bulan Maret 2017 di Laboratorium Fisiologi Hewan Air FPIK IPB. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan suhu berbeda (22°C, 24°C, 26°C, 28°C, dan 30°C) dengan masing-masing dua ulangan. Ukuran benih yang digunakan 2?3 g. Pakan yang diberikan berupa pellet berukuran 1 mm dengan kadar protein 45%. Jumlah pakan yang diberikan (FR) adalah 7% dari biomassa ikan dan diberikan dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran suhu 24?30°C dapat digunakan dalam pemeliharaan elver ikan sidat, dan suhu 28?30°C merupakan suhu yang sangat baik untuk mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan elver ikan sidat. Suhu media 24°C adalah suhu terbaik yang dapat menekan laju metabolisme dengan tidak menyebabkan stres pada elver ikan sidat. Kata kunci: elver, kondisi fisiologis, kinerja pertumbuhan, metabolisme, suhu  
TINJAUAN PERANCANGAN RUAS JALAN PAMPANGAN LEBUNG BATANG KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN ( 7-13 ) Pratama, Bagaskara; Imanullah, Adrienta; Sulianti, Ika; Prabudi, Darma; Indrayani, Indrayani
PILAR Vol 14, No 2 (2019): Pilar: September 2019
Publisher : PILAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.095 KB)

Abstract

Pembangunan infrastruktur dari suatu daerah merupakan tolak ukur dari perkembangan otonomi daerah. Pembangunan jalan pada suatu ruas jalan disebabkan oleh kebutuhan, juga meningkatnya jumlah kendaraan yang melewati suatu daerah tersebut. Kebutuhan yang dimkasudkan seperti jalan telah rusak ataupun tidak ada akses jalan sama sekali untuk menuju kesuatu daerah seperti yang terjadi di Ruas Jalan Pampangan ? Lebung Batang STA 0+000 ? 6+039 Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan ini.Didalam merencanakan desain geometrik jalan raya, hal-hal yang menjadi acuan dalam perencanaan meliputi perhitungan alinyemen horizontal, alinyemen vertikal, serta menetapkan perkerasan apa yang akan digunakan.Dari hasil perhitungan-perhitungan diatas maka Jalan Pampangan-Lebung Batang ini merupakan jalan Arteri kelas I dengan kecepatan rencana jalan 60 km/jam, dan pada jalan ini menggunakan 4 buah tikungan diantaranya, 4 Full Circle, 2 Spiral Circle Spiral dan 2 Spiral Spiral. Lapisan permukaan jalan menggunakan Perkerasan Rigid dengan tebal lapisan 29,5 cm, sedangkan lapisan pondasi bawah menggunakan Lean Concrete dengan tebal 10 cm dan Aggregat Kelas A dengan tebal lapisan 15 cm. Pembangunan ruas jalan ini dilaksanakan dalam waktu 266 hari kerja dengan total dana Rp 123.828.951.800,00 (Seratus Dua Puluh Tiga Miliyar Delapan Ratus Dua Puluh Delapan Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Satu Ribu Delapan Ratus Rupiah)Kata kunci : Jalan, Desain Geometrik, Tebal perkerasan kaku
PENGARUH PENERAPAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI TERHADAP KUALITAS OUTPUT SISTEM INFORMASI AKUNTANSI DAN SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PADA PERUSAHAAN BUMN PENGGUNA SISTEM ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP) DI KOTA LHOKSEUMAWE Indrayani, Indrayani; Maulidahniar, Maulidahniar
Jurnal Telaah dan Riset Akuntansi Vol 10, No 2 (2017): Jurnal Telaah & Riset Akuntansi
Publisher : Program Magister Akuntansi Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.797 KB)

