Articles

SEDIMENTATION RATE AND DISPERSION OF ORGANIC WASTE FROM LOBSTER CULTURE ON CAGE IN EKAS BAY, WEST NUSA TENGGARA PROVINCE Junaidi, Muhammad; Hamzah, Mat Sardi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 7 No. 1 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.927 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v7i1.9812

Abstract

The objective of this study was to determine sedimentation rate and dispersion of organic waste from lobster culture on cage in Ekas Bay, West Nusa Tenggara Province. Measurement of sedimentation rate was conducted every month during the process of cultivation lobster. This measurement was done by setting up a sediment trap under and around the cage. The result of this study showed that sedimentation rate under the lobster cage within 270 days ranged from 14.92 to 27.33 (20.66±4.60) g/m2/day. The organic waste did not disperse far away from the cage because of the small current rate around the cage location of 0.068 to 0.2 m/s. Feces and residual feed settling velocities followed the current direction within the range of 0.0373 to 0.072 m/s with 8.50 m of water depth. According to this result, dispersion of feces particle and residual food was between 8.24 and 45.58 m from the cage. In order to prevent an accumulation of waste particle on the water bottom, the distance between cages needs to be set to at least twice of the farthest distance of particle dispersion which is 2 x 45.58 = 91.16 m or about 100 m. Keywords: sedimentation rate, waste dispersion, lobster culture, Ekas Bay
DILEMA POLITIK HUKUM PERTAMBANGAN DI INDONESIA SUATU TELAAH ATAS KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Junaidi, Muhammad
Jurnal Iqtisad Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Iqtisad
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/iq.v4i2.2623

Abstract

Indonesia memliki sumberdaya alam yang sangat mumpuni dibandingkan Negara lain. Pantas saja investasi yang salah satunya pertambangan yang ada di Indonesia menjadi bidikan yang paling menarik investor asing untuk menamkan sahamnya di Indonesia. Persoalan yang mendasar dalam konteks pengelolaan pertambangan tentunya mengacu pada beberapa pasal yang diantaranya UUD 45 pasal 33 ayat yang menyebutkan ; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun dalam praktinya dominasi penguasaan hanya pada segelintir pihak utamanya adalah pihak asing yang sangat dominan dalam mendapatkan untuk dari sumber daya alam yang dimiliki. Model pengelolaan yang demikian tentunya bertentangan dengan konstitusi kita. Pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasannya, melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan orang ataupun seorang. Dengan kata lain monopoli, tidak dapat dibenarkan namun fakta saat ini berlaku di dalam praktek-praktek usaha, bisnis dan investasi dalam bidang pengelolaan sumber daya alam sedikit banyak bertentangan dengan prinsip pasal 33. Disinilah kita perlu kembali pada konsep pembangunan berkelanjutan yang merupakan ruh dari pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Konsep pembangunan berkelanjutan bukan hanya menyeimbangkan antara ekonomi, social dan lingkungan dalam upaya menjalankan pembangunan yang ada, akan tetapi juga menitiktekankan pada upaya mengakomodir prinsip keadilan antar generasi.
SEJARAH KONFLIK DAN PERDAMAIAN DI MALUKU UTARA (Refleksi Terhadap Sejarah Moloku Kie Raha) Junaidi, Muhammad
Academica Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.149 KB)

