Agus Ismanto
Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehuatanan dan Pengolahan Hasil Hutan Jl. Gunung Batu No.5, Bogor. 16610. Telp./Fax:0251 8633413, 8633378.

Published : 74 Documents
Articles

SERANGGA HAMA TERKINI YANG MENYERANG TANAMAN SENGON (FALCATARIA MOLUCCANA (MIQ.) BERNEBY & J.W GRIMES) DAN JABON (NEOLAMARCKIA CADAMBA (ROXB.) BOSSER) Anggraeni, Illa; Lelana, Neo Endra; Ismanto, Agus
Jurnal Sains Natural Vol 9, No 2 (2019): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/jsn.v9i2.223

Abstract

The Latest Insect Pests which Attacks Sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Berneby & J.W Grimes) and Jabon Trees (Neolamarckia cadamba (Roxb.) Bosser)The current study of pest insect infestation on sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Berneby & J.W Grimes)) and jabon (Neolamarckia cadamba (Roxb.) Bosser) plants has been carried out. The aimed of the study was to identify the latest status of the pests that infested sengon and Jabon plants. The research method used were field survey and observation in the laboratory. The survey was carried out in plantations owned by the Unit II Perhutani Unit in East Java as well as the small scale forests in the Kediri (East Java), Ciamis and Garut (West Java) areas. While observations in the laboratory were conducted at the Pest Laboratory of the Center for Forest Research and Development, Bogor. The results showed that pests that infested sengon and Jabon plants were unknown name of sengon shoot borer, Echinothrips sp. (Tripidae; Thysanoptera), horn beetle Oryctes rhinoceros (Scarabaeidae; Coleoptera), wild silkworm Attacus atlas (Saturniidae; Lepidoptera), leaf-sucking pests Lawana sp./Samurus sp. (Flatidae; Homoptera).Keywords: pest insect, sengon plant, jabon plant, the latest.ABSTRAKPenelitian tentang serangga hama terkini yang menyerang tanaman sengon (Falcataria moluccana) dan jabon (Neolamarckia cadamba) di hutan tanaman, bertujuan untuk menginventarisir jenis-jenis hama yang menyerang tanaman sengon dan jabon saat kini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan pengamatan di laboratorium. Survei dilakukan di hutan tanaman milik Perum Perhutani maupun hutan milik rakyat di daerah Kediri, Ciamis dan Garut. Pengamatan di laboratorium dilakukan di Laboratorium Hama Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama yang menyerang tanaman sengon dan jabon adalah hama penggerek pucuk sengon (Pyralidae; Lepidoptera),hama Echinothrips sp. (Tripidae; Thysanoptera), kumbang tanduk Oryctes rhinoceros (Scarabaeidae; Coleoptera), ulat sutera liarAttacus atlas(Saturniidae; Lepidoptera), hama pengisap daun Lawana sp./Sanurus sp. (Flatidae; Homoptera).Kata kunci: serangga hama, tanaman sengon, tanaman jabon
PENGARUH ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP KEANEKARAGAMAN SEMUT DALAM HUTAN LINDUNG GUNUNG NONA-AMBON S. Latumahina, Fransina; Ismanto, Agus
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekayaan dan keragaman jenis semut pada empat tipe habitat dalam kawasan hutan lindung Gunung Nona Ambon dan  mengetahui pengaruh alih fungsi hutan lindung terhadap keragaman semut dalam kawasan. Pengambilan sampel dilakukan pada empat tipe habitat dalam kawasan hutan, masing-masing hutan murni, areal pemukiman, areal pertanian/perkebunan dan areal hutan tanaman. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan menggunakan sistem line transec pada areal seluas 50 ha dengan 3 metode pengambilan sampel yakni menggunakan Pitfall trap, Bait trap dan Soil and Leaf litter sieving. Hasil penelitian menemukan adanya 4 genus dominan pada empat tipe habitat yakni Paratrechina, Pheidole, Lophomyrmex dan Tetraponera. Hasil inventarisasi ditemukan 30 jenis semut dalam areal hutan murni, 17 jenis dalam hutan tanaman, 15 jenis pada areal pertanian/perkebunan dan 5 jenis pada areal pemukiman penduduk. Indeks keragaman jenis semut menunjukkan pada hutan murni sebesar 2,76 disusul areal pertanian/perkebunan 2,07, areal hutan tanaman 1,09 dan areal pemukiman 0,87. Perubahan penggunaan lahan sangat mempengaruhi keragaman semut dalam hal ketersediaan pakan dan kondisi iklim mikro di tiap habitat. Kata kunci : Semut, keragaman jenis, hutan lindung, alih fungsi lahan
EFFECTIVENESS OF A SUPERFICIAL TREATMENT USING BIFENTHRIN TO PROTECT RADIATA PINE FRAMING FROM DAMAGE BY SUBTERRANEAN AND DRYWOOD TERMITES IN INDONESIA Sukartana, Paimin; Creffield, Jim W.; Ismanto, Agus; Lelana, Neo E.; Rushelia, Rusti
