Articles

Found 28 Documents
Search

PENENTUAN LAMA SULFONASI PADA PROSES PRODUKSI SURFAKTAN MES UNTUK APLIKASI EOR Rival, Mira; Irawadi, Tun Tedja; Suryani, Ani; Setyaningsih, Dwi; Hambali, Erliza
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 16 No. 1 (2011): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.818 KB)

Abstract

For producing oil remains that remained at old oil wells (mature field), a method of advanced oil acquirement improvement known as an Enhanced Oil Recovery (EOR) should be applied. Surfactant plays an important role in EOR process by reducing interfacial tension (1FT), altering wettability, reducing oil viscosity, and stabilizing dispersion to facilitate the process of oil jetting from reservoir to production well. To optimally cleanse oil that still remained a surfactant compatible with formation water and reservoir is needed. This study was conducted to get the best time of sulfonation process for producing MES surfactant with lower interfacialtension for EOR application. Results showed that the best times of sulfonation process with lower interfacial tension value were 3 and 4 hours.
KAJIAN MANFAAT EKONOMIS PENERAPAN KONSEP PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI KARET REMAH BERBASIS KARET RAKYAT Utomo, Tanto Pratondo; Fauzi, Anas Miftah; Irawadi, Tun Tedja; Romli, Muhammad; Aman, Amril; Honggokusumo, Suharto
Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer 2007: Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer Edisi Agustus
Publisher : Majalah Ilmiah Ekonomi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.352 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis manfaat ekonomis penerapan konsep produksi bersihberdasarkan altematif terpilih untuk perbalkan proses pada industri karet remah yang dapal meningkatkanefisiensi dan mengurangi resiko pencemaran dan dapat diterapkan pada penyedia bahan baku (petani karet,KUD, dan pedagang pengumpul) dan pengolahan bokar menjadi karet remah (pabrik karet remah). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep produksi bersih pada industri karet remah berbasis karetrakyat yang diterapkan pada tahap penyediaan bahan baku dan pada tahap pengolahan bokar menjadi karetremah menghasilkan keuntungan ekonomis dengan (1) penghematan air sebanyak 18,5 m3110n karet kering;(2) penghematan energi senilai Rp. 7.91011on karet kering; (3) tidak diperlukan investasi untuk peralatanpenghilangan bau (malodour); (4) dihindari terjadinya kerugian akibat proses penggantungan selama 14 harisenilai Rp. 70/kg bokar; dan (5) tahapan proses pengolahan bokar menjadi karet remah lebih singkat dengantidak digunakannya mesin hammer-mills. Dampak ekonomis yang bersifat menambah biaya adalah (1)diperlukan investasi tambahan untuk resirkulasi air; (2) investasi fasilitas penggilingan bokar; dan (3) investasibiaya pengolahan Iimbah berupa serum hasil pengpresan bokar pada tingkat petani karet.Kata kunci: produksi bersih, bokar, karet remah, manfaat ekonomis
ISOLASI DAN PENAPISAN AKTINOMISETES LAUT PENGHASIL ANTIMIKROBA Sunaryanto, Rofiq; Marwoto, Bambang; Irawadi, Tun Tedja; Mas'ud, Zainal Alim; Hartoto, Liesbetini
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.672 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.2.98-101