Abstract

Kronologis konflik di Maluku Utara paling tidak merupakan biasdari konflik Ambon apabila dikaitkan dengan kedatangan pengungsidari Ambon Propinsi Maluku. Tanda-tanda pecahnya konflik dimulaidari peristiwa antara pemuda desa Talaga dan desa Bataka dikecamatan Ibu (Halmahera Barat). Walaupun dapat diselesaikan olehkepala desa dan tokoh masyarakat, namun secara keseluruhanpencegahan tidak signifikan untuk meredam isu konflik karenaperistiwa itu kemudian berubah menjadi kerusuhan yang bersifatmassive di Maluku Utara.Konflik pertama kali mulai di wilayah Kao (Malifut) PulauHalmahera kemudian meluas ke wilayah Pulau Tidore, Ternate,dataran Halmahera lainnya, Morotai dan Kepulauan Sula (Nanere:2000; Syahidusyahar:2005; Ratnawati; 2006). Rentang waktu konflikdi Maluku Utara terbilang singkat mulai dari Agustus 1999-Juni2001, namun mengakibatkan korban jiwa yang banyak yaitu 2.410jiwa dan kerugian material tidak terhitung jumlahnya.Kata Kunci : Konflik dan perdamaian Maluku Utara
Prevalency of Nematode in Bali Cattle at Manokwari Regency Junaidi, Muhammad; Sambodo, Priyo; Nurhayati, Dwi
Jurnal Sain Veteriner Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.159 KB) | DOI: 10.22146/jsv.6550

Abstract

This study was conducted from August to October 2006, a disease caused by worms digestive tract is one of the causes of the decline in beef production . The purpose of this study was to assess the number of infected cattle nematode, the nematode types and amount of each type of nematodes in Bali cattle in Manokwari. Based onobservations on the worm eggs, total of 23 individuals (44.23 %) of Bali cattle ( puppies and adults ) infected with nematodes. Most of the infected cow is a cow that as many as 16 puppies cattle (69.56 %), while the remaining 7 animals (30.44 %) is the mother cow. Types of nematodes that infect cattle puppies and adult cattle are Cooperiasp., Bunostomum sp., Mecistocirrus sp. and Trichuris sp. The frequency of attacks in a row is as much as 13 cattle Cooperia sp, Mecistocirrus sp as many as 10 head of cattle, as many as 8 sp bunostomum cows and Trichuris sp. as much as 5 cows. The highest number of eggs in a row is Bunostomum sp. (1520), Cooperia sp. (1280), Mecistocirrus sp. ( 1200) and Trichuris sp. (280). The average number of eggs per gr feces ( EPG ) of 4 species of parasites that infect a row is Bunostomum sp . (190 EPG), Mecistocirrus sp. (120 EPG) Cooperia sp. (98.46 EPG)and Trichuris sp. (56 EPG). As many as 44.23 % of Bali cattle in three districts (Masni, Oransbari dan Prafi) attacked nematodes which are predominantly cattle aged less than one year .
FURMULASI DAKWAH TERHADAP KESELAMATAN LINGKUNGAN Junaidi, Muhammad
Tajdid Vol 9, No 1 (2010)
Publisher : Tajdid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Portrait of the ecological crisis is a reflection of the disharmony and imbalance in the relationship between man and nature. Ecological awareness to find solutions, not just based on deduction-rationalistic deduction, but more fundamentally, back on parenial messages contained in all religions. This article wants to dig back of the treasure of Islam as a solution to rebuild the harmonization of the relationship between man and environment so that the ecological crisis to end soon.
SEMANGAT PEMBAHARUAN DAN PENEGAKAN HUKUM INDONESIA DALAM PERSPEKTIF SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE Junaidi, Muhammad
Jurnal Pembaharuan Hukum Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Pembaharuan Hukum
Publisher : UNISSULA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.665 KB) | DOI: 10.26532/jph.v3i1.1346

Abstract

The spirit of renewal and law enforcement is often considered only based on a process of renewal and change the old Act to the new Act. If the renewal and law enforcement just conceived so, then the law will continue to be considered not present in the midst of society as part of the settlement of the problem. As a solution needs to be established is to integrate the spirit of renewal and law enforcement collaborated with social reality. Thus the ideal model is expected become law unifying identity as an expression of popular sovereignty and the pattern of State laws harmonization purposes.
STRUKTUR KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN KABUPATEN LOMBOK UTARA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Junaidi, Muhammad; Nurliah, Nurliah; Azhar, Fariq
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis Vol.18 No.2 Juli-Desember 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.106 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v18i2.800

