Articles

Found 12 Documents
Search

Pembuatan Arang Aktif dari Tempurung Kelapa dan Aplikasinya untuk Penjernihan Asap Cair Jamilatun, Siti; Setyawan, Martomo
SPEKTRUM INDUSTRI Vol 12, No 1: April 2014
Publisher : SPEKTRUM INDUSTRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.547 KB)

Abstract

Arang aktif merupakan senyawa karbon amorph, yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Arang aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan.. Arang aktif akan dibuat dari arang hasil pirolisis tempurung kelapa.dan diimplementasikan untuk menjernihkan asap cairnya.Adapun langkah yang pertama membuat arang aktif dari tempurung kelapa adalah, membuat arang tempurung kelapa dengan membersihkan tempurung kelapa terlebih dahulu dari bahan-bahan pengotor seperti tanah, kerikil. Kemudian mengeringkannya dibawah sinar matahari, selanjutnya membakar tempurung kering pada drum/bak pembakaran dengan suhu 300-500 0C selama 3-5 jam. Langkah yang kedua adalah arang hasil pembakaran direndam dengan bahan kimia CaCl2 dan ZnCl2 (kadar 25 %) selama 12 sampai 24 jam untuk menjadi arang aktif. Selanjutnya melakukan pencucian dengan air suling/air bersih hingga kotoran atau bahan ikutan dapat dipisahkan. Arang aktif basah dihamparkan pada rak dengan suhu kamar untuk ditiriskan, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 110 – 8000C selama 3 jam.Suhu aktivasi mempengaruhi kualitas karbon aktif yang terbentuk. Dari uji kualitas karbon aktif yang dilakukan, kualitas karbon aktif yang terbaik diperoleh pada suhu 800oC dengan kadar air 1,3 %, kadar abu 0,60 % memenuhi standar SII 0258-79 dan memiliki daya serap terhadap kadar iod sebesar 580,0 mg/g  yang memenuhi standar SNI 06-3730. Penjernihan air limbah rumah tangga, air berwarna menggunakan karbon aktif dari suhu aktivasi 800oC menghasilkan air yang jernih, tidak berbau dan memenuhi pH standar air (7,0-7,5). Key words: Asap cair, tempurung kelapa, pirolisis, arang aktif
Pembuatan Arang Aktif dari Tempurung Kelapa dan Aplikasinya untuk Penjernihan Asap Cair Jamilatun, Siti; Setyawan, Martomo
SPEKTRUM INDUSTRI April 2014
Publisher : SPEKTRUM INDUSTRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.547 KB)

