Articles

Found 12 Documents
Search

KEDUDUKAN PARTAI POLITIK DALAM MENERIMA BANTUAN KEUANGAN PARPOL Iqbal, Mohamad
Katalogis Vol 4, No 6 (2016)
Publisher : Katalogis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.476 KB)

Abstract

A democratic country that is based on the law, there is the protection of the human rights of its citizens. One of the rights that should be guaranteed by a State is the right of freedom of association, assembly and expression, as stated in its constitution, namely the Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945. It can be seen in the provisions of Article 28 and 28E (3) UUDNRI 1945, concerning freedom of association and assembly, issued thoughts with oral and written, and so on are set by the Act and the provisions of Law No. 2 year 2011 concerning amendments to Act No. 2 of 2008 on Political Parties. With these freedoms, the government should be fair to the political parties that did not get state financial aid granted proportionally, while financial aid is only given to the political parties which have gained seats in the Parliament. Which cause many problems, whether financial aid political parties which have gained seats in the Parliament and the Council under the provisions of Law No. 2 of 2011 on political parties reflects the principle of popular sovereignty with justice. Corresponding problems mentioned above, this thesis is a normative study described prescriptive. Importance given financial aid to political parties, to strengthen the implementation of democracy and party system that is effective in accordance with the mandate of the Constitution of the Republic of Indonesia Year 1945 and the formation of political parties and the democratic process in the form of grants aim to recruit and retain the power to implement / realizing programs compiled with a particular ideology. In addition, provision must also reflect the principle of popular sovereignty with justice.
PENCEGAHAN PERUBAHAN WARNA PADA KAYU JAMUJU (Podocarpus imbricatus) DAN KISAMPANG (Evodia aromatica BL.) DENGAN BAHAN DASAR DESINFEKTAN Ismanto, Agus; Iqbal, Mohamad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 3 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan warna alami kayu jamuju (Podocarpus imbricatus) dan kisampang (Evodia aromatica BL.) sebelum dan sesudah perlakuan karena pengaruh suhu, kelembaban, dan panas. Pencegahan perubahan warna dilakukan secara kimia dengan menggunakan antiseptik yang mengandung bahan aktif benzalkonium klorida (formula C), kresol atau asam kresilat (formula D) dan metilena bis tiosianat (MBT sebagai pembanding) baik pada dolok yang dikuliti maupun tidak dikuliti serta pada kayu gergajian. Hasil pengujian efikasi MBT pada kayu gergajian jamuju dan kisampang, serta formula C pada kayu kisampang mampu mencegah jamur biru dengan masa proteksi empat minggu. Hasil pengukuran kecerahan warna kayu jamuju pada bagian yang diserut berkisar antara 35,22 (MBT Bawah atap)-45,22 (C AC) dan pada bagian yang tidak diserut berkisar antara 10,62 (C Luar)-37,14 (K AC). Sedangkan pengukuran kecerahan warna pada kayu kisampang yang diserut berkisar antara 45,04 (C AC)-53,42 (K Luar) dan yang tidak diserut berkisar antara 8,24 (MBT Luar)-46,66 (K AC) dari nilai kecerahan standar 73,5. Hasil pengukuran total variasi warna E* kayu kisampang pada bagian diserut berkisar antara 8,80 (K Luar)-22,56 (K Bawah atap) dan pada bagian tidak diserut berkisar antara 21,57 (D AC)-40,19 (C Luar). Sementara E* pada kayu jamuju pada bagian diserut antara 20,49 (MBT Luar)-25,65 (D AC) dan pada bagian tidak diserut antara 23 (C AC)-41,02 (C Luar).
PERANAN KELOMPOK TANI DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH DI DESA MARGAMULYA KECAMATAN BUNGKU BARAT KABUPATEN MOROWALI Iqbal, Mohamad
AGROTEKBIS Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : AGROTEKBIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peranan utama kelompok tani dipandang sebagai proses membantu petani untuk mengambil keputusan sendiri dengan cara menambah pilihan bagi mereka, dan menolong petani mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing masing pilihan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan kelompok tani dalam meningkatkan pendapatan petani di Desa Margamulya Kecamatan Bungku Barat Kabupaten Morowali. Penelitian dilakukan dengan cara observasi dan wawancara langsung dengan 33 responden, yang ditentukan dengan sampel acak sederhana dengan presisi 10%. Analisis yang digunakan yaitu Pendapatan dan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  total pendapatan petani responden musim tanam Januari sampai dengan April 2013 sebesar Rp. 492.393.334,- atau rata-rata sebesar Rp. 12.625.470,-/ha. Berdasarkan hasil Pengujian Chi-Square peranan kelompok tani dalam meningkatkan pendapatan petani diperoleh nilai Chi-Square hitung sebesar (9,67). > Chi-squre tabel sebesar (7,78) pada taraf nyata (db ; α = 10) maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan hasil uji chi-square diketahui bahwa terdapat hubungan nyata antara peranan kelompok tani terhadap pendapatan usahatani padi sawah.
PENYEMPURNAAN SIFAT PAPAN SERAT BERKERAPATAN TINGGI DARI CAMPURAN RUMPUT GELAGAH, TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT, DAN BAMBU Indrawan, Dian Anggraini; Roliadi, Han; Tampubolon, Rossi Margareth; Pari, Gustan; Santoso, Adi; Iqbal, Mohamad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2015.33.3.193-214

