Dolly Irfandy
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Otomycosis Edward, Yan; Irfandy, Dolly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakOtomikosis adalah salah satu kondisi yang umum ditemukan di klinik THT. Penyakit ini merupakantantangan dan menimbulkan rasa frustrasi bagi pasien dan dokter ahli THT. Hal ini disebabkan pengobatan yangmemerlukan waktu lama dan rerata kekambuhan yang tinggi.Dilaporkan satu kasus otomikosis pada seorang wanita umur 41 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkananamnesis, pemeriksaan fisik dan tes KOH. Dari pemeriksaaan laboratorium ditemukan Aspergillus niger sebagaipenyebab. Dengan terapi pembersihan liang telinga dan obat oles telinga kombinasi gentian violet terdapatperbaikan.Kata kunci: Otomikosis, Aspergillus sp, TerapiAbstractOtomycosis is one of the common conditions encountered in a general otolaryngology clinic. The diseaseprocess a challenging and frustrating entity for both patients and otolaryngologists for it requires long termtreatment and recurrence rate remains. One case of otomycosis in a 41 years old woman is reported. Thediagnosis was based on anamnesis, physical examination and KOH test. From laboratory examination, Aspergillusniger was isolated as etiologic agent. With the treatment of ear toilet and combination of Gentian violet animprovement was observed.Keywords: Otomycosis, Aspergillus sp,Therapy
Diagnosis dan Penatalaksanaan Tumor Ganas Laring Irfandy, Dolly; Rahman, Sukri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Laring berperan dalam koordinasi fungsi saluran aerodigestif atas seperti bernafas, berbicara dan menelan.Laring terbagi tiga yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Laring merupakan daerah tersering kedua untuk kasuskarsinoma sel skuamosa kepala-leher, biasanya berhubungan dengan tembakau dan alkohol. Lebih dari 95% kasustumor ganas laring adalah karsinoma sel skuamosa. Pasien tumor ganas laring datang dengan berbagai keluhanseperti disfonia, obstruksi jalan napas, disfagia, odinofagi dan hemoptisis. Diagnosis tumor ganas laring ditegakkanberdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis menggunakan endoskopi kaku, serat optik dan biopsi. Penatalaksanaantumor ganas laring tergantung stadium dengan modalitas berupa operasi, kemoterapi, radiasi atau terapi kombinasi.Dilaporkan kasus laki-laki 53 tahun dengan karsinoma glotis stadium III (T3N0M0) squamous cell ca keratinized welldifferentiated. Penatalaksanaan pada pasien ini dengan melakukan laringektomi total.Kata kunci: Tumor ganas laring, karsinoma, laringektomi, tembakau Abstract Larynx plays a certain role in coordinating functions of the upper aerodigestive tract, such as respiration,speech, and swallowing. The larynx is divided into three region; supraglottic, glottic, and subglottic. Larynx is thesecond most common site for squamous cell carcinoma in the head and neck and usually related to tobacco andalcohol exposure. Primary malignant tumors of the larynx are squamous cell carcinomas can found more than 95% ofcases. Patients with laryngeal tumors usually present with complaints of hoarseness, respiratory obstruction,dysphagia, odynophagia and hemoptysis. Diagnosis of laryngeal cancer is made by medical history, clinicalexamination using a rigid or fiberoptic endoscope and biopsy. Management of laryngeal tumour depends on stadiumwith various modality included surgery, chemotheraphy, radiotheraphy or combined therapy. Reported case of 53years old male with Glottic carcinoma of the larynx stage III (T3N0M0) squamous cell ca keratinized well differentiatedis presented. The treatment undergoes with total laryngectomy.Keywords:  Laryngeal cancer, carcinoma, laryngectomy, tobacco
Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Retrofaring pada Anak Novialdi, Novialdi; Irfandy, Dolly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Abses retrofaring adalah terkumpulnya nanah di ruang retrofaring yang merupakan salah satu daerah potensial di leher dalam. Abses retrofaring merupakan kasus yang jarang tetapi dapat menyebabkan kematian terutama pada umur di bawah 5 tahun. Sejak ditemukannya antibiotika, angka kesakitan dan kematian akibat abses menurun drastis. Metode: Dilaporkan satu kasus abses retrofaring dengan riwayat ketulangan pada anak gizi kurang umur 9 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi. Pada pemeriksaan foto polos jaringan lunak leher, terlihat gambaran pelebaran ruang retrofaring dan air fluid level. Diskusi: Penatalaksanaan meliputi pemberian antibiotika, drainase dan eksplorasi abses serta perbaikan keadaan umum. Kata kunci: abses retrofaring, benda asing, drainase Abstract Introduction: Retropharyngeal abscess is defined as accumulation pus in retropharyngeal space which is a potential area in deep neck space. Retropharyngeal abscess is a rare case but it can cause death especially in children under five years old. Since antibiotics were found, morbidity and mortality of this case was drastically decreased. Methods: A retropharyngeal abscess of child 9 years old with history of swallowed foreign body (fishbone) and lack of nutrition has been reported. Diagnosis was based on anamnesis, physical examination and radiographic finding. In soft tissue cervical radiograph we found, widening of retropharyngeal space with air fluid level. Discussion: Management for abscess is intravenous antibiotics, drainage and exploration abscess and improve general condition has been performed Keywords:Retropharyngeal abscess, foreign body, drainage
Trombosis Sinus Kavernosus Akibat Komplikasi Furunkulosis Hidung Budiman, Bestari Jaka; Irfandy, Dolly; Huriyati, Effy; Lestari, Dewi Yuri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trombosis sinus kavernosus merupakan kasus yang jarang, tetapi dapat mengancam kehidupan. Penyebab trombosis dapat berasal dari infeksi daerah sinonasal, midface atau orbita. Gejala klinis meliputi gejala yang melibatkan mata dan beberapa nervus kranial. Penatalaksanaan pada trombosis sinus kavernosus terdiri dari pemberian antibiotik, pembedahan terhadap sumber infeksi, kortikosteroid dan pemberian antikoagulan yang masih kontroversial. Dilaporkan satu kasus trombosis sinus kavernosus akibat komplikasi furunkulosis hidung pada pasien laki-laki 13 tahun dengan penurunan penglihatan pada kedua mata. Pasien diberi terapi antibiotik empirik dan kortikosteroid, memperlihatkan perbaikan. Simpulan studi ini ialah trombosis sinus kavernosus merupakan kondisi yang fatal. Terapi yang segera dan tepat dapat memberikan prognosis yang lebih baik. Penatalaksanaan medikamentosa merupakan pengobatan dasar trombosis sinus kavernosus.
Labioplasti dengan Teknik Millard dan Tennison Randall Hafiz, Al; Irfandy, Dolly; Rahman, Sukri; Rahmadona, Rahmadona
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Labioskisis merupakan cacat bawaan yang umum di seluruh dunia. Dibedakan atas celah inkomplit dan komplit serta celah unilateral dan bilateral. Labioskisis ditatalaksana dengan melakukan labioplasti, antara lain dengan teknik Millard dan Tennison Randall. Dilaporkan dua kasus labioskisis, pada anak laki-laki umur 6 bulan yang dilakukan labioplasti menggunakan teknik Millard dan anak perempuan umur 4 bulan dengan teknik Tennison Randall. Masing- masing teknik labioplasti memiliki keunggulan dan kekurangan. Pemilihan teknik operasi labioplasti pada pasien labioskisis tergantung kepada kondisi pasien, keahlian dan pengalaman operator terhadap teknik tersebut.