Abstract

Arang aktif merupakan senyawa karbon amorph, yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Arang aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan.. Arang aktif akan dibuat dari arang hasil pirolisis tempurung kelapa.dan diimplementasikan untuk menjernihkan asap cairnya.Adapun langkah yang pertama membuat arang aktif dari tempurung kelapa adalah, membuat arang tempurung kelapa dengan membersihkan tempurung kelapa terlebih dahulu dari bahan-bahan pengotor seperti tanah, kerikil. Kemudian mengeringkannya dibawah sinar matahari, selanjutnya membakar tempurung kering pada drum/bak pembakaran dengan suhu 300-500 0C selama 3-5 jam. Langkah yang kedua adalah arang hasil pembakaran direndam dengan bahan kimia CaCl2 dan ZnCl2 (kadar 25 %) selama 12 sampai 24 jam untuk menjadi arang aktif. Selanjutnya melakukan pencucian dengan air suling/air bersih hingga kotoran atau bahan ikutan dapat dipisahkan. Arang aktif basah dihamparkan pada rak dengan suhu kamar untuk ditiriskan, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 110 – 8000C selama 3 jam.Suhu aktivasi mempengaruhi kualitas karbon aktif yang terbentuk. Dari uji kualitas karbon aktif yang dilakukan, kualitas karbon aktif yang terbaik diperoleh pada suhu 800oC dengan kadar air 1,3 %, kadar abu 0,60 % memenuhi standar SII 0258-79 dan memiliki daya serap terhadap kadar iod sebesar 580,0 mg/g  yang memenuhi standar SNI 06-3730. Penjernihan air limbah rumah tangga, air berwarna menggunakan karbon aktif dari suhu aktivasi 800oC menghasilkan air yang jernih, tidak berbau dan memenuhi pH standar air (7,0-7,5). Key words: Asap cair, tempurung kelapa, pirolisis, arang aktif
PENGARUH PERENDAMAN IKAN NILA DENGAN ASAP CAIR ( LIQUID SMOKE ) TERHADAP DAYA SIMPAN Jamilatun, Siti; Aslihati, Lia; Suminar, Eling Widya
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asap cair (Liquid Smoke) adalah hasil dari proses distilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran tidak langsung maupun langsung dari  bahan yang banyak mengandung karbon serta senyawa lainnya. Tiga senyawa utama yang terkandung dalam asap cair yaitu senyawa fenol, senyawa karbonil, dan senyawa asam. Kandungan senyawa-senyawa kimia dalam asap cair memiliki kemampuan untuk mengawetkan dan memberikan warna serta rasa untuk produk makana seperti ikan. Ikan nila (Oreochormis sp) adalah salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang banyak disukai oleh masyarakan dan memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Salah satu proses untuk mempertahankan kadar protein ikan Nila selama  penyimpanan ialah dengan merendam ikan Nila dalam asap cair food grade. Analisa yang dilakukan untuk melihat pengaruh pemberian asap cair food grade pada ikan nila yaitu analisia secara kimia (pH), mikrobiologi (kadar protein dan jumlah total bakteri) dan  fisik. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengawetan menggunakan asap cair  food grade dengan variasi konsentrasi diperoleh kondisi terbaik pada saat konsentrasi asap cair  food grade  15% dengan kadar protein 16,96% dan jumlah total bakteri 9,1 x 105. Sementara untuk pengawetan menggunakan asap cair food grade dengan konsentrasi 10%, kondisi terbaik adalah penyimpanan ikan nila selama 3 jam dengan kadar protein 15,92% dan jumlah total bakteri 4,5 x 106. Kata kuunci : asap cair, ikan nila, pengawetan
PEMBUATAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DENGAN AKTIVASI SEBELUM DAN SESUDAH PIROLISIS Jamilatun, Siti; Setyawan, Martomo; Salamah, Siti; Purnama, Dwi Astri Ayu; Putri, Riska Utami Melani
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan arang aktif semakin meningkat seiring dengan kebutuhan industri akan bahan pembersih dan penyerap dan juga bahan pengemban katalisator. Arang aktif dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diaktivasi untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Arang aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa kimia tertentu tergantung besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. Penelitian ini bertujuan membuat karbon aktif dari tempurung kelapa dengan pengaktivasi KOH dilakukan satu kali aktivasi ( sesudah pirolisis) dan dua kali aktivasi (sebelum dan sesudah pirolisis). Kualitas arang aktif yang diperoleh dianalisis untuk mengetahui karateristik kadar air, kadar abu,  iodine number dan surface area karbon aktif dari arang tempurung kelapa yang sesuai dengan SII No.0258 – 79. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa karbon aktif dapat dibuat dari tempurung kelapa dengan terlebih dahulu dilakukan pirolisis dan kemudian dilakukan aktivasi. Untuk mengetahui pengaruh aktivasi maka dilakukan aktivasi satu kali ( sesudah pirolisis) dan aktivasi dua kali (sebelum dan sesudah pirolisis) dengan aktivasi kimia KOH 2N dengan variasi waktu perendaman. Hasil menunjukkan bahwa aktivasi dua kali memberikan hasil iodine number dan surface area lebih tinggi daripada aktivasi satu kali. Karakteristik karbon aktif yang dihasilkan untuk iodine number 300-500 mg I2/gram arang aktiv telah sesuai dengan SII No.0258–79, untuk kadar air, kadar abu belum sesuai dengan standar diatas, surface area 185,447 m2/g atau mengalami peningkatan 35 kali surface area dengan arang tempurung kelapa yang tidak diaktivasi. Arang aktif ini akan digunakan sebagai katalis pada proses pirolisis dan gasifikasi biomassa untuk penelitian selanjutnya.
Pemanfaatan Asap Cair Food Grade yang Dimurnikan dengan Arang Aktif sebagai Pengawet Ikan Nila Salamah, Siti; Jamilatun, Siti
Eksergi Vol 14, No 2 (2017): Eksergi Volume 14 No 2 2017
Publisher : Prodi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bau asap serta warna kuning pada asap cair dapat dikurangi dengan penyerapan menggunakan arang aktif. Arang aktif yang telah diaktivasi dapat mengurangi bau dan warna asap cair sebesar 20%. Asap cair tersebut mengalami peningkatan kemampuan pengawetan dengan meningkatnya kadar asam asetat hampir 3 kali lipat. Dalam penelitian ini dilakukan pemanfaatan asap cair food grade yang dimurnikan dengan arang aktif untuk pengawetan bahan makanan yaitu ikan Nila. Percobaan dilakukan dengan mencampurkan arang aktif yang telah diaktivasi dengan asap cair, kemudian diaduk dan disaring. Ikan Nila direndam dalam asap cair yang telah dimurnikan dengan variasi waktu penyimpanan yaitu 3,6,9,12 dan 15 jam. Perlakuan diulang dengan variasi kadar asap cair yaitu 5%,7,5%, 10%, 12,5%, 15% dan 17,5%. Ikan Nila yang telah diawetkan dianalisis kadar protein, jumlah total bakteri, uji fisik dan pH. Dari penelitian ini diperoleh konsentrasi optimum asap cair sebagai pengawet adalah 15%. Kadar protein pada ikan Nila yang direndam menggunakan asap cair selama masa simpan 15 jam adalah 15,15%. Jumlah total bakteri dalam ikan Nila adalah antara 4,5x106 – 5,4x108CFU/ g. Penggunaan asap cair 10% pada ikan Nila mampu mempertahankan kondisi fisik ikan selama waktu simpan 3 jam dengan pH 5. Semakin banyak jumlah total bakteri maka kadar proteinnya semakin rendah.
SIFAT-SIFAT PENYALAAN DAN PEMBAKARAN BRIKET BIOMASSA, BRIKET BATUBARA DAN ARANG KAYU Jamilatun, Siti
Jurnal Rekayasa Proses Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.425 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.554