Abstract

This research conducted to analyze the implementation of Accounting information system that integrated with Enterprise Resource Planning (ERP) system toward output quality of Accounting information system and the influence of Accounting information system that integrated with Enterprise Resource Planning (ERP) system toward the internal control system. The population of this research was all Indonesian State Owned Enterprises in Lhokseumawe city. The sample was taken by applying Purposive sampling technique and there were 5 enterprises that implement Enterprise Resource Planning (ERP) in Lhokseumawe chosen as the sample.  The respondents were 30 people. The data used in this research was primary data in form of questionnaire. The method of data analysis was Multiple linear regression using SPSS. The result indicated that the Accounting information system that integrated with Enterprise Resource Planning (ERP) system influenced positively and significantly on the output quality of the Accounting Information system, and the implementation of Accounting information system that integrated with the Enterprise Resource Planning (ERP) system influenced positively and significantly on the internal control system of enterprise.KEYWORDS : Accounting Information System, Enterprise Resource Planning (ERP), Output Quality of Accounting Information System and Internal Control System.
KECERNAAN IN VITRO SILASE SAMPAH SAYUR DAN DAUN GAMAL MENGGUNAKAN MIKROORGANISME RUMEN KAMBING Indrayani, Indrayani
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 1, No 4 (2015): Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis (JITRO)
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.169 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenaan bahan kering dan bahan organik tingkat campuran silase sampah sayur dan daun gamal yang diuji secara in vitro. Penelitian ini menggunakan  Rancangan  Acak  Lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Masing-masing perlakuan tersebut ialah R0 (daun gamal 100%), R1 (daun gamal 70%  + silase sampah sayur 30%), dan R2 (daun gamal 40% + silase sampah sayur 60%). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa campuran silase sampah sayur berpengaruh sangat nyata (p<0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kecernaan bahan organik. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan campuran silase sampah sayur dan daun gamal dapat meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik, perlakuan 40% daun gamal dan 60% silase sampah sayur menghasilkan persentase kecernaan bahan kering dan bahan organik yang terbaik yaitu (72,24% dan 68,19%).   Kata kunci : Silase sampah sayur, daun gamal, kecernaan bahan kering, dan bahan organik.
Status Teknologi dan Prospek Beauveria bassiana Untuk Pengendalian Serangga Hama Tanaman Perkebunan SOETOPO, DECIYANTO; INDRAYANI, INDRAYANI
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n1.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPengendalian hama dengan insektisida kimia telah menimbulkan banyak masalah lingkungan, terutama rendahnya  kepekaan  serangga  terhadap  insektisida kimia, munculnya hama sekunder yang lebih berbahaya, tercemarnya tanah dan air, dan bahaya keracunan  pada  manusia yang melakukan kontak langsung dengan insektisida kimia. Salah satu alternatif pengendalian yang cukup potensial adalah penggunaan patogen serangga, khususnya cendawan B. bassiana.  Mekanisme infeksinya yang secara kontak melalui kutikula dan tidak perlu tertelan oleh serangga menyebabkan  B.  bassiana  menjadi  kandidat  utama untuk digunakan sebagai agen pengendalian berbagai spesies serangga hama, baik yang hidup pada kanopi tanaman maupun yang di dalam tanah.  Rata-rata patogenisitasnya terhadap hama sasaran cukup tinggi, sehingga pemanfaatannya dalam pengendalian serangga  hama  perkebunan,  seperti  kapas,  kelapa sawit, lada, kelapa dan teh memiliki prospek sangat baik. Untuk pengendalian ulat penggerek buah kapas, Helicoverpa armigera telah ditemukan dua strain isolat, yaitu Bb4a dan BbEd10 yang efektif membunuh 80-87,5% ulat H. armigera hasil uji di laboratorium, dengan masing-masing LT50 mencapai 8,96-9,62 hari dan 19,69-22,27 hari dibanding strain B. bassiana yang lain (19-48 hari).  B. bassiana juga efektif untukm pengendalian serangga   hama kelapa sawit(Darna  catenata), penggerek batang lada (Lophobaris piperis), dan ulat pemakan tanaman teh (Ectropis bhurmitra). Konidia B. bassiana dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada kanopi tanaman, ditaburkan pada permukaan tanah, atau dicampur dengan tanah atau kompos. Temperatur dan kelembaban adalah faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan konidia B. bassiana, tetapi cahaya melalui panjang gelombang sinar ultraviolet juga berpotensi merusak konidia sehingga aplikasi pada pagi (< pkl. 08.00) atau sore hari (> pkl. 15.00) dapat menghindari kerusakan. B. bassiana aman bagi serangga bukan sasaran, terutama serangga berguna dan musuh alami. Temperatur dan kelembapan yang lebih stabil pada ekosistem tanaman perkebunan akan sangat mendukung peran B. bassiana dalam pengendalian hama utama tanaman perkebunan sehingga prospek pengembangannya sangat baik.Kata   kunci:   Beauveria   bassiana,   status   teknologi, prospek, hama perkebunan.  ABSTRACTStatus, technology and prospect of ecofriendly entomopathogenic fungus B. bassiana against insect pests of estate cropsChemical insecticides for pests control are causing environmental    problems,    such    as    reducing susceptibility of insect pests to a number of chemical insecticides, outbreaks of secondary pest, air and soil pollution, and human poisoned due to directly contact with the pesticides. Insect pathogen, a pest control bioagent, can be used as an alternative component control for reducing of chemical insecticide usage.  The entomopathogenic fungi, B. bassiana (Bals.) Vuill. is currently being developed as a potential of alternative bioinsecticide. Mode of action of the fungi is initially started  by  adhesion  and  penetrating  of  the  spore through insect cuticule, and its mycelium then develop inside the insect body prior the insect death. Its conidia will grow soon after the insect die. High pathogenicity will show when B.  bassiana expose to appropriate target pests.  Several Indonesian strains and isolates of B. bassiana have been proven to be pathogenic against several major insect pests of cotton, oil palm, pepper, coconut and tea. Two B. bassiana isolates, viz. Bb4a and BbEd10  were  found  to  be  effective  against  cotton bollworm, H. armigera with the average percentage of mortality by 80-87.5% based on laboratory study.  Both the LT50  and LT90 of the two isolates were 8.96-9.62 days and 19.69-22.27 days, respectively and these LT were shorter than that of other isolate, Fb4 (19-48 days).  B. bassiana  was also effective for control of the oil palm larvae (D. catenata), pepper stem borer (L. piperis),  and  tea  leaf  caterpillar (E.  bhurmitra).    B. Status, Teknologi, dan Prospek B. Bassiana  Untuk Pengendalian Serangga Hama (D.Soetopo dan IGAA Indrayani) bassiana can be applied by spraying method over the plant canopy, applied as soil treatment, or by mixing the conidia with compost. Temperature and humidity are the abiotic factors that able to influence the growth of conidia. B. bassiana spore is less active or even inactive when directly exposed to ultraviolet, therefore spraying conidia in the early morning (< 08.00 a.m) or in the evening (> 15.00 p.m) may avoid the reduction of conidia activity. B. bassiana is also safe to non-target insect including beneficial insect and natural enemies. Temperature  and  humidity  are  more  stabil  within estate plantation ecosystem and both will support the fungus  epizootic  development.  Therefore  using  B. bassiana seems to hold great promise in controlling the major insect pests of estate crops.Key words: Beauveria bassiana, status of technology, prospect, insect pest, estate crops.
Comparison Analysis of CBR Value Enhancement of Soil Type in Swamp Area by Addition of Fly Ash Indrayani, Indrayani; Herius, Andi; Hasan, Arfan; Mirza, Ahmad
Science and Technology Indonesia Vol 3 No 2 (2018): April
Publisher : ARTS Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.339 KB) | DOI: 10.26554/sti.2018.3.2.73-76

