Fredie Irijanto
Faculty of Medicine Gadjah Mada University/ Dr Sardjito Hospital, Yogyakarta

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

Analisis Biaya dan Nilai Utilitas Pasien Hemodialisa yang Diberikan Terapi Sevelamer Karbonat Safnurbaiti, Dwi Putri; Andayani, Tri Murti; Irijanto, Fredie
Oceana Biomedicina Journal Vol 1, No 2 (2018): Oceana Biomedicina Journal
Publisher : Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/obj.v1i2.12

Abstract

Sevelamer karbonat merupakan alternatif lain sebagai terapi pengikat fosfat yang diberikan kepada pasien hemodialisa selain CaCO3. Sevelamer karbonat dapat menurunkan kadar fosfat, mengurangi kejadian kalsifikasi vaskular dan mortalitas yang secara langsung berdampak pada perbaikan kualitas hidup pasien hemodialisa, namun harga sevelamer karbonat lebih mahal dibandingkan dengan CaCO3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran biaya yang diperlukan untuk terapi sevelamer karbonat dan nilai utilitas pasien hemodialisa yang menggunakan terapi sevelamer karbonat di RS UGM Yogyakarta.Penelitian dilakukan secara prospektif selama 8 minggu di RS UGM Yogyakarta pada bulan Oktober-November 2016. Desain penelitian adalah quasi eksperimental dengan “pretest posttest design with control group”. Kelompok eksperimental adalah sevelamer karbonat dan kontrol adalah CaCO3. Pengukuran health related quality of life (HRQOL) pasien hemodialisa salah satunya dengan mengukur utilitas pasien hemodialisa dengan kuesioner EQ-5D-5L pada awal (pre) dan akhir (post) penelitian. Analisis biaya dilihat berdasarkan perspektif rumah sakit dengan menghitung totaldirect medical cost.Jumlah total responden dalam penelitian ini adalah 37 pasien yang terdiri atas 16 pasien kelompok eksperimental dan 21 pasien kelompok kontrol. Rata-rata biaya yang diperlukan pasien hemodialisa dengan sevelamer karbonat untuk menangani kondisi gangguan mineral dan tulang adalah sebesar Rp2.999.188,75±167.920,75 per pasien selama 8 minggu terapi. Nilai utilitas dan skor EQ-5D VAS baseline pasien hemodialisa yang diberikan sevelamer karbonat adalah masing-masing 0,91±0,13 dan 75,93±9,34, dan di akhir penelitian (posttes) terdapat perubahan nilai utilitas dan skor EQ-5D VAS sebesar 0,93±0,08 dan 77,44±11,12. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perubahan nilai utilitas dan skor EQ-5D VAS pasien hemodialisa yang diberikan sevelamer karbonat antara awal (pre) dan akhir penelitian (posttes) adalah menunjukkan tidak berbeda bermakna (p>0,05).Kata Kunci : analisis biaya,EQ-5D-5L, nilai utilitas, hemodialisa,sevelamer karbonat
PERBANDINGAN EFEK TERAPI KOMBINASI 2 OBAT DENGAN 3 OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HEMODIALISIS Untari, Meta Kartika; Nugroho, Agung Endro; Irijanto, Fredie
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.883 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.290

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit pembuluh perifer yang dialami oleh pasien penyakit ginjal kronik sebagai konsekuensi kerusakan progresif fungsi ginjal. Target kontrol tekanan darah predialisis <140/90 mmHg. Penelitian dilakukan di Instalasi Hemodialisis di RS Akademik UGM, RSUD Sleman, dan RSAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta selama bulan April-Juni 2014. Pengambilan data dilakukan dengan melihat profil tekanan darah pada rekam medik. Pengolahan data menggunakan uji t berpasangan untuk mengetahui apakah ada perbedaan tekanan darah yang diberi kombinasi 2 antihipertensi dibandingkan sesudah diberi 3 antihipertensi pada pasien hemodialisis. Analisis bivariat untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pencapaian target tekanan darah sistolik <140 mmHg. Subyek pada penelitian ini sebanyak 24 pasien hemodialisis, pria sebanyak 14 pasien (58,3%), berusia rata-rata 46,12 tahun, usia termuda adalah 23 tahun dan tertua 61 tahun, menjalani hemodialisis 2 kali/minggu (91,7%), memiliki beberapa komorbid, dengan komorbid terbanyak adalah diabetes melitus (25%). Pasien yang mengalami penurunan tekanan darah sesudah diberi kombinasi 2 antihipertensi sebanyak 8 pasien (33,33%) dan sesudah diberi kombinasi 3 antihipertensi sebanyak 87,5%. Hasil pengujian statistik terhadap tekanan darah sistolik menunjukkan signifikansi 0,00 (< 0,05) dan tekanan darah diastolik 0,098 (>0,05). Pasien yang dapat mencapai target tekanan darah sistolik <140 mmHg hanya 6 pasien (25%) dan tidak ada faktor karakteristik yang menunjukkan hubungan dengan pencapaian target tekanan darah sistolik <140 mmHg. Penambahan kombinasi antihipertensi memberikan penurunan tekanan darah sistolik lebih baik. Kata kunci: Penyakit ginjal kronik, hemodialisis, tekanan darah, antihipertensi, tekanan darah sistolik
Validasi Kuesioner Skala Kelelahan FACIT pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Rutin Sihombing, Jhonson P.; Hakim, Lukman; Andayani, Tri M.; Irijanto, Fredie
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 4 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.394 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.4.231