Gambaran Intensitas Kebisingan di Wahana Bermain Indoor di kota Padang Alfathika, Dwininta; Irfandy, Dolly; Asyari, Ade
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebisingan merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan. Wahana bermain indoor merupakan salah satu tempat yang memiliki intensitas kebisingan yang tinggi sehingga dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada pengunjung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rerata gambaran bising di beberapa titik di wahana bermain indoor di kota Padang, apakah kebisingan tersebut masih dalam batas aman atau tidak, serta mengetahui profil pengunjungnya. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang dilaksanakan pada bulan November 2017-April 2018. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 30 orang responden dan pengukuran intensitas kebisingan yang dilakukan di 15 titik di tiga lokasi wahana bermain indoor yaitu Fun Station Basko Grand Mall, Zone 2000 Plaza Andalas, dan Trans Studio Mini Transmart. Pengukuran intensitas kebisingan dilakukan menggunakan Sound Level Meter merek Tenmars TM-102. Hasil penelitian menunjukkan intensitas kebisingan rerata dari masing-masing wahana bermain yaitu Fun Station Basko Grand Mall sebesar 91,67 dB, Zone 2000 Plaza Andalas sebesar 91,58 dB, dan Trans Studio Mini Transmart sebesar 91,594 dB. Intensitas kebisingan rerata di tiga tempat tersebut melebihi nilai ambang batas yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk tempat rekreasi, yaitu sebesar 70 dB. Mesin permainan dengan intensitas kebisingan tertinggi di Zone 2000 dan di Trans Studio Mini adalah hockey, sedangkan di Fun Station adalah mesin Go Go Doggy.
Rekonstruksi Defek 1/3 Medial Daun Telinga dengan Flap Dieffenbach Irwandanon, Irwandanon; Hafiz, Al; Rahman, Sukri; Irfandy, Dolly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telinga dapat mengalami defek baik karena pasca pengangkatan tumor atau trauma. Berbagai teknik dapat digunakan untuk menutup defek pada telinga. Flap Dieffenbach merupakan salah satu teknik untuk merekonstruksi 1/3 medial daun telinga. Dilaporkan satu kasus seorang perempuan 48 tahun dengan keratosis seboroik pada 1/3 medial daun telinga yang kemudian dilakukan eksisi dan defek ditutup dengan flap Dieffenbach. Eksisi tumor daun telinga dapat menimbulkan defek pada telinga yang memerlukan rekonstruksi. Flap Dieffenbach dapat digunakan untuk menutup defek pada 1/3 medial daun telinga dengan hasil yang sangat baik dan memuaskan.
Penggunaan terkini oksimetazolin pada praktik klinik sehari-hari dan rekomendasi Kelompok Studi Rinologi Indonesia Wardani, Retno Sulistyo; Zakiah, Azmi Mir’ah; Magdi, Yoan Levia; Irfandy, Dolly; Kusuma Dewi, Anna Mailasari; Sutikno, Budi; Hendradewi, Sarwastuti; Ratunanda, Sinta Sari; Munir, Delfitri
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 46, No 2 (2016): Volume 46, No. 2 July - December 2016
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.397 KB) | DOI: 10.32637/orli.v46i2.165

Abstract

Latar belakang: Oksimetazolin adalah bahan aktif dekongestan topikal yang digunakan untuk rinitis alergi maupun inflamasi mukosa hidung lainnya. Cara pemakaian oksimetazolin yang baik dan benar akan memengaruhi keberhasilan pengobatan. Efek samping rinitis medikamentosa merupakan komplikasi yang sering terjadi dan sebaiknya dapat dicegah. Tujuan: Penulisan tinjauan pustaka ini untuk memberikan pemahaman terkini tentang berbagai indikasi oksimetazolin pada praktik klinik Telinga Hidung Tenggorok sehari-hari, cara pemakaian yang tepat, efek samping dan komplikasi yang terjadi berdasarkan studi kepustakaan yang dipublikasikan di PubMed, Google Scholar, dan Scopus dalam 10 tahun terakhir (2007–2016) oleh tim adhoc anggota Kelompok Studi (KODI) Rinologi Indonesia. Tinjauan pustaka: Oksimetazolin memiliki indikasi yang diperluas jika digunakan bersama dengan bahan aktif lain. Oksimetazolin semprot hidung 0,05% yang digunakan bersama dengan steroid intranasal dilaporkan memberikan manfaat pada penatalaksanaan