Abstract

Roads was built on swamp areas should be consider the condition of the base soil, since the characteristics of the soil in swamp areas have always inundated and have a low soil carrying capacity (Subagyo, 2006).  One of effort that could be done to improve the existing soil condition was used fly ash as a material for soil stabilization (Indera et al, 2016; Mina et al, 2016). This study was conducted to analyze the enhancement of CBR value on various soil types in swamp area by the addition of fly ash. Testing on the values of index properties, compaction, and CBR values was done in laboratory base on ASTM and AASHTO standars.  The test results show that the type of soil at the location of the sampling is silty or clay gravel and sand, clay soil, and silty soil.  The reduction of optimum water content  after the addition of fly ash is the highest decrease of  20.92%. While the highest increase of dry content weight after the addition of fly ash was 0.904 gr / cm3. An enhancement in the value of CBR by the addition of 20% fly ash in the study area, however the increase magnitude depends on the existing soil types, ie 7.99% in the silty or clay gravel and sand, 6 - 8% in the clay soil and 0,22 - 5% on silty soil. This indicates that the addition of fly ash was the optimum used on the type of clay soil.
KAJIAN HUKUM KETERLAMBATAN MEMBAYAR (WANPRESTASI) DEBITUR DALAM PERJANJIAN SEWA BELI MENURUT ATURAN HUKUM YANG BERLAKU Indrayani, Indrayani
LEX ET SOCIETATIS Vol 7, No 10 (2019): Lex Et Societatis
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitoian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konsep prestasi dan wanprestasi dalam KUHPerdata ?dan bagaimana kajian hukum keterlambatan membayar debitur dalam perjanjian sewa beli menurut aturan hukum yang berlaku. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normative, disimpulkan: 1. Prestasi adalah sesuatu yang wajib dipenuhi oleh debitur dalam setiap perikatan. Prestasi adalah objek perikatan. Dalam hukum perdata kewajiban memenuhi prestasi selalu disertai jaminan harta kekayaan debitur. Dalam Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata dinyatakan bahwa harta kekayaan debitur baik yang bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan pemenuhan utangnya terhadap kreditur. 2. Wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat kreditur dan debitur dan mempunyai hubungan erat dengan somasi. Dalam perjanjian sewa beli tidak dikenal istilah terlambat membayar angsuran, yang ada adalah debitur atau penyewa beli lalai membayar angsuran sewa beli seperti yang telah ditentukan (wanprestasi), akibatnya adalah dia diwajibkan membayar ganti kerugian berupa denda yang jumlahnya telah ditetapkan untuk setiap kali kelalaian itu dan pembayaran bunga atas keterlambatan pembayaran angsuran pada perjanjian sewa beli tersebut. Hal ini berlaku pada setiap perjanjian sewa beli termasuk perjanjian sewa beli kendaraan bermotor.Kata kunci: Kajian Hukum, Keterlambatan Membayar, Debitur, Perjanjian Sewa Beli, Hukum Yang Berlaku
LEARNING MANAGEMENT OF FAMILY EDUCATION THROUGH PARENTING CLASS TO IMPROVE PARENT’S POSITIVE PARENTING ABILITY (Case Study at PKBM Melati Jayagiri, West Bandung District) indrayani, indrayani
Empowerment Vol 7, No 2 (2018): Volume 7, No 2, September 2018
Publisher : IKIP Siliwangi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.879 KB) | DOI: 10.22460/empowerment.v7i2p%p.882

Abstract

Abstract The main purpose of this study is to analyze the learning management of family education through parenting class to improve parent’s positive parenting ability conducted in Melati Jayagiri Community Learning Center (CLC/PKBM), Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.The study used qualitative approach and descriptive method. The research subjects were 5 persons, consisted of 3 community learning center’s students (WB1, WB2 and WB3) and triangulation from the informants coming from 1 CLC manager (P1) and 1 CLC educator (NS1). The study taken place in Melati Jayagiri Community Learning Center, Jayagiri Village, District Lembang, West Bandung regency. As the results of the study, the following data are obtained: 1) The lesson plans were designed by managers and educators after conducting needs assessments, after that learning objectives were determined, lessons and tools related to learning elements were prepared, 2) Parenting class was conducted with  positive parenting as the main learning materials, and the supporting materials were conveyed in the form of storytelling, (b) the learning approach used was participative-andragogy, (c) the learning methods/ techniques used were discussions, lectures, practices and frequently asked questions and demonstrations, (d) the learning media were laptops, LCD, speakers (e) evaluation, (f) follow-up and (g) learning environment, 3) the Learning outcomes consisted of (a) cognitive, (b) affective,and  (c) psychomotoric, all aspects indicating progressive improvement.  The research recommends mutual wider partnership with other Early Childhood Education’s stakeholders for better management of this parenting class in the future.Keywords: family education, positive parenting, learning, management
PERTUMBUHAN IKAN LELE (CLARIAS SP.) PADA SALURAN DRAINASE LAHAN GAMBUT Yusnaini, Yusnaini; Nur, Indriyani; Pangerang, Utama K.; Patadjai, Rahmad S.; Indrayani, Indrayani
JSIPi (Jurnal Sains dan Inovasi Perikanan) (Journal of Fishery Science and Innovation) Vol 3, No 2 (2019): JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsipi.v3i2.9980

