Articles

Found 15 Documents
Search

OTOMATISASI ALAT PEMINDAH GAMBAR NEGATIF FILM (LAYOUT) KE SCREEN DENGAN TEKNOLOGI MIKROKONTROLLER DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PCB SIAP PAKAI DAN EFISIENSI USAHA ., Nurkasan; Irfan, M.; Syafa?ah, Lailis
Jurnal Dedikasi Vol 3 (2006): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.484 KB) | DOI: 10.22219/dedikasi.v3i0.899

Abstract

Salah satu dalam proses pembuatan PCB adalah screening (pensablonan PCB pada media screen), dimana didalamnya ada proses perpindahan gambar (drawing) ke media screen. Saat ini, dilakukan dengan cara konvensional (manual), oleh karena itu melalui program vucer ini, kami membuat alat otomatisasi pemindah lay out ke media screen. Alat ini mempunyai 2 bagian utama yaitu lampu sebagai pengganti matahari, dan yang kedua bagian sistem kontrol dengan menggunakan mikrokontroller yang berfungsi mengontrol beban yang berupa lampu dengan waktu penyinaran telah ditentukan. Hasil yang didapat dengan mengaplikasikan alat ini dalam proses pemindahan lay out ke media screen adalah waktu yang diperlukan untuk memindah lay out ke media screen yang semula membutuhkan waktu 45 menit, dengan alat ini hnaya memerlukan waktu 8 menit.   Keyword : Screening, Mikrokontroller, Lay Out
IPTEKS BAGI WILAYAH (IBW) KEC. CAMPLONG SAMPANG MADURA : DEMPLOT BIOGAS DAN PRODUK PUPUK ORGANIK SEBAGAI MODEL DESA MANDIRI ENERGI. Irfan, M.; Sukorini, Henik; Erni W, Dyah; Heryadi, A.yudi; Zali, Moh.
Jurnal Dedikasi Vol 15 (2018): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.787 KB) | DOI: 10.22219/dedikasi.v15i0.6472