Abstract

 Telah diiakukan isolasi dan penapisan aktinomisetes laut yang mampu menghasilkan senyawa antimikroba. Isolasi diiakukan ditiga tempat berbeda yaitu di Pantai Barat Banten, Pantai Utara Cirebon, dan Pantai Selatan Yogyakarta. Isolasi dilakukan dengan dua metode pre-treatment yaitu dengan metode pengasaman dan metode pemanasan. Dari hasil isolasi diperolehjumlah total isolat sebanyak 50 isolat. Setelah diiakukan penapisan diperoleh 4 isolat yang mampu menghambat Eschereschia coli, 5 isolat mampu menghambat Streptococcus aereus, 4 isolat mampu menghambat Bacillus subtilis, 4 isolat mampu menghambat Pseudomonas aeroginosa, 5 isolat mampu menghambat Candida albican, dan 4 isolat mampu menghambatAspergillus niger. Hasil identifikasi morfologi dan DNA dari salah satu isolat yang memiliki aktivitas antibakteri paling kuat (isolat A11) adalah Streptomyces sp. Secara morfologi isolat A11 memiliki hifa yang bercabang dengan kantong spora pada ujung hifa. Minimum Inhibition Concentration (MIC) isolat A11 terhadap Bacillus subtilis sebesar 120,86 ?g/ml.Kata kunci: Isolasi, penapisan, aktinomisetes laut, antimikrobaIsolation and screening of antimicrobial-producing marine actinomycetes has been conducted on isolates taken from West Banten, North Cirebon, and South Yogyakarta Coasts. Two methods pretreatments were applied i.e. acid and heat shock method. The research 50 isolates. The screening reavealed four isolates which has ability to inhibi Eschereschia coli, 5 isolates could inhibited Streptococcus aereus, 4 isolates could inhibited Bacillus subtilis, 4 isolates could inhibited Pseudomonas aeroginosa, 5 isolats could inhibited Candida albican, and 4 isolatescould inhibited Aspergillus niger. Result of  identification morphology and DNA of isolate A11 it?s Streptomyces sp. Morphology of isolate A11 haves branching hyphae with spore sack at the end of hyphae. The Minimum Inhibition Concentration (MIC) of isolate A11 to Bacillus subtilis was 120,86 ?g /ml.Key words: Isolation, Screening, Marine Actinomycetes, Antimicrobial.
STUDI AWAL PENGARUH METODE EKSTRAKSI TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR ASIATICOSIDE DARI CENTELLA ASIATICA (L) URB Sondari, Dewi; Irawadi, Tun Tedja; Setyaningsih, Dwi; Tursiloadi, Silvester
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 17, No 3: APRIL 2016
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.213 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2016.17.3.4193

Abstract

STUDI AWAL PENGARUH METODE EKSTRAKSI TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR ASIATICOSIDE DARI CENTELLA ASIATICA (L) URB. Proses ekstraksi Centella asiatica (L) Urb dengan metode maserasi, sonikasi, sokletasi dan CO2 superkritik telah dilakukan. Pengaruh proses ekstraksi terhadap rendemen dan kadar asiaticoside dari Centella asiatica (L) Urb (pegagan) telah dipelajari. Hasil dari perhitungan rendemen asiaticoside terlihat bahwa kandungan asiaticoside (% berat) dari proses ekstraksimaserasi, sonikasi, sokletasi dan CO2 superkritik berturut-turut sebagai berikut: 6,723%; 0,187%; 3.648%dan 9,24%. Rendemen asiaticoside paling tinggi diperoleh dari teknologi ekstraksi CO2 superkritik, karena teknologi ini dilakukan pada tekanan dan suhu tertentu sehingga kualitas hasil ekstraksi ditentukan oleh seberapa kritis penggunaan tekanan dan suhunya. Karena pada kondisi ini, selain mengubah densitas CO2, juga berpengaruh terhadap kelarutan dan selektivitas dari zat yang akan terekstrak. Semakin tinggi tekanan dan kelarutan, total hasil ekstraksi akan semakin tinggi. Untukmengetahui adanya senyawa asiaticoside dalam Centella asiatica (L) Urb (pegagan) digunakan analisis HPLC. Dari hasil analisis kromatogram bahwa ada dua puncak yang terdeteksi, dan secara kualitatif senyawa asiaticoside yang diperoleh denganmenggunakan ekstraksi CO2 superkritik lebih tinggi kadarnya dibanding metode ekstraksi lainnya, karena teknologi proses ekstraksi CO2 superkritik memanfaatkan kekuatan pelarut dan sifat fisik dari komponenmurni atau campuran, sehinggamudahmelakukan penetrasi ke dalam dinding material yang di ekstrak dan melarutkan komponen senyawa aktif secara selektif dengan kualitas produk tinggi dan tidakmengandung residu pelarut sehingga lebih murni.
BIOADSORPSI HG(II) OLEH PATI SAGU TAUT SILANG FOSFAT [BIOADSORPTION OF HG(II) BY CROSSLINKED SAGO STARCH PHOSPHATE] Romengga, Jorion; Irawadi, Tun Tedja; Sugiarti, Sr
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 23 No. 2 (2012): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.149 KB) | DOI: 10.6066/jtip.2012.23.2.140