Abstract

Anemia sangat umum terjadi pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK). Salah satu akibat dari anemia adalah terjadinya kelelahan sehingga pasien mengalami penurunan kualitas hidup. Kuesioner Skala Kelelahan Functional Assessment Chronic Illness Therapy (FACIT) adalah suatu instrumen untuk mengetahui tingkat kelelahan pasien. Di Indonesia, kuesioner Skala Kelelahan FACIT belum pernah divalidasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memvalidasi kuesioner Skala Kelelahan FACIT versi Indonesia sebagai salah satu instrumen pengukuran kualitas hidup pasien. Skala Kelelahan FACIT diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan dibagikan kepada pasien PGK yang menjalani hemodialisis rutin di rumah sakit akademik di Yogyakarta pada periode Mei–Oktober 2015. Validitas dievaluasi dengan uji Pearson correlation dan reliabilitas dievaluasi dengan uji Cronbach alpha. Hasil uji validitas menunjukkan semua butir pertanyaan valid karena nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel=0,279 dan reliabel karena r11=0,646>0,6 yang menunjukkan bahwa instrumen kuesioner reliabel. Kesimpulannya adalah kuesioner Skala Kelelahan FACIT versi Indonesia merupakan suatu pengukuran yang ringkas dan valid untuk memonitor gejala anemia dan efeknya pada pasien penyakit ginjal kronis.Kata kunci: FACIT, hemodialisis, penyakit ginjal kronis, validasi Validation of Indonesian Version of FACIT Fatigue Scale Questionnaire in Chronic Kidney Disease (CKD) Patients with Routine Hemodialysis Anemia is common in Chronic Kidney Disease (CKD). One of anemia consequences is fatigue which can lead to decrease in quality of life. Functional Assessment Chronic Illness Therapy (FACIT) Fatigue Scale is an instrument to measure patient’s score of fatigue. This questionnaire is not validated yet in Indonesia. The aim of this study is to validate Indonesian version of Functional Assessment Chronic Illness Therapy (FACIT) Fatigue Scale as an instrument for patient’s quality of life. FACIT Fatigue Scale was translated into Indonesian and administrated to CKD patients with routine homodialysis in an academic hospital in Yogyakarta on May until October 2015. The validity was evaluated by Pearson correlation test and the reliability was evaluated by Cronbach’s alpha test. Validity test showed that all of the questions were valid because r count was bigger than r table=0,279 and reliable because r11=0,646>0,6. In conclusion, Indonesian version of FACIT Fatigue Scale was a brief and valid to monitor important symptom and its effect on CKD patients with routine hemodialysis.Keywords: Chronic kidney disease, FACIT, hemodialysis, validity
EFEK TERAPI IRON DEXTRAN PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK HEMODIALISIS RUTIN DI RUMAH SAKIT Nuryanti, Tety; Kusumawati, Dhiyan; Andayani, Tri Murti; Irijanto, Fredie
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1659.922 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.264