Abstract

Kabupaten Sampang Merupakan salah satu Kabupaten di kawasan Madura. Secara astronomis terletak pada koordinat 113°08?-113°39? Bujur Timur dan 06°05?-07°13? Lintang Selatan. memiliki luas wilayah ± 1.233,30 km² dan secara administratif terbagi menjadi 14 kecamatan, 180 desa dan 6 kelurahan. Dengan adanya program  Iptek Bagi Wilayah Agroekowisata Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang Madura  yang dimulai tahun 2016 sampai 2018 ada beberapa program yang telah terlaksana, salah satu diantaranya addalah kegiatan yang diadakan di desa Tambaan Kec. Camplong Kab. Sampang.Desa Tambaan Kec. Camplong Kabupaten Sampang merupakan salah satu desa bina mitra yang dikembangkan menjadi Model Desa Mandiri Energi (DME) berbasis biogas limbah peternakan, dan bisa diterapkan dalam skala rumah tangga.  Model Desa mandiri Energi yang dikembangkan menitikberatkan pada rekayasa sosial (social engineering) untuk membangun kemandirian masyarakat guna mengurangi tingkat ketergantungan pada pihak lain. Metode pengembangan DME berbasis biogas di Desa Tambaan  didasarkan pada participatory based action research (kaji terap partisipatif), yaitu proses kolaborasi antara pengabdi di perguruan tinggi dan masyarakat peternakan. Hasil pengabdian melalui penyuluhan, tanya jawab, pelatihan dan pengamatan langsung selama kegiatan berlangsung, memberikan hasil sebagai berikut: a.Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman peserta dalam pemanfaatan limbah peternakan. b.Meningkatnya keterampilan petani dalam tatakelola limbah sehingga dengan memanfaatkan slurry biogas yang ada menjadi pupuk organik. c. Membangun kemandirian teknologi yang berkelanjutan dalam kebutuhan energi dan usaha peternakan. d. Meningkatkan pendapatan petani dengan konversi nilai manfaat limbah peternakan dari analisa usaha tani yang dilakukan. e. Tersedianya pupuk organik yang akan dipakai kelompok tani untuk memupuk pohon jambu camplong. Kata Kunci: DME, Biogas, Pupuk Organik.
FREKUENSI LATIHAN 3 KALI SEMINGGU PADA TARI BARIS MODERN DAPAT MENURUNKAN PRESENTASE LEMAK TUBUH Ari Pradnyawati, Ni Made; Irfan, M.; Niko Winaya, I Made
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 2 No 2 (2014): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan presentase lemak tubuh pada tari Baris Modern dengan frekuensi latihan 3 kali seminggu. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan selama 8 minggu agar didapatkan hasil yang maksimal.  Rancangan penelitian ini adalah observasional dengan studi Kohort. Jenis penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental yang mengkaji antara variabel independen dan variabel dependen, dimana pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik consecutive sampling. Pemilihan sampel dengan menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian dan dimasukkan dalam penelitian. Subjek penelitian adalah siswi SMP Harapan Tabanan yang mengikuti ekstrakurikuler tari yang memiliki IMT > 18 dan berjumlah 10 orang. Analisis statistik penelitian ini menggunakan uji t-test of related (paired sample t-test. Hasil uji homogenitas menggunakan uji Shapiro-Wilk Test menunjukkan bahwa nilai p = 0,786 ( p > 0,05 ) untuk sebelum intervensi dan nilai p = 0.366 setelah intervensi. Untuk uji hipotesis dilakukan dengan uji parametrik atau uji t-paired. Nilai t hitung yang diperoleh 3,537 dengan nilai p = 0.006 dengan nilai ? = 0,05. Hal ini berarti bahwa frekuensi latihan 3 kali seminggu pada tari Baris Modern dapat menurunkan presentase lemak tubuh.  
STIMULATION ATTITUDIONAL REFLEX EXERCISE LEBIH BAIK DIBANDINGKAN DENGAN PRONE POSITION WEDGE EXERCISE TERHADAP HEAD CONTROL PADA ANAK CEREBRAL PALSY SPASTIK QUADRIPLEGI DI RS RAJAWALI CITRA BANTUL, YOGYAKARTA Al Banna, Damha; Adiatmika, I Putu Gede; Irfan, M.; Griadhi, I Putu Adiartha; Sundari, Luh Putu Ratna; -, Sugijanto
Sport and Fitness Journal Volume 7, No.1, Januari 2019
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2019.v07.i01.p08