rinitis alergi, rinitis kronis, dan polip hidung. Oksimetazolin digunakan juga dalam bedah sinus endoskopik untuk mendapatkan visualisasi lapang operasi yang baik karena efek hemostatik vasokonstriktor intranasal. Keuntungan yang dilaporkan juga diiringi dengan kemungkinan efek samping dan komplikasi yang sudah dikenal sampai yang membahayakan hingga kematian akibat koarktasio aorta, infark miokard elevasi non-ST, dan krisis hipertensi. Kesimpulan: Rekomendasi yang dibuat oleh KODI Rinologi berdasarkan analisis secara sistematik dengan telaah kritis, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang penggunaan oksimetazolin yang bermanfaat dan dapat mencegah efek samping yang berbahaya.Kata kunci: Oksimetazolin, dekongestan intranasal, indikasi, efek samping, komplikasiABSTRACT Background: Oxymetazoline is an active ingredient of topical decongestant in treating allergic rhinitis and other nasal mucosal inflammation. A good and proper usage of oxymetazoline will influence a beneficial outcome. Rhinitis medicamentosa is a common complication that should be avoided. Purpose: Content of the literature review is the indications of oxymetazoline usage in daily ENT clinical practice; the proper usage, side effects and complications are appraised from Pubmed, Scopus and Google Scholar publications within the last 10 years (2011 – 2015). The work was performed by adhoc team consisted of member of Rhinology Study Group Indonesia. Literature Review: Oxymetazoline broader indications obtained when applied together with other active ingredients. Oxymetazoline 0.05% nasal spray with topical intranasal steroid was reported as having efficacy in management of allergic rhinitis, chronic rhinitis and nasal polyps. Oxymetazoline is used as topical vasoconstrictor during endoscopic sinus surgery to get clear endoscopic visualization due to its hemostatic effect. Combination of oxymetazoline with topical intranasal steroid, was reported to be beneficial in the management of allergic rhinitis, chronic rhinitis and nasal polyps. Oxymetazoline is also used as topical vasoconstrictor during endoscopic sinus surgery to get clear endoscopic visualization due to its hemostatic effect. The good result of oxymetazoline was reported along with its side effects, which could be fatal, such as coarctation of the aorta, non-ST elevation myocardial infarction, and critical hypertension. Conclusion: Recommendation from Rhinology Study Group Indonesia based on systematic analysis with critical appraisal that has been made, may widen the knowledge and understanding of oxymetazoline usage and indications, and also avoiding the dangerous side effects and complications.Keywords: Oxymetazoline, topical intranasal decongestant, indication, side effect, complication
Peran biofilm bakteri terhadap derajat keparahan rinosinusitis kronis berdasarkan skor Lund-Mackay Yolazenia, Y; Budiman, Bestari Jaka; Huriyati, Effy; Djamal, Aziz; Machmud, Rizanda; Irfandy, Dolly
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 47, No 2 (2017): Volume 47, No. 2 July - December 2017
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.193 KB) | DOI: 10.32637/orli.v47i2.220

Abstract

Latar belakang: Rinosinusitis kronis (RSK) adalah penyakit inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung lebih dari 12 minggu. Berbagai kondisi telah dikaitkan dengan patogenesis penyakit ini, seperti infeksi bakteri, jamur, superantigen, dan biofilm. Banyak penelitian telah menunjukkan terdapatnya biofilm bakteri pada pasien dengan RSK. Biofilm bakteri dapat memfasilitasi terjadinya resistensi pada antibiotik. CT Scan sinus paranasal (SPN) merupakan pemeriksaan penunjang pilihan untuk diagnosis radiologik RSK. Lund dan Mackay telah mengembangkan suatu sistem berdasarkan skor dari CT Scan SPN untuk menilai kuantifikasi proses peradangan pada sinus paranasal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan biofilm bakteri memiliki skor Lund-Mackay CT Scan SPN yang lebih tinggi pada saat pra operatif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran biofilm bakteri terhadap derajat keparahan RSK berdasarkan skor Lund-Mackay. Metode: Penelitian ini adalah penelitian cross-sectional dengan jumlah total sampel adalah 48 orang pasien RSK. Sekret hidung diambil menggunakan kapas lidi steril dengan swab pada meatus medius lalu dilakukan identifikasi bakteri dan pemeriksaan biofilm dengan tube method. Skor Lund-Mackay dihitung dari CT Scan SPN potongan koronal. Data dianalisis dengan uji Fisher. Hasil: Proporsi pasien RSK dengan skor Lund-Mackay yang tinggi lebih banyak pada pasien dengan biofilm (46,2%), dibandingkan tanpa biofilm (44,4%). Secara statistik tidak terdapat perbedaan bermakna pada skor Lund-Mackay antara pasien dengan biofilm dan tanpa biofilm (p=1,000). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara biofilm bakteri dengan derajat keparahan RSK berdasarkan skor Lund-Mackay. Kata Kunci: Rinosinusitis kronis, biofilm bakteri, tube method, skor Lund-Mackay ABSTRACT Background: Chronic rhinosinusitis (CRS) is inflammation of the nose and paranasal sinuses with the symptoms duration more than 12 weeks. Many conditions have been linked to its pathogenesis such as bacterial and fungal infection, superantigens and biofilm. Many studies showed the presence of bacterial biofilms in patients with CRS. Bacterial biofilms can facilitate the resistance to antibiotics. Paranasal sinuses (PNS) CT scan is the method of choice for radiological diagnosis of CRS. Lund and Mackay has developed a scoring system based on the CT finding to assess the quantification of inflammatory process in PNS. Some research suggested that patients with bacterial biofilms have higher Lund-Mackay score pre-operatively. Purpose: To determine the role of bacterial biofilms to the severity of CRS according to Lund-Mackay score. Methods: This was a cross-sectional study with 48 CRS patient’s sample. Nasal discharges were taken by swab in middle meatal using sterile cotton buds, followed by identification of bacteria and detection of bacterial biofilms using tube method. Lund-Mackay score was counted from coronal section of PNS CT Scan. Data was analyzed by Fisher’s exact test. Results: Proportion of patients CRS with high Lund-Mackay score was more common in patient with biofilm (46.2%) compared to patients without biofilm (44.4%). Statistically, there was no significant difference of Lund-Mackay score between patient with biofilm and without biofilm (p=1.00). Conclusion: There was no relationship between the bacterial biofilm with the severity of CRS according to Lund-Mackay score. Keywords: Chronic rhinosinusitis, bacterial biofilm, tube method, Lund-Mackay scores
Biofilm Bakteri pada Penderita Rinosinusitis Kronis Yolazenia, Yolazenia; Budiman, Bestari Jaka; Irfandy, Dolly
Jurnal Kesehatan Melayu Vol 1, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.208 KB) | DOI: 10.26891/jkm.v1i2.2018.106-113

Abstract

Banyak dilaporkan kegagalan pengobatan pada rinosinusitis kronis (RSK) disebabkan resistensi terhadap antibiotik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa biofilm bakteri berperan penting pada etiologi dan persistensi dari RSK. Penulisan tinjauan pustaka ini adalah untuk mengetahui implikasi biofilm bakteri pada penderita RSK. Rinosinusitis kronis adalah penyakit inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang berlangsung dalam waktu lebih dari 12 minggu. Biofilm adalah suatu struktur komunitas sel-sel bakteri yang ditutupi oleh matriks polimer yang dihasilkan sendiri dan menempel pada permukaan. Berbagai penelitian menunjukkan terdapatnya biofilm bakteri pada mukosa sinonasal penderita RSK dan berhubungan dengan resistensi terhadap pengobatan dengan antibiotika. Berbagai pemeriksaan untuk mendeteksi biofilm yaitu Scanning Electron Microscopy (SEM), Transmission Electron Microscopy (TEM), Confocal Scanning Laser Microscopy (CSLM), modifikasi Calgary Biofilm Device Assay, Tube Method dan Congo Red Agar Method. Beberapa terapi potensial untuk mengatasi biofilm pada RSK sedang berkembang.