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengamati pertumbuhankelangsungan hidup dan kondisi biologi ikan lele (Clarias sp), yang dibudidayakan pada saluran drainase rawa gambut Desa Lalolae Kabupaten Kolaka Timur. Wadah budidaya berupa karamba jaring tancap (pen culture), berukuran panjang 5,0 m, lebar 2,4 m dan tinggi 1,2 m, mata jaring 0,5 cm. Wadah budidaya ditempatkan pada sejajar pada saluran drainase. Benih ikan lele berukuran 2,5-3,5 g, diberi pakan buatan 2-3% dari bobot tubuh/hari yang mengandung protein >20%. Pertumbuhan mutlak ikan lele pada hari pemeliharaan ke-36, 120 dan 156 masing-masing 22,1 g; 63,8 g dan 29.905 kg. Kelangsungan hidup ikan menurun, mulai hari ke-36 (89,33%), hari ke-120 (65,38%) dan dipanen sebanyak 61,66%. Produksi ikan lele di drainase lahan gambut sebesar 5,1 kg/m2. Kualitas air seperti pH 4.8-5,9 dan suhu 26-32oC. Ikan lele merupakan komoditas yang potensial dibudidayakan sebagai komoditas alternatif pada saluran drainase lahan gambut.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN KONTRASEPSI VASEKTOMI Indrayani, Indrayani
Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol 1, No 1: Maret 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKBIDYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pertumbuhan penduduk Indonesia yang tidak terkendali akan menimbulkan banyak masalah kependudukan. Rendahnya partisipasi pria dalam keluarga berencana dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya faktor demografi, faktor struktur sosial, faktor pasangan, dan faktor ketersediaan sumber daya kesehatan. Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi vasektomi yang belum diketahui. Untuk mendapat- kan informasi lain mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan vasektomi, maka kami melakukan pene- litian dengan metode mixed method.Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah mixed methods dengan pendekatan concurrent embed- ded dan strategi eksplanatoris. Data kuantitatif dikumpulkan dengan kuesioner. Untuk pengumpulan data kualitatif dilakukan wawancara mendalam pada responden, istri responden dan PLKB yang terpilih dengan menggunakan panduan wawancara. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis, untuk metode kuantitatif menggunakan analisis deskriptif terhadap karakteristik responden. Untuk metode kualitatif, informasi dari subjek penelitian dicatat dalam bentuk transkrip, kemudian diberi koding dan dikelompokkan menjadi kategori serta tema.Hasil: Berdasarkan data yang terkumpul dari 53 responden didapatkan sebagian besar responden berada pada kelompok umur 41-50 tahun (39,6%); sebagian besar responden memiliki jumlah anak >3 orang (75,5%); mayoritas responden berpendidikan SD (90,6%); seluruh responden beragama Islam (100%); sebagian besar berpenghasi- lan ≥ UMR (75,5%); seluruh responden mendapatkan dukungan dari istri (100%); dan sebagian besar responden mendapatkan informasi dari PLKB (73,6%). Tanggapan akseptor terhadap stigma berkaitan dengan faktor agama, seksual, tindakan medis dan psikologi sedangkan alasan responden memilih vasektomi diantaranya karena faktor pasangan, ekonomi dan panutan.Simpulan: Panutan merupakan faktor lain yang dapat memengaruhi keputusan pria untuk menjalani vasektomi di Desa Kiarapedes.ABSTRACTBackground: The low participation of men in family planning is influenced by many factors, including demographic factors, social structure factors, family factors, and the availability of health resources. There are many other factors that influence the selection of contraceptive vasectomy is not yet known. For additional information concerning fac- tors that influence the choice of a vasectomy, we conducted a study with mixed methods method.Objective: To know factorsaffectingvasectomycontraceptionin the KiarapedesPurwakartaMethod: The study design used was mixed methods approaches and strategies embedded concurrent explanatory. Quantitative data were collected by questionnaire. The gathering of qualitative in-depth interviews were conducted in the respondent, the respondent's wife and PLKB selected using an interview guide. The data has been collected and analyzed, for a quantitative method using descriptive analysis of the characteristics of respondents. For quali- tative methods, information from research subjects are recorded in the form of transcripts, then given coding and grouped into categories and themes.Result: Based on data collected from 53 respondents found the majority of respondents were in the age group 41-50 years (39.6%), most of the respondents had a number of children> 3 people (75.5%), the majority of respon- dents had elementary (90 , 6%), all Muslim respondents (100%), most of the income ≥ minimum wage (75.5%) of all respondents have the support of his wife (100%), and most respondents receive information from field officers(73.6% ). Response acceptors of stigma related to religious factors, sexual, and psychological medical treatment while the reasons respondents chose vasectomy because of factors such as family, economy and role model.Conclusion: Modeling is another factor that can influence a man's decision to undergo a vasectomy in the villageKiarapedes.