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 7, No 1 (2010): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Various experimental testing procedures were undertaken in Indonesia to determine the effectiveness of a patented superficial (envelope) treatment using bifenthrin to protect radiata pine framing material from damage by two species of subterranean termites (Macrotermes gilvus and Coptotermes curvignathus) and one species of drywood termite (Cryptotermes cynocephalus). Lengths of framing material (Pinus radiata sapwood) were commercially treated to the targeted retention of 0.02% m/m of bifenthrin in the outer 2 mm depth penetration zone of the material. The treated and untreated materials were subsequently cut into test specimens and exposed to M. gilvus in the field and a semi-laboratory trial, to C. curvignathus in the laboratory and a semi-laboratory trial and to C. cynocephalus in a laboratory trial. No supplementary treatment was performed on the exposed cut ends of the treated test specimens. The results from the trials clearly demonstrated that the superficial treatment of bifenthrin seemed effective in protecting test specimens of radiata pine framing material from significant damage by Indonesia’s most notorious termite species that often causes serious economic loss to the timbers. Termites were unable to damage any of the bifenthrin-treated surfaces of test specimens. Any obser ved damage by termites, albeit minor, was in all cases confined to the exposed cut ends of test specimens. In contrast, attack by termites on the untreated control test specimens caused damage of the samples ranging from light to heavy.
PENCEGAHAN PERUBAHAN WARNA PADA KAYU JAMUJU (Podocarpus imbricatus) DAN KISAMPANG (Evodia aromatica BL.) DENGAN BAHAN DASAR DESINFEKTAN Ismanto, Agus; Iqbal, Mohamad
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 3 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan warna alami kayu jamuju (Podocarpus imbricatus) dan kisampang (Evodia aromatica BL.) sebelum dan sesudah perlakuan karena pengaruh suhu, kelembaban, dan panas. Pencegahan perubahan warna dilakukan secara kimia dengan menggunakan antiseptik yang mengandung bahan aktif benzalkonium klorida (formula C), kresol atau asam kresilat (formula D) dan metilena bis tiosianat (MBT sebagai pembanding) baik pada dolok yang dikuliti maupun tidak dikuliti serta pada kayu gergajian. Hasil pengujian efikasi MBT pada kayu gergajian jamuju dan kisampang, serta formula C pada kayu kisampang mampu mencegah jamur biru dengan masa proteksi empat minggu. Hasil pengukuran kecerahan warna kayu jamuju pada bagian yang diserut berkisar antara 35,22 (MBT Bawah atap)-45,22 (C AC) dan pada bagian yang tidak diserut berkisar antara 10,62 (C Luar)-37,14 (K AC). Sedangkan pengukuran kecerahan warna pada kayu kisampang yang diserut berkisar antara 45,04 (C AC)-53,42 (K Luar) dan yang tidak diserut berkisar antara 8,24 (MBT Luar)-46,66 (K AC) dari nilai kecerahan standar 73,5. Hasil pengukuran total variasi warna E* kayu kisampang pada bagian diserut berkisar antara 8,80 (K Luar)-22,56 (K Bawah atap) dan pada bagian tidak diserut berkisar antara 21,57 (D AC)-40,19 (C Luar). Sementara E* pada kayu jamuju pada bagian diserut antara 20,49 (MBT Luar)-25,65 (D AC) dan pada bagian tidak diserut antara 23 (C AC)-41,02 (C Luar).
SIFAT FISIS DAN STABILISASI DIMENSI BEBERAPA JENIS BAMBU KOMERSIAL Barly, Barly; Ismanto, Agus; Martono, Dominicus; Abdurachman, Abdurachman; Andianto, Andianto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat fisis dan stabilitas dimensi bambu agar optimal penggunaannya sebagai bahan konstruksi. Hasil penelitian menunjukkan panjang batang, jumlah ruas dan panjang ruas pada tiap jenis bambu nilainya bervariasi. Kadar air bambu segar bervariasi bergantung jenis, yaitu bambu hijau atau ater (236,15%), mayan (181,52% ), tali (117,32% ), hitam (111,83%). Kerapatan bambu bervariasi, yaitu bambu tali (0,93), andong (0,88), mayan (0,83), hijau atau ater (0,79), hitam (0,78), dan betung (0,78). Kerapatan dari arah luar ke dalam pada arah potong melintang, bagian luar lebih tinggi dibandingkan dengan bagian tengah dan dalam. Penyusutan volumetrik bambu mayan (9,04%), betung (15,75%), andong (16,32%) dan ater (38,45%). Dengan perlakuan bambu ater paling rendah penyusutannya, yaitu -9,21% (PEG) dan yang tertinggi pada bambu andong, 12,13% (air). Persentase ASE tertinggi pada bambu ater, 95,57% (LO) dan yang terendah pada bambu mayan , yaitu -144,92 (SCa). Bahan yang memberi respon pada nilai % ASE disusun secara berurut dari tertinggi, yaitu LO, PEG, SPo, D, B, A, C. Bahan LO paling sedikit diserap (diabsorb) oleh semua jenis bambu, disusul oleh PEG kecuali pada bambu hitam. Bambu yang paling sedikit menyerap bahan yaitu andong (14,12%) dengan LO dan yang paling banyak yaitu bambu hitam (137,54%) dengan PEG. Secara umum bambu hitam menyerap paling banyak semua jenis bahan yang digunakan. Retensi bahan dalam bambu disusun secara berurut dari yang tertinggi adalah PEG, LO, SCa dan SPo. Jenis bambu yang memiliki nilai retensi tertinggi secara berurut, yaitu hitam, ater, tutul, andong, mayan dan betung.
KEEFEKTIFAN CAMPURAN GARAM TEMBAGA -KHROMIUM- BORON TERHADAP RAYAP DAN JAMUR PERUSAK KAYU (Effectiveness of Copper-Chromate-Boron Salts Formula Against Wood Termites and Fungi) Barly, Barly; Lelana, Neo Endra; Ismanto, Agus
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2010.28.3.222-230