Abstract

ABSTRACTBackground: Head control is a disorder of the cerebral palsy (CP) spastic quadriplegi due to central nervous system problems that serve as the basis of movement to be achieved for further development. Physiotherapy actions that can be given are stimulation attitudional reflex exercise (SARE) and prone position wedge exercise (PPWE). Purpose: This study aims to determine whether SARE is better than PPWE for head control in CP spastic quadriplegi. Methods: This research uses experimental pre and post test control group design is done at Rajawali Citra Bantul Hospital. Subjects were 24 children with CP spastic quadriplegi divided into 2 groups, group I was given SARE for 3 repetitions in 1 hour of therapy sessions and group II was given PPWE for 30 minutes. All groups were given treatment 1 time a week for 6 weeks as a refresher intervention and educated the family to do every day at home. Increased head control is measured by gross motor functional measurement. Result: Statistical test of paired sample t-test in group I and group II p value = 0.001 where (p < 0.05) there was an increase of head control. From independent t-test p value = 0.001 where (p < 0.05), it can be concluded that there are significant differences between group I with group II. Based on the mean values in both treatment groups, the group I have larger head control improvement of 33.19% than group II which only 16.96%. Conclusion: SARE is better than PPWE to increase head control on CP spastic quadriplegiKeywords: Head control, SARE, PPWE
PELATIHAN MIRROR NEURON SYSTEM SAMA DENGAN PELATIHAN CONSTRAINT INDUCED MOVEMENT THERAPY DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL ANGGOTA GERAK ATAS PASIEN STROKE meidian, Abdul chalik; Sutjana, Dewa Putu; Irfan, M.
Sport and Fitness Journal Volume 2, No.1, 2014
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke is an interruption of blood vasculature system in the brain that causes suddenly neurological dysfunction, resulted in clinically brain tissue damage in a relatively long time period, decreased physical mobility and functional ability impaired of upper limb. The purpose of this study is to know an increasing in upper limb functional ability among stroke patients after mirror neuron system exercise and constraint induced movement therapy exercise and to know the comparison of both exercise. This study uses an experimental research with pre-test and post-test control group design. Number of samples of the first group is 13 patients given mirror neuron system exercise for 30-60 minutes , while the second group 13 patients were given constraint induced movement therapy exercise for 30-60 minutes. The research was conducted in 2 month period time. Each patient is taught a variety of upper limb functional ability in accordance with the operational concept guidance and patients were asked to repeat the exercise independently at home as directed. Measuring test of upper limb functional ability is using the wolf motor function test instruments. The result is an increase the upper limb functional ability of 21.7% in the mirror neuron system exercise group and proved a significant difference (p<0.05) and an increase in the upper limb functional ability of 17.1% in the constraint induced movement therapy exercise group and proved a significant difference (p<0.05) while the difference of increasing of upper limb functional ability of the two groups showed no significant difference (p>0,05). It was concluded that the mirror neuron system exercise is similar with constraint induced movement therapy exercise in increasing the upper limb functional ability among stroke patients.
INTERVENSI INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITATION TECHNIQUE (INIT) DAN TERAPI ULTRASONIK LEBIH MENURUNKAN DISABILITAS LEHER AKIBAT SINDROMA MIOFASIAL OTOT UPPER TRAPEZIUS DIBANDINGKAN INTERVENSI MYOFASCIAL RELEASE TECHNIQUE (MRT) DAN TERAPI ULTRASONIK Maria, Rita; Pangkahila, Alex; Irfan, M.; Jawi, Made; Griadhi, Adiartha; Lesmana, Indra
Sport and Fitness Journal Volume 5, No.3, 2017
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2017.v05.i03.p14