Abstract

Papan serat hardboard (HB) dari campuran Rumput Gelagah (RG), Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan bambu andong berpotensi untuk dikembangkan. Namun, percobaan pendahuluan menunjukkan HB tersebut tidak memenuhi persyaratan produk HB dari Japanese Industrial Standard (JIS) dan International Standard Organization (ISO). Tulisan ini mempelajari modifikasi pembuatan HB agar memenuhi standar produk tersebut. Modifikasi yang dilakukan meliputi penambahan konsentrasi alkali dalam pemasakan pulp dan merubah komposisi perekat. Hasil penelitian menunjukkan kualitas HB modifikasi meningkat dan mampu memenuhi persyaratan standar JIS dan ISO. Campuran serat pulp RG dan bambu andong/betung dimasak dengan konsentrasi alkali 10,5% dan 12% untuk serat dari TKKS. Campuran perekat yang digunakan adalah tannin-resorsinol-formaldehida (TRF), alum (tawas) dan emulsi lilin. Campuran serat yang paling banyak memenuhi standar adalah RG pulp (50%) + TKKS pulp (50%), diikuti RG pulp (100%), TKKS pulp (50%) + pulp bambu andong (50%), RG pulp (50%) + pulp bambu betung (50%). Serat yang masih kurang prospektif (bambu betung) diharapkan dapat diperbaiki melalui penggunaan perekat TRF dalam jumlah lebih banyak, arang aktif berukuran nano dan cross-linking agent.    
PENCEGAHAN PERUBAHAN WARNA PADA KAYU JAMUJU (Podocarpus imbricatus) DAN KISAMPANG (Evodia aromatica BL.) DENGAN BAHAN DASAR DESINFEKTAN Ismanto, Agus; Iqbal, Mohamad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2013.31.3.213-220

Abstract

NILAI EKONOMI TOTAL SUMBERDAYA BAMBU (Bambuseae sp.) DI KECAMATAN SAJIRA, KABUPATEN LEBAK, BANTEN Iqbal, Mohamad; Putri, Eka Intan Kumala; Bahruni, Bahruni
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2014.11.2.91-105

Abstract

Ketersediaan sumberdaya bambu yang berlimpah di Indonesia telah mendorong kemungkinan penggunaan bambu sebagai pengganti bahan baku konvensional (dalam hal ini kayu) yang saat ini cenderung menurun. Bambu menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik yang bersifat berwujud (tangible), maupun manfaat tidak berwujud (intangible) yang belum dihitung secara ekonomi. Manfaat bambu tidak semuanya memiliki harga pasar, sehingga perlu pendekatan untuk mengkuantifikasi nilai ekonomi sumber daya bambu dalam satuan moneter. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai ekonomi total (total economic value) sumber daya bambu di Kecamatan Sajira sebagai salah satu sentra utama areal bambu di Kabupaten Lebak. Nilai-nilai sumber daya bambu yang diestimasi adalah nilai guna langsung (nilai tegakan bambu), nilai guna tidak langsung berupa nilai stok karbon dan nilai pencegahan erosi, serta nilai pilihan bambu surat (G. pseudoarundinacae). Metode penelitian yang digunakan antara lain dengan pendekatan nilai sisa turunan, harga pasar, biaya pengganti dan Contingent Valuation Method (CVM). Hasil yang diperoleh adalah nilai guna langsung (nilai tegakan bambu) sebesar Rp 35 126 575 400, nilai stok karbon sebesar Rp 224 840 000, nilai pencegahan erosi sebesar Rp 695 341 881 dan nilai pilihan bambu surat sebesar Rp 82 014 259. Dengan demikian, nilai ekonomi total sumber daya bambu untuk luas areal tegakan bambu sebesar 140 ha adalah Rp 36 128 771 540.
POTENSI SERAPAN KARBONDIOKSIDA BEBERAPA JENIS DAUN TANAMAN DI JALUR HIJAU JALAN RAYA PAJAJARAN, BOGOR Iqbal, Mohamad; Hermawan, Rachmad; Dahlan, Endes N
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2015.12.1.67-76