Abstract

Secara umum, proses pembakaran padatan terdiri atas beberapa tahap yaitu pemanasan, pengeringan, devolatilisasi dan pembakaran arang. Faktor-faktor yang menentukan karakteristik pembakaran suatu briket adalah kecepatan pembakaran, nilai kalor, berat jenis dan banyaknya polusi atau senyawa volatil yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat penyalaan dari berbagai macam briket biomassa, arang kayu dan batubara yang meliputi kecepatan pembakaran, lama briket menyala sampai menjadi abu, waktu penyalaan awal, banyaknya asap atau senyawa volatil yang dihasilkan, nilai kalor dan lama waktu untuk mendidihkan 1 liter air. Penelitian dilakukan dengan membakar 250 gram setiap jenis briket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tempurung kelapa memiliki lama menyala terpanjang yaitu 116 menit dengan kecepatan pembakaran 126,6 gram/detik dan nilai kalor tertinggi sebesar 5.779,11 kal/gram. Untuk mendidihkan 1 liter air, semua jenis briket yang diuji membutuhkan waktu antara 5 sampai 7 menit. Jika dibandingkan dengan briket batubara yang memiliki nilai kalor 6.058 kal/gram dan arang kayu dengan nilai kalor 3.583 kal/gram maka briket tempurung kelapa cukup baik digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Kata kunci: briket, biomassa, batubara, uji pembakaran dan nilai kalor In general, combustion of solid material consists of several steps including heating, drying, de-volatilization and burning of the charcoal. The factors that determine combustion characteristics of briquettes are the rate of combustion, heating value, density and amount of pollutants or volatile compounds produced. The present work aimed at determining combustion characteristics of various kinds of briquettes from biomass, wood charcoal and coal including the rate of combustion, duration of briquettes burn to ashes, the initial ignition, amount of smoke or volatile compounds produced, heating value and duration for boiling one liter of water. The experimental work was performed by burning 250 grams of each briquette. The results showed that coconut shell had the longest combustion duration (116 minutes) with a combustion rate of 126.6 grams/second. In comparison with other biomass briquettes and wood choarcoal, coconut shell had the highest heating values of 5,779.11 cal/gram which was close to heating value of coal briquette (6,058 cal/gram). All briquettes studied in the present work showed a reasonable duration and needed about 5 ? 7 minutes to boil one litter of water. Key words: briquette, biomass, coal, combustion test and heating values
Sifat-Sifat Penyalaan dan Pembakaran Briket Biomassa, Briket Batubara dan Arang Kayu Jamilatun, Siti
Jurnal Rekayasa Proses Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.554