Abstract

ABSTRAKMengingat peranan zooplankton dalam ekosistem perairan sangat penting, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis struktur komunitas zooplankton yang meliputi jenis, kelimpahan, dan indek ekologi, dan  kaitan  distribusi zooplankton dan kualitas perairan di Perairan Kabupaten Lombok Utara. Pengumpulan data dirancang dengan sistem informasi geografis (SIG) pada 23 stasiun pengamatan yang ditentukan dengan teknik acak sederhana.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan kelimpahan zooplankton yang ditemukan di Perairan Kabupaten Lombok Utara cukup bervariasi dengan jumlah genus  sebanyak 9 yang terbagi  dari  5 kelas.  Berdasarkan perhitungan indeks ekologi menunjukkan bahwa struktur  komunitas zooplankton dalam kategori perairan yang kurang stabil. Kelimpahan dan indeks ekologi zooplankton  dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (fisik-kimia) perairan antara lain  kecerahan, pH dan oksigen terlarut. Kata kunci : zooplankton,  struktur komunitas, kualitas perairan, kelimpahanABSTRACTConsidering that the role of zooplankton in aquatic ecosystems is very  important, research is carried out with the aim of analyzing zooplankton community structure which includes the type, abundance, and ecological index, and the relation of zooplankton distribution and water quality in North Lombok Regency Waters. Data collection was designed with a geographical information system (GIS) on 23 observation stations that were determined by simple random techniques. he results of this study indicate that the type and abundance of zooplankton found in the waters of North Lombok Regency are quite varied with the number of genus as many as 9 which are divided into 5 classes. Based on the calculation of the ecological index shows that the zooplankton community structure is in the category of less stable waters. The abundance and ecological index of zooplankton is influenced by the environmental (physical-chemical) conditions of the waters including brightness, pH and dissolved oxygen. Keywords: zooplankton, community structure, water quality, abundance 
Pelembagaan Cultural Wakaf Dalam Mewujudkan Wakaf Produktif Junaidi, Muhammad; Heryati, B. Rini
ZISWAF Vol 5, No 1 (2018): ZISWAF: Jurnal Zakat dan Wakaf
Publisher : Program Studi Zakat dan Wakaf

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/ziswaf.v5i1.3511

Abstract

One of the dilemmas in the management of waqf that has not been completely answered by Waqf Law is the institutional side of waqf. Institutionalization of waqf is still perceived only from an institutional structure that is formalistic so as to make the productivity of waqf implementation still running in place. The aspect of institutionalization of waqf is not only seen on the side of the institutional structure formed by the government. The existence of a wakaf institution that is productive is of course based on the subjectivity in building community involvement in the legal space which has an indicator is the existence of society in designing productivity through institutional non-structural but still prioritize accountability.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN ALIH FUNGSI LAHAN DARI TAMBAK MENJADI PERUMAHAN DI KELURAHAN WONOREJO KECAMATAN RUNGKUT KOTA SURABAYA JUNAIDI, MUHAMMAD
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kelurahan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya dahulu masih banyak lahan yang dipergunakan untuk tambak. Kelurahan ini menarik diteliti karena semakin tahun semakin banyak tambak yang sudah beralih fungsi menjadi perumahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana proses alih fungsi lahan dari tambak menjadi perumahan serta strategi penghidupan berkelanjutan dari petani tambak yang telah menjual tambaknya ke developer. Penelitian kualitatif fenomenalogi ini perolehan informasinya ditentukan secara triangulasi, data monografi Kelurahan Wonorejo, serta informan kunci dan ahli. Pendekatan analisis yang digunakan adalah proses keruangan, tetapi analisis dalam bahasan skripsi ini terbatas pada motif petani tambak dan developer. Analisis  data diperoleh melalui reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menjukan bahwa perubahan alih fungsi lahan dari tambak menjadi perumahan berawal pada tahun 2002 yaitu perumahan Bumi Wonorejo Asri kemudian semakin berkembang pesat dengan semakin berdirinya perumahan-perumahan baru yang dulunya berupa tambak di Kelurahan Wonorejo. Faktor yang menyebabkan alih fungsi lahan dari tambak menjadi perumahan yaitu semakin berkurangnya hasil tambak dan motif dari para developer adalah Kelurahan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya ini merupakan wilayah pinggiran kota (peri urban) merupakan peralihan dari wilayah kota dan wilayah desa yang memiliki karakteristik dan atribut yang berbeda. Daerah ini secara alami terbentuk karena perkembangan dan rembetan yang terjadi dari Kota Surabaya. Salah satu faktor pengembangan adalah interaksi antar kota inti dengan wilayah peri urban. Semakin besar interaksi yang terjadi maka semakin besar pula perkembangan yang terjadi di wilayah peri urban. Kehidupan dari mantan petani tambak masih menggantungkan hidupnya dengan mengelola tambak yang lain guna mendapatkan penghasilan. Kata Kunci: Alih Fungsi, pertumbuhan, perkembangan  
PENGARUH KEPADATAN SPAT KERANG MUTIARA (PINCTADA MAXIMA) DENGAN METODE LONGLINE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP Junaidi, Muhammad; Ahmad, Zaenal; Astriana, Baiq Hilda
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis Vol.19 No.2 Juli - Desember 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.875 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i2.1273

Abstract

Abstrak : Penelitian kepadatan spat kerang mutiara yang dipelihara di alam perlu terus dilakukan karena belum ada patokan tingkat kepadatan yang sesuai untuk usaha komersial. Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh kepadatan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup spat kerang mutiara (Pinctada maxima).  Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan, yakni perlakuan A (60 ind/poket), B (75 ind/poket), C (90 ind/poket), D (105 ind/poket), dan perlakuan E (120 ind/poket). Ukuran spat yang digunakan rata-rata 1 cm pada poket (keranjang pemeliharaan) 45x60 cm2. Hasil penelitian selama 45 hari menunjukan bahwa pertumbuhan pada semua perlakuan tidak berbeda nyata, namun pertumbuhan terbaik dengan nilai 0,70 cm untuk pertumbuhan mutlak dan 0,69% untuk laju pertumbuhan harian dimiliki oleh kepadatan yang rendah yakni 60 ind/poket, disusul oleh perlakuan lainnya seperti perlakuan B,C,D, dan E. Hasil uji ANOVA, SR didapatkan hasil persentase yang berbeda nyata, yakni terdapat pada perlakuan A (60 ind/poket) dengan nilai SR 90,44% dan pada perlakuan E (120 ind/poket) dengan nilai SR 74,44%. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa padat penebaran yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan spat kerang mutiara, namun berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup (SR) spat kerang mutiara (Pinctada maxima) yang dipelihara selama 45 hari.Kata kunci : Pertumbuhan, kelangsungan hidup, spat, Pinctada maximaAbstract : The study of pearl shell spat density maintained in nature needs to be continued because there is no standard level of density suitable for commercial businesses. Therefore a study was conducted with the aim of knowing the effect of density on growth and survival rate of pearl oyster spat (Pinctada maxima). The method used is Randomized Block Design (RBD) consisting of 5 treatments and 3 replications, namely treatment A (60 ind / pocket), B (75 ind / pocket), C (90 ind / pocket), D (105 ind / pocket) ), and treatment E (120 ind / pocket). The size of the spat used was 1 cm on the pocket (maintenance basket) 45x60 cm2. The results of the 45-day study showed that growth in all treatments was not significantly different, but the best growth was 0.70 cm for absolute growth and 0.69% for the daily growth rate owned by a low density of 60 ind / pocket, followed by treatment others such as treatment B, C, D, and E. The results of the SR ANOVA test showed that the percentage results were significantly different, which were found in treatment A (60 ind / pocket) with SR values of 90.44% and in treatment E (120 ind / pocket) with an SR of 74.44%. Based on the results of the study, it was concluded that the different stocking densities had no significant effect on the growth of pearl shell spat, but significantly affected the survival rate (SR) of pearl shell spat (Pinctada maxima) which was maintained for 45 days.Keywords: growth, survival rate, spat, Pinctada maxima.