Muh Irfan
Program studi Fisioterapi universitas Esa Unggul

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PEMBERIAN TERAPI MICRO WAVE DIATHERMY (MWD) DAN QUADRICEPS EXERCISE (QE) LEBIH BAIK DARI PADA PEMBERIAN TERAPI ULTRASONIK (US) DANQUADRICEPS EXERCISE(QE) TERHADAP PENGURANGAN NYERI PADA PENDERITA OSTEOARTHROSIS SENDI LUTUT Suja, I Nyoman; Adi Putra, N.; Irfan, Muh
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 2 No 1 (2014): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanda dan gejala yang sering ditimbulkan oleh osteoartrisis adalah ; Nyeri, bersumber dan terjadi pada sinobium, jaringan lunak sendi dan tulang. Kaku sendi, penderita mengalami kesulitan atau kaku pada saat memulai gerakan, tidak mampu menggerakan sendi sampai range of motion penuh. Keterbatasan range of motion,  keadaan ini di sebabkan adanya osteofit, penebalan kapsul sendi yang menimbulkan kekauan dan rasa sakit bila digerakan. Kelemahan dan Atropi otot, akibat dari disuse terutama otot pastus medialis, rectus femoris, dan hamstring. Depormitas sendi, biasanya mengarah ke varus ataupun valgus yang pada akhirnya menimbulkan giving way. Di Indonesia prevalensi Osteoathrosis (OA) lutut berada pada kisaran umur 40 ? 60 tahun, dengan angka prosentase 69% adalah wanita dan 31% pria. Tujuan terapi OA adalah untuk mnenurunkan rasa nyeri dan untuk memperbaiki fungsi dari sendi. Salah satu terapi fisik yang sering digunakan untuk menangani penderita Osteoarthrosis (OA) adalah intervensi fisioterapi dengan pemberian MWD (Microwave Diatermi) dan QE (Quadriceps Exercise) serta pemberian US (Ultrasonik) dan QE (Quadriceps Exercise). Interfensi ini diberikan kepada kedua kelompok penderita OA lutut sebagai subjek penelitian. Masing-masing kelompok terdiri dari 14 subjek, diberikan perlakuan sebanyak 10 kali, kelompok I dengan MWD dan QE, sedangkan kelompok II dengan US dan QE. Adapun maksud dan tujuan dari pengelompokan ini adalah untuk mengetahui ; apakah intervensi Microwave Diathermy dan Quadriceps Exercise dapat mengurangi nyeri akibat OA lutut? Apakah intervensi ultrasonic dan  Quadriceps Exercise dapat mengurangi nyeri akibat OA lutut? Manakah di antara intervensi tersebut yang lebih banyak mengurangi nyeri pada OA lutut? Setelah dilakukan penelitian didapatkan hasil bahwa nyeri akibat OA dapat dikurangi dengan pemberian Diatermi gelombang mikro di kombinasikan dengan penguatan otot quadriceps dan pemberian ultrasonic ditambah latihan penguatan otot quadrisep juga dapat mengurangi rasa nyeri akibat OA, namun yang lebih baik adalah intervensi MWD dan QE di bandingkan dengan US dan QE.
ACTIVE ONE LEG STANDING EXERCISE LEBIH EFEKTIF DARIPADA CONTACTUAL HAND ORIENTATING RESPONSE (CHOR)EXERCISE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOBILITAS PASIEN PASCA STROKE Widayanto, Bambang; Pangkahila, Alex; Irfan, Muh; Ngurah, Ida Bagus; Griadhi, I Putu Adiartha; Munawarah, Mutiah
Sport and Fitness Journal Volume 5, No.3, 2017
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2017.v05.i03.p15

Abstract

Stroke is a syndrome caused by circulatory disorders of the brain (CVA) with acute onset, accompanied by clinical manifestations in the form of neurological deficit and not as a result of tumor, trauma or infection of the central nervous system. Perfomance Mobility impairment is the consequences caused by stroke. The purpose of this study was to compare a Active One Leg Standing and Contactual Hand Orientating Response (CHOR) Exercise in order to improve performance mobility instroke patients. This research used experimental methods with pre-test and post-test control group design. The number of samples per group is 7 people. Group I was gaveActive One Leg Standing Exercise, group II was gaveContactual Hand Orientating Response (CHOR) Exercise. Each group is given an exercise with an hour duration, 3 times a week for 6 weeks. Mobility perfomance measured using POMA-TinettiTest. It was concluded that Active One Leg Standing and contactual Hand orientating Response (CHOR) exercise can improve perfomance mobility in post-stroke patients. There is a significant difference in perfomance mobility level between Active One Leg Standing and contactual Hand orientating Response (CHOR) exercise.Result: (1) The result of t-test related showed mean ± SB pre test (15.57 ± 2.29) and post test (21.42 ± 2.50) with p value <0.05. (2) The result of t-test related showed mean ± SB pre test (13.85 ± 3.93) and post test (18.14 ± 3.89) with p value <0.05. (3) The result of comparation test showed the mean ± SB group I (6.85 ± 1.06) and group II (4.28 ± 0.75) with p value <0.05.
PELATIHAN 12 BALANCE LEBIH MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DIBANDINGKAN PELATIHAN CORE STABILITY PADA LANSIA DI BANJAR BATU, DESA PERERENAN KECAMATAN MENGWI-BADUNG Astiti Suadnyana, Ida Ayu; Tirtayasa, Ketut; Munawaroh, Muthiah; Sri Handari Adiputra, Luh Made Indah; Griadhi, I Putu Adiartha; Irfan, Muh
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.1, Januari 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i01.p14