Abstract

Anemia berhubungan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas yang signifikan pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis (PGK-HD). Anemia defisiensi besi terjadi pada sebagian besar pasien dengan PGK-HD. Anemia defisiensi besi dapat membatasi efikasi terapi epoetin (EPO) pada pasienPGK-HD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek terapi iron dextran pada pasien PGK-HD rutin ditinjau dari parameter perubahan nilai status besi (SI, TIBC, ST) dan kadar hemoglobin (Hb) pasien sebelum dan sesudah terapi iron dextran, dan kemungkinan muncul adverse drug event (ADE) selama terapi iron dextran.Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain cross sectional retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien PGK dengan HD rutin 2x/minggu, pasien dengan pemeliharaan EPO, nilai SI < 60 μg/dl, ST<50%, usia ≥ 18 tahun yang mendapat iron dextran selama 5 minggu dengan frekuensi pemberian 2x/minggu, pada periode Januari 2015-Desember 2015 di RS UGM Yogyakarta. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dilihat rata-rata perubahan nilai status besi dan kadar Hb setelah terapi iron dextran diberikan selama 5 minggu. Data dianalisis dengan uji statistik paired-t-test. Pasien juga dilihat kemungkinan muncul ADE dengan melihat perkembangan kondisi pasien yang tercatat di rekam medik pasien selama terapi iron dextran.Hasil penelitian terhadap 33 pasien menunjukkan bahwa penggunaan iron dextran untuk terapi anemia pada pasien PGKHD memiliki efek dapat meningkatkan nilai SI dari 39 μg/dl menjadi 62 μg/dl(ΔSI 23 μg/dl), TIBC dari 148 μg/dl menjadi 170 μg/dl (ΔTIBC 22 μg/dl), ST dari 26,70 % menjadi 38,64% (ΔST 11,94 %) dan kadar Hb dari 10,13 g/dl menjadi 10,72 g/dl (ΔHb 0,59 g/dl) serta tidak ditemukan ADE selama penggunaan iron dextran. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap perubahan nilai status besi dan Hb (p < 0,05).Kata kunci: anemia, defisiensi besi, iron dextran
EFEK TERAPI IRON DEXTRAN PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK HEMODIALISIS RUTIN DI RUMAH SAKIT Nuryanti, Tety; Kusumawati, Dhiyan; Andayani, Tri Murti; Irijanto, Fredie
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.264

Abstract

Anemia berhubungan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas yang signifikan pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis (PGK-HD). Anemia defisiensi besi terjadi pada sebagian besar pasien dengan PGK-HD. Anemia defisiensi besi dapat membatasi efikasi terapi epoetin (EPO) pada pasienPGK-HD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek terapi iron dextran pada pasien PGK-HD rutin ditinjau dari parameter perubahan nilai status besi (SI, TIBC, ST) dan kadar hemoglobin (Hb) pasien sebelum dan sesudah terapi iron dextran, dan kemungkinan muncul adverse drug event (ADE) selama terapi iron dextran.Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain cross sectional retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien PGK dengan HD rutin 2x/minggu, pasien dengan pemeliharaan EPO, nilai SI < 60 μg/dl, ST<50%, usia ≥ 18 tahun yang mendapat iron dextran selama 5 minggu dengan frekuensi pemberian 2x/minggu, pada periode Januari 2015-Desember 2015 di RS UGM Yogyakarta. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dilihat rata-rata perubahan nilai status besi dan kadar Hb setelah terapi iron dextran diberikan selama 5 minggu. Data dianalisis dengan uji statistik paired-t-test. Pasien juga dilihat kemungkinan muncul ADE dengan melihat perkembangan kondisi pasien yang tercatat di rekam medik pasien selama terapi iron dextran.Hasil penelitian terhadap 33 pasien menunjukkan bahwa penggunaan iron dextran untuk terapi anemia pada pasien PGKHD memiliki efek dapat meningkatkan nilai SI dari 39 μg/dl menjadi 62 μg/dl(ΔSI 23 μg/dl), TIBC dari 148 μg/dl menjadi 170 μg/dl (ΔTIBC 22 μg/dl), ST dari 26,70 % menjadi 38,64% (ΔST 11,94 %) dan kadar Hb dari 10,13 g/dl menjadi 10,72 g/dl (ΔHb 0,59 g/dl) serta tidak ditemukan ADE selama penggunaan iron dextran. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap perubahan nilai status besi dan Hb (p < 0,05).Kata kunci: anemia, defisiensi besi, iron dextran
PERBANDINGAN EFEK TERAPI KOMBINASI 2 OBAT DENGAN 3 OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HEMODIALISIS Untari, Meta Kartika; Nugroho, Agung Endro; Irijanto, Fredie
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.290