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi toksisitas formula garam tembaga-khromium-boron terhadap serangan rayap dan jamur perusak kayu. Dalam penelitian ini digunakan bahan kimia kualitas teknis. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan pengawet yang digunakan sangat efektif mencegah serangan rayap tanahCoptotermes curvignathus Holmgren dan rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus Light. Keefektifan ditunjukkan oleh tingkat mortalitas rayap 100% pada konsentrasi 1% dan retensi lebih dari 5,30 kg/m3. Namun demikian terhadap jamur pelapuk kayu Schizophyllum commune konsentrasi efektif diperoleh pada larutan 7,5% dan retensi di atas 30 kg/m3.
TOKSISITAS BAHAN PENGAWET BORON-KROMIUM TERHADAP SERANGGA DAN JAMUR PELAPUK KAYU Lelana, Neo Endra; Barly, Barly; Ismanto, Agus
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2011.29.2.142-154

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji toksisitas bahan pengawet boron-kromium terhadap rayap dan jamur pelapuk kayu. Bahan yang digunakan merupakan bahan kimia dengan kualitas teknis. Pengawetan contoh uji dilakukan menggunakan proses vakum tekan dengan lima konsentrasi yang berbeda. Untuk pengujian terhadap rayap tanah, 200 ekor pekerja rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dimasukkan ke dalam jam pot yang berisi media pasir dan contoh uji berupa kayu yang berukuran 25 mm x 25 mm x 5 mm. Untuk rayap kayu kering, lima puluh ekor pekerja rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus Light dimasukkan ke dalam tabung gelas berdiameter 18 mm dengan tinggi 35 mm yang dipasang pada salah satu sisi terlebar contoh uji yang berukuran 50 mm x 25 mm x 20 mm. Sementara terhadap jamur pelapuk kayu, pengujian dilakukan dengan jamur Schizophyllum commune yang dibiakkan dalam mediapotato dextrose agar (PDA). Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan pengawet yang digunakan efektif mencegah serangan rayap tanah C. curvignathus Holmgren dan rayap kayu kering C. cynocephalus Light. Efektivitas bahan pengawet dengan menyebabkan mortalitas rayap sebesar 100% diperoleh pada konsentrasi 1% dengan retensi masing-masing 6,01 kg/m3dan 5,64 kg/m3. Namun demikian terhadap jamur pelapuk kayu S. commune konsentrasi efektif diperoleh pada larutan 7,5% dengan retensi 45,44 kg/m3.
DAYAGUNA CAMPURAN SODA ABU - BORAKS SEBAGAI ANTI JAMUR BIRU DAN RAYAP Barly, Barly; Ismanto, Agus; Martono, Dominicus
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2011.29.2.179-188