Abstract

Crosslinked-sago-starch-phosphate (SgP) has been successfully synthesized from native sago starch (Sg) and Na2HPO4-NaH2PO4 in an acidic condition. The compound was designed as bioadsorbent for removing Hg(II) inside human digestion tract as shown by in vitro test. The bioadsorption followed pseudo-second order of reaction kinetic and Freundlich equation as chemisorption. As a result, 21% of Hg(II) was removed at pH of 6.80 and reached the isothermal equilibrium of the bioadsorption at pH of 5.80 and 8.60 for 29.95% and 31.39%, respectively. The result showed that SgP is more feasible than activated carbon to be used as bioadsorbent in removing Hg(II) in human digestion tract as proved by in vitro system.
SINTESIS PATI SAGU IKATAN SILANG FOSFAT BERDERAJAT SUBSTITUSI FOSFAT TINGGI DALAM SUASANA ASAM [SYNTHESIS OF CROSS-LINKED SAGO STARCH PHOSPHATE WITH THE HIGHEST DEGREE OF SUBSTITUTION OF PHOSPHATE UNDER ACIDIC CONDITION] Romengga, Jorion; Irawadi, Tun Tedja; Djulaika, Retno; Muntamah, .; Zakaria, Ahmad
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 22 No. 2 (2011): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.685 KB)

Abstract

Cross-linked sago starch phosphate (SgP) with high phosphorus contents was successfully synthesized by reacting sago with a mixture of primary and secondary sodium phosphates under acidic condition. The experimental variables investigated include pH, temperature, reaction time, and mixture rate. The physicochemical properties evaluated were moisture, swelling power, water binding capacity, transmittance (%T) and percent amylose (%Am), while the pasting properties examined were pasting time, pasting temperature, viscosity at peak, final, and setback. The granule structure was observed by scanning electron microscope and X-ray diffraction. The results showed that the maximum degree of phosphate substitution was obtained at pH of 6.50, 40°C, 20 minutes of reaction time and 300 rpm of mixing rate. The physicochemical (%T and %Am) and pasting (viscosity at peak, final, and setback) properties of SgP were significantly different (P<0.01) from Sg. Structure of SgP was characterized by FT-IR and the results indicated a new absorption peak at 2362.87 cm-1 which was characterized as the phospho-diester (RO-PO3-R?) stretching vibration. In the fingerprint area, there were two new absorption peaks at 1242.05 and 989.79 cm-1 which were characterized as the P=O and C-O-P vibration, respectively. Sago granules were substantially altered after cross-linking. 
SINTESIS PATI JAGUNG TERFOSFORILASI MELALUI TEKNIK GELOMBANG MIKRO [MICROWAVE-ASSISTED SYNTHESIS OF PHOSPHORYLATED CORN STARCH] Supardan, Atep Dian; Achmadi, Suminar Setiati; Irawadi, Tun Tedja
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 25 No. 1 (2014): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.454 KB) | DOI: 10.6066/jtip.2014.25.1.1