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit pembuluh perifer yang dialami oleh pasien penyakit ginjal kronik sebagai konsekuensi kerusakan progresif fungsi ginjal. Target kontrol tekanan darah predialisis <140/90 mmHg. Penelitian dilakukan di Instalasi Hemodialisis di RS Akademik UGM, RSUD Sleman, dan RSAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta selama bulan April-Juni 2014. Pengambilan data dilakukan dengan melihat profil tekanan darah pada rekam medik. Pengolahan data menggunakan uji t berpasangan untuk mengetahui apakah ada perbedaan tekanan darah yang diberi kombinasi 2 antihipertensi dibandingkan sesudah diberi 3 antihipertensi pada pasien hemodialisis. Analisis bivariat untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pencapaian target tekanan darah sistolik <140 mmHg. Subyek pada penelitian ini sebanyak 24 pasien hemodialisis, pria sebanyak 14 pasien (58,3%), berusia rata-rata 46,12 tahun, usia termuda adalah 23 tahun dan tertua 61 tahun, menjalani hemodialisis 2 kali/minggu (91,7%), memiliki beberapa komorbid, dengan komorbid terbanyak adalah diabetes melitus (25%). Pasien yang mengalami penurunan tekanan darah sesudah diberi kombinasi 2 antihipertensi sebanyak 8 pasien (33,33%) dan sesudah diberi kombinasi 3 antihipertensi sebanyak 87,5%. Hasil pengujian statistik terhadap tekanan darah sistolik menunjukkan signifikansi 0,00 (< 0,05) dan tekanan darah diastolik 0,098 (>0,05). Pasien yang dapat mencapai target tekanan darah sistolik <140 mmHg hanya 6 pasien (25%) dan tidak ada faktor karakteristik yang menunjukkan hubungan dengan pencapaian target tekanan darah sistolik <140 mmHg. Penambahan kombinasi antihipertensi memberikan penurunan tekanan darah sistolik lebih baik. Kata kunci: Penyakit ginjal kronik, hemodialisis, tekanan darah, antihipertensi, tekanan darah sistolik
Gambaran Deskriptif Efek Terapi Kombinasi Dua Obat Antihipertensi Pada Pasien Hemodialisis di Yogyakarta Untari, Meta Kartika; Nugroho, Agung Endro; Irijanto, Fredie
Jurnal Biomedika Vol 8 No 1 (2015): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.366 KB) | DOI: 10.31001/biomedika.v8i1.188

Abstract

Hipertensi adalah penyakit pembuluh perifer yang dialami oleh pasien penyakit ginjal kronik sebagai konsekuensi kerusakan secara progresif pada fungsi ginjal. Target kontrol tekanan darah predialisis adalah &lt;140/90 mmHg. Target tersebut sulit dicapai sehingga diperlukan kombinasi terapi antihipertensi. Pemberian kombinasi dua antihipertensi bertujuan untuk mengetahui efek terapi berupa penurunan tekanan darah dua obat antihipertensi pada pasien hemodialisis.
Validasi Kuesioner Skala Kelelahan FACIT pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Rutin Sihombing, Jhonson P.; Hakim, Lukman; Andayani, Tri M.; Irijanto, Fredie
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 4 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.479 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.4.231

Abstract

Anemia sangat umum terjadi pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK). Salah satu akibat dari anemia adalah terjadinya kelelahan sehingga pasien mengalami penurunan kualitas hidup. Kuesioner Skala Kelelahan Functional Assessment Chronic Illness Therapy (FACIT) adalah suatu instrumen untuk mengetahui tingkat kelelahan pasien. Di Indonesia, kuesioner Skala Kelelahan FACIT belum pernah divalidasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memvalidasi kuesioner Skala Kelelahan FACIT versi Indonesia sebagai salah satu instrumen pengukuran kualitas hidup pasien. Skala Kelelahan FACIT diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan dibagikan kepada pasien PGK yang menjalani hemodialisis rutin di rumah sakit akademik di Yogyakarta pada periode Mei–Oktober 2015. Validitas dievaluasi dengan uji Pearson correlation dan reliabilitas dievaluasi dengan uji Cronbach alpha. Hasil uji validitas menunjukkan semua butir pertanyaan valid karena nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel=0,279 dan reliabel karena r11=0,646>0,6 yang menunjukkan bahwa instrumen kuesioner reliabel. Kesimpulannya adalah kuesioner Skala Kelelahan FACIT versi Indonesia merupakan suatu pengukuran yang ringkas dan valid untuk memonitor gejala anemia dan efeknya pada pasien penyakit ginjal kronis.Kata kunci: FACIT, hemodialisis, penyakit ginjal kronis, validasi Validation of Indonesian Version of FACIT Fatigue Scale Questionnaire in Chronic Kidney Disease (CKD) Patients with Routine Hemodialysis Anemia is common in Chronic Kidney Disease (CKD). One of anemia consequences is fatigue which can lead to decrease in quality of life. Functional Assessment Chronic Illness Therapy (FACIT) Fatigue Scale is an instrument to measure patient’s score of fatigue. This questionnaire is not validated yet in Indonesia. The aim of this study is to validate Indonesian version of Functional Assessment Chronic Illness Therapy (FACIT) Fatigue Scale as an instrument for patient’s quality of life. FACIT Fatigue Scale was translated into Indonesian and administrated to CKD patients with routine homodialysis in an academic hospital in Yogyakarta on May until October 2015. The validity was evaluated by Pearson correlation test and the reliability was evaluated by Cronbach’s alpha test. Validity test showed that all of the questions were valid because r count was bigger than r table=0,279 and reliable because r11=0,646>0,6. In conclusion, Indonesian version of FACIT Fatigue Scale was a brief and valid to monitor important symptom and its effect on CKD patients with routine hemodialysis.Keywords: Chronic kidney disease, FACIT, hemodialysis, validity
Soursop fruit (Annona muricata Linn.) consumption does not increase serum potassium levels and not significant in cardiovascular risk improvements of prehypertension subjects Alatas, Haidar; Sja'bani, Mochammad; Irijanto, Fredie; Mustofa, .; Mukti, Ali Ghufron; Bawazier, Lucky Aziza; Zulaela, Zulaela
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 50, No 4 (2018)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.714 KB) | DOI: 10.19106/JMedScie/005004201804

Abstract

Patients with chronic kidney disease (CKD) tend to have hyperkalemia. They worry about the consumption of fruit for fear of increased serum potassium levels and therefore require a restricted potassium diet. Soursop fruit (Annona muricata Linn.) is believed to be beneficial for CKD and cardiovascular risk. This study was conducted to investigate the effect of soursop fruit supplement consumption on serum potassium levels and cardiovascular risk in prehypertension subjects from Mlati, Sleman District, Yogyakarta Special Region, Indonesia. A total 143 samples that met to the inclusion and exclusion criteria were subsequently randomized into two groups. Group I was given 2 x 100 g/day of soursop and Group II was without soursop. A laboratory examination from both groups was conducted including potassium, total cholesterol, low density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein(HDL), and triglyceride levels at weeks 0; 7; and 13. Regular soursop consumption was evaluated every 2 weeks for 3 months. Data analysis was performed using an independent t test, a nonparametric Mann?Whitney test, and a chi-square test. No significantly different in serum potassium levels between the soursop and non-soursop groups at week 7 and 13 (p=0.073 and p=0.108) was observed. Furthermore, no significantly different in total cholesterol (p=0.254 and p=0.932), LDL (p=0.221 and p=0.710), HDL (p=0.400 and p=0.960), triglycerides (p=0.423 and p=0.580) of both groups was also obsereved. However, in subjects with hypercholesterolemia and hypertriglyceridemia, the mean cholesterol and triglyceride levels decreased compared to no soursop consumption at week 7 and 13. In conclusion, consumption of a soursop fruit supplement of 2 x 100 g/day for 13 weeks does not affect the serum potassium levels of prehypertension subjects. Moreover, the consumption of a soursop fruit supplement is not significantly different compared to those without soursoup in improving cardiovascular risk.
Penilaian Kualitas Hidup Pasien Hemodialisis Rutin dengan Anemia di Yogyakarta Puspitasari, Candra Eka; Andayani, Tri Murti; Irijanto, Fredie
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 9, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.273 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.43187

Abstract

Anemia is often experienced by hemodialysis patients and can have an impact on the quality of life. This study aims to determine the effect of hemoglobin (Hb), hematocrit (Ht), and the characteristics and sociodemographic of the subjects on quality of life. The method used in this study was cross sectional and consecutive sampling technique. The data is retrieved by interviews which then analyzed using dummy multiple regression. Inclusion criteria included routine hemodialysis patients and did not receive blood transfusions. The validity and reliability test of the KDQoL-SF36 questionnaire showed reliable results. The results of the study on 112 subjects obtained an increase in Hb levels positively correlated with an increase in the KDQoL-SF36 score but not for an increase in Ht levels. Increased KDQoL-SF36 score illustrates the better quality of life of patients. Characteristics and sociodemography that influence quality of life include comorbid dummy hypertension-diabetes and work status. The condition of anemia can worsen the quality of life for hemodialysis patients.