Abstract

The long term use of analgesic drugs in patients with myofascial syndrome had a bad effect. So it is very important to find another methods. Upper trapezius muscle myofascial syndrome is a collection of symptoms such as chronic pain with increased sensitivity to pressure, muscle spasms, tenderness, stiffness, limited motion, and weakness of the upper trapezius muscle. The aim of this study was to compare the rate of decline in the neck disability of interventions for Integrated Neuromuscular Inhibitation Technique (INIT), Myofascial Release Syndrome (MRT), and ultrasound therapy. This research used experimental method with pre-test and post-test group design. This experiment was conducted in RSPI Puri Indah, Jakarta. These samples included 20 people who were divided into two groups of samples, are 10 people in the first group and 10 people in the second group. Samples in the first group had an average age of 30.9 years old with men as much as 4 people and women as much as 6 people. While the second group had an average age of 32.8 years old with men as much as five people and women as many as five people. The results of testing the hypothesis by using test independent sample t-test showed significantly differences between the average after intervention disability first group with mean after intervention disabilities neck second group, with the value of the first group (21.6 ± 4.6)% and the second group (15.6 ± 3.6)% with values p <0.05. It was concluded that the Inhibitation Integrated Neuromuscular Technique (INIT) and ultrasonic therapy was better in reducing the neck disability in the upper trapezius muscle myofascial syndrome, compared to Myofascial Release Syndrome (MRT) and ultrasound therapy. The decline in neck disability will significantly optimize the functional activity of the cervical spine.
KOMBINASI PELATIHAN CORE STABILITY DAN PELATIHAN LARI KONVENSIONAL LEBIH EFEKTIF MENINGKATKAN KECEPATAN LARI DARIPADA PELATIHAN LARI KONVENSIONAL Sulistyawati Kardha, Ni Putu Devi; Adiputra, N.; Irfan, M.
Sport and Fitness Journal Volume 5, No. 1, 2017
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Kecepatan lari merupakan salah satu unsur kemampuan gerak yang diperlukan pada cabang olahragasepak bola. Dalam beberapa studi penelitian menyatakan pelatihan corestability dapat digunakan dalam meningkatkan kecepatan lari. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kombinasi pelatihan core stability dan pelatihan lari konvensional lebih efektif meningkatkan kecepatan lari daripada pelatihan lari konvensional pada siswa ekstrakurikuler sepak bola. Metode: Penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan penelitian two group pre and post test control group design. Sebagai sampel, siswa ekstrakurikuler sepak bola di SMA N 1 Sukawati, sebanyak 44 orang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I diberikan pelatihan lari konvensional, sedangkan Kelompok II diberikan kombinasi pelatihan core stability dan pelatihan lari konvensional. Waktu lari diukur dengan menggunakan tes lari cepat 100 meter dengan menggunakan stopwatch dalam satuan detik. Kecepatan lari didapat dengan jarak (100 meter) dibagi waktu lari (detik). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan perbedaan yang bermakna setelah pelatihan lari konvensional pada Kelompok I dengankombinasi pelatihan core stability dan pelatihan lari konvensional pada Kelompok II yang ditunjukkan dengan rerata kecepatan lari setelah pelatihan pada Kelompok I sebesar 7,42±0,47 m/detik dan pada Kelompok II sebesar8,13±0,35 m/detik. Uji hipotesis menggunakan uji Mann Whitney didapatkan nilai p= 0,001 (p < 0,05) sehingga Ha diterima. Simpulan: Disimpulkan bahwa kombinasi pelatihan core stability dan pelatihan lari konvensional lebih efektif meningkatkan kecepatan lari daripada pelatihan lari konvensional pada siswa ekstrakurikuler sepak bola.
MENGAJAR DENGAN KOMUNIKASI YANG MENYENANGKAN Irfan, M.
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 19, No 72 (2013)
Publisher : LPM Unimed

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rutinitastugaspokokseorang guru adalahmenyampaikan isi pelajaran. Isi pelajaranditransformasikanpada siswamelalui komunikasi. GuruDituntut untuk terampil membangunkomunikasi yangDapatmenumbuhkan perubahan positif pada aspek pendidikan siswanya (kognitif,Efektif danpsikomotor).Tulisan ini menyampaikan konsep tentang membangun komunikasi yang menyenangkan dalammengajar.Membangunkomunikasi menyenangkanpadaprinsipnyaadalahmewujudkanketercapaiantarget dari proses mengajar/mendidik yang diselenggarakan oleh guru dengan memperhatikanpersiapandalammengkomunikasikan, hal apa yang harus dan yang tidak bolehdilakukan ketikaberkomunikasi padasiswadanhal apasaja yang menjadi kajianbagi seorangguru agar komunikasi yangdilakukanpadakesempatan-kesempatanberikutnyamenjadilebihbaiklagi.
THE IMPLEMENTATION OF SCIENTIFIC APPROACH TO THE PJOK LEARNING AT THE TARGET SECONDARY SCHOOLS OF THE 2013 CURRICULUM IN NORTH SUMATRA Irfan, M.; Sugiharto, Sugiharto; Hidayah, Taufiq
The Journal of Educational Development Vol 5 No 1 (2017): February 2017
Publisher : The Journal of Educational Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jed.v5i1.12990