Abstract

Secara umum, proses pembakaran padatan terdiri atas beberapa tahap yaitu pemanasan, pengeringan, devolatilisasi dan pembakaran arang. Faktor-faktor yang menentukan karakteristik pembakaran suatu briket adalah kecepatan pembakaran, nilai kalor, berat jenis dan banyaknya polusi atau senyawa volatil yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat penyalaan dari berbagai macam briket biomassa, arang kayu dan batubara yang meliputi kecepatan pembakaran, lama briket menyala sampai menjadi abu, waktu penyalaan awal, banyaknya asap atau senyawa volatil yang dihasilkan, nilai kalor dan lama waktu untuk mendidihkan 1 liter air. Penelitian dilakukan dengan membakar 250 gram setiap jenis briket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tempurung kelapa memiliki lama menyala terpanjang yaitu 116 menit dengan kecepatan pembakaran 126,6 gram/detik dan nilai kalor tertinggi sebesar 5.779,11 kal/gram. Untuk mendidihkan 1 liter air, semua jenis briket yang diuji membutuhkan waktu antara 5 sampai 7 menit. Jika dibandingkan dengan briket batubara yang memiliki nilai kalor 6.058 kal/gram dan arang kayu dengan nilai kalor 3.583 kal/gram maka briket tempurung kelapa cukup baik digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Kata kunci: briket, biomassa, batubara, uji pembakaran dan nilai kalor In general, combustion of solid material consists of several steps including heating, drying, de-volatilization and burning of the charcoal. The factors that determine combustion characteristics of briquettes are the rate of combustion, heating value, density and amount of pollutants or volatile compounds produced. The present work aimed at determining combustion characteristics of various kinds of briquettes from biomass, wood charcoal and coal including the rate of combustion, duration of briquettes burn to ashes, the initial ignition, amount of smoke or volatile compounds produced, heating value and duration for boiling one liter of water. The experimental work was performed by burning 250 grams of each briquette. The results showed that coconut shell had the longest combustion duration (116 minutes) with a combustion rate of 126.6 grams/second. In comparison with other biomass briquettes and wood choarcoal, coconut shell had the highest heating values of 5,779.11 cal/gram which was close to heating value of coal briquette (6,058 cal/gram). All briquettes studied in the present work showed a reasonable duration and needed about 5 – 7 minutes to boil one litter of water. Key words: briquette, biomass, coal, combustion test and heating values
COMPARATIVE ANALYSIS BETWEEN PYROLYSIS PRODUCTS OF SPIRULINA PLATENSIS BIOMASS AND ITS RESIDUES Jamilatun, Siti; Budhijanto, B.; Rochmadi, R.; Yuliestyan, Avido; Hadiyanto, H.; Budiman, Arief
International Journal of Renewable Energy Development Vol 8, No 2 (2019): July 2019
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy, Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.155 KB) | DOI: 10.14710/ijred.8.2.133-140

Abstract

Today?s needs of energy are yet globally dominated by fossil energy sources, causing the depletion of non-renewable energy. Alternatively, a potential substitute is the energy of biomass. Spirulina platensis (SP) is a microalgae biomass which, if extracted, will produce solid waste called Spirulina platensis residue (SPR). This research explores the pyrolysis product, produced within the range of 300 ? 600 ºC, from the pyrolysis of SP and SPR using fixed bed reactors. The influence of temperature on pyrolysis product?s yield and characteristics are investigated by using mass balance method and gas chromatography ? mass spectrometry (GC-MS) technique, respectively. The results from mass balance method present an optimum pyrolysis temperature of 550 ºC to obtain the desired liquid product of bio-oil, presenting the percentage of 34.59 wt.% for SP and 33.44 wt.% for SPR case. Additionally, with the increasing temperature, the char yield decreases for about 30 wt.% and the yield of gas seems to sharp increase from 550 to 600 ºC. These tendencies are both applied for SP and SPR source pyrolysis product. Interestingly, the benefit use as fossil fuel substitute might be derived, thanks to high HHV at the bio-oil product (32.04 MJ/kg for SP and 25.70 MJ/kg for SPR) and also at the char product with of 18.85-26.12 MJ/kg for both cases. The additional benefit come from the high content of C in its char product (50.31 wt.% for SPR and 45.26 wt.% for SP) that might be able to be used as an adsorbent, soil softener or other uses in the pharmaceutical field. ©2019. CBIORE-IJRED. All rights reserved
THERMAL DECOMPOSITION AND KINETIC STUDIES OF PYROLYSIS OF SPIRULINA PLATENSIS RESIDUE Jamilatun, Siti; Budhijanto, Budhijanto; Rochmadi, Rochmadi; Budiman, Arief
International Journal of Renewable Energy Development Vol 6, No 3 (2017): October 2017
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy, Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087.184 KB) | DOI: 10.14710/ijred.6.3.193-201

