Masyhur Irsyam
Departement of Civil Engineering, Institute of Technology Bandung, Jl. Ganesa 10 Bandung, Indonesia.

Published : 12 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Teknik Sipil

Pengaruh Strength Reduction Tanah Clay-Shale Akibat Pelaksanaan Pemboran Terhadap Nilai Daya Dukung Pondasi Tiang di Jembatan Suramadu Berdasarkan Analisis Hasil Tes OC Irsyam, Masyhur; Sahadewa, Andhika; Boesono, Atyanto; Soebagyo, Soebagyo
Jurnal Teknik Sipil Vol 14, No 2 (2007)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1248.062 KB)

Abstract

Abstrak. Jembatan Suramadu yang akan menghubungkan kota Surabaya dengan Madura memiliki bentang total sepanjang 5.438 m. Mengingat lokasi pembangunan yang berada di laut dan beban rencana yang besar pada tiang pondasi, maka uji pembebanan statik konvensional tidak mungkin untuk dilakukan di jembatan utama. Alternatif tes pembebanan tiang yang dapat dilakukan adalah Tes OC yang mengikuti  prosedur Osterberg Cell Test. Tes ini dilengkapi dengan load cell, telltale, dan strain gauge sehingga dapat diperoleh kurva load-displacement untuk tahanan ujung dan tahanan selimut pada berbagai kedalaman. Hasil penyelidikan tanah menunjukkan keberadaan lapisan tanah clay-shale yang mengandung montmorillonite pada lokasi tiang bor. Jenis tanah ini sensitif terhadap berkurangnya tegangan lateral akibat pemboran dan terhadap weathering process sehingga dapat terjadi strength reduction. Strength reduction tanah menyulitkan predikasi tahanan ujung dan tahanan selimut pondasi tiang bor. Hasil Tes OC digunakan sebagai acuan dalam menentukan pengaruh strength reduction terhadap tahanan ujung dan tahanan selimut dengan cara membandingkan hasil pengukuran dengan hasil prediksi berdasarkan korelasi empiris yang umum dipakai. Untuk tahanan ujung, hasil Tes OC menunjukkan harga yang relatif dekat dengan hasil prediksi sehingga strength reduction untuk tahanan ujung akibat pemboran relatif kecil selama kondisi dasar pondasi bersih. Sedangkan untuk tahanan selimut, hasil pengukuran nilainya jauh lebih kecil dibanding hasil prediksi. Untuk meningkatkan daya dukung, maka dilakukan grouting melalui ujung tiang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa setelah dilakukan grouting pada pondasi terjadi kenaikan nilai tahanan ujung dan tahanan selimut. Dibandingkan dengan tahanan ujung, tahanan selimut memiliki peningkatan kekuatan yang lebih besar dan setelah dilakukan grouting nilainya mendekati nilai prediksi. Abstract. Suramadu Bridge, which will connect Surabaya and Madura, is designed to have 5,438 m total span. Considering bridge construction that is above sea and huge design load on its pile foundations, conventional static loading test can not be performed at the main bridge. Alternative pile load test that can be performed is OC Test, which followed Osterberg Cell Test procedure. Equipped with load cell, telltale, and strain gauge, this test can provide load-displacement curve of end bearing and skin friction at any depth. Soil investigation result shows existence of clay-shale layer, which contains montmorillonite, at bore pile’s location. This soil is sensitive to lateral pressure reduction caused by boring and weathering process so that strength reduction can occur. Strength reduction of soil makes end bearing and skin friction difficult to be predicted. Strength reduction effect toward end bearing and skin friction are determined by means of comparing OC Test result to prediction result based on common empirical correlation. For end bearing, OC Test result shows value that close to prediction result’s. Therefore, strength reduction of end bearing caused by boring is relative small. On the other hand, skin friction measurement result shows that its value is much smaller than prediction result’s. For increasing bearing capacity, grouting through the pile base was conducted. Test result shows increasing of value either end bearing and skin friction after grouting through the pile base. Compared to end bearing’s value, skin friction’s value rise more and close to prediction value.
Hazard Deaggregation for Indonesia Makrup, L.L.; Irsyam, Masyhur; Sengara, I Wayan; Hendriyawan, Hendriyawan
Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 3 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.955 KB)

Abstract

Abstract. Hazard deaggregation is required in seismic hazard analysis in order to determine the controlling magnitudes and distances for particular return periods of earthquakes. These magnitude and distance are required for physical interpretation of the results from probabilistic seismic hazard analysis and to take certain engineering decisions. This paper presents a development of hazard deaggregation for Indonesia. The deaggregation process is started by calculating the ground shaking with hazard level 10% probability of exceedance in 50 years. In this study, the deaggregation hazard map was analyzed using total probability method and by applying three dimensional (3-D) source models and recent seismotectonic parameters. Three source models were used in this analysis, namely: subduction zones, transform fault zones and background source zone. Indonesian earthquake source models were constructed and published attenuation relations to calculate the peak ground acceleration for rock site conditions were used in the analysis. The recurrence rates and sizes of historical earthquakes on known and inferred faults and across zones were determined from modified earthquake catalog. The results of this study are deaggregation hazard maps of Indonesia for 10% probability of exceedance in 50 years.Abstract. Deagragasi hazard diperlukan dalam analisis seismic hazard untuk menentukan jarak dan magnitude kendali untuk perioda ulang gempa tertentu. Jarak dan magnitude ini digunakan untuk interpretasi fisik terhadap hasil dari analisis seismic hazard probabilistik dan untuk mengambil keputusan tentang hal yang bersifat keteknikan. Paper ini memberikan hal berupa pengembangan deagregasi hazard untuk Indonesia. Proses deagregasi dimulai dengan menghitung goncangan tanah dengan level hazard 10% probabilitas terlampaui dalam jangka waktu 50 tahun. Dalam studi ini, deagregasi hazard diananlisis menggunakan metoda probabilitas total dengan mengaplikasikan model sumber gempa tiga dimensi dan parameter seimotektonik terbaru. Tiga model sumber gempa digunakan dalam analisis ini yaitu sumber gempa zona subduksi, transform fault dan sumber background. Model sumber gempa Indonesia telah dikembangkan dan fungsi atenuasi yang terpublikasi digunakan untuk menghitung percepatan tanah puncak untuk kondisi site batuan. Ukuran dan laju keberulangan gempa-gempa histori pada fault yang sudah dikenal maupun fault yang keberadaanya masih dalam dugaan dan juga pada zona yang lain ditentukan dari katalog gempa yang telah dimodifikasi. Hasil dari studi ini adalah berupa peta deagregasi hazard untuk Indonesia dengan 10% probabilitas terlampaui dalam jangka waktu 50 tahun