Abstract

Gangguan keseimbangan merupakan masalah umum pada lansia. Masalah yang akan timbul dari gangguan keseimbangan adalah peningkatan risiko jatuh pada lansia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pelatihan 12 balance lebih efektif dibandingkan pelatihan core stability dalam meningkatkan keseimbangan.Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental pre and post test two group design. Teknik pengambilan sampel secara simple random sampling. Sampel penelitian berjumlah 24 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing terdiri dari 12 orang, Kelompok 1 diberikan pelatihan core stability dan Kelompok 2 diberikan pelatihan 12 balance. Pelatihan ini dilakukan 3 kali dalam seminggu selama 6 minggu. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur keseimbangan menggunakan berg balance scale (BBS) sebelum dan setelah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan skor rerata keseimbangan sebelum intervensi pada Kelompok 1 sebesar 45,42±4,79 dan Kelompok 2 sebesar 44,92±4,27 dengan nilai p=0,227 (p>0,05) serta skor rerata setelah intervensi pada Kelompok 1 sebesar 50,33±4,43 dan pada Kelompok 2 sebesar 52,67±3,31. Hasil menunjukkan adanya peningkatan keseimbangan pada Kelompok 1 sebesar 4,91±0,66 dan pada Kelompok 2 terjadi peningkatan keseimbangan sebesar 7,75±1,21. Uji beda selisih dengan menggunakan mann-whitney u test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara Kelompok 1 dan Kelompok 2 dimana p=0,000 (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pelatihan 12 balance lebih efektif dalam meningkatkan keseimbangan dibandingkan pelatihan core stability pada lansia di Banjar Batu, Desa Pererenan, Kecamatan Mengwi-Badung.Kata kunci : keseimbangan, core stability, 12 balance, lansia
Pemanfaatan Cerita Rakyat Mbojo (Bima-Dompu) sebagai Sumber Bahan Ajar Pembelajaran Menulis Cerpen pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Irfan, Muh
NUANSA Vol 6 No 2 (2018): Edisi September 2017-Februari 2018
Publisher : STKIP Al-Amin Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya  adalah berusaha untuk memahami bagaimana karakter peserta didik dalam proses kegiatan belajar dan bagaimana informasi yang diperoleh dapat diproses oleh pikiran siswa sehingga menjadi milik mereka serta bertahan lama dalam pikiran siswa. Berdasarkan itu, perlu diupayakan hal-hal yang bersifat inovatif dan kreatif guru dalam merencanakan kegitan belajar mengajar. Dengan pemanfaatan kearifan lokal Mbojo (Bima-Dompu) sebagai sumber belajar dalam mengembangkan potensi lokal, siswa dapat memahami lebih cepat apa yang diajarkan oleh guru karena materi yang diajarkan ke siswa sangat kontekstual. Tujuan dari pemanfaatan cerita rakyat Mbojo adalah untuk menghasilkan produk berupa bahan ajar menulis cerita pendek berbasis cerita rakyat Mbojo. Sebagai sumber bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia dalam meningkatkan kualitas belajar siswa, dan membuka peluang bagi siswa untuk mengembangkan potensi budaya lokal Mbojo, maka dengan hadirnya bahan ajar ini siswa dapat menerima materi yang kontekstual. Berdasarkan hasil uji siswa, ketujuh kriteria tersebut sudah memenuhi syarat kelayakan untuk diimplementasikan. Aspek kelayakan isi bahan ajar diperoleh presentase sebesar 87,5% yang didapatkan dari uji ahli 99,7%, uji  praktisi 79,2% dan uji siswa sebesar 92,3%. Hampir setiap criteria yang terdapat pada aspek isi (materi) tidak ada yang memperoleh skor dibawah 75%. Hal itu berarti bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan
Penerapan Pendekatan Kritis untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara pada Siswa Kelas V MIN Kandai II Dompu Irfan, Muh
AL-FURQAN Vol 6 No 1 (2017): Edisi Maret -Agustus 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Amin Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.427 KB)

Abstract

Peneliti bertujuan mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara melalui penerapan pendekatan kritis untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V MIN Kandai II Dompu. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, pada setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V MIN Kandai II Dompu yang berjumlah 41 Orang. Hasil analisis data pada siklus I dan II yaitu: (1) hasil tes kemampuan berbicara siswa mengalami peningkatan, pada siklus I yaitu 66,75 % dan meningkat pada siklus II menjadi 83%; (2) Skor rata-rata aktivitas kegiatan siswa di siklus I sebesar 71,24% dan pada siklus II rata-rata yang diperoleh siswa meningkat menjadi 85,21%. Dari keseluruhan hasil pada siklus II telah memenuhi criteria yang maksimal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan kritis dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa.