Dewi Sri Jayanti
Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

PEMODELAN DAERAH TANGKAPAN AIR WADUK KELILING DENGAN MODEL SWAT (Keliling Reservoir Catchment Area Modeling Using SWAT Model) Ferijal, Teuku; Mechram, Siti; Jayanti, Dewi Sri; Satriyo, Purwana
Jurnal Agritech Vol 35, No 01 (2015)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.121 KB)

Abstract

This study aimed to model watershed area of Keliling Reservoir using SWAT model. The reservoir is located in Aceh Besar District, Province of Aceh. The model was setup using 90m x 90m digital elevation model, land use data extracted from remote sensing data and soil characteristic obtained from laboratory analysis on soil samples. Model was calibratedusing observed daily reservoir volume and the model performance was analyzed using RMSE-observations standard deviation ratio (RSR), Nash-Sutcliffe efficiency (NSE) and percent bias (PBIAS). The model delineated the study area into 3,448 Ha having 13 subwatersheds and 76 land units (HRUs). The watershed is mostly covered by forest (53%)and grassland (31%). The analysis revealed the 10 most sensitive parameters i.e. GW_DELAY, CN2, REVAPMN, ALPHA_BF, SOL_AWC, GW_REVAP, GWQMN, CH_K2 and ESCO. Model performances were categorized into very good for monthly reservoir volume with ENS 0.95, RSR 0.23, and PBIAS 2.97. The model performance decreased when it used to analyze daily reservoir inflow with ENS 0.55, RSR 0.67, and PBIAS 3.46.Keywords: Keliling Reservoir, SWAT, Watershed ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk untuk memodelkan daerah tangkapan air Waduk Keliling dengan menggunakan Model SWAT. Waduk Keliling terletak di Kabupaten Aceh Besar, Propinsi Aceh. Dalam penelitian ini Model SWAT dikembangkan berdasarkan data digital elevasi model resolusi 90 m x90 m, tata guna lahan yang diperoleh dari intepretasi citra satelit dan data soil dari hasil analisa sampel tanah yang diperoleh di daerah penelitian. Model dikalibrasi dengan data volume waduk dan kinerja model dianalisa menggunakan parameter rasio akar rata-rata kuadrat error dan standard deviasi observasi (RSR), efesiensi Nash-Sutcliffe (NSE) dan persentase bias (PBIAS). Hasil deleniasi untuk daerah penelitian menghasilkan suatu DAS dengan luas 3,448 Ha dan memiliki 13 Sub DAS yang dikelompokkan menjadi 76 unit lahan.Sebagian besar wilayah study ditutupi oleh hutan (53%), dan pandang rumput (31%). Hasil analisa menunjukkan bahwa 10 parameter model yang sangat mempengaruhi debit adalah GW_DELAY, CN2, REVAPMN, ALPHA_BF, SOL_AWC, GW_REVAP, GWQMN, CH_K2 dan ESCO. Kinerja model sangat baik dalam memprediksikan volume tampungan waduk bulanan dengan nilai ENS 0,95, RSR 0,23, dan PBIAS 2,97. Namun, kinerja model menurun ketika mensimulasikan debit inflow harian dengan nilai-nilai ENS 0,55, RSR 0,67, dan PBIAS 3,46.Kata kunci: Waduk Keliling, SWAT, Daerah Tangkapan Air
Pemodelan Intersepsi untuk Pendugaan Aliran Permukaan Munandar, Risky; Jayanti, Dewi Sri
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intersepsi hujan adalah proses tertahannya air hujan pada permukaan vegetasi sebelum diuapkan kembalike atmosfer. Aliran permukaan merupakan sebagian dari air hujan yang mengalir di ataspermukaan tanah. Tanaman yang digunakan berfungsi untuk mengurangi erosivitas hujan dan aliranpermukaan dengan mengintersepsi hujan yang jatuh diatasnya. Penelitian ini bertujuan untukmengembangkan model intersepsi sebagai fungsi karakteristik hujan pada tanaman jati dan pinus danmenyusun perangkat lunak perhitungan intersepsi dan limpasan permukaan menggunakan VisualBasic. Net 2008 . Penelitian ini menggunakan pendekatan neraca volume, dengan pengukuran curahhujan dan intersepsi selama 15 hari kejadian hujan. Intersepsi pada pohon Jati lebih tinggi dibandingkanpohon Pinus. Besarnya perbandingan hasil pengukuran intersepsi dan model diperoleh persamaan padatanaman. Is = –3E – 07R4 – 2E-05R3 + 0,0132R2 – 0,2194R + 6,0754 dengan R2 = 0,9766 sedangkanuntuk tanaman Pinus IS = 0,0052 R2 + 0,0954R + 2,0833 dengan R2 = 0,962. Model untuk limpasanpermukaan diperoleh persamaan untuk tanaman Jati RO = –9E-05 R2 + 0,0331R + 0,8049 dengan R2 =0,8061 sedangkan untuk tanaman Pinus RO = 1E–05R3 – 0,0018 R2 + 0,1011R – 0,1629 dengan R2 =0,8002. Perangkat lunak yang telah dibuat dalam pemodelan ini sudah dapat digunakan dan berjalandengan baik dan telah dilakukan verifikasi dan validasinya. Hasil verifikasi permodelan ini diketahuibahwa hasil perhitungan dalam perangkat lunak perhitungan sesuai dengan Microsoft Excel
Pengaruh Lintasan Traktor dan Pemupukan Fosfat terhadap Perubahan beberapa Sifat Fisika-Mekanika Tanah dengan Sawi sebagai Tanaman Indikator Zulfikar, Zulfikar; Yunus, Yuswar; Jayanti, Dewi Sri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.559 KB)

Abstract

Abstrak : Pengolahan tanah dengan menggunakan traktor adalah kegiatan yang lazim dilakukan untuk mempercepat penanaman. Perlakuan lintasan dalam penelitian memiliki 3 level, yaitu 1 kali lintasan, 3 kali lintasan dan 5 kali lintasan.Pemupukan dilakukan dengan 3 taraf, yaitu tanpa dosis, dosis 75 kg/ha dan dosis 150 kg/ha.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lintasan traktor dan perubahan beberapa sifat fisika-mekanika tanah terhadap pertumbuhan tanaman sawidimana sawisebagai tanaman indikator.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang ditata dalam bentuk rancangan petak terbagi (Split Plot Design) dengan pola faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan, sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan dan 27 satuan unit percobaan yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu lintasan traktor yang terdiri dari 3 taraf yaitu 1 kali lintasan, 3 kali lintasan dan 5 kali lintasan. Faktor kedua yaitu pemupukan fosfat dengan 3 dosis pemupukan yang berbeda, tanpa pemupukan, pemupukan dengan dosis 75 kg/ha dan pemupukan dengan dosis 150 kg/ha. Perlakuan lintasan traktor 1 kali dengan dosis pemupukan fospat 75 kg/ha berpengaruh nyata terhadap bulk density tanah. Perubahan beberapa sifat fisika-mekanika tanah yang terbaik diperoleh pada penggunaan traktor dengan lintasan 3 kali dan dengan dosis pemupukan fospat 150 kg/ha terhadap pertumbuhan tanaman sawi. Terdapat hubungan antara 5 kali lintasan traktor dengan pemupukan fospat 75 kg/ha berpengaruh nyata terhadap bulk density tanah, sedangkan pada tinggi tanaman umur 10 hari berpengaruh sangat nyata akibat perlakuan 3 kali lintasan traktor dengan pemupukan fosfat 150 kg/ha.Abstract. Soil tillage using a tractor  is an activity commonly to speed up planting. Traffic treatment in this research had three levels, that is one time traffic, three time traffic and five time traffic. Fertilization has been done by 3 levels, such as without dose, 75 kg / ha doses and 150 kg / ha doses. The research aimed to determine the influence of the tractor track and changes of physic-mechanic characteristics of the mustard plant growth as an indicator plant. This research was used a split plot design experiment method with 3 x 3 factorial each at three replications, so there are 9 treatment combinations and 27 experiment units which consisted of two factors. The first factor is the traffic tractor which consisted of three levels, i.e.: one time traffic, three time traffic and five time traffic. The second factor is the phosphate fertilization which consisted of three different doses of fertilization, i.e.; without fertilization, fertilizer with doses of 75 kg/ha and fertilizer with doses of 150 kg/ha. The treatment tractor one time traffic with a dose of fertilizing phosphate 75 kg/ha had have real impact of soil bulk density. Some of changes in the physic-mechanic of soil properties that it was best obtained on the use of  tractors with three time traffic and with a dose of fertilizing phosphate 150 kg/ha on the growth of plants mustard. There was a relationship between the five time traffic of a tractor by fertilizing phosphate 75 kg/ha dose had have real impact of soil bulk density, while in high plant age 10 days influential very real due treatment to three time traffic of a tractor by fertilizing phosphate 150 kg/ha.
Pemodelan Daerah Tangkapan Air Waduk Keliling dengan Model SWAT Ferijal, Teuku; Mechram, Siti; Jayanti, Dewi Sri; Satriyo, Purnama
Agritech Vol 35, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.092 KB) | DOI: 10.22146/agritech.13037

Abstract

This study aimed to model watershed area of Keliling Reservoir using SWAT model. The reservoir is located in Aceh Besar District, Province of Aceh. The model was setup using 90m x 90m digital elevation model, land use data extracted from remote sensing data and soil characteristic obtained from laboratory analysis on soil samples. Model was calibrated using observed daily reservoir volume and the model performance was analyzed using RMSE-observations standard deviation ratio (RSR), Nash-Sutcliffe efficiency (NSE) and percent bias (PBIAS). The model delineated the study area into 3,448 Ha having 13 subwatersheds and 76 land units (HRUs). The watershed is mostly covered by forest (53%) and grassland (31%). The analysis revealed the 10 most sensitive parameters i.e. GW_DELAY, CN2, REVAPMN, ALPHA_BF, SOL_AWC, GW_REVAP, GWQMN, CH_K2 and ESCO. Model performances were categorized into very good for monthly reservoir volume with ENS 0.95, RSR 0.23, and PBIAS 2.97. The model performance decreased when it used to analyze daily reservoir inflow with ENS 0.55, RSR 0.67, and PBIAS 3.46.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk untuk memodelkan daerah tangkapan air Waduk Keliling dengan menggunakan Model SWAT. Waduk Keliling terletak di Kabupaten Aceh Besar, Propinsi Aceh. Dalam penelitian ini Model SWAT dikembangkan berdasarkan data digital elevasi model resolusi 90 m x90 m, tata guna lahan yang diperoleh dari intepretasi citra satelit dan data soil dari hasil analisa sampel tanah yang diperoleh di daerah penelitian. Model dikalibrasi dengan data volume waduk dan kinerja model dianalisa menggunakan parameter rasio akar rata-rata kuadrat error dan standard deviasi observasi (RSR), efesiensi Nash-Sutcliffe (NSE) dan persentase bias (PBIAS). Hasil deleniasi untuk daerah penelitian menghasilkan suatu DAS dengan luas 3,448 Ha dan memiliki 13 Sub DAS yang dikelompokkan menjadi 76 unit lahan. Sebagian besar wilayah study ditutupi oleh hutan (53%), dan pandang rumput (31%). Hasil analisa menunjukkan bahwa 10 parameter model yang sangat mempengaruhi debit adalah GW_DELAY, CN2, REVAPMN, ALPHA_BF, SOL_AWC, GW_REVAP, GWQMN, CH_K2 dan ESCO. Kinerja model sangat baik dalam memprediksikan volume tampungan waduk bulanan dengan nilai ENS 0,95, RSR 0,23, dan PBIAS 2,97. Namun, kinerja model menurun ketika mensimulasikan debit inflow harian dengan nilai-nilai ENS 0,55, RSR 0,67, dan PBIAS 3,46.
Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Optimasi Penggunaan Lahan untuk Pengembangan Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) (Studi Kasus di Kecamatan Batee dan Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie Propinsi Aceh) Jayanti, Dewi Sri; Goenadi, Sunarto; Hadi, Pramono
Agritech Vol 33, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2614.191 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9808

Abstract

The research was conducted to find out the classification of land suitability and the influences of land characterization for cacao; and to optimize the land use based on the classification of land suitability. This classification was derived from physical and chemical properties of land and by overlaying maps which suitable with the requirements of cacao’s growth using ArcGIS. The suitable level for cacao was optimized using QM for windows to obtain the optimal land. The classification of land suitability in Batee District were: S1 (very suitable) was 35,42 % (2.572,662 ha); S2 (suitable) was 20,31 % (1.922,737 ha) and N (not suitable) was 44,27 % (3.572,008 ha), respectively. The classification of land suitability in Padang Tiji District were: S1 (very suitable) was 2,72 % (306,173 ha); S2 (suitable) was 92,50 % (10.429,770 ha) and N (not suitable) was 4,79 % (539,606 ha), respectively. Based on the linear programming, the results showed that the optimal land was 3.475,065 ha with the maximum profit was Rp 29.756.057.638,21. This production begun at the 7th year. The actual land areas in Batee and Padang Tiji Districts were 4.495,359 ha and 10.735,943 ha, respectively. This results implied that there was still the availability of land that could be used to develop cacao.ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelas kesesuaian lahan tanaman kakao; mengetahui pengaruh karakteristik lahan untuk pengembangan kakao dan memperoleh tingkat kelayakan usahatani; dan optimalisasi penggunaan lahan berdasarkan kelas kesesuaian lahan. Kelas kesesuaian lahan didapatkan dengan mencocokkan sifat fisik dan kimia dari lahan usahatani serta mengoverlaikan peta-peta yang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman kakao dengan ArcGIS. Selanjutnya dihitung tingkat kelayakan usahatani kakao dan dilakukan optimasi menggunakan QM for Windows untuk mendapatkan lahan optimum dengan keuntungan maksimum. Kelas kesesuaian lahan yang didapatkan di Kecamatan Batee: kelas S1 (sangat sesuai) sebesar 35,42% (2.572,622 ha); S2 (sesuai) sebesar 20,31% (1.922,737 ha) dan N (tidak sesuai) sebesar 44,27% (3.572,008 ha); serta di Kecamatan Padang Tiji: kelas S1 (sangat sesuai) sebesar 2,72% (306,173 ha); S2 (sesuai) sebesar 92,50% (10.429,770 ha); dan N (tidak sesuai) sebesar 4,79% (539,606 ha). Hasil analisis program linier menunjukkan bahwa luas lahan yang optimal digunakan seluas 3.475,065 ha. Keuntungan maksimum yang dapat diperoleh dengan luas lahan 3.475,065 ha adalah Rp 29.756.057.638,21 dimulai pada tahun produksi ke-7. Luas lahan aktual saat ini di Kec. Batee seluas 4.495,359 ha dan di Kec. Padang Tiji seluas 10.735,943 ha yang merupakan sumberdaya yang dapat ditingkatkan. Hal ini berarti masih besarnya ketersediaan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman kakao.
Pengendalian Erosi secara Vegetatif Menggunakan Rumput Pait (Axonopus compressus) dan Rumput Alang-alang (Imperata cylindrica) pada Tanah Ordo Ultisols Safriani, Safriani; Jayanti, Dewi Sri; Syahrul, Syahrul
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.364 KB)

Abstract

Abstrak. Perubahan penggunaan lahan pada lahan miring menyebabkan tanah lebih mudah tererosi. Salah satu upaya penanganan erosi dapat dilakukan dengan metoda vegetatif yaitu menggunakan rumput pait (Axonopus compressus) dan rumput alang-alang (Imperata cylindrical) pada tanah ordo ultisols. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan rumput pait dan rumput alang-alang dalam mengurangi erosi tanah pada kemiringan yang berbeda. Penelitian  ini dilakukan di Laboratorium Konservasi Tanah dan Air Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala dengan menggunakan Rainfall Simulator yang ditata dalam kotak uji. Faktor yang digunakan pada penelitian ini adalah kemiringan (main plot factor) dan jenis rumput (sub plot factor). Perlakuan dalam penelitian ini terdiri dari 3 taraf kemiringan, yaitu 5º, 10º, serta 15º dan 3 taraf vegetasi, yaitu tanpa rumput, rumput pait dan rumput alang-alang. Hasil penelitian diperoleh besar erosi yang terjadi pada kemiringan 5º dengan vegetasi tanah tanpa rumput (0,425 ton/ha/tahun), rumput pait (0,375 ton/ha/tahun), dan rumput alang-alang (0,125 ton/ha/tahun). Pada kemiringan 10º dengan vegetasi tanah tanpa rumput (1,102 ton/ha/tahun), rumput pait (0,305 ton/ha/tahun), dan rumput alang-alang (0,414 ton/ha/tahun). Pada kemiringan 15º dengan vegetasi tanah tanpa rumput (2,217 ton/ha/tahun), rumput pait (0,451 ton/ha/tahun), dan rumput alang-alang (0,858 ton/ha/tahun). Hasil pengujian dengan analisis sidik ragam (Ansira) bahwa terdapat perlakuan yang berpengaruh nyata. Perlakuan yang berpengaruh nyata tersebut diantaranya kemiringan, vegetasi, dan kombinasi antara kemiringan dan vegetasi. Sedangkan hasil dari uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada beberapa perlakuan. Vegetative Erosion Control Using Carpet Grass (Axonopus compressus) and Reed Grass (Imperata cylindrica) in Ordo of Ultisols Abstract. Land use change in the sloping land cause soil erosion easier. One efforts for erosion countermeasure can be made with a vegetative method using carpet grass (Axonopus compressus) and reed grass (Imperata cylindrical) in ordo of ultisols. Therefore this research aim to determine the ability of carpet grass and reed grass in overcoming soil erosion at different slope of land. This research was done in Soil and Water Conservation Laboratory Faculty of Agriculture, University of Syiah Kuala using with Rainfall Simulator arranged in a test box. Factors used in this research is the slope (main plot factor) and type of grass (sub plot factor). The treatment of this research consist of 3 levels slope, namely 5º, 10º and 15º and 3 levels vegetation, namely land without grass, carpet grass and reed grass. The research results are erosion in the slope of 5º with land without grass (0.425 ton/hectare/year), with carpet grass (0.375 ton/hectare/year), and reed grass (0.125 ton/hectare/year). In the slope of 10º with land without grass (1.102 ton/hectare/year), with carpet grass (0.305 ton/hectare/year), and reed grass (0.414 ton/hectare/year). In the slope of 15º with land without grass (2.217 ton/hectare/year), with carpet grass (0.451 ton/hectare/year), and reed grass (0.858 ton/hectare/year). The result of variance  analysis (Anova) show that there are treatments with significant effect. The treatment with significant effect are slope, vegetation, and combination of slope and vegetation. Results from continued test with LSD (Least Significant Difference) show significant difference among treatments.
APLIKASI SIG UNTUK PEMETAAN DAN PENYUSUNAN BASISDATA RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PERKOTAAN (STUDI KASUS: KOTA BANDA ACEH) Jayanti, Dewi Sri; Mechram, Siti
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jtpa.19.1.27-23.2015

Abstract

Kota Banda Aceh memiliki jumlah penduduk besar dan pertambahan penduduk yang tinggi dan terus meningkat akan memberikan implikasi pada tingginya tekanan terhadap pemanfaatan ruang kota. Beberapa tahun terakhir, kualitas ruang terbuka hijau (RTH) Kota Banda Aceh mengalami penurunan akibat menurunnya kualitas lingkungan perkotaan seperti terjadi banjir, tingginya polusi udara, menurunnya keserasian lingkungan perkotaan serta terbatasnya ruang yang tersedia untuk interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luasan RTH Kota Banda Aceh; membuat aplikasi program basisdata RTH serta menyediakan informasi persebaran RTH Kota Banda Aceh. Proporsi Kota Banda Aceh yang harus dijadikan kawasan RTH minimal seluas 1.799,37 ha. Total RTH Kota Banda Aceh eksisting yang tersedia 2.136,79 ha (35,63%) dari luas kota. RTH publik eksisting yang tersedia 651,53 ha dari luas wilayah sehingga mengalami kekurangan 548,05 ha. RTH privat yang tersedia 1.485,26 ha sehingga kondisi RTH privat memenuhi standar kecukupan yang ditetapkan. Aplikasi program berjalan dan terkoneksi dengan baik sehingga dapat memberikan informasi Ruang Terbuka Hijau di Kota Banda Aceh kepada pengguna informasi.Kata kunci: Basisdata, Kota Banda Aceh, Ruang Terbuka Hijau (RTH), Sistem Informasi Geografis, Visual Basic.Net 2008