Abstract

Kebanyakan kayu gubal dari jenis kayu keras mudah diserang jamur pewarna dan serangga perusak kayu. Bahan pengawet boron relatif aman bagi manusia dan binatang peliharaan. Bahan pengawet dengan bahan dasar borak dan ditambah soda abu telah diformulasi. Contoh kayu diawetkan dalam larutan 5% (b/v) dari lima kondisi campuran soda abu-boraks, yaitu 1,0 : 1,5; 1,5 : 1,0; 1,0 : 1,0; 2,0 : 1,0, dan 1,0 : 2,0 (b/b). Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi toksisitas formulasi campuran boraks-soda abu terhadap rayap dan jamur pewarna kayu. Hasil pengujian menunjukkan larutan 5% campuran soda abu - boraks (1,0 : 2,0) yang dinyatakan sebagai asam borat (H BO ) pada retensi 7,23 kg/m3terbukti efektif mencegah rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dan rayap kayu kering Cryptotemes cynocephalus Light., serta dapat digolongkan ke dalam kelas efikasi sangat baik dengan masa proteksi 4 minggu terhadap jamur pewarna biru.
KEEFEKTIFAN SENG KHLORIDA-DIKHROMAT SEBAGAI BAHAN PENGAWET KAYU Barly, Barly; Ismanto, Agus
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 4 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.4.332 - 341

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi toksisitas campuran seng khlorida-dikhrornat (SCD) dalam mencegah serangan rayap dan bubuk  kayu kering perusak kayu. Kayu yang diberi perlakuan SCD dengan metode vakum tekan. Setelah melalui pengkondisian, contoh kayu diuji ketahanannya terhadap serangan rayap tanah, rayap kayu kering dan bubuk kayu kering. Hasil pengujian terhadap rayap kayu kering memiliki mortalitas 100% dan derajat proteksi 100 belum tercapai pada konsentrasi 3,5% dan retensi 20,56 kg/m. Mortalitas  dan derajat proteksi tertinggi rayap tanah ditunjukkan pada konsentrasi 0,7% dengan retensi 4,35 kg/m. Derajat proteksi tertinggi bubuk kayu kering pada konsentrasi 1,4% dengan retensi 7,47 kg/m. Derajat proteksi tertinggi pada percobaan kuburan bergantung pada konsentrasi larutan, 3,5% dengan retensi 18,19 kg/m pada 12 bulan menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi di bawahnya.
EFFECTIVENESS OF A SUPERFICIAL TREATMENT USING BIFENTHRIN TO PROTECT RADIATA PINE FRAMING FROM DAMAGE BY SUBTERRANEAN AND DRYWOOD TERMITES IN INDONESIA Sukartana, Paimin; Creffield, Jim W.; Ismanto, Agus; Lelana, Neo E.; Rushelia, Rusti
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 7, No 1 (2010): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/ijfr.2010.7.1.33-41

Abstract

Various experimental testing procedures were undertaken in Indonesia to determine the effectiveness of a patented superficial (envelope) treatment using bifenthrin to protect radiata pine framing material from damage by two species of subterranean termites (Macrotermes gilvus and Coptotermes curvignathus) and one species of drywood termite (Cryptotermes cynocephalus). Lengths of framing material (Pinus radiata sapwood) were commercially treated to the targeted retention of 0.02% m/m of bifenthrin in the outer 2 mm depth penetration zone of the material. The treated and untreated materials were subsequently cut into test specimens and exposed to M. gilvus in the field and a semi-laboratory trial, to C. curvignathus in the laboratory and a semi-laboratory trial and to C. cynocephalus in a laboratory trial. No supplementary treatment was performed on the exposed cut ends of the treated test specimens. The results from the trials clearly demonstrated that the superficial treatment of bifenthrin seemed effective in protecting test specimens of radiata pine framing material from significant damage by Indonesia’s most notorious termite species that often causes serious economic loss to the timbers. Termites were unable to damage any of the bifenthrin-treated surfaces of test specimens. Any obser ved damage by termites, albeit minor, was in all cases confined to the exposed cut ends of test specimens. In contrast, attack by termites on the untreated control test specimens caused damage of the samples ranging from light to heavy.