Abstract

The Scientific approach is among the ways to achieve the goals of the 2013 Curriculum (K13). The short period of time for the teacher training and others are assumed to be the cause of the gradual implementation of K13. In line with this, the Government intends to reorganize the way in which the K13 is implemented. The Government has assigned several schools to be analyzed as the target schools to improve. This study intends to contribute to it by analyzing the pattern of scientific `approach implemented by the teachers in teaching their students so that the teachers’ performance in conducting teaching-learning processes can be managed in accordance with the K13. This research aimed to determine the level of perceived gaps on the way the teachers implemented the scientific approach in physical education, sports, and health (PJOK) learning at the target schools of the K13 in the province of North Sumatra. The data were analyzed in order to obtain an overview and improvement solutions in managing scientific approach to PJOK learning that foster a positive impact on the aspects of growth and the students’ development in line with the expectation of the K13. The research method applied in this study refers to the discrepancy approach developed by Malcolm Provus. This approach was meant to find out gaps in the program. The research was carried out by inventorying standard references in implementing the pattern of the scientific approach. The results of inventorying become the standard criteria of data collection and analysis in this study. The analysis revealed that the PJOK teachers have not completely implemented the scientific approach. The implementation patterns were neither consistent nor appropriate.  The teachers understanding about the demand of the scientific approach pattern management of the K13 was inadequate.
PELATIHAN LONG SITTING HAND UP EXERCISE LEBIH BAIK DIBANDINGKAN PELATIHAN CONTRACT RELAX STRETCHING UNTUK MENINGKATKAN FLEKSIBILITAS MUSCLE HAMSTRING TIGHTNESS Junaidi, Adi Saputra; Sri Handari Adiputra, Luh Made Indah; Irfan, M.
Sport and Fitness Journal Volume 5, No. 1, 2017
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Siswa yang mengalami gangguan Hamstring Muscle Tightness akan berisiko mengalami gangguan Anterior Curciatum Ligamen, Low back pain, dan juga plantar fascitis. Pemendekan muscle hamstring adalah suatu kondisi patologi pada otot hamstring yang mengalami pemendekan akibat hypomobility dan posisi aktivitas yang statis sehingga menyebabkan gangguan anatomi dan fungsional tubuh yang memiliki ciri khas yaitu menurunnya fleksibilitas muscle hamstring. Peningkatan fleksibilitas pada pemendekan muscle hamstring dapat dilakukan dengan pemberian penguluruan yaitu berupa Contract Relax Stretching dan Long Sitting Hand Up Exercise. Metode. Desain penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dengan menggunakan two group pre-test and post-test design. Dilaksanakan di lapangan Ubud Gianyar Bali. Subjek penelitian berjumlah 34 orang terbagi menjadi dua kelompok. Penelitian ini dilakukan 3x seminggu selama 1 bulan antara bulan April ? Mei 2016. Fleksibilitas otot hamstring diukur dengan Sit and Reach Test sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis statistik menggunakan Paired sampel t-Test. Hasil. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dengan pelatihan contra relax stretching diperoleh peningkatan fleksibilitas dari 21,52±2,66cm menjadi 32,69±3,25cm dengan nilai p=0,00 (p<0,05). Pada pelatihan long sitting hand up diperoleh peningkatan fleksibilitas dari 20,45±3,50cm menjadi 36,21±5,06cm dengan nilai p=0,00 (p<0,05). Pada uji beda selisih menggunakan t-Independent Test antara kedua kelompok sebelum dan sesudah pelatihan I cotra relax stretching dan didapatkan nilai selisih 11,17±1.34 dan peltihan II long sitting hand up didaptkan nilai selisih 15,75±3,55 dengan nilai p=0,00 (p<0,05) didapatkan perbedaan yang bermakna. Simpulan. Berdasarkan analisis statistik dapat ditarik disimpulkan bahwa pelatihan Long Sitting Hand Up lebih baik meningkatkan fleksibilitas hamstring muscle tightness daripada pelatihan Contract Relax Stretching.