Abstract

Peningkatan konsentrasi CO2 secara efektif dapat dikendalikan dengan pembangunan hutan kota melalui pemilihan jenis tanaman perkotaan yang memiliki potensi serapan CO2 tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data potensi serapan CO2 oleh daun pada sembilan jenis tanaman di jalur hijau Jalan Pajajaran, Bogor. Data primer dikumpulkan melalui survei lapangan dan analisis laboratorium sampel daun menggunakan metode karbohidrat. Studi kasus dan literatur untuk memperoleh data sekunder dari instansi atau literatur terkait, khususnya hasil studi dengan kasus serupa. Data lain yang dikumpulkan terdiri atas jumlah dan luas daun. Hasil analisis menunjukkan C. manghas memiliki potensi serapan CO2 per daun tanaman paling tinggi yaitu sebesar 11,86 ton/daun/tahun. Selain itu, F. elastica dan S. macrophylla juga memiliki nilai serapan CO2 yang relatif baik dibandingkan jenis tanaman lain yaitu masing-masing sebesar 3,83 ton/daun/tahun dan 2,51 ton/daun/tahun. Adapun faktor inheren tanaman yang menentukan besarnya potensi serapan CO2 adalah luas daun, ketebalan daun, kehijauan daun, jumlah daun dan kadar air. Sedangkan faktor luar (eksternal) antara lain tempat hidup tanaman, ketersediaan air dan hara mineral, serta pengaruh cahaya dan suhu.
PEMBUATAN HARDBOARD DARI SERAT ALTERNATIF MENGGUNAKAN LIGNIN ALAMINYA DAN TANIN FORMALDEHIDA SEBAGAI PEREKAT Indrawan, Dian Anggraini; Roliadi, Han; Tampubolon, Rossi Margareth; Iqbal, Mohamad; Efiyanti, Lisna
JURNAL SELULOSA Vol 5, No 01 (2015): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.593 KB) | DOI: 10.25269/jsel.v5i01.78

Abstract

The most numerous uses of hardboard are for sound-deadening barrier, insulation wall, furniture, part of electronic appliances, and vehicle interior.Nowadays, in Indonesia the availability of natural-forest woods (the conventional ligno-cellulosic fibrous raw material) for fiberboard manufacture becomes limited and scarce. Thus, non-wood alternative fibers should be considered as raw material for fiber board. In this study, experiment was done using alternative fibers which were Saccharum spontaneum grasses (SSG), empty oil-palm bunches (EOPB), and bamboo. The pulping and mat forming employed consecutively an open-hot soda semi-chemical process and wet-forming process. The additives for hardboard forming comprised wax emulsion and tannin formaldehyde (TF) adhesive.Alkali consumption in the pulping of alternative fibers (SSG, EOPB, and bamboo) for hardboard ranged about 88-99% (regarded as quite high, near 100%). SSG was the most prospective for hardboard, followed by consecutively EOPB and bamboo. Also, physical-strength properties of hardboard from SSG satisfied the JIS and ISO requirement the most. The prospective results of fiberboard manufacture from the alternative fiber materials will expectedly lessen the dependency on naturalforest woods thereby sustaining the natural resources, and alleviating environment concerns. The high alkali consumption and wet-forming implementation hinted that this fiberboard-manufacturing experiment is more suitable for small-medium scale endeavor (SME). Keywords: hardboard, alternative ligno-cellulosic fiber materials, prospective results, sustaining natural resources, small-to-medium scale endeavor (SME)ABSTRAKHardboard banyak digunakan antara lain untuk bahan peredam suara, dinding penyekat, mebel, bagian dari peralatan elektronik dan interior kendaraan. Di Indonesia, ketersediaan kayu hutan alam (bahan baku serat berligno-selulosa konvensional) untuk pembuatan papan serat di Indonesia semakin terbatas dan langka. Oleh karena itu bahan serat alternatif harus dipertimbangkan sebagai bahan baku papan serat. Dalam penelitian ini dilakukan percobaan pembuatan papan serat (hardboard) dari bahan serat alternatif, yaitu rumput gelagah (RG), tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan bambu. Pengolahan pulp (pulping) dan pembentukan lembaran untuk papan serat menggunakan proses semi-kimia soda panas terbuka dengan pembentukan cara basah (wet process). Bahan aditif yang digunakan adalah emulsi lilin dan perekat tanin formaldehida (TF) Konsumsi alkali pada pulping adalah 88-99% (dianggap cukup tinggi, mendekati 100%). RG paling berprospek untuk hardboard diikuti oleh TKKS dan bambu, dan sifat fisik-kekuatan hardboard dari RG paling banyak memenuhi persyaratan JIS dan ISO. Hasil prospektif pemanfaatan serat alternatif untuk papan serat diharapkan bermanfaat mengurangi ketergantungan pada kayu hutan alam sehingga ikut melestarikan sumber daya alam. Tingginya konsumsi alkali dan penerapan cara basah berindikasi bahwa pengolahan papan serat ini lebih sesuai untuk usaha kecil menengah (UKM).Kata kunci: hardboard, bahan baku serat alternatif, hasil prospektif, melestarikan sumber daya alam, usaha kecil menengah (UKM)
PENYEMPURNAAN SIFAT PAPAN SERAT BERKERAPATAN TINGGI DARI CAMPURAN RUMPUT GELAGAH, TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT, DAN BAMBU Indrawan, Dian Anggraini; Roliadi, Han; Tampubolon, Rossi Margareth; Pari, Gustan; Santoso, Adi; Iqbal, Mohamad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2015.33.3.193-214

Abstract

Papan serat hardboard (HB) dari campuran Rumput Gelagah (RG), Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan bambu andong berpotensi untuk dikembangkan. Namun, percobaan pendahuluan menunjukkan HB tersebut tidak memenuhi persyaratan produk HB dari Japanese Industrial Standard (JIS) dan International Standard Organization (ISO). Tulisan ini mempelajari modifikasi pembuatan HB agar memenuhi standar produk tersebut. Modifikasi yang dilakukan meliputi penambahan konsentrasi alkali dalam pemasakan pulp dan merubah komposisi perekat. Hasil penelitian menunjukkan kualitas HB modifikasi meningkat dan mampu memenuhi persyaratan standar JIS dan ISO. Campuran serat pulp RG dan bambu andong/betung dimasak dengan konsentrasi alkali 10,5% dan 12% untuk serat dari TKKS. Campuran perekat yang digunakan adalah tannin-resorsinol-formaldehida (TRF), alum (tawas) dan emulsi lilin. Campuran serat yang paling banyak memenuhi standar adalah RG pulp (50%) + TKKS pulp (50%), diikuti RG pulp (100%), TKKS pulp (50%) + pulp bambu andong (50%), RG pulp (50%) + pulp bambu betung (50%). Serat yang masih kurang prospektif (bambu betung) diharapkan dapat diperbaiki melalui penggunaan perekat TRF dalam jumlah lebih banyak, arang aktif berukuran nano dan cross-linking agent.    
KONFLIK PENGELOLAAN SAMPAH DI DKI JAKARTA DAN UPAYA MENGATASINYA Mulyadin, Raden Mohamad; Ariawan, Kuncoro; Iqbal, Mohamad
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.743 KB) | DOI: 10.20886/jakk.2018.15.2.179-191

Abstract

Conflict of waste management is interesting to be investigated. Bantargebang as a government project on waste management in   Jakarta and Bekasi areas is a community based waste management which has both positive and negative impacts. This research aims to collect information on the history of waste management conflict in DKI Jakarta, identify stakeholders, analyze the cause of waste management conflict and provide alternative solutions to solve the problem. This research used case study method with qualitative analysis approach. The result showed that waste management conflict in DKI Jakarta area involves various parties i.e: DKI Jakarta Provincial Government, Jakarta City Council D Commission, PT Godang Tua Jaya, and Commission A of DPRD Kota Bekasi. Factors causing conflict in the management of Bantargebang TPA assessed various circles not in accordance with agreed provisions, the disharmony and the inability of the manager in processing waste, and has not run the Intermediate Treatment Facility (ITF) waste management system. Waste management needs to build environmentally friendly waste technology because its legal umbrella already exists, such as Governor Regulation Number 50/2016 on the Construction and Operation of Municipal Waste Management Facility in the City.