Abstract

SINTESIS PATI JAGUNG TERFOSFORILASI MELALUI TEKNIK GELOMBANG MIKRO [Microwave-Assisted Synthesis of Phosphorylated Corn Starch] Atep Dian Supardan*, Suminar Setiati Achmadi dan Tun Tedja Irawadi Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor Diterima 28 Maret 2013 / Disetujui 24 Februari 2014ABSTRACT Phosphorylated starch is a type of modified starches which is mostly imported. Commonly, starch to be modified must contain more than 25% of amylose. This study aimed to synthesize phosphorylated starch and evaluate its potency as a heavy metal adsorbent. Corn starch was subjected to phosphorylation through microwave-assisted reaction with a mixture of sodium dihydrogen orthophosphate and disodium hydrogen phosphate. The experiment was designed to optimize the pH, microwave radiation power, and phosphorylation time. The results showed that the maximum phosphate subtitution degree was obtained at pH of 6, microwave radiation of 500 W, and a reaction time of 10 minutes. The degree of subtitution ranged from 0.567 to 0.787. The physicochemical properties of the product i.e. swelling capacity, solubility, water binding capacity, and paste clarity were significantly different than that of the unmodified corn starch. The infrared spectrum showed a high peak absorption at the wavelength of 1651 cm-1, indicating hydrogen bond formation of phosphoric group-water- phosphoric group. In the fingerprint area, there were two new absorption peaks at 1200 and 990 cm-1, which were assigned for the P=O and C-O-P vibrations, respectively. The phosphorylated corn starch adsorbed methylene blue up to 73.3% and mercury up to 73.6%, suggesting the prospect of the microwave-assisted synthetic phosphorylated corn starch as an effective adsorbent for heavy metals.   
POTENSI SPEKTROSKOPI FTIR-ATR DAN KEMOMETRIK UNTUK MEMBEDAKAN RAMBUT BABI, KAMBING, DAN SAPI Rafi, Mohamad; Anggundari, Widia Citra; Irawadi, Tun Tedja
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Chemical Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rambut beberapa hewan seperti babi, kambing, dan juga sapi telah digunakan sebagai bahan baku kuas salah satunya kuas untuk produksi makanan seperti kue, roti, dan lainnya. Jika kuas dalam produksi makanan ini terbuat dari rambut babi maka dapat menyebabkan makanan menjadi tidak halal. Oleh karena itu, dalam penelitian ini kami melakukan studi keterlaksanaan penggunaan spektroskopi Fourier transform infrared-attenuated total reflectance (FTIR-ATR) yang dikombinasikan dengan kemometrik untuk mengembangkan metode identifikasi dan diskriminasi rambut babi, kambing, dan sapi. Spektrum FTIR diukur pada bilangan gelombang 1000-4000 cm-1. Intensitas dari kisaran bilangan gelombang 1215-2007 cm-1 dan 3467-3989 cm-1 dipilih untuk membuat model diskriminasi tiga jenis rambut yang digunakan. Pengelompokan sampel berdasarkan jenis rambutnya dilakukan dengan menggunakan analisis gerombol, analisis komponen utama, dan analisis diskriminan. Model diskriminasi menggunakan AKU dan AD dapat memisahkan ketiga jenis rambut hewan yang digunakan dengan AD memberikan pengelompokan yang lebih terpisah satu sama lainnya. Metode kombinasi FTIR-ATR dan kemometrik dimungkinkan untuk digunakan untuk tujuan identifikasi dan diskriminasi rambut babi, kambing dan sapi.
REKAYASA PROSES SINTESIS PIPERONAL DARI KULIT LAWANG (Cinnamomum culilawan Blume) SEBAGAI PREKURSOR OBAT KANKER Delvis Kapelle, Imanuel Berly; Irawadi, Tun Tedja; Rusli, Meika Syahbana; Mangunwidjaja, Djumali; Masud, Zainal Alim
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2902.466 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.3.217-229