Abstract

 Analysis of thermal decomposition and pyrolisis reaction kinetics of Spirulina platensis residue (SPR) was performed using Thermogravimetric Analyzer. Thermal decomposition was conducted with the heating rate of 10, 20, 30, 40 and 50oC/min from 30 to 1000oC. Thermogravimetric (TG), Differential Thermal Gravimetric (DTG), and Differential Thermal Analysis (DTA) curves were then obtained. Each of the curves was divided into 3 stages. In Stage I, water vapor was released in endothermic condition. Pyrolysis occurred in exothermic condition in Stage II, which was divided into two zones according to the weight loss rate, namely zone 1 and zone 2. It was found that gasification occurred in Stage III in endothermic condition. The heat requirement and heat release on thermal decomposition of SPR are described by DTA curve, where 3 peaks were obtained for heating rate 10, 20 and 30°C/min and 2 peaks for 40 and 50°C/min, all peaks present in Zone 2. As for the DTG curve, 2 peaks were obtained in Zone 1 for similar heating rates variation. On the other hand, thermal decomposition of proteins and carbohydrates is indicated by the presence of peaks on the DTG curve, where lignin decomposition do not occur due to the low lipid content of SPR (0.01wt%). The experiment results and calculations using one-step global model successfully showed that the activation energy (Ea) for the heating rate of 10, 20, 30, 40 and 50oC/min for zone 1 were 35.455, 41.102, 45.702, 47.892 and 47.562 KJ/mol, respectively, and for zone 2 were 0.0001428, 0.0001240, 0.0000179, 0.0000100 and 0.0000096 KJ/mol, respectively.Keywords: Spirulina platensis residue (SPR), Pyrolysis, Thermal decomposition, Peak, Activation energy.Article History: Received June 15th 2017; Received in revised form August 12th 2017; Accepted August 20th 2017; Available onlineHow to Cite This Article: Jamilatun, S., Budhijanto, Rochmadi, and Budiman, A. (2017) Thermal Decomposition and Kinetic Studies of Pyrolysis of Spirulina platensis Residue, International Journal of Renewable Energy Development 6(3), 193-201.https://doi.org/10.14710/ijred.6.3.193-201
Pengaruh Luas Perpindahan Panas Kondensor Terhadap Volume Asap Cair Terkondensasi Hasil Pirolisis Tempurung Kelapa Jamilatun, Siti; Nurkholis, Nurkholis
CHEMICA: Jurnal Teknik Kimia Vol 3, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.414 KB) | DOI: 10.26555/chemica.v3i2.8019

Abstract

One of the products that can be made from coconut shell is making coconut shell carcoal by pyrolysis. In the pyrolysis process also produced liquid smoke, tar and uncondensed gasses. Liquid smoke is a byproduct of the activated charcoal industry has high economic value when compared with discharged into the atmosphere. Liquid smoke is a substance derived from the change of state to a liquid smoke, this process involves a change in the form of process heat transfer to the refrigerant fumes. Liquid smoke obtained simultaneously with the process of making charcoal (carbonization), smoke arising from incomplete combustion piped so that condensation will occur fluid droplets called liquid smoke. For coconut shell weight of 5 kg and 4 pipes condensor, the optimal volume of liquid smoke is 205 ml with a pyrolysis time 90 minutes and the theory of heat transfer surface area 0.076965 m2. For coconut shell weight of 5 kg and 8 pipes condensor, the optimal volume of liquid smoke is 215 ml with a pyrolysis time 90 minutes and the theory of heat transfer surface area 1.027437 m2. For coconut shell weight of 10 kg and 4 pipes condensor, the optimal volume of liquid is 183 ml with a pyrolysis time 300 minutes and the theory of heat transfer surface area 0.060404 m2. For 10 kg weight coconut shell and 8 pipes condensor, the optimal volume of liquid smoke is 205 ml with a pyrolysis time 210 minutes and the theory of heat transfer surface area 0.066801 m2.