Abstract

Piperonal sebagai prekursor obat kanker (analog kurkumin) dapat disintesis dari ekstrak kulit pohon lawang (Cinnamomum culilawan Blume) dengan beberapa tahapan antara lain; isolasi minyak atsiri, isolasi safrol, isomerisasi safrol, dan sintesis piperonal. Minyak atsiri diisolasi dari kulit kayu lawang (kadar air 46,20%) menggunakan sistem destilasi air dengan volume 1/3 dari tinggi ketel selama lima jam. Isolasi safrol dari minyak kulit lawang dilakukan menggunakan larutan NaOH dan dimurnikan menggunakan sistem destilasi pengurangan tekanan pada suhu 90-123°C/1 mmHg. Isomerisasi safrol dilakukan menggunakan katalis alkali (KOH) tanpa pelarut pada suhu 120°C selama 8 jam. Oksidasi isosafrol dilakukan dengan menggunakan KMnO4 dalam suasana asam dengan bantuan KTF tween 80 pada temperatur <30°C dan proses pemurnian menggunakan silica gel. Hasil isolasi minyak atsiri diperoleh minyak dengan rendemen 0,94% dengan 14 komponen yang diuji dengan GC-MS diantaranya eugenol 67,35%, Safrol 13,96%, metil eugenol 12,61% ,4-terpineol 1,79%, dan sineol 1,55%.  Hasil isolasi safrol dengan rendemen 17,21% diuji kemurnian dan identifikasi menggunakan FTIR, 1H-NMR dan GCMS menunjukkan produk merupakan safrol. Hasil isomerisasi diperoleh rendemen 77,56 % yang diuji menggunakan GC terdiri dari cis-isosafrol dan trans-isosafrol. Hasil oksidasi diperoleh rendemen 65,63 % dengan kemurnian 100% berdasarkan GCMS dan data 1H-NMR menunjukkan produk merupakan piperonal.
DIVERSIFIKASI PRODUK FARMASI DARI MINYAK LAWANG DENGAN PENDEKATAN SINTESIS KIMIA Kapelle, Imanuel Berly; Irawadi, Tun Tedja; Rusli, Meika Syahbana; Mangunwidjaja, Djumali
INDONESIAN JOURNAL OF ESSENTIAL OIL Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Institut Atsiri Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.071 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijeo.2016.001.01.03

Abstract

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan jenis–jenis tumbuhan penghasil minyak atsiri namun penggunaannya tidak banyak digunakan untuk diolah menjadi produk jadi seperti obat–obatan. Salah satu minyak atsiri yang sangat potensial dan diproduksi di wilayah Indonesia Timur khususnya Maluku dan Papua adalah minyak lawang. Tujuan yang ingin dicapai adalah membuat produk farmasi analog kurkumin dari minyak lawang dengan jalur sintesis kimia. Terdapat beberapa tahapan proses yang dilakukan, mulai dari proses isolasi safrol dari minyak lawang, proses isomerisasi safrol, proses oksidasi isosafrol dan tahapan proses reaksi kondensasi. Safrol diisolasi dari minyak lawang menggunakan metode kimia (NaOH) dan menghasilkan safrol 17,21%. Proses isomerisasi safrol menghasilkan isosafrol menggunakan sistem bebas pelarut dengan katalis alkali KOH pada suhu 120oC selama 6 jam diperoleh rendemen 77,56%. Piperonal diperoleh dari reaksi oksidasi isosafrol menggunakan oksidator KMnO4 sebanyak 65,63%. Produk analog kurkumin simetris (1,5-bis-benzo[1,3]dioxol-5-yl-penta-1,4-dien-3-one) yang diperoleh dari reaksi kondensasi antara piperonal dengan aseton. Rendemen produk menggunakan metode gelombang mikro pada daya 140 watt selama 2 menit adalah 53,3% (t.l=180 oC) dan metode konvensional selama 3 jam adalah 78,43% (t.l=191 oC). Produk analog kurkumin tidak simetris (5-benzo[1,3]dioxol-5-yl-1-phenyl-penta-2,4-dien-1-one) disintesis menggunakan dua tahapan reaksi kondensasi. Tahapan kondensasi yang pertama antara piperonal dengan asetaldehid menggunakan katalis basa dan metanol selama 3 jam diperoleh produk intermediate (3-benzo[1,3]dioxol-5-yl-propenal) 70,28%. Reaksi kondensasi tahap kedua antara produk intermediate dengan asetofenon menggunakan metode gelombang mikro pada daya 140 watt selama 2 menit diperoleh rendemen 82,82% (t.l = 104 oC) dan metode konvensional selama 3 jam diperoleh 99,55% (